Judul : Move on Raraaaaaaas move ooooon! /salah/ wkwk judulnya ada diatas kok XD
Author: Kiwok
Pair : YAMACHII FOR PLEASURE SEEKERS (RyuChii buat jalan cerita :v)
Genre : Hurt/Comfort, drama, friendship, canon, slice of (Ryutaro’s) life
WARNING! Bahasa suka suka! (kayaknya udah dikasih tau ya, saya author yang selalu menggunakan gaya bahasa suka suka disetiap tulisannya. Tergantung mood haha)
Note : Baca genrenya yaaa... nggak ada romance. Walau pairingnya yamachii. Tapi disini Yamada dan Chinen nggak pacaran. Hanya saling suka. HTS-san ceritanya wkwk XD
Summary: “...Cukup kau yang mewakali. Mewakili mereka.” “Aku mengerti. Selamat ulang tahun. Dari kami, Hey Say JUMP, untukmu.” “...ah kurasa air mataku keluar. Omong omong, terimakasih” “Un! Sekali lagi, Morimoto Ryutaro… Berbahagialah!”
BIRTHDAY FIC BUAT RYUTARO.
Here we go~
.
.
.
.
Minggu malam di awal April. Tiga jam lagi pergantian hari, semua member Hey Say JUMP sudah sangat lelah setelah menghadiri acara yang luar biasa padatnya. Mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing tanpa kompromi lagi. Kau tahu? tingkat kelupaan seseorang akan jauh lebih besar ketika ia letih, lelah, dan sudah memimpikan kasur yang nyaman. Dari pada ‘lupa’ mungkin lebih tepatnya ‘melupakan’ atau ‘persetan’.
Hipotesis yang lumayan, bukan?
Tapi cetek untuk Chinen Yuri.
.
“Aku duluan ya,”
“Aku juga. Kalian jaga kesehatan.”
“Aku ingin segera sampai rumah... Duluan ya semua!”
Begitu terus hingga tersisa dua member tercendik. Yamada melirik Chinen yang masih berkutat dengan handphone pintarnya. “Kau nggak mau pulang? Kau bilang kau tidak tidur sampai jam 3 pagi waktu itu?”
Di belakang stage, setelah acara yang mereka hadiri selesai dan sang artis dibebaskan pulang atau istirahat.
Chinen memasukan iphone6 nya ke saku celana, “Ryosuke pulang saja duluan.” Ia tersenyum.
Chinen memasukan iphone6 nya ke saku celana, “Ryosuke pulang saja duluan.” Ia tersenyum.
“Lalu kau? Mau disini sampai kapan hm?” Yamada mendekati sosok mungil kesayangannya, kebanggaannya. Alisnya bertaut, “kurasa tadi kau yang paling ingin acara ini cepat selesai untuk segera pulang dan.. tidur?”
Chinen tertawa. Kekehannya kontan membuat senyum Yamada terkembang. “Aku ingin cari sinyal.”
“Oh,” alis Yamada kini terangkat. “biasanya alasan orang ‘Aku ingin cari udara segar’. Tapi kau mencari sinyal?”
Member termungil itu memukul pelan bahu sosok pangeran di JUMP, menyeringai lucu. “Bodoh, malam hari tidak akan ada udara segar. Pantas saja pelajaran biologimu selalu jelek.”
“Aku bukan pelajar sejak empat tahun yang lalu, Yuri.” Raut Yamada berubah getas, mengunyel kepala Chinen kemudian.
“A-aduh! Kau tidak sopan! Kepala itu mahkota! Jangan sembarangan kau obok-obok.” Chinen mengembungkan pipinya. Ketika melihat jam di ruangan, ia berdecak. “Ck, sepertinya aku harus bergegas. Sudah ya, Ryosuke. Kau pulanglah dan tidur. Kau pasti lebih capek ketimbang aku. Aku baik baik saja. Jaa..”
Padahal Yamada baru akan menyanggah tentang mahkota pada Chinen. Itu bukan mahkota. Itu tiara. Tapi ia segera sadar.
Sinyal.. handphone... jam...
“Tunggu, Yuri!” tangan Chinen berhasil digapai. Si mungil itu menoleh dan mengernyit. “Aku yakin kau membuat stetmen kalau hanya akan memanggilku ‘Yuri’ di privat. Ini masih ditempat kerja asal kau tahu.”
“Aku tahu kau akan menelpon Ryutaro.”
Bibir Chinen langsung pias.
“Apa-apaan itu?”
Bungsu di JUMP itu mendesah pelan. Ia menatap Yamada dengan pandangan bersalah. “Karena aku kangen dia.”
“Cih.”
“Berhenti mendecih atau memasang raut tidak suka atau apalah! Ketika aku membahas Ryu-chan.” Chinen mewanti, rautnya tegas. “Kau tidak perlu secemburu itu.”
Nikaladi Yamada membulat. “kenapa harus cemburu? A-a..aku tidak cemburu!” Chinen tersenyum maklum ketika melihat rona kemerahan dikedua pipi Yamada. “Aku hanya tidak suka ketika kau membahas dia.. karena dia adalah orang yang tak tahu terimaka—“
“Ryosuke!”
“Aku bicara apa adanya, Chinen Yuri! Dia memang nggak tahu terimakasih! Waktu itu Johnny-san sudah mau memaafkan dia dan memberi kesempatan untuknya kembali ke Johnny’s setelah kita mohon-mohon bahkan sampai sujud! Tapi apa? Dia dengan lempeng bilang lelah dengan kehidupan Johnnys lalu pergi keluar negri seenaknya membuat usaha kita sia-sia. DAN KAU! HARUSNYA YANG PALING KECEWA karena kau yang nyaris mencium sepatu Jo--”
“CUKUP RYOSUKE!” Genggaman ditangan terlepas. “Kau tak perlu menjabarkan semua itu! Itu sudah lama!!! Lupakan dan jalani hidup yang baru. Aku pergi sekarang. Jaa,”
Yamada mendengus kencang. “Nggak akan kubiarkan! Aku ikut denganmu.”
“APA—“
“Aku bisa bantu cari sinyal yang banyak.”
Chinen memutar kedua bola matanya. “Aku bisa apa... yasudah, ayo cepat. Kita harus bergegas. Sudah jam sebelas lewat.”
.
.
.
Tokyo Tower.
Jam dua belas kurang lima menit.
“Tujuanku juga ke sini, Ryosuke. kau tidak membantu sama sekali.” Chinen mendengus sementara Yamada mengedikan bahu. “tujuan utamaku memang hanya menemanimu.”
“Siapa yang minta ditemani?” si cendik mendesis. “Tapi terimakasih,” lalu pipinya terlihat kemerahan. Senyum Yamada kembali terkembang sempurna.
“Untung aku ikut. Rasanya semakin kesal kalau mengingat kau kesini sendiri hanya untuk menelpon dia.”
Chinen terkekeh. “Dasar munafik.”
“APA KAU BILANG?”
“Karena kau nggak mau dibilang cemburu, yang mendekati kata itu hanya munafik.” Jelas Chinen dengan lugas. Yamada meringis kesal namun tak membalas. Chinen segera mengambil handphone canggihnya lalu menekan nomor seseorang.
“Bahkan kau tahu nomor telponnya setelah dia ganti nomor dan belajar di luar negri, huh?” Yamada mengoceh. Chinen lagi lagi memutar bola matanya.
“Hallo? Ryu is speaking here.”
Terdengar sahutan di sebrang sana. Tubuh mungil Chinen seketika menegang kalau saja tidak segera sadar.
“Hallo? Who are you? C’mon speak! Or i’ll hangup—“
“Apa kau tidak menyimpan nomorku? Ah yang paling gampang, apa kau tidak melihat kode nomor yang menghubungimu?”
Akhirnya. Chinen bersuara sedangkan Yamada hanya bisa memperhatikan gerak bibir serta mimik si mungil ketika sedang berbicara di telpon.
“Chii...”
“Ya. Ini aku.”
“Sorry because i... ck, maaf. Aku belum sempat memindahkan kontak lamaku ke hp ku yang ini. Ada apa Chinen?”
“Hanya ingin bicara. Kau sedang sibuk?”
Yamada menggertakan giginya, masih tetap bersabar disamping si mungil.
“Tidak terlalu sibuk. Bicara saja.”
“Eum. Apa kabar?”
Yamada meremat tangannya didalam saku celana.
“Aku baik baik saja. Ah.. mungkin aku terkena flu musim semi. Hehe.. kau sendiri? Masih sibuk? Apa kau cukup tidur? Apa kau masih mungil? Oh sepertinya tinggi badanmu akan tetap seperti itu haha.”
“Sialan.” Chinen kerap tertawa. Sementara ekspresi Yamada terbaca jelas menahan dongkol.
“Aku sehat. Dan.. aku kurang tidur seperti biasa. Kau benar, aku masih pendek. Tapi aku tetep imut.”
“Idiot.”
Chinen tak bisa menahan cengirannya ketika Ryutaro di sambungan berkata demikan serta Yamada yang mendesis serupa.
“Ryu-chan..”
“Hmm?”
“Apa kau bahagia dengan kehidupan barumu sekarang?”
Hening yang dirasa lama. Chinen menarik kesimpulan. “Oke, tidak.”
“Ya! Aku bahagia.”
Chinen langsung tersenyum. Dan rematan Yamada di saku celananya semakin mengerat.
“...berbahagialah... Aku mendoaakanmu bahagia.”
“...berbahagialah... Aku mendoaakanmu bahagia.”
Tanpa Chinen ketahui, Ryutaro disebrang sana tersenyum. “ya, aku tahu. Aku bahagia karena kau bahagia. Sesimpel itu.”
Chinen terkekeh. “hanya aku? Apa aku boleh berbesar kepala?”
“Tidak, Chinen. Tidak hanya kau.” terdengar sebuah tawa, “Yang lainnya juga... Pasti bahagia. Mereka bukan lagi bagian dari kehidupanku. Tapi tetap bagian dari kebahagiaanku.”
Hening dipihak Chinen. Cukup lama sampai Yamada geregetan.
“aku tau kau sedang menahan nangis...”
“tidak, siapa bilang?” disahut dengan cepat, si kecil itu mendengus.
“perasaanku yang bilang ahahaha... Padahal aku yakin kata kataku barusan cukup mengharukan untuk membuatmu menangis.”
“Tidak mungkin.. aku tidak bisa menangis ditempat seperti i—“
EQHEM!
Baru saja Yamada berdehem. Chinen langsung menoleh padanya dengan alis terangkat namun tetap dengan handphone menempel ditelinga.
“Well, Kukira kita bicara 'berdua'.”
Chinen meringis, “tidak, Ryosuke disebelahku. Kau mau bicara dengannya?”
Yamada spontan mengibas ngibaskan tangannya.
“tidak. Cukup kau yang mewakalinya. Mewakili mereka juga.”
Kali itu Chinen tersenyum manis, sebelumnya ia mendesah pelan lalu berucap kembali. “aku mengerti. Selamat ulang tahun. Dari kami, Hey Say JUMP, untukmu.”
Chinen bisa mendengar kekehan bersahabat disambungannya. Lalu dengusan yang tak luput dengan senyuman tulus. “Ah.. kurasa air mataku keluar. Omong-omong, terimakasih.”
“Sama-sama. Berbahagialah, Ryu-chan!” Chinen berseru dengan cerianya, sampai matanya nyaris segaris. Yamada semakin mengepalkan tangannya.
“Tenang saja, aku bahagia!”
“Syukurlah... hmm kurasa itu saja. Semoga di umurmu yang ke 20 kau mendapat kebahagiaanmu... di kehidupan barumu disana.” Ucap Chinen bijak. Yamada memonyongkan bibirnya.
Kali itu si kecil mendengar tawa renyah. “Ahahaha omong omong Chii.. kau adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”
Chinen tersenyum lebar. “Maa, itu memang tujuanku. Ini sudah...” Chinen dengan segara meraih lengan kiri Yamada yang terlingkar jam tangan unik. “sudah jam dua belas lewat lima belas. Sudah berganti hari. Selamat ulang tahun! Yeay!”
Yamada melotot gemas namun tak bersuara, Chinen nyengir tanda maaf.
“Ahahaha... di Jepang memang sudah tanggal 6, Chii. Tapi disini masih tanggal 5. Apa kau tahu perbedaan waktu Jepang dan Amerika berapa jam?”
Wajah Chinen kontan memerah. Malu mungkin.
“10 jam lebih, Chii. Perbedaan waktunya. jadi ya... kau benar benar orang pertama secara langsung yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku bahagia. Terimakasih!”
“Eh? Emang siapa yang pertama tapi bukan secara langsung?”
“Ahaha tentu saja fansku. Aku masih punya fans, ingat? Mereka sudah dari 3 hari yang lalu berkoar koar di media sosial.”
“Oh aku lupa. Kau masih tetap seorang idola.”
Ryutaro berdecak. “Jangan meledek. Aku bukan apa apa sekarang. Kau yang lebih bersinar.. ah bukan, orang disampingmu yang lebih dari bersinar. Karena kau menyinarinya dengan tulus.”
Alis Chinen terangkat. Yamada semakin serius memperhatikan ketika melihat raut si kecil itu mulai memerah. “Ya.. ia memang bersinar. Dan terimakasih atas pujiannya untuknya.”
“Eh? Kenapa kau yang malah berterima kasih? Ahaha..”
“karena memang benar. Aku yang membuatnya tambah bersinar haha..”
Yamada yakin kalau 'ia' yang dimaksud adalah dirinya. Jadi ia ikut tersenyum.
“Sudah ya.... Sekali lagi, Morimoto Ryutaro... berbahagialah!”
Ryutaro tanpa sadar mengangguk. “Ya! Kau juga. Kalian juga. Berbahagialah!”
Dan sambunganpun tertutup. Chinen menjauhkan iphone6 nya dari telinganya kemudian dimasukan ke saku celana. Ia lalu dihadapi ekspresi serius dari Yamada yang sedari tadi menemaninya menelpon.
“Chinen Yuri!”
“...ya?” pemuda mungil itu meneguk ludahnya.
“Sepertinya kau benar.”
Alis Chinen terangkat “Apa?”
“Aku cemburu dengan Ryutaro.” Ucap Yamada dengan tegas. “Dan aku tidak suka kau berekspresi seperti tadi padanya. Tersenyum sambil tersipu. Cih. Apa apaan itu!”
Chinen kontan tertawa, rautnya langsung sumringah serta kemerahan. “Itu sudah pasti kan? ahaha... maaf membuatmu cemburu, Ryosuke.”
“Pokoknya kau juga harus jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku nanti. Kau seorang. Tidak dengan Keito!” Yamada bersungut. Chinen terkekeh. “Iya iya... tuan pencemburu...” ia mencubit gemas pipi Yamada.
Wajah Pemuda Taurus itu memerah hebat. Ia maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Chinen, “Kau tahu kalau aku adalah member teromantis di JUMP?”
“Ya...” pandangan Chinen teralihkan.
“Tatap mataku, Yuri.”
Nah, ini di privat. Tidak ada kameramen atau fans... kalaupun ada, berarti keberuntungan mereka mendapat fanservice gratis. Jadi wajar Yamada memanggilnya ‘Yuri’. Chinen langsung menatap Yamada, masuk kedalam manik kecoklatannya dan terbius. “Kenapa?”
“Kau tahu apa yang ingin kulakukan?” Yamada balas menatap Chinen lebih intens, masuk lebih dalam pada onyx indah pemuda mungil didepannya.
Chinen tersenyum setelah cukup lama keheningan yang terjadi karena tatap-menatap. “Aku tahu.” Ia lalu menutup matanya. “Lakukan saja.”
Yamada menyeringai puas. Ia segera melakukannya tanpa dikomando dua kali. Dan Yamada benar benar bersyukur akan tinggi badannya yang tak beda jauh dengan Chinen karena tak harus menunduk terlalu bungkuk untuk meraup bibir elok makhluk terimut didepannya. Mereka terlepas setelah pasokan oksigen habis.
“Ingatkan aku untuk menggosok gigi besok.”
Chinen mengernyit geli. “Kenapa? Kau jorok!”
“Makanya ingatkan aku. Kalau tidak aku tidak akan menggosok gigi karena nggak mau menghilangkan rasa manis dari mulutmu tadi.”
Ah.. Chinen mungkin harus menambah julukan untuk Yamada.
Pencemburu? Munafik? ...oh,
Pria teromantis...
Tidak.
Mungkin akan lebih tepat... Pria Jorok.
~THE END~
A/N : Kartu Chinen apa nen? Indosat? mending kerumah saya nen, deket indosat tower :v sinyalnya kenceng haha XD. BANZAAAI~ Authornya beneran move ooon!! Wkwk.. ngetik ini yang awalnya galau langsung dapat ilham buat konsen ke YamaChii. Pokoknya YamaChii pairing nomor satulah muahaha XD Dan terimakasih untuk Love in Tokyo drama buat menginspirasi cerita ini wkwk. Btw, YamaChii HTS-an tapi kok ciuman? Sengaja khkhkhkhkh~orang kenyataannya begono :v makanya kita demo rame rame yok ke si juleha biar ngijinin YamaChii terang terangan kayak Jingulwa haha :V
Ohya fanfic ini didedikasikan untuk ultahnya Ryutaro >_<
SELAMAT ULANG TAHUN KE 20 RYUUU <3 semoga bahagia dikehidupanmu yang baru. Jangan gegayaan joget gajelas. Bikin melting :” wkwk

0 komentar:
Posting Komentar