Jumat, 12 Januari 2018

はじまる の メロディー 2

Diposting oleh Kiwokchwan di 02.50
Judul: Hajimaru no Melody Part 2 (Part 1)

Author: Kiwok

Pair: YamaChii as usual <3

Genre: Comedy, Smut, NC-17

Summary: Awal mula sebuah melodi; itu adalah melodi yang sangat merdu. Melodi yang sangat nikmat didengar. Kata siapa suara Chinen jelek? Suara Chinen adalah yang termerdu dibanding yang lainnya, terutama ketika sudah overtune, berada dipuncak, berada di spot yang tepat. Lengkungan suara Chinen adalah yang terbaik.

PS : EA AMBIGU. SENENG KAN LO GUE BIKIN ENCEH :)

CEKIDOT!
.

.

.

.

Yamada baru menempelkan pundaknya di sofa sambil bermain gadget kurang lebih dua menit yang lalu, ia berniat istirahat tanpa ada siapapun yang berhak menganggu setidaknya sampai enam jam ke depan sebelum latihan dance untuk single baru mendatang. Center group Hey!Say!JUMP itu sudah menghubungi kekasih mungilnya yang sedang syuting tadi pagi sehingga ia tak ada kewajiban lagi untuk sibuk.

TING TONG TING TONG TING TONG!

Tapi sialnya, bel apartemen yang berdenting terus-menerus memaksa pemuda modis itu turun dari sofa.

“Siapa?” Tanya Yamada sambil mengernyit, ia tak bisa melihat jelas wajah orang di intercom karena wajahnya tertutup topi. Bukannya disahut, bel di apartemennya malah semakin dipencet banyak. Yamada menggeram, sepertinya ia tahu siapa.

“Haloooooooooo~”

Wajah Yamada lebih datar daripada tembok setelah membuka pintu, ia sama sekali tak berniat menyahut sapaan orang yang brutal pada bel apartemennya.

“Aku masuk ya~”

Tapi tetap saja, ketika orang itu nyelonong masuk Yamada hanya mendengus pasrah sambil menutup pintu.

“Kenapa kau tahu alamat apartemenku?”

“Karena aku Tegoshi Yuya,”

Yamada berdecak melihat sang senior sudah duduk di sofa kesayangannya.

“Untuk apa Tegoshi-kun kesini?”

Pemuda cantik itu ikut berdecak, “Nggak Chinen-kun, Nggak kau, selalu jutek kalau menyambutku.”

“Karena ini hari santaiku!” sahut Yamada langsung.

“Aku tahu, karena itu aku datang.”

Yamada memutar mata.

“Aku ingin mendengar ceritamu.” Tegoshi mulai menyilangkan kaki, memasang senyum misterius,  “tak usah tanya apa yang ingin kudengar, karena aku sangat yakin kau akan menceritakan tentang itu secara sukarela.”

Yamada hanya mengernyit, tak masuk dengan ucapan Tegoshi.

“Tentang hubunganmu dengan Chinen-kun, bodoh! Astaga aku baru tahu generasi terbaru aktor hebat Johnny’s punya otak lemot!”

“HAH?” rekasi Yamada berlebihan, “Nggak akan! Aku nggak akan cerita!”

“Ohya? Kenapa?”

“Karena itu privasi!”

“Privasi? Memeluk Chinen dengan posisi ambigu padahal jelas-jelas ada kamera itu privasi? Bilang di majalah kalau kau menciumnya 10 ribu kali dan kuyakin sekarang sudah nambah itu namanya privasi? Atau mengumbar tentang kalian yang hanya berdua seharian di apartemen dengan bermain ‘GAME’ itu namanya privasi?”

Yamada meneguk ludahnya.

“Oh ayolah, aku terlalu jenius untuk sekedar tahu. Kau tidak bisa mengelak dariku Yamada-kun, cerita saja sepuasnya SE.KA.RANG.”

Terlihat wajah Yamada sudah semerah babi panggang. Ia tak bisa mengelak. Percuma, Tegoshi Yuya memang senior yang paling menyadari kemesraannya bersama sang kekasih. Dengan sekali dengusan permulaan, Yamada akhirnya bercerita.

“Aku tidak sengaja memeluknya. Itu reflek.”

“Ya aku tahu, reflekmu sangat seduktif.”

Wajah Yamada memerah telak.

“Apa itu salah?”

“Tidak juga sih. Tapi kurang tepat. Kau lupa kalau ada kamera.”

“Ya aku tahu itu sedang syuting, tapi kalau kekasihmu berbuat jahil dengan memukul kepalamu berkali-kali, apa yang akan kau lakukan?”

“Menamparnya.”

Yamada melongo. “Aku tak bisa melakukan itu pada Yuri,”

“Aku tak bilang menamparnya dengan keras. Cukup tempelkan tangan di pipinya lalu mendorongnya menjauh.”

“Aku tidak biasa melakukan itu padanya. ”

“Ya benar, kau langsung memeluknya. Dengan posisi ambigu. Karena itu lah yang biasa kau lakukan padanya, bagus sekali.”

Yamada kembali memerah.

 “Hmm… kapan pertama kali kau berciuman dengannya?”

“Waktu dia SMP, tepatnya saat istirahat syuting MV Dreams Come True.” Yamada menjawab dengan mudah. Terbukti kalau ia memang ingin menceritakan, ingin membeberkan, ingin sema orang tahu kalau Chinen Yuri adalah miliknya.

“Wow, lalu?”

“Dia tidur. Dia tidak sadar.”

“Kau tidak gentle! Kalau begitu ciuman yang dia sadar?”

“Selesai konser di musim dingin tahun 2011.”

“Ah! Setelah kau menyatakan cinta padanya ya?” Tegoshi sebenarnya sudah tahu, tapi untuk permulaan, dia harus pura-pura lugu.

“Iya. Lalu dia menangis.”

“Aw lucunya.”

Yamada tersenyum. “Dia selalu lucu. Imut.”

“Imut mana sama 60 hamster di rumahmu yang jarang kau urus?”

“jangan samakan hamster dengan Yuriku!”

Tegoshi langsung tertawa. “Omong-omong, aku ingin tahu tentang hubungan sex pertamamu dengan Chinen.”

“Tidak Tegoshi-kun, itu terlalu privasi.”

“Masih sok-sokan bilang privasi? Perlu aku bersengkongkol dengan Yuma-kun  untuk menyebarkan foto tidur sambil telanjang dan berpelukan kalian ke publik?”

“KAU! KAU TAHU DARI—“

“Sudah kubilang, aku terlalu jenius untuk sekedar tahu. Aku mau lebih. Janji, ini tidak akan kusebar.”

“Tapi—“

“Apa? Kau takut tegang? Tenang saja, aku cukup bisa memuaskanmu.”

Yamada mengerang geli bercampur malu sementara Tegoshi terbahak.

“Cepat ceritakan!”

“Hanya singkatnya!” Kesal Yamada, ia kembali menaeik nafas banyak sebelum cerita kembali. “Aku melakukan itu pertama kali dengannya setelah promosi Come on a My House sudah mau selesai, tinggal mempersiapkan konser.”

“Aku mau lebih lanjut.”

“Tidak akan.”

“Ingat foto~”

“Kau!”

“Ceritakan saja!”

“Ck, kita melakukannya disini.”

Tegoshi menunggu.

“Karena paksaan anggota lain juga.”

“Kenapa dipaksa? Kau melakukan hubungan intim karena dipaksa?”

“Tentu saja tidak! Aku sangat mencintainya. Karena aku sangat, tapi Chinen seperti menghindar akhirnya banyak pihak yang membantuku.”

“Lalu?”

“Kira-kira pukul tujuh malam…”

=:=


“Yuri, aku serius. Mau kapan diundur terus?”

Chinen mengalihkan wajahnya dari HP yang ia pegang, wajahnya memerah dan canggung.
Yamada mendengus. “Aku ingin melakukannya denganmu. Apa kau tidak menyukaiku sampai kau selalu merasa belum siap?”

“Apa kau tidak menyukaiku sampai meragukanku begitu?” Balasan Chinen membuat Yamada mengernyit.

“Kau masih saja tidak peka.”

Yamada berpikir keras maksudnya.

“Kalau Yuya ingin melakukannya dengan Dai-chan, dia akan melakukannya tanpa ada perjanjian atau izin-izinan. Katanya, Dai-chan sudah punya dia jadi berhak melakukan apapun untuknya. Kalau Yabu, dia akan dengan tegas menyeret Inoo ke kamar dan—“

Yamada sepenuhnya mengerti sehingga ia langsung menyambar mulut Chinen yang sedang berbicara.

“Eunghh—“

Sekiranya satu menit mereka menyatukan bibir. Yamada tahu, mereka masih butuh bernafas.

“Kau yang bilang sendiri, aku milikmu, jadi lakukan sesukamu. Tak usah bertanya padaku atau meminta izinku. Saat aku menerimamu dulu, aku sudah siap bercinta denganmu di waktu yang tepat. Kalau menurutmu ini waktu yang tepat, lakukan segera.” Chinen berkata dengan serak, lebih tepatnya tersenggal karena bibir dan rongga mulutnya baru saja di sesap. Oh, bahkan saliva masih ada di ujung bibirnya.

“Baiklah,” Yamada menjilat ujung bibir Chinen, kemudian mendorong Chinen untuk rebahan di sofa panjang yang baru Yamada beli untuk menghiasi apartemen barunya. Pemuda modis itu lanjut mencumbu bibir sang kekasih.

“Ahhh!” tapi tiba-tiba Chinen mendorong Yamada. “Jangan digigit!”

“Kau bilang aku boleh melakukan apapun.” Cengiran Yamada terlihat menyebalkan. “Habis bibir bawahmu kenyal sekali, enak untuk digigit.”

Baru Chinen ingin protes, Yamada sudah kembali memagut, kali itu ia bermain dengan lidah dan bagian atas bibir Chinen ia emut dengan gemas.

“Eunghhh—“

Tangan Yamada juga mulai bergerilya ke bagian dada, menyusup lewat kaus V-neck yang Chinen kenakan dengan hati-hati. Ia sampai ke bagian dada lalu memainkan punting kiri si mungil yang masih gepeng dan tertidur pulas.

“Aww!!”

Sungguh, Yamada belum profesional.

“Ryosuke, jangan di cubit!” Chinen merengek sembari melenguh.

“Dia tidur. Aku ingin ini naik.”

“Astaga! Apa kau sudah benar-benar belajar?”

“Sudah!”

“Tapi sakit!”

“Kau yang terlalu menggemaskan dan rata. Yang aku tonton, kalau disentuh itu sudah menonjol.”

=:=

Tegoshi meringis gemas dan ingin menyleding kepala Yamada saat menceitakan bagian itu. Tapi sang senior cantik lebih memilih mencaci.

“Dasar bodoh! Harusnya kau beli DVD untuk pemula!” 

Yamada mendengus santai. “Aku beli yang paling hot.”

“Itu untuk yang sudah pro, idiot! Kalau buat yang baru tentu saja berbeda! Semua tubuhnya masih sensitif, apalagi bagian punting yang pasti masih tetidur rata!” Tegoshi berceramah. Yamada menjelaskan, kalau dia sudah tahu itu dari Yabu atau Yuya, tapi tetap saja ia terbawa gemas.

=:=

Permainan Yamada tidak sampai di dada, ciuman panas perlahan turun melewati leher. Chinen mengira sang kekasih akan mulai menghisap puntingnya yang sudah hampir naik, tapi nyatanya Yamada malah bermain di jakun kecil Chinen.

“Akh!”

Itu di putar-putar menggunakan lidah. Juga digigit. Chinen semakin mendongak dan melenguh saat Yamada tiba-tiba meraup keseluruhan adam apple nya dan tangannya sudah ada di selangkangannya, meremas junior Chinen yang masih terbungkus sempurna.

“Kita lanjutkan di kamar ya? Biar lebih lega.”

Chinen mengangguk pasrah. Yamada dengan segera menggendong Chinen ala bridal dengan lembut. Sayangnya, jarak sofa dengan kamar cukup jauh bagi sang center untuk menggendong Chinen. Ia malah memapah Chinen dengan satu tangan.

“Ih, dasar lema—akhhh...”

Yamada tidak lemah, itu alasan supaya satu tangannya yang tidak di pundak dan badan Chinen bisa meremas lagi bagian bawah si mungil.

Chinen tentu lemas. Tubuhnya perlahan limbung namun Yamada tetap memapahnya dengan tangan kiri. “Jalan sayang. Tujuh langkah lagi.” Katanya sambil mulai memasukan tangannya ke celana Chinen.

“Akhh...!! jangan disini.”

“Ayo jalan...”

“Ryo!”

“Terserah aku kan?”

“Akhh!”

Satu langkah

“ahhnn”

Dua

“Akhh akkhnn akhhnn”

Kita bisa mendengar selama berjalan sampai ke kamar, tangan Yamada tak berhenti memijat dan bermain dengan junior Chinen. Sampai akhirnya mereka berada di depan kasur, Chinen langsung lunglai.

“Kau belum keluar kan sayang?” Yamada mengecup pipi Chinen.

“Belum, tapi sudah lelah.”

“Ini baru permulaan..”

“Cepat selesaikan~”

Yamada tersenyum menawan, lalu mencium bibir Chinen kembali.

Puas bermain dibagian bibir dan dada, Chinen merasa gatal. “Ryosuke, aku sudah sangat sempit.”

“Ah, iya aku lupa membuka ini.” Si dominan terkekeh. Ia melorotkan celana Chinen dengan pelan. Bersiul saat melihat milik Chinen sudah berdiri.

“Imut sekali!” Yamada mengecup ujungnya. Chinen berjengit.

“Imut, sepereti dirimu!”

“Janganhhh bercandaahhh~” Chinen memerah hebat.

“Hmm, coba kita lihat bagian ini.” Yamada mengangkat pantat Chinen. Sayangnya si imut malah merapatkan kaki.

“Jangan dirapatkan, ngakang saja yang lebar.”

“Malu...”

“Sudah seperti ini tak usah malu.” Yamada tertawa gemas. “Ayo.”

Chinen perlahan melebarkan pahanya, seketika pula bongkahan pantatnya langsung di angkat Yamada.

“Ini kecil sekali. Lubangnya seperti titik.”

Chinen mulai meremang membayangkan betapa kecilnya lalu saat sesuatu memasuki itu.

“Kau tunggu dulu, aku ambil lubricant dulu biar licin.” Yamada bergegas mengambil lubricant di selorokan meja samping kasurnya.

Croot

Iya, itu bunyi lubricant yang dipencet sehingga isinya keluar. Lalu suara selanjutnya  adalah...

“HWAAAAKKKKHHH~!!”

Chinen memekik panik lantaran Yamada langsung memasukkan ujung lubricant yang runcing ke lubang Chinen yang masih sangat rapat.

Belum semuanya. Tentu. Itu baru diujung, supaya lubricantnya masuk ke dalam.

“Shhh ini belum masuk Yuri.” Yamada menaruh botol itu, kemudian mulai meratakan lubricant yang lumer dan tumpah ke belahan pantat sang kekasih.

“Hhhnggg dingiiin...”

“Ini akan nikmat~” Yamada menjilat bibir atasnya.

Saat tangan Yamada meratakan lubricat dibagian lubang dan pantat Chinen, ia teralihkan dengan dua bola Chinen yang bergelayut unyu.

“Ini lucu sekali.” Spontan Yamada genggam.

“ARRGHHH!!” dan nyaris diremas.

“Oh maaf-maaf...” Yamada meringis dengan polos. “Semua yang ada ditubuhmu begitu menggemaskan, Yuri. Aku gemaaaass!”

Chinen tak menyahut, ia sibuk melenguh karena bolanya masih dimainkan begitu juga lubangnya.

“Oh omong-omong, punyaku masih tertidur dengan tenang.” Yamada menyeletuk. Chinen bangkit dari posisinya lalu meraih celana Yamada. “Akan kubangunkan. Harusnya dari tadi kau bilang, Ryo.” 

Yamada hanya nyengir.

“Shit, besar.”

“Kau suka?”

“Suka. Tapi pasti sakit.”

“ditusuk mana ada yang enak sih?”

Chinen menatap Yamada jengkel. “Kalau begitu kita hen—unghh”

“Tapi nanti enak kok. Kayak makan sate. Nanti lama-lama enak dan nikmat.”

Astaga! Chinen disamakan dengan makanan? Yamada mulai sinting.

“Aku bangunkan dulu.”

“Silahkan~” Yamada memberi akses. Chinen segera memijat dengan pelan, terarah, dan perasaan yang bergemuruh hebat. Tangannya mengambil lubricant secukupnya untuk membantu memijit. Saat setengah tegang, Yamada menahan tangan Chinen dengan lembut.

“Cukup.”

“Tapi ini belum bangun sepenuhnya kan?”

Sang dominan tersenyum penuh makna. Satu kata lalu terucap. “Jilat.”

Chinen melongo.

“Ayo sayaaaang~”

“Iya iya!”

Setelahnya, yang terdengar adalah desahan berat Yamada. Saat dirasa, mulutnya sudah penuh, Chinen melepaskan kulumannya.

“Oke, kita mulai ya sayang.”

“Langsung pakai punyamu?!” Chinen ternganga.

“Aku tidak sebodoh itu untuk melukaimu. Aku akan pakai jari dulu.” Yamada mengecup pucuk hidung Chinen dan membuat si imut itu kembali rebahan.

“Relax oke...”

Chinen mengangguk pasrah.

Kemudian Yamada memasukkan satu jarinya yang sudah dilumuri lubricant. Dimulai dari jari yang paling kecil.

“Ahhhnn—rasanya tidak nyaman...“

Chinen melenguh seraya tangannya meremas sprei.

“Sakit tidak?”

Chinen menggeleng.

“Baguslah...” Yamada kini memasukan jari manisnya. Chinen kembali melenguh. “Pe-perih Ryosuke...“

“Lubangnya mulai terbuka. Aku tahu ini perih. Sabar...”

Yamada memasukan kedua jarinya lebih dalam. Remasan Chinen pada sprei semakin kuat.

“Aku akan ganti jari menjadi telunjuk dan tengah. Kau harus relax, Yuri. Kalau kau tegang rektummu terus mengkerut sehingga susah dibuka.” Ucap Yamada lembut. “Aku tidak akan menyakitimu karena aku mencintaimu,” dominannya mengecup singkat bibir Chinen sebelum mengganti jari.

“Aaaakhhh—periiiih...”

“Kubilang relax...”

Chinen mencoba relax ketika jari telunjuk dan tengah Yamada semakin masuk kedalam. Mengetahui kekasihnya sudah relax, Yamada membuat gerakan simpel didalam sana, membentuk kedua jarinya menjadi gunting untuk memperlebar jalur masuk.

“Akh!”

Disana. Yamada tersenyum. “Aku sudah menemukan titik nikmatmu.”

“A—aku merasakannya. ahhhhnn—langsung mulai saja Ryosuke..hh..”

“Kau yakin?”

“Yakin.”

“Baiklah...”

BLESSS!

Teriakan yang terdengar barusan benar-benar melodi paling indah yang pernah Yamada dengar.

“HHHHHHHH” Bahkan setelah suaranya habis tapi masih ingin berteriak, itu tetap terdengar indah.

“Sayang.. sayang... tenang. Aku baru masuk setengah..”

Chinen mulai menangis.

“Shhh..”

Yamada tak suka melodi yang ini. Jadi ia menyumpal mulut Chinen dengan ciuman, dengan posisi junior Yamada baru setengah masuk. Mengecup bibir Chinen sampai tubuhnya tenang.

“Sakithh.. sakit sekaliii..”

Yamada menghapus bulir air di ujung mata Chinen. “Hanya sesaat, Yuri. Nanti akan nikmat.”

“Sakiiithh..”

“Apa kau mau ini berakhir?”

“....”

“Kalau kau mau begitu, aku akan keluar dan berhenti.”

“Ti-tidak..”

“Kalau begitu, relaxan tubuhmu dan percayakan padaku. Ini akan nikmat.”

Chinen mengangguk. Ia harus percaya dengan kekasihnya.

Harus.

.

BLLEEEEESSSHHH

Sehingga saat milik Yamada sudah menyatu dengan tubuhnya, suaranya yang meraungpun ia tahan sebisa mungkin.

“Yuri.. hei, sayang.. jangan ditahan.. jangan.

“hhkk...”

“Jangan sayang..” Yamada melepas jemari Chinen yang dikenakan untuk menutup mulutnya.

“Keluarkan saja. Teriak.”

“Sakiiiiiiithhh”

“Iya. Iya... aku tidak akan bergerak dulu. Kau rileks dulu.”

“Hiks.. sakittt..”

“Iya.. maaf..”

Sekitar dua menit yang Chinen keluhkan hanya sakit dan sakit. Yamada benar-benar tak tega. Sampai di menit ketiga, Chinen mulai tenang.

“Apa aku sudah boleh gerak?”

“Apa itu akan lebih sakit?”

“Akan lebih enak juga.” Yamada memastikan. Chinen menatap Yamada dengan dalam, lalu ia menangguk.

“Aku percaya padamu.”

Sehingga milik Yamada mulai begerak dengan sangat hati-hati, setiap gesekannya pasti membuat Chinen merintih. Masih sangat hati-hati selama kurang lebih satu menit. Baru kemudian rektum si mungil mulai terbiasa.

“Ahhhnnn... ini mulai tak sakit.”

“Ya kanhnnhh?”

“Ya, Ryo. Kau boleh mempercepat.”

“Baiklah.”

ZLEEBHHH

Yamada sepertinya tidak bisa membedakan mana mempercepat mana yang tiba-tiba menusuk sangat dalam.

Itu sudah kena Jackpot dan Chinen melenguh sangat indah.

ZLEB ZLEB ZLEB ZLEB.

Jackpot berkali-kali. Tubuh Chinen terhentak berkali kali. Posisi yang ngangkang dengan wajah penuh keringat dan raut pasrah benar-benar sangat indah.

“Ahhn ahhh ahhh Ryooohhnnn”

ZLEB ZLEB.

Yamada hanya fokus menusuk.

“Ryooo aku nyaris sampaiiihhh~”

“Ja-jangahhnnn dulu. Kau harus menungguku,” ditengah kegiatan menusuknya, Yamada meraih botol 

lubricant susah payah, ia membalikan ujung lubricant yang runcing itu lalu menancapkannya pada urethra Chinen.

“HAGGGHHHHNNN!!”

Si mungil tentu terperanjat. Kaget. Dan Sakit.

“Ryooo, aku ingin keluarhhh”

“Bersamakuu. Ini sedikit lagi.”

Tempo sudah 190. Saat mencapai 200, Yamada melepas tancapan lubricant di urethra Chinen bersamaan dengan dirinya dan sang kekasih yang meluapkan mayonaise cinta.

“Ryosuke!”

“Ahnn—tenang-hh.. aku tidak akan menimpamu.” Senyum Yamada terkembang sempurna, ia menahan tubuhnya dengan kedua lutut dan satu tangan. Sementara tangan satunya mengelap peluh di dahi Chinen. “Suaramu indah sekali.”

Chinen tersenyum lemah.

“Benar-benar indah. Itu melodi yang paling indah yang pernah kudengar. Lenguhanmu... eranganmu...”

“Cukup gombalannya, Ryosuke-hh.. kau tidak mau—ahnn—keluar..?”

Yamada menyeringai. “Apa kau tidak merasakannya didalam sana, hm?”
Chinen terkesiap. “Astaga.. kau masih keras?”

“Ronde kedua, Yuri. Kali ini tidak akan sesakit tadi dan lebih nikmat.”

“Akhhhnnnn....hhh!”

=:=

.   .  .  .  .  .  .  .

Yamada bergegas meraih lengan Tegoshi Yuya, mengangkat pemuda cantik itu untuk enyah dari sofanya dan menyeretnya keluar apartemen.

“Sungguh, kau harus keluar dari sini segera!”

“Kenapa? Aku kan bis—“

“KELUAR! Hiiissh!”

“Iya iya baiklah. Terimakasih sudah mau cerita. Sabunan yang benar, oke.” Tegoshi tertawa sembari melenggang anggun menuju luar apartemen Yamada.

“Awas kalau kau sebar.”

“Tenang, ini aman.” Tegoshi mengerling genit. Yamada menggeram dan membanting pintu apartemennya.

Pemuda berhidung bengkok itu mencari smartphonenya, setelah ketemu ia segera menelpon seseorang.
.

.

.

“Eh, eh, Chinen-kun! Itu Yamada Ryosuke menelpooon!” heboh Taishi. Nana disebelahnya juga tak kalah heboh. “Loudspeaker aja, Chinen-kun. Aku juga ingin menyapanya hehe.”

“Iya, mumpung masih istirahat.” Taishi masih bersemangat. Chinen yang melihat adik-adik yang menjadi lawan mainnya di movie terbaru dengan senang hati menuruti keinginan mereka. Kebetulan sekali kekasih noraknya itu menelpon setelah Chinen bercerita mengenai kencan mereka saat tahun baru kepada Tashi dan Nana.

“Baiklah, kurasa dia bosan diapartemen terus. Kita ajak dia ngobrol. Tapi jangan ilfil ya, dia itu gaptek.” Kekehan Chinen membuat Taishi gemas sendiri. Saat Chinen mengangkat panggilan Yamada, ia segera menekan tombol loudspeaker, dan yang terdengar sangat kencang adalah...

“Yuriiiihhhh kau dimanaanhhh? Ke kamar mandi sebentar hhh... kumohon...hhh...”

Taishi dan Nana melotot bersamaan. Kalau bola mata bisa keluar, mereka bisa saja melakukannya. Chinen cepat-cepat mematikan telponnya dengan wajah luar biasa memerah.

“Ryosuke idiot!”

=TAMAT=

A/N: Selamat Ulang Tahun Chinen Yuri. Bias utama gueee wkwkwk. Maap yah telat. Part 2 ini banyak beda dari part 1. Karena dari sudut pandang orang yang beda juga. Btw lubricant buat naena itu botolnya kayak botol cuka yang ujungnya runcing! Ohoho.. dan urethra.. tau kan? Tau lah, kalian otaknya udah ngeres masa gatau /ditempeleng wkwkw. INTINYA, MET ULTAH CHINEN YURINYA YAMADA <3


0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review