Tittle: Replace Demand
Chapter: 2 (Chapter 1)
Author : Kiwok
Main Chara : Ryutaro Morimoto
Pair : MoriNishii, Yamachii. RyuChii/ChiiTaro, YamaJima, YutoChii.
Genre: Collage!AU, slice of life,
hurt/comfort(?)
Keterangan: Ryutaro (19), Yamada
(20), Yuto (21), Chinen (17), Yukito (18).
WARNING! BAHASA SUKA SUKA!
Summary : “Kalau kau memang tak bisa kumiliki. Setidaknya biarkan kau menjadi
penggantinya.. sampai aku bisa melepasnya.”
Douzo~
.
.
..
.
Ryutaro bisa saja mati jika lupa untuk mengambil nafas saat melihat wajah itu. Tangannya yang semula kaku langsung memeluk laki-laki mungil
didepannya. Dipeluk tanpa ampun sembari merapalkan satu nama.
“Yuki... Yuki... Yuki...! Yuki!!”
Chinen Yuri, anak laki-laki yang kini tengah dipeluk Ryutaro hanya bisa mengernyit hebat, kaget tentu saja. Ia berusaha untuk berontak
namun tubuhnya yang lebih kecil tak bisa berbuat banyak.
“Le—lepas!” dan hanya bisa meronta.
“Yuki! Yukito Nishii!!”
“Aku tak mengerti apa yang kau katakan, namaku bukan Yuki tapi Yuri! Dan
jangan sembarangan memelukku!” Chinen masih meronta, kali ini mengerahkan semua
tenaganya hingga pelukan Ryutaro terlepas. Remaja mungil itu segera mengambil
banyak jarak. “Jangan macam-macam!” pekiknya nyaring.
Ryutaro masih dalam keadaan syok. Pikirannya sudah kalap kala melihat
sosok imut dan mungil didepannya bagai duplikat kekasihnya. Mata itu... bibir itu...
giginya... senyumnya... suaranya... semua
mirip dengan mendiang kekasihnya.
“Kubilang jangan mendekat!” Chinen mundur beberapa langkah saat Ryutaro
mengulurkan tangan dan mendekat padanya, namun pemuda jangkung itu tak
mengendahkan ancaman Chinen. Ia dengan mantap meraih tubuh mungil itu kembali.
“Kau ini kenapa sih?!” Chinen lagi-lagi harus meronta, setelah berhasil
melepaskan diri ia segera berlari.
“Tunggu Yuki ah—Yuri!”
Yang terjadi selanjutnya adalah kejar-kejaran disertai gerutan kesal pihak yang dikejar. Area gedung 8 memang cukup sepi namun kemudian Chinen berlari menuju area gedung 5 yang terdapat
banyak mahasiswa juga masih terdapat wakil presiden universitas yang
dikerubungi penggemarnya.
“Kenapa kau mengejarku terus?! Sana pergi dasar orang gila!” seru Chinen sambil
berlari.
“Makanya kubilang tunggu! Biarkan aku bicara padamu!”
“Nggak! Kau orang aneh!” Chinen langsung menambah kecepatan berlarinya. Ketika mata lentik pemuda mungil itu menangkap sosok yang dicari sedari tadi, ia segera menuju
padanya sambil berseru.
“Ryosuke!!!”
BRUK!
Chinen menerobos gerombolan yang mengerubungi orang yang dicarinya kemudian
memeluknya didepan umum.
“Chii..?! Kok bisa—“
“Orang aneh ini dari tadi ingin memelukku terus! Hosh... hosh..” Chinen berkata sembari terengah-engah, satu tangannya melingkar erat di pinggang Yamada Ryosuke—yang ia cari dan tunggu sejak tadi—sedangkan satunya lagi menunjuk Ryutaro yang kerap ngos-ngosan.
“Yuki...”
“Sudah kukatakan berkali kali namaku bukan Yuki!” geram Chinen, mengeratkan
pelukannya dipinggang sang wakil presiden. Yamada hanya balas merangkul pundak Chinen sambil mengangkat alis dan menatap
Ryutaro, dirinya kerap bingung.
“Yamada-kun, siapa pemuda kecil ini?”
“Iya. Siapa dia? Kok seenaknya memelukmu?”
Interupsi para penggemar Yamada membuat kebingungan sang ‘pangeran’ menguap.
Ia tersenyum kecil kemudian mengelus rambut Chinen.
“Chinen Yuri desu. Keka—“
“Dia adikku. Adik kesayanganku.” potong Yamada kalem. “Tahun ajaran baru
nanti ia akan menjadi mahasiswa disini.”
Chinen tak bisa tak mengernyit saat perkenalannya dialihkan oleh ucapan Yamada.
Namun ketika rangkulan dibahunya semakin mengerat, kernyitan Chinen mereda
terganti senyum sedih. “Ah... iya. Aku adiknya. Salam kenal.”
“Oh begitu. Hanya adik rupanya. Yamada-kun kan sudah bersama Yuto-sama, mana mungkin punya hubungan dengan yang lain.”
Chinen sebisa mungkin mempertahankan senyumnya ketika mendengar cewek
disana berkata demikian.
“Kukira kau masih SMP... tahunya sudah SMA ya. Kau imut sekali,”
“Iya! sangat imut, mungil juga! Aku sudah semester lima disini, berarti
seniormu. Salam kenal ya,”
Dan seterusnya, pujian para gadis penggemar Yamada semakin bersahut-sahutan.
Ryutaro yang masih berada diantara mereka mengeraskan rahang juga tangannya terkepal
erat. Ia melangkah agak menghentak kemudian langsung menyeret Chinen dari gerombolan dan
memeluknya segera.
“Hoi, Yamada Ryosuke. Kau yakin kalau dia adikmu?” tanyanya sinis, Chinen
yang berada dipelukannya membisu dan tak memberontak.
“Ryutaro! Kau masuk-masuk langsung bringas! Bukannya kau mau keluar dari
universitas ini?” Teman satu jurusan Ryutaro bertanya sengit sebagai pembelaan terhadap Yamada. Ryutaro tak memperdulikan cewek itu, matanya hanya fokus pada Yamada, menantang tanpa rasa takut.
“Kuulangi pertanyaanku. Yamada Ryosuke, kau yakin kalau dia adikmu?”
“Ya. Dia adikku.” Satu kalimat itu cukup membuat tubuh Chinen yang ada
dipelukan Ryutaro melemas, Ryutaro menyadarinya dan mengencangkan pelukannya.
“Kalau begitu, mulai sekarang pemuda ini adalah kekasihku!” ucapnya lantang.
Yamada hanya bisa mengeraskan rahang diam-diam dengan tatapan mata
dingin namun tak balas berkata apapun. Ryutaro berdecih saat tak ada reaksi
dari pemuda dihadapannya, ia lalu mengambil tindakan berani.
Chinen tak paham apa yang terjadi dan mengapa bibirnya sampai bertubrukan
dengan milik Ryutaro dihadapan umum. Sampai akhirnya terdengar suara menggelegar dari
arah lain.
“LEPAS, BRENGSEK!” kemudian sebuah bogem mentah diberikan dengan cuma-cuma
untuk Ryutaro yang baru saja mencium Chinen.
“BERANI SEKALI KAU MENCIUM CHII-CHAN! KEPARAT! KURANG AJAR!”
Pukulan itu terlalu cepat sehingga Ryutaro tak bisa mengelak, terpaksa pipi
kirinya lebam oleh tinju dadakan pemuda tampan setinggi dirinya.
“KYAAAAA YUTO-SAMA!!”
“YUTO-PRINCEEE!!”
“NAKAJIMA-KUUUN!!”
Kaum perempuan disana tak ada yang menghentikan Yuto, mereka justru terkagum melihat pemuda tampan nan tinggi itu menghajar Ryutaro.
“Yuto!” baru kemudian Yamada menarik lengan pemuda tampan itu untuk
menghentikan tindakan sembrononya, “hentikan, Yuto!”
Chinen mengerjap, bibirnya yang semula kelu mulai terbuka. “Yutti...”
“SIAPA KAU, HAH?! BERANI BERANINYA MENCIUM—“
“Nakajima Yuto!” Yamada membentak, membuat semua yang ada disana terdiam.
Kemudian lengan Yamada melingkar di lengan Yuto. Melingkar erat. “Kau tidak
perlu berteriak.”
“Tapi Yama-chan! dia menci—“
“Lalu kenapa? Aku kekasihmu kan?” lagi lagi Yamada memotong ucapan Yuto
dengan ketus, mendongak untuk menatap pemuda tinggi itu.
“Maaf permisi. Aku mau pulang.” Chinen tiba-tiba berbalik badan kemudian enyah dari tempatnya.
“Chii-chan, tunggu!” Yuto berseru dan hendak mengejar Chinen namun
lengannya ditahan dengan kuat oleh
Yamada.
Ryutaro tak ambil pusing dengan lukanya dan bergegas mengikuti pemuda imut
yang berlari keluar dari Fakultas Ilmu Komputer.
“KAU!! JANGAN MENGEJARNYA, BRENGSEK!!” Teriakan Yuto tak berhasil mencegah
Ryutaro untuk mengejar Chinen, terlebih tangan Yamada yang melingkar sempurna
pada lengan Yuto membuatnya tetap berada ditempat.
.
“Hei tunggu!” Ryutaro akhirnya berhasil menangkap bahu Chinen setelah selesai kejar-kejaran, tampaknya pemuda SMA itu lelah berlari. Ia berhenti kemudian
menepis tangan Ryutaro.
“Hari ini aku gagal menemui Ryosuke, gagal berekting didepannya, gagal
bertingkah baik didepannya. Semuanya gagal....” Chinen memutar badan dan
mendongak sambil menuding Ryutaro, “GARA-GARA KAU!!!”
Ryutaro hanya diam. Mengamati pemuda dihadapannya itu dengan saksama.
Sementara Chinen terus mengoceh.
“Harusnya aku tidak bertemu denganmu lalu kau peluk seenaknya! Harusnya kau
tidak menciumku didepan umum. Dasar idiot! Kau mempermalukanku di depan umum!!”
Ryutaro masih terdiam. Diam dan memperhatikan.
“Halo?! Kau tuli heh?!” sarkas Chinen sambil melambaikan tangannya didepan
wajah Ryutaro. Pemuda jangkung itu hanya tersenyum, ia mati-matian
untuk tidak mengelus pipi poreselen pemuda mungil di hadapannya. Meski teramat
ingin.
“Hah... capek marah dengan orang gila.” Chinen balik badan untuk kemudian
melanjutkan jalannya. Saat bus yang ia tunggu datang, pemuda itu segera
menumpakinya namun Ryutaro masih setia mengikuti.
“Kenapa mengikutiku terus?!”
“Karena aku tak mau kehilanganmu lagi.” Jawab Ryutaro. Ia menatap lekat Chinen disebelahnya. “Kau berhasil membuatku bersemangat lagi, Chinen Yuri.”
“Bagus. Kau sudah lancar menyebut namaku.” Chinen mendengus.
“Yuri dan Yuki itu mirip.”
“Dari tadi kau menyebut Yuki Yuki terus. Siapa dia?” Chinen menatap
Ryutaro, alisnya bertaut.
Ryutaro hendak membuka mulutnya namun kemudian terkatup saat mata
kecoklatannya membingkai sempurna wajah Chinen.
Astaga... dilihat berkali kali-pun pemuda dihadapannya itu begitu mirip dengan Yuki-nya. Satu satunya yang membedakann hanyalah hidung dan...
Astaga... dilihat berkali kali-pun pemuda dihadapannya itu begitu mirip dengan Yuki-nya. Satu satunya yang membedakann hanyalah hidung dan...
“Jangan pegang-pegang,” Chinen menepis tangan Ryutaro dipipinya.
“Maaf,” pemuda jangkung itu menatap sedih. “Kenapa kau kurus sekali? Pipimu
tirus. Apa kau tidak makan? Makan ya? Aku yang traktir!”
Chinen terkesiap sebentar, kemudian tawanya lepas. “Kau bukan siapa-siapaku
tapi sok perhatian.” Ucapnya sarkas, saat tawanya reda ia tersenyum apik. “Tapi
terimakasih.”
Ryutaro mendengus pelan. Tak lama terdengar sebuah nada dering norak yang tak ayal dari Hp pemuda imut disampingnya.
Yuri! Chinen Yuri! Angkat telponku! Yuri!
Chinen Yuri! Angkat telpon—
“Moshi-moshhh~?” Pemuda SMA itu segera menjawab, nadanya sangat lembut. “Aku
di bus. Iya ingin pulang. Iya aku juga minta maaf...”
Ryutaro hanya mengamati.
“Ahahaha.. Ryosuke tak perlu merasa bersalah. Kan memang seharusnya kau
pura-pura. Hanya saja tadi aku syok jadi—“
Tiba-tiba diam. Ryutaro mengamati lebih rinci.
“Aku nggak kenal! Demi apapun! Dia kutemui ketika kau nggak datang-datang
di tempat tadi.”
.....
“Iya.. dia masih mengikutiku...” kemudian Ryutaro melihat Chinen menjauhkan
HPnya karena kaget dengan sebuah bentakan dari sang penelpon. “Shh! Jangan
teriak-teriak! Aku tidak diapa-apakan, sungguh! Kalaupun dia macam macam aku
bisa membela diri. Begini-begini aku jagoan atletik, ingat?”
....
“Iya, nanti kerumah kan? Hmm... aku tunggu. Iya. Maaf ya gagal ketemuannya.
Hehe..”
....
“Aku juga cinta, Ryosuke. jaa.”
Ryutaro masih mengamati pemuda mungil disampingnya bahkan setelah selesai menelpon
si wakil presiden itu. Ryutaro lagi lagi mendengus. “Yuri, kau
yakin di—“
“Jangan seenaknya memanggil namaku.” Chinen memotong, sinis. “Kau
bukan siapa siapa. Jadi jangan lancang.”
“Namamu memang Yuri, kan?”
“Hanya Ryosuke dan keluargaku yang berhak memanggilku seperti itu.” Jelas
Chinen ketus sambil menatap pemuda jangkung itu. “Dari tadi aku tak
mengerti kenapa kau mengikutiku terus. Dan kenapa kau seenaknya memeluk bahkan
menciumku? Apa kau melihatku sebagai orang yang kau suka, huh?”
Pemuda Morimoto itu terdiam. Bahkan tanpa dijawabpun tebakan pemuda elok didepannya itu sangat benar.
“Oh begitu,” Chinen mengambil kesimpulan. “Yukito Nishii namanya ya? aku
tak tahu sebagaimana miripnya aku dengannya yang jelas kau tetap salah orang. Dan...
dari tingkahmu yang seolah maniak terhadapku, aku bisa menebak bahwa dia telah
meninggal?”
Ryutaro lagi-lagi terdiam, namun matanya seakan memberi jawaban.
“Benar kan,” Chinen tersenyum pilu. “Tapi dengar ya, aku bukan dia.
Lagipula aku sudah punya kekasih jadi jangan harap kau bisa mendapatkanku.”
Katanya dengan nada percaya diri. Ryutaro terkekeh pelan.
“Kenapa tertawa?”
“Ah.. tidak, hanya saja... yang kau maksud kekasih tadi... Yamada Ryosuke?”
Chinen berdecak dan mengangguk, “Siapa lagi? Dia kekasihku satu-satunya!”
“Bodoh,” Ryutaro menyentil pelan kening Chinen, “Kau menyukai dan sangat bangga
mengatakan ia adalah kekasihmu. Tapi nyatanya dia hanya mengakuimu sebagai
adik.”
Chinen terdiam. Rautnya berubah sendu—Ryutaro menyadari hal itu—namun
kemudian pemuda mungil itu menyeringai, “sekali lagi ya.. kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan
sok tahu. Ryosuke sangat mencintaiku dan dia—“
“Dan dia sudah punya pacar yang bernama Nakajima Yuto.” Sela Ryutaro,
wajahnya getas. “dia pacarnya si Presiden itu kan?”
“Yutti hanya teman masa kecilnya,” Chinen berusaha tenang. “lagipula Yutti
sangat terobsesi padaku.”
“Ap—”
“Ryosuke pura-pura mengatakan pada semuanya bahwa Yutti adalah
pacarnya sehingga ia tidak berani macam macam terhadapku. Ryosuke
hanya pura pura romantis dengan Yutti dihadapan banyak orang, aslinya Ryosuke tidak menyukai Yutti.”
“Jelaskan lebih rinci. Kumohon...” pinta Ryutaro lembut. Chinen mengesah.
“Intinya Ryosuke dan Yutti sama-sama mencintaiku. Yutti justru sangat
terobsesi denganku. Tapi Ryosuke lebih dulu mengenalku dan menyatakan cinta jadi
Yutti tak berhak mendekatiku. Dilain sisi, keluarga Nakajima dan Yamada adalah
kerabat dekat. Mereka termasuk priyai secara turun temurun. Apalagi Yutti,
keluarganya ada keturunan kekaisaran.”
“Aku tidak paham apa hubungannya dengan mereka yang harus pura-pura sebagai kekasih,”
“Ck, karena Yutti takut dengan Ryosuke, ia tak berani membantah Ryosuke. Kau
belum mengenal mereka kan? Aku mengenal mereka bahkan sampai seluk beluk
keluarga mereka. Yutti aslinya cengeng. Ia lemah ahaha... meski tinggi dan
ganteng begitu, tapi aslinya dia lembek. Apalagi kalau denganku dia sangat baik! Kau
harus tahu ketika dia merangkai bunga dengan neneknya hahaha... Yutti hanya bisa
kuat kalau ada orang yang macam-macam selain Ryosuke kepadaku. Seperti kau.
Makanya ia menonjokmu tadi ahahaha...”
Ryutaro tersenyum lembut saat Chinen tertawa.
“...tapi Ryosuke sebaliknya. Ia tegas dan pendirian. Meski tsundere
dan memang nggak begitu tinggi, itulah sisi manisnya hahaha.. sayangnya
keluarga mereka saling menjodohkan...”
Ryutaro merasa sendu saat nada bicara pemuda itu memelan.
“Dan anehnya dipihak dominan itu Yutti, Ryosuke sebaliknya. Mengingat hal
itu aku jadi nggak ragu mengatai mereka idiot haha...”
“.... ”
“Makanya.. sampai saat ini mereka masih berpura-pura. Ryosuke masih
memikirkan cara untuk membawaku pergi.”
“Keluargamu? Apa setuju?” Ryutaro bertanya hati hati.
“Keluargaku? Setuju setuju saja. Bahkan dari awal Ryosuke memperkenalkan
diri pada keluargaku mereka menyukainya. Jadi mungkin sampai aku lulus kuliah,
aku masih harus berpura pura. tiga tahun lagi kok!”
Ryutaro tak bisa tersenyum meski Chinen mengatakan demikian dengan senyum.
Karena ia tahu itu bukan benar benar
sebuah senyuman.
“Apa kau tidak lelah harus berpura-pura? Tiap kali dia bilang kalau kau
hanya adiknya didepan umum... apa tidak sakit? Tadi saja kau merasa sakit kan?
Bahkan tak berontak ketika kucium. Kau seolah menginginkan kepastian darinya, tapi ketika dia tetap diam kau merelakan dicium olehku.” Ryutaro berkata
dingin, menatap Chinen lekat-lekat. “Selama
satu tahun ini aku mengisolasikan diri dari dunia luar karena menangisinya.
Bahkan semasa hidupnya aku hanya fokus pada urusanku dan dirinya. Tapi mulai
hari ini.. sepertinya akan berbeda karena aku menemukanmu.”
Chinen mendengus. “Heh, dengar ya. Aku tidak butuh cerita cintamu dengan Yuki-mu. Mau sakit ataupun nggak, Ryosuke tetap
mencintaiku. Ia hanya mencintaiku, dan ia bisa menyembuhkanku.”
“Kau lebih memilih sakit berkali kali lalu sembuh ketimbang bahagia ya? Kau
ini masokis?”
Chinen menyeletukkan giginya menahan geram. Untungnya bus yang ia tumpaki telah berhenti pada halte yang dituju, Chinen bergegas turun tanpa menjawab pertanyaan Ryutaro.
“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”
Tak ada sahutan. Chinen mempercepat jalannya saat Ryutaro kembali
mengikutinya hingga kerumahnya.
“Yuri,”
Chinen langsung mengangkat wajah saat mendengar namanya dipanggil dengan nada dingin. Tepat di depan rumahnya kini, sang kekasih yang sangat ia cintai berdiri tegap dengan kedua tangan di saku celana, di sampingnya teronggok
sebuah mobil mini cooper merah yang diyakini sebagai tumpakannya dari
universitas menuju rumah Chinen.
“Ryosuke...” pemuda imut itu melirih.
Yamada Ryosuke berjalan pelan dengan ekspresi yang begitu dingin. Bukan
menuju Chinen, melainkan menuju Ryutaro yang hanya terpaku. Kemudian... seperti
kaset yang diputar mundur, kejadian saat pipinya tertonjok terulang lagi. Yang
ini bahkan lebih kuat.
BUAK!!
“Untuk kau yang menciuam Yuri!”
BUAK!!
“Untuk kau yang memeluk Yuri!”
BUAAK!!
“Untuk kau yang terus mengikuti Yuri!!”
Yamada memukul Ryutaro secara membabi buta. Penuh amarah disetiap
pukulannya juga matanya menyalang tajam. “Dengar ya brengsek, aku ingin melakukan
ini dari tadi saat kau dengan sengaja mencium kekasihku didepan umum!!” Kerah Ryutaro
tertarik, “Bahkan aku ingin membunuhmu saat itu!”
Ryutaro malah tertawa, melepas cengkraman di kerahnya dengan mudah. Ia berdiri sempoyongan namun
matanya tak menunjukan ketakutan sama sekali. “Tapi kenyataannya kau baru bisa
melakukan ini disini kan? Dasar pengecut,”
BUAKK!!
Satu pukulan lagi namun Ryutaro hanya mendecih untuk meludahkan darah yang
merembes dibibirnya. “Hahaha.. pukul saja terus. Mumpung bisa kau pukul kan?
Kalau ada banyak orang apalagi di tempat kuliah, kau harus berlaku
lemah lembut layaknya uke. Ya kan, Yama-chan?”
Yamada langsung menatap Chinen yang hanya terbujur kaku sambil meremas
tangannya. “Yuri, kau bercerita padanya!?”
“I—itu... aku pikir dengan bercerita dia akan berhenti mengganggu dan
mengikutiku....” ucapnya lirih.
Yamada mendesah, tak berniat memarahi kekasihnya karena ia tahu yang ia lakukan memang hanya keterpura-puraan. Pemuda tampan itu mendorong Ryutaro dengan kasar kemudian menghampiri Chinen dan mendekap tubuh mungil itu dengan lembut. “Aku minta maaf telat menjemputmu dan malah membiarkanmu ditemui orang sinting.” ucap Yamada lembut sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium... kening Chinen.
Yamada mendesah, tak berniat memarahi kekasihnya karena ia tahu yang ia lakukan memang hanya keterpura-puraan. Pemuda tampan itu mendorong Ryutaro dengan kasar kemudian menghampiri Chinen dan mendekap tubuh mungil itu dengan lembut. “Aku minta maaf telat menjemputmu dan malah membiarkanmu ditemui orang sinting.” ucap Yamada lembut sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium... kening Chinen.
“Ryosuke?” Chinen mengernyit.
Yamada tak menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya.
“Maaf ya... nanti, habis ini aku langsung cuci mulut. Aku langsung gosok
gigi. Aku langsung bersihkan semuanya. Maaf, Ryosuke...” ujar Chinen lirih. “Aku
janji hanya membiarkan bibirku dicium olehmu. Tidak lagi...”
Yamada tersenyum, mengelus lambut kepala pemuda mungil itu. “Ya. Kau harus
menjaganya. Karena kalau sampai dicium oleh orang lain selain aku lagi. Kupastikan
ia akan mati.”
“Ouh, seram sekali, bung.” Ryutaro mengangkat kedua tangannya ketika Yamada
menatapnya tajam. Tapi kemudian pemuda Morimoto itu tertawa ironi dan mendekati
Chinen. Yamada mengencangkan pelukannya.
“Tenang saja, aku tak akan menyentuh Yuri-mu untuk sekarang.”
Chinen menatapnya geram. Sementara Yamada menahan dirinya untuk tidak
menghancurkan wajah si pemuda jangkung itu.
“Tapi kalau kau saja bisa berpura-pura menjadi kekasih si Presiden itu, aku juga
bisa.. berpura-pura menjadi kekasih Chinen Yuri dihadapan orang-orang kan?”
Yamada tercengang.
“Jadi, Yuri...” Ryutaro kembali menatap lekat Chinen, mata kecoklatan itu
masuk lebih jauh kedalam obsidian pemuda mungil yang kerap menatapnya sungguh-sungguh. “Kalau kau memang tak bisa kumiliki... setidaknya biarkan kau
menggantikannya... sampai aku bisa melepasnya,”
“Apa maksu—“
“dan sampai Yamada-mu itu bisa membebaskanmu dari keterpura-puraan.” Tandas
Ryutaro memotong ucapan Yamada, senyumnya terkembang sempurna.
Yamada mengepalkan tangannya bersiap menonjok Ryutaro kembali namun Chinen
lebih dulu berkata, “Mungkin itu ide yang bagus.” jeda untuk waktu yang tak lama, "Hanya saja...."
To be a continue~
.
.
.
A/N: Ahahaha... hayo chinen mau
bilang apa hayooo :p wkwk XD //senengnyabikinorangpenasaran lol. Maap kalo
kebanyakan moment ChiiTaro nya. Tapi aku ngikutin alur dan konsep cerita. Dan keknya
emang ntar bakal banyak chiitaro dan juga.. yamajima //huft -_- tapi tunggu
sampe ending~ nyahahahak XD saya ngetik yang Yama ngaku ngaku pacarnya Yuto geli sendiri siah. iiiih gilak horor parah -_-

0 komentar:
Posting Komentar