Minggu, 28 Juni 2015

REPLACE DEMAND

Diposting oleh Kiwokchwan di 22.35
Tittle: Replace Demand

Chapter: 1

Author : Kiwok

Main Chara : Ryutaro Morimoto

Pair : MoriNishii, YamaChii, RyuChii/ChiiTaro, YamaJima,  YutoChii.

Genre: Collage!AU, slice of life, hurt/comfort(?)

Keterangan: Ryutaro (19), Yamada (20), Yuto (21), Chinen (17), Yukito (18).

WARNING! BAHASA SUKA SUKA! 

Summary : “Kalau kau memang tak bisa kumiliki. Setidaknya biarkan kau menjadi penggantinya.. sampai aku bisa melepasnya.”

Douzo~
.
.
.
.

Musim gugur. Kering dan dingin. Dimana mana hanya terlihat rerontokan daun berwarna cokelat. Bagaikan makhluk rikih yang tak berguna bagi sang pohon, daun itu layak mati dan mengering lalu terinjak para manusia di luar sana. Pemuda itu salah satunya, ia menginjak dedaunan kering yang tepat berada di depannya dengan kidmat—sarat akan kebencian. Kaki jenjangnya terus menapak sembari menginjak dedaunan itu hingga menuju suatu tempat.

“Hei,”  Bibir pasinya lalu terbuka, mengeluarkan suara teramat lirih. Ia telah sampai pada tujuannya dan kini—setengah—duduk dihadapan seonggok batu yang di guguri dedaunan.

“Cih, kenapa tempatmu begini hina, Yuki?” desisnya kesal. Mengusir dedaunan kering yang menyelimuti tempat seseorang bernama Yuki.

“Sudah setahun, huh?”

Jika menganggap ia berbicara pada angin, kau salah besar. Pemuda itu, Ryutaro Morimoto sedang—mencoba—berbicara dengan nisan berukir Yukito Nishi dalam keheningan di suatu tempat bernama makam. Ironis mungkin. Tapi hal ini lumrah. Kau tak berhak mengatai Ryutaro gila atau apapun jika hanya berbicara pada mendiang. Terlebih, mendiang orang yang dicintainya.

“Apa kau bahagia disana...?”

Jangan harap ada suara balasan, bung. Ia berbicara pada nisan.

“Apa di Surga sana kau menemukan yang baru?” ia mengelus dudukan nisan, tersenyum pait. “Aku masih tidak percaya kau mati...”

Tangannya yang semula mengelus kini terkepal, meremat dedaunan kering yang ada hingga lebur. Matanya lalu meneteskan air. “Brengsek...” semakin deras.

Katanya, bila laki-laki menangis itu berarti ia lemah. Ada pula yang bilang itu salah. Tapi bagi pemuda yang kini sedang menangis dihadapan seonggok batu, kata “Lemah” adalah yang paling tepat. Ia lemah tanpanya. Ia tak berguna tanpanya. Ryutaro membutuhkan Yuki-nya...

“Padahal sudah satu tahun... Tapi kenapa...” terisak, sekaligus mengambil nafas, “Kenapa aku tidak bisa apa-apa tanpamu, Yuki!! Kenapa?! Brengsek...!!”

Biarkan angin yang mendengar. Biarkan daun itu diremas habis. Biarkan batu yang memantulakan suara pemuda itu. Biarkan saja. Karena dengan begitu Ryutaro bisa merasakan kehampaannya, kekosongannya selama satu tahun. Tepat di musim gugur kali ini, hidupnya telak tak bergairah.

Ketika langit senja nyaris menampakan diri—membuat kesan gersang dipadu dengan aura kecoklatan musim gugur—Ryutaro masih ditempat itu, tertidur pulas. Jika saja tak ada yang menjemput, pemuda jangkung itu mungkin akan berkelonan dengan batu nisan hingga pagi, atau berkelonan selamanya.

Nii-chan!

....

Onii-chan!

Mata kecoklatan Ryutaro terbuka, pandangannya kabur untuk beberapa waktu sebelum akhirnya terfokus dan melihat sosok remaja didepannya.

Mattaku, Onii-chan! Sudah tak terhitung berapa kali kau ketiduran dimakan Yuki-nii!” 

“Berisik, Shintaro.” Ryutaro berdiri, pandangan matanya masih redup. “Kau tak berhak melarangku untuk tinggal lebih lama bersama Yuki.”

“Aku tak melarangmu! Tapi Kaa-san yang melarang! Aku hanya disuruh menjemputmu. Ayo pulang! Ini sudah gelap. Lagipula, kau tidak takut jika mereka semua yang sudah mati ini mengganggumu?” sarkas Shintaro, adik resmi Ryutaro yang hanya terpaut 2 tahun.

“Kalau diantara ‘mereka’ ada Yuki. Aku rela. Aku bahkan ingin Yuki bergentayangan...”

Shintaro mendengus keras, jawaban sang kakak sudah ia prediksi sebelumnya. Semenjak kematian Yukito, Shintaro yakin kakakaknya kehilangan jiwa sehatnya setahun belakangan. “Kau harus bahagia karena tidak pernah digentayangi oleh Yuki-nii! Ia sudah tenang disana.”

“Ia tetap menggentayangi pikiranku.”

Oke, Shintaro salah ambil kata-kata. “Terserah. Yang jelas ayo pulang! Kaa-san ingin bicara penting!”

Ajakan Shintaro berhasil membuat mereka  berdua meninggalkan makam, menyisakan leburan daun yang telah diremas Ryutaro lalu diterbangkan angin antah berantah.

.

“Ryu..!”

Pemuda jangkung itu menoleh lesu saat namanya diserukan oleh wanita yang melahirkannya. “Apa, bu?”

“Ini sudah satu tahun, Ryu.”

Sang adik yang berada disamping Ryutaro hanya memutar bohlam matanya sementara si sulung mengangguk. “Aku mengerti. Jadi, kapan aku harus ke Amerika?”

“Seminggu lagi. Setelah visamu jadi. Kau harus menepati janji untuk memulai pendidikan di Amerika dan melupakan segalanya yang ada di sini.” Wanita itu berkata tegas. Ryutaro mengernyit. “Apa maksud ibu? Aku tak akan pernah melupakan Yukito.”

“Aku sudah memberimu waktu hingga satu tahun untuk mengeramkan dia diingatanmu. Ia sudah mati, Ryutaro. Lupakan, dan jalani hidup baru.”

Tangan Ryutaro terkepal erat saat mendengar penjelasan sang ibu, ia menggigit bibirnya sebagai isyarat tak dapat melawan, hanya anggukan pelan yang akhirnya membuat wanita disana tersenyum kecil.

“Bagus, sekarang naik ke kamarmu lalu istirahat. Dan Shintaro, kau harus les setelah ini!”

Haik~” Shintaro menyahut dengan nada malas sementara kakaknya menapaki anak tangga dengan lesu.

.

Sekarang tersisa enam hari menuju keberangkatan Ryutaro ke Amerika. Keluarga Morimoto memiliki kerabat disana yang memudahkan Ryutaro pindah kuliah di negri Paman Sam itu. Meski enggan, namun Ryutaro adalah pemuda sejati yang menepati janjinya dengan sang ibu untuk melanjutkan hidupnya dengan normal kembali meski tanpa Yuki. Tanpa Yuki-nya.

Hari ini ia hendak menyelesaikan urusan kuliahnya di Universitas Waseda. Ryutaro sebenarnya masih tercatat sebagai mahasiswa IT semester empat disana dan seharusnya sudah semester lima bila saja ia tidak menunda kuliahnya demi menangisi kekasihnya.

“Itu Ryu!”

“Astaga Ryutaro!”

“Kemana saja kau, heh? Sudah lelah menangis?”

“Benar-benar setahun vakum! Dasar! Buat orang khawatir saja!”

Yang baru saja berseru tak lain adalah teman-teman Ryutaro ketika melihat pemuda itu berada di halaman kampusnya. Inti seruan itu hanya dua kata, mereka terkejut.

“Maaf membuat kalian khawatir. Aku kesini untuk menyelesaikan berkas-berkas kuliah. Enam hari lagi aku akan ke Amerika untuk lanjut kuliah disana.” Jelas Ryutaro, tanpa senyum sama sekali.

Uchida Ryuichi, salah satu teman akrabnya mengernyit tak terima. “Jadi benar kau akan sekolah disana? Kau termasuk mahasiswa kebanggaan disini! Kenapa secepat itu pindah ke sana? Kenapa tak menunggu sampai mendapatkan gelar sarjanamu?”

“Dan membiarkanku terus-terusan mengingat Yuki disini? Tidak. Aku tidak bisa terpuruk terus, Ryuichi.” Tegas pemuda jangkung itu, kemudian duduk disalah satu bangku dan dengan seenaknya menyeruput minuman milik teman yang lain namun dibiarkannya begitu saja.

“Lalu, kau sudah membereskan semuanya yang disini?” tanya Mika, salah satu teman perempuan di fakultasnya. “Masih ada enam hari lagi kan? Mungkin kita harus buat pesta perpisahan?”

“Yang seperti itu bukan pesta, bodoh.” Seira yang duduk disebelanya menanggapi. Namun tiba-tiba suasana kampus menjadi ramai oleh seseorang dan membuat rombongan Ryutaro menoleh.

“Astaga... orang itu,” gumam Ogawa Kazuya yang paling dingin diantara yang lain, ia mendecih lalu menyeruput minumannya.

Ryutaro mengangkat alisnya, bingung. “Siapa dia? Bukan anak fakultas kita kan?”

“Hah? Memang kau tahu siapa saja anak-anak di FasIlKom? Selama kuliah kurasa yang kau kenal hanya kami.” Sarkas Ryuichi sambil terkekeh diikuti kekehan yang lain. Ryutaro mendengus.

“Itu Yamada Ryosuke, wakil presiden universitas kita. Dia memang biasa keliling kampus buat ngecek kegiatan anak-anak BEM.” Jelas Mika tersenyum. “Manis ya dia.. ahaha... Penggemarnya banyak dari  mulai perempuan sampai laki-laki.”

“Lebih tepatnya tampan,” sangkal Seira.

Mika mengibas-ibaskan tangannya tak peduli, “Ya terserahlah. Wajahnya bisa cantik bisa tampan. Tapi biasanya dia jarang ke sini, kan? Di fakultas kita anak BEM hanya sedikit.”

“Mungkin ada urusan dengan dosen?”

“Oh omong-omong, dia jadian sama presiden universitas kita, kan?”

“Eh serius?!” Ryuchi ambil bagian untuk bergosip, “Dia jadian sama si jangkung Yuto yang sok charming tapi aslinya banci itu?”

“Hush jangan seperti itu! dia presiden universitas kita, kebanggaan para dosen!”

Ryutaro hanya mendengus kesal ketika teman temanya mulai membahas pemuda dari jurusan entah berantah yang ia tidak kenal sama sekali, kupingnya mulai panas. “Cukup, aku tak ingin mendengar ocehan kalian tentang dia karena aku tak peduli sama sekali. Toh sebentar lagi aku akan keluar dari sini.”

Pemuda jangkung itu bangkit dari duduknya setelah melihat arloji dijital yang terlingkar ditangan kirinya. “Aku ingin menemui Fujimori-sensei untuk melengkapi nilai-nilaiku. Nanti aku kesini lagi.” Ia bergegas menemui dosennya di gedung 8, melewati kerumunan para ‘penggemar’ wakil presiden itu dengan cuek.

.

“Dia dimana sih? Katanya mau menjemputku disini!”

Ryutaro mendengar suara seseorang merutuk setelah keluar dari gedung 8, alisnya bertaut.

“Telponnya juga nggak aktif!”

Lagi, ia mendengar suara itu. Ryutaro semakin mengernyit dan matanya menyisir halaman kampus disekitar gedung 8 untuk menemukan siapa yang bersuara.

“Hee.. ada bocah yang sedang bermain rupanya.” gumam si jangkung setelah tahu yang merutuk hanyalah bocah SMP—atau SMA. Ryutaro tak tahu pakaian yang dikenakan remaja laki-laki itu untuk tingkat yang mana.

Morimoto sulung itu mendekat pada remaja laki-laki yang masih mendumel sambil memegang Hpnya. “Kau tersesat?” tanyanya seraya menepuk pundak laki-laki itu. Kontan membuat yang ditepuk menoleh dan memalingkan tubuh.

“Oh, aku mencari kekasihku.” Ia berucap.

Seketika itu juga kedua mata Ryutaro membulat. Reaksi yang lain adalah nafas tercekat, mulut tak bisa terbuka, dan tubuh kurusnya menegang sempurna. Pendek kata, Ryutaro berada dalam keadaan syok tingkat tinggi sampai anak laki-laki didepannya bersuara kembali.

“Kakak kenal? Yamada Ryosuke namanya. Dia bilang akan menjemputku disini karena gedung fakultasnya jauh dari gerbang universitas. Tapi dari tadi aku menunggu dia belum datang-datang!” bocah laki-laki itu kembali merutuk sambil mendengus pada Hpnya, kemudian mendongak untuk menatap Ryutaro yang masih membeku. “Omong-omong... namaku Yuri. Chinen Yuri.”

To be a Continue
.
.
.
.

A/N: Halo. saya bikin epep baru~ kali ini nggak canon U.U latarnya orang kuliahan *padahal saya belom kuliah LOL* dan sesuai di keterangan umur, saya harap kalian bisa membayangkan karakter Ryu yang umurnya 19 tahun saat membaca ini. Imejnya seperti di twitternya dia. yang kurus ceking, tinggi menjulang, tengil sok inggris, tapi tetep ganteng. Terus disini Chii masih masih mungil dan polos jaman doi pake blazer SK warna item trus rambutnya sampe bawah kuping :3 *Yukito samain ya* kalo Yama sama Yuto imejnya yang kayak sekarang karena udah kuliahan baju baju yang dipake mereka juga khas mereka. yama yang mewah ngejreng pake pernak pernik dan yuto yang kasual macem bapak bapak gadungan ahaha. Yuto akan muncul di chap 2. buat kalian yang penasaran sama pairing di ending... tenang, kalian tahu kan saya shippernya siapa? ;)


0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review