Minggu, 29 Maret 2015

Sleep Well (chapter 1)

Diposting oleh Kiwokchwan di 09.57
Title: Sleep Well

Author: Raras Vadma

Genre: Angst, Drama, Slice of Life

Pair: YamaChii for sure (percayalah kawan kawan ini akan berending bahagia wkwkw), AriYama (buat konflik), Chiitaro (buat konflik doang, serius. Aku udah mupon kok huks :”))

Genre: Hurt/comfort, romance, drama

WARNING! BAHASA SUKA SUKA

Summary : Chinen kira dirinya sudah tidak pantas untuk Yamada. Dia mengira dirinya sudah membosankan dan tak menarik atau lucu seperti dulu. Jadi bila Yamada memintanya putus, Chinen sudah tahu. Tapi si cilik itu tetap memiliki Yamada. “cukup pejamkan matamu, lalu sebut namaku sebanyak banyaknya.” “Ryosuke... Ryosuke.. RYOSUKEEE!!”

Douzo ^,^
.
.
.
.



Chinen telah menyadari hal ini, tentang hubungannya dengan sang kekasih yang semakin lama semakin merenggang. Seperti anggapan kebanyakan orang yang menyatakan bahwa Yamada Ryosuke bosan dengan Chinen Yuri. Ia jarang lagi bercanda dan mengusap pipi Chinen ataupun menerima Chinen dipangkuannya. Hanya sesekali mereka mengobrol atau bersenda gurau, itupun menyangkut tentang pekerjaan mereka dan bersama anggota lainnya.

Chinen hanya bisa menerima kenyataan pahit; ketika masanya ia benci menjadi pendek dan kecil dan manja dan tak ada beda dari anak taman kanak-kanak, namun ketika ia benar-benar berubah menjadi… err.. dewasa—atau apapun itu, ia justru merasa muak. Karena sebenarnya Chinen Yuri yang seperti dululah yang disukai banyak orang. Yang disukai banyak oleh kekasihnya. Bukan Chinen Yuri yang sekarang tumbuh menjadi pemuda tak jelas yang kebanyakan tingkah dan menyebalkan tapi masih sering bermanja. Sekiranya, itulah anggapan Chinen.

Lain hal dengan Yamada. Pemuda itu.. entah apa maksudnya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka.

Semua orang tahu jika Yamada Ryosuke sangat menyayangi Chinen. Meski kelihatan sok cuek di depan umum, tapi coba tilik dari orang-orang yang sering di curhatinya. Hanya ada satu bahasan. Chinen Yuri. Mau apapun itu topiknya, bahkan di interview majalah atau di TV ketika tidak sedang bersama dengan si mungil itu, pasti ia sangkut pautkan dengan Chinen.

Namun hari ini.. mungkinkah pemuda chubby itu sedang kehasut bisikan setan? Oke, itu dugaan konyol. Yang paling masuk akal sepertinya hanya anggapan Chinen. Yamada bosan. Dan Chinen sudah memiliki firasat bahwa hari dimana Yamada mengungkapkan perasaan bosan terhadap Chinen akan tiba. Ia mencoba untuk menerima kenyataan itu tapi bukan berarti Chinen menginginkan hal ini sekarang. Oh ayolah, hubungan yang terjalin sangat lama lalu berakhir hanya karena pemikiran kotor itu nonsense!

“Kita lebih baik berteman saja,”

Nah kan. Chinen tersenyum mengejek. Ternyata benar kata pepatah. Yang namanya cinta itu busuk! Eh tunggu dulu… kalimat itu benarkah dari pepatah? Atau dari orang yang baru saja patah hati?

“Kau bilang begitu tapi tak menatapku.” Chinen bersilang tangan.

“Huh?” Yamada mendongak.

“Nah, begitu. Tatap wajahku ketika berbicara. Bukankah itu yang selalu kau lakukan kalau sedang berbicara padaku? Apa sekarang sebenarnya kau tak berniat berbicara padaku?” Chinen berkata sambil tersenyum manis—atau sadis, masih sambil bersilang tangan. Sepertinya ia sudah menyemprotkan anestesi di hatinya untuk meredam perih hingga bisa bersikap masokis. “Padahal aku masih berintropeksi mengapa kau akhir-akhir ini menjauh dariku. Tapi mungkin aku tahu alasan kuat kau menyudahi hubungan ini.”

Yup, ini yang menjadi alasan kuat Chinen yang kedua—setelah bosan, mengapa kekasihnya memutuskannya secara sepihak.

“Karena Dai-chan, kan?”

Yamada mengernyit.

Chinen justru berdecak seraya melepas silangan tangannya lalu memasukan kedalam saku celana. “Aku tak menyangkal wajah bingungmu itu menggemaskan. Tapi kalau seperti itu terus memuakkan, kau tahu?”

“Yuri.. tunggu! Aku—“

“Jangan panggil namaku, Yamada Ryosuke-san.” Tidak ada lagi ‘Ryosuke’ untuk Yamada. Tidak. Ada. Lagi. “—semenjak kau dan Dai-chan bermain di Kindaichi bersama, kau menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersamanya... dan wow, selamat! Dramamu dan Dai-chan sampai di buat 3 versi. Bahkan Matsumoto-kun dan Kamenashi-kun kalah pamor.” Chinen mengatakan sambil tersenyum, namun terlihat jelas raut menyindir di wajah imutnya. “Aku tahu bahwa tokoh Saki bukanlah peran penting yang selalu ada menemani Hajime-chan. tokoh Saki hanya ada di satu episode... tapi kau, kau yang membuat tokoh itu menjadi selalu ada dan mendampingimu kan? Dengan meminta sutradara-san supaya Dai-chan menemanimu di Kindaichi. Supaya kalian bisa terus bersama.”

Aku meminta Dai-chan menemaniku agar aku tidak terlalu diberi banyak peran dengan tokoh Miyuki, Yuri. Kau harusnya tahu… Aku lebih bisa tahan bersama Dai-chan dibanding dengan gadis itu…! batin Yamada demikian namun bibir itu tetap mengatup. Chinen mendengus dan tersenyum pahit.

“Kau semakin sering berbincang bahkan curhat dengan Dai-chan. Bisa ku hitung berapa kali kau lari pada Dai-chan untuk mencurahkan hal privasimu ketimbang mencurahkan kepadaku lagi. Dan ketika kau syuting di Malaysia dengan Dai-chan, kau mencuekanku lebih dari dua hari penuh. Tidak menelpon atau sekedar mengirim email singkat.”

“Aku sudah mengatakan padamu, kan? Sinyal disana jelek! Lagi pula, jadwalnya terlalu padat untuk sekedar memegang HP...”

“Oh, sebegitu padatnya ya? Sugoi!” Chinen meringis.

“Yuri…” Yamada menatap sedih.

“Sebentar.. aku tambahkan. Hmm.., kupikir selama ini kau tak pernah curhat denganku. Atau cuma perasaanku? Setahuku kau hanya akan bercerita hal hal yang umum. Bukan hal yang.. lebih inti? Entahlah.” Chinen mengangat bahu dan bibirnya sedikit maju (Yamada baru saja tersenyum kilat melihat pulm kenyal itu membumbung kedepan).

“Aku sadar aku cerewet dan kurang bisa menjaga rahasia. Apalagi jika rahasia itu darimu. Rasanya apapun yang kau bilang padaku selalu ingin ku umbar karena kau terlalu pengecut untuk mengakui kesemua orang. Ya kan? Hahaha…” Chinen menahan emosinya dengan tawa canggung, namun yang sesungguhnya ia tahan dari awal ketika aktor Kindaichi itu mengajaknya bicara empat mata adalah air mata. Chinen berusaha terlihat ‘seperti’ biasanya dan tak gentar menatap pemuda dihadapannya.

Yamada hanya bisa menatap ‘mantan’ nya tanpa tahu harus berbuat apa, namun rautnya jelas menyesal. Tunggu dulu… Mantan? Hahaha.. Chinen sudah menjadi mantan, bung! Oh tapi percayalah, Chinen Yuri itu submissive yang sangat tegar.

Perlahan, Chinen mendekatkan wajahnya pada pemuda Taurus disana, merasa tak ada perlawanan darinya, Chinen lantas mengecup lembut bibir Yamada dengan gerakan yang sangat elegan. Hanya beberapa detik sebelum akhirnya Chinen memisahkan diri lalu berkata,

“Selama tiga tahun ini menyenangkan. Terimakasih karena telah menjadi bagian hatiku.”

Blah. Terimakasihnya itu tidak iklas. Chinen saja geli mengucapkan hal barusan. Kemudian ia berlari secepat kilat meninggalkan Yamada yang masih terdiam di studio latihan yang telah sepi. Ia terdiam seperti orang autis yang tak mengerti hal ini bisa terjadi. Hatinya ikut sakit dan meronta tak ingin merasakan perasaan ini.

Yamada sesungguhnya masih mencintai Chinen. Masih. Ia masih menginginkan Chinen-nya. Yuri-nya. Tapi ada satu hal yang tak bisa dipaksakan Yamada untuk terus bersama Chinen. Ia harus mengalah dan bersabar untuk satu alasan. Ketika sadar dengan apa yang terjadi, Yamada akhirnya menghela nafas berat dan berdoa semoga keputusannya tak salah.

“Maafkan aku, Yuri… Aku sudah berjanji. Maaf

.

Ketika matahari baru tenggelam, Chinen langsung tidur tanpa peduli lagi pada dunia. Persetan dengan teman-teman diluar kamar yang memanggilnya untuk bermain di ruang tengah. Seharusnya ia pulang saja kerumahnya. Namun jadwal menjadi pengisi acara di TV besok mengharuskan si chibi itu bersama JUMP dan tidur di asrama yang di khususkan untuk mereka.

“Chii, kau didalam? Keluar dong. Kita akan bermain pocky! Yang lain sudah menunggu!” Seru Yuto dari luar pintu.  Namun hening, tak ada jawaban, Pemuda tinggi itu melirik kesamping tempat dimana Keito berdiri. “Nggak dijawab, pintu juga dikunci. Kenapa, ya?”

“Mungkin Chii sudah tidur. Tadi ia dan Yama-chan yang terakhir selesai latihan. Kita biarkan saja.”

Yuto haya menurut dan kembali keruang tengah. Teman teman yang lain tak ada yang bertanya banyak ketika Keito menjelaskan bahwa si kecil sudah tidur.

.

Padahal disinilah si imut itu sekarang. Berada di ruang yang mereka sebut alam bawah sadar. Lebih tepatnya alam bawah sadar Chinen Yuri.

“Ryosuke…” panggil Chinen dengan manja. Ia merebahkan kepalanya di paha Ryosuke-nya.

“Hm?”

“Aku kira kau baru saja memutuskanku.”

Yamada terkekeh. “Mana mungkin, Yuri. Kau adalah harta berhargaku. Tidak mungkin aku melakukan itu! Aku yang kau pikir telah memutuskanmu hanya ilusi buruk. Jadi, lupakan saja ya.” Katanya sambil membelai rambut hitam legamnya.

“Tapi..”

“Ingat Yuri, aku akan selalu ada untukmu. Ketika kau sangat merindukanku dan membutuhkanku, cukup pejamkan matamu lalu sebut namaku..”

Chinen mengerjap, menatap wajah maskulin kekasihnya dengan serius. “Ryo…suke…?”

“Ya. Begitu. Aku mencintaimu…” Yamada menangkup lembut kedua pipi Chinen, membelainya, kemudian mulai menciumi lekukan wajahnya.

Chinen memekik geli dengan wajah memerah sempurna lalu tertawa bahagia, hatinya mendadak hangat.

Itu benar... Chinen dan Yamada akan selalu bersama. Yamada Ryosuke yang baru saja memutuskannya bukanlah kekasih Chinen Yuri. Tapi Ryosuke yang saat ini tengah membelainya adalah kekasih yang sesungguhnya! “Boku mo. Sangat sangat sangat mencintaimu..” lalu kedua bibir ranum mereka bertemu. Tak ada lagi diksi yang tepat selain nikmat akan kelembutan kedua pulm mereka yang saling menyatu.

“Chinen..”

Tunggu, bukankah Yamada barusaja memanggilnya Yuri? Dan lagi, bibir mereka masih menyatu!

“Chinen!”

Uruse na..

Mengapa selalu ada orang sirik yang merecoki kesenangan orang lain? Chinen tak habis pikir dirinya selalu direcoki bila menyangkut hubungannya dengan kekasihnya. Ada apa sih? Orang orang sirik itu? Bahkan bila itu temannya sendiri..

“Chinen!!”

Ketika akhirnya semua lovey dovey itu pecah saat tubuh kecilnya terguncang, sayup sayup terlihat wajah Yabu Kota dengan urat banyak di dahi.

“Kau ini! Jangan bikin kami cemas! Kenapa kau tidur pulas sekali sampai kami teriak dari luar tak terdengar?! Kami kira kau pingsan atau terjadi hal yang lebih buruk! Dan lagi, pintu kenapa dikunci?! Kami repot harus mencari kunci dublikat, kau tahu?!”

Cercaan kasih sayang ditunjukan Yabu pada Chinen yang hanya menatap kosong. Rekan rekan yang mengerumuninya membuat pikirannya blank. Terlebih lagi ketika iris hitamnya menangkap wajah Yamada disebelah Dai-chan. Chinen menunduk, dan terlihat mereka berdua bergandengan tangan.

Kesalaan fatal!

“Oh. Hanya mimpi…” lirihnya.

“Mimpi apa? Kau kenapa, Chii? Jangan bikin kita tambah cemas!” Inoo-chan memegang pundak Chinen. Yuya bahkan menepuk pelan pipi si mungil.

Sadar dirinya berada di dunia laknat, dunia dimana tak ada Yamada Ryosuke-nya, Chinen segera memasang topeng keceriannya. “Gomen.. Gomen. Tadi aku mimpi aneh. Ahahaha.. ada apa memanggilku?”

Hikaru berdecak. “Kok ada apa! Kita kan harus latihan pagi, Chii. Nanti malam kita tampil sebagai bintang tamu di Shounen Club.”

Chinen meringis. “Sokka. Aku mandi dulu. 10 menit lagi aku selesai. Matte yo!” ia bergegas kekamar mandi sambil menerobos kerumunan teman temannya. Ketika kakinya menapak lantai, tubuhnya kembali meremang dan merasakan pelukan Yamada yang ada di dunianya tadi. Bukan hanya pelukannya, bibirnya... sentuhannya… bisikannya.. suaranya..

“Aaaah.. dame! Lupakan itu Yuri! Kau harus bisa ceria seperti biasa! Ini hanya dunia sementara! Nanti aku bisa bertemu dengannya lagi! Yosh, Ganba!” Serunya menyemangati diri sendiri.

=:=

Moshi moshi?” Chinen mengangkat smartphonenya setelah selesai tampil di Shounen Club, kali itu semua member Hey!Say!JUMP sedang berada di backstage. “Ada apa, Shin-chan?”

Aneh, padahal ia sudah bilang pada Shintaro kalau hari ini Hey!Say!JUMP ada jadwal tampil dan cukup sibuk. Teman ‘curhat’ si mungil itu selalu mengontaknya setiap hari, tapi jika Chinen sudah mengatakan kalau sedang sibuk biasanya adik dari Ryutaro itu tidak berani menelpon.

“Ah, maaf menganggu Chii-nii! Ada yang ingin dibicarakan, penting.”

Nani?

Chotto ne… Nii-chaaaaaan!! Katanya mau bicara dengan Chii!? Siniiii!”

“Eh?” Chinen mengernyit. Delapan anggota lain yang sedang beristirahat sambil menunggu jemputan mereka di belakang tempat show menatap bingung.

“Woii Shintaro! Chotto! Aku bilang kau saja yang bicara padanya... kenapa aku!? Cho—chotto!”

“Niichan pengecut. Ngomong saja sendiri.”

“Omaeee..!”

Terdengar suara bersahut sahutan dari smartphone Chinen, ia hanya terkekeh pelan. Morimoto bersaudara memang menyenangkan jika sudah bersama.

Moshi moshi, Ryu-chan?” Ketika nama itu disebut, semua anggota terkejut bersama. Mereka tahu kalau di Johnny’s banyak yang memiliki nama ‘Ryu’, tapi hanya satu Ryu yang sampai seintim itu bisa memiliki nomor telpon Chinen mengingat Chinen antipti sama junior. Hanya ada satu Ryu.

Ryutaro Morimoto.

“Ah.. Chinen,”

Doushite? Aku masih ditempat show.” Chinen tersenyum tanpa sadar.

"Hm.. hanya ingin bicara sebentar, Bisa kau menjauh dari mereka yang disaana? Aku hanya ingin bicara berdua denganmu.” Ryutaro tahu Chinen berada diantara teman temannya. Si kecil itu berdiri lalu menjauh sebentar dari mereka.

“Ryutaro ya?” gumam Yamada sambil menyender pada sofa. Ryutaro adalah member termuda Hey!Say!JUMP yang kini vakum namun masih sering kontak kontakan dengan Chinen Yuri. Wajah Yamada tertera tak suka tapi bibirnya justru menyunggingkan senyum, “Jadi kangen,”

“Bilang saja cemburu,” cemooh Yuto.

“Sok tahu.” Yamada menyahut cepat.

Yuto tersenyum usil sambil menyikut pinggang Yamada. “Cemburu juga nggak apa apa. Kalian kan pasangan. Ne, Yama-chan?”

Yamada hanya memutar bola matanya, ketika pandangannya bersibobrok dengan Yuya, ia menyeringai. “Nanda yo? Aku bilang aku tidak cemburu. Ryutaro memang suka pada Chinen, dan kalau dia menelpon apa salahnya? Toh, ia menanggapinya biasa saja.”

“Yah.. meski aku yakin kau tidak  ‘biasa saja’.” Ejek Yuya, ada raut sedih di wajahnya.

Betsuni..” sahut Yamada sebelum akhirnya obrolan mereka teralihkan oleh gurauan sang komedian, Hikaru.

.

“Kau sedang sedih.”

“Eh? Aku? Ti—“

“Usotsuki.” Ryutaro memotong ucapan Chinen. “Topengmu sudah pecah dihadapanku, Chii. Aku melihatmu di TV tadi. Matamu sayu. Gerakmu juga tak segesit biasanya. Senyummu waktu di wawancarai terlihat memaksakan diri. Kau pikir aku bisa dibohongi selama sifat kita tak beda jauh, huh?”

Chinen tertawa hambar. “Sasuga ne, Ryu-chan. Aku memang tak bisa berpura pura dihadapanmu.”

“Apa yang ia lakukan padamu?”

“Lakukan apa?”

“Jangan balik bertanya, Chii. Aku tahu kau dan Yama-chan sedang dalam keadaan ‘apa apa’.”

“Tidak ada apa apa, sungguh.” Batin Chinen, karena Ryosuke-nya masih akan tetap ada di dunianya. Dunia sesungguhnya bagi dirinya sendiri. “Aku dan Ryosuke tetap mesra, kok”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jangan mejadi pengecut untuk sekedar berbicara padaku. Aku sahabatmu.”

Yeah.. Sahabat… “Kau tahu apa yang terjadi.”

“Katakan dengan jelas. Kumohon!”

“Ya, Ryu-chan. Dia mengatakannya!” geram Chinen. Mengatakan hal busuk yang sudah dipatenkan sebagai ilusi buruk adalah sulit. Sulit sekali mengatakannya. Itu seperti kau seorang pencuri tapi tak berani mengakui sebagai pencuri. Dan tadi adalah perumpaan tolol.

“Dia… sudah mengatakannya?”

“Hm.”

“Jelaskan maksudnya, Chii...!

“Aku sudah putus. Dia memutuskanku. Dia mengatakan ‘lebik berteman saja’ kepadaku!” Chinen menahan suaranya yang bergetar. Apa apaan ini? kenapa suaranya bergetar seperti ini! Menjijikan sekali. Bahkan Chinen sendiri merasa menjijikan sekarang.

“Jangan menangis! Chinen yang kukenal akan selalu besemangat dan—“

“Aku manusia biasa, Ryu-chan...” 

Hening untuk beberapa saat.

“Gomen…” lalu suara Ryutaro kembali terdengar, begitu lirih dan pelan.

“Hmm...” Chinen menggeleng tanpa sadar, “Aku juga mengakui aku mulai berubah, mungkin ia sudah bosan padaku dan memihak pada Dai-chan.”

“Ya. Berubah menjadi lebih mena.... eh, CHOTTO!!! Kau bilang Dai-chan?”

“Ck, berisik Ryu-chan!”

“Benar dugaanku. Cih, Lupakan dia Chii! Bunuh dia dari ingatanmu!”  Ryutaro berucap dalam geram.

Chinen mendengus sembari memutar bohlam matanya. “Semoga saja…”

Setelah berbasa basi mereka menyudahi sambungan. Kemudian si imut itu kembali pada teman temannya. Sebelumnya memastikan bahwa topeng keceriannya tidak retak dihadapan teman teman JUMPnya. Cukup dihadapan Ryutaro.


To be a continued...


A/N : Chapter 2 OTW!! tenang kawan.. chapter 2 bentar lagi kelaaaaar :* sebenernya mo langsung di publis tapi ternyata ada banyak yang harus dirombak :') betewe.. setelah musingin judul akhirnya dapet judul yang unyuk dan angsty muehehe.. ini  angst ga sih? angst dooong.. pengen bisa bikin cerita angst wkwk rencana awal ini pairnya chiitaro. tapi setelah dirukiyahin buat jadi yamachii shipper sejati langsung banting stir buat ngubah jalan cerita ke yamachii :' jadi yagitu.. banyak yang harus dirombak di chap 2 muehehe.. yaudah nantiin aja chap duanya :* 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review