Tittle : Cengeng
Pair : Itsumademo YamaChii :*
Author : Kiwok
Ide cerita : fanfic NaruSasu nya
rururei-chan :3
Genre : Drama, romance, slice of
life
Warning! Bahasa suka suka
Summary : “Kalau aku menangis malah bikin semua orang tambah sedih. Aku nggak mau
melihat orang lain sedih. Seorang idola itu harus memberi kebahagian. Bukan
kesedihan....”
Douzo!
.
.
.
.
Chinen menoleh pada orang teristimewanya yang duduk memeluk bantal dengan
mata berkaca kaca, hidungnya sudah basah, dan bibirnya menahan mati matian
untuk tidak mengeluarkan isakan yang tak beda jauh dengan tarikan ingus. Alis
Chinen mulai meringkel. “Er... Ryosuke?”
“Sstt..! ini adegan paling seru. Kau diam dulu.”
Pipi Chinen menggembung, Ia memeluk bantal dengan brutal dan bibir mungilnya
tak berhenti memisuh. Kalau seperti ini Chinen lebih memilih tidur dirumah sepanjang
hari daripada hanya menonton hal yang paling membosankan bersama kekasihnya. Ia
baru ingat kalau Yamada akhir akhir ini keranjingan drama korea semenjak
liburan ke Korea bulan lalu.
“Dasar cengeng!” si chibi itu akhirnya mencetus sambil menatap LCD TV.
Disana terlihat seorang cowok dipenjara sedangkan sang cewek diluar jeruji
menjerit dan menangis. Chinen mengernyit lalu menoleh pada Ryosuke-nya yang
kerap... menangis juga. iwh.
“Ryosuke! Berhenti terisak! Kau terlihat cemen kalau seperti itu!” Chinen
akhirnya berseru. Risih melihat kekasihnya yang sesegukan sambil meremat-remat
bantal hanya karena drama korea.
“Chibi! Kau tidak mengerti! Kalau kau nonton dengan serius dari awal pasti
kau juga akan tersenyuh!” oceh Yamada, menatap Chinen dengan wajah
beler dan si kecil itu merasa semakin iwh melihat
kekasihnya yang lagi lagi mendramatisir keadaan.
“Demi nasi basinya Inoo-chan! Ryosuke, itu cuma drama! Cuma settingan! Kau
kan aktor, pasti bisa mengambil cela lelucon dari drama ini. Mereka cuma ekting
dan setelah take seperti itu mereka
tak ayal akan ketawa-ketawa nggak jelas, sama sepertimu yang habis take adegan nangis di Hidarime Tantei. Ujung-ujungnya juga cengengesan!”
Yamada mengerang gemas mendengar celotehan Chinen. Ia tahu kalau sebenarnya
orang kesayangannya itu cemburu dicueki karena drama korea, lantas Yamada mematikan
DVD player serta TV nya lalu duduk bersila dan menatap Chinen lurus-lurus. “Kau
sudah berjanji akan menemaniku nonton di rumahku seharian ini, Yuri.”
Chinen terkesiap. Ryosuke-nya mulai memanggil ‘Yuri’ berarti dia sedang
serius. Si chibi tersenyum kagok. “Ya.. iya sih.. tapi kukira kira akan
menonton film yang menegangkan seperti The Conjouring atau Annabell, atau—“
“Kau mengejekku ya?” Yamada melotot dan langsung menarik kedua pipi kenyal
Chinen. “Kau tahu kalau aku penakut, Chibi!”
“Ah—aduh..aaw! Sakit, Buta!” Chinen meronta, lalu balas mencubibit pipi elastis
Yamada. “Karena aku tahu kau penakut makanya kusarankan menonton film horor supaya
nanti kau ketakutan lalu memelukku bukan memeluk bantal!” bibir Chinen
mengerucut. Yamada mendesis jengkel meski sebenarnya senang Yuri-nya minta
dipeluk olehnya, ia lalu memukul jidat Chinen dengan bantal didekapannya.
“aaw! Kok dipukul sih?!” Chinen memekik.
“Aku seme, ingat? Kau yang
seharusnya berlari kepelukanku.”
“Yeah...” bola mata chinen berputar. “Seme cengeng.”
“Hoi!” Yamada melotot.
“Ck, kita free hari ini, Ryo. Dan aku main kerumahmu disaat semua
keluargamu sedang berlibur seharusnya dimanfaatkan dengan seru seruan seperti—“
“Tidak dengan film horor.”
“Oh oke. Seperti bikin kue.. atau membuat prakarya gitu..”
Yamada mengernyit lalu detik berikutnya ia tertawa. “memangnya kau anak SD?
Dan oh, Chinen Yuri mau susah payah membuat sesuatu padahal setahuku kekasihku
ini maunya tinggal jadi.”
Chinen meringis. “Maa.. kalau Ryosuke yang bikin aku ikut bantu deh! Kemarin waktu kita berbeque-an aku ikut bantu bakar daging!”
“Dan daging itu gosong.”
Cengiran Chinen berganti jadi monyongan lucu, jantung Yamada langsung
berpacu lebih cepat. ia kembali memukul Yuri-nya dengan bantal. “Nggak usah monyong bibirnya, kau ngasih aku kode untuk menciummu, huh?”
“Apa sih kok dipukul terus?! Pokoknya kita harus
bikin sesuatu yang menyenangkan bukan dengan nonton drama yang bikin kau
termehek mehek nggak jelas itu!”
Yamada terkekeh melihat Chinen misuh-misuh sambil mengerucutkan bibirnya, benar-benar membuat pemuda chubby itu ingin
menciumnya. Tapi detik berikutnya raut Yamada berubah serius. Ia langsung
menangkup wajah persolen kekasihnya dan menatapnya intens. “Yuri.. aku baru sadar satu hal.”
Chinen berkedip cepat, begitu juga dengan degup jantungnya. “Sadar apa?” oh Tuhan... jangan bilang Ryosuke-nya baru sadar kalau hanya mereka berdua di rumah lalu Yamada akan—
“Aku baru sadar kau tak pernah menangis!”
“...Eh?”
“Iya kan? Aku baru sadar! Astaga.. terakhir aku melihatmu menangis itu
ketika kau masih bocah karena game boatmu
aku otak atik. Selebihnya kau tidak pernah menangis lagi.”
Chinen mendesah lega ketika
‘kesadaran’ yang dimaksud Yamada bukan ‘rumahnya yang sedang sepi dan kegiatan yang seharusnya dilakukan
sepasang kekasih dirumah yang sepi’. Oh, Chinen! Kenapa kau jadi berpikiran
seperti itu?!
“Yuri.. hei, Yuri!”
“Eh iya? Kenapa?” Chinen nyengir.
“Ck, kau tidak pernah menangis! Dalam artian.. menangis dihadapanku atau
dihadapan member lain. Bahkan ketika aku tanya Saaya-nee, dia bilang nyaris
tidak mendengar kau menangis atau melihat tanda tanda kau akan menangis di
rumah.”
“Oh itu...”
“Kau tidak menangis saat yarakashi terjadi
padamu. Kau tidak menangis bahagia ketika sukses menyelesaikan drama perdanamu.
Kau tidak menangis saat aku melakukan fanservice gila dengan Yuto, kau malah
marah dan menjutekanku tanpa berbicara sama sekali padaku. Kau tidak menangis
ketika sanak keluargamu terkena dampak gempa. Kau tidak menangis saat Ryutaro
di droup out dari Johnny’s. Kau tidak
menangis ketika aku digosipkan dengan Nishiuchi-san atau Mirai-san. Kau tidak
me—“
“Sttt...” telunjuk lentik Chinen membungkam bibir Yamada, si kecil itu justru tersenyum menawan, “Kau tidak perlu menyebut semuanya, Ryosuke...”
Yamada berkedip. Matanya menatap lekat Chinen yang tersenyum menggemaskan.
“Aku tidak seperti kau yang mudah tersentuh hanya karena skenario Tuhan,
apalagi skenario manusia seperti fanservice, gosip, atau bahkan drama korea
yang barusan kau tonton,” Senyumannya kembali menjadi cengiran khas. “...Ketika
aku ingin menangis, aku mengubur tangisanku dalam-dalam dan merubahnya dengan
senyum yang aku punya.”
“Cheee... Kau tahu? Senyum kesedihanmu itu menyakitkan, Chibi. Malah
membuatku ingin menangis ketika melihatmu sedih dan memaksakan senyuman padahal
harusnya kau menangis.” Yamada mendesis, onixnya masih lekat membingkai wajah
Yuri-nya.
“ahaha.. karena itu! Itu belum nangis loh. Baru ‘sedih’. Kalau aku menangis
malah bikin semua orang tambah sedih. Aku nggak mau melihat orang lain sedih.
Seorang idola harus memberi kebahagiaan.. bukan kesedihan, ingat?”
Yamada luput dengan senyuman kekasihnya. Ia ikut tersenyum.
“...Tapi mungkin... ah bukan. Tapi pasti. Bila hari itu tiba. Bila hari
dimana kita berpisah... benar-benar harus berpisah, bukan karena kalah tenar
fanservice dengan yang lain atau gosip, tapi perpisahan langsung dari mulutmu.
Kau sudah tak menginginkanku lagi dan memulai dengan yang lain. Kau memanjakan
yang lain. Kau mentraktir yang lain. Kau membiayai yang lain, bukan aku lagi
sebagai tempat singgahanmu. Aku pasti... pasti menangis, Ryosuke. Sungguh. Aku
akan menangis dihadapan siapapun! Aku akan menangis di hadapan pers! Ahahaha...”
Chinen tertawa hambar kemudian menyesal mengatakan demikian ketika dilihatnya
sang kekasih kembali meneteskan air mata.
“Ryosuke..? Hei! kenapa menangis lagi.. hei,” kedua ibu jari Chinen
mengusap air mata Yamada, pembuda chubby itu spontan memeluk Chinen. Memeluk
sangat erat dan membawa Yuri-nya dalam kehangatan dekapannya hingga Chinen
mencium semua esensi memabukan dari diri Yamada.
“Nggak akan! Nggak akan kubiarkan kau menangis. Aku akan tetep
memanjakanmu, mentraktirmu, membiayaimu, membiarkan dompetku kering hanya
buatmu. Dan kau tidak akan menangis slamanya, Yuri. Karena aku nggak akan
menggantikanmu dengan yang lain....” pelukan Yamada terlepas, ia meraup pulm seksi Yuri-nya segera. Membuat
sebuah pagutan panas yang terasa sangat manis.
“Eungh.. Ryosuke..”
Ciuman itu terlepas. Dilihatnya Chinen sedang blushing parah sedangkan Yamada
menyeringai. “Ohiya, aku baru sadar akan satu hal lagi.”
Glek. Chinen meneguk ludahnya.
“Rumah kan sepi ya... hanya kita berdua. Besok jadwalku juga longgar. Kau
juga kan?” seringai itu makin lebar sementara muka Chinen bak kepiting rebus.
“Mau main?” usul Yamada dengan perangai mesumnya. Chinen mengangguk pasrah.
Well, seharusnya ia tak merasa lega tadi karena pasti Yamada akan mengajaknya bermain juga mengingat kekasihnya itu
mesum kronis.
“Gyaaah!! Apa yang kau lakukan, Buta?!” Chinen terkesiap dan memekik
spontan ketika Yamada menyeruak di perpotongan lehernya dan meremat dadanya
yang masih utuh tersegel oleh pakaian. “Ayo kita bermain...” desis pemuda
chubby itu dengan suara seksi.
“Engg.. di kamar..” lenguh Chinen.
“Yosha!”
~THE END~
A/N : Nyahahahak apa ini. Dibikin versi YamaChii jadi mesum gini wkwk
/padahalyang mesumauthornya/ wkwk.. XD Yama kan emang cengeng. Ampe kesel liat dia bentar bentar mewek. Di School
Kakumei mewek, di konser mewek, di drama mewek orzzz... :v Latar cerita ini
langsung muncul pas baca transletan majalah myojo di twitter ohmychinen yang “sudah lama aku tidak main
kerumah Ryosuke. Apa yang kulakukan dirumah Ryosuke? Apa kau pikir dia
memelukku dengan tangan kekarnya? Well, itu ra-ha-si-a” wkwkwk dasar
otepeh <3 saya ampe gelinjangan bacanya. Mananya yang rahasia kalo udah
ngasih tahu enteh dipeluk yama, chii.. dasar kuntet /authornyagasadardiri/ XD
ohya disini drama yang di tonton Yama itu Sassy Girl Chung Yang -_- saya asal
ngambil dramanya soalnya mamski rewatch itu di ruang tengah pas saya ngetik ini
di ruang tengah. Padahal awalnya mo pake film titanic hahaha XD

0 komentar:
Posting Komentar