Jumat, 26 Mei 2017

Happy Lustday

Diposting oleh Kiwokchwan di 11.55
Judul: Happy Lustday 24th Chinen Yuri’s spouse!

Pair: YamaChii for pleasure seekers

Author: Me!

Genre: CANON, Fluff, romance, NC17

Summary: Yamada sudah meminta hadiahnya dari jauh jauh hari, tapi Chinen tetap saja telat!

Sil(AHHHH~)kan dibaca!
.
.
.
.


Hari ini hari Senin. Chinen mengecek Iphone 6-nya untuk yang kesekian kali  saat sedang istirahat di bench lokasi syuting. Layar ponsel pintar bercasing TANTA itu menayangkan besar-besar memo yang discreenshoot dan dijadikan lockscreen bertuliskan ‘Dompet Sebentar Lagi Tambah Tua’ serta tanggal 8 Mei 2017 yang terpampang jelas. Pemuda mungil itu sekali lagi mengesah kesal.

“Chinen-kun! Take~!

“Iya!”

Sang pemilik nama segera berlari ke spot yang diminta saat sutradara berseru. Pertengahan  musim semi ini, Chinen Yuri disibukan dengan syuting Live Action Sakamichi no Apollon. Tadi pagi sebelum berangkat ke lokasi syuting, Chinen sudah live call dengan member utama Hey!Say!JUMP sekaligus kekasih modisnya.

“Kerjaanmu selesai sampai kapan?”

“Secepatnya, Ryosuke…”

“Jangan lupa kadoku.”

“Iya iya…”

“Awas sampai dilanggar….”

“Iya! Sudah sana pakai baju! Kau masih saja tidur telanjang! Dan ini sudah siang, sana mandi!”

“Aku santai hari ini, hanya pemotretan biasa. Kau jangan lupa sarapan.”

“Iya. Jaa!

.

Chinen menyalami rekan-rekan di lokasi syuting, termasuk Nakagawa Taishi dan Komatsu Nana yang menjadi lawan main pentingnya di Live Action setelah sutradara mengisyaratkan syuting selesai.

“Nenchi kenapa masih imut sih?” gurau Taishi sebelum meneguk minumnya. Chinen lantas tertawa.

“Kau dan Bachi sama saja. Apa aku jadi pendek saja biar awet muda.” Lanjut bocah tinggi itu. Nana menimpali, “Bachi-kun cukup tinggi kok. Dia sejengkal lebih tinggi dibanding aku, tapi dia memang saaaaangat imut.”

“Ah, Nana-chan baru main dengannya di Live Action juga kan?” kali ini Chinen bertanya.

“Iya. Kalian sama-sama imut. Aku tidak habis pikir.”

Lagi-lagi Chinen tertawa. Pemuda mungil itu menunggu menejernya menjemput, cukup lama rupanya sehingga ia punya waktu bercengkrama dengan dua rekannya itu.

“Dari tadi Nenchi terlihat gusar. Ada apa?” tanya Taishi yang menyadari seniornya sedari tadi tak henti mengecek HP.

“Ryosuke ulang tahun dan dari pagi dia bawel minta kado.” Jawab Chinen. Ia kembali melirik Iphone-nya dan membuat kegusarannya bertambah. Sudah jam 11 malam, tinggal satu jam lagi untuk berganti hari, tapi jemputan belum juga datang. Tidak mungkin ia ke apartemen Yamada sendiri malam-malam begini!

“Oh! Yamada Ryosuke? Wah, ucapkan selamat ulangtahun juga ya dariku!”

“Aku juga!” 

Chinen hanya mengangguk simpel sebagai respon dua juniornya. Lantas tiba-tiba HP-nya berdering.

“Iya Ryosuke, sebentar lagi aku kesana!” kata Chinen spontan, ia tak sempat mengecek caller id orang yang menelpon karena menurutnya pasti itu sang kekasih.

“Ini aku, Keito. Kau dimana, Chii? Apa aku perlu menjemputmu?”

Glek.

“Ah… Keito? Kenapa memangnya?”

“Kok kenapa? Kita ke tempat Yamada sekarang. Seperti tahun kemarin! Hehe... kau sudah bawa kado untuknya kan? Ayo cepaaaat~ sebentar lagi jam 12!”

Chinen meringis. Ia ingat kata-kata Yamada tadi pagi saat video call, “awas jangan sampai dilanggar! Datang ke tempatku sendiri! Beri aku hadiah itu sendiri! Tidak patungan lagi! Dan jangan ajak siapapun kecuali manejer untuk mengantarmu ketempatku!”

Member termuda di HSJ itu menggigit bibir bawahnya, pertanda ragu. “Er… sepertinya aku masih lama. Syuting kali ini dibablas hingga semua adegan selesai take. Keito duluan saja ke tempat Ryosukenya ya, tak usah menungguku!”

Di seberang sana, Keito mengernyit. “Kau kenapa sih? Ayolah cepat! Tak mungkin semua take diselesaikan sekarang. Sekarang nyaris tengah malam! Oh omong-omong, aku sudah di parkiran apartemen Yama-chan!’

Chinen semakin menggigit bibirnya, matanya mengernyip bingung. Namun sejurus kemudian ia pasrah. “Ck baiklah, sebentar lagi aku datang.”

Sambungan pun diputus. Chinen langsung mendapat pandangan bertanya dari juniornya.

“Kan syutingnya sudah selesai? Kena—“

“Ah! Menejerku sudah datang! Aku duluan ya, Taishi-kun! Nana-chan!” pangkas Chinen. Ia berdiri meninggalkan bench-nya dan kembali menyalami sutradara serta kru yang masih tersisa sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan. Taishi yang ucapannya baru saja dipotong hanya cemberut ditempat.

.

“Ken-san lama sekali, sih!” rutuk Chinen sambil memasang sabuk pengaman.

Menejer Hey!Say!JUMP itu mendengus, “dikira yang sibuk hanya kau? Manejer kalian hanya aku sedangkan kalian banyak kegiatan individu! Tadi aku harus mengantar Dai-chan dulu dari lokasi syutingnya yang jauh itu! Belum Inoo-chan! Belum lagi Hikaru dan Takaki! Ah sudahlah, akan  ku antar kau ke tempat Yamada-kun sekarang. Dari tadi bocah sok modis itu juga bawel menanyaimu!”

Chinen meliukkan bola matanya. Ia lagi-lagi meraih si ponsel dan menelpon seseorang.

“Kau dimana, Yuriiii??”

“Iya iya…! ini aku dijalan!”

“Cepatlahhh ughhh..!”

“Ck, kebiasaan! Tunggu aku!”

“Kau nya cepat!”

“Aku sedang bilang pada Ken-san untuk mengemudi dengan lebih cepat!”

Ken mendengus seraya menginjak gas lebih dalam.

“Omong-omong Ryosuke… Keito sudah ada diparkiran apartemenmu.”

“APA?!”

“Dia bilang, dia menungguku untuk mengetuk apartemenmu dan memberi surprise bersama.”

“Astaga, apa sih maksudnya!”

“Aku sudah bilang untuk duluan saja bertemu denganmu tapi dia ngotot menunguku untuk memberimu surprise. Bagaimana dong?”

“Aku juga sudah bilang, kalau mau memberiku hadiah besok pagi saja tapi dia justru membalas chatku dengan emot-emot menjijikan!”

“Ck, Ryosuke nggak boleh begitu!”

“Yasudah, akan kupikirkan cara lain. Kau cepatlah datang.”

“Ken-san, kata Ryosuke cepetan.”

Dan gas mobil kembali ditekan lebih dalam.

.

Benar saja, sesampainya di gedung apartemen Yamada, gitaris HSJ sudah ada disana. Ia segera memeluk Chinen ketika si mungil turun dari mobil.

“Kau lama sekali sih! Sudah jam 00.17! Kita telat 17 menit!” ocehnya yang hanya ditanggapi ringisan Chinen.

“Kenapa nggak langsung kasih ke Ryosuke saat jam 00.00 sih? Kau kan sudah ada di sini sejak tadi.” Ujar Chinen sambil mencoba melepas rangkulan Keito saat mereka berdua menaiki lift untuk menuju lantai kamar apartemen Yamada.

“Kalau hanya aku, hadiahnya tak akan diterima. Harus ada kau! Ahahaha…”

Chinen memutar bola matanya.

“Omong-omong, kadomu apa?”

“Eh? Itu rahasia~!” Chinen tertawa canggung. Ryosuke hanya minta aku datang sebagai kadonya, untuk apa beli-beli kado. Dia bisa beli apapun yang dia inginkan dengan dompetnya yang setebal diktat kedokteran itu.

“Nah! Ini dia. Unit 1601” Keito berseru heboh. “Chinen, kau yang pencet bel-nya ya! Aku ambil hadiahku dulu di tas.”

Pemuda mungil itu tak butuh ancang-ancang untuk segera memencet tombol di depan kamar apartemen Yamada. Di dalam sana, center HSJ itu segera berlari dan melihat layar intercome. Ia mendengus saat melihat Chinen datang tidak sendiri. Yamada mengambil napas lalu segera membuka pintu kamarnya.

SURPRISE~! Selamat ulang tahun Yama-chaaaan!!!” Teriak Keito semangat. Chinen disebelahnya pun ikut berseru semangat, atau pura-pura semangat. Yamada yang selalu hebat dalam hal ekting segera berekting terharu. Kemudian matanya menatap Chinen dan langsung memeluk si mungil erat-erat.

“CHINEEEEEEEEEEN~” teriaknya dengan lebai. Chinen mendengus dalam hati. “Dasar lama! kau harus memuaskanku habis ini, Yuri!” desis Yamada pelan saat memeluk Chinen. Sementara yang dipeluk hanya menganggguk simpel sambil membalas pelukan Yamada.

Keito yang melihat dua rekan terdekatnya berpelukan hanya tersenyum tulus. Ia tidak sakit hati, tidak. Karena Yamada dan Chinen memanglah sejoli yang manis untuk dipandang.

“Oh, hai Keito,” Yamada baru melepaskan pelukannya pada Chinen dan menatap Keito. Wajah pura-pura terharunya masih terpasang.

“Selamat ulang tahun, Yama-chan. Ini kado dariku. Semua yang terbaik untukmu ya, sob!”

Yamada tersenyum lebar kemudian menerima hadiah yang disodorkan Keito lalu merangkul Keito erat—atau kasar—Keito tidak tahu. “Terimakasih banyaaaak!!!”

Keito tertawa hangat, setelahnya Yamada segera melepas rangkulan.

“Hadiahmu sudah kuterima. Bisa kau pergi sekarang?”

Chinen nyaris tersedak jakunnya saat sang kekasih berkata barusan. Oh yaampun itu terlalu jahat!

Keito mematung ditempat. “Kau bilang apa? Pergi? Kenapa aku harus?”

Raut Yamada yang tadi serius mengatakan itu berubah menjadi konyol. “Bercanda kok bercanda~ Aku dan kau kan sudah sering bertemu. Saaaaangat sering <3 Iya kan?”

Keito berkedip cepat. Chinen pun demikian.

“Jadi, untuk menambah intensites keseringan bertemu, bagaimana kalau kita pesta besok pagi saja? Jangan sekarang. Malam hanya sebentar. Ya, Keito?” Ini sudah sangat halus, Yuri! Tenang saja, kalau Keito menangis aku akan tanggung jawab. Batin Yamada berujar seolah mengerti tatapan was-was kekasihnya.

“Yah…” terlihat raut kecewa dari Keito.

“Oh, ayolah Keito! Besok masih ada waktu untuk berpesta denganku. Sekarang, izinkan aku berdua dengan kekasihku dulu. Oke?” Akhirnya Yamada mengatakan maksudnya mengusir Keito. Gitaris itu berdecak lalu mengangguk singkat. “Baiklah. Tapi besok pesta denganku.”

“Iya iya!” Yamada mengangguk gemas. Pemuda modis itu segera menarik Chinen ke dalam pelukannya namun menodorong Keito untuk balik badan dan meninggalkan apartemennya. “Aku janji! Dah, Keito! Mimpi indah okey~”

BLAM.

Pintu apartemen akhirnya tertutup.

Chinen menggeleng prihatin sambil masuk lebih dalam ke apartemen kekasihnya. “Kau jahat sekali,”

“Dia harusnya mengerti. Nah sekarang… Oh ayolah Yuriiiii kau tega aku bermain sendirian dari tadi!”

Chinen mengangguk simpel. “Mau dimana?”

“Sofa?”

"Sempit. Di kamar saja lah!”

“Yasudahlah dimana saja. Ayo cepat!”

.

“Ughhh… sabar, Ryosukeee~” Chinen melenguh saat baru saja rebahan di kasur kekasihnya sudah menyerangnya.

“Aku tak sabar membuka kadoku.”

“Aghhnnn… jangan leherku~ aku masih harus syuting…”

Yamada mengerti, mulutnya turun dari leher menuju dada Chinen yang nyaris terbuka seutuhnya. Tangan  Yamada bergegas merobek pakaian Chinen.

“Ryosuke! Aku tak suka bermain kasar!”

“Siapa yang ulang tahun disini?”

“Ughh..”

“Aku tak akan menyakitimu, tapi bajumu.”

“Ini baju dari produser!”

“Aku bisa belikan yang lebih bagus dari ini. Kau diamlah, biarkan kau menikmati hadiahku.”

Chinen mau tak mau bungkam. Tubuhnya pasrah dijamah kekasihnya. Sudah cukup lama mereka tak bercinta, bohong kalau Chinen tak merindukan sensasi disentuh.

“Ahhh…”

nipple-mu jadi lebih sensitif Yuri..” Yamada menyedot bagian yang kiri kuat-kuat, sementara tangan kirinya memainkan bagian yang kanan dan tangan kanannya memainkan si buah zakar.

“Ahhnnn… Ryosuke!!!!”

“Sabar~”

Yamada mulai main ketahap serius, ia melepaskan pakaiannya bawah Chinen begitu juga miliknya.

“Ah~ Ah~ ngghhh~~~”

“Suka hmm?”

Siapa yang tidak suka makan pisang? Dan pisang-pun suka saat dimakan karena memang itu fungsinya, bukan? Seperti fungsi pisang ratu milik Chinen ini.

“Jangan dimainkan.. ah! Ahhhhh!!” Chinen menggelinjang. Desahannya makin meliar seiring tangan Yamada yang sangat cekatan.

“Ah, aku lupa memberi tahu, aku tak ada pelumas. Permainan kering bagaimana?”

Chinen lantas menendang paha Yamada. “Tak sudi!”

“Ahahaha.. baiklah, kau harus keluar lebih dulu sebagai pelumas. Biar kubantu.” 

Kalau begini siapa yang ulang tahun sih? Kenapa Yamada yang harus memuaskan Chinen? Harusnya kan Chinen yang memuaskannya!

“Ah.. AGHHHNN—AH ! AH!! SAKIIIIIIIIIIIIT RYOSUKE BRENGSEKHHH!” Chinen mengerang keras. Rektumnya berdarah saat tiba-tiba beda lunak namun besar milik Yamada masuk tanpa permisi.

“Hiks… Ryosuke sakitttt…”

“Setelahnya akan enak, Yuri. Ah~”

“Kau jahathhh…”

“Kan seharusnya kau yang memuaskanku~”

“Hiks..”

“Shhh…” Yamada mencium Chinen segera. Melumat bibirnya dengan ganas. Setelah tubuh sang kekasih rileks oleh ciuman, Yamada mulai bergerak.

“Ahh.. sakiiit pelan-pelaaaan”

“Iya iya… punyaku harus keluar segera supaya di dalam sana tidak terlalu kering, makanya harus bergerak. Atau kau bantu aku keluar dengan hisapanmu di dadaku?”

Chinen mengangguk saja. Yamada lantas mendesah indah.

“Ahhh!! Ahh.. Yuriii~~” Tangan Yamada tak sudi menganggur, ia memainkan milik Chinen beserta dua gundunya yang imut itu. Chinen pula mendesah.

“Ahhh lebih keras, Ryosuke!!!”

“AHHHHNNN Ayo keluar bersamaaa!!”

“AGHHHHNNN~~~!”

Tiga ronde selesai dalam dua jam. Mereka berdua berpelukan dengan milik Yamada masih tertanam di dalam Chinen, tak ada niatan dari mereka untuk memisahkan diri.

“Selamat ulang tahun, Dompetku. Sehat selalu dan semua yang terbaik untukmu, Aku benci kamu.” 

“Aku juga benci kamu.”

Chinen mengecup manja bibir kekasihnya lalu menjulurkan lidah, usil. “Selamat hari kebalikan~ hehe!”

“Huh, aku memang membencimu kok.”

“Oh yasudah, aku akan pergi kencan dengan Taishi besok setelah selesai syuting dan kau dengan Keito-mu yang cengeng itu.”

Ck. Yamada salah ngomong. “Ih bercanda sayang… aku hanya mencintaimu.” Yamada kembali melandaskan ciuman mesra di bibir Chinen. Itu ciuman terakhir sebelum akhirnya mereka terlelap bersama dalam kondisi pedang Yamada masih tertanam dengan nyaman di dalam kekasihnya.

THE END

Selamat puasa! Dan… ah sudahlah, maafkan hamba. Habis baru dapet internet jam segini buat ngepost hiksuuu :”((( Pokoknya selamat ulang tahun Yamada Ryosuke, suami paling cetarnya Chinen #telatbego dan selamat menjalankan ibadah puasa AHAHAHAHA MAAPIN NC NYA SAMPIS~ :”) dan kerasa nggak realnya? Semoga kerasa ya! Ini too much real sih ohoho~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review