Judul: Hajimaru no Melody Part 2 (Part 1)
Author: Kiwok
Pair: YamaChii as usual <3
Genre: Comedy, Smut, NC-17
Summary: Awal mula sebuah melodi; itu adalah melodi yang sangat merdu.
Melodi yang sangat nikmat didengar. Kata siapa suara Chinen jelek? Suara Chinen
adalah yang termerdu dibanding yang lainnya, terutama ketika sudah overtune,
berada dipuncak, berada di spot yang tepat. Lengkungan suara Chinen adalah yang
terbaik.
PS : EA AMBIGU. SENENG KAN LO GUE BIKIN ENCEH :)
CEKIDOT!
.
.
.
.
Yamada baru menempelkan pundaknya
di sofa sambil bermain gadget kurang lebih dua menit yang lalu, ia berniat
istirahat tanpa ada siapapun yang berhak menganggu setidaknya sampai enam jam
ke depan sebelum latihan dance untuk single baru mendatang. Center group Hey!Say!JUMP itu sudah
menghubungi kekasih mungilnya yang sedang syuting tadi pagi sehingga ia tak ada
kewajiban lagi untuk sibuk.
TING TONG TING TONG TING TONG!
Tapi sialnya, bel apartemen yang berdenting
terus-menerus memaksa pemuda modis itu turun dari sofa.
“Siapa?” Tanya Yamada sambil
mengernyit, ia tak bisa melihat jelas wajah orang di intercom karena wajahnya
tertutup topi. Bukannya disahut, bel di apartemennya malah semakin dipencet
banyak. Yamada menggeram, sepertinya ia tahu siapa.
“Haloooooooooo~”
Wajah Yamada lebih datar daripada
tembok setelah membuka pintu, ia sama sekali tak berniat menyahut sapaan orang
yang brutal pada bel apartemennya.
“Aku masuk ya~”
Tapi tetap saja, ketika orang itu
nyelonong masuk Yamada hanya mendengus pasrah sambil menutup pintu.
“Kenapa kau tahu alamat
apartemenku?”
“Karena aku Tegoshi Yuya,”
Yamada berdecak melihat sang
senior sudah duduk di sofa kesayangannya.
“Untuk apa Tegoshi-kun kesini?”
Pemuda cantik itu ikut berdecak,
“Nggak Chinen-kun, Nggak kau, selalu jutek kalau menyambutku.”
“Karena ini hari santaiku!” sahut
Yamada langsung.
“Aku tahu, karena itu aku
datang.”
Yamada memutar mata.
“Aku ingin mendengar ceritamu.” Tegoshi
mulai menyilangkan kaki, memasang senyum misterius, “tak usah tanya apa yang
ingin kudengar, karena aku sangat yakin kau akan menceritakan tentang itu
secara sukarela.”
Yamada hanya mengernyit, tak
masuk dengan ucapan Tegoshi.
“Tentang hubunganmu dengan Chinen-kun,
bodoh! Astaga aku baru tahu generasi terbaru aktor hebat Johnny’s punya otak
lemot!”
“HAH?” rekasi Yamada berlebihan,
“Nggak akan! Aku nggak akan cerita!”
“Ohya? Kenapa?”
“Karena itu privasi!”
“Privasi? Memeluk Chinen dengan posisi
ambigu padahal jelas-jelas ada kamera itu privasi? Bilang di majalah kalau kau
menciumnya 10 ribu kali dan kuyakin sekarang sudah nambah itu namanya privasi?
Atau mengumbar tentang kalian yang hanya berdua seharian di apartemen dengan
bermain ‘GAME’ itu namanya privasi?”
Yamada meneguk ludahnya.
“Oh ayolah, aku terlalu jenius
untuk sekedar tahu. Kau tidak bisa mengelak dariku Yamada-kun, cerita saja
sepuasnya SE.KA.RANG.”
Terlihat wajah Yamada sudah
semerah babi panggang. Ia tak bisa mengelak. Percuma, Tegoshi Yuya memang
senior yang paling menyadari kemesraannya bersama sang kekasih. Dengan sekali
dengusan permulaan, Yamada akhirnya bercerita.
“Aku tidak sengaja memeluknya.
Itu reflek.”
“Ya aku tahu, reflekmu sangat
seduktif.”
Wajah Yamada memerah telak.
“Apa itu salah?”
“Tidak juga sih. Tapi kurang
tepat. Kau lupa kalau ada kamera.”
“Ya aku tahu itu sedang syuting,
tapi kalau kekasihmu berbuat jahil dengan memukul kepalamu berkali-kali, apa
yang akan kau lakukan?”
“Menamparnya.”
Yamada melongo. “Aku tak bisa
melakukan itu pada Yuri,”
“Aku tak bilang menamparnya
dengan keras. Cukup tempelkan tangan di pipinya lalu mendorongnya menjauh.”
“Aku tidak biasa melakukan itu
padanya. ”
“Ya benar, kau langsung
memeluknya. Dengan posisi ambigu. Karena itu lah yang biasa kau lakukan padanya,
bagus sekali.”
Yamada kembali memerah.
“Hmm… kapan pertama kali kau berciuman
dengannya?”
“Waktu dia SMP, tepatnya saat
istirahat syuting MV Dreams Come True.” Yamada menjawab dengan mudah. Terbukti
kalau ia memang ingin menceritakan, ingin membeberkan, ingin sema orang tahu
kalau Chinen Yuri adalah miliknya.
“Wow, lalu?”
“Dia tidur. Dia tidak sadar.”
“Kau tidak gentle! Kalau begitu ciuman
yang dia sadar?”
“Selesai konser di musim dingin
tahun 2011.”
“Ah! Setelah kau menyatakan cinta
padanya ya?” Tegoshi sebenarnya sudah tahu, tapi untuk permulaan, dia harus
pura-pura lugu.
“Iya. Lalu dia menangis.”
“Aw lucunya.”
Yamada tersenyum. “Dia selalu
lucu. Imut.”
“Imut mana sama 60 hamster di
rumahmu yang jarang kau urus?”
“jangan samakan hamster dengan
Yuriku!”
Tegoshi langsung tertawa.
“Omong-omong, aku ingin tahu tentang hubungan sex pertamamu dengan Chinen.”
“Tidak Tegoshi-kun, itu terlalu
privasi.”
“Masih sok-sokan bilang privasi?
Perlu aku bersengkongkol dengan Yuma-kun
untuk menyebarkan foto tidur sambil telanjang dan berpelukan kalian ke
publik?”
“KAU! KAU TAHU DARI—“
“Sudah kubilang, aku terlalu
jenius untuk sekedar tahu. Aku mau lebih. Janji, ini tidak akan kusebar.”
“Tapi—“
“Apa? Kau takut tegang? Tenang
saja, aku cukup bisa memuaskanmu.”
Yamada mengerang geli bercampur
malu sementara Tegoshi terbahak.
“Cepat ceritakan!”
“Hanya singkatnya!” Kesal Yamada,
ia kembali menaeik nafas banyak sebelum cerita kembali. “Aku melakukan itu
pertama kali dengannya setelah promosi Come on a My House sudah mau selesai,
tinggal mempersiapkan konser.”
“Aku mau lebih lanjut.”
“Tidak akan.”
“Ingat foto~”
“Kau!”
“Ceritakan saja!”
“Ck, kita melakukannya disini.”
Tegoshi menunggu.
“Karena paksaan anggota lain
juga.”
“Kenapa dipaksa? Kau melakukan
hubungan intim karena dipaksa?”
“Tentu saja tidak! Aku sangat
mencintainya. Karena aku sangat, tapi Chinen seperti menghindar akhirnya banyak
pihak yang membantuku.”
“Lalu?”
“Kira-kira pukul tujuh malam…”
=:=
“Yuri, aku serius. Mau kapan
diundur terus?”
Chinen mengalihkan wajahnya dari
HP yang ia pegang, wajahnya memerah dan canggung.
Yamada mendengus. “Aku ingin
melakukannya denganmu. Apa kau tidak menyukaiku sampai kau selalu merasa belum
siap?”
“Apa kau tidak menyukaiku sampai
meragukanku begitu?” Balasan Chinen membuat Yamada mengernyit.
“Kau masih saja tidak peka.”
Yamada berpikir keras maksudnya.
“Kalau Yuya ingin melakukannya
dengan Dai-chan, dia akan melakukannya tanpa ada perjanjian atau izin-izinan.
Katanya, Dai-chan sudah punya dia jadi berhak melakukan apapun untuknya. Kalau
Yabu, dia akan dengan tegas menyeret Inoo ke kamar dan—“
Yamada sepenuhnya mengerti
sehingga ia langsung menyambar mulut Chinen yang sedang berbicara.
“Eunghh—“
Sekiranya satu menit mereka
menyatukan bibir. Yamada tahu, mereka masih butuh bernafas.
“Kau yang bilang sendiri, aku
milikmu, jadi lakukan sesukamu. Tak usah bertanya padaku atau meminta izinku.
Saat aku menerimamu dulu, aku sudah siap bercinta denganmu di waktu yang tepat.
Kalau menurutmu ini waktu yang tepat, lakukan segera.” Chinen berkata dengan
serak, lebih tepatnya tersenggal karena bibir dan rongga mulutnya baru saja di
sesap. Oh, bahkan saliva masih ada di ujung bibirnya.
“Baiklah,” Yamada menjilat ujung
bibir Chinen, kemudian mendorong Chinen untuk rebahan di sofa panjang yang baru
Yamada beli untuk menghiasi apartemen barunya. Pemuda modis itu lanjut mencumbu
bibir sang kekasih.
“Ahhh!” tapi tiba-tiba Chinen
mendorong Yamada. “Jangan digigit!”
“Kau bilang aku boleh melakukan
apapun.” Cengiran Yamada terlihat menyebalkan. “Habis bibir bawahmu kenyal
sekali, enak untuk digigit.”
Baru Chinen ingin protes, Yamada
sudah kembali memagut, kali itu ia bermain dengan lidah dan bagian atas bibir
Chinen ia emut dengan gemas.
“Eunghhh—“
Tangan Yamada juga mulai bergerilya
ke bagian dada, menyusup lewat kaus V-neck yang Chinen kenakan dengan
hati-hati. Ia sampai ke bagian dada lalu memainkan punting kiri si mungil yang
masih gepeng dan tertidur pulas.
“Aww!!”
Sungguh, Yamada belum
profesional.
“Ryosuke, jangan di cubit!”
Chinen merengek sembari melenguh.
“Dia tidur. Aku ingin ini naik.”
“Astaga! Apa kau sudah
benar-benar belajar?”
“Sudah!”
“Tapi sakit!”
“Kau yang terlalu menggemaskan
dan rata. Yang aku tonton, kalau disentuh itu sudah menonjol.”
=:=
Tegoshi meringis gemas dan ingin
menyleding kepala Yamada saat menceitakan bagian itu. Tapi sang senior cantik
lebih memilih mencaci.
“Dasar bodoh! Harusnya kau beli
DVD untuk pemula!”
Yamada mendengus santai. “Aku beli
yang paling hot.”
“Itu untuk yang sudah pro, idiot!
Kalau buat yang baru tentu saja berbeda! Semua tubuhnya masih sensitif, apalagi
bagian punting yang pasti masih tetidur rata!” Tegoshi berceramah. Yamada
menjelaskan, kalau dia sudah tahu itu dari Yabu atau Yuya, tapi tetap saja ia
terbawa gemas.
=:=
Permainan Yamada tidak sampai di
dada, ciuman panas perlahan turun melewati leher. Chinen mengira sang kekasih
akan mulai menghisap puntingnya yang sudah hampir naik, tapi nyatanya Yamada
malah bermain di jakun kecil Chinen.
“Akh!”
Itu di putar-putar menggunakan
lidah. Juga digigit. Chinen semakin mendongak dan melenguh saat Yamada
tiba-tiba meraup keseluruhan adam apple
nya dan tangannya sudah ada di selangkangannya, meremas junior Chinen yang
masih terbungkus sempurna.
“Kita lanjutkan di kamar ya? Biar
lebih lega.”
Chinen mengangguk pasrah. Yamada
dengan segera menggendong Chinen ala bridal dengan lembut. Sayangnya, jarak
sofa dengan kamar cukup jauh bagi sang center
untuk menggendong Chinen. Ia malah memapah Chinen dengan satu tangan.
“Ih, dasar lema—akhhh...”
Yamada tidak lemah, itu alasan
supaya satu tangannya yang tidak di pundak dan badan Chinen bisa meremas lagi
bagian bawah si mungil.
Chinen tentu lemas. Tubuhnya
perlahan limbung namun Yamada tetap memapahnya dengan tangan kiri. “Jalan
sayang. Tujuh langkah lagi.” Katanya sambil mulai memasukan tangannya ke celana Chinen.
“Akhh...!! jangan disini.”
“Ayo jalan...”
“Ryo!”
“Terserah aku kan?”
“Akhh!”
Satu langkah
“ahhnn”
Dua
“Akhh akkhnn akhhnn”
Kita bisa mendengar selama
berjalan sampai ke kamar, tangan Yamada tak berhenti memijat dan bermain dengan
junior Chinen. Sampai akhirnya mereka berada di depan kasur, Chinen langsung
lunglai.
“Kau belum keluar kan sayang?”
Yamada mengecup pipi Chinen.
“Belum, tapi sudah lelah.”
“Ini baru permulaan..”
“Cepat selesaikan~”
Yamada tersenyum menawan, lalu
mencium bibir Chinen kembali.
Puas bermain dibagian bibir dan
dada, Chinen merasa gatal. “Ryosuke, aku sudah sangat sempit.”
“Ah, iya aku lupa membuka ini.”
Si dominan terkekeh. Ia melorotkan celana Chinen dengan pelan. Bersiul saat
melihat milik Chinen sudah berdiri.
“Imut sekali!” Yamada mengecup
ujungnya. Chinen berjengit.
“Imut, sepereti dirimu!”
“Janganhhh bercandaahhh~” Chinen
memerah hebat.
“Hmm, coba kita lihat bagian
ini.” Yamada mengangkat pantat Chinen. Sayangnya si imut malah merapatkan kaki.
“Jangan dirapatkan, ngakang saja
yang lebar.”
“Malu...”
“Sudah seperti ini tak usah
malu.” Yamada tertawa gemas. “Ayo.”
Chinen perlahan melebarkan
pahanya, seketika pula bongkahan pantatnya langsung di angkat Yamada.
“Ini kecil sekali. Lubangnya
seperti titik.”
Chinen mulai meremang
membayangkan betapa kecilnya lalu saat sesuatu memasuki itu.
“Kau tunggu dulu, aku ambil
lubricant dulu biar licin.” Yamada bergegas mengambil lubricant di selorokan
meja samping kasurnya.
Croot
Iya, itu bunyi lubricant yang
dipencet sehingga isinya keluar. Lalu suara selanjutnya adalah...
“HWAAAAKKKKHHH~!!”
Chinen memekik panik lantaran
Yamada langsung memasukkan ujung lubricant yang runcing ke lubang Chinen yang
masih sangat rapat.
Belum semuanya. Tentu. Itu baru
diujung, supaya lubricantnya masuk ke dalam.
“Shhh ini belum masuk Yuri.”
Yamada menaruh botol itu, kemudian mulai meratakan lubricant yang lumer dan
tumpah ke belahan pantat sang kekasih.
“Hhhnggg dingiiin...”
“Ini akan nikmat~” Yamada
menjilat bibir atasnya.
Saat tangan Yamada meratakan
lubricat dibagian lubang dan pantat Chinen, ia teralihkan dengan dua bola
Chinen yang bergelayut unyu.
“Ini lucu sekali.” Spontan Yamada
genggam.
“ARRGHHH!!” dan nyaris diremas.
“Oh maaf-maaf...” Yamada meringis
dengan polos. “Semua yang ada ditubuhmu begitu menggemaskan, Yuri. Aku
gemaaaass!”
Chinen tak menyahut, ia sibuk
melenguh karena bolanya masih dimainkan begitu juga lubangnya.
“Oh omong-omong, punyaku masih
tertidur dengan tenang.” Yamada menyeletuk. Chinen bangkit dari posisinya lalu
meraih celana Yamada. “Akan kubangunkan. Harusnya dari tadi kau bilang, Ryo.”
Yamada hanya nyengir.
“Shit, besar.”
“Kau suka?”
“Suka. Tapi pasti sakit.”
“ditusuk mana ada yang enak sih?”
Chinen menatap Yamada jengkel.
“Kalau begitu kita hen—unghh”
“Tapi nanti enak kok. Kayak
makan sate. Nanti lama-lama enak dan nikmat.”
Astaga! Chinen disamakan dengan
makanan? Yamada mulai sinting.
“Aku bangunkan dulu.”
“Silahkan~” Yamada memberi akses.
Chinen segera memijat dengan pelan, terarah, dan perasaan yang bergemuruh
hebat. Tangannya mengambil lubricant secukupnya untuk membantu memijit. Saat
setengah tegang, Yamada menahan tangan Chinen dengan lembut.
“Cukup.”
“Tapi ini belum bangun sepenuhnya
kan?”
Sang dominan tersenyum penuh
makna. Satu kata lalu terucap. “Jilat.”
Chinen melongo.
“Ayo sayaaaang~”
“Iya iya!”
Setelahnya, yang terdengar adalah
desahan berat Yamada. Saat dirasa, mulutnya sudah penuh, Chinen melepaskan
kulumannya.
“Oke, kita mulai ya sayang.”
“Langsung pakai punyamu?!” Chinen
ternganga.
“Aku tidak sebodoh itu untuk
melukaimu. Aku akan pakai jari dulu.” Yamada mengecup pucuk hidung Chinen dan
membuat si imut itu kembali rebahan.
“Relax oke...”
Chinen mengangguk pasrah.
Kemudian Yamada memasukkan satu jarinya yang sudah
dilumuri lubricant. Dimulai dari
jari yang paling kecil.
“Ahhhnn—rasanya tidak nyaman...“
Chinen melenguh seraya tangannya meremas sprei.
“Sakit tidak?”
Chinen menggeleng.
“Baguslah...” Yamada kini memasukan jari manisnya. Chinen kembali melenguh.
“Pe-perih Ryosuke...“
“Lubangnya mulai terbuka. Aku tahu ini perih. Sabar...”
Yamada memasukan kedua jarinya lebih dalam. Remasan Chinen pada sprei
semakin kuat.
“Aku akan ganti jari menjadi telunjuk dan tengah. Kau harus relax, Yuri.
Kalau kau tegang rektummu terus mengkerut sehingga susah dibuka.” Ucap Yamada
lembut. “Aku tidak akan menyakitimu karena aku mencintaimu,” dominannya
mengecup singkat bibir Chinen sebelum mengganti jari.
“Aaaakhhh—periiiih...”
“Kubilang relax...”
Chinen mencoba relax ketika jari telunjuk dan tengah Yamada semakin masuk
kedalam. Mengetahui kekasihnya sudah relax, Yamada membuat gerakan simpel
didalam sana, membentuk kedua jarinya menjadi gunting untuk memperlebar jalur
masuk.
“Akh!”
Disana. Yamada tersenyum. “Aku sudah menemukan
titik nikmatmu.”
“A—aku merasakannya. ahhhhnn—langsung mulai saja Ryosuke..hh..”
“Kau yakin?”
“Yakin.”
“Baiklah...”
BLESSS!
Teriakan yang terdengar barusan benar-benar melodi paling indah yang pernah Yamada dengar.
“HHHHHHHH” Bahkan setelah
suaranya habis tapi masih ingin berteriak, itu tetap terdengar indah.
“Sayang.. sayang... tenang. Aku
baru masuk setengah..”
Chinen mulai menangis.
“Shhh..”
Yamada tak suka melodi yang ini.
Jadi ia menyumpal mulut Chinen dengan ciuman, dengan posisi junior Yamada baru
setengah masuk. Mengecup bibir Chinen sampai tubuhnya tenang.
“Sakithh.. sakit sekaliii..”
Yamada menghapus bulir air di
ujung mata Chinen. “Hanya sesaat, Yuri. Nanti akan nikmat.”
“Sakiiithh..”
“Apa kau mau ini berakhir?”
“....”
“Kalau kau mau begitu, aku akan
keluar dan berhenti.”
“Ti-tidak..”
“Kalau begitu, relaxan tubuhmu
dan percayakan padaku. Ini akan nikmat.”
Chinen mengangguk. Ia harus
percaya dengan kekasihnya.
Harus.
.
BLLEEEEESSSHHH
Sehingga saat milik Yamada sudah
menyatu dengan tubuhnya, suaranya yang meraungpun ia tahan sebisa mungkin.
“Yuri.. hei, sayang.. jangan
ditahan.. jangan.
“hhkk...”
“Jangan sayang..” Yamada melepas
jemari Chinen yang dikenakan untuk menutup mulutnya.
“Keluarkan saja. Teriak.”
“Sakiiiiiiithhh”
“Iya. Iya... aku tidak akan
bergerak dulu. Kau rileks dulu.”
“Hiks.. sakittt..”
“Iya.. maaf..”
Sekitar dua menit yang Chinen
keluhkan hanya sakit dan sakit. Yamada benar-benar tak tega. Sampai di menit
ketiga, Chinen mulai tenang.
“Apa aku sudah boleh gerak?”
“Apa itu akan lebih sakit?”
“Akan lebih enak juga.” Yamada
memastikan. Chinen menatap Yamada dengan dalam, lalu ia menangguk.
“Aku percaya padamu.”
Sehingga milik Yamada mulai
begerak dengan sangat hati-hati, setiap gesekannya pasti membuat Chinen
merintih. Masih sangat hati-hati selama kurang lebih satu menit. Baru kemudian
rektum si mungil mulai terbiasa.
“Ahhhnnn... ini mulai tak sakit.”
“Ya kanhnnhh?”
“Ya, Ryo. Kau boleh mempercepat.”
“Baiklah.”
ZLEEBHHH
Yamada sepertinya tidak bisa
membedakan mana mempercepat mana yang tiba-tiba menusuk sangat dalam.
Itu sudah kena Jackpot dan Chinen
melenguh sangat indah.
ZLEB ZLEB ZLEB ZLEB.
Jackpot berkali-kali. Tubuh
Chinen terhentak berkali kali. Posisi yang ngangkang dengan wajah penuh
keringat dan raut pasrah benar-benar sangat indah.
“Ahhn ahhh ahhh Ryooohhnnn”
ZLEB ZLEB.
Yamada hanya fokus menusuk.
“Ryooo aku nyaris sampaiiihhh~”
“Ja-jangahhnnn dulu. Kau harus
menungguku,” ditengah kegiatan menusuknya, Yamada meraih botol
lubricant susah
payah, ia membalikan ujung lubricant yang runcing itu lalu menancapkannya pada
urethra Chinen.
“HAGGGHHHHNNN!!”
Si mungil tentu terperanjat.
Kaget. Dan Sakit.
“Ryooo, aku ingin keluarhhh”
“Bersamakuu. Ini sedikit lagi.”
Tempo sudah 190. Saat mencapai
200, Yamada melepas tancapan lubricant di urethra Chinen bersamaan dengan
dirinya dan sang kekasih yang meluapkan mayonaise cinta.
“Ryosuke!”
“Ahnn—tenang-hh.. aku tidak akan menimpamu.” Senyum Yamada terkembang
sempurna, ia menahan tubuhnya dengan kedua lutut dan satu tangan. Sementara
tangan satunya mengelap peluh di dahi Chinen. “Suaramu indah sekali.”
Chinen tersenyum lemah.
“Benar-benar indah. Itu melodi yang paling indah yang pernah kudengar.
Lenguhanmu... eranganmu...”
“Cukup gombalannya, Ryosuke-hh.. kau tidak mau—ahnn—keluar..?”
Yamada menyeringai. “Apa kau tidak merasakannya didalam sana, hm?”
Chinen terkesiap. “Astaga.. kau masih keras?”
“Ronde kedua, Yuri. Kali ini tidak akan sesakit tadi dan lebih nikmat.”
“Akhhhnnnn....hhh!”
=:=
. .
. . .
. . .
Yamada bergegas meraih lengan
Tegoshi Yuya, mengangkat pemuda cantik itu untuk enyah dari sofanya dan
menyeretnya keluar apartemen.
“Sungguh, kau harus keluar dari
sini segera!”
“Kenapa? Aku kan bis—“
“KELUAR! Hiiissh!”
“Iya iya baiklah. Terimakasih
sudah mau cerita. Sabunan yang benar, oke.” Tegoshi tertawa sembari melenggang
anggun menuju luar apartemen Yamada.
“Awas kalau kau sebar.”
“Tenang, ini aman.” Tegoshi
mengerling genit. Yamada menggeram dan membanting pintu apartemennya.
Pemuda berhidung bengkok itu
mencari smartphonenya, setelah ketemu ia segera menelpon seseorang.
.
.
.
“Eh, eh, Chinen-kun! Itu Yamada
Ryosuke menelpooon!” heboh Taishi. Nana disebelahnya juga tak kalah heboh.
“Loudspeaker aja, Chinen-kun. Aku juga ingin menyapanya hehe.”
“Iya, mumpung masih istirahat.”
Taishi masih bersemangat. Chinen yang melihat adik-adik yang menjadi lawan
mainnya di movie terbaru dengan senang hati menuruti keinginan mereka.
Kebetulan sekali kekasih noraknya itu menelpon setelah Chinen bercerita
mengenai kencan mereka saat tahun baru kepada Tashi dan Nana.
“Baiklah, kurasa dia bosan
diapartemen terus. Kita ajak dia ngobrol. Tapi jangan ilfil ya, dia itu
gaptek.” Kekehan Chinen membuat Taishi gemas sendiri. Saat Chinen mengangkat
panggilan Yamada, ia segera menekan tombol loudspeaker, dan yang terdengar
sangat kencang adalah...
“Yuriiiihhhh kau dimanaanhhh? Ke
kamar mandi sebentar hhh... kumohon...hhh...”
Taishi dan Nana melotot
bersamaan. Kalau bola mata bisa keluar, mereka bisa saja melakukannya. Chinen
cepat-cepat mematikan telponnya dengan wajah luar biasa memerah.
“Ryosuke idiot!”
=TAMAT=
A/N: Selamat Ulang Tahun Chinen Yuri. Bias utama gueee wkwkwk. Maap yah
telat. Part 2 ini banyak beda dari part 1. Karena dari sudut pandang orang yang
beda juga. Btw lubricant buat naena itu botolnya kayak botol cuka yang ujungnya runcing!
Ohoho.. dan urethra.. tau kan? Tau lah, kalian otaknya udah ngeres masa gatau
/ditempeleng wkwkw. INTINYA, MET ULTAH CHINEN YURINYA YAMADA <3

0 komentar:
Posting Komentar