Minggu, 12 April 2015

Sleep Well (Chapter 2)

Diposting oleh Kiwokchwan di 10.37
Title: Sleep Well

Chapter: 2

Sebelumnya : (Chapter 1)

Author: Raras Vadma

Pair: YamaChii for sure (percayalah kawan kawan ini akan berending bahagia), AriYama, Chiitaro (buat konflik)

Genre: Hurt/comfort, angst(?) wkwkw, romance, DRAMA

WARNING! BAHASA SUKA SUKA 

Summary : Chinen kira dirinya sudah tidak pantas untuk Yamada. Dia mengira dirinya sudah membosankan dan tak menarik atau lucu seperti dulu. Jadi bila Yamada memintanya putus, Chinen sudah tahu. Tapi si cilik itu tetap memiliki Yamada. “cukup pejamkan matamu, lalu sebut namaku sebanyak banyaknya.” “Ryosuke... Ryosuke.. RYOSUKEEE!!”

Douzo ^,^
.

.

.

.


(Intro: Er... maap ganggu /taboked/ cuma mau ngasih tau kalo Sleep Well di chap 1 itu ada kesalahan yang cukup fatal yang bikin ga nyambung buat chap 2. Soalnya ini bener bener dirombak ulang. Yang berniat mengulangi baca silahkan dibaca ulang wkwk.. semoga chapter dua ini angst nya kerasa U.U)

....I proudly present...
Sleep Well
Chapter 2
.
.


Harusnya Chinen menelpon ibunya tadi. Bilang sedang tidak enak badan atau apa. Persetan dengan dikatai anak mama. karena Chinen membutuhkan ibunya sekarang. Dia ingin pulang kerumah. Kerumahnya. Bukan rumah JUMP yang kini terasa asing. Bukan asing sebenarnya... hanya terasa... semu? Chinen tidak bisa mengutarakan dengan pasti, yang jelas ia tidak suka berada di dalam van bersama rekan rekan nya untuk menuju asrama mereka sekarang. Ia ingin pulang!

Ne, Chinen? Kau baik baik saja? Tadi bicara apa dengan Ryutaro?” Yabu tiba-tiba bertanya sambil merangkul pundak kanan Chinen. Pemuda mungil itu segera memfokuskan pikirannya lalu tersenyum untuk memberi kesan  ‘aku baik baik saja’ pada sosok ayah di grup itu.

“Iya, Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya tadi privasi sekali.” Kali itu Yuya merangkul pundak kirinya. Chinen terkekeh, berlagak ceria. “Kalau seperti ini aku terlihat sebagai anak kalian.”

“Heh,” Yabu memekik geli.

“Oi Yabu! Nggak usah jijik begitu!” Yuya mendengus sekaligus menonjok bahu sang leader.

Datte, Aku sudah punya Kei!” Yabu menggamit lengan Inoo disebelahnya yang sedang berbincang dengan Keito. “Dan kau sendiri kan sudah punya Dai-chan!” lanjutnya tegas.

Raut wajah Chinen mengeras seketika. Yuyapun demikian namun Yabu tampak tidak sadar.

“Oi! Kalian berdua jangan membuat dunia sendiri!” seru anggota paling tua itu pada dua pemuda yang sedari tadi asik berbincang di jok jemputan paling pojok. “Yama-chan! Dai-chan!”

“Ahahahaha~ tuh kan benar, harusnya ketika adegan ini kau jangan bertampang sok cool seperti ini.”

“Enak saja! Hajime-chan memang seperti ini! Kau yang seharusnya jangan bertampang konyol seperti ini ahaha... mukamu abstrak!”

“Aku di puji kawaii sama semua kru dan kau bilang abstrak!? Kurang ajar~!”

Jodan.. jodan.. kau imut kok.”

“Yosha~ kau mengakuinya haha! Panggil sekali lagi!”

Chee.. idiot! Arioka Daiki imut. Senang?”

Chinen tak tahu sejak kapan ia menahan nafasnya, menutup matanya, bahkan menulikan telinganya. Kapan ya? Kenapa bisa? Salah. Pertanyaan seharusnya adalah 'kenapa ia bisa berada disana dan telihat seperti orang cacat?' 

Sialan!! 

“YAMA-CHAN!” Inoo tiba tiba berseru membuat Chinen menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan.

Pemuda yang diserukan lalu mendongak sambil melepas hetset dan memalingkan wajahnya dari tab yang dipegang Dai-chan.

“Ada apa?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa. Ketika melihat anggota lain menatapnya dengan alis menekuk, Yamada lantas mengernyit. “Kenapa?”

“Kita yang seharusnya tanya kenapa.” Yuto mendengus.

“Dai-chan!” kali itu Yabu membentak.

Nani? Nggak usah pakai urat ngomongnya. Aku dengar.” Dai-chan mematikan gedgetnya sambil mendengus.

“Kalau kau dengar seharusnya dipanggil sekali langsung respon.” Yabu berkata dingin. “Kenapa kalian seperti mengasingkan diri? Kita satu keluarga darou?! Jangan mengubu sendiri!”

Ma.. tenang Kota...” Inoo mengelus pundak Yabu. “Sudahlah... lebih baik kita bahas yang lain.”

“Err... minna, ada yang ingin ku katakan pada kalian..” Yuya angkat bicara setelah dari tadi mengeraskan rahang. “Sebenarnya aku dan—“

“TIDAK!” Dai-chan tiba tiba berseru kencang.

“YUYA!” Yamadapun demikian.

“Harus ku katakan!” Sahut Yuya cepat.

AKU TAK MAU DENGAR! TIDAK!!” Dai-chan justru mengerang sambil memejamkan matanya erat erat sementara kedua tangannya menekan sepasang kupingnya sama eratnya. 

Ochitsuke yo, Dai-chan..!” Yamada langsung memeluk pemuda manis itu, melepaskan tangan yang menakan kupingnya dan mendekap tangan Dai-chan dipinggangnya, Yamada  kemudian mengalihkan wajahnya pada pemuda Osaka disana, “Yuya! Kau tak seharusnya mengatakan hal ini disini kan! Dai-chan belum si—“

“Aku harus bilang!” Tandas Yuya setengah berteriak. “Aku sudah putus dengan Daiki.” Suaranya melirih. Pemuda tan itu kerap memejamkan matanya, merasa menyesal mengatakan demikian. Kemudian ia mendongakkan kepala, seolah mengasingkan wajahnya dari siapapun.

“APA ALASANMU BAKAKI?! Kau. Harus. Punya. Alasan.” Dai-chan balas berseru dan menekan setiap katanya. Member lain didalam van itu tak bisa berkata sepatah pun, bahkan supir jemputan merekapun demikian. 

Cukup tahu saja, dalam dunia Johnny’s, hubungan ‘seperti ini’ sudah lumrah. Ya. Hubungan ‘seperti ini’ adalah rahasia gelap Johnny’s Entertaiment. Tidak boleh bocor kesiapapun kecuali pihak yang bersangkutan. Yakni member Johnny’s, pekerja termasuk staf, kru, kameramen, stylish, menejer, maupun supir. Ada hukuman ‘mengerikan’ buat orang yang bermulut ember membocorkan rahasia gelap Johnny’s. Semua tak ada yang tahu hukuman itu kecuali para petinggi.

“Aku tidak bisa mengatakan alasannya tapi yang jelas aku harus putus denganmu...” Yuya  bersuara kembali,  mulai menggigit bibir bawahnya kuat kuat. 

Hening cukup lama. Sampai Dai-chan memekik.

“Lakukan sesukamu!!” ia lalu membalas pelukan Yamada, memeluk erat sementara Chinen menyaksikan semuanya dengan hati panas. Padahal ia sudah mencacatkan diri tapi tetap saja seluruh inderanya terasa terbakar. Ia melihat seutuhnya, sepenuhnya, seluruhnya. Tangan itu di leher seorang yang dia cintai. Dan orang yang dicintainya membalas pelukan itu sama eratnya, kerap mengelus dengan lembut punggung pemuda manis itu. 

Sekali lagi, Chinen melihatnya. Tanpa sadar ia terkekeh dalam bisu hingga kemudian mengucap satu kata,

Sayonara...


Itu benar. Akan ada akhir untuk awal..


Ienai....


Dan tak ada akhir yang bahagia.


Yume mitai na futari no jikan...


Karena jika berakhir berarti tidak bahagia.


Makka na tawaa ga...


Siapapun.. tolong bawa Chinen pergi tempatnya....


Ano kouen no benchi kara...


Kenapa harus Chinen yang terlihat paling sesak disana...?


Mieru nda...


‘Ryosuke...’


Issho ni ireru...


‘Ryosuke....’


Kakowareta sekai wa,


‘Kau dimana, Ryosuke?!!’


Sunoodoumu mitai ni kirei de...


‘Kau bilang kau akan selalu denganku!?’


Hanaku sugite yuku....


‘Ryosuke!!!”


Suki dayo...

.

.

.


“—Ryosuke!!!!”

Sosok itu kini terlihat, tersenyum menawan seperti biasa dengan tangan terbentang lebar siap mendekap tubuh mungil Chinen kapan saja.

“Bodoh! Bodoh! Ryosuke bodoh!! Aku mencarimu dari tadi... hiks!

Pemuda itu tertawa sambil memeluk Chinen yang mati matian menahan isaknya, membawanya kedada bidangnya lalu mengelus pucuk kepala legam si cendik penuh sayang. “Aku selalu disini, Yuri. Ssshh.. tak usah menangis. Kau bilang kau tidak cengeng, huh?”

“SIAPA YANG MENANGIS? Kalaupun aku menangis itu karena kau!” Chinen mengerucutkan bibirnya. Yama terkekeh dan langsung menyambar bibir mungil itu dengan bibirnya.

“Hghh!! Ryo—hghh—Ryosuke!”

Phuh!

Pagutan itu terlepas setelah Chinen berontak cukup kasar. Yamada menjilat bibir atasnya dengan usil. “Dakara, Jangan cemberut kalau tak ingin bibirmu lebam oleh bibir ini~” Pemuda itu menunjuk bibirnya sendiri. Wajah Chinen memerah, ia mendengus malu. “Jangan tiba tiba, aku masih sesak tahu!” Yamada hanya terkekeh sambil menjawil hidung bangir Chinen.

Ne, Yuri...”

“Hn?” Chinen menyamankan diri di dekapan Ryosuke-nya.

“Aku sudah bilang padamu kan?”

“Apa?”

“Aku akan selalu mencintaimu.”

“Oh... iya aku tahu.

“Dan aku tidak pernah memutuskanmu..”

“Shitteru,”

“Karena itu kau tak perlu merasa sesak tiap kali melihat ilusi buruk tentangku. Tentang aku yang memutuskanmu atau aku yang membuatmu menangis. Itu semua hanya ilusi.” Yamada mengecup pucuk kepala Chinen, menyesap aromanya banyak banyak. “Kau cukup melakukan apa yang ku suruh. Ingat?”

Wakatta. Pejamkan mata, lalu sebut namamu sebanyak banyaknya.” Chinen tersenyum manis. Yamada balas tersenyum menawan. Pelukan mereka kembali mengerat. “Jaa, sebut namaku lagi,

“Ryosuke. Yamada... Ryosuke....”

“Aku disini.”

Mereka kembali menyatukan kedua pulm itu dengan lembut dan lebih dalam.
.

.

.


“Chinen!”


Apalagi...


“Chinen!”


Apa aku harus kesana..? Kembali pada ilusi menyakitkan itu? Ryosuke, aku nggak mau!


“Chinen, bangun!!”


Nggak apa apa, Yuri. Kau bisa memanggilku kapan saja yang kau mau nanti. Aku akan selalu ada.


“Chinen bangun, sudah sampai!!”


Ja, nanti kita harus bertemu lagi.
.

.

.


“CHINEN YURI!!!”

Kelopak mata itu terbuka hingga terlihat iris hitam Chinen yang berkabut. Ia berkedip sekali. Dua kali. Hingga mata itu terbiasa dengan kenyataan.

“ASTAGA CHINEN... jantungku seperti melorot kau dibangunkan tak bangun bangun!” Yabu langsung terduduk lemas. Begitu juga member lain yang semula berdiri kini terduduk lemas didalam van.

“Kau sekarang kalau dibangunkan susah sekali! Aku tahu kau sangat suka tidur, tapi jangan membuat kami khawatir!” Keito berujar cemas. “Tadi kau pingsan atau tidur sih?”

Maa.. aku ngantuk banget. Lagi pula kalian tadi berdebat nggak jelas. Jadi lebih baik aku tidur. Kalian kan tahu aku gampang tidur di kendaraan! Hehe..” pemuda paling muda itu terkekeh, membuat wajah seceria mungkin.

“Dasar! Jangan bikin kami cemas! Ayo turun. Kita sudah sampai di rumah kita.” Komando Yuya diikuti seruan “Haik” oleh yang lainnya. Chinen turun dari van lebih dulu dan bergegas menuju kamarnya ketika memasuki rumah.

Chotto, Chinen! Aku juga mau masuk kamar!”

Pemuda imut itu meneguk ludahnya. Lupa bahwa kamar itu bukanlah kamar miliknya seorang. Satu kamar diisi oleh 2 anggota—kecuali Yabu, Inoo, dan Hikaru yang tidur bertiga dalam satu ruangan. Chinen menoleh dan terlihat Yamada menjinjing tas ranselnya dengan raut lelah.

“Ah.. douzo. Aku akan minta tukar kamar dengan Hikaru nanti. Maaf kalau kemarin kau tidak bisa tidur dikamar...” Chinen menggaruk belakang tengkuknya canggung. “Jaa, aku ke dapur dulu.”

Yamada hanya mengangguk sambil tersenyum. Mata kecoklatan miliknya tak lepas dari sosok mungil Chinen yang menuju ke dapur.

“Yama-chan.”

Pemuda Taurus itu menoleh, mengangkat alisnya sebelum tersenyum. “Ada apa, Dai-chan?”

“Bisa kita bicara berdua di luar nanti?”

Cukup lama untuk mendengar sebuah jawaban.

“...Eum, ii-yo.. nanti kita bicara diluar.”

.

“Hikaru, kita bertukar kamar ya?”

Pemuda gingsul yang baru saja menegak minumannya langsung mengangkat alis tinggi tinggi.

“Tidak sudi! Yama-chan kalau tidur lampunya harus nyala. Kadang juga suka mengigau! Lagipula, kalau aku tidur sekamar dengannya, nanti akan ada apa-apa antara Yabu dengan si Cantik~ nggak akan kubiarkan!”

Chinen meringis.

“Aku dengar, Hikka! Kalau ada apa apa memang kenapa?!” sahut Yabu diruang tengah. Hikaru mendengus. “Nggak akan kubiarkan! Aku belum mengiklaskan!”

Maa... yausudah kalau begi—“

“Sekamar denganku saja.” Celetuk Yuya tiba tiba sambil mengalungkan tangannya di kedua bahu Chinen. “Aku kangen denganmu, Chibi~ haha. Dulu perasaan tinggimu sepinggangku, Chii.. sekarang kenapa jadi tinggi begini?”

“Terimakasih. Itu kuanggap pujian.” Dengus Chinen.

“Kalau begitu Dai-chan tidur sama Yama-chan?” Keito yang kebetulan berada di dapur ikutan nimbrung.

“Biar saja. Lagipula aku sudah tak punya hubungan dengannya. Dia mau tidur sama siapa aku sudah tak peduli.”

Dai-chan baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar semua omongan Yuya. Matanya menatap dingin namun kerap terlihat sendu pada pemuda Osaka itu sebelum akhirnya melengos menuju ruang tengah dan menghampiri Yamada yang sedang berbincang dengan Inoo dan Yuto.

“Wow. Itu tadi sadis banget, bung.” Sindir Hikaru seraya menepuk bahu Yuya. Keito yang juga mendengar kalimat menusuk itu perlahan mengatupkan rahangnya pelan pelan.

Hanya Chinen yang tidak bereaksi sama sekali dan langsung melenggang menuju meja makan di ruang tengah.

“Ah! Chii makan~! Aku ikut makan deh. Tadi kalau tidak salah kita diberi bento oleh kru acara.” Ucap Yuto semangat, mengikuti member termuda itu duduk dimeja makan.

Chinen sendiri di meja makan dengan pikiran melalang buana. Ia menyumpit makanannya dengan senyum mengembang namun tiba tiba berubah menjadi sendu, lalu berbinar, kemudian sedih, lalu berbinar lagi. Yuto yang memperhatikannya tentu mengangkat alis. “Kau kenapa, Chii?”

“Ibu...”

“Eh?” pemuda paling jangkung itu mengernyit.

“Aku lupa kalau Ibuku menitip sesuatu padaku. Besok aku harus pulang kerumah.” Chinen menyunggingkan sebuah senyum. Yuto mengangguk paham, ia lalu membuka topik obrolan hingga membuat Yuya dan Inoo ikut bergabung dimeja makan.

Ikkou ze, Yama-chan!”

Semua member menoleh pada sumber suara. Terlihat Dai-chan sedang mengenakan pakain luar santainya dengan senyum lelah.

“Mau kemana, Dai-chan?” Inoo bertanya, bibirnya sedikit mengerucut.

“Aku ada urusan sebentar dengan Yama-chan. Ayo!”

Yabu mencegah didepan pintu, wajahnya gahar dan tangannya bersilang didepan dada. “Mau kemana kalian?”

Dai-chan berdecih. “Bukan urusan Yabu-kun. Aku mau pergi dengan Yama—“

“Tidak akan kuperbolehkan sampai kau menjelaskan maksudmu...” Yabu menunjuk Dai-chan, “dan kau,” lalu ganti menuding Yuya di meja makan, “memutuskan hubungan!”

Kali itu Yamada yang berdecak, menatap tanpa rasa takut sedikitpun kepada orang yang paling tua di grupnya. “Yabu-kun tak perlu ikut campur urusan kami. Kami benar benar butuh privasi. Permisi.” Lalu pemuda Taurus itu melabrak Yabu sambil menggeret lengan Daichan.

“Heh, apa-apaan itu?!” Yabu hanya bisa melotot tak percaya sementara Dai-chan dan Yamada sudah memasuki mobil dan keluar dari asrama mereka.

“Bodoh! Kau kurang tegas terhadap mereka! Mereka semakin dewasa semakin belagu. Apa kau tahu sikap Yamada terhadapmu itu seperti melecehkanmu? Mentang mentang sudah terkenal...” Hikaru berdecak kesal.

“Hoi, Hikka! Jangan bicara begitu!” Inoo-chan berseru.

“Itu benar, Inoo-chan! Yamada semakin hari semakin bertingkah! Apa kalian tidak melihat perubahannya? Cih, bahkan di foto atau di interview majalahpun selalu banyak gaya. Dan—“

“Hentikan...”

“Dan perangai buruk Yamada kini membawa pengaruh untuk Dai-chan! Dia jadi—“

“Hentikan...”

“Dia jadi semena mena. Nggak mau diatur. Padahal member 7 harusnya lebih segan dengan BEST! tapi dia bahkan tidak sopan dengan Dai-chan padahal Dai-chan lebih senior darinya, ia masuk agency lebih dulu! Apa-apaa—“

“AKU BILANG HENTIKAN! BERHENTI BICARA SEPERTI ITU TERHADAP RYOSUKE. KITA SEMUA BERUBAH. AKU, DIA, KITA. KITA SEMUA BERUBAH! JANGAN HANYA MENYUDUTKAN DIA!”

Bagai perintah mutlak. Hikaru langsung mengatupkan bibirnya rapat rapat. Begitu pula member yang lain. Mereka semua menatap member termuda dengan raut tak menyangka. Yabu lalu mendesah lelah.

Chinen yang baru saja berteriak langsung menunduk. Meremat tangannya kemudian. “Maaf... aku... aku nggak bermaksud membentakmu, Hikaru-kun. Hanya saja...”

“Nggak apa-apa, Chii...” Yuto disebelahnya langsung merangkul si mungil, menepuk-nepukan tangannya pada bahu member termuda itu. “Aku mengerti kau tidak suka kekasihmu di katai.”

“Sudahlah. Untuk sekarang aku tak peduli dengan Yamada. Kalaupun dia mau keluyuran juga tak masalah. Aku memperdulikan pacar—oh bukan, MANTANmu,” Yabu menekan kata mantan sembari menatap Yuya dengan sinis. Ia langsung mendekat pada pemuda Osaka itu. “Apa yang ada diotakmu sampai kau memutuskannya?”

Yuya membuang muka, “itu tidak ada hubunganya denganmu.”

“Tentu saja ada hubungannya! Hubungan sesama member! Dengan pekerjaanmu. Kau dan dia satu siaran radio kan!? Kalau hubunganmu berantakan seperti itu tidak alan berjalan dengan lancar!”

Yuya tiba tiba berdiri menatap sengit Yabu. “Sekali lagi dengar, ini nggak ada hubungannya dengan kalian. Kalian nggak berhak melarangku putus atau pisah dengan Arioka. Ini keputusanku. Kalian nggak perlu ikut campur.”

“Aku tahu! Tapi kau harus memberi alasan yang jelas kenapa putus dan jangan memutuskan secara sepihak! Itu memberi dampak buruk untuk Dai-chan, kau harusnya paham itu!”

“Aku nggak bisa mengatakannya! Yang jelas aku sudah putus dengannnya!” pemuda berkulit tan itu langsung meninggalkan ruangan, lengannya yang ditahan Yabu dihempas dengan mudah. Yuya memasuki kamarnya sembil menghentak tanpa memperdulikan tatapan kesal member lain.

“Aku tidur duluan juga. Aku nggak mau ambil pusing urusan ini. Jaa, minna oyasumi.” Chinen bangkit dari duduknya lalu melengos meningkalkan member lain di ruang tengah. Pemuda cilik itu lantas memasuki kamar dan menemukan Yuya sedang duduk diranjang dengan wajah menunduk yang disanggah dengan kedua tangannya.

.

“Disini saja.”

Yamada memelankan laju mobil yang ia kendarai, ia mengangguk dan mulai memberhentikan mobilnya di bahu jalan pada daerah sepi pinggiran kota Tokyo. “Oke.. jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?”

Arioka Daiki tersenyum, pandanganya yang semula menatap jalan kini beralih pada pemuda tampan di sebelahnya. “Apa kau sangat mencintai Chinen?”

“Kenapa bertanya begitu?”

Dai-chan menatap kedua mata Yamada sebelum akhirnya terawa parau. “Sangat ternyata. Aku bisa apa.... ahaha,” 

“Hei, apa yang ingin kau bicarakan? Bicara saja. Kita sudah mencari tempan privasi agar yang lain tidak tahu.” Yamada mengernyit.

“Apa kau sudah putus dengan Chinen?” Dai-chan kembali menghadap kaca depan mobil, menyandarkan tubuhnya yang lelah.

“Kalau iya kenapa?”

“Aku yakin kau tidak ingin putus dengannya. Tapi kenapa?”

Yamada mendesah panjang sebelum akhirnya ia menjawab. “Demi Takaki Yuya, demi Hey!Say!JUMP dan demi Johnny’s”

“Che, sampai segitunya.”

“Ya. Sampai segitunya. Aku tidak seegois itu untuk memilih Chinen ketimbang grup kita. Aku percaya Chinen kuat untuk bertahan tanpa aku sampai kasus Yuya benar benar selesai.”

“Kasus apa!? Apa alasannya?!” bungsu BEST Itu semakin jengah dengan hal yang membuat dirinya dan Yuya selesai, perasaannya kini campur aduk. “Dari kemarin dia selalu mempermasalahkan 'kasus', 'alasannya nggak boleh dikasih tahu', 'itu rahasia' dan segala macam tetek bengeknya. Kenapa?! Apa masalahnya!?

Yamada mengesah lelah mendengar tuntutan sahabatnya. “Aku sama sepertinya. Alasan Yuya memutuskanmu itu tidak bisa kuberi tahu. Kau harus punya pemikiran sendiri untuk itu, Dai-chan. Mengertilah. Ini demi Hey!Say!JUMP. Kita ini idola, ingat? Kita harus menjaga perasaan fans kita. Kita hidup dengan uang mereka. Mereka yang membiayai kita. Hey!Say!JUMP harus utuh. Ah, maksudku jangan sampai ada yang keluar lagi. Dan untuk itu... mulai saat ini kita harus bermain peran lebih banyak dari biasanya.” Yamada menjelaskan dengan sabar sambil menatap Dai-chan lekat-lekat. “Tunggu sampai semua selesai. Lalu kita akan kembali seperti semula. Kau dan Yuya. Aku dan Chinen.”

“Bermain peran ya...”

“Ya.” Yamada mengangguk.

“Kalau begitu apa aku boleh menjadi tokoh dalam drama kalian? Sebagai pacarmu?”

“APA?!”

Daichan mendengus.

“Tunggu dulu... itu—“

“Kalau demi kebaikan Hey!Say!JUMP kau bisa bermain peran yang memuakan seperti ini, kenapa aku tidak boleh ikut bermain peran sebagai pacarmu? Itu hanya peran, bukan? Setelah semua selesai, kita kembali seperti semula. Aku dengan Takaki. Kau dengan Chinen.”

Yamada diam cukup lama....

“Bagaimana?”

...lalu mendesah pasrah. “Baiklah. Tapi ini hanya ‘peran’.”

Dai-chan langsung tersenyum puas. “Chinen, aku rasa aku iri padamu.”

“Tidak. Yuya lebih baik untukmu. Percayalah...” Yamada tersenyum getir. “Kita mulai bermain peran besok setelah aku membicarakan hal ini dengan Chinen.”

“Che? Kenapa besok? Sekarang saja. Bilang saja padanya sekarang.” Dai-chan mendengus.

“Tidak bisa. Aku harus mengatakan langsung padanya agar dia mengerti kalau ini hanya 'peran'.” Tandas Yamada dengan raut serius. Dai-chan lagi lagi mendengus. “Kalau begitu aku benar benar iri dengan Chinen.”

Yamada kembali mengesah. Ia hanya berharap semua ini cepat selesai. Drama ini cepat selesai. Peran ini cepat selesai. Lalu ia mendapat hasil yang baik di akhir. Penonton bahagi—ah bukan, pembaca bahagia. 

Semoga saja... doanya dalam hati.

.

“Yuya,” Chinen memanggil pemuda tan disana ketika memasuki kamar, ia lalu duduk ranjang bagian lain. “Aku hanya ingin tanya...”

“Tanya saja,” Yuya yang semula tersentak kini tersenyum, menatap Chinen. “Kenapa?”

“Aku tak tahu masalah yang membuatmu dan Dai-chan putus. Tapi aku tahu kalau kau yang menyuruh Ryosuke putus denganku.”

Air muka Yuya seketika berubah. Chinen balas tersenyum. “Tuh kan benar.”

“Itu... aku tidak menyangka kalau Yama—“

“Aku juga tidak menyangka hal itu keluar dari mulutnya.” Chinen terkekeh, “tapi aku tahu ia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Bahkan saat bicara seperti itu padaku raut wajahnya terbaca jelas kalau ia masih menginginkanku haha..”

Yuya mau tak mau tertawa mendengar kalimat narsis Chinen. Lalu tawanya memudar diganti senyum sendu, “Apa kau menjadi sakit hati? Aku minta maaf...”

“Eumm..” Chinen menggeleng, mulai merebahkan tubuhnya diranjang. “Aku tidak sakit hati... Untuk sekarang. Karena aku tahu Ryosuke masih mencintaiku. Hanya saja aku tidak menyangka kau yang menyuruhnya putus denganku. Kau tahu kan, Ryosuke sangat mencintaiku. Dia tidak akan mudah meninggalkanku lalu mendengarkan perkataan orang lain, sekalipun itu keluargnya. Tapi kalau ia dengan berat hati melakukan keinginanmu.. itu berarti masalahmu serius.”

Yuya mendesah lelah, ikut terbaring di ranjang. “Serius. Sangat serius. Bahkan menyangkut karirku sendiri.”

“Kalau sudah berbicara tentang karir berarti tentang Hey!Say!JUMP dan tentang Johnny’s.”

“Kau jenius.”

“Terimakasih.” Chinen mendengus. “Cepat selesaikan karena aku menunggu Ryosuke bicara padaku ‘Yuri maafkan aku ayo kita ulangi lagi hubungan kita’”

Yuya tertawa pelan.

“Dan oh, aku juga menunggu kemesraan idiotmu dengan Dai-chan di radio dan di depan kita semua.”

Tawa pemuda Osaka itu hilang, terganti senyum keteguhan. “Percayalah... semua akan baik-baik saja. Aku sedang berusaha menyelesaikan ini. Kita semua idola, ingat?”

“Tentu saja aku idola!”

“Nah... kutunggu ektingmu. Ekting terhebatmu dengan Yamada nanti. Juga ektingku di kehidupan normal maupun sebagai idola.”

“...Kita lihat saja,” Chinen menghela napas dan  mulai memejamkan matanya.
.

.

.


“Ryosuke, kau mencintaiku kan?”

“Tentu saja,” pemuda bak pangeran itu mulai mengecup pipi kenyal Chinen. “Apa yang kau inginkan, Chinen Yuri?”

“Tidak ada yang kuinginkan.” Si imut itu tersenyum, menyamankan tubuhnya dalam dekapan pangerannya. “Ah mungkin ada.”

Yamada Ryosukenama pangeran yang sedang mendekap Chinen sekarang—memberi tawa renyahnya untuk si Chibi. “Katakan saja~”

“Aku hanya ingin kau akan selalu ada ketika aku membutuhkanmu.”

“Kau tahu caranya.”

“Yamada... Ryosuke...”

“Aku disini.”
.

.

.

.

.

To be a continue....

A/N : Eciyeh apdet. Apa ini sudah angst? Oh oke.. sepertinya belum. Kok susah sih bikin angst... T^T /gegulingan/ padahal dikehidupan fandom saya, saya lagi ngerasa angst nih huhuu... yaudahlah... doakan saya dapet yang angst angst biar chap 3 langsung di apdet terus bikin kalian nge angst muahaha *hug*

4 komentar:

Dea Rahma Dewi mengatakan...

aduh kereeenn >< aku suka part yg ada gin no sekainya, dapet banget <3 sambil dengerin lagunya lg hoho, dilanjutin ya ras ><

YUKIKO'S WORLD mengatakan...

Ini ga ada lanjutannya?

YUKIKO'S WORLD mengatakan...

Ini ga ada lanjutannya?

Kiwokchwan mengatakan...

Wth dea komen ahahah kok gue ga sadar ya de? ahaha XD

Dan untuk Yukiko's world, ff ini sebenarnya.. sebenarnya masih ada lanjutannya. hanya tidak mendapatkan mood untuk mengetik. Akhir-akhir ini Daichan jadi anak baik :'))) aku buat ini karena waktu itu sedang kesal dengan Daichan ^^;a tapi kalau mood ku balik pasti ku post lanjutannya dan ku kabarin ke kamu ^^

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review