Jumat, 17 Februari 2017

Fake.Eye.Saint

Diposting oleh Kiwokchwan di 08.34
“Ryosuke, semua barangmu sudah siap?”

“Sudah. Kau?”

“Sudah juga hehe… tenang saja, aku tak banyak bawa barang.”

“Coba sini ku data barang-barang yang perlu kau bawa. Ini masih musim dingin, Yuri. Kau harus bawa beberapa perlengkapan dingin yang lengkap.”

Chinen Yuri memutar bola matanya saat tiba-tiba saja tasnya digeledah oleh Yamada. Oh, kenapa juga kekasihnya itu selalu bersikap seperti ibunya? “Aku suka musim dingin, Ryo. Kau ingat aku bisa telanjang di area ski yang dingin?”

“Che, jangan ingatkan aku tentang kau yang seperti siluman salju,” Yamada mengacak-acak rambut kekasihnya lalu mulai membacakan list bawaan untuk Chinen.

“Dua mantel tebal musim dingin?”

“Sudah.”

“Beberapa pakaian hangat?”

“Sudah.”

“Kaus kaki hangat, syal, sarung tangan, masker, penutup telinga?”

“Sudah.”

“Kamera?”

“Sudah.”

“Ipad, Charger, Power Bank, Headphone?”

“Tentu Sudah~”

“Vitamin?”

“Sudah~”

“Kondom?”

Chinen tersentak, lalu menatap Yamada yang kini menyeringai usil. Chinen segera tertawa. “Kau yang harusnya bawa, Ryosuke!”

“Aku memang bawa.”

Chinen mencubit pipi elastis Yamada dengan gemas untuk kemudian mereka tertawa bersama.

“Besok adalah vacation paling romantis kita di tahun 2017. Bersiaplah, Yuri.”

“Ya. Terimakasih, Ryosuke…!”


Kiwok’s Present

YamaChii fanfiction

Yamada X Chinen © Johnny’s Entertainment

Fake.Eye.Saint © Kiting Bewok

Fluff, Romance, Comedy

R+
.
.
.

“Aku menyukai ARASHI dan mencintai Ryosuke. Jika tanpa mereka, aku tidak akan jadi Idol”
.
.
.
Feel free to read… ^_^

Libur tahun baru 2017, member Hey!Say!JUMP memiliki rencana masing-masing, termasuk dua tokoh utama kita, Yamada dan Chinen. Dari sebelum pergantian tahun 2017, center grup ternama di Jepang itu sudah menggebu-gebu mengajak kekasihnya liburan keluar negeri di dua Negara. Pertama ke Korea Selatan, lalu ke Guam.

“Jadi, empat hari kita akan ke Korea Selatan lalu tiga hari selanjutnya ke Guam.”

Chinen tertawa mendengar kekasihnya berujar dengan nada tegas. “Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, dan aku sudah ingat.”

Maa.. takutnya lupa. Kita hanya dikasih waktu libur seminggu oleh agensi jadi tidak boleh disia-siakan!” Yamada memeluk Chinen lagi—sebelumnya hanya merangkul—dan kini si pemuda tembam menyusupkan kepalanya pada leher sang kekasih.

“Geli~ Ryosuke~!!”

Yamada tak peduli dan terus mengusel leher Chinen dengan rambutnya, tangannya pun tak melepaskan rangkulan.

“Ryosukeee.. lakukan itu di hotel saat nanti menginap saja. Biar ada perasaan baru~” Chinen membujuk. Yamada mengangkat alisnya lalu tertawa. “Kau benar. Bersiap-siap ya?”

“Iya iya…” Chinen ikut tertawa.

=:=

Minggu pagi di Seoul. Hari ke dua setelah sampai di Korea.

“Ryosuke, kau yakin tidak perlu menyamar?” Chinen berbisik pelan, Yamada disebelahnya mengangguk mantap. “Tenang saja. Ini kunjunganku  yang ke empat kali di Korea dan disini tidak ada yang benar-benar mengenaliku sebagai idola. Jadi tenang saja~”

Chinen mengangguk-angguk. Pasangan itu kini berjalan berdampingan dengan tangan masuk ke dalam kantong mantel masing-masing, Yamada menahan mati-matian hasratnya untuk menggandeng Chinen di sana karena ia masih peduli etika. Hell, Korea Selatan lebih homopobia dibanding Jepang!

“Ryosuke, ayo beli cemilan!” ajak Chinen tiba-tiba. Yamada mengernyit, “di hotel tadi kan kita baru makan?”

“Ahh.. aku mau jajanan itu. Aku belum pernah merasakannya.. Itu~ yang dipinggir itu~ seperti sate!” tak ada yang tahan ketika Chinen merajuk, termasuk Yamada. Si mungil itu terlalu menggemaskan sehingga Yamada dengan senyum menawannya mengiyakan ajakan Chinen. “Baiklah.. ayo kita jajan disana.”

.

Silahkan~ Mau beli berapa banyak?” Wanita paruh baya yang menjual jajanan khas kaki lima di jalanan Seoul pagi itu berujar ramah. Chinen dengan semangatnya segera memilih-milih jajanan yang seperti sate sesukanya.

Sementara itu Yamada hanya berdiri di samping sang kekasih. Tangannya merogoh dalaman mantel yang ia kenakan lalu mengeluarkan buku kecil yang ternyata panduan praktis berbicara bahasa Korea. Setelah menemukan kalimat yang ia ingin ucapkan, pemuda modis itu berkata hati-hati saat Chinen selesai memilih. “semuanya.. harganya jadi berapa?”

“Ah.. orang asing ya? Semuanya jadi 45 won.”

Yamada tersenyum kemudian mengeluarkan isi dompetnya untuk mengambil uang 50 won. Ia bersyukur telah memecahkan uang dulu kemarin setelahnya tiba di Korea.

Terimakasih. Kalian pasangan serasi~” kata penjual tersebut seraya menyerahkan kembalian 5 won. Yamada dan Chinen hanya mengerti kata ‘terimakasih’ yang diucapkan tanpa tahu arti kalimat kedua. Namun Chinen seolah paham dan ikut bersuara ‘terimakasih’ dengan bahasa korea sambil menggandeng lengan Yamada.

Mereka berdua kembali melanjutkan kencan, sambil menyantap jajanan, tentu saja. Yamada mendengus gemas melihat kekasih mungilnya memonopoli jajanan yang dibelinya barusan. “Aku juga mau, Yuri~”

Chinen mengambil satu tusuk kemudian di arahkan pada Yamada. “Aaaaaa~”

“Am~”

Pemuda mungil itu terkejut melihat tingkah Yamada yang membuka mulutnya seperti anak umur lima tahun sedang disuapi seorang ibu. Gaya mengunyahnya pun dibuat-buat seperti bocah tapi bisa terlihat natural. Huh! dasar aktor! "Ryosuke sok imut,"

“Memang harus imut, biar nggak kalah imut sama pacar sendiri~” Yamada menyeka sedikit bumbu yang berada di luar bibir kekasihnya sambil tersenyum. Chinen meringis manis diperlakukan demikian.

“Omong-omong, kenapa harus lihat kamus? Kan ada aplikasi penerjemah omongan di HP.” Pemuda imut disana kembali asik memakan sambil berceloteh, sontak membuat sang kekasih memasang tampang cemberut.

“Aku saja waktu di Prancis dengan Yuya tak pernah buka-buka kamus. Palingan peta. Kalau untuk komunikasi kan ada aplikasi. Lebih simpel!”

Pemuda imut itu tak menyadari raut Yamada yang semakin muram, setelah menoleh, baru ia sadar.

“Aku kan tidak tahu cara pakai aplikasi itu!”

Chinen menepuk dahinya saat mendapat gerutuan. Ah, ia baru ingat. Yamada Ryosuke adalah kekasihnya yang gagap teknologi. Sehingga yang si mungil lakukan untuk menghilangkan raut muram Yamada adalah mengambil satu tusuk sate lagi dan disuapkan dengan mesra padanya.

“Oh, kita harus selfie, Yuri!” seru Yamada ditengah kunyahan. Ia cepat-cepat mengambil HP di saku celananya.

Saat Chinen siap dengan pose menggemaskannya, Yamada tiba-tiba mendengus kesal. “Batreku habis!” Raut imut Chinen langsung lenyap.

“Kau ini! Sudah kubilang jangan lupa men-charge HP! Untung aku bawa Powerbank!” Chinen mengambil powerbank di dalam mantelnya lalu menyerahkan pada Yamada. Yang menerima justru mengesah sambil memberi alasan. “Kemarin HPku sibuk karena pihak agensi dan sutradara Cain & Abel terus-terusan menghubungiku, jadi tak sempat ku charge!”

“Kamera?”

“Bukannya kau yang seharusnya bawa?” Yamada memicingkan mata pada sang kekasih. Chinen menekan kedua bibirnya saat ingat bahwa kamera itu tertinggal di hotel.

“Yasudahlah, kita selfie pakai HPku.” kesah si mungil akhirnya.

“Um~”

Seperti biasa, poto selfie pasangan termanis di Hey!Say!JUMP itu sungguh menawan. Yamada berada di belakang Chinen dengan kedua tangan yang memeluk si mungil sembari mukanya mengusel leher Chinen, sedangkan Chinen berpose duck face dengan angel seperti mencium kepala Yamada.

“Ih lucu~” Chinen terkekeh puas melihat hasilnya. “Nanti munculkan ini ke Think Note ya!”

Yamada mengangguk simpel dan kembali meminta berselfie ria.

.

Pusat perbelanjaan baju, Myeongdong.

Yamada—seperti yang diketahui adalah seorang fashionita—dengan semangat menggandeng Chinen untuk memilih berbagai macam baju di salah satu toko setelah menghabiskan jajanan.

“Astaga, Ryosuke! Ini tak beda jauh dengan Harajuku. Bagusan di Harajuku lagi!” bibir Chinen mengerucut. “Diamlah, Chibi. Kau harus tahu baju-baju disini sangat elegan tapi murah. Ayo, kau juga harus memilih!”

Sayangnya, Chinen bukan seorang yang gila baju. Oh astaga bajunya saja mayoritas hanya kaos oblong putih dan celana jins robek-robek. Semua baju modis yang biasa ia pakai kebanyakan adalah milik pengiklan atau agensi dan ia hanya dipinjamkan!

“Ryosuke saja yang belanja…”

Yamada sepertinya sudah terlanjur semangat untuk belanja sehingga tidak mendengar apa yang Chinen ucapkan. Pemuda modis itu bahkan telah menjelajah lebih dalam area toko dan meninggalkan Chinen di depan.

Merasa terabaikan, Chinen meraih si ponsel pintar dan segera membuka aplikasi game kesayangannya. Apalagi kalau bukan Pokemon Go.

“Yes! Yes! Aku dapat banyak hari ini hahaha~” pemuda mungil itu mengangkat wajah dengan raut bahagia. Lehernya terasa sangat pegal karena lama menunduk memandang layar HP.

“Ahh.. tak kusangka monster langka banyak disini!” tapi setelah sadar akan keadaan sekeliling, rautnya berubah pias.

“ASTAGA! Ini dimana!?” Chinen memekik panik. Ia sama sekali tidak sadar telah memisahkan diri dari Ryosukenya dan berjalan jauh sendirian di negeri orang. Apalagi itu kunjungan pertamanya ke Korea. Perasaannya langsung kalut.

“Ryosuke!” Chinen cepat-cepat menunduk kembali untuk menatap HPnya. Ia segera keluar dari aplikasi Pokemon Go dan beralih pada contact person. Baru akan menelpon kekasihnya, layar HP Chinen tiba-tiba meredup dan penanda batre mengingatkan tinggal 5% lagi.

“Astaga aku lupa kalau menyetel peringatan batre lemah di 5% bukan di 15%!” Chinen semakin panik dan merogoh kasar dalaman mantelnya, mencari powerbank. Setelah mengorek-ngorek isi mantel namun tak menemukan apa yang ia cari, si mungil langsung mengerang frustasi. “POWERBANKKU DI RYOSUKE!!”

Chinen nyaris menangis. HPnya kini mati total. Dan ia sama sekali tak tahu arah. Ia berjalan jauh dari tempatnya sadar telah tersesat tadi namun sepertinya malah semakin nyasar.

“Oh ya Tuhan.. aku dimana…” Satu-satunya yang Chinen ingin lakukan sekarang adalah mencari telpon umum. Tapi tetap saja merasa percuma, ia tak membawa dompet apalagi uang. Hingga kemudian ia melihat sedikit keramaian pada sebuah tenda-stand-di dekat gedung yang megah, Chinen bergegas ke sana berharap bisa meminjam charger-an atau powerbank atau apapun itu yang membuat HPnya hidup kembali.

“Permisi… a-aku.. errr.. apakah aku bisa pinjam pengisi batre HP?” Chinen berucap terbata-bata. Efek panik dan juga takut. Bodohnya dia malah berujar dengan bahasa ibu padahal sedang di negara orang.

Ada yang bisa dibantu?” seorang wanita dan lelaki paruh baya yang menjaga stand itu tersenyum. Diketahui tenda tersebut menjual semacam uchiwa, goodies, dan banner-benner kecil bertuliskan hangeul yang Chinen tak mengerti artinya. “Ah! Kau mau ikut audisi ya? Baiklah, ini jimat keberuntungannmu. Gratis kalau hanya itu!”

Chinen melongo hebat karena wanita disana justru memberikannya kain—semacam jimat—dan bukannya charger-an HP. “Iie.. iie!! Aku butuh cas-casan HP!”

Iya? Oh.. kalau begitu kau harus segera masuk ke dalam sana. Audisi akan tutup jam 2 siang dan sebentar lagi jam 2!”

Audisi apaan!? Chinen frustasi dalam hati. “Aku tidak ingin ikut audisi, aku hanya butuh—“

“Kau tak tahu lokasi audisi? Ah, pantas saja, kau orang asing. Tenang.. jangan panik. Ikuti anakku ini dan dia akan mengantarmu ke sana.” Kata lelaki paruh baya sambil memanggil anaknya yang juga berada disekitar tenda. Anak laki-laki berumur sekitar 9 tahun itu tiba-tiba menggandeng Chinen dan menariknya cukup kencang.

“Nah, ini gedungnya! Sana masuk! Ini hari terakhir dan sudah sepi sejak tadi karena kebanyakan dari mereka sudah pasrah di hari pertama dan kedua! Semoga beruntung~”

Chinen sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan bocah itu. Demi Tuhan ia hanya butuh cas-casan!

“Iphone! Kau tahu iphone? Iphone ku off jadi aku harus on kan!”

Namanya juga bocah. Mana paham off atau on. Yang ia bisa tangkap hanyalah kata Iphone sehingga ia menyahut, “Ya, kalau kau lolos audisi dan jadi idol kau bisa saja membeli Iphone terkeren yang ada di dunia!”

Chinen mulai menangis dalam hati. Ia pasrah saja ketika si bocah mendorong punggungnya untuk masuk ke dalam gedung. Bahkan si mungil itu tidak tahu gedung apa yang ia masuki. Sampai tiba-tiba ada dua orang yang sepertinya adalah petugas keamanan memasangkan semacam nomor peserta di bajunya. Chinen tampak tidak asing dengan logo pada nomor yang kini tertempel di bajunya.

“SM Entertainment?”

“Silahkan ikuti dia dan masuki ruangan yang ditunjuk.” Kata salah satu petugas. Entah kenapa kaki Chinen seperti pasrah melangkah. Ketika petugas satunya menunjukkan ruangan yang harus ia masuki, Chinen mendengus dan akhirnya masuk.

Astaga, aku sudah jadi idola untuk apa di audisi seperti ini!? Benar-benar konyol! Rutuk Chinen dalam hati sambil berjalan kasar ketengah-tengah ruangan. Saat dirinya menghadap ke kanan, ia melihat ada empat orang yang dirasa sebagai penguji audisi. Melihat mereka, Chinen jadi teringat masa-masa audisinya 15 tahun yang lalu, di tahun 2003.

“Nah, silahkan menari dahulu, lalu menyanyi, dan terakhir unjuk bakat. Boleh alat musik, ekting, atau apapun yang merupakan bakatmu. kebutuhan bakatmu yang berkaitan dengan ‘hiburan’ bisa kami siapkan dengan mudah.”

Chinen terpaku diam, tak mengerti apa yang diucapkan kakek-kakek yang duduk di dua dari kanan pandangannya.

Oh kau tak mengerti? Orang asing rupanya. Karena sesi perkenalan ada di akhir setelah unjuk bakat, kau harus menari dulu. Paham?”

“Ah…” Chinen menangkap kalimat “dance” yang diucapkan si kakek tadi karena baru saja ia berujar dengan bahasa inggris. Si pemuda mungil mengangguk enteng. Tiba-tiba terdengar bunyi musik beat yang menggema di ruangan itu dan tentu saja Chinen tak bodoh bahwa itu artinya ia harus menari mengikuti tempo beat yang disuguhkan.

Ayolah, yang benar saja, Chinen adalah yang terbaik dalam hal dance di grupnya. Dengan tipe lagu beat yang diberikan sekarang ia bisa bebas menari secara lihai dan lincah.

Saat musik berhenti, gerakan Chinen pun terhenti. Ia melihat si kakek seperti tersenyum, entah itu senyum apa Chinen tak mau ambil pusing. Saat matanya bersibobrok dengan penguji yang paling kiri, alisnya agak bertaut. Sepertinya dia tidak asing… siapa ya?

“Nah, selanjutnya menyanyi.”

Apa salah satu grup korea yang pernah ke Jepang dan promosi di acara musik kita ya?

“Nak? Hallo~! Kau harus menyanyi sekarang…”

“Ah, iya!” Chinen akhirnya tersadar dari lamunan saat si kakek kembali berbicara bahasa inggris dengan menekankan kata “Singing”. Chinen mengambil posisi nyaman lalu seolah membuat satu tangannya sebagai mic.

“You are my soul soul! itsumo sugu sobani aru! Yuzurenai yo daremo jama dekinai. Karadajuu ni kaze wo atsumete makiokose, Arashi! Arashi! For dream~!”

Tentu saja, seorang Chinen Yuri akan menyanyikan lagu idolanya. Bahkan ia menyanyikan bagian rap dengan fasih meski tidak dengan gaya yang cool seperti seorang rapper. Ketika memasuki reff kembali, Chinen menyanyikannya dengan perasaan senang. Tak peduli suaranya secempreng apa saat menyanyikan itu.

Ke empat penguji tersenyum bahkan terkekeh berjamaah.

“Ahh.. orang Jepang rupanya.” Penguji perempuan satu-satunya yang duduk di sebelah kanan si kakek (alias yang paling kanan dari pandangan Chinen) berkata dengan bahasa Jepang. Chinen seakan melihat ibu peri yang akan memberi secercah bantuan.

“Iya! Aku orang Jepang dan—“

Belum boleh perkenalan nak, kau masih harus menunjukkan bakatmu.” Ucapkan Chinen dipotong oleh si kakek menggunkan bahasa Inggris kembali. Chinen merutuk dalam hati.

“Nah, silahkan tunjukan bakat lainmu selain menari dan menyanyi!” katanya lagi sambil menekankan kata “ability” yang sama sekali tidak diketahui Chinen apa maksudnya. Aku harus menari sambil bernyanyi disaat yang bersamaan begitu?

“Kemampuanmu yang lain, nak. Bakat lain selain menari dan menyanyi.” Wanita tadi lalu menerjemahkan dalam bahasa Jepang. Chinen ber “Ah..” ria sambil tersenyum. Pemuda mungil itu lantas mengambil jarak untuk kemudian menunjukan atraksinya. Apalagi kalau bukan back flip. Dan kali itu, Chinen melakukannya dengan tangan tidak menyentuh lantai sama sekali. Badannya seperti berputar di udara tanpa ada tangan yang menyanggah. Yang kedua baru Chinen melakukan back flip dengan menggunakan satu tangan sebanyak dua kali, lalu salto ke depan sebanyak dua kali juga.

“WOAH!!” mereka berempat terkejut jamaah. Tentu saja harus terkejut, batin Chinen bangga.

“Hebat! Kau luar biasa!” Wanita disana bertepuk tangan. Chinen hanya meringis.

“Ah, sepertinya yang paling terakhir ini tidak mengecewakan. Benar begitu, Sooman-seonsaengnim?” lelaki kedua di sebelah kiri si kakek berujar dalam bahasa korea. Nadanya sarat akan kebanggaan.

“Kau benar. Nah, sekarang waktunya bertanya. Siapa namamu, Nak? Dan berapa umurmu? Tiga belas tahun?” kakek tadi kembali berucap dengan bahasa korea, Chinen sama sekali tak mengerti. Dan juga, matanya hanya fokus memandang lelaki yang paling kiri yang sedang memandangnya juga.

biar aku yang bicara. Sepertinya dia sama sekali tak bisa bahasa Korea.” Si wanita kembali angkat suara. “Hallo~ Nak, siapa namamu?”

Tak dijawab. Chinen masih bergeming. Ketiga penguji tampaknya paham akan pandangan Chinen yang terarah pada lelaki yang paling kiri.

Yunho-ya, kau kenapa? Kalian kenapa saling pandang?” lelaki muda kedua bertanya. Tiba-tiba saja si penguji paling kiri dan Chinen berteriak kompak.

“AHH..!” / “AHH..!

“Kau, Chinen Yuri bukan!?” kata lelaki itu.

“Iya. Dan kau pasti member Tohoshinki… U-know-san?”

“Ya, kau benar.”

“Ahh.. pantas dari tadi aku merasa wajahmu tak asing. Banner terbesar Tohoshinki terpasang di bawah banner Hey!Say!JUMP dan terpampang di pusat kota Tokyo beberapa tahun lalu.” Chinen terkekeh.

“Aku juga merasa tak asing denganmu. Kita pernah satu acara di acara Music Station tahun 2012, ingat?”

“Ingat… ingat…! Aku ingat jelas karena hampir semua fans di studio tiba-tiba terlihat seperti membawa obor berwarna merah ahaha... dan kita juga pernah nyaris rebutan Tokyo Dome untuk mengadakan konser karena ada miskomunikasi antar agensi.”

“Kau masih ingat dengan yang itu ahaha.. tapi akhirnya Tohoshinki mengalah.”

“Tentu saja, kami tuan rumahnya hehe..”

Penguji tersebut—yang ternyata adalah leader Tohoshinki, U-know Yunho—kini menoleh pada si wanita. “BOA-san, kau tahu grup idol Hey!Say!JUMP kan? Kau pernah satu acara juga dengan grup itu dulu. Dia salah satu membernya.”

“Astaga.. Hey!Say!JUMP? Yang para membernya masih belasan tahun tapi sudah debut itu?” BOA tak lain juga terkejut.

Chinen terkekeh semakin keras. “Aku debut umur 13 tahun waktu itu hehe…”

“13 tahun!? Berarti sekarang…”

“Tahun ini akan 24 tahun hehe..”

BOA dan Yunho semakin terbelalak. Antara kaget dan takjub. 24 tahun tapi ukuran tubuh dan wajahnya nyaris tidak berubah seperti dulu! Ah, kalau wajah sepertinya agak berubah karena Chinen lebih maskulin sekarang. Tapi tetap saja lebih banyak imutnya. Apalagi tingginya tak bertambah pesat sejak debut dulu. Ia debut dengan tinggi 149 cm dan kini tingginya hanya 159 cm, masih terlihat mungil untuk ukuran laki-laki.

“Bisa kalian jelaskan ada apa sebenarnya? Kenapa terkejut begitu?” kakek disana buka suara, terdengar kesal. BOA lantas menjelaskan kepada pria bangka itu, sementara Yunho menjelaskan pada penguji lelaki satunya yang diketahui bernama Kangta dalam bahasa korea.

“lalu? Dia keluar dari grupnya dan ingin mendaftar di SM?” Kangta mengernyit kagum. “Kalau pun mau mendaftar itu sangat telat. Maksimal daftar itu umur 20 tahun. Meski sebenarnya bakatnya luar biasa.”

Chinen tak mengerti apa yang diomongankan sehingga ia menatap Yunho berharap diterjemahkan namun BOA lebih dulu bertanya. “Apa yang membuatmu mendaftar audisi di sini? Apa kau sudah keluar dari grup dan agensimu?”

Chinen tersentak. “Keluar dari Johnny’s? Sama sekali tidak! Aku hanya tersesat hingga akhirnya disuruh masuk kesini. Aku sama sekali tak minat ikut audisi ini, sungguh!”

Yang mengerti bahasa Jepang terdiam. BOA kemudian berbicara dengan sangat hati-hati dalam bahasa korea kepada sang kakek sehingga Chinen bisa melihat raut pria tua bangka itu kecewa. Si mungil kemudian melangkah maju, mendekati meja penguji tepatnya ke bagian yang paling kiri.

“Err.. U-know-san, apa aku boleh meminjam charger-an untuk Iphone 6? Aku sangat butuh itu untuk mengaktifkan HP-ku. Nanti aku jelaskan semuanya mengapa aku bisa datang kesini.” Ucap Chinen dengan penggunaan bahasa sopan. Yunho nampak berbisik meminta izin kepada si kakek hingga Chinen melihat si tua itu mengangguk dan balas berbisik sebelum akhirnya Yunho berdiri menghampiri Chinen.

“Ikuti aku.” Ujarnya dengan suara bariton. Chinen mengikuti dengan was-was. Ada perasaan kesal ketika berjalan mengikuti lelaki itu. Astaga aku saja cuma se lehernya Yutti! Dan sekarang aku cuma setinggi pundaknya? Menyebalkan!

Chinen rupanya diajak ke ruang staff. Saat Yunho memberikan benda yang diinginkan Chinen, si mungil itu dengan segera mengaktifkan HPnya.

“20 panggilan tak terjawab dan lebih dari dari 10 pesan. Wow,” Yunho tak sengaja melihatnya. Chinen mendengus, “jangan mentang-mentang tinggi jadi bisa lihat privasi orang hanya dengan menunduk.”

“Ahaha.. maafkan aku,”

Si mungil tak ambil pusing lagi dan segera menelpon kekasihnya.

“ASTAGA CHINEN YURI KAU DIMANA SEKARANG HAH!?”

“Maaf, Ryosuke. Aku tadi tersesat saat memainkan Pokemon Go.”

“Persetan dengan game itu, Yuri! Kau dimana sekarang?! Jantungku benar-benar mau keluar sanking paniknya!!”

Chinen tersenyum mendengar perkataan sang kekasih. Ia lalu mendongak, menatap Yunho disampingnya. “ini dimana?”

“Di gedung SM Entertainment bagian timur.” Chinen segera menyampaikan informasi itu pada Yamada. Namun reaksi sang kekasih sungguh memekakan telinga.

“APA?! SM?! UNTUK APA KAU KESANA? MAU MENDAFTAR?!”

Chinen menggeleng kencang-kencang. “Daftar apaan sih! Nggak! Aku sudah bilang hanya tersesat. Nanti saja ku ceritakan. Jemput aku sekarang!”

“Baiklah, kau tunggu diluar gedung itu! Aku akan kesana secepat mungkin bersama Jiyoung-san.”

“Oh, Kang Jiyoung-san bersamamu sekarang?”

“Iya, dia juga mendapat libur katanya makanya pulang ke Korea dan aku langsung menghubunginya saat kau menghilang. dasar Chibi!”

“Maaf…”

“Yasudah tutup telponnya! Aku akan segera menjemputmu!”

Chinen menyudahi sambungannya. Kemudian seperti yang sudah ia janjikan, menjelaskan dengan rinci mengapa ia bisa berada di gedung itu kepada lelaki menjulang disampingnya.

“Tersesat dan salah paham dengan orang hingga sampai ke sini. Semuanya karena kau diabaikan si center Hey!Say!JUMP itu jadi kau bermain memilih main game petaka?” simpul Yunho. Chinen mengangguk lemas.

“Astaga kepalaku pusing sekarang karena kebanyakan back flip.” Keluh Chinen sambil duduk di kursi terdekat. Yunho menyerahkan minum kepada Chinen. “Minumlah.”

“Terimakasih.”

“Oh ya, kau kelahiran 1993?”

Chinen yang masih meneguk minum hanya mengangguk.

“Seumuran dengan Taemin. Kau kenal? Dia salah satu talent kami yang debut paling muda. Yah.. walau tidak semuda dirimu.”

“Berapa usia debutnya?”

“15 tahun.”

Chinen mendengus ringan. “Umur segitu aku sedang membuat single ke empat.”

Yunho memutar dua bola matanya. “Omong-omong, kau benar-benar tidak ingin keluar dari agensimu?”

“Tentu saja tidak! Astaga, Hey!Say!JUMP adalah hidupku sekarang!” sahut Chinen secepat kilat. “Lagipula, aku tidak sudi menjadi idol di sini. Bisa-bisa aku dikatai kurcaci. Aku tak paham idola di Korea bisa menjulang semua. Ck ck…”

“Sayang sekali.. padahal Sooman-san mau membuat pengecualian untukmu. Dia sempat syok saat mengetahui umurmu sekarang 24 tahun tapi seperti 14 tahun.”

“Itu semua sebenarnya karena tinggiku. Lagian, kenapa audisi ini bebas begini sih? Biasanya kalau audisi ada prosedur yang ketat, kan?” Chinen ingat dulu saat berusia 10 tahun ikut audisi Johnny's Entertainment, ia benar-benar direpotkan oleh urusan formulir, surat izin pihak orang tua atau wali, bahkan dari guru-guru.

Leader grup Tohoshinki itu mendengus. “Kau tak tahu kalau SM setiap awal tahunnya membuka audisi terbuka bagi siapa pun? Berbeda dengan audisi yang biasa. Walaupun gratis dan bebas, tapi benar-benar disaring ketat. Sebenarnya aku bukan penguji audisi, tapi karena dari tadi pagi sangat ramai, aku diminta membantu disini mumpung dapat libur dari pembina wajib militerku. Sejauh ini baru 4 orang yang telah debut yang berhasil lolos. Dan tadi, Sooman-san memberimu satu kesempatan.”

“Tidak, terimakasih.” Disahut langsung.

“Kau yakin? SM Entertainment adalah perusahaan musik terbesar di Asia. Kau tidak hanya terkenal di Jepang saja nanti. Kau bisa mengadakan konser di luar Jepang dan terkenal di seluruh dunia.”

Chinen mendengus, “U-know-san menganggap dengan menjadi Hey!Say!JUMP itu cupu? Hanya terkenal di Jepang begitu? Ahaha.. ya, tak apa, kita tak berharap terkenal di dunia juga. Karena kita elit. Kita tidak sembarang menjual foto-foto, album maupun single kita. Tidak ada yang gratis di kita untuk urusan keidolaan, ada pelanggaran berat bagi siapapun yang ketahuan menyebarluaskan kegiatan para talent Johnny's di internet. Kita tak seperti kalian yang dengan bebas pamer foto di internet dan memiliki akun di sosial media. Siapapun yang mau foto kita, harus beli! Entah itu majalah atau photo set. Kalau mau mendengarkan lagu kita secara puas juga harus beli! Entah itu beli album atau single, tak seperti kalian yang setahuku di pamerkan di Youtube. Tapi… kita tak pernah jual mahal bila bertemu fans. Tidak ada kasta ‘aku idola, kau fan’ saat bertemu fans diluar kegiatan kita. Kita tidak akan memberi kesempatan foto pada fans saat di luar kegiatan karena diluar itu, kita sama-sama manusia, dan mereka pun tak terlalu gila untuk mengambil foto-foto kita diluar kegiatan.”

Jeda sejenak. Chinen mengambil nafas lalu mulai lanjut mengocah.

"Apa kalian, para idola korea bisa berjalan-jalan santai di tempat umum dengan tenang? Tidak kan? Baru keluar ketempat biasa dan penyamaran terbongkar, kalian akan langsung diserbu seolah kalian adalah buronan. Fans melihat kita di tempat umum adalah hal wajar, bahkan tanpa kita menyamar pun. Mereka masih akan kagum tapi tetap menganggap kita manusia, bukan dewa yang harus diidolakan sedemikian rupa. Apa kalian akan menaiki kendaraan umum bersama fans kalian? Tidak kan? Kalaupun ada, aku yakin jarang. Itu sebabnya aku sudah puas dan bangga menjadi idola Jepang.”

Yunho benar-benar terkejut dengan ocehan panjang Chinen. Ia tak bisa membalas kata-katanya, dan lagi, pemuda mungil itu ternyata kembali berceloteh.

“Dengar ya… Aku. Tidak. Akan. Pernah. Keluar. Dari. Grupku. Apalagi. Jonis!” Chinen menekan semua kata-katanya. “Disamping itu, kita adalah orang Jepang jadi guna utamanya memang untuk menghibur warga kita, bukan warga negara orang lain!”

Lelaki tinggi disana akhirnya terkekeh lalu tertawa lepas. “Lucu sekali. Kau menggemaskan Chinen-kun. Aku rasa itu hanya alasan standarmu yang tak suka agensimu kusinggung hahah.. biar kutanya yang serius, kenapa kau tidak mau keluar dari HSJ dan Jonis?”

Jeda cukup lama. Dua menit, mungkin. Si pemuda mungil akhirnya menarik nafas panjang dan menghempaskannya keras-keras. Lalu berucap dengan pasti, “Aku menyukai ARASHI dan mencintai Ryosuke. Jika tanpa mereka, aku tidak akan jadi Idola. Selama mereka masih berada di lingkup yang sama denganku, aku tidak akan sudi keluar dari dunia idolaku di Jepang.”

Logis. Yunho menyeringai. “Ah.. aku rasa aku paham. Baiklah akan kusampaikan alasanmu yang itu pada Sooman-san.”

Chinen tersenyum puas, ia melirik jam pada ponselnya. “Sepertinya aku harus keluar gedung ini sekarang.” Si mungil mencopot cas-an yang tadi dipinjami Yunho. Batrenya baru 15 persen tapi dirasa masih sanggup bertahan sampai sang kekasih datang menjemput.

“Omong-omong, toilet dimana ya? Aku mau kesana dulu hehe…”

“Keluar dari sini, belok kiri. Jalan terus lalu akan ada papan toilet di atas. Itu dekat dengan pintu keluar bagian Timur kok.”

“Terimakasih banyak! Sekali lagi terimakasih!” Chinen segera ngacir keluar untuk menuju kamar mandi. Kebelet tak bisa ditahan!

.

Member termuda Hey!Say!JUMP itu masih berada di dalam bilik kloset sampai ia mendengar suara bising laki-laki yang berarti ada beberapa laki-laki masuk ke toilet. Tapi Chinen tidak mendengar pintu bilik kloset yang tertutup, berarti mereka hanya sekedar becermin atau mencuci tangan di westafel toilet.

Chinen memutuskan untuk keluar bilik, tapi baru beberapa langkah keluar dari tempat itu, kakinya seolah kebas tatkala melihat pemuda tinggi menjulang berada di depannya, sedang tersenyum. Itu benar-benar menjengkelkan bagi Chinen karena ia hanya se bawah ketiak pemuda itu!

“Oh, anak yang ikut audisi terbuka ya? Semangat ya peserta nomor 311!”

Chinen tak mengerti apa yang dibicarakan si pemuda sampai tiba-tiba dari luar toilet terdengar teriakan. “Yha! Park Chanyeol cepatlah! Kita akan telat melakukan wawancara!!”

Pemuda dihadapan Chinen itu menyahut dan memberi gestur pamit pada Chinen.

Oh astaga aku harus lenyap dari tempat ini! Kenapa ada banyak titan disini?! Sialan! Sialan! Bahkan staff dan petugasnya punya postur tinggi-tinggi! Membuatku ingin mematahkan kaki mereka! Dumel Chinen seraya keluar dari toilet dan menuju pintu keluar gedung.

Di luar sana, Yamada Ryosuke, kekasih hatinya sudah tiba. Bersama seorang wanita yang ia kenal sebagai rekan kerjanya dalam peran Yuki Onna di serial Nube atau Bitch-sensei di movie Ansatsu, siapa lagi kalau bukan Kang Jiyoung.

“YURI!” Yamada langsung menerjang Chinen dengan pelukan erat setelah melihat si mungil keluar gedung. “Astaga aku hampir mengamuk karena petugas-petugas ini tak mengizinkanku masuk mencarimu. Mereka kira aku ingin ikut audisi dan katanya waktu audisi sudah lewat… tapi persetan dengan audisi! Aku hanya ingin mencarimu!!”

Jiyoung terkekeh anggun. “Sudahlah, kita lebih baik pergi dari sini, banyak mata-mata disini Yamada-kun. Para fans SM family itu menyeramkan.”

Yamada mendengus. “Ya, aku tahu. Ayo kembali ke hotel, Yuri. Sekarang kau harus ku gandeng 24 jam agar tidak hilang lagi!”

Chinen hanya tertawa bahagia dan selama di perjalanan, ia bercerita panjang lebar mengenai kejadiannya tadi hingga bisa nyasar di gedung megah tersebut.

=:=

Malam hari, hotel of Seoul.

Chinen terbangun setelah tertidur pasca bercinta. Ia melirik tubuhnya yang masih polos di bawah naungan selimut tebal. Begitu juga pemuda disampingnya, Yamada Ryosuke. Sepertinya kekasih tembamnya itu kelalahan karena tak biasa terbangun di tengah malam, padahal mereka baru bercinta jam setengah 6 sore tadi.

Iseng, Chinen meraih HP di rak kecil samping ranjangnya. Membuka akun palsunya pada aplikasi twitter. Ia lantas cemberut membaca fanreport yang tersebar.

“Member Hey!Say!JUMP, Yamada Ryosuke dan mantan member girlgroup korea KARA, Kang Jiyoung ternyata berkencan!”

Langsung saja emosi Chinen meluap. Ia memukul kepala Yamada dengan bantal yang ada. “Pokoknya tiap pergi kemanapun kau harus menyamar, Ryosuke! Kau dan Jiyoung-san tidak boleh kerja sama lagi!!!”

Yamada hanya menyahut dengan leyehan dan igauan tak seberapa. Chinen baru benar-benar berhenti memukul Yamada dengan bantal saat si tembam itu mengingaukan namanya.

“Ngg.. terimakasih telah menjadi member Hey!Say!JUMP dan bertemu denganku, Yuri… ng.. eung~”


=THE END=
.
.
.

A/N : SAYA NGARANG BEBAS HAHAHAHAHAH INI MURNI FF JADI SAYA SAMSEK GA RESERCH DULU TENTANG AUDISI2 DI KOREA ITU KEK GIMANA BIG LOLLLL. Ini murni bikinan sendiri, maapin kalau sotak ya ahihi… pokoknya imajinasi saya kalo yama ngajak chinen ke korea itu begini haha. saya males nyari-nyari info, macem jarak toko baju-gedung sm, bagian2 gedung, taun kapan tvxq ama hsj pernah se MSUIT bareng ato rebutan Tokyo Dome bareng #emangpernahapaAHAHAHA pernahin ajalah hehe. Rencananya buat ngehibur doang ini mah. gada maksud ngejelekin idola sebelah sih U.U kalo kesinggung ya maap EHE :” btw, idol cowok sana tingginya banyak yang 180 keatas..... #pelukYamaChii MAKASIH YANG UDAH MO BACAAA~ maapin ga romantis haha :P

*iie.. iie dalam bahasa Jepang artinya "nggak" tapi pelafalan *iye di korea artinya “iya”`

*FF ini terinspirasi dari transletan Yamachii yang terbaru~! Ini dia

(c) @KiriKiri_Chan

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review