Pair: YamaChii for pleasure seekers
Author: Me!
Genre: CANON, Fluff, romance, NC17
Summary: Yamada sudah meminta hadiahnya dari jauh jauh hari, tapi Chinen
tetap saja telat!
Sil(AHHHH~)kan dibaca!
.
.
.
.
Hari ini hari Senin. Chinen
mengecek Iphone 6-nya untuk yang kesekian kali saat sedang istirahat di bench lokasi syuting. Layar ponsel pintar bercasing
TANTA itu menayangkan besar-besar memo yang discreenshoot dan dijadikan lockscreen bertuliskan ‘Dompet
Sebentar Lagi Tambah Tua’ serta tanggal 8 Mei 2017 yang terpampang jelas.
Pemuda mungil itu sekali lagi mengesah kesal.
“Chinen-kun! Take~!”
“Iya!”
Sang pemilik nama segera berlari
ke spot yang diminta saat sutradara berseru. Pertengahan musim semi ini, Chinen Yuri disibukan dengan syuting
Live Action Sakamichi no Apollon. Tadi pagi sebelum berangkat ke lokasi
syuting, Chinen sudah live call
dengan member utama Hey!Say!JUMP sekaligus kekasih modisnya.
“Kerjaanmu selesai sampai kapan?”
“Secepatnya, Ryosuke…”
“Jangan lupa kadoku.”
“Iya iya…”
“Awas sampai dilanggar….”
“Iya! Sudah sana pakai baju! Kau masih saja tidur telanjang! Dan ini
sudah siang, sana mandi!”
“Aku santai hari ini, hanya pemotretan biasa. Kau jangan lupa sarapan.”
“Iya. Jaa!”
.
Chinen menyalami rekan-rekan di
lokasi syuting, termasuk Nakagawa Taishi dan Komatsu Nana yang menjadi lawan
main pentingnya di Live Action setelah sutradara mengisyaratkan syuting selesai.
“Nenchi kenapa masih imut sih?”
gurau Taishi sebelum meneguk minumnya. Chinen lantas tertawa.
“Kau dan Bachi sama saja. Apa aku
jadi pendek saja biar awet muda.” Lanjut bocah tinggi itu. Nana menimpali,
“Bachi-kun cukup tinggi kok. Dia sejengkal lebih tinggi dibanding aku, tapi dia
memang saaaaangat imut.”
“Ah, Nana-chan baru main
dengannya di Live Action juga kan?” kali ini Chinen bertanya.
“Iya. Kalian sama-sama imut. Aku
tidak habis pikir.”
Lagi-lagi Chinen tertawa. Pemuda
mungil itu menunggu menejernya menjemput, cukup lama rupanya sehingga ia punya
waktu bercengkrama dengan dua rekannya itu.
“Dari tadi Nenchi terlihat gusar.
Ada apa?” tanya Taishi yang menyadari seniornya sedari tadi tak henti mengecek
HP.
“Ryosuke ulang tahun dan dari
pagi dia bawel minta kado.” Jawab Chinen. Ia kembali melirik Iphone-nya dan membuat kegusarannya bertambah. Sudah jam 11 malam, tinggal satu jam lagi untuk berganti hari, tapi
jemputan belum juga datang. Tidak mungkin ia ke apartemen Yamada sendiri
malam-malam begini!
“Oh! Yamada Ryosuke? Wah, ucapkan
selamat ulangtahun juga ya dariku!”
“Aku juga!”
Chinen hanya mengangguk simpel
sebagai respon dua juniornya. Lantas tiba-tiba HP-nya berdering.
“Iya Ryosuke, sebentar lagi aku
kesana!” kata Chinen spontan, ia tak sempat mengecek caller id orang yang
menelpon karena menurutnya pasti itu sang kekasih.
“Ini aku, Keito. Kau dimana, Chii? Apa aku perlu menjemputmu?”
Glek.
“Ah… Keito? Kenapa memangnya?”
“Kok kenapa? Kita ke tempat Yamada sekarang. Seperti tahun kemarin!
Hehe... kau sudah bawa kado untuknya kan? Ayo cepaaaat~ sebentar lagi jam 12!”
Chinen meringis. Ia ingat
kata-kata Yamada tadi pagi saat video call, “awas jangan sampai dilanggar! Datang ke tempatku sendiri! Beri aku
hadiah itu sendiri! Tidak patungan lagi! Dan jangan ajak siapapun kecuali
manejer untuk mengantarmu ketempatku!”
Member termuda di HSJ itu
menggigit bibir bawahnya, pertanda ragu. “Er… sepertinya aku masih lama. Syuting kali ini
dibablas hingga semua adegan selesai take.
Keito duluan saja ke tempat Ryosukenya ya, tak usah menungguku!”
Di seberang sana, Keito mengernyit. “Kau kenapa sih? Ayolah cepat! Tak mungkin
semua take diselesaikan sekarang. Sekarang nyaris tengah malam! Oh omong-omong,
aku sudah di parkiran apartemen Yama-chan!’
Chinen semakin menggigit
bibirnya, matanya mengernyip bingung. Namun sejurus kemudian ia pasrah. “Ck baiklah, sebentar
lagi aku datang.”
Sambungan pun diputus. Chinen
langsung mendapat pandangan bertanya dari juniornya.
“Kan syutingnya sudah selesai?
Kena—“
“Ah! Menejerku sudah datang! Aku
duluan ya, Taishi-kun! Nana-chan!” pangkas Chinen. Ia berdiri meninggalkan bench-nya dan kembali menyalami
sutradara serta kru yang masih tersisa sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil
jemputan. Taishi yang ucapannya baru saja dipotong hanya cemberut ditempat.
.
“Ken-san lama sekali, sih!” rutuk
Chinen sambil memasang sabuk pengaman.
Menejer Hey!Say!JUMP itu
mendengus, “dikira yang sibuk hanya kau? Manejer kalian hanya aku sedangkan
kalian banyak kegiatan individu! Tadi aku harus mengantar Dai-chan dulu dari
lokasi syutingnya yang jauh itu! Belum Inoo-chan! Belum lagi Hikaru dan Takaki!
Ah sudahlah, akan ku antar kau ke tempat Yamada-kun sekarang. Dari tadi bocah sok
modis itu juga bawel menanyaimu!”
Chinen meliukkan bola matanya. Ia
lagi-lagi meraih si ponsel dan menelpon seseorang.
“Kau dimana, Yuriiii??”
“Iya iya…! ini aku dijalan!”
“Cepatlahhh ughhh..!”
“Ck, kebiasaan! Tunggu aku!”
“Kau nya cepat!”
“Aku sedang bilang pada Ken-san
untuk mengemudi dengan lebih cepat!”
Ken mendengus seraya menginjak
gas lebih dalam.
“Omong-omong Ryosuke… Keito sudah
ada diparkiran apartemenmu.”
“APA?!”
“Dia bilang, dia menungguku untuk
mengetuk apartemenmu dan memberi surprise bersama.”
“Astaga, apa sih maksudnya!”
“Aku sudah bilang untuk duluan
saja bertemu denganmu tapi dia ngotot menunguku untuk memberimu surprise.
Bagaimana dong?”
“Aku juga sudah bilang, kalau mau memberiku hadiah besok pagi saja tapi
dia justru membalas chatku dengan emot-emot menjijikan!”
“Ck, Ryosuke nggak boleh begitu!”
“Yasudah, akan kupikirkan cara lain. Kau cepatlah datang.”
“Ken-san, kata Ryosuke cepetan.”
Dan gas mobil kembali ditekan
lebih dalam.
.
Benar saja, sesampainya di gedung
apartemen Yamada, gitaris HSJ sudah ada disana. Ia segera memeluk Chinen ketika
si mungil turun dari mobil.
“Kau lama sekali sih! Sudah jam
00.17! Kita telat 17 menit!” ocehnya yang hanya ditanggapi ringisan Chinen.
“Kenapa nggak langsung kasih ke
Ryosuke saat jam 00.00 sih? Kau kan sudah ada di sini sejak tadi.” Ujar Chinen
sambil mencoba melepas rangkulan Keito saat mereka berdua menaiki lift untuk
menuju lantai kamar apartemen Yamada.
“Kalau hanya aku, hadiahnya tak
akan diterima. Harus ada kau! Ahahaha…”
Chinen memutar bola matanya.
“Omong-omong, kadomu apa?”
“Eh? Itu rahasia~!” Chinen
tertawa canggung. Ryosuke hanya minta aku
datang sebagai kadonya, untuk apa beli-beli kado. Dia bisa beli apapun yang dia
inginkan dengan dompetnya yang setebal diktat kedokteran itu.
“Nah! Ini dia. Unit 1601” Keito
berseru heboh. “Chinen, kau yang pencet bel-nya ya! Aku ambil hadiahku dulu di tas.”
Pemuda mungil itu tak butuh
ancang-ancang untuk segera memencet tombol di depan kamar apartemen Yamada. Di
dalam sana, center HSJ itu segera
berlari dan melihat layar intercome. Ia
mendengus saat melihat Chinen datang tidak sendiri. Yamada mengambil napas lalu
segera membuka pintu kamarnya.
“SURPRISE~! Selamat ulang tahun Yama-chaaaan!!!” Teriak Keito
semangat. Chinen disebelahnya pun ikut berseru semangat, atau pura-pura
semangat. Yamada yang selalu hebat dalam hal ekting segera berekting terharu.
Kemudian matanya menatap Chinen dan langsung memeluk si mungil erat-erat.
“CHINEEEEEEEEEEN~” teriaknya
dengan lebai. Chinen mendengus dalam hati. “Dasar lama! kau harus memuaskanku
habis ini, Yuri!” desis Yamada pelan saat memeluk Chinen. Sementara yang
dipeluk hanya menganggguk simpel sambil membalas pelukan Yamada.
Keito yang melihat dua rekan
terdekatnya berpelukan hanya tersenyum tulus. Ia tidak sakit hati, tidak. Karena Yamada dan Chinen memanglah sejoli yang manis untuk
dipandang.
“Oh, hai Keito,” Yamada baru
melepaskan pelukannya pada Chinen dan menatap Keito. Wajah pura-pura terharunya
masih terpasang.
“Selamat ulang tahun, Yama-chan.
Ini kado dariku. Semua yang terbaik untukmu ya, sob!”
Yamada tersenyum lebar kemudian
menerima hadiah yang disodorkan Keito lalu merangkul Keito erat—atau
kasar—Keito tidak tahu. “Terimakasih banyaaaak!!!”
Keito tertawa hangat, setelahnya
Yamada segera melepas rangkulan.
“Hadiahmu sudah kuterima. Bisa
kau pergi sekarang?”
Chinen nyaris tersedak jakunnya
saat sang kekasih berkata barusan. Oh yaampun itu terlalu jahat!
Keito mematung ditempat. “Kau bilang apa? Pergi? Kenapa aku harus?”
Raut Yamada yang tadi serius mengatakan
itu berubah menjadi konyol. “Bercanda kok bercanda~ Aku dan kau kan sudah
sering bertemu. Saaaaangat sering <3 Iya kan?”
Keito berkedip cepat. Chinen pun
demikian.
“Jadi, untuk menambah intensites
keseringan bertemu, bagaimana kalau kita pesta besok pagi saja? Jangan
sekarang. Malam hanya sebentar. Ya, Keito?” Ini
sudah sangat halus, Yuri! Tenang saja, kalau Keito menangis aku akan tanggung
jawab. Batin Yamada berujar seolah mengerti tatapan was-was kekasihnya.
“Yah…” terlihat raut kecewa dari
Keito.
“Oh, ayolah Keito! Besok
masih ada waktu untuk berpesta denganku. Sekarang, izinkan aku berdua dengan
kekasihku dulu. Oke?” Akhirnya Yamada mengatakan maksudnya mengusir Keito.
Gitaris itu berdecak lalu mengangguk singkat. “Baiklah. Tapi besok pesta
denganku.”
“Iya iya!” Yamada mengangguk
gemas. Pemuda modis itu segera menarik Chinen ke dalam pelukannya namun
menodorong Keito untuk balik badan dan meninggalkan apartemennya. “Aku janji!
Dah, Keito! Mimpi indah okey~”
BLAM.
Pintu apartemen akhirnya tertutup.
Chinen menggeleng prihatin sambil
masuk lebih dalam ke apartemen kekasihnya. “Kau jahat sekali,”
“Dia harusnya mengerti. Nah
sekarang… Oh ayolah Yuriiiii kau tega aku bermain sendirian dari tadi!”
Chinen mengangguk simpel. “Mau
dimana?”
“Sofa?”
"Sempit. Di kamar saja lah!”
“Yasudahlah dimana saja. Ayo
cepat!”
.
“Ughhh… sabar, Ryosukeee~” Chinen
melenguh saat baru saja rebahan di kasur kekasihnya sudah menyerangnya.
“Aku tak sabar membuka kadoku.”
“Aghhnnn… jangan leherku~ aku
masih harus syuting…”
Yamada mengerti, mulutnya turun
dari leher menuju dada Chinen yang nyaris terbuka seutuhnya. Tangan Yamada
bergegas merobek pakaian Chinen.
“Ryosuke! Aku tak suka bermain
kasar!”
“Siapa yang ulang tahun disini?”
“Ughh..”
“Aku tak akan menyakitimu, tapi
bajumu.”
“Ini baju dari produser!”
“Aku bisa belikan yang lebih
bagus dari ini. Kau diamlah, biarkan kau menikmati hadiahku.”
Chinen mau tak mau bungkam.
Tubuhnya pasrah dijamah kekasihnya. Sudah cukup lama mereka tak bercinta,
bohong kalau Chinen tak merindukan sensasi disentuh.
“Ahhh…”
“nipple-mu jadi lebih sensitif Yuri..” Yamada menyedot bagian yang
kiri kuat-kuat, sementara tangan kirinya memainkan bagian yang kanan dan tangan
kanannya memainkan si buah zakar.
“Ahhnnn… Ryosuke!!!!”
“Sabar~”
Yamada mulai main ketahap serius,
ia melepaskan pakaiannya bawah Chinen begitu juga miliknya.
“Ah~ Ah~ ngghhh~~~”
“Suka hmm?”
Siapa yang tidak suka makan
pisang? Dan pisang-pun suka saat dimakan karena memang itu fungsinya, bukan?
Seperti fungsi pisang ratu milik Chinen ini.
“Jangan dimainkan.. ah! Ahhhhh!!”
Chinen menggelinjang. Desahannya makin meliar seiring tangan Yamada yang sangat
cekatan.
“Ah, aku lupa memberi tahu, aku
tak ada pelumas. Permainan kering bagaimana?”
Chinen lantas menendang paha Yamada.
“Tak sudi!”
“Ahahaha.. baiklah, kau harus
keluar lebih dulu sebagai pelumas. Biar kubantu.”
Kalau begini siapa yang ulang
tahun sih? Kenapa Yamada yang harus memuaskan Chinen? Harusnya kan Chinen yang
memuaskannya!
“Ah.. AGHHHNN—AH ! AH!!
SAKIIIIIIIIIIIIT RYOSUKE BRENGSEKHHH!” Chinen mengerang keras. Rektumnya
berdarah saat tiba-tiba beda lunak namun besar milik Yamada masuk tanpa permisi.
“Hiks… Ryosuke sakitttt…”
“Setelahnya akan enak, Yuri. Ah~”
“Kau jahathhh…”
“Kan seharusnya kau yang
memuaskanku~”
“Hiks..”
“Shhh…” Yamada mencium Chinen
segera. Melumat bibirnya dengan ganas. Setelah tubuh sang kekasih rileks oleh
ciuman, Yamada mulai bergerak.
“Ahh.. sakiiit pelan-pelaaaan”
“Iya iya… punyaku harus keluar
segera supaya di dalam sana tidak terlalu kering, makanya harus bergerak. Atau
kau bantu aku keluar dengan hisapanmu di dadaku?”
Chinen mengangguk saja. Yamada
lantas mendesah indah.
“Ahhh!! Ahh.. Yuriii~~” Tangan
Yamada tak sudi menganggur, ia memainkan milik Chinen beserta dua gundunya yang
imut itu. Chinen pula mendesah.
“Ahhh lebih keras, Ryosuke!!!”
“AHHHHNNN Ayo keluar bersamaaa!!”
“AGHHHHNNN~~~!”
Tiga ronde selesai dalam dua jam.
Mereka berdua berpelukan dengan milik Yamada masih tertanam di dalam Chinen,
tak ada niatan dari mereka untuk memisahkan diri.
“Selamat ulang tahun,
Dompetku. Sehat selalu dan semua yang terbaik untukmu, Aku benci kamu.”
“Aku juga benci kamu.”
Chinen mengecup manja bibir
kekasihnya lalu menjulurkan lidah, usil. “Selamat hari kebalikan~ hehe!”
“Huh, aku memang membencimu kok.”
“Oh yasudah, aku akan pergi
kencan dengan Taishi besok setelah selesai syuting dan kau dengan Keito-mu yang
cengeng itu.”
Ck. Yamada salah ngomong. “Ih bercanda sayang… aku hanya
mencintaimu.” Yamada kembali melandaskan ciuman mesra di bibir Chinen. Itu
ciuman terakhir sebelum akhirnya mereka terlelap bersama dalam kondisi pedang Yamada masih tertanam dengan nyaman di dalam kekasihnya.
THE END
Selamat puasa! Dan… ah sudahlah, maafkan hamba. Habis baru dapet
internet jam segini buat ngepost hiksuuu :”((( Pokoknya selamat ulang tahun
Yamada Ryosuke, suami paling cetarnya Chinen #telatbego dan selamat menjalankan
ibadah puasa AHAHAHAHA MAAPIN NC NYA SAMPIS~ :”) dan kerasa nggak realnya? Semoga kerasa ya! Ini too much real sih ohoho~


0 komentar:
Posting Komentar