Judul: lagi seneng sama lagu barunya
mereka jadi pake judul itu wkwk XD
Author: Kiwok
Pair: YamaChii FOREVER!
Genre: Romance, Fluff
WARNING! BAHASA SUKA SUKA!
Summary: Hanya satu kalimat. Dan itu
berhasil memusnahkan rasa malas Chinen untuk kencan dengan Yamada.
Projek buat ulang tahun Yamada
Ryosuke.
Cekidot!
.
.
.
Rabu siang di musim semi. Mungkin hari ini bukan waktu liburan bagi
kebanyakan orang, namun sembilan idol ternama di Jepang nampaknya sedang mendapat hadiah.
Yuri! Chinen Yuri! Buka dan baca pesanku~!!!
Salah satu dari sembilan idol yang paling muda menggeliat di atas kasurnya. Ia mengerang mendengar ponselnya berdering, tangan cendiknya segera merayap pada meja kecil disebelah kasur untuk meraih ponsel pintarnya yang beringtone norak.
“Sial. Diutak-atik lagi!” Dumelnya seraya menyapu layar ponsel, segera membaca pemberitahuan pesan.
Aku di depan rumahmu. Keluar dan bukakan aku pintu.
Isi pesan tersebut kontan membuat Chinen sumringah. Ia segera
mengetik kilat, tak lupa membubuhi emotikon andalannya.
Masuk aja. Langsung naik ke kamarku. Males turun :P
.
.
.
“Hah!” Yamada Ryosuke, idol terkenal yang memiliki imej pangeran tapi
gendut dan pendek itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat membaca balasan
pesannya. Ia sekarang berada tepat didepan pintu masuk kediaman Chinen Yuri,
sahabat mesranya, kekasih abadinya, orang yang selalu ia nafkahi dengan maksud
berkunjung karena ‘janji’ yang dibuatnya untuk datang sendiri, bukan bersama
Keito.
Yamada meminta Chinen untuk membukakannya pintu dan menyambutnya dengan
mesra, karena itu dia mengirimnya SMS dulu. Tapi malah disuruh ‘masuk aja’. Apa-apaan itu?!
Yamada mendengus seraya memencet bel.
“Iya sebentar~” terdengar suara melengking yang feminim, sang idol tahu
benar suara siapa itu.
“konnichiwa, Saaya-nee..”
Chinen Saaya, kakak kandung Chinen Yuri yang memiliki wajah mirip dengan
sang kekasih menyambut dengan ramah. “Oh, Yamada-kun. Ayo masuk!”
Itu bukan yang pertama atau baru-baru ini Yamada main kerumah Chinen. Itu yang ke puluhan kalinya. Jadi ia sudah hapal cara bersikap di kediaman Chinen.
“Dia ada dimana, kak?”
Saaya tersenyum sekaligus mendengus sebelum menjawab, “Di kamar. Mungkin sedang tidur atau main game. Kau tahu sendiri kerjaan dia kalau dapat hari libur bagaimana, kan? Ahahaha..”
Yamada ikut tertawa. “Nggak tidur kok, kak. Barusan dia SMS.”
“Nah, berarti main game. Langsung saja naik kekamarnya!”
Tanpa banyak bicara Yamada segera menapaki anak tangga untuk menuju kamar member kesayangannya.
“Yuri..?”
Pemilik nama yang dipanggil sedang tengkurep di atas kasur sambil memainkan
leptopnya. Ia lalu mendongak. “Ryosuke, ringtoneku jangan di ganti ganti! Pakai rekaman suara segala. Norak! Dan jangan hapus password buat buka HP-ku. Lain
kali tidak akan kukasih tahu passwordnya lagi!”
Belum apa-apa Yamada sudah diprotes. Ia memutar bohlam matanya. “Kata siapa
norak? Itu romantis. Ro. Man. Tis! Ya.. coba saja, mau di kunci seperti
apapun, aku tetap akan bisa membuka Hpmu! Lagipula, kita sudah janji untuk tidak main rahasia-rahasiaan!”
Chinen hanya menyahut dengan gumaman tak seberapa diikuti bibirnya yang dibuat maju. Ia kembali fokus dengan leptopnya. Yamada mendengus kesal dan mendekat
pada ranjang Chinen. “Ngapain sih?”
“Tadi habis main game. Bosan. Sekarang nonton ulang konser Arashi.”
Jawabnya dengan suara cempreng, berhasil membuat Yamada kembali mendengus. Ia
kemudian duduk disamping Chinen yang masih tengkurap. “Kerjaanmu begitu terus
kalau dapet hari libur, huh?”
“Sudah puas tidur. Sudah makan. Sudah mandi. Dan sekarang tidak ada kerjaan.
Kau mau aku melakukan apa emangnya?” Chinen mengambil posisi duduk di kasur,
leptopnya ia matikan juga disingkirkan di pojokan kasurnya.
“Jalan-jalan, mungkin? Mumpung aku bawa mobilku.” Ajak Yamada sembari
menyapu poni Chinen yang menutupi mata indahnya, kemudian diselipkan dibelakang
telinga. “Kau yakin sudah mandi? wajahmu masih kusam!” Yamada menepuk jidat kekasihnya sambil terkekeh.
“Sakit!” bibir Chinen mengerucut, ia bales menabok pelan pipi
Ryosuke-nya. “Jalan-jalan kemana? Malas ah.”
JDER.
Yamada seperti mendengar geledek ketika mendengar jawaban Chinen. Kalau pemuda kesayangannya itu sudah
bilang ‘malas’ itu berarti tidak ada kehidupan lagi. Maksudnya, kalau Chinen
sudah malas, ia sudah seperti tidak niat menjalani kehidupannya! Lihat saja sekarang,
pemuda itu malah rebahan di kasurnya sambil matanya merem-melek.
“Ke Disney Sea? Oh ayolah, Chinen Yuri! Aku mengajakmu kencan! Mumpung aku
tidak sibuk.”
“Hngg.. bosen ah,” Chinen menggeliat, memiringkan badannya.
“Main bilyard?”
“He?? Mau sombong mentang-mentang sekarang sudah jago?!”
Yamada mendesis jengkel, tapi ia belum menyerah. “Oke baiklah. Bagaimana dengan karokean sampai larut
malam? Boleh nyanyi lagu Arashi sesukamu!”
“Nggak mood~” Chinen malah
bergulung di kasurnya, kekanan dan kekiri. Kayak teripang panggang, pikir
Yamada.
“Yasudah... cari makan? Kita makan, sekaligus dinner. Aku direkomendasikan restoran yang enak oleh kru Ansatsu!”
Mata Chinen memicing, ia menghadap Yamada lalu menyeringai imut. “Ryosuke
yang traktir ya?”
Pemuda Chubby disana tersenyum puas. “Iya iya.. aku yang traktir! Ayo sana
siap-siap!” Ia mengangkat tubuh Chinen untuk bangkit dari tidurnya, namun si
cendik itu malah melemaskan tubuhnya kemudian nemplok di dada Yamada.
“Hoi Hoi... jangan seperti ini!”
“Biar saja! Ryosuke wangi~!” Chinen mengendus esensi tubuh kekasihnya. Yamada
tersenyum simpul dan membelai rambut legam Chinen penuh sayang. “Kau juga wangi
kok. aroma khas orang rumahan~ ahaha..”
“Hmm.. Ryosuke ganti parfum ya? Wanginya tidak seperti parfummu yang biasa.”
Chinen masih asik menempel pada tubuh Yamada, membuat keseimbangan pemuda itu
goyang kemudian keduanya ambruk di amben.
“Yah, tidur lagi... nggak jadi sajalah!” Ucap Chinen sambil terkekeh, ia
melingkarkan tangannya ditubuh Ryosuke-nya.
“Jangan begitu! Ayo bangun! Kita kan mau kencan! Ayo.” Yamada menoel ujung hidung bangir Chinen sebelum melepaskan pelukan untuk bangkit dari tidurannya.
“Jangan begitu! Ayo bangun! Kita kan mau kencan! Ayo.” Yamada menoel ujung hidung bangir Chinen sebelum melepaskan pelukan untuk bangkit dari tidurannya.
“Ng... tiba-tiba malas. Sudahlah dirumah saja. Tidur aja~”
Yamada spontan menyeringai. “Kalau hanya tidur bersama tapi nggak ngapa-ngapain, nggak seru!”
Chinen mengerang pelan, mengerti maksud terselubung kalimat barusan. “Ck, ngapa-ngapain nya dalam mimpi saja biar nggak capek. Nggak sakit juga lagian,”
JDER.
Sekali lagi... bagaikan ada geledek. Yamada melongo mendengar kalimat kekasihnya. Chinen lebih memilih melakukan
‘kegiatan’ tidur bersama dalam mimpi! APA ASIKNYA COBA?! Batin Yamada menjerit.
“Nggak! Nggak!!! Chinen Yuri, ayolaaah...! Jangan sia-siakan hari libur!
Ayo cepat siap-siap!”
Chinen memisuh dalam hati mendengar Yamada berkata ngotot. Ia dengan ogah-ogahan
bangkit. Namun kakinya belum mau menjejak lantai. Melihat Ryosuke-nya masih
sabar memaksa, muncul ide nakal dan ia menyeringai lebar. “Ke apartemen Ryosuke saja, bagaimana?”
“He..? Boleh saja!” Yamada menyahut senang. Apartemen kan sepi. Cuma ada
dirinya dan Chinen nanti. Dan... hello, King
Bed~ siap siap jadi saksi bisu. Yamada mulai bergairah. “Tidak usah siap-siap kalau begitu. Langsung berangkat saja!”
“Di rumahmu ada bahan makanan? Maksudku, daripada cari makanan di luar atau
makan di restoran, lebih asik kalau kita yang masak. Nanti di makan berdua biar
lebih romantis gitu!” mata Chinen berkilat. Yamada terkesiap sebentar sebelum
akhirnya tertawa. “Oh ya? Yakin kau mau masak? Paling hanya aku yang masak nanti.
Kau kan maunya tinggal jadi. Nanti minta disuapin.” Ia lalu menjawil gemas pipi
Chinen.
Pemuda imut itu langsung membanting dirinya kembali ke kasur. “Yasudah nggak jadi saja. Tiba-tiba males lagi.”
asdfghjkklzxcvbnm!@#$%^&*?><
Rahang Yamada mengeras, ia mengelap wajahnya dengan geram. “Yasudah... iya
tak apa aku yang masak sendiri! Nanti ku buatkan makanan spesial! Ayo!”
“Malas~”
Yamada meniup poninya. Chinen malah menjulurkan lidah.
Oh. Sungguh. Bila sifat malas Chinen kumat, iasangat menyusahkan! Begitu pikir Yamada. Melakukan apapun jadi tidak niat. Biasanya juga kalau sedang sibuk dia meerengek di pesan bilang ‘kangen Ryosuke~’ atau ‘seharian tidak bertemu, kangeeen~’ atau ‘ingin
makan dengan Ryosuke~’ atau yang paling favorit menurut Yamada, ‘jadi kurang semangat
kalau tidak kerja dengan Ryosuke, besok ketemu ya. Rasanya ada yang kurang kalau tidak tidak bertemu’
SEPERTI ITU!!! Tapi giliran dikasih libur oleh agensinya, rencana romantis Yamada dengan Chinen batal semua karena keterlanjuran nyaman di
rumah dan juga... malas.
“Yuri... Hanya hari ini kita dapet libur dari pagi sampai malem. Daripada kita musti kencan diam-diam disela-sela kerja.”
akankah puppy eyes Yamada berhasil?
“Ck, iya iya...”
Yak berhasil, bung! Chinen kembali pada posisi duduk di ranjang. Kini ekor
babi imajiner Yamada bergoyang goyang senang.
“Tapi kau harus menggendongku, sampai ke mobil! Tidak perlu siap-siap kan?”
Astaga. Dagu Yamada seketika melorot.
“Chinen Yuri-ku.... begini ya, kamarmu itu dilantai dua. Ada 20 anak tangga
dan aku walaupun bisa menggendongmu tetep aja BERAT! Kau kan punya kaki, Chinen!”
BRUK!
Kembali Chinen menghempaskan tubuhnya di kasur, wajahnya mendung. “Yasudahlah tak jadi saja. Aku malss. Sudah sana Ryosuke pulang. Aku mau tidur! Biar saja
aku menghabiskan liburan dirumah. Tidur! Memimpikan Ryosuke yang menggendongku keliling
dunia!”
Nah kan. Chinen ngambek. Yamada lagi lagi mengelus muka. “Arghh baiklah baiklah!! Aku akan menggendongmu nanti di apartemenku. Manja-manjaannya disana saja. Tidak akan ada yang melihat tapi dibawah nanti kan ada kakakmu.. malu kan?!”
“Oh ya? Malu menggendongku? Haha... tidak berubah ya... Ryosuke tetep saja tsundere. Baik di publik atau di privat. Dasar munafik!” Chinen masih pada
posisi tidur-tidurannya, tersenyum ironi.
“Yuri...” Yamada membelai pipi si mungil dengan gemas. “Ayolah...”
Tapi belaian itu ditepis dengan pelan. Chinen keburu kesal. Ia bener-bener
malas sekarang. “Sudah sana Ryosuke pulang..” ucapnya sambil memalingkan
badan.
Nah, Yamada Ryosuke boleh saja menyerah sekarang. Ia menghela napas
kemudian bangkit dari ranjang, hendak meninggalkan kamar Chinen. “Yasudah. sepertinya kau kecapaian. Sampai tidak mau diajak pacarnya kencan. Yasudah tidur aja... tidak apa-apa. Aku main dengan Dai-chan atau Keito saja kalau begitu,”
Ketika kenop pintu kamar Chinen nyaris dibuka, tiba-tiba Yamada merasa
badannya diserbu oleh pelukan kekasihnya. Chinen memeluk dengan brutal sembari
mendesis tepat dikupingnya. “Jangan! Jangan pergi sama yang lain! Nggak boleh!!”
Yamada berkedip cepat, alisnya terangkat tinggi. “Eh? Katanya malas? nggak
mood?” ia membalik tubuhnya agar menghadap pada Chinen. “Berubah pikiran,
hm??”
“Daripada kau main dengan Dai-chan atau yang lainnya! Ayo kita kencan!” Chinen
lalu menyeret dompet kebanggaannya keluar dari kamar. Yamada hanya tertawa puas
dalam genggaman erat kekasihnya.
Hanya seperti itu toh menaklukan kemalasan
Chinen Yuri?
~END~
A/N: SELAMAT ULANG TAHUN YAMADA
RYOSUKE!!! ini klise banget. Gada
ciumannya pisan wkwk XD maap juga Chinennya jadi nyebelin muahaha... fanfic ini
terpikir pas Yama bilang, “Kalau nggak kupaksa keluar, Chinen hanya akan main
game seharian.” Ahaha tau aja kegiatan males kekasihnya yam XD


1 komentar:
Posting Komentar