Senin, 29 Juni 2015

REPLACE DAMAND (Chapter 2)

Diposting oleh Kiwokchwan di 01.46
Tittle: Replace Demand

Chapter: 2 (Chapter 1)

Author : Kiwok

Main Chara : Ryutaro Morimoto

Pair : MoriNishii, Yamachii. RyuChii/ChiiTaro, YamaJima,  YutoChii.

Genre: Collage!AU, slice of life, hurt/comfort(?)

Keterangan: Ryutaro (19), Yamada (20), Yuto (21), Chinen (17), Yukito (18).

WARNING! BAHASA SUKA SUKA!

Summary : “Kalau kau memang tak bisa kumiliki. Setidaknya biarkan kau menjadi penggantinya.. sampai aku bisa melepasnya.”

Douzo~
.
.
.
.



“Omong-omong... namaku Yuri. Chinen Yuri.”

.

Ryutaro bisa saja mati jika lupa untuk mengambil nafas saat melihat wajah itu. Tangannya yang semula kaku langsung memeluk laki-laki mungil didepannya. Dipeluk tanpa ampun sembari merapalkan satu nama.

“Yuki... Yuki... Yuki...! Yuki!!”

Chinen Yuri, anak laki-laki yang kini tengah dipeluk Ryutaro hanya bisa mengernyit hebat, kaget tentu saja. Ia berusaha untuk berontak namun tubuhnya yang lebih kecil tak bisa berbuat banyak.

“Le—lepas!” dan hanya bisa meronta.

“Yuki! Yukito Nishii!!”

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan, namaku bukan Yuki tapi Yuri! Dan jangan sembarangan memelukku!” Chinen masih meronta, kali ini mengerahkan semua tenaganya hingga pelukan Ryutaro terlepas. Remaja mungil itu segera mengambil banyak jarak. “Jangan macam-macam!” pekiknya nyaring.

Ryutaro masih dalam keadaan syok. Pikirannya sudah kalap kala melihat sosok imut dan mungil didepannya bagai duplikat kekasihnya. Mata itu... bibir itu... giginya... senyumnya... suaranya... semua  mirip dengan mendiang kekasihnya.

“Kubilang jangan mendekat!” Chinen mundur beberapa langkah saat Ryutaro mengulurkan tangan dan mendekat padanya, namun pemuda jangkung itu tak mengendahkan ancaman Chinen. Ia dengan mantap meraih tubuh mungil itu kembali.

“Kau ini kenapa sih?!” Chinen lagi-lagi harus meronta, setelah berhasil melepaskan diri ia segera berlari.

“Tunggu Yuki ah—Yuri!”

Yang terjadi selanjutnya adalah kejar-kejaran disertai gerutan kesal pihak yang dikejar. Area gedung 8 memang cukup sepi namun kemudian Chinen berlari menuju area gedung 5 yang terdapat banyak mahasiswa juga masih terdapat wakil presiden universitas yang dikerubungi penggemarnya.

“Kenapa kau mengejarku terus?! Sana pergi dasar orang gila!” seru Chinen sambil berlari. 

“Makanya kubilang tunggu! Biarkan aku bicara padamu!”

“Nggak! Kau orang aneh!” Chinen langsung menambah kecepatan berlarinya. Ketika mata lentik pemuda mungil itu menangkap sosok yang dicari sedari tadi, ia segera menuju padanya sambil berseru.

“Ryosuke!!!”

BRUK!

Chinen menerobos gerombolan yang mengerubungi orang yang dicarinya kemudian memeluknya didepan umum.

“Chii..?! Kok bisa—“

“Orang aneh ini dari tadi ingin memelukku terus! Hosh... hosh..” Chinen berkata sembari terengah-engah, satu tangannya melingkar erat di pinggang Yamada Ryosuke—yang ia cari dan tunggu sejak tadi—sedangkan satunya lagi menunjuk Ryutaro yang kerap ngos-ngosan.

“Yuki...”

“Sudah kukatakan berkali kali namaku bukan Yuki!” geram Chinen, mengeratkan pelukannya dipinggang sang wakil presiden. Yamada hanya balas merangkul pundak Chinen sambil mengangkat alis dan menatap Ryutaro, dirinya kerap bingung.

“Yamada-kun, siapa pemuda kecil ini?”

“Iya. Siapa dia? Kok seenaknya memelukmu?”

Interupsi para penggemar Yamada membuat kebingungan sang ‘pangeran’ menguap. Ia tersenyum kecil kemudian mengelus rambut Chinen.

“Chinen Yuri desu. Keka—“

“Dia adikku. Adik kesayanganku.” potong Yamada kalem. “Tahun ajaran baru nanti ia akan  menjadi mahasiswa disini.”

Chinen tak bisa tak mengernyit saat perkenalannya dialihkan oleh ucapan Yamada. Namun ketika rangkulan dibahunya semakin mengerat, kernyitan Chinen mereda terganti senyum sedih. “Ah... iya. Aku adiknya. Salam kenal.”

“Oh begitu. Hanya adik rupanya. Yamada-kun kan sudah bersama Yuto-sama, mana mungkin punya hubungan dengan yang lain.”

Chinen sebisa mungkin mempertahankan senyumnya ketika mendengar cewek disana berkata demikian.

“Kukira kau masih SMP... tahunya sudah SMA ya. Kau imut sekali,”

“Iya! sangat imut, mungil juga! Aku sudah semester lima disini, berarti seniormu. Salam kenal ya,”

Dan seterusnya, pujian para gadis penggemar Yamada semakin bersahut-sahutan. Ryutaro yang masih berada diantara mereka mengeraskan rahang juga tangannya terkepal erat. Ia melangkah agak menghentak kemudian langsung menyeret Chinen dari gerombolan dan memeluknya segera.

“Hoi, Yamada Ryosuke. Kau yakin kalau dia adikmu?” tanyanya sinis, Chinen yang berada dipelukannya membisu dan tak memberontak.

“Ryutaro! Kau masuk-masuk langsung bringas! Bukannya kau mau keluar dari universitas ini?” Teman satu jurusan Ryutaro bertanya sengit sebagai pembelaan terhadap Yamada. Ryutaro tak memperdulikan cewek itu, matanya hanya fokus pada Yamada, menantang tanpa rasa takut.

“Kuulangi pertanyaanku. Yamada Ryosuke, kau yakin kalau dia adikmu?” 

“Ya. Dia adikku.” Satu kalimat itu cukup membuat tubuh Chinen yang ada dipelukan Ryutaro melemas, Ryutaro menyadarinya dan mengencangkan pelukannya. “Kalau begitu, mulai sekarang pemuda ini adalah kekasihku!” ucapnya lantang.

Yamada hanya bisa mengeraskan rahang diam-diam dengan tatapan mata dingin namun tak balas berkata apapun. Ryutaro berdecih saat tak ada reaksi dari pemuda dihadapannya, ia lalu mengambil tindakan berani.

Chinen tak paham apa yang terjadi dan mengapa bibirnya sampai bertubrukan dengan milik Ryutaro dihadapan umum. Sampai akhirnya terdengar suara menggelegar dari arah lain.

“LEPAS, BRENGSEK!” kemudian sebuah bogem mentah diberikan dengan cuma-cuma untuk Ryutaro yang baru saja mencium Chinen.

“BERANI SEKALI KAU MENCIUM CHII-CHAN! KEPARAT! KURANG AJAR!”

Pukulan itu terlalu cepat sehingga Ryutaro tak bisa mengelak, terpaksa pipi kirinya lebam oleh tinju dadakan pemuda tampan setinggi dirinya.

“KYAAAAA YUTO-SAMA!!”

“YUTO-PRINCEEE!!”

“NAKAJIMA-KUUUN!!”

Kaum perempuan disana tak ada yang menghentikan Yuto, mereka justru terkagum melihat pemuda tampan nan tinggi itu menghajar Ryutaro.

“Yuto!” baru kemudian Yamada menarik lengan pemuda tampan itu untuk menghentikan tindakan sembrononya, “hentikan, Yuto!”

Chinen mengerjap, bibirnya yang semula kelu mulai terbuka. “Yutti...”

“SIAPA KAU, HAH?! BERANI BERANINYA MENCIUM—“

“Nakajima Yuto!” Yamada membentak, membuat semua yang ada disana terdiam. Kemudian lengan Yamada melingkar di lengan Yuto. Melingkar erat. “Kau tidak perlu berteriak.”

“Tapi Yama-chan! dia menci—“

“Lalu kenapa? Aku kekasihmu kan?” lagi lagi Yamada memotong ucapan Yuto dengan ketus, mendongak untuk menatap pemuda tinggi itu.

“Maaf permisi. Aku mau pulang.” Chinen tiba-tiba berbalik badan kemudian enyah dari tempatnya.

“Chii-chan, tunggu!” Yuto berseru dan hendak mengejar Chinen namun lengannya ditahan dengan kuat oleh Yamada.

Ryutaro tak ambil pusing dengan lukanya dan bergegas mengikuti pemuda imut yang berlari keluar dari Fakultas Ilmu Komputer.

“KAU!! JANGAN MENGEJARNYA, BRENGSEK!!” Teriakan Yuto tak berhasil mencegah Ryutaro untuk mengejar Chinen, terlebih tangan Yamada yang melingkar sempurna pada lengan Yuto membuatnya tetap berada ditempat.

.

“Hei tunggu!” Ryutaro akhirnya berhasil menangkap bahu Chinen setelah selesai kejar-kejaran, tampaknya pemuda SMA itu lelah berlari. Ia berhenti kemudian menepis tangan Ryutaro.

“Hari ini aku gagal menemui Ryosuke, gagal berekting didepannya, gagal bertingkah baik didepannya. Semuanya gagal....” Chinen memutar badan dan mendongak sambil menuding Ryutaro, “GARA-GARA KAU!!!”  

Ryutaro hanya diam. Mengamati pemuda dihadapannya itu dengan saksama. Sementara Chinen terus mengoceh.

“Harusnya aku tidak bertemu denganmu lalu kau peluk seenaknya! Harusnya kau tidak menciumku didepan umum. Dasar idiot! Kau mempermalukanku di depan umum!!”

Ryutaro masih terdiam. Diam dan memperhatikan.

“Halo?! Kau tuli heh?!” sarkas Chinen sambil melambaikan tangannya didepan wajah Ryutaro. Pemuda jangkung itu hanya tersenyum, ia mati-matian untuk tidak mengelus pipi poreselen pemuda mungil di hadapannya. Meski teramat ingin.

“Hah... capek marah dengan orang gila.” Chinen balik badan untuk kemudian melanjutkan jalannya. Saat bus yang ia tunggu datang, pemuda itu segera menumpakinya namun Ryutaro masih setia mengikuti.

“Kenapa mengikutiku terus?!”

“Karena aku tak mau kehilanganmu lagi.” Jawab Ryutaro. Ia menatap lekat Chinen disebelahnya. “Kau berhasil membuatku bersemangat lagi, Chinen Yuri.”

“Bagus. Kau sudah lancar menyebut namaku.” Chinen mendengus.

“Yuri dan Yuki itu mirip.”

“Dari tadi kau menyebut Yuki Yuki terus. Siapa dia?” Chinen menatap Ryutaro, alisnya bertaut.

Ryutaro hendak membuka mulutnya namun kemudian terkatup saat mata kecoklatannya membingkai sempurna wajah Chinen.

Astaga... dilihat berkali kali-pun pemuda dihadapannya itu begitu mirip dengan Yuki-nya. Satu satunya yang membedakann hanyalah hidung dan...

“Jangan pegang-pegang,” Chinen menepis tangan Ryutaro dipipinya.

“Maaf,” pemuda jangkung itu menatap sedih. “Kenapa kau kurus sekali? Pipimu tirus. Apa kau tidak makan? Makan ya? Aku yang traktir!”

Chinen terkesiap sebentar, kemudian tawanya lepas. “Kau bukan siapa-siapaku tapi sok perhatian.” Ucapnya sarkas, saat tawanya reda ia tersenyum apik. “Tapi terimakasih.”

Ryutaro mendengus pelan. Tak lama terdengar sebuah nada dering norak yang tak ayal dari Hp pemuda imut disampingnya.

Yuri! Chinen Yuri! Angkat telponku! Yuri! Chinen Yuri! Angkat telpon—

Moshi-moshhh~?” Pemuda SMA itu segera menjawab, nadanya sangat lembut. “Aku di bus. Iya ingin pulang. Iya aku juga minta maaf...”

Ryutaro hanya mengamati.

“Ahahaha.. Ryosuke tak perlu merasa bersalah. Kan memang seharusnya kau pura-pura. Hanya saja tadi aku syok jadi—“

Tiba-tiba diam. Ryutaro mengamati lebih rinci.

“Aku nggak kenal! Demi apapun! Dia kutemui ketika kau nggak datang-datang di tempat tadi.”

.....

“Iya.. dia masih mengikutiku...” kemudian Ryutaro melihat Chinen menjauhkan HPnya karena kaget dengan sebuah bentakan dari sang penelpon. “Shh! Jangan teriak-teriak! Aku tidak diapa-apakan, sungguh! Kalaupun dia macam macam aku bisa membela diri. Begini-begini aku jagoan atletik, ingat?”

....

“Iya, nanti kerumah kan? Hmm... aku tunggu. Iya. Maaf ya gagal ketemuannya. Hehe..”

....

“Aku juga cinta, Ryosuke. jaa.

Ryutaro masih mengamati pemuda mungil disampingnya bahkan setelah selesai menelpon si wakil presiden itu. Ryutaro lagi lagi mendengus. “Yuri, kau yakin di—“

“Jangan seenaknya memanggil namaku.” Chinen memotong, sinis. “Kau bukan siapa siapa. Jadi jangan lancang.”

“Namamu memang Yuri, kan?”

“Hanya Ryosuke dan keluargaku yang berhak memanggilku seperti itu.” Jelas Chinen ketus sambil menatap pemuda jangkung itu. “Dari tadi aku tak mengerti kenapa kau mengikutiku terus. Dan kenapa kau seenaknya memeluk bahkan menciumku? Apa kau melihatku sebagai orang yang kau suka, huh?”

Pemuda Morimoto itu terdiam. Bahkan tanpa dijawabpun tebakan pemuda elok didepannya itu sangat benar.

“Oh begitu,” Chinen mengambil kesimpulan. “Yukito Nishii namanya ya? aku tak tahu sebagaimana miripnya aku dengannya yang jelas kau tetap salah orang. Dan... dari tingkahmu yang seolah maniak terhadapku, aku bisa menebak bahwa dia telah meninggal?”

Ryutaro lagi-lagi terdiam, namun matanya seakan memberi jawaban.

“Benar kan,” Chinen tersenyum pilu. “Tapi dengar ya, aku bukan dia. Lagipula aku sudah punya kekasih jadi jangan harap kau bisa mendapatkanku.” Katanya dengan nada percaya diri. Ryutaro terkekeh pelan.

“Kenapa tertawa?”

“Ah.. tidak, hanya saja... yang kau maksud kekasih tadi... Yamada Ryosuke?”

Chinen berdecak dan mengangguk, “Siapa lagi? Dia kekasihku satu-satunya!”

“Bodoh,” Ryutaro menyentil pelan kening Chinen, “Kau menyukai dan sangat bangga mengatakan ia adalah kekasihmu. Tapi nyatanya dia hanya mengakuimu sebagai adik.”

Chinen terdiam. Rautnya berubah sendu—Ryutaro menyadari hal itu—namun kemudian pemuda mungil itu menyeringai, “sekali lagi ya.. kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan sok tahu. Ryosuke sangat mencintaiku dan dia—“

“Dan dia sudah punya pacar yang bernama Nakajima Yuto.” Sela Ryutaro, wajahnya getas. “dia pacarnya si Presiden itu kan?”

“Yutti hanya teman masa kecilnya,” Chinen berusaha tenang. “lagipula Yutti sangat terobsesi padaku.”

“Ap—”

“Ryosuke pura-pura mengatakan pada semuanya bahwa Yutti adalah pacarnya sehingga ia tidak berani macam macam terhadapku. Ryosuke hanya pura pura romantis dengan Yutti dihadapan banyak orang, aslinya Ryosuke tidak menyukai Yutti.”

“Jelaskan lebih rinci. Kumohon...” pinta Ryutaro lembut. Chinen mengesah.

“Intinya Ryosuke dan Yutti sama-sama mencintaiku. Yutti justru sangat terobsesi denganku. Tapi Ryosuke lebih dulu mengenalku dan menyatakan cinta jadi Yutti tak berhak mendekatiku. Dilain sisi, keluarga Nakajima dan Yamada adalah kerabat dekat. Mereka termasuk priyai secara turun temurun. Apalagi Yutti, keluarganya ada keturunan kekaisaran.”

“Aku tidak paham apa hubungannya dengan mereka yang harus pura-pura sebagai kekasih,”

“Ck, karena Yutti takut dengan Ryosuke, ia tak berani membantah Ryosuke. Kau belum mengenal mereka kan? Aku mengenal mereka bahkan sampai seluk beluk keluarga mereka. Yutti aslinya cengeng. Ia lemah ahaha... meski tinggi dan ganteng begitu, tapi aslinya dia lembek.  Apalagi kalau denganku dia sangat baik! Kau harus tahu ketika dia merangkai bunga dengan neneknya hahaha... Yutti hanya bisa kuat kalau ada orang yang macam-macam selain Ryosuke kepadaku. Seperti kau. Makanya ia menonjokmu tadi ahahaha...”

Ryutaro tersenyum lembut saat Chinen tertawa.

“...tapi Ryosuke sebaliknya. Ia tegas dan pendirian. Meski tsundere dan memang nggak begitu tinggi, itulah sisi manisnya hahaha.. sayangnya keluarga mereka saling menjodohkan...”

Ryutaro merasa sendu saat nada bicara pemuda itu memelan.

“Dan anehnya dipihak dominan itu Yutti, Ryosuke sebaliknya. Mengingat hal itu aku jadi nggak ragu mengatai mereka idiot haha...”

“....

“Makanya.. sampai saat ini mereka masih berpura-pura. Ryosuke masih memikirkan cara untuk membawaku pergi.”

“Keluargamu? Apa setuju?” Ryutaro bertanya hati hati.

“Keluargaku? Setuju setuju saja. Bahkan dari awal Ryosuke memperkenalkan diri pada keluargaku mereka menyukainya. Jadi mungkin sampai aku lulus kuliah, aku masih harus berpura pura. tiga tahun lagi kok!”

Ryutaro tak bisa tersenyum meski Chinen mengatakan demikian dengan senyum. Karena ia tahu itu bukan benar benar sebuah senyuman.

“Apa kau tidak lelah harus berpura-pura? Tiap kali dia bilang kalau kau hanya adiknya didepan umum... apa tidak sakit? Tadi saja kau merasa sakit kan? Bahkan tak berontak ketika kucium. Kau seolah menginginkan kepastian darinya, tapi ketika dia tetap diam kau merelakan dicium olehku.” Ryutaro berkata dingin, menatap Chinen lekat-lekat. “Selama satu tahun ini aku mengisolasikan diri dari dunia luar karena menangisinya. Bahkan semasa hidupnya aku hanya fokus pada urusanku dan dirinya. Tapi mulai hari ini.. sepertinya akan berbeda karena aku menemukanmu.”

Chinen mendengus. “Heh, dengar ya. Aku tidak butuh cerita cintamu dengan Yuki-mu. Mau sakit ataupun nggak, Ryosuke tetap mencintaiku. Ia hanya mencintaiku, dan ia bisa menyembuhkanku.”

“Kau lebih memilih sakit berkali kali lalu sembuh ketimbang bahagia ya? Kau ini masokis?”  

Chinen menyeletukkan giginya menahan geram. Untungnya bus yang ia tumpaki telah berhenti pada halte yang dituju, Chinen bergegas turun tanpa menjawab pertanyaan Ryutaro.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Tak ada sahutan. Chinen mempercepat jalannya saat Ryutaro kembali mengikutinya hingga kerumahnya.

“Yuri,”

Chinen langsung mengangkat wajah saat mendengar namanya dipanggil dengan nada dingin. Tepat di depan rumahnya kini, sang kekasih yang sangat ia cintai berdiri tegap dengan kedua tangan di saku celana, di sampingnya teronggok sebuah mobil mini cooper merah yang diyakini sebagai tumpakannya dari universitas menuju rumah Chinen.

“Ryosuke...” pemuda imut itu melirih.

Yamada Ryosuke berjalan pelan dengan ekspresi yang begitu dingin. Bukan menuju Chinen, melainkan menuju Ryutaro yang hanya terpaku. Kemudian... seperti kaset yang diputar mundur, kejadian saat pipinya tertonjok terulang lagi. Yang ini bahkan lebih kuat.

BUAK!!

“Untuk kau yang menciuam Yuri!”

BUAK!!

“Untuk kau yang memeluk Yuri!”

BUAAK!!

“Untuk kau yang terus mengikuti Yuri!!”

Yamada memukul Ryutaro secara membabi buta. Penuh amarah disetiap pukulannya juga matanya menyalang tajam. “Dengar ya brengsek, aku ingin melakukan ini dari tadi saat kau dengan sengaja mencium kekasihku didepan umum!!” Kerah Ryutaro tertarik, “Bahkan aku ingin membunuhmu saat itu!”

Ryutaro malah tertawa, melepas cengkraman di kerahnya dengan mudah. Ia berdiri sempoyongan namun matanya tak menunjukan ketakutan sama sekali. “Tapi kenyataannya kau baru bisa melakukan ini disini kan? Dasar pengecut,”

BUAKK!!

Satu pukulan lagi namun Ryutaro hanya mendecih untuk meludahkan darah yang merembes dibibirnya. “Hahaha.. pukul saja terus. Mumpung bisa kau pukul kan? Kalau ada banyak orang apalagi di tempat kuliah, kau harus berlaku lemah lembut layaknya uke. Ya kan, Yama-chan?”

Yamada langsung menatap Chinen yang hanya terbujur kaku sambil meremas tangannya. “Yuri, kau bercerita padanya!?”

“I—itu... aku pikir dengan bercerita dia akan berhenti mengganggu dan mengikutiku....” ucapnya lirih.

Yamada mendesah, tak berniat memarahi kekasihnya karena ia tahu yang ia lakukan memang hanya keterpura-puraan. Pemuda tampan itu mendorong Ryutaro dengan kasar kemudian menghampiri Chinen dan mendekap tubuh mungil itu dengan lembut. “Aku minta maaf telat menjemputmu dan malah membiarkanmu ditemui orang sinting.” ucap Yamada lembut sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium... kening Chinen.

“Ryosuke?” Chinen mengernyit.

Yamada tak menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya.

“Maaf ya... nanti, habis ini aku langsung cuci mulut. Aku langsung gosok gigi. Aku langsung bersihkan semuanya. Maaf, Ryosuke...” ujar Chinen lirih. “Aku janji hanya membiarkan bibirku dicium olehmu. Tidak lagi...”

Yamada tersenyum, mengelus lambut kepala pemuda mungil itu. “Ya. Kau harus menjaganya. Karena kalau sampai dicium oleh orang lain selain aku lagi. Kupastikan ia akan mati.”

“Ouh, seram sekali, bung.” Ryutaro mengangkat kedua tangannya ketika Yamada menatapnya tajam. Tapi kemudian pemuda Morimoto itu tertawa ironi dan mendekati Chinen. Yamada mengencangkan pelukannya.

“Tenang saja, aku tak akan menyentuh Yuri-mu untuk sekarang.”

Chinen menatapnya geram. Sementara Yamada menahan dirinya untuk tidak menghancurkan wajah si pemuda jangkung itu.

“Tapi kalau kau saja bisa berpura-pura menjadi kekasih si Presiden itu, aku juga bisa.. berpura-pura menjadi kekasih Chinen Yuri dihadapan orang-orang kan?”

Yamada tercengang.

“Jadi, Yuri...” Ryutaro kembali menatap lekat Chinen, mata kecoklatan itu masuk lebih jauh kedalam obsidian pemuda mungil yang kerap menatapnya sungguh-sungguh. “Kalau kau memang tak bisa kumiliki... setidaknya biarkan kau menggantikannya... sampai aku bisa melepasnya,”

“Apa maksu—“

“dan sampai Yamada-mu itu bisa membebaskanmu dari keterpura-puraan.” Tandas Ryutaro memotong ucapan Yamada, senyumnya terkembang sempurna.

Yamada mengepalkan tangannya bersiap menonjok Ryutaro kembali namun Chinen lebih dulu berkata, “Mungkin itu ide yang bagus.” jeda untuk waktu yang tak lama, "Hanya saja...."

To be a continue~
.
.
.



A/N: Ahahaha... hayo chinen mau bilang apa hayooo :p wkwk XD //senengnyabikinorangpenasaran lol. Maap kalo kebanyakan moment ChiiTaro nya. Tapi aku ngikutin alur dan konsep cerita. Dan keknya emang ntar bakal banyak chiitaro dan juga.. yamajima //huft -_- tapi tunggu sampe ending~ nyahahahak XD saya ngetik yang Yama ngaku ngaku pacarnya Yuto geli sendiri siah. iiiih gilak horor parah -_-

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review