Tittle: Replace Demand
Chapter: 1
Author : Kiwok
Main Chara : Ryutaro Morimoto
Pair : MoriNishii, YamaChii,
RyuChii/ChiiTaro, YamaJima, YutoChii.
Genre: Collage!AU, slice of life,
hurt/comfort(?)
Keterangan: Ryutaro (19), Yamada (20),
Yuto (21), Chinen (17), Yukito (18).
WARNING! BAHASA SUKA SUKA!
Summary : “Kalau kau memang
tak bisa kumiliki. Setidaknya biarkan kau menjadi penggantinya.. sampai aku
bisa melepasnya.”
Douzo~
.
.
.
.
Musim gugur. Kering dan dingin. Dimana
mana hanya terlihat rerontokan daun berwarna cokelat. Bagaikan makhluk rikih
yang tak berguna bagi sang pohon, daun itu layak mati dan mengering lalu
terinjak para manusia di luar sana. Pemuda itu salah satunya, ia menginjak
dedaunan kering yang tepat berada di depannya dengan kidmat—sarat akan
kebencian. Kaki jenjangnya terus menapak sembari menginjak dedaunan itu hingga
menuju suatu tempat.
“Hei,” Bibir pasinya lalu
terbuka, mengeluarkan suara teramat lirih. Ia telah sampai pada tujuannya dan
kini—setengah—duduk dihadapan seonggok batu yang di guguri dedaunan.
“Cih, kenapa tempatmu begini hina, Yuki?” desisnya kesal. Mengusir dedaunan kering yang menyelimuti
tempat seseorang bernama Yuki.
“Sudah setahun, huh?”
Jika menganggap ia berbicara pada
angin, kau salah besar. Pemuda itu, Ryutaro Morimoto sedang—mencoba—berbicara dengan nisan berukir Yukito Nishi dalam keheningan di suatu tempat bernama
makam. Ironis mungkin. Tapi hal ini lumrah. Kau tak berhak mengatai Ryutaro
gila atau apapun jika hanya berbicara pada mendiang. Terlebih, mendiang orang yang
dicintainya.
“Apa kau bahagia disana...?”
Jangan harap ada suara balasan, bung.
Ia berbicara pada nisan.
“Apa di Surga sana kau menemukan yang
baru?” ia mengelus dudukan nisan, tersenyum pait. “Aku masih tidak percaya kau
mati...”
Tangannya yang semula mengelus kini terkepal, meremat dedaunan kering yang ada hingga lebur. Matanya lalu
meneteskan air. “Brengsek...” semakin deras.
Katanya, bila laki-laki menangis itu
berarti ia lemah. Ada pula yang bilang itu salah. Tapi bagi pemuda yang kini
sedang menangis dihadapan seonggok batu, kata “Lemah” adalah yang paling tepat.
Ia lemah tanpanya. Ia tak berguna tanpanya. Ryutaro membutuhkan Yuki-nya...
“Padahal sudah satu tahun... Tapi
kenapa...” terisak, sekaligus mengambil nafas, “Kenapa aku tidak bisa apa-apa
tanpamu, Yuki!! Kenapa?! Brengsek...!!”
Biarkan angin yang mendengar. Biarkan
daun itu diremas habis. Biarkan batu yang memantulakan suara pemuda itu.
Biarkan saja. Karena dengan begitu Ryutaro bisa merasakan kehampaannya, kekosongannya selama satu tahun. Tepat di musim gugur kali ini, hidupnya telak tak bergairah.
Ketika langit senja nyaris menampakan diri—membuat
kesan gersang dipadu dengan aura kecoklatan musim gugur—Ryutaro masih ditempat
itu, tertidur pulas. Jika saja tak ada yang menjemput, pemuda jangkung itu mungkin akan berkelonan dengan batu nisan hingga pagi, atau berkelonan selamanya.
“Nii-chan!”
....
“Onii-chan!”
Mata kecoklatan Ryutaro terbuka,
pandangannya kabur untuk beberapa waktu sebelum akhirnya terfokus dan
melihat sosok remaja didepannya.
“Mattaku, Onii-chan! Sudah
tak terhitung berapa kali kau ketiduran dimakan Yuki-nii!”
“Berisik, Shintaro.” Ryutaro berdiri,
pandangan matanya masih redup. “Kau tak berhak melarangku untuk tinggal lebih
lama bersama Yuki.”
“Aku tak melarangmu! Tapi Kaa-san yang
melarang! Aku hanya disuruh menjemputmu. Ayo pulang! Ini sudah gelap. Lagipula,
kau tidak takut jika mereka semua yang sudah mati ini mengganggumu?” sarkas
Shintaro, adik resmi Ryutaro yang hanya terpaut 2 tahun.
“Kalau diantara ‘mereka’ ada Yuki. Aku
rela. Aku bahkan ingin Yuki bergentayangan...”
Shintaro mendengus keras, jawaban sang
kakak sudah ia prediksi sebelumnya. Semenjak kematian Yukito, Shintaro yakin
kakakaknya kehilangan jiwa sehatnya setahun belakangan. “Kau harus bahagia
karena tidak pernah digentayangi oleh Yuki-nii! Ia sudah tenang disana.”
“Ia tetap menggentayangi pikiranku.”
Oke, Shintaro salah ambil kata-kata.
“Terserah. Yang jelas ayo pulang! Kaa-san ingin bicara
penting!”
Ajakan Shintaro berhasil membuat mereka berdua meninggalkan
makam, menyisakan leburan daun yang telah diremas Ryutaro lalu diterbangkan angin
antah berantah.
.
“Ryu..!”
Pemuda jangkung itu menoleh lesu saat
namanya diserukan oleh wanita yang melahirkannya. “Apa, bu?”
“Ini sudah satu tahun, Ryu.”
Sang adik yang berada disamping
Ryutaro hanya memutar bohlam matanya sementara si sulung mengangguk. “Aku
mengerti. Jadi, kapan aku harus ke Amerika?”
“Seminggu lagi. Setelah visamu jadi.
Kau harus menepati janji untuk memulai pendidikan di Amerika dan melupakan
segalanya yang ada di sini.” Wanita itu berkata tegas. Ryutaro mengernyit. “Apa
maksud ibu? Aku tak akan pernah melupakan Yukito.”
“Aku sudah memberimu waktu hingga satu
tahun untuk mengeramkan dia diingatanmu. Ia sudah mati, Ryutaro. Lupakan, dan
jalani hidup baru.”
Tangan Ryutaro terkepal erat saat
mendengar penjelasan sang ibu, ia menggigit bibirnya sebagai isyarat tak dapat
melawan, hanya anggukan pelan yang akhirnya membuat wanita disana tersenyum
kecil.
“Bagus, sekarang naik ke kamarmu lalu istirahat. Dan Shintaro, kau harus les setelah ini!”
“Haik~” Shintaro menyahut
dengan nada malas sementara kakaknya menapaki anak tangga dengan lesu.
.
Sekarang tersisa enam hari menuju
keberangkatan Ryutaro ke Amerika. Keluarga Morimoto memiliki kerabat disana yang
memudahkan Ryutaro pindah kuliah di negri Paman Sam itu. Meski enggan, namun
Ryutaro adalah pemuda sejati yang menepati janjinya dengan sang ibu untuk
melanjutkan hidupnya dengan normal kembali meski tanpa Yuki. Tanpa Yuki-nya.
Hari ini ia hendak menyelesaikan
urusan kuliahnya di Universitas Waseda. Ryutaro sebenarnya masih tercatat
sebagai mahasiswa IT semester empat disana dan seharusnya sudah semester lima
bila saja ia tidak menunda kuliahnya demi menangisi kekasihnya.
“Itu Ryu!”
“Astaga Ryutaro!”
“Kemana saja kau, heh? Sudah lelah
menangis?”
“Benar-benar setahun vakum! Dasar! Buat orang khawatir saja!”
Yang baru saja berseru tak lain adalah teman-teman Ryutaro ketika melihat pemuda itu berada di halaman kampusnya. Inti seruan itu hanya dua kata, mereka
terkejut.
“Maaf membuat kalian khawatir. Aku
kesini untuk menyelesaikan berkas-berkas kuliah. Enam hari lagi aku akan ke
Amerika untuk lanjut kuliah disana.” Jelas Ryutaro, tanpa senyum sama
sekali.
Uchida Ryuichi, salah satu teman
akrabnya mengernyit tak terima. “Jadi benar kau akan sekolah disana? Kau
termasuk mahasiswa kebanggaan disini! Kenapa secepat itu pindah ke sana? Kenapa
tak menunggu sampai mendapatkan gelar sarjanamu?”
“Dan membiarkanku terus-terusan
mengingat Yuki disini? Tidak. Aku tidak bisa terpuruk terus, Ryuichi.” Tegas
pemuda jangkung itu, kemudian duduk disalah satu bangku dan dengan seenaknya
menyeruput minuman milik teman yang lain namun dibiarkannya begitu saja.
“Lalu, kau sudah membereskan semuanya
yang disini?” tanya Mika, salah satu teman perempuan di fakultasnya. “Masih ada
enam hari lagi kan? Mungkin kita harus buat pesta perpisahan?”
“Yang seperti itu bukan pesta, bodoh.” Seira yang duduk disebelanya menanggapi. Namun tiba-tiba suasana kampus menjadi ramai
oleh seseorang dan membuat rombongan Ryutaro menoleh.
“Astaga... orang itu,” gumam Ogawa
Kazuya yang paling dingin diantara yang lain, ia mendecih lalu menyeruput
minumannya.
Ryutaro mengangkat alisnya, bingung.
“Siapa dia? Bukan anak fakultas kita kan?”
“Hah? Memang kau tahu siapa saja
anak-anak di FasIlKom? Selama kuliah kurasa yang kau kenal hanya kami.” Sarkas
Ryuichi sambil terkekeh diikuti kekehan yang lain. Ryutaro mendengus.
“Itu Yamada Ryosuke, wakil presiden
universitas kita. Dia memang biasa keliling kampus buat ngecek kegiatan
anak-anak BEM.” Jelas Mika tersenyum. “Manis ya dia.. ahaha... Penggemarnya
banyak dari mulai perempuan sampai laki-laki.”
“Lebih tepatnya tampan,” sangkal Seira.
Mika mengibas-ibaskan tangannya tak peduli, “Ya
terserahlah. Wajahnya bisa cantik bisa tampan. Tapi biasanya dia jarang ke
sini, kan? Di fakultas kita anak BEM hanya sedikit.”
“Mungkin ada urusan dengan dosen?”
“Oh omong-omong, dia jadian sama
presiden universitas kita, kan?”
“Eh serius?!” Ryuchi ambil bagian
untuk bergosip, “Dia jadian sama si jangkung Yuto yang sok charming tapi
aslinya banci itu?”
“Hush jangan seperti itu! dia presiden
universitas kita, kebanggaan para dosen!”
Ryutaro hanya mendengus kesal ketika
teman temanya mulai membahas pemuda dari jurusan entah berantah yang ia tidak
kenal sama sekali, kupingnya mulai panas. “Cukup, aku tak ingin mendengar
ocehan kalian tentang dia karena aku tak peduli sama sekali. Toh sebentar lagi
aku akan keluar dari sini.”
Pemuda jangkung itu bangkit dari
duduknya setelah melihat arloji dijital yang terlingkar ditangan kirinya. “Aku
ingin menemui Fujimori-sensei untuk melengkapi nilai-nilaiku. Nanti aku kesini
lagi.” Ia bergegas menemui dosennya di gedung 8, melewati kerumunan para
‘penggemar’ wakil presiden itu dengan cuek.
.
“Dia dimana sih? Katanya mau
menjemputku disini!”
Ryutaro mendengar suara seseorang
merutuk setelah keluar dari gedung 8, alisnya bertaut.
“Telponnya juga nggak aktif!”
Lagi, ia mendengar suara itu. Ryutaro
semakin mengernyit dan matanya menyisir halaman kampus disekitar gedung 8 untuk
menemukan siapa yang bersuara.
“Hee.. ada bocah yang sedang bermain
rupanya.” gumam si jangkung setelah tahu yang merutuk hanyalah bocah SMP—atau SMA.
Ryutaro tak tahu pakaian yang dikenakan remaja laki-laki itu untuk tingkat yang
mana.
Morimoto sulung itu mendekat pada
remaja laki-laki yang masih mendumel sambil memegang Hpnya. “Kau tersesat?”
tanyanya seraya menepuk pundak laki-laki itu. Kontan membuat yang ditepuk
menoleh dan memalingkan tubuh.
“Oh, aku mencari kekasihku.” Ia
berucap.
Seketika itu juga kedua mata Ryutaro
membulat. Reaksi yang lain adalah nafas tercekat, mulut tak bisa terbuka, dan tubuh kurusnya menegang sempurna. Pendek kata, Ryutaro berada dalam
keadaan syok tingkat tinggi sampai anak laki-laki didepannya bersuara kembali.
“Kakak kenal? Yamada Ryosuke namanya. Dia bilang akan menjemputku disini karena gedung fakultasnya jauh dari gerbang
universitas. Tapi dari tadi aku menunggu dia belum datang-datang!” bocah laki-laki itu kembali merutuk sambil mendengus pada Hpnya, kemudian mendongak untuk menatap
Ryutaro yang masih membeku. “Omong-omong... namaku Yuri. Chinen Yuri.”
To be a Continue
.
.
.
.
A/N: Halo. saya bikin epep baru~ kali
ini nggak canon U.U latarnya orang kuliahan *padahal saya belom kuliah LOL* dan
sesuai di keterangan umur, saya harap kalian bisa membayangkan karakter Ryu
yang umurnya 19 tahun saat membaca ini. Imejnya seperti di twitternya dia. yang
kurus ceking, tinggi menjulang, tengil sok inggris, tapi tetep ganteng. Terus
disini Chii masih masih mungil dan polos jaman doi pake blazer SK warna item
trus rambutnya sampe bawah kuping :3 *Yukito samain ya* kalo Yama sama Yuto
imejnya yang kayak sekarang karena udah kuliahan baju baju yang dipake mereka
juga khas mereka. yama yang mewah ngejreng pake pernak pernik dan yuto yang
kasual macem bapak bapak gadungan ahaha. Yuto akan muncul di chap 2. buat
kalian yang penasaran sama pairing di ending... tenang, kalian tahu kan saya
shippernya siapa? ;)

0 komentar:
Posting Komentar