Judul : VOICE
Author: Kiwok
Pairing: YamaChii ofc <3
Genre: Romatis (ciye..), Comedy, Slice of (Chinen's) life
Keterangan: Latar HSJ jaman 2007-2008an. Masih ada Ryutaro :"
WARNING! BAHASA SUKA SUKA, typo(s), alur kecepetan, ect
Douzo...
.
.
.
Pagi hari ini anggota Hey Say JUMP masih asik tidur dikamar
masing masing yang terdiri dari 2 orang. Oh, kecuali Yabu-papa. Karena ia dianggap
yang paling dewasa jadi punya kamar pripadi.
Kita intip di kamar member yang paling mungil dan member yang paling sangar di JUMP. Takaki dan Chinen. Pemuda yang paling tua keadua itu masih asik berkelonan dengan kasur sampai ada
yang mengguncang tubuhya, ia hanya bergumam, “Nggak boleh
Chii... Udahlah tidur disini saja.
Yamada lagi liar!”
Naas, yang liar dan semakin brutal membangunkan Takaki adalah teman sekamarnya yang imutnya sejagat. Chinen bahkan memukul bokong Takaki dengan kidmat, tak peduli kakak boongannya itu mengerang eksotis.
“Itte!! Apa-apaan sih?!”
“Suaraku..!”
“He?” Memang pada dasarnya orang bangun tidur itu bolot.
“Suaraku habis...!” Ulang Chinen sambil menunjuk-nunjuk tenggorokannya. Suaranya memang serak dan tercekat, tidak cempreng seperti biasa. Takaki langsung melek dan meraba tengkuk si mungil. “Kau sakit?!”
“Nggak...” Jawab Chii dengan wajah mau nangis. “Tapi memang
ada yang aneh dengan tenggorokanku. Gimana dong? Besok kan
ada talk show!!” Ia merengek dengan suara abstrak. “Yabai!” Yuya menepuk dahi,
“Aku baru ingat kalau besok malam ada talk show. Ayo beri tahu yang lain!”
Jadi, disini mereka sekarang. Ruang tengah kediaman JUMP.
Masih dengan piama, bahkan Dai-chan dengan kerak iler di pipi kirinya. Mereka
memandang Takaki dan Chinen dengan ekspresi bingung dan setengah sadar.
“Apaan, sih?! Masih ngantuk nih. Jadwal latihan kan nanti
siang!” Yamada bersuara jutek, tabiat jeleknya ketika bangun tidur keluar.
“Yama-chan...” Chinen menyahut, baru mengucap nama saja,
Yamada langsung terbelalak. “Astaga Chii! Suaramu kenapa?!”
“Maa... maa.. tenang dulu, Yama-chan. Biar ku jelaskan. Chinen
suaranya habis, aku nggak tahu kenapa tapi mungkin—“
“Kenapa suaramu bisa habis?!” Potong Yamada dengan cemas, ia
mendekati Chinen yang menunduk, menangkup wajah si kecil untuk menatapnya.
“Kemarin memang kau makan apa? Bukannya udah dikasih tahu nggak boleh makan
sembarangan?! Atau kau sakit? Gimana
sih! Kenapa baru sekarang sakitnya?? Besok kan kita ada talk show dan tampil di music station! Kalau
seperti ini kau bikin khawatir dan bingung semua orang, Chii. Harusnya ke—“
“Berisik, Yama-chan! Diam dulu! nggak lihat Chinen udah mau
nangis begitu?!” Seru Inoo membekap mulut Yamada. Si pipi temben itu memberontak,
“Iya makanya itu! Aku tanya kenapa bisa habis begitu suaranya?? Kan jadi nggak
imut lagi kalau suara serak gitu!”
“Mou.. Aku nggak tahu. Tadi malam sebelum tidur aku memang
merasa ada yang aneh. Tapi nggak kupikirin jadinya langsung tidur. Bangun bangun
suaraku jadi gini.” Jelas Chinen susah
payah. Yamada hanya menepuk jidat, menyesal karena membuat si tupai tambah
sedih.
“Jangan-jangan...” Daiki menyeletuk. “Chii, umurmu sekarang berapa?!”
“Jangan-jangan...” Daiki menyeletuk. “Chii, umurmu sekarang berapa?!”
“Eh?” Chinen menatap si cowok pinguin dengan bingung, “kalian
kan tahu.. tahun ini 15 tahun, tapi untuk bulan November.”
Hening untuk beberapa saat.
“AAAAH!!” Semua anggota teriak jama’ah.
“Kau nggak salah makan atau sakit Chii! Tapi kau mulai masuk masa
pubertas!!” Terang Yuto histeris.
“Kenapa baru sekarang!? Kau termasuk telat, Chii! Ryutaro aja
udah! Berarti kau yang terakhir!” Hikaru bertanya sambil tertawa. Chinen cuma
menggembungkan pipi. Yamada tersenyum dan mengusap rambut belah tengah Chii dengan
sayang, “nggak apa apa, itu normal. Nanti sembuh sendiri, kok.”
“Eeer... masalahnya, Yama-chan... besok kita ada Talk Show.”
Akhirnya Keito bersuara.
“AAAAAHHHH!!” Kembali semua berteriak. Lagi lagi, mereka lupa
kalau itu dirumah.
Disaat semuanya mengerang heboh, dari arah pintu terlihat Ryutaro
yang menjinjing tas belanjaan penuh dengan dvd playstation. “Hoo.. sudah pada
bangun, toh? Kirain masih pada ngorok.” Ejeknya kemudian meletakkan bawaannya
di meja, ketika melihat Chinen, keningnya bertaut. “Kau kenapa, Chii? Terjadi
sesuatu dengan Bakaki!?”
“Apa maksudmu ‘terjadi sesuatu’ ano kuso gaki!” Takaki
meringis kesal. Ryutaro hanya tertawa.
“Ngomong ngomong Chii, kapan kamu mimpi basah? kok nggak pernah
cerita?” Tanya Inoo, peranan sang ibu nampak. Si kecil mendongak kemudian
menatap Yamada.
“Oh...” yang lain langsung mengerti. Jadi Chinen cuma bilang
ke Yamada ketika ‘dapet’ hari pertama(?) Ciyeeeh..
“Kalau gitu nggak aneh dong, kau tahu Chii udah puber kenapa
masih histeris?” celetuk Yabu sambil geleng geleng.
Yamada menggembungkan pipi, “Kan aku kira sakit!” Chinen tersenyum maklum.
Yah.. si tembem itu memang suka lebai. Tapi Chinen jarang ilfil sih, jarang
bukan berarti nggak pernah. Cowok kloningan tupai itu nggak mungkin ilfil sama ‘teman
tapi mesranya’ itu walau norak tapi perhatian.
“Ada apaan sih? Penasaran nih.” Ryutaro ikut nimbrung, Keito
menjelaskan.
“Bwahahaha.... untung tahun lalu aku udah. Yeay! Berarti aku
lebih dewasa daripada kau, Chii. Ahaha...” Si paling muda itu tertawa membuat
Chinen melotot kesal.
“Jaa.. Kita harus beritahu Johnny-san. Mungkin ia bisa
membatalkan jadwal dengan acara TV sampai suara Chinen kembali?” Usul Yuto,
Keito menyetujui.
“Aah.. aku nggak yakin. Kau tahu kalau Johnny-san itu batu.”
Keluh Hikaru sambil menyeder di sofa. “Iya juga ya. Tapi kita tetap harus beri tahu tentang ini.” tandas
Daiki. Chinen tersenyum senang. “Arigatou, minna...”
“Mou... Chii kita
sudah dewasa~” goda Takaki sambil
menjawil dagu si tupai.
“Iya nih, jadi penasaran dengan suaranya kalau sudah normal
nanti.” Imbuh Daiki ikut menjawil dagu Chinen.
“Yang pasti wajah sama suara pasti nggak cocok. Ahahaha..”
Ryutaro mengejek namun sambil mencubit gemas pipi Chii.
“Apaan sih! Kenapa kalian megang megang Chinen?! Sudah sana
kalian mandi! Katanya mau ketemu Johnny-san?! Sana! Sana!” Posesif, salah satu
sifat Yamada ketika ‘pet’ kesayangannya di elus elus orang lain. Yang lainnya hanya tertawa.
-:-
Diruang pribadi Johnny, Hey Say Jump kecuali Chinen mencoba menjelaskan
masalah member mereka yang paling cendik.
“Er... bagaimana kalau acaranya diundur sampai suara Chinen
kembali?” Usul Yabu hati hati, masalahnya kakek didepannya itu sifatnya masih
ababil.
“Hmm..” Pria tua itu ngelus ngelus dagu. “Aku tidak setuju.
Kita tidak boleh melanggar kontrak yang sudah dibuat. Mengundur jadwal acara
apalagi membatalkan acara yang sudah dikontrak itu tidak bisa kecuali kondisi
Chinen-kun benar benar gawat. Kalian semua tetap akan tampil di acara yang
sudah dijadwalkan.” Ucapnya nyebelin. Hikaru komat kamit dalam hati nyumpahin.
“Tapi... Suaraku? Kalau kayak gini aku nggak bisa nyanyi dengan
bagus, Johnny-san..” Chinen pasang wajah melas. Diam diam produser separuh bule itu
terenyuh, tapi kembali masang tampang gahar. “Shikatanai yo, kau akan lipsing.”
“HAH?!” Semua anggota menjerit norak. “Chotto ne, Johnny-san.
Uso darou?! Lipsing kan bukan kita banget! Selama ini kita nggak pernah
nyanyi lipsing!” Inoo memprotes.
“Iya! Lagian, nggak adil buat Chii. Suaranya penting untuk
harmoni lagu lagu kita!” tambah Yamada ngotot.
Johnny mengernyit. “Kenapa kalian jadi marah? Saya nggak
nyuruh Chinen-kun buat nggak nyanyi, saya hanya nyuruh Chinen lipsing. Yang
pasti, kalian tetap menghadiri acara yang sudah dijadwalkan. Tidak ada
pertanyaan lagi. Kalian boleh pergi sekarang.”
Yuya yang bersilang tangan hanya memutar bola matanya.
Anggota JUMP yang lain menghela nafas pasrah, mereka akhirnya keluar dari
ruangan produser mereka dengan muka ditekuk berlipet lipet.
“Apa kubilang. Dia itu batu! Tabahkan hati suci kan diri ya
Chii...” hibur Hikaru yang malah membuat wajah Chinen nggak unyuk. “Ini bukan
iklan Green Tea, tauk.”
“Chii..” Yamada tiba tiba memeluk si kecil dari belakang.
“Daijoubu yo, Yama-chan. Ini salah aku karena baru numbuh jakun
sekarang.”
“Tapi kan belum numbuh, baru mau numbuh..” Apasih Yam, ambigu
banget. Chinen malah cengengesan. “Ssh.. tenang aja! Kita pasti tetap tampil
perfek.”
Yamada tersenyum sambil mencubit pelan pipi Chinen. Si kecil
tersenyum manis. Yamada menyeringai dan langsung mendekatkan wajah pada Chi—
“Misi om..” Ryutaro dengan watados lewat dan memisahkan jarak
Yamada dan Chinen. “Misi bang...” Hikaru ikut ikutan.
“Nande omaera?!” Yamada menjitak dahi Ryu. Si bungsu itu
mengaduh, “Ini bukan dirumah. Ntar kalau ketangkep paparazi, fans kalian bisa
mimisan kehabisan darah tauk.”
“Ayo, ayo, pulang!” Yabu menggiring anak anaknya ke mobil
khusus anggota JUMP.
“Emang Yama-chan udah numbuh jakun ya?” Chinen bertanya ketika
di dalam mobil, matanya memperhatikan bagian leher Yamada dengan seksama, namun ketika
pikirannya sudah nggak nggak(?) segera di alihkan.
“Udah dong! Kan waktu konser tahun lalu di Tokyo suaraku udah
serak!” sahut Yamada bangga, sedikit terkekeh. Mungkin tahu kalau Chinen
memperhatikan daerah kebanggannya(?).
“Tapi ada yang aneh. Kalau Yamada udah numbuh jakun, Kok
nggak kelihatan ya?” celetuk Yuto, jebe jebe percakapan dua sejoli unyuk kita. “Kayak nggak tahu kalau Yama-chan gendut aja. Dilehernya kan
isinya lemak semua~”
“Eh, hewan kutub mending diem! Dasar pinguin!” Yamada
menyahut kesal omongan Dai-chan. Mereka semua tertawa.
Saat dimana mereka tampil di acara talk show, Chinen menepati
janji tampil dengan lipsing. Meskipun penonton yang dirumah tidak tahu, tapi
penonton yang menghadiri secara live pasti sadar perbedaan suara jernih dari
rekaman single lagu mereka dengan suara live Chinen. Si kecil itu tetap tampil
profesional dan tersenyum walaupun Yamada tahu sahabat kesayangannya itu hanya
memberikan senyum bohongan. “Ketauan jelas senyummu maksa, Chii...” batinnya
meringis.
Ketika sesi tanya jawab dengan presenter, Chinen tak banyak
bicara dan hanya cengengesan.
“Chinen-kun hari ini manis seperti biasa..” presenter berucap
mengalihkan topik sebelumnya, kamera lalu menyorot Chinen yang merutuk dalam
hati. Ia hanya terkekeh pelan. Tidak bilang ‘terimakasih’, kenapa? Karena semua
orang sudah tahu kalau ia memang imut dan manis.
“Aku rasa Chinen-kun hari ini agak pendiam. Biasanya kau
bersemangat, kan?”
“Ah.. aku kurang enak badan, terutama ditenggorokanku.”
Chinen menjawab dengan suara serak, namun tetap tersneyum. Presenter itu
terenyak sebelum berucap kembali. “Berarti tadi ketika bernyanyi lipsing?”
Berisik ah, kenapa musti
dibahas sih!
“Hehehe... begitulah. Tapi aku mencoba yang terbaik ne~” Masih tersenyum imut,
namun Ryutaro tahu batin si tupai itu menggeram tak suka, pantas saja dari tadi
si bungsu itu agak merinding, mungkin melihat aura Chinen yang agak suram.
Kemudian tak ada lagi percakapan yang mengarah pada suara
Chinen sampai talk show berakhir. Hari demi hari saat JUMP sedang masa sibuk
sibuknya, Chinen masih menyuguhkan senyum sejuta watt nya untuk mengelabuhi
fans. Tapi bagi teman teman terdekatnya, semakin si kecil itu senyum di panggung,
dibelakang panggung ekspresi Chinen sudah diluar dari kata imut.
“Kapan suara aneh ini hilang?! Di tenggorokanku kayak ada
bola pingpong nyangkut. Nggak enak ih..!” rutuknya saat dibelakang stage ketika Shonen Club berakhir.
“Sabar, Chii. seperti itulah laki laki yang mau numbuh
jakun.” Inoo-mama menenangkan sambil mengacak ngacak rambut si kecil. Yamada
mendekatinya dan menarik kedua pipi Chinen dengan gemas, “Senyum, Chinen! Yang tulus.
Kalau senyummu terpaksa malah nyeremin!”
Chinen menghela nafas dan mencoba tersenyum tulus.
“Nah kan kalau senyum dari hati jadi imut.” Yamada
menyeringai puas.
“Apaan sih, aku mau berekspresi bagaimanapun tetap imut.”
Satu hal yang Yamada lupakan, Chinen adalah cowok ternarsis
di Hey Say JUMP. “Susu Chii deh,”
“Hah?! Apa?! Yamada, kau jangan mesum! Kau tahu kalau Chinen
itu cowok jadi nggak mungkin menghasilkan su—“
“SUSU YABU! Suka Suka Yabu! itu singkatan tauk. Norak banget sih!” Tandas Yamada gemas. Papanya
emang rada rada nggak peka, pantas Mama Inoo suka salah kaprah. member yang lain geleng geleng kepala.
Seminggu lebih telah berlalu. Keluhan anggota JUMP masih
sama, yaitu anggota terimut mereka yang harus lipsing ketika diminta tampil
diacara TV. Untungnya tiga hari berturut turut ini mereka mendapat libur.
Rasanya benar benar plong. Ryutaro bahkan sudah bebas bermain game tanpa ada ancaman
gamenya disita kalau nggak latihan koreografi.
Pagi hari yang suci di kediaman JUMP, mereka masih memanjakan
diri di kasur atau mungkin di sofa sebelum teriakan Chinen menggema diseluruh
ruangan. “MINNAAAAAAA!!!”
Semua anggota langsung menghampiri
Chinen dengan iler yang setengah kering. “ADA APA CHII?!!” Tanya Yabu panik,
diikuti tatapan cemas Yuto dan Inoo.
“Ada apa?!! Kau mimpi Johnny-san memotong tali suaramu??”
Takaki bertanya idiot, Dai-chan menggeram ilfil. “Berisik banget, sih! Masih pagi nggak usah teriak teriak!
Ini bukan hutan!” Yamada datang terakhir sambil mengucek mata. Chinen tak
peduli dengan ocehan Yamada, ia langsung berhambur memeluk si gembul.
“Yama-chan!! Suaraku udah kembali! Suaraku udah normal lagiiii!! BANZAAAAI!!”
Mereka semua bengong seperkian detik setelah akhirnya nyengir
dan bersyukur. “Yokatta... Kau nggak perlu lipsing lagi.” Ucap Yabu. Yamada
membalas pelukan Chii dan mengusap kepalanya lembut, “Saa... jangan pura pura
senyum lagi kalau begitu.”
“Um!” Tak ada yang lebih bahagia dari Chinen saat tahu suara
emasnya sudah kembali normal. Ya, Suaranya memang kembali normal...
“BWAHAHAHAHA...!!” Ryutaro mendadak ngakak.
“Nande, Ryu?” Keito yang berada disebelahnya bertanya.
“Kau bilang suaramu sudah kembali normal? Hmm... pfft..”
“Ih kok ketawa. Nyebelin ih.” Chinen menyahut kesal.
“Suaramu emang udah kembali normal, Chii. Tapi nggak berubah
wkwk. Cuma di lehermu aja yang agak kelihatan jendol. Ah tapi jendolnya nggak
gede sih hahaha..” Ryutaro bicara agak nggak nyambung. Spontan Yamada menepoknya
di jidat. Chinen yang menahan kesal mencoba bersuara pelan. “Aaaa..
”
”
Semua anggota terbelalak, kemudian tertawa bersama.
“Aku baru sadar! Ryutaro benar. Suara Chinen sama sekali
nggak berubah! Tetap cempreng!” Ucap Yuto masih terbahak. Chinen menggembungkan
pipi “Kalian semua nyebelin!”
“Tapi aku pikir, Aku bisa mendengar perubahan suaramu yang
lebih macho dan tegas, Chii.” imbuh Dai-chan, “Kalau seperti ini sih nggak ada
bedanya kayak kau nyanyi On the Wind di konser waktu itu! Ahahaha... tapi tetap
imut sih,”
“Mou! Jangan ingat ingat itu lagi! Gara gara itu aku dikira
cewek sama staf disana!” si kecil merinding saat mengingat kostum awal
sebelum konser pertama kali di Tokyo Dome waktu itu sebuah rok dan bando pita.
“Hahaha.. itu karena kau terlalu imut, Chii.”
“Ih, Bukannya karena pendek ya?? Wkwk...” Sebelum Chinen
menonjok bahu Ryutaro, Yamada sudah memeluk Chinen dengan mesra. “Ssssh...
Malah bagus dong. Kau kan memang imut. Aku bersyukur suaramu tak berubah. Karena
suara ini ciri khasmu. Dan tinggi badanmu... Kenapa harus marah kalau kau masih
bisa bahagia dan bisa kupeluk dengan mudah dengan tinggi badan segini? Chinen
yang kayak gini udah sempurna!”
Duilee panjang banget
gombalan Yamada,
Hikaru mengorek kuping bosen. Chinen hanya tersipu unyu.
“Jadi intinya, Chinen belum dewasa.” Simpul Keito tanpa pikir
panjang, Ryutaro terbahak kembali. Chinen menatap geram.
“Nggak apa apa! Aku nggak mau Chinen terlalu cepat dewasa.
Chinen yang sekarang sudah sempurna! Iya kan teman teman?” Yamada mengerling.
“YUP! Chinen yang seperti ini sudah yang terbaik!” sahut
anggota yang lain.
Owari
A/N: Halo. ini pertama kalinya saya bikin epep di fandom ini. Maaf ya kalau agak er... OOC. saya lebih suka fanfic yang canon dan berusaha bikin supaya ff ini bisa canon XD baru jadi fans hsj.. jadi maklum yah XD dan lagi, YAMACHII IS REAL~ di blog ini semua ff saya adalah YamaChii. karena mereka adalah alasan saya nge fangirl dan betah di fandom ini fufu~ Ja, >w</

0 komentar:
Posting Komentar