“Ryosuke, semua barangmu sudah siap?”
“Sudah. Kau?”
“Sudah juga hehe… tenang saja,
aku tak banyak bawa barang.”
“Coba sini ku data barang-barang
yang perlu kau bawa. Ini masih musim dingin, Yuri. Kau harus bawa beberapa
perlengkapan dingin yang lengkap.”
Chinen Yuri memutar bola matanya saat tiba-tiba saja tasnya digeledah oleh Yamada. Oh, kenapa juga kekasihnya itu selalu bersikap seperti ibunya? “Aku suka musim
dingin, Ryo. Kau ingat aku bisa telanjang di area ski yang dingin?”
“Che, jangan ingatkan aku tentang
kau yang seperti siluman salju,” Yamada mengacak-acak rambut kekasihnya
lalu mulai membacakan list bawaan untuk Chinen.
“Dua mantel tebal musim dingin?”
“Sudah.”
“Beberapa pakaian hangat?”
“Sudah.”
“Kaus kaki hangat, syal, sarung
tangan, masker, penutup telinga?”
“Sudah.”
“Kamera?”
“Sudah.”
“Ipad, Charger, Power Bank,
Headphone?”
“Tentu Sudah~”
“Vitamin?”
“Sudah~”
“Kondom?”
Chinen tersentak, lalu menatap
Yamada yang kini menyeringai usil. Chinen segera tertawa. “Kau yang harusnya
bawa, Ryosuke!”
“Aku memang bawa.”
Chinen mencubit pipi elastis
Yamada dengan gemas untuk kemudian mereka tertawa bersama.
“Besok adalah vacation paling
romantis kita di tahun 2017. Bersiaplah, Yuri.”
“Ya. Terimakasih, Ryosuke…!”
Kiwok’s Present
YamaChii
fanfiction
Yamada X Chinen ©
Johnny’s Entertainment
Fake.Eye.Saint ©
Kiting Bewok
Fluff, Romance,
Comedy
R+
.
.
.
“Aku menyukai ARASHI dan mencintai Ryosuke. Jika tanpa
mereka, aku tidak akan jadi Idol”
.
.
.
Feel free to read…
^_^
Libur tahun baru 2017, member
Hey!Say!JUMP memiliki rencana masing-masing, termasuk dua tokoh utama kita,
Yamada dan Chinen. Dari sebelum pergantian tahun 2017, center grup
ternama di Jepang itu sudah menggebu-gebu mengajak kekasihnya liburan keluar
negeri di dua Negara. Pertama ke Korea Selatan, lalu ke Guam.
“Jadi, empat hari kita akan ke
Korea Selatan lalu tiga hari selanjutnya ke Guam.”
Chinen tertawa mendengar
kekasihnya berujar dengan nada tegas. “Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, dan aku sudah ingat.”
“Maa.. takutnya lupa. Kita
hanya dikasih waktu libur seminggu oleh agensi jadi tidak boleh disia-siakan!”
Yamada memeluk Chinen lagi—sebelumnya hanya merangkul—dan kini si pemuda tembam
menyusupkan kepalanya pada leher sang kekasih.
“Geli~ Ryosuke~!!”
Yamada tak peduli dan terus
mengusel leher Chinen dengan rambutnya, tangannya pun tak melepaskan rangkulan.
“Ryosukeee.. lakukan itu di
hotel saat nanti menginap saja. Biar ada perasaan baru~” Chinen membujuk.
Yamada mengangkat alisnya lalu tertawa. “Kau benar. Bersiap-siap ya?”
“Iya iya…” Chinen ikut tertawa.
=:=
Minggu pagi di Seoul. Hari ke dua
setelah sampai di Korea.
“Ryosuke, kau yakin tidak perlu
menyamar?” Chinen berbisik pelan, Yamada disebelahnya mengangguk mantap.
“Tenang saja. Ini kunjunganku yang ke empat kali di Korea dan disini tidak ada yang
benar-benar mengenaliku sebagai idola. Jadi tenang saja~”
Chinen mengangguk-angguk.
Pasangan itu kini berjalan berdampingan dengan tangan masuk ke dalam kantong
mantel masing-masing, Yamada menahan mati-matian hasratnya untuk menggandeng Chinen di sana karena ia masih peduli etika. Hell, Korea Selatan lebih homopobia dibanding Jepang!
“Ryosuke, ayo beli cemilan!” ajak
Chinen tiba-tiba. Yamada mengernyit, “di hotel tadi kan kita baru makan?”
“Ahh.. aku mau jajanan itu. Aku
belum pernah merasakannya.. Itu~ yang dipinggir itu~ seperti sate!” tak ada
yang tahan ketika Chinen merajuk, termasuk Yamada. Si mungil itu terlalu
menggemaskan sehingga Yamada dengan senyum menawannya mengiyakan ajakan Chinen.
“Baiklah.. ayo kita jajan disana.”
.
.
“Silahkan~ Mau beli berapa
banyak?” Wanita paruh baya yang menjual jajanan khas kaki lima di jalanan
Seoul pagi itu berujar ramah. Chinen dengan semangatnya segera memilih-milih jajanan
yang seperti sate sesukanya.
Sementara itu Yamada hanya berdiri di
samping sang kekasih. Tangannya merogoh dalaman mantel yang ia kenakan lalu
mengeluarkan buku kecil yang ternyata panduan praktis berbicara bahasa Korea.
Setelah menemukan kalimat yang ia ingin ucapkan, pemuda modis itu berkata
hati-hati saat Chinen selesai memilih. “semuanya.. harganya jadi berapa?”
“Ah.. orang asing ya? Semuanya jadi 45 won.”
Yamada tersenyum kemudian
mengeluarkan isi dompetnya untuk mengambil uang 50 won. Ia bersyukur telah
memecahkan uang dulu kemarin setelahnya tiba di Korea.
“Terimakasih. Kalian pasangan
serasi~” kata penjual tersebut seraya menyerahkan kembalian 5 won. Yamada
dan Chinen hanya mengerti kata ‘terimakasih’ yang diucapkan tanpa tahu arti kalimat
kedua. Namun Chinen seolah paham dan ikut bersuara ‘terimakasih’ dengan bahasa
korea sambil menggandeng lengan Yamada.
Mereka berdua kembali melanjutkan
kencan, sambil menyantap jajanan, tentu saja. Yamada mendengus gemas melihat
kekasih mungilnya memonopoli jajanan yang dibelinya barusan. “Aku juga mau,
Yuri~”
Chinen mengambil satu tusuk
kemudian di arahkan pada Yamada. “Aaaaaa~”
“Am~”
Pemuda mungil itu terkejut
melihat tingkah Yamada yang membuka mulutnya seperti anak umur lima tahun sedang
disuapi seorang ibu. Gaya mengunyahnya pun dibuat-buat seperti bocah tapi bisa terlihat
natural. Huh! dasar aktor! "Ryosuke sok imut,"
“Memang harus imut, biar nggak
kalah imut sama pacar sendiri~” Yamada menyeka sedikit bumbu yang berada di
luar bibir kekasihnya sambil tersenyum. Chinen meringis manis diperlakukan
demikian.
“Omong-omong, kenapa harus lihat
kamus? Kan ada aplikasi penerjemah omongan di HP.” Pemuda imut disana
kembali asik memakan sambil berceloteh, sontak membuat sang kekasih memasang
tampang cemberut.
“Aku saja waktu di Prancis dengan Yuya tak pernah buka-buka kamus. Palingan peta. Kalau untuk komunikasi
kan ada aplikasi. Lebih simpel!”
Pemuda imut itu tak menyadari
raut Yamada yang semakin muram, setelah menoleh, baru ia sadar.
“Aku kan tidak tahu cara pakai
aplikasi itu!”
Chinen menepuk dahinya saat mendapat gerutuan. Ah, ia baru ingat. Yamada Ryosuke adalah kekasihnya yang gagap
teknologi. Sehingga yang si mungil lakukan untuk menghilangkan raut muram
Yamada adalah mengambil satu tusuk sate lagi dan disuapkan dengan mesra
padanya.
“Oh, kita harus selfie,
Yuri!” seru Yamada ditengah kunyahan. Ia cepat-cepat mengambil HP di saku
celananya.
Saat Chinen siap dengan pose
menggemaskannya, Yamada tiba-tiba mendengus kesal. “Batreku habis!” Raut imut
Chinen langsung lenyap.
“Kau ini! Sudah kubilang jangan
lupa men-charge HP! Untung aku bawa Powerbank!” Chinen mengambil
powerbank di dalam mantelnya lalu menyerahkan pada Yamada. Yang menerima justru
mengesah sambil memberi alasan. “Kemarin HPku sibuk karena pihak agensi dan
sutradara Cain & Abel terus-terusan menghubungiku, jadi tak sempat ku charge!”
“Kamera?”
“Bukannya kau yang seharusnya
bawa?” Yamada memicingkan mata pada sang kekasih. Chinen menekan kedua bibirnya
saat ingat bahwa kamera itu tertinggal di hotel.
“Yasudahlah, kita selfie pakai
HPku.” kesah si mungil akhirnya.
“Um~”
Seperti biasa, poto selfie
pasangan termanis di Hey!Say!JUMP itu sungguh menawan. Yamada berada di
belakang Chinen dengan kedua tangan yang memeluk si mungil sembari mukanya
mengusel leher Chinen, sedangkan Chinen berpose duck face dengan angel
seperti mencium kepala Yamada.
“Ih lucu~” Chinen terkekeh puas
melihat hasilnya. “Nanti munculkan ini ke Think Note ya!”
Yamada mengangguk simpel dan
kembali meminta berselfie ria.
.
Pusat perbelanjaan baju,
Myeongdong.
Yamada—seperti yang diketahui
adalah seorang fashionita—dengan semangat menggandeng Chinen untuk
memilih berbagai macam baju di salah satu toko setelah menghabiskan jajanan.
“Astaga, Ryosuke! Ini tak beda
jauh dengan Harajuku. Bagusan di Harajuku lagi!” bibir Chinen mengerucut.
“Diamlah, Chibi. Kau harus tahu baju-baju disini sangat elegan tapi murah. Ayo,
kau juga harus memilih!”
Sayangnya, Chinen bukan seorang
yang gila baju. Oh astaga bajunya saja mayoritas hanya kaos oblong putih dan
celana jins robek-robek. Semua baju modis yang biasa ia pakai kebanyakan adalah
milik pengiklan atau agensi dan ia hanya dipinjamkan!
“Ryosuke saja yang belanja…”
Yamada sepertinya sudah terlanjur semangat untuk belanja sehingga tidak mendengar apa yang Chinen ucapkan. Pemuda modis itu bahkan telah menjelajah lebih dalam area toko dan meninggalkan Chinen di depan.
Yamada sepertinya sudah terlanjur semangat untuk belanja sehingga tidak mendengar apa yang Chinen ucapkan. Pemuda modis itu bahkan telah menjelajah lebih dalam area toko dan meninggalkan Chinen di depan.
Merasa terabaikan, Chinen meraih si ponsel pintar dan segera membuka aplikasi game kesayangannya. Apalagi kalau bukan Pokemon Go.
“Yes! Yes! Aku dapat banyak hari
ini hahaha~” pemuda mungil itu mengangkat wajah dengan raut bahagia. Lehernya
terasa sangat pegal karena lama menunduk memandang layar HP.
“Ahh.. tak kusangka monster langka banyak disini!” tapi setelah sadar akan keadaan sekeliling, rautnya berubah pias.
“Ahh.. tak kusangka monster langka banyak disini!” tapi setelah sadar akan keadaan sekeliling, rautnya berubah pias.
“ASTAGA! Ini dimana!?” Chinen memekik
panik. Ia sama sekali tidak sadar telah memisahkan diri dari Ryosukenya dan
berjalan jauh sendirian di negeri orang. Apalagi itu kunjungan pertamanya ke
Korea. Perasaannya langsung kalut.
“Ryosuke!” Chinen cepat-cepat
menunduk kembali untuk menatap HPnya. Ia segera keluar dari aplikasi Pokemon Go
dan beralih pada contact person. Baru akan menelpon kekasihnya, layar HP
Chinen tiba-tiba meredup dan penanda batre mengingatkan tinggal 5% lagi.
“Astaga aku lupa kalau menyetel
peringatan batre lemah di 5% bukan di 15%!” Chinen semakin panik dan merogoh
kasar dalaman mantelnya, mencari powerbank. Setelah mengorek-ngorek isi mantel
namun tak menemukan apa yang ia cari, si mungil langsung mengerang frustasi.
“POWERBANKKU DI RYOSUKE!!”
Chinen nyaris menangis. HPnya
kini mati total. Dan ia sama sekali tak tahu arah. Ia berjalan jauh dari
tempatnya sadar telah tersesat tadi namun sepertinya malah semakin nyasar.
“Oh ya Tuhan.. aku dimana…”
Satu-satunya yang Chinen ingin lakukan sekarang adalah mencari telpon umum.
Tapi tetap saja merasa percuma, ia tak membawa dompet apalagi uang. Hingga
kemudian ia melihat sedikit keramaian pada sebuah tenda-stand-di dekat
gedung yang megah, Chinen bergegas ke sana berharap bisa meminjam charger-an atau
powerbank atau apapun itu yang membuat HPnya hidup kembali.
“Permisi… a-aku.. errr.. apakah aku
bisa pinjam pengisi batre HP?” Chinen berucap terbata-bata. Efek panik dan juga
takut. Bodohnya dia malah berujar dengan bahasa ibu padahal sedang di
negara orang.
“Ada yang bisa dibantu?” seorang
wanita dan lelaki paruh baya yang menjaga stand itu tersenyum.
Diketahui tenda tersebut menjual semacam uchiwa, goodies, dan banner-benner
kecil bertuliskan hangeul yang Chinen tak mengerti artinya. “Ah! Kau
mau ikut audisi ya? Baiklah, ini jimat keberuntungannmu. Gratis kalau hanya
itu!”
Chinen melongo hebat karena
wanita disana justru memberikannya kain—semacam jimat—dan bukannya charger-an
HP. “Iie.. iie!! Aku butuh cas-casan HP!”
“Iya? Oh.. kalau begitu kau
harus segera masuk ke dalam sana. Audisi akan tutup jam 2 siang dan sebentar
lagi jam 2!”
Audisi apaan!? Chinen
frustasi dalam hati. “Aku tidak ingin ikut audisi, aku hanya butuh—“
“Kau tak tahu lokasi audisi?
Ah, pantas saja, kau orang asing. Tenang.. jangan panik. Ikuti anakku ini dan
dia akan mengantarmu ke sana.” Kata lelaki paruh baya sambil memanggil
anaknya yang juga berada disekitar tenda. Anak laki-laki berumur sekitar 9
tahun itu tiba-tiba menggandeng Chinen dan menariknya cukup kencang.
“Nah, ini gedungnya! Sana
masuk! Ini hari terakhir dan sudah sepi sejak tadi karena kebanyakan dari
mereka sudah pasrah di hari pertama dan kedua! Semoga beruntung~”
Chinen sama sekali tidak mengerti
apa yang dikatakan bocah itu. Demi Tuhan ia hanya butuh cas-casan!
“Iphone! Kau tahu iphone? Iphone ku off jadi aku harus on kan!”
“Iphone! Kau tahu iphone? Iphone ku off jadi aku harus on kan!”
Namanya juga bocah. Mana paham
off atau on. Yang ia bisa tangkap hanyalah kata Iphone sehingga ia menyahut, “Ya,
kalau kau lolos audisi dan jadi idol kau bisa saja membeli Iphone terkeren yang ada di
dunia!”
Chinen mulai menangis dalam hati.
Ia pasrah saja ketika si bocah mendorong punggungnya untuk masuk ke dalam
gedung. Bahkan si mungil itu tidak tahu gedung apa yang ia masuki. Sampai
tiba-tiba ada dua orang yang sepertinya adalah petugas keamanan memasangkan semacam nomor peserta di bajunya. Chinen tampak tidak asing dengan logo pada nomor yang kini tertempel di bajunya.
“SM Entertainment?”
“Silahkan ikuti dia dan masuki
ruangan yang ditunjuk.” Kata salah satu petugas. Entah kenapa kaki Chinen
seperti pasrah melangkah. Ketika petugas satunya menunjukkan ruangan yang
harus ia masuki, Chinen mendengus dan akhirnya masuk.
Astaga, aku sudah jadi idola untuk apa di audisi seperti ini!? Benar-benar konyol! Rutuk Chinen
dalam hati sambil berjalan kasar ketengah-tengah ruangan. Saat dirinya
menghadap ke kanan, ia melihat ada empat orang yang dirasa sebagai penguji
audisi. Melihat mereka, Chinen jadi teringat masa-masa audisinya 15 tahun yang
lalu, di tahun 2003.
“Nah, silahkan menari dahulu,
lalu menyanyi, dan terakhir unjuk bakat. Boleh alat musik, ekting, atau apapun
yang merupakan bakatmu. kebutuhan bakatmu yang berkaitan dengan ‘hiburan’ bisa
kami siapkan dengan mudah.”
Chinen terpaku diam, tak mengerti
apa yang diucapkan kakek-kakek yang duduk di dua dari kanan pandangannya.
“Oh kau tak mengerti? Orang
asing rupanya. Karena sesi perkenalan ada di akhir setelah unjuk bakat, kau
harus menari dulu. Paham?”
“Ah…” Chinen menangkap kalimat
“dance” yang diucapkan si kakek tadi karena baru saja ia berujar dengan bahasa
inggris. Si pemuda mungil mengangguk enteng. Tiba-tiba terdengar bunyi musik beat
yang menggema di ruangan itu dan tentu saja Chinen tak bodoh bahwa itu
artinya ia harus menari mengikuti tempo beat yang disuguhkan.
Ayolah, yang benar saja, Chinen
adalah yang terbaik dalam hal dance di grupnya. Dengan tipe lagu beat yang
diberikan sekarang ia bisa bebas menari secara lihai dan lincah.
Saat musik berhenti, gerakan Chinen pun terhenti. Ia melihat si kakek seperti tersenyum, entah itu senyum apa Chinen tak mau ambil pusing. Saat matanya bersibobrok dengan penguji yang paling kiri, alisnya agak bertaut. Sepertinya dia tidak asing… siapa ya?
Saat musik berhenti, gerakan Chinen pun terhenti. Ia melihat si kakek seperti tersenyum, entah itu senyum apa Chinen tak mau ambil pusing. Saat matanya bersibobrok dengan penguji yang paling kiri, alisnya agak bertaut. Sepertinya dia tidak asing… siapa ya?
“Nah, selanjutnya menyanyi.”
Apa salah satu grup korea yang
pernah ke Jepang dan promosi di acara musik kita ya?
“Nak? Hallo~! Kau harus
menyanyi sekarang…”
“Ah, iya!” Chinen akhirnya
tersadar dari lamunan saat si kakek kembali berbicara bahasa inggris
dengan menekankan kata “Singing”. Chinen mengambil posisi nyaman lalu seolah
membuat satu tangannya sebagai mic.
“You are my soul soul! itsumo
sugu sobani aru! Yuzurenai yo daremo jama dekinai. Karadajuu ni kaze wo
atsumete makiokose, Arashi! Arashi! For dream~!”
Tentu saja, seorang Chinen Yuri
akan menyanyikan lagu idolanya. Bahkan ia menyanyikan bagian rap dengan
fasih meski tidak dengan gaya yang cool seperti seorang rapper.
Ketika memasuki reff kembali, Chinen menyanyikannya dengan perasaan
senang. Tak peduli suaranya secempreng apa saat menyanyikan itu.
Ke empat penguji tersenyum bahkan
terkekeh berjamaah.
“Ahh.. orang Jepang rupanya.”
Penguji perempuan satu-satunya yang duduk di sebelah kanan si kakek (alias yang
paling kanan dari pandangan Chinen) berkata dengan bahasa Jepang. Chinen seakan
melihat ibu peri yang akan memberi secercah bantuan.
“Iya! Aku orang Jepang dan—“
“Belum boleh perkenalan nak,
kau masih harus menunjukkan bakatmu.” Ucapkan Chinen dipotong oleh si kakek
menggunkan bahasa Inggris kembali. Chinen merutuk dalam hati.
“Nah, silahkan tunjukan bakat
lainmu selain menari dan menyanyi!” katanya lagi sambil menekankan kata
“ability” yang sama sekali tidak diketahui Chinen apa maksudnya. Aku harus
menari sambil bernyanyi disaat yang bersamaan begitu?
“Kemampuanmu yang lain, nak.
Bakat lain selain menari dan menyanyi.” Wanita tadi lalu menerjemahkan dalam
bahasa Jepang. Chinen ber “Ah..” ria sambil tersenyum. Pemuda mungil itu lantas
mengambil jarak untuk kemudian menunjukan atraksinya. Apalagi kalau bukan back
flip. Dan kali itu, Chinen melakukannya dengan tangan tidak menyentuh
lantai sama sekali. Badannya seperti berputar di udara tanpa ada tangan yang
menyanggah. Yang kedua baru Chinen melakukan back flip dengan menggunakan satu
tangan sebanyak dua kali, lalu salto ke depan sebanyak dua kali juga.
“WOAH!!” mereka berempat terkejut
jamaah. Tentu saja harus terkejut, batin Chinen bangga.
“Hebat! Kau luar biasa!” Wanita
disana bertepuk tangan. Chinen hanya meringis.
“Ah, sepertinya yang paling
terakhir ini tidak mengecewakan. Benar begitu, Sooman-seonsaengnim?” lelaki
kedua di sebelah kiri si kakek berujar dalam bahasa korea. Nadanya sarat akan
kebanggaan.
“Kau benar. Nah, sekarang
waktunya bertanya. Siapa namamu, Nak? Dan berapa umurmu? Tiga belas tahun?” kakek
tadi kembali berucap dengan bahasa korea, Chinen sama sekali tak mengerti. Dan juga,
matanya hanya fokus memandang lelaki yang paling kiri yang sedang memandangnya juga.
“biar aku yang bicara.
Sepertinya dia sama sekali tak bisa bahasa Korea.” Si wanita kembali angkat
suara. “Hallo~ Nak, siapa namamu?”
Tak dijawab. Chinen masih
bergeming. Ketiga penguji tampaknya paham akan pandangan Chinen yang terarah
pada lelaki yang paling kiri.
“Yunho-ya, kau kenapa? Kalian
kenapa saling pandang?” lelaki muda kedua bertanya. Tiba-tiba saja si
penguji paling kiri dan Chinen berteriak kompak.
“AHH..!” / “AHH..!
“Kau, Chinen Yuri bukan!?” kata
lelaki itu.
“Iya. Dan kau pasti member
Tohoshinki… U-know-san?”
“Ya, kau benar.”
“Ahh.. pantas dari tadi aku merasa
wajahmu tak asing. Banner terbesar Tohoshinki terpasang di bawah banner
Hey!Say!JUMP dan terpampang di pusat kota Tokyo beberapa tahun lalu.” Chinen
terkekeh.
“Aku juga merasa tak asing
denganmu. Kita pernah satu acara di acara Music Station tahun 2012, ingat?”
“Ingat… ingat…! Aku ingat jelas
karena hampir semua fans di studio tiba-tiba terlihat seperti membawa obor
berwarna merah ahaha... dan kita juga pernah nyaris rebutan Tokyo Dome
untuk mengadakan konser karena ada miskomunikasi antar agensi.”
“Kau masih ingat dengan yang itu
ahaha.. tapi akhirnya Tohoshinki mengalah.”
“Tentu saja, kami tuan rumahnya
hehe..”
Penguji tersebut—yang ternyata
adalah leader Tohoshinki, U-know Yunho—kini menoleh pada si wanita. “BOA-san,
kau tahu grup idol Hey!Say!JUMP kan? Kau pernah satu acara juga dengan grup itu
dulu. Dia salah satu membernya.”
“Astaga.. Hey!Say!JUMP? Yang para
membernya masih belasan tahun tapi sudah debut itu?” BOA tak lain juga
terkejut.
Chinen terkekeh semakin keras.
“Aku debut umur 13 tahun waktu itu hehe…”
“13 tahun!? Berarti sekarang…”
“Tahun ini akan 24 tahun hehe..”
BOA dan Yunho semakin terbelalak.
Antara kaget dan takjub. 24 tahun tapi ukuran tubuh dan wajahnya nyaris tidak
berubah seperti dulu! Ah, kalau wajah sepertinya agak berubah karena Chinen lebih
maskulin sekarang. Tapi tetap saja lebih banyak imutnya. Apalagi tingginya tak
bertambah pesat sejak debut dulu. Ia debut dengan tinggi 149 cm dan kini
tingginya hanya 159 cm, masih terlihat mungil untuk ukuran laki-laki.
“Bisa kalian jelaskan ada apa
sebenarnya? Kenapa terkejut begitu?” kakek disana buka suara, terdengar
kesal. BOA lantas menjelaskan kepada pria bangka itu, sementara Yunho
menjelaskan pada penguji lelaki satunya yang diketahui bernama Kangta dalam
bahasa korea.
“lalu? Dia keluar dari grupnya
dan ingin mendaftar di SM?” Kangta mengernyit kagum. “Kalau pun mau
mendaftar itu sangat telat. Maksimal daftar itu umur 20 tahun. Meski sebenarnya
bakatnya luar biasa.”
Chinen tak mengerti apa yang
diomongankan sehingga ia menatap Yunho berharap diterjemahkan namun BOA lebih
dulu bertanya. “Apa yang membuatmu mendaftar audisi di sini? Apa kau sudah
keluar dari grup dan agensimu?”
Chinen tersentak. “Keluar dari
Johnny’s? Sama sekali tidak! Aku hanya tersesat hingga akhirnya disuruh masuk
kesini. Aku sama sekali tak minat ikut audisi ini, sungguh!”
Yang mengerti bahasa Jepang
terdiam. BOA kemudian berbicara dengan sangat hati-hati dalam bahasa korea
kepada sang kakek sehingga Chinen bisa melihat raut pria tua bangka itu kecewa. Si mungil kemudian melangkah maju, mendekati meja penguji tepatnya ke
bagian yang paling kiri.
“Err.. U-know-san, apa aku boleh
meminjam charger-an untuk Iphone 6? Aku sangat butuh itu untuk mengaktifkan HP-ku.
Nanti aku jelaskan semuanya mengapa aku bisa datang kesini.” Ucap Chinen dengan
penggunaan bahasa sopan. Yunho nampak berbisik meminta izin kepada si kakek
hingga Chinen melihat si tua itu mengangguk dan balas berbisik sebelum akhirnya
Yunho berdiri menghampiri Chinen.
“Ikuti aku.” Ujarnya dengan suara bariton. Chinen mengikuti dengan was-was. Ada perasaan kesal ketika berjalan
mengikuti lelaki itu. Astaga aku saja cuma se lehernya Yutti! Dan sekarang
aku cuma setinggi pundaknya? Menyebalkan!
Chinen rupanya diajak ke ruang
staff. Saat Yunho memberikan benda yang diinginkan Chinen, si mungil itu dengan
segera mengaktifkan HPnya.
“20 panggilan tak terjawab dan
lebih dari dari 10 pesan. Wow,” Yunho tak sengaja melihatnya. Chinen mendengus,
“jangan mentang-mentang tinggi jadi bisa lihat privasi orang hanya dengan
menunduk.”
“Ahaha.. maafkan aku,”
Si mungil tak ambil pusing lagi
dan segera menelpon kekasihnya.
“ASTAGA CHINEN YURI KAU DIMANA
SEKARANG HAH!?”
“Maaf, Ryosuke. Aku tadi tersesat
saat memainkan Pokemon Go.”
“Persetan dengan game itu,
Yuri! Kau dimana sekarang?! Jantungku benar-benar mau keluar sanking
paniknya!!”
Chinen tersenyum mendengar
perkataan sang kekasih. Ia lalu mendongak, menatap Yunho disampingnya. “ini
dimana?”
“Di gedung SM Entertainment
bagian timur.” Chinen segera menyampaikan informasi itu pada Yamada. Namun
reaksi sang kekasih sungguh memekakan telinga.
“APA?! SM?! UNTUK APA KAU
KESANA? MAU MENDAFTAR?!”
Chinen menggeleng
kencang-kencang. “Daftar apaan sih! Nggak! Aku sudah bilang hanya tersesat.
Nanti saja ku ceritakan. Jemput aku sekarang!”
“Baiklah, kau tunggu diluar
gedung itu! Aku akan kesana secepat mungkin bersama Jiyoung-san.”
“Oh, Kang Jiyoung-san bersamamu
sekarang?”
“Iya, dia juga mendapat libur
katanya makanya pulang ke Korea dan aku langsung menghubunginya saat kau
menghilang. dasar Chibi!”
“Maaf…”
“Yasudah tutup telponnya! Aku
akan segera menjemputmu!”
Chinen menyudahi sambungannya.
Kemudian seperti yang sudah ia janjikan, menjelaskan dengan rinci mengapa ia
bisa berada di gedung itu kepada lelaki menjulang disampingnya.
“Tersesat dan salah paham dengan
orang hingga sampai ke sini. Semuanya karena kau diabaikan si center
Hey!Say!JUMP itu jadi kau bermain memilih main game petaka?” simpul Yunho. Chinen
mengangguk lemas.
“Astaga kepalaku pusing sekarang
karena kebanyakan back flip.” Keluh Chinen sambil duduk di kursi terdekat.
Yunho menyerahkan minum kepada Chinen. “Minumlah.”
“Terimakasih.”
“Oh ya, kau kelahiran 1993?”
Chinen yang masih meneguk minum
hanya mengangguk.
“Seumuran dengan Taemin. Kau
kenal? Dia salah satu talent kami yang debut paling muda. Yah.. walau
tidak semuda dirimu.”
“Berapa usia debutnya?”
“15 tahun.”
Chinen mendengus ringan. “Umur
segitu aku sedang membuat single ke empat.”
Yunho memutar dua bola matanya. “Omong-omong, kau benar-benar tidak ingin keluar dari agensimu?”
“Tentu saja tidak! Astaga, Hey!Say!JUMP adalah hidupku sekarang!” sahut Chinen secepat kilat. “Lagipula,
aku tidak sudi menjadi idol di sini. Bisa-bisa aku dikatai kurcaci. Aku tak
paham idola di Korea bisa menjulang semua. Ck ck…”
“Sayang sekali.. padahal
Sooman-san mau membuat pengecualian untukmu. Dia sempat syok saat mengetahui umurmu
sekarang 24 tahun tapi seperti 14 tahun.”
“Itu semua sebenarnya karena
tinggiku. Lagian, kenapa audisi ini bebas begini sih? Biasanya kalau audisi ada
prosedur yang ketat, kan?” Chinen ingat dulu saat berusia 10 tahun ikut audisi
Johnny's Entertainment, ia benar-benar direpotkan oleh urusan formulir, surat
izin pihak orang tua atau wali, bahkan dari guru-guru.
Leader grup Tohoshinki itu
mendengus. “Kau tak tahu kalau SM setiap awal tahunnya membuka audisi terbuka
bagi siapa pun? Berbeda dengan audisi yang biasa. Walaupun gratis dan bebas,
tapi benar-benar disaring ketat. Sebenarnya aku bukan penguji audisi, tapi
karena dari tadi pagi sangat ramai, aku diminta membantu disini mumpung dapat
libur dari pembina wajib militerku. Sejauh ini baru 4 orang yang telah debut
yang berhasil lolos. Dan tadi, Sooman-san memberimu satu kesempatan.”
“Tidak, terimakasih.” Disahut
langsung.
“Kau yakin? SM Entertainment
adalah perusahaan musik terbesar di Asia. Kau tidak hanya terkenal di Jepang
saja nanti. Kau bisa mengadakan konser di luar Jepang dan terkenal di seluruh
dunia.”
Chinen mendengus, “U-know-san
menganggap dengan menjadi Hey!Say!JUMP itu cupu? Hanya terkenal di Jepang
begitu? Ahaha.. ya, tak apa, kita tak berharap terkenal di dunia juga. Karena
kita elit. Kita tidak sembarang menjual foto-foto, album maupun single kita.
Tidak ada yang gratis di kita untuk urusan keidolaan, ada pelanggaran berat
bagi siapapun yang ketahuan menyebarluaskan kegiatan para talent Johnny's di internet.
Kita tak seperti kalian yang dengan bebas pamer foto di internet dan memiliki
akun di sosial media. Siapapun yang mau foto kita, harus beli! Entah itu majalah atau photo set.
Kalau mau mendengarkan lagu kita secara puas juga harus beli! Entah itu beli
album atau single, tak seperti kalian yang setahuku di pamerkan di Youtube.
Tapi… kita tak pernah jual mahal bila bertemu fans. Tidak ada kasta ‘aku idola,
kau fan’ saat bertemu fans diluar kegiatan kita. Kita tidak akan memberi
kesempatan foto pada fans saat di luar kegiatan karena diluar itu, kita
sama-sama manusia, dan mereka pun tak terlalu gila untuk mengambil foto-foto
kita diluar kegiatan.”
Jeda sejenak. Chinen mengambil
nafas lalu mulai lanjut mengocah.
"Apa kalian, para idola
korea bisa berjalan-jalan santai di tempat umum dengan tenang? Tidak kan? Baru
keluar ketempat biasa dan penyamaran terbongkar, kalian akan langsung diserbu
seolah kalian adalah buronan. Fans melihat kita di tempat umum adalah hal
wajar, bahkan tanpa kita menyamar pun. Mereka masih akan kagum tapi tetap
menganggap kita manusia, bukan dewa yang harus diidolakan sedemikian rupa. Apa
kalian akan menaiki kendaraan umum bersama fans kalian? Tidak kan? Kalaupun ada, aku yakin jarang. Itu sebabnya aku sudah puas dan bangga menjadi idola Jepang.”
Yunho benar-benar terkejut dengan ocehan panjang Chinen. Ia tak bisa membalas kata-katanya, dan lagi, pemuda mungil itu ternyata kembali berceloteh.
“Dengar ya… Aku. Tidak. Akan.
Pernah. Keluar. Dari. Grupku. Apalagi. Jonis!” Chinen menekan semua
kata-katanya. “Disamping itu, kita adalah orang Jepang jadi guna utamanya
memang untuk menghibur warga kita, bukan warga negara orang lain!”
Lelaki tinggi disana akhirnya
terkekeh lalu tertawa lepas. “Lucu sekali. Kau menggemaskan Chinen-kun. Aku
rasa itu hanya alasan standarmu yang tak suka agensimu kusinggung hahah.. biar
kutanya yang serius, kenapa kau tidak mau keluar dari HSJ dan Jonis?”
Jeda cukup lama. Dua menit,
mungkin. Si pemuda mungil akhirnya menarik nafas panjang dan menghempaskannya
keras-keras. Lalu berucap dengan pasti, “Aku menyukai ARASHI dan mencintai
Ryosuke. Jika tanpa mereka, aku tidak akan jadi Idola. Selama mereka masih
berada di lingkup yang sama denganku, aku tidak akan sudi keluar dari dunia
idolaku di Jepang.”
Logis. Yunho menyeringai.
“Ah.. aku rasa aku paham. Baiklah akan kusampaikan alasanmu yang itu pada
Sooman-san.”
Chinen tersenyum puas, ia melirik
jam pada ponselnya. “Sepertinya aku harus keluar gedung ini sekarang.” Si
mungil mencopot cas-an yang tadi dipinjami Yunho. Batrenya baru 15 persen
tapi dirasa masih sanggup bertahan sampai sang kekasih datang menjemput.
“Omong-omong, toilet dimana ya?
Aku mau kesana dulu hehe…”
“Keluar dari sini, belok kiri.
Jalan terus lalu akan ada papan toilet di atas. Itu dekat dengan pintu keluar
bagian Timur kok.”
“Terimakasih banyak! Sekali lagi
terimakasih!” Chinen segera ngacir keluar untuk menuju kamar mandi. Kebelet
tak bisa ditahan!
.
Member termuda Hey!Say!JUMP itu masih berada di
dalam bilik kloset sampai ia mendengar suara bising laki-laki yang berarti ada
beberapa laki-laki masuk ke toilet. Tapi Chinen tidak mendengar pintu bilik kloset yang tertutup, berarti mereka hanya sekedar becermin atau mencuci tangan di westafel toilet.
Chinen memutuskan untuk keluar bilik, tapi baru beberapa langkah keluar dari tempat itu, kakinya seolah kebas tatkala
melihat pemuda tinggi menjulang berada di depannya, sedang tersenyum. Itu
benar-benar menjengkelkan bagi Chinen karena ia hanya se bawah ketiak pemuda
itu!
“Oh, anak yang ikut audisi
terbuka ya? Semangat ya peserta nomor 311!”
Chinen tak mengerti apa yang
dibicarakan si pemuda sampai tiba-tiba dari luar toilet terdengar teriakan. “Yha! Park
Chanyeol cepatlah! Kita akan telat melakukan wawancara!!”
Pemuda dihadapan Chinen itu
menyahut dan memberi gestur pamit pada Chinen.
Oh astaga aku harus lenyap
dari tempat ini! Kenapa ada banyak titan disini?! Sialan! Sialan! Bahkan staff
dan petugasnya punya postur tinggi-tinggi! Membuatku ingin mematahkan kaki
mereka! Dumel Chinen seraya keluar dari toilet dan menuju pintu keluar
gedung.
Di luar sana, Yamada Ryosuke,
kekasih hatinya sudah tiba. Bersama seorang wanita yang ia kenal sebagai rekan
kerjanya dalam peran Yuki Onna di serial Nube atau Bitch-sensei di movie
Ansatsu, siapa lagi kalau bukan Kang Jiyoung.
“YURI!” Yamada langsung menerjang
Chinen dengan pelukan erat setelah melihat si mungil keluar gedung. “Astaga aku
hampir mengamuk karena petugas-petugas ini tak mengizinkanku masuk mencarimu.
Mereka kira aku ingin ikut audisi dan katanya waktu audisi sudah lewat… tapi
persetan dengan audisi! Aku hanya ingin mencarimu!!”
Jiyoung terkekeh anggun.
“Sudahlah, kita lebih baik pergi dari sini, banyak mata-mata disini Yamada-kun.
Para fans SM family itu menyeramkan.”
Yamada mendengus. “Ya, aku tahu.
Ayo kembali ke hotel, Yuri. Sekarang kau harus ku gandeng 24 jam agar tidak
hilang lagi!”
Chinen hanya tertawa bahagia dan
selama di perjalanan, ia bercerita panjang lebar mengenai kejadiannya tadi
hingga bisa nyasar di gedung megah tersebut.
=:=
Malam hari, hotel of Seoul.
Chinen terbangun setelah tertidur
pasca bercinta. Ia melirik tubuhnya yang masih polos di bawah naungan selimut tebal.
Begitu juga pemuda disampingnya, Yamada Ryosuke. Sepertinya kekasih tembamnya
itu kelalahan karena tak biasa terbangun di tengah malam, padahal mereka baru
bercinta jam setengah 6 sore tadi.
Iseng, Chinen meraih HP di rak
kecil samping ranjangnya. Membuka akun palsunya pada aplikasi twitter. Ia
lantas cemberut membaca fanreport yang tersebar.
“Member Hey!Say!JUMP, Yamada
Ryosuke dan mantan member girlgroup korea KARA, Kang Jiyoung ternyata
berkencan!”
Langsung saja emosi Chinen
meluap. Ia memukul kepala Yamada dengan bantal yang ada. “Pokoknya tiap pergi
kemanapun kau harus menyamar, Ryosuke! Kau dan Jiyoung-san tidak boleh kerja
sama lagi!!!”
Yamada hanya menyahut dengan
leyehan dan igauan tak seberapa. Chinen baru benar-benar berhenti memukul
Yamada dengan bantal saat si tembam itu mengingaukan namanya.
“Ngg.. terimakasih telah menjadi
member Hey!Say!JUMP dan bertemu denganku, Yuri… ng.. eung~”
=THE END=
.
.
.
*iie.. iie dalam bahasa
Jepang artinya "nggak" tapi pelafalan *iye di korea artinya
“iya”`
*FF ini terinspirasi dari transletan Yamachii yang terbaru~! Ini dia
![]() |
| (c) @KiriKiri_Chan |


0 komentar:
Posting Komentar