Minggu, 29 Maret 2015

CENGENG

Diposting oleh Kiwokchwan di 10.03
Tittle : Cengeng

Pair : Itsumademo YamaChii :*

Author : Kiwok

Ide cerita : fanfic NaruSasu nya rururei-chan :3

Genre : Drama, romance, slice of life

Warning! Bahasa suka suka
Summary : “Kalau aku menangis malah bikin semua orang tambah sedih. Aku nggak mau melihat orang lain sedih. Seorang idola itu harus memberi kebahagian. Bukan kesedihan....”

Douzo!
.
.
.
.


Chinen menoleh pada orang teristimewanya yang duduk memeluk bantal dengan mata berkaca kaca, hidungnya sudah basah, dan bibirnya menahan mati matian untuk tidak mengeluarkan isakan yang tak beda jauh dengan tarikan ingus. Alis Chinen mulai meringkel. “Er... Ryosuke?”

“Sstt..! ini adegan paling seru. Kau diam dulu.”

Pipi Chinen menggembung, Ia memeluk bantal dengan brutal dan bibir mungilnya tak berhenti memisuh. Kalau seperti ini Chinen lebih memilih tidur dirumah sepanjang hari daripada hanya menonton hal yang paling membosankan bersama kekasihnya. Ia baru ingat kalau Yamada akhir akhir ini keranjingan drama korea semenjak liburan ke Korea bulan lalu.

“Dasar cengeng!” si chibi itu akhirnya mencetus sambil menatap LCD TV. Disana terlihat seorang cowok dipenjara sedangkan sang cewek diluar jeruji menjerit dan menangis. Chinen mengernyit lalu menoleh pada Ryosuke-nya yang kerap... menangis juga. iwh.

“Ryosuke! Berhenti terisak! Kau terlihat cemen kalau seperti itu!” Chinen akhirnya berseru. Risih melihat kekasihnya yang sesegukan sambil meremat-remat bantal hanya karena drama korea.

“Chibi! Kau tidak mengerti! Kalau kau nonton dengan serius dari awal pasti kau juga akan tersenyuh!” oceh Yamada, menatap Chinen dengan wajah beler dan si kecil itu merasa semakin iwh melihat kekasihnya yang lagi lagi mendramatisir keadaan.

“Demi nasi basinya Inoo-chan! Ryosuke, itu cuma drama! Cuma settingan! Kau kan aktor, pasti bisa mengambil cela lelucon dari drama ini. Mereka cuma ekting dan setelah take seperti itu mereka tak ayal akan ketawa-ketawa nggak jelas, sama sepertimu yang habis take adegan nangis di Hidarime Tantei. Ujung-ujungnya juga cengengesan!”

Yamada mengerang gemas mendengar celotehan Chinen. Ia tahu kalau sebenarnya orang kesayangannya itu cemburu dicueki karena drama korea, lantas Yamada mematikan DVD player serta TV nya lalu duduk bersila dan menatap Chinen lurus-lurus. “Kau sudah berjanji akan menemaniku nonton di rumahku seharian ini, Yuri.”

Chinen terkesiap. Ryosuke-nya mulai memanggil ‘Yuri’ berarti dia sedang serius. Si chibi tersenyum kagok. “Ya.. iya sih.. tapi kukira kira akan menonton film yang menegangkan seperti The Conjouring atau Annabell, atau—“

“Kau mengejekku ya?” Yamada melotot dan langsung menarik kedua pipi kenyal Chinen. “Kau tahu kalau aku penakut, Chibi!”

“Ah—aduh..aaw! Sakit, Buta!” Chinen meronta, lalu balas mencubibit pipi elastis Yamada. “Karena aku tahu kau penakut makanya kusarankan menonton film horor supaya nanti kau ketakutan lalu memelukku bukan memeluk bantal!” bibir Chinen mengerucut. Yamada mendesis jengkel meski sebenarnya senang Yuri-nya minta dipeluk olehnya, ia lalu memukul jidat Chinen dengan bantal didekapannya.

“aaw! Kok dipukul sih?!” Chinen memekik.

“Aku seme, ingat? Kau yang seharusnya berlari kepelukanku.”

“Yeah...” bola mata chinen berputar. “Seme cengeng.”

“Hoi!” Yamada melotot.

“Ck, kita free hari ini, Ryo. Dan aku main kerumahmu disaat semua keluargamu sedang berlibur seharusnya dimanfaatkan dengan seru seruan seperti—“

“Tidak dengan film horor.”

“Oh oke. Seperti bikin kue.. atau membuat prakarya gitu..”

Yamada mengernyit lalu detik berikutnya ia tertawa. “memangnya kau anak SD? Dan oh, Chinen Yuri mau susah payah membuat sesuatu padahal setahuku kekasihku ini maunya tinggal jadi.”

Chinen meringis. “Maa.. kalau Ryosuke yang bikin aku ikut bantu deh! Kemarin waktu kita berbeque-an aku ikut bantu bakar daging!”

“Dan daging itu gosong.”

Cengiran Chinen berganti jadi monyongan lucu, jantung Yamada langsung berpacu lebih cepat. ia kembali memukul Yuri-nya dengan bantal. “Nggak usah monyong bibirnya, kau ngasih aku kode untuk menciummu, huh?”

“Apa sih kok dipukul terus?! Pokoknya kita harus bikin sesuatu yang menyenangkan bukan dengan nonton drama yang bikin kau termehek mehek nggak jelas itu!”

Yamada terkekeh melihat Chinen misuh-misuh sambil mengerucutkan bibirnya, benar-benar membuat pemuda chubby itu ingin menciumnya. Tapi detik berikutnya raut Yamada berubah serius. Ia langsung menangkup wajah persolen kekasihnya dan menatapnya intens. “Yuri.. aku baru sadar satu hal.”

Chinen berkedip cepat, begitu juga dengan degup jantungnya. “Sadar apa?” oh Tuhan... jangan bilang Ryosuke-nya baru sadar kalau hanya mereka berdua di rumah lalu Yamada akan—

“Aku baru sadar kau tak pernah menangis!”

“...Eh?”

“Iya kan? Aku baru sadar! Astaga.. terakhir aku melihatmu menangis itu ketika kau masih bocah karena game boatmu aku otak atik. Selebihnya kau tidak pernah menangis lagi.”

Chinen mendesah lega ketika ‘kesadaran’ yang dimaksud Yamada bukan ‘rumahnya yang sedang sepi dan kegiatan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih dirumah yang sepi’. Oh, Chinen! Kenapa kau jadi berpikiran seperti itu?!

“Yuri.. hei, Yuri!”

“Eh iya? Kenapa?” Chinen nyengir.

“Ck, kau tidak pernah menangis! Dalam artian.. menangis dihadapanku atau dihadapan member lain. Bahkan ketika aku tanya Saaya-nee, dia bilang nyaris tidak mendengar kau menangis atau melihat tanda tanda kau akan menangis di rumah.”

“Oh itu...”

“Kau tidak menangis saat yarakashi terjadi padamu. Kau tidak menangis bahagia ketika sukses menyelesaikan drama perdanamu. Kau tidak menangis saat aku melakukan fanservice gila dengan Yuto, kau malah marah dan menjutekanku tanpa berbicara sama sekali padaku. Kau tidak menangis ketika sanak keluargamu terkena dampak gempa. Kau tidak menangis saat Ryutaro di droup out dari Johnny’s. Kau tidak menangis ketika aku digosipkan dengan Nishiuchi-san atau Mirai-san. Kau tidak me—“

“Sttt...” telunjuk lentik Chinen membungkam bibir Yamada, si kecil itu justru tersenyum menawan, “Kau tidak perlu menyebut semuanya, Ryosuke...”

Yamada berkedip. Matanya menatap lekat Chinen yang tersenyum menggemaskan.

“Aku tidak seperti kau yang mudah tersentuh hanya karena skenario Tuhan, apalagi skenario manusia seperti fanservice, gosip, atau bahkan drama korea yang barusan kau tonton,” Senyumannya kembali menjadi cengiran khas. “...Ketika aku ingin menangis, aku mengubur tangisanku dalam-dalam dan merubahnya dengan senyum yang aku punya.”

“Cheee... Kau tahu? Senyum kesedihanmu itu menyakitkan, Chibi. Malah membuatku ingin menangis ketika melihatmu sedih dan memaksakan senyuman padahal harusnya kau menangis.” Yamada mendesis, onixnya masih lekat membingkai wajah Yuri-nya.

“ahaha.. karena itu! Itu belum nangis loh. Baru ‘sedih’. Kalau aku menangis malah bikin semua orang tambah sedih. Aku nggak mau melihat orang lain sedih. Seorang idola harus memberi kebahagiaan.. bukan kesedihan, ingat?”

Yamada luput dengan senyuman kekasihnya. Ia ikut tersenyum.

“...Tapi mungkin... ah bukan. Tapi pasti. Bila hari itu tiba. Bila hari dimana kita berpisah... benar-benar harus berpisah, bukan karena kalah tenar fanservice dengan yang lain atau gosip, tapi perpisahan langsung dari mulutmu. Kau sudah tak menginginkanku lagi dan memulai dengan yang lain. Kau memanjakan yang lain. Kau mentraktir yang lain. Kau membiayai yang lain, bukan aku lagi sebagai tempat singgahanmu. Aku pasti... pasti menangis, Ryosuke. Sungguh. Aku akan menangis dihadapan siapapun! Aku akan menangis di hadapan pers! Ahahaha...” Chinen tertawa hambar kemudian menyesal mengatakan demikian ketika dilihatnya sang kekasih kembali meneteskan air mata.

“Ryosuke..? Hei! kenapa menangis lagi.. hei,” kedua ibu jari Chinen mengusap air mata Yamada, pembuda chubby itu spontan memeluk Chinen. Memeluk sangat erat dan membawa Yuri-nya dalam kehangatan dekapannya hingga Chinen mencium semua esensi memabukan dari diri Yamada.

“Nggak akan! Nggak akan kubiarkan kau menangis. Aku akan tetep memanjakanmu, mentraktirmu, membiayaimu, membiarkan dompetku kering hanya buatmu. Dan kau tidak akan menangis slamanya, Yuri. Karena aku nggak akan menggantikanmu dengan yang lain....” pelukan Yamada terlepas, ia meraup pulm seksi Yuri-nya segera. Membuat sebuah pagutan panas yang terasa sangat manis.

“Eungh.. Ryosuke..”

Ciuman itu terlepas. Dilihatnya Chinen sedang blushing parah sedangkan Yamada menyeringai. “Ohiya, aku baru sadar akan satu hal lagi.”

Glek. Chinen meneguk ludahnya.

“Rumah kan sepi ya... hanya kita berdua. Besok jadwalku juga longgar. Kau juga kan?” seringai itu makin lebar sementara muka Chinen bak kepiting rebus.

“Mau main?” usul Yamada dengan perangai mesumnya. Chinen mengangguk pasrah. Well, seharusnya ia tak merasa lega tadi karena pasti Yamada akan mengajaknya bermain juga mengingat kekasihnya itu mesum kronis.

“Gyaaah!! Apa yang kau lakukan, Buta?!” Chinen terkesiap dan memekik spontan ketika Yamada menyeruak di perpotongan lehernya dan meremat dadanya yang masih utuh tersegel oleh pakaian. “Ayo kita bermain...” desis pemuda chubby itu dengan suara seksi.

“Engg.. di kamar..” lenguh Chinen.

“Yosha!”


~THE END~


A/N : Nyahahahak apa ini. Dibikin versi YamaChii jadi mesum gini wkwk /padahalyang mesumauthornya/ wkwk..  XD Yama kan emang cengeng. Ampe kesel liat dia bentar bentar mewek. Di School Kakumei mewek, di konser mewek, di drama mewek orzzz... :v Latar cerita ini langsung muncul pas baca transletan majalah myojo di  twitter ohmychinen yang “sudah lama aku tidak main kerumah Ryosuke. Apa yang kulakukan dirumah Ryosuke? Apa kau pikir dia memelukku dengan tangan kekarnya? Well, itu ra-ha-si-a” wkwkwk dasar otepeh <3 saya ampe gelinjangan bacanya. Mananya yang rahasia kalo udah ngasih tahu enteh dipeluk yama, chii.. dasar kuntet /authornyagasadardiri/ XD ohya disini drama yang di tonton Yama itu Sassy Girl Chung Yang -_- saya asal ngambil dramanya soalnya mamski rewatch itu di ruang tengah pas saya ngetik ini di ruang tengah. Padahal awalnya mo pake film titanic hahaha XD  

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review