Title: Sleep Well
Author: Raras Vadma
Pair: YamaChii for sure (percayalah kawan kawan
ini akan berending bahagia), AriYama, Chiitaro (buat konflik)
Genre: Hurt/comfort, angst(?) wkwkw, romance, DRAMA
WARNING! BAHASA SUKA SUKA
Summary : Chinen kira
dirinya sudah tidak pantas untuk Yamada. Dia mengira dirinya sudah membosankan
dan tak menarik atau lucu seperti dulu. Jadi bila Yamada memintanya putus,
Chinen sudah tahu. Tapi si cilik itu tetap memiliki Yamada. “cukup pejamkan
matamu, lalu sebut namaku sebanyak banyaknya.” “Ryosuke... Ryosuke..
RYOSUKEEE!!”
Douzo ^,^
.
.
.
....I proudly present...
Sleep Well
Chapter 2
.
.
Sleep Well
Chapter 2
.
.
Harusnya Chinen
menelpon ibunya tadi. Bilang sedang tidak enak badan atau apa. Persetan dengan
dikatai anak mama. karena Chinen membutuhkan ibunya
sekarang. Dia ingin pulang kerumah. Kerumahnya. Bukan rumah JUMP yang
kini terasa asing. Bukan asing sebenarnya... hanya terasa... semu? Chinen tidak
bisa mengutarakan dengan pasti, yang jelas ia tidak suka berada di dalam van
bersama rekan rekan nya untuk menuju asrama mereka sekarang. Ia ingin pulang!
“Ne, Chinen? Kau
baik baik saja? Tadi bicara apa dengan Ryutaro?” Yabu tiba-tiba bertanya sambil merangkul pundak kanan Chinen. Pemuda mungil itu segera memfokuskan pikirannya lalu tersenyum untuk memberi kesan ‘aku baik baik saja’ pada sosok ayah di grup itu.
“Iya, Apa yang
kalian bicarakan? Sepertinya tadi privasi sekali.” Kali itu Yuya merangkul
pundak kirinya. Chinen terkekeh, berlagak ceria. “Kalau seperti ini aku
terlihat sebagai anak kalian.”
“Heh,” Yabu memekik
geli.
“Oi Yabu! Nggak
usah jijik begitu!” Yuya mendengus sekaligus menonjok bahu sang leader.
“Datte, Aku sudah punya Kei!” Yabu
menggamit lengan Inoo disebelahnya yang sedang berbincang dengan Keito. “Dan
kau sendiri kan sudah punya Dai-chan!” lanjutnya tegas.
Raut wajah Chinen
mengeras seketika. Yuyapun demikian namun Yabu tampak tidak sadar.
“Oi! Kalian berdua
jangan membuat dunia sendiri!” seru anggota paling tua itu pada dua pemuda yang
sedari tadi asik berbincang di jok jemputan paling pojok. “Yama-chan!
Dai-chan!”
“Ahahahaha~ tuh kan
benar, harusnya ketika adegan ini kau jangan bertampang sok cool seperti ini.”
“Enak saja! Hajime-chan memang seperti
ini! Kau yang seharusnya jangan bertampang konyol seperti ini ahaha... mukamu
abstrak!”
“Aku di puji kawaii sama semua kru dan kau bilang
abstrak!? Kurang ajar~!”
“Jodan.. jodan.. kau imut kok.”
“Yosha~ kau
mengakuinya haha! Panggil sekali lagi!”
“Chee.. idiot! Arioka Daiki imut. Senang?”
Chinen tak tahu
sejak kapan ia menahan nafasnya, menutup matanya, bahkan menulikan telinganya.
Kapan ya? Kenapa bisa? Salah. Pertanyaan seharusnya adalah 'kenapa ia bisa berada
disana dan telihat seperti orang cacat?'
Sialan!!
Sialan!!
“YAMA-CHAN!” Inoo
tiba tiba berseru membuat Chinen menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan.
Pemuda yang diserukan lalu mendongak sambil melepas hetset dan memalingkan wajahnya dari tab yang dipegang
Dai-chan.
“Ada apa?” tanyanya
dengan wajah tanpa dosa. Ketika melihat anggota lain menatapnya dengan alis
menekuk, Yamada lantas mengernyit. “Kenapa?”
“Kita yang seharusnya
tanya kenapa.” Yuto mendengus.
“Dai-chan!” kali
itu Yabu membentak.
“Nani? Nggak usah pakai urat ngomongnya.
Aku dengar.” Dai-chan mematikan gedgetnya sambil mendengus.
“Kalau kau dengar
seharusnya dipanggil sekali langsung respon.” Yabu berkata dingin. “Kenapa
kalian seperti mengasingkan diri? Kita satu keluarga darou?! Jangan mengubu sendiri!”
“Ma.. tenang Kota...” Inoo mengelus
pundak Yabu. “Sudahlah... lebih baik kita bahas yang lain.”
“Err... minna, ada yang ingin ku katakan pada
kalian..” Yuya angkat bicara setelah dari tadi mengeraskan rahang. “Sebenarnya
aku dan—“
“TIDAK!” Dai-chan
tiba tiba berseru kencang.
“YUYA!” Yamadapun
demikian.
“Harus ku katakan!”
Sahut Yuya cepat.
“AKU TAK MAU DENGAR! TIDAK!!” Dai-chan justru mengerang sambil memejamkan
matanya erat erat sementara kedua tangannya menekan sepasang kupingnya sama
eratnya.
“Ochitsuke yo, Dai-chan..!” Yamada
langsung memeluk pemuda manis itu, melepaskan tangan yang menakan kupingnya
dan mendekap tangan Dai-chan dipinggangnya, Yamada kemudian mengalihkan wajahnya
pada pemuda Osaka disana, “Yuya! Kau tak seharusnya mengatakan hal ini disini
kan! Dai-chan belum si—“
“Aku harus bilang!” Tandas Yuya setengah berteriak. “Aku sudah putus
dengan Daiki.” Suaranya melirih. Pemuda tan itu kerap memejamkan matanya, merasa
menyesal mengatakan demikian. Kemudian ia mendongakkan kepala, seolah mengasingkan
wajahnya dari siapapun.
“APA ALASANMU
BAKAKI?! Kau. Harus. Punya. Alasan.” Dai-chan balas berseru dan menekan setiap katanya. Member lain didalam van itu tak
bisa berkata sepatah pun, bahkan supir jemputan merekapun demikian.
Cukup tahu saja, dalam dunia Johnny’s, hubungan ‘seperti ini’ sudah lumrah. Ya. Hubungan ‘seperti ini’ adalah rahasia gelap Johnny’s Entertaiment. Tidak boleh bocor kesiapapun kecuali pihak yang bersangkutan. Yakni member Johnny’s, pekerja termasuk staf, kru, kameramen, stylish, menejer, maupun supir. Ada hukuman ‘mengerikan’ buat orang yang bermulut ember membocorkan rahasia gelap Johnny’s. Semua tak ada yang tahu hukuman itu kecuali para petinggi.
Cukup tahu saja, dalam dunia Johnny’s, hubungan ‘seperti ini’ sudah lumrah. Ya. Hubungan ‘seperti ini’ adalah rahasia gelap Johnny’s Entertaiment. Tidak boleh bocor kesiapapun kecuali pihak yang bersangkutan. Yakni member Johnny’s, pekerja termasuk staf, kru, kameramen, stylish, menejer, maupun supir. Ada hukuman ‘mengerikan’ buat orang yang bermulut ember membocorkan rahasia gelap Johnny’s. Semua tak ada yang tahu hukuman itu kecuali para petinggi.
“Aku tidak bisa
mengatakan alasannya tapi yang jelas aku harus putus denganmu...” Yuya bersuara kembali, mulai menggigit bibir bawahnya kuat kuat.
Hening cukup lama. Sampai Dai-chan memekik.
Hening cukup lama. Sampai Dai-chan memekik.
“Lakukan sesukamu!!” ia lalu membalas pelukan Yamada, memeluk erat sementara Chinen menyaksikan semuanya dengan hati panas. Padahal ia sudah mencacatkan diri tapi tetap saja seluruh inderanya terasa terbakar. Ia melihat seutuhnya, sepenuhnya, seluruhnya. Tangan itu di leher seorang yang dia cintai. Dan orang yang dicintainya membalas pelukan itu sama eratnya, kerap mengelus dengan lembut punggung pemuda manis itu.
Sekali lagi, Chinen melihatnya. Tanpa sadar ia terkekeh dalam bisu hingga kemudian mengucap satu kata,
Sayonara...
Itu benar. Akan ada
akhir untuk awal..
Ienai....
Dan tak ada akhir
yang bahagia.
Yume
mitai na futari no jikan...
Karena jika
berakhir berarti tidak bahagia.
Makka na
tawaa ga...
Siapapun.. tolong
bawa Chinen pergi tempatnya....
Ano kouen
no benchi kara...
Kenapa harus Chinen
yang terlihat paling sesak disana...?
Mieru
nda...
‘Ryosuke...’
Issho ni ireru...
‘Ryosuke....’
Kakowareta
sekai wa,
‘Kau dimana, Ryosuke?!!’
Sunoodoumu
mitai ni kirei de...
‘Kau bilang kau
akan selalu denganku!?’
Hanaku
sugite yuku....
‘Ryosuke!!!”
Suki dayo...
.
.
.
“—Ryosuke!!!!”
Sosok itu kini terlihat, tersenyum menawan seperti biasa dengan tangan terbentang lebar siap
mendekap tubuh mungil Chinen kapan saja.
“Bodoh! Bodoh! Ryosuke bodoh!!
Aku mencarimu dari tadi... hiks!”
Pemuda itu tertawa
sambil memeluk Chinen yang mati matian menahan isaknya, membawanya kedada
bidangnya lalu mengelus pucuk kepala legam si cendik penuh sayang. “Aku selalu
disini, Yuri. Ssshh.. tak usah menangis. Kau bilang kau tidak cengeng, huh?”
“SIAPA YANG MENANGIS?
Kalaupun aku menangis itu karena kau!” Chinen mengerucutkan bibirnya. Yama
terkekeh dan langsung menyambar bibir mungil itu dengan bibirnya.
“Hghh!!
Ryo—hghh—Ryosuke!”
Phuh!
Pagutan itu
terlepas setelah Chinen berontak cukup kasar. Yamada menjilat bibir atasnya
dengan usil. “Dakara, Jangan cemberut
kalau tak ingin bibirmu lebam oleh bibir ini~” Pemuda itu menunjuk bibirnya sendiri.
Wajah Chinen memerah, ia mendengus malu. “Jangan tiba tiba, aku masih
sesak tahu!” Yamada hanya terkekeh sambil menjawil hidung bangir Chinen.
“Ne, Yuri...”
“Hn?” Chinen
menyamankan diri di dekapan Ryosuke-nya.
“Aku sudah bilang
padamu kan?”
“Apa?”
“Aku akan selalu
mencintaimu.”
“Oh... iya aku
tahu.
“Dan aku tidak pernah memutuskanmu..”
“Shitteru,”
“Karena itu kau tak perlu merasa sesak
tiap kali melihat ilusi buruk tentangku. Tentang aku yang memutuskanmu atau aku
yang membuatmu menangis. Itu semua hanya ilusi.” Yamada mengecup pucuk kepala
Chinen, menyesap aromanya banyak banyak. “Kau cukup melakukan apa yang ku
suruh. Ingat?”
“Wakatta. Pejamkan mata, lalu sebut
namamu sebanyak banyaknya.” Chinen tersenyum manis. Yamada balas tersenyum
menawan. Pelukan mereka kembali mengerat. “Jaa,
sebut namaku lagi,”
“Ryosuke. Yamada...
Ryosuke....”
“Aku disini.”
Mereka kembali
menyatukan kedua pulm itu dengan lembut dan lebih dalam.
.
.
.
“Chinen!”
Apalagi...
“Chinen!”
Apa aku
harus kesana..? Kembali pada ilusi menyakitkan itu? Ryosuke, aku nggak mau!
“Chinen, bangun!!”
Nggak apa
apa, Yuri. Kau bisa memanggilku kapan saja yang kau mau nanti. Aku akan selalu
ada.
“Chinen bangun,
sudah sampai!!”
Ja,
nanti kita harus bertemu lagi.
.
.
.
“CHINEN YURI!!!”
Kelopak mata itu
terbuka hingga terlihat iris hitam Chinen yang berkabut. Ia berkedip sekali. Dua kali.
Hingga mata itu terbiasa dengan kenyataan.
“ASTAGA CHINEN...
jantungku seperti melorot kau dibangunkan tak bangun bangun!” Yabu langsung
terduduk lemas. Begitu juga member lain yang semula berdiri kini terduduk lemas
didalam van.
“Kau
sekarang kalau dibangunkan susah sekali! Aku tahu kau sangat suka tidur,
tapi jangan membuat kami khawatir!” Keito berujar cemas. “Tadi kau pingsan atau
tidur sih?”
“Maa.. aku ngantuk banget. Lagi pula kalian tadi berdebat nggak jelas. Jadi lebih baik aku tidur. Kalian kan tahu aku gampang
tidur di kendaraan! Hehe..” pemuda paling muda itu terkekeh, membuat wajah
seceria mungkin.
“Dasar! Jangan
bikin kami cemas! Ayo turun. Kita sudah sampai di rumah kita.” Komando Yuya
diikuti seruan “Haik” oleh yang lainnya. Chinen turun dari van lebih dulu dan bergegas menuju kamarnya ketika memasuki rumah.
“Chotto, Chinen! Aku juga mau masuk kamar!”
Pemuda imut itu
meneguk ludahnya. Lupa bahwa kamar itu bukanlah kamar miliknya seorang. Satu
kamar diisi oleh 2 anggota—kecuali Yabu, Inoo, dan Hikaru yang tidur bertiga
dalam satu ruangan. Chinen menoleh dan terlihat Yamada menjinjing tas ranselnya
dengan raut lelah.
“Ah.. douzo. Aku akan minta tukar kamar dengan
Hikaru nanti. Maaf kalau kemarin kau tidak bisa tidur dikamar...” Chinen
menggaruk belakang tengkuknya canggung. “Jaa,
aku ke dapur dulu.”
Yamada hanya mengangguk sambil tersenyum. Mata kecoklatan miliknya tak lepas dari sosok mungil Chinen yang menuju ke dapur.
“Yama-chan.”
Pemuda Taurus itu
menoleh, mengangkat alisnya sebelum tersenyum. “Ada apa, Dai-chan?”
“Bisa kita bicara
berdua di luar nanti?”
Cukup lama untuk
mendengar sebuah jawaban.
“...Eum, ii-yo.. nanti kita bicara diluar.”
.
“Hikaru, kita bertukar kamar ya?”
Pemuda gingsul yang baru saja menegak minumannya langsung mengangkat alis
tinggi tinggi.
“Tidak sudi!
Yama-chan kalau tidur lampunya harus nyala. Kadang juga suka mengigau! Lagipula,
kalau aku tidur sekamar dengannya, nanti akan ada apa-apa antara Yabu dengan si
Cantik~ nggak akan kubiarkan!”
Chinen meringis.
“Aku dengar, Hikka!
Kalau ada apa apa memang kenapa?!” sahut Yabu diruang tengah. Hikaru mendengus.
“Nggak akan kubiarkan! Aku belum mengiklaskan!”
“Maa... yausudah kalau begi—“
“Sekamar denganku
saja.” Celetuk Yuya tiba tiba sambil mengalungkan tangannya di kedua bahu
Chinen. “Aku kangen denganmu, Chibi~ haha. Dulu perasaan tinggimu sepinggangku, Chii.. sekarang kenapa jadi tinggi begini?”
“Terimakasih. Itu
kuanggap pujian.” Dengus Chinen.
“Kalau begitu
Dai-chan tidur sama Yama-chan?” Keito yang kebetulan berada di dapur ikutan
nimbrung.
“Biar saja.
Lagipula aku sudah tak punya hubungan dengannya. Dia mau tidur sama siapa aku
sudah tak peduli.”
Dai-chan baru saja
keluar dari kamarnya dan mendengar semua omongan Yuya. Matanya menatap dingin
namun kerap terlihat sendu pada pemuda Osaka itu sebelum akhirnya melengos
menuju ruang tengah dan menghampiri Yamada yang sedang berbincang dengan Inoo
dan Yuto.
“Wow. Itu tadi
sadis banget, bung.” Sindir Hikaru seraya menepuk bahu Yuya. Keito yang juga mendengar
kalimat menusuk itu perlahan mengatupkan rahangnya pelan
pelan.
Hanya Chinen yang
tidak bereaksi sama sekali dan langsung melenggang menuju meja makan di
ruang tengah.
“Ah! Chii makan~!
Aku ikut makan deh. Tadi kalau tidak salah kita diberi bento oleh kru acara.”
Ucap Yuto semangat, mengikuti member termuda itu duduk dimeja makan.
Chinen sendiri di
meja makan dengan pikiran melalang buana. Ia menyumpit makanannya dengan senyum
mengembang namun tiba tiba berubah menjadi sendu, lalu berbinar, kemudian
sedih, lalu berbinar lagi. Yuto yang memperhatikannya tentu mengangkat alis.
“Kau kenapa, Chii?”
“Ibu...”
“Eh?” pemuda paling
jangkung itu mengernyit.
“Aku lupa kalau
Ibuku menitip sesuatu padaku. Besok aku harus pulang kerumah.” Chinen
menyunggingkan sebuah senyum. Yuto mengangguk paham, ia lalu membuka topik
obrolan hingga membuat Yuya dan Inoo ikut bergabung dimeja makan.
“Ikkou ze, Yama-chan!”
Semua member
menoleh pada sumber suara. Terlihat Dai-chan sedang mengenakan pakain luar
santainya dengan senyum lelah.
“Mau kemana,
Dai-chan?” Inoo bertanya, bibirnya sedikit mengerucut.
“Aku ada urusan
sebentar dengan Yama-chan. Ayo!”
Yabu mencegah
didepan pintu, wajahnya gahar dan tangannya bersilang didepan dada. “Mau kemana
kalian?”
Dai-chan berdecih.
“Bukan urusan Yabu-kun. Aku mau pergi dengan Yama—“
“Tidak akan kuperbolehkan sampai kau
menjelaskan maksudmu...” Yabu menunjuk Dai-chan, “dan kau,” lalu ganti menuding Yuya di meja makan, “memutuskan hubungan!”
Kali itu Yamada
yang berdecak, menatap tanpa rasa takut sedikitpun kepada orang yang paling tua
di grupnya. “Yabu-kun tak perlu ikut campur urusan kami. Kami benar benar butuh
privasi. Permisi.” Lalu pemuda Taurus itu melabrak Yabu sambil menggeret lengan
Daichan.
“Heh, apa-apaan
itu?!” Yabu hanya bisa melotot tak percaya sementara Dai-chan dan Yamada sudah
memasuki mobil dan keluar dari asrama mereka.
“Bodoh! Kau kurang
tegas terhadap mereka! Mereka semakin dewasa semakin belagu. Apa kau tahu sikap
Yamada terhadapmu itu seperti melecehkanmu? Mentang mentang sudah terkenal...”
Hikaru berdecak kesal.
“Hoi, Hikka! Jangan
bicara begitu!” Inoo-chan berseru.
“Itu benar,
Inoo-chan! Yamada semakin hari semakin bertingkah! Apa kalian tidak melihat
perubahannya? Cih, bahkan di foto atau di interview majalahpun selalu banyak
gaya. Dan—“
“Hentikan...”
“Dan perangai buruk
Yamada kini membawa pengaruh untuk Dai-chan! Dia jadi—“
“Hentikan...”
“Dia jadi semena
mena. Nggak mau diatur. Padahal member 7 harusnya lebih segan dengan BEST! tapi dia bahkan tidak sopan dengan Dai-chan padahal Dai-chan lebih senior darinya, ia masuk agency lebih dulu! Apa-apaa—“
“AKU BILANG
HENTIKAN! BERHENTI BICARA SEPERTI ITU TERHADAP RYOSUKE. KITA SEMUA
BERUBAH. AKU, DIA, KITA. KITA SEMUA BERUBAH! JANGAN HANYA MENYUDUTKAN DIA!”
Bagai perintah
mutlak. Hikaru langsung mengatupkan bibirnya rapat rapat. Begitu pula
member yang lain. Mereka semua menatap member termuda dengan raut tak
menyangka. Yabu lalu mendesah lelah.
Chinen yang baru
saja berteriak langsung menunduk. Meremat tangannya kemudian. “Maaf... aku... aku
nggak bermaksud membentakmu, Hikaru-kun. Hanya saja...”
“Nggak apa-apa,
Chii...” Yuto disebelahnya langsung merangkul si mungil, menepuk-nepukan
tangannya pada bahu member termuda itu. “Aku mengerti kau tidak suka kekasihmu
di katai.”
“Sudahlah. Untuk
sekarang aku tak peduli dengan Yamada. Kalaupun dia mau keluyuran juga tak
masalah. Aku memperdulikan pacar—oh bukan, MANTANmu,” Yabu
menekan kata mantan sembari menatap Yuya dengan sinis. Ia langsung mendekat
pada pemuda Osaka itu. “Apa yang ada diotakmu sampai kau memutuskannya?”
Yuya membuang muka,
“itu tidak ada hubunganya denganmu.”
“Tentu saja ada
hubungannya! Hubungan sesama member! Dengan pekerjaanmu. Kau dan dia satu siaran
radio kan!? Kalau hubunganmu berantakan seperti itu tidak alan berjalan dengan
lancar!”
Yuya tiba tiba
berdiri menatap sengit Yabu. “Sekali lagi dengar, ini nggak ada hubungannya dengan kalian. Kalian nggak
berhak melarangku putus atau pisah dengan Arioka. Ini keputusanku. Kalian
nggak perlu ikut campur.”
“Aku tahu! Tapi kau
harus memberi alasan yang jelas kenapa putus dan jangan memutuskan secara
sepihak! Itu memberi dampak buruk untuk Dai-chan, kau harusnya paham itu!”
“Aku nggak bisa mengatakannya!
Yang jelas aku sudah putus dengannnya!” pemuda berkulit tan itu langsung
meninggalkan ruangan, lengannya yang ditahan Yabu dihempas dengan mudah. Yuya
memasuki kamarnya sembil menghentak tanpa memperdulikan tatapan kesal member
lain.
“Aku tidur duluan
juga. Aku nggak mau ambil pusing urusan ini. Jaa, minna oyasumi.” Chinen bangkit dari duduknya lalu melengos
meningkalkan member lain di ruang tengah. Pemuda cilik itu lantas memasuki kamar dan
menemukan Yuya sedang duduk diranjang dengan wajah menunduk yang disanggah
dengan kedua tangannya.
.
“Disini saja.”
Yamada memelankan
laju mobil yang ia kendarai, ia mengangguk dan mulai memberhentikan mobilnya di bahu jalan pada daerah sepi pinggiran kota Tokyo. “Oke.. jadi, apa yang ingin
kau bicarakan padaku?”
Arioka Daiki
tersenyum, pandanganya yang semula menatap jalan kini beralih pada pemuda
tampan di sebelahnya. “Apa kau sangat mencintai Chinen?”
“Kenapa bertanya begitu?”
Dai-chan menatap kedua mata Yamada sebelum akhirnya terawa parau. “Sangat ternyata.
Aku bisa apa.... ahaha,”
“Hei, apa yang
ingin kau bicarakan? Bicara saja. Kita sudah mencari tempan privasi agar yang
lain tidak tahu.” Yamada mengernyit.
“Apa kau sudah
putus dengan Chinen?” Dai-chan kembali menghadap kaca depan mobil,
menyandarkan tubuhnya yang lelah.
“Kalau iya kenapa?”
“Aku yakin kau
tidak ingin putus dengannya. Tapi kenapa?”
Yamada mendesah
panjang sebelum akhirnya ia menjawab. “Demi Takaki Yuya, demi Hey!Say!JUMP dan
demi Johnny’s”
“Che, sampai segitunya.”
“Ya. Sampai segitunya.
Aku tidak seegois itu untuk memilih Chinen ketimbang grup kita. Aku percaya Chinen kuat untuk bertahan tanpa aku sampai kasus Yuya benar benar selesai.”
“Kasus apa!? Apa
alasannya?!” bungsu BEST Itu semakin jengah dengan hal yang membuat dirinya dan Yuya selesai, perasaannya kini campur aduk. “Dari kemarin dia selalu mempermasalahkan 'kasus', 'alasannya nggak boleh dikasih tahu', 'itu rahasia' dan segala macam tetek bengeknya. Kenapa?! Apa masalahnya!?”
Yamada mengesah lelah mendengar tuntutan sahabatnya. “Aku sama sepertinya. Alasan Yuya memutuskanmu itu tidak bisa
kuberi tahu. Kau harus punya pemikiran sendiri untuk itu, Dai-chan.
Mengertilah. Ini demi Hey!Say!JUMP. Kita ini idola, ingat? Kita harus
menjaga perasaan fans kita. Kita hidup dengan uang mereka. Mereka yang
membiayai kita. Hey!Say!JUMP harus utuh. Ah, maksudku jangan sampai ada yang keluar lagi. Dan untuk itu... mulai saat ini kita
harus bermain peran lebih banyak dari biasanya.” Yamada menjelaskan dengan
sabar sambil menatap Dai-chan lekat-lekat. “Tunggu sampai semua selesai. Lalu kita
akan kembali seperti semula. Kau dan Yuya. Aku dan Chinen.”
“Bermain peran
ya...”
“Ya.” Yamada
mengangguk.
“Kalau begitu apa
aku boleh menjadi tokoh dalam drama kalian? Sebagai pacarmu?”
“APA?!”
Daichan mendengus.
“Tunggu dulu...
itu—“
“Kalau demi
kebaikan Hey!Say!JUMP kau bisa bermain peran yang memuakan seperti ini,
kenapa aku tidak boleh ikut bermain peran sebagai pacarmu? Itu hanya peran,
bukan? Setelah semua selesai, kita kembali seperti semula. Aku dengan Takaki. Kau dengan Chinen.”
Yamada diam cukup lama....
“Bagaimana?”
...lalu mendesah
pasrah. “Baiklah. Tapi ini hanya ‘peran’.”
Dai-chan langsung tersenyum
puas. “Chinen, aku rasa aku iri padamu.”
“Tidak. Yuya lebih
baik untukmu. Percayalah...” Yamada tersenyum getir. “Kita mulai bermain peran besok setelah aku membicarakan hal ini dengan Chinen.”
“Che? Kenapa besok?
Sekarang saja. Bilang saja padanya sekarang.” Dai-chan mendengus.
“Tidak bisa. Aku harus
mengatakan langsung padanya agar dia mengerti kalau ini hanya 'peran'.” Tandas Yamada dengan raut serius. Dai-chan lagi lagi
mendengus. “Kalau begitu aku benar benar iri dengan Chinen.”
Yamada kembali mengesah. Ia hanya berharap semua ini cepat selesai. Drama ini cepat
selesai. Peran ini cepat selesai. Lalu ia mendapat hasil yang baik di akhir.
Penonton bahagi—ah bukan, pembaca bahagia.
Semoga
saja... doanya dalam hati.
.
“Yuya,” Chinen
memanggil pemuda tan disana ketika memasuki kamar, ia lalu duduk ranjang bagian
lain. “Aku hanya ingin tanya...”
“Tanya saja,” Yuya
yang semula tersentak kini tersenyum, menatap Chinen. “Kenapa?”
“Aku tak tahu masalah yang membuatmu dan Dai-chan putus. Tapi aku tahu kalau kau yang menyuruh
Ryosuke putus denganku.”
Air muka Yuya
seketika berubah. Chinen balas tersenyum. “Tuh kan benar.”
“Itu... aku tidak
menyangka kalau Yama—“
“Aku juga tidak
menyangka hal itu keluar dari mulutnya.” Chinen terkekeh, “tapi aku tahu ia
tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Bahkan saat bicara seperti itu padaku
raut wajahnya terbaca jelas kalau ia masih menginginkanku haha..”
Yuya mau tak mau
tertawa mendengar kalimat narsis Chinen. Lalu tawanya memudar diganti senyum
sendu, “Apa kau menjadi sakit hati? Aku minta maaf...”
“Eumm..” Chinen
menggeleng, mulai merebahkan tubuhnya diranjang. “Aku tidak sakit hati... Untuk
sekarang. Karena aku tahu Ryosuke masih mencintaiku. Hanya saja aku tidak
menyangka kau yang menyuruhnya putus denganku. Kau tahu kan, Ryosuke sangat
mencintaiku. Dia tidak akan mudah meninggalkanku lalu mendengarkan perkataan
orang lain, sekalipun itu keluargnya. Tapi kalau ia dengan berat hati melakukan
keinginanmu.. itu berarti masalahmu serius.”
Yuya mendesah lelah, ikut terbaring di ranjang. “Serius. Sangat serius. Bahkan menyangkut karirku sendiri.”
“Kalau sudah
berbicara tentang karir berarti tentang Hey!Say!JUMP dan tentang Johnny’s.”
“Kau jenius.”
“Terimakasih.”
Chinen mendengus. “Cepat selesaikan karena aku menunggu Ryosuke bicara padaku ‘Yuri
maafkan aku ayo kita ulangi lagi hubungan kita’”
Yuya tertawa pelan.
“Dan oh, aku juga
menunggu kemesraan idiotmu dengan Dai-chan di radio dan di depan kita semua.”
Tawa pemuda Osaka
itu hilang, terganti senyum keteguhan. “Percayalah... semua akan baik-baik
saja. Aku sedang berusaha menyelesaikan ini.
Kita semua idola, ingat?”
“Tentu saja
aku idola!”
“Nah... kutunggu
ektingmu. Ekting terhebatmu dengan Yamada nanti. Juga ektingku di kehidupan normal maupun sebagai idola.”
“...Kita lihat
saja,” Chinen menghela napas dan mulai memejamkan matanya.
.
.
.
“Ryosuke, kau
mencintaiku kan?”
“Tentu saja,”
pemuda bak pangeran itu mulai mengecup pipi kenyal Chinen. “Apa yang kau
inginkan, Chinen Yuri?”
“Tidak ada yang
kuinginkan.” Si imut itu tersenyum, menyamankan tubuhnya dalam dekapan pangerannya.
“Ah mungkin ada.”
Yamada Ryosuke—nama pangeran yang sedang mendekap Chinen sekarang—memberi tawa renyahnya untuk si Chibi. “Katakan saja~”
“Aku hanya ingin
kau akan selalu ada ketika aku membutuhkanmu.”
“Kau tahu caranya.”
“Yamada...
Ryosuke...”
“Aku disini.”
.
.
.
.
.
To be a continue....
A/N : Eciyeh apdet. Apa ini sudah angst? Oh oke.. sepertinya
belum. Kok susah sih bikin angst... T^T /gegulingan/ padahal dikehidupan fandom
saya, saya lagi ngerasa angst nih huhuu... yaudahlah... doakan saya dapet yang
angst angst biar chap 3 langsung di apdet terus bikin kalian nge angst muahaha *hug*


4 komentar:
aduh kereeenn >< aku suka part yg ada gin no sekainya, dapet banget <3 sambil dengerin lagunya lg hoho, dilanjutin ya ras ><
Ini ga ada lanjutannya?
Ini ga ada lanjutannya?
Wth dea komen ahahah kok gue ga sadar ya de? ahaha XD
Dan untuk Yukiko's world, ff ini sebenarnya.. sebenarnya masih ada lanjutannya. hanya tidak mendapatkan mood untuk mengetik. Akhir-akhir ini Daichan jadi anak baik :'))) aku buat ini karena waktu itu sedang kesal dengan Daichan ^^;a tapi kalau mood ku balik pasti ku post lanjutannya dan ku kabarin ke kamu ^^
Posting Komentar