Kamis, 28 Mei 2015

CHAU!

Diposting oleh Kiwokchwan di 07.14
Judul: lagi seneng sama lagu barunya mereka jadi pake judul itu wkwk XD

Author: Kiwok

Pair: YamaChii FOREVER!

Genre: Romance, Fluff

WARNING! BAHASA SUKA SUKA!

Summary: Hanya satu kalimat. Dan itu berhasil memusnahkan rasa malas Chinen untuk kencan dengan Yamada.

Projek buat ulang tahun Yamada Ryosuke.

Cekidot!

.

.

.


Rabu siang di musim semi. Mungkin hari ini bukan waktu liburan bagi kebanyakan orang, namun sembilan idol ternama di Jepang nampaknya sedang mendapat hadiah

Yuri! Chinen Yuri! Buka dan baca pesanku~!!!

Salah satu dari sembilan idol yang paling muda menggeliat di atas kasurnya. Ia mengerang mendengar ponselnya berdering, tangan cendiknya segera merayap pada meja kecil disebelah kasur untuk meraih ponsel pintarnya yang beringtone norak.

“Sial. Diutak-atik lagi!” Dumelnya seraya menyapu layar ponsel, segera membaca pemberitahuan pesan.

Aku di depan rumahmu. Keluar dan bukakan aku pintu.

Isi pesan tersebut kontan membuat Chinen sumringah. Ia segera mengetik kilat, tak lupa membubuhi emotikon andalannya.

Masuk aja. Langsung naik ke kamarku. Males turun :P

.

.

.

“Hah!” Yamada Ryosuke, idol terkenal yang memiliki imej pangeran tapi gendut dan pendek itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat membaca balasan pesannya. Ia sekarang berada tepat didepan pintu masuk kediaman Chinen Yuri, sahabat mesranya, kekasih abadinya, orang yang selalu ia nafkahi dengan maksud berkunjung karena ‘janji’ yang dibuatnya untuk datang sendiri, bukan bersama Keito.

Yamada meminta Chinen untuk membukakannya pintu dan menyambutnya dengan mesra, karena itu dia mengirimnya SMS dulu. Tapi malah disuruh ‘masuk aja’. Apa-apaan itu?!

Yamada mendengus seraya memencet bel.

“Iya sebentar~” terdengar suara melengking yang feminim, sang idol tahu benar suara siapa itu.

konnichiwa, Saaya-nee..

Chinen Saaya, kakak kandung Chinen Yuri yang memiliki wajah mirip dengan sang kekasih menyambut dengan ramah. “Oh, Yamada-kun. Ayo masuk!”

Itu bukan yang pertama atau baru-baru ini Yamada main kerumah Chinen. Itu yang ke puluhan kalinya. Jadi ia sudah hapal cara bersikap di kediaman Chinen.

“Dia ada dimana, kak?”

Saaya tersenyum sekaligus mendengus sebelum menjawab, “Di kamar. Mungkin sedang tidur atau main game. Kau tahu sendiri kerjaan dia kalau dapat hari libur bagaimana, kan? Ahahaha..”

Yamada ikut tertawa. “Nggak tidur kok, kak. Barusan dia SMS.”

“Nah, berarti main game. Langsung saja naik kekamarnya!”

Tanpa banyak bicara Yamada segera menapaki anak tangga untuk menuju kamar member kesayangannya.

“Yuri..?”

Pemilik nama yang dipanggil sedang tengkurep di atas kasur sambil memainkan leptopnya. Ia lalu mendongak. “Ryosuke, ringtoneku jangan di ganti ganti! Pakai rekaman suara segala. Norak! Dan jangan hapus password buat buka HP-ku. Lain kali tidak akan kukasih tahu passwordnya lagi!”

Belum apa-apa Yamada sudah diprotes. Ia memutar bohlam matanya. “Kata siapa norak? Itu romantis. Ro. Man. Tis! Ya.. coba saja, mau di kunci seperti apapun, aku tetap akan bisa membuka Hpmu! Lagipula, kita sudah janji untuk tidak main rahasia-rahasiaan!”

Chinen hanya menyahut dengan gumaman tak seberapa diikuti bibirnya yang dibuat maju. Ia kembali fokus dengan leptopnya. Yamada mendengus kesal dan mendekat pada ranjang Chinen. “Ngapain sih?”

“Tadi habis main game. Bosan. Sekarang nonton ulang konser Arashi.” Jawabnya dengan suara cempreng, berhasil membuat Yamada kembali mendengus. Ia kemudian duduk disamping Chinen yang masih tengkurap. “Kerjaanmu begitu terus kalau dapet hari libur, huh?”

“Sudah puas tidur. Sudah makan. Sudah mandi. Dan sekarang tidak ada kerjaan. Kau mau aku melakukan apa emangnya?” Chinen mengambil posisi duduk di kasur, leptopnya ia matikan juga disingkirkan di pojokan kasurnya.

“Jalan-jalan, mungkin? Mumpung aku bawa mobilku.” Ajak Yamada sembari menyapu poni Chinen yang menutupi mata indahnya, kemudian diselipkan dibelakang telinga. “Kau yakin sudah mandi? wajahmu masih kusam!” Yamada menepuk jidat kekasihnya sambil terkekeh.

“Sakit!” bibir Chinen mengerucut, ia bales menabok pelan pipi Ryosuke-nya. “Jalan-jalan kemana? Malas ah.”

JDER.

Yamada seperti mendengar geledek ketika mendengar jawaban Chinen. Kalau pemuda kesayangannya itu sudah bilang ‘malas’ itu berarti tidak ada kehidupan lagi. Maksudnya, kalau Chinen sudah malas, ia sudah seperti tidak niat menjalani kehidupannya! Lihat saja sekarang, pemuda itu malah rebahan di kasurnya sambil matanya merem-melek.

“Ke Disney Sea? Oh ayolah, Chinen Yuri! Aku mengajakmu kencan! Mumpung aku tidak sibuk.”

“Hngg.. bosen ah,” Chinen menggeliat, memiringkan badannya.

“Main bilyard?”

“He?? Mau sombong mentang-mentang sekarang sudah jago?!”

Yamada mendesis jengkel, tapi ia belum menyerah. “Oke baiklah. Bagaimana dengan karokean sampai larut malam? Boleh nyanyi lagu Arashi sesukamu!”

“Nggak mood~” Chinen malah bergulung di kasurnya, kekanan dan kekiri. Kayak teripang panggang, pikir Yamada.

“Yasudah... cari makan? Kita makan, sekaligus dinner. Aku direkomendasikan restoran yang enak oleh kru Ansatsu!”

Mata Chinen memicing, ia menghadap Yamada lalu menyeringai imut. “Ryosuke yang traktir ya?”

Pemuda Chubby disana tersenyum puas. “Iya iya.. aku yang traktir! Ayo sana siap-siap!” Ia mengangkat tubuh Chinen untuk bangkit dari tidurnya, namun si cendik itu malah melemaskan tubuhnya kemudian nemplok di dada Yamada.

“Hoi Hoi... jangan seperti ini!”

“Biar saja! Ryosuke wangi~!” Chinen mengendus esensi tubuh kekasihnya. Yamada tersenyum simpul dan membelai rambut legam Chinen penuh sayang. “Kau juga wangi kok. aroma khas orang rumahan~ ahaha..”

“Hmm.. Ryosuke ganti parfum ya? Wanginya tidak seperti parfummu yang biasa.” Chinen masih asik menempel pada tubuh Yamada, membuat keseimbangan pemuda itu goyang kemudian keduanya ambruk di amben.

“Yah, tidur lagi... nggak jadi sajalah!” Ucap Chinen sambil terkekeh, ia melingkarkan tangannya ditubuh Ryosuke-nya.

“Jangan begitu! Ayo bangun! Kita kan mau kencan! Ayo.” Yamada menoel ujung hidung bangir Chinen sebelum melepaskan pelukan untuk bangkit dari tidurannya.

“Ng... tiba-tiba malas. Sudahlah dirumah saja. Tidur aja~”

Yamada spontan menyeringai. “Kalau hanya tidur bersama tapi nggak ngapa-ngapain, nggak seru!”

Chinen mengerang pelan, mengerti maksud terselubung kalimat barusan. “Ck, ngapa-ngapain nya dalam mimpi saja biar nggak capek. Nggak sakit juga lagian,”

JDER.

Sekali lagi... bagaikan ada geledek. Yamada melongo mendengar kalimat kekasihnya. Chinen lebih memilih melakukan ‘kegiatan’ tidur bersama dalam mimpi! APA ASIKNYA COBA?! Batin Yamada menjerit.

“Nggak! Nggak!!! Chinen Yuri, ayolaaah...! Jangan sia-siakan hari libur! Ayo cepat siap-siap!”

Chinen memisuh dalam hati mendengar Yamada berkata ngotot. Ia dengan ogah-ogahan bangkit. Namun kakinya belum mau menjejak lantai. Melihat Ryosuke-nya masih sabar memaksa, muncul ide nakal dan ia menyeringai lebar. “Ke apartemen Ryosuke saja, bagaimana?”

“He..? Boleh saja!” Yamada menyahut senang. Apartemen kan sepi. Cuma ada dirinya dan Chinen nanti. Dan... hello, King Bed~ siap siap jadi saksi bisu. Yamada mulai bergairah. “Tidak usah siap-siap kalau begitu. Langsung berangkat saja!”

“Di rumahmu ada bahan makanan? Maksudku, daripada cari makanan di luar atau makan di restoran, lebih asik kalau kita yang masak. Nanti di makan berdua biar lebih romantis gitu!” mata Chinen berkilat. Yamada terkesiap sebentar sebelum akhirnya tertawa. “Oh ya? Yakin kau mau masak? Paling hanya aku yang masak nanti. Kau kan maunya tinggal jadi. Nanti minta disuapin.” Ia lalu menjawil gemas pipi Chinen.

Pemuda imut itu langsung membanting dirinya kembali ke kasur. “Yasudah nggak jadi saja. Tiba-tiba males lagi.”

asdfghjkklzxcvbnm!@#$%^&*?><

Rahang Yamada mengeras, ia mengelap wajahnya dengan geram. “Yasudah... iya tak apa aku yang masak sendiri! Nanti ku buatkan makanan spesial! Ayo!”

“Malas~”

Yamada meniup poninya. Chinen malah menjulurkan lidah.

Oh. Sungguh. Bila sifat malas  Chinen kumat, iasangat menyusahkan! Begitu pikir Yamada. Melakukan apapun jadi tidak niat. Biasanya juga kalau sedang sibuk dia meerengek di pesan bilang ‘kangen Ryosuke~’ atau ‘seharian tidak bertemu, kangeeen~’ atau ‘ingin makan dengan Ryosuke~’ atau yang paling favorit menurut Yamada, ‘jadi kurang semangat kalau tidak kerja dengan Ryosuke, besok ketemu ya. Rasanya ada yang kurang kalau tidak tidak bertemu’

SEPERTI ITU!!! Tapi giliran dikasih libur oleh agensinya, rencana romantis Yamada dengan Chinen batal semua karena keterlanjuran nyaman di rumah dan juga... malas.

“Yuri... Hanya hari ini kita dapet libur dari pagi sampai malem. Daripada kita musti kencan diam-diam disela-sela kerja.” akankah puppy eyes Yamada berhasil?

“Ck, iya iya...”

Yak berhasil, bung! Chinen kembali pada posisi duduk di ranjang. Kini ekor babi imajiner Yamada bergoyang goyang senang.

“Tapi kau harus menggendongku, sampai ke mobil! Tidak perlu siap-siap kan?”

Astaga. Dagu Yamada seketika melorot.

“Chinen Yuri-ku.... begini ya, kamarmu itu dilantai dua. Ada 20 anak tangga dan aku walaupun bisa menggendongmu tetep aja BERAT! Kau kan punya kaki, Chinen!”

BRUK!

Kembali Chinen menghempaskan tubuhnya di kasur, wajahnya mendung. “Yasudahlah tak jadi saja. Aku malss. Sudah sana Ryosuke pulang. Aku mau tidur! Biar saja aku menghabiskan liburan dirumah. Tidur! Memimpikan Ryosuke yang menggendongku keliling dunia!”

Nah kan. Chinen ngambek. Yamada lagi lagi mengelus muka. “Arghh baiklah baiklah!! Aku akan menggendongmu nanti di apartemenku. Manja-manjaannya disana saja. Tidak akan ada yang melihat tapi dibawah nanti kan ada kakakmu.. malu kan?!”

“Oh ya? Malu menggendongku? Haha... tidak berubah ya... Ryosuke tetep saja tsundere. Baik di publik atau di privat. Dasar munafik!” Chinen masih pada posisi tidur-tidurannya, tersenyum ironi.

“Yuri...” Yamada membelai pipi si mungil dengan gemas. “Ayolah...”

Tapi belaian itu ditepis dengan pelan. Chinen keburu kesal. Ia bener-bener malas sekarang. “Sudah sana Ryosuke pulang..” ucapnya sambil memalingkan badan.

Nah, Yamada Ryosuke boleh saja menyerah sekarang. Ia menghela napas kemudian bangkit dari ranjang, hendak meninggalkan kamar Chinen. “Yasudah. sepertinya kau kecapaian. Sampai tidak mau diajak pacarnya kencan. Yasudah tidur aja... tidak apa-apa. Aku main dengan Dai-chan atau Keito saja kalau begitu,”

Ketika kenop pintu kamar Chinen nyaris dibuka, tiba-tiba Yamada merasa badannya diserbu oleh pelukan kekasihnya. Chinen memeluk dengan brutal sembari mendesis tepat dikupingnya. “Jangan! Jangan pergi sama yang lain! Nggak boleh!!”

Yamada berkedip cepat, alisnya terangkat tinggi. “Eh? Katanya malas? nggak mood?” ia membalik tubuhnya agar menghadap pada Chinen. “Berubah pikiran, hm??”

“Daripada kau main dengan Dai-chan atau yang lainnya! Ayo kita kencan!” Chinen lalu menyeret dompet kebanggaannya keluar dari kamar. Yamada hanya tertawa puas dalam genggaman erat kekasihnya.

Hanya seperti itu toh menaklukan kemalasan Chinen Yuri?



~END~



A/N: SELAMAT ULANG TAHUN YAMADA RYOSUKE!!! ini klise banget. Gada ciumannya pisan wkwk XD maap juga Chinennya jadi nyebelin muahaha... fanfic ini terpikir pas Yama bilang, “Kalau nggak kupaksa keluar, Chinen hanya akan main game seharian.” Ahaha tau aja kegiatan males kekasihnya yam XD 

 
ciye yang ngutak atik hape ayangnya~ XD

1 komentar:

Dea Rahma Dewi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review