Judul: like what i’m in ur eyes
Author: kiwok
Pair: YamaChi
Genre: curahan hati author, jadi
anggap aja (canon) dan (angst) :v
Warning! Bahasa suka suka, nulisnya
ogah ogahan dan dengan perasaan muak sama
orang yang saya kira fansnya yamachii ternyata nggak suka sama chii dan
nganggep dia nyusahin yama.
Summary: “Lebih baik kau main game selamanya atau apalah, asal jangan terpuruk hanya karena ocehan fans!”
Summary: “Lebih baik kau main game selamanya atau apalah, asal jangan terpuruk hanya karena ocehan fans!”
Let’s go!
.
.
.
.
“Ryosuke, apa menurutmu aku kurang ajar?”
Yamada Ryosuke mendongak dan mengernyit saat pemuda kesayangannya tiba-tiba
bertanya demikian, aktifitas makannya menjadi terhenti. “Kenapa bertanya
begitu?”
“Aku baru saja membaca komentar fans kita di media sosial. Mereka rata-rata
menilaiku menyebalkan, kurang ajar dan seenaknya.”
Yamada diam. Chinen menunduk, namun bibir ranumnya terus berkata.
“Banyak yang menganggapku tidak berguna, yang kerjanya hanya tukang
perintah dan nyusahin.”
Yamada masih diam.
“Aku sadar aku seperti itu, apa kau keberatan...?”
Yamada kini meletakan pisau dan garpunya, lalu menatap Chinen
dengan pandangan lembut. “Aku tak mengerti kau bicara apa, seperti bukan dirimu
saja. Sudahlah, lanjutkan makanmu. Setelah ini kita—“
“Ja, aku yang sebenarnya seperti
apa dan harus bagaimana?” sela Chinen dengan raut getas, meremas garpu yang
dipegangnya. “Ini terus membuatku kepikiran. Dari dulu... ketika debut, kenapa
banyak fans yang membenciku?”
“Chinen Yuri, berhenti membaha—“
“Mereka menimpukku dengan bola, mengirim tulisan “chinen mati”, meneriaki
kata-kata buruk, membuat komentar-komentar buruk ketika aku melakukan sesuatu
atau mengatakan sesuatu di majalah atau di publik. Mereka menilaiku si imut yang
kurang ajar.”
Yamada tak punya pilihan lain selain mendengarkan sampai Chinen berhenti
bercerita.
“Apa aku sebegitu kurang ajarnya? Apa kalimatku ada yang salah? Aku idola
kan? seharusnya membuat mereka senang, tapi sepertinya mereka menganggapku
main-main atau malah berlebihan. Padahal aku hanya ingin menghibur mereka.”
“....”
“Dan yang membuatku paling kepikiran....”
“Apa?” Yamada menatap serius.
“Ketika ada fans berkomentar semua orang bergolongan darah AB itu menjengkelkan dan absurd. Mereka mengataiku dan orang-orang berdarah AB lainnya memiliki sifat sbsurd!”
Yamada ingin sekali meringis kemudian menggetok kening pemuda mungil dihadapannya kalau saja situasinya sedang dalam bercanda. Namun Chinen mengatakannya dengan
serius.
“Kemudian fans yang lain menimpali, kalau
semua orang yang memiliki golongan darah AB seperti Chinen, berarti yang
memiliki golongan darah B sama seperti Yamada. Itu artinya Yamada sama
sepertiku yang terganggu dengan Chinen.” Jelas pemuda imut itu dengan
rahang mengeras. Yamada kontan mengangkat alis namun dirinya urung untuk
membalas dan memilih agar Chinen lanjut bercerita.
“Selama ini kau terlalu baik dan memanjakanku. Ah, begitu pula yang
lainnya. Keluargaku juga begitu. Makanya kupikir itu wajar wajar saja toh mereka, kau, dan yang lainnya tak protes. Namun kenyataannya fans banyak berkomentar buruk tentangku. Seperti; ‘memang yang begitu lucu huh?’, ‘konyol’, ‘dia terlalu sok’, ‘berlebihan’, ‘ucapannya seenaknya’, ‘sok keren’, dan
macam-macam dengan bahasa aneh.”
“....”
“Makanya aku tanya. Kau keberatan dengan itu? Ada yang harus kurubah, Ryosuke?”
Yamada belum juga menyahut setelah
lewat sepuluh detik Chinen tak berucap kembali.
“Sudah bicaranya?” tanyanya retoris sembari tersenyum apik.
Chinen mengangguk lesu, dirinya mulai menyuap dagingnya kembali.
“Pertanyaan bodohmu itu sudah ditanyakan berkali-kali ketika aku diwawancarai bahkan
ditanyai rekan sesama Jonis. Lalu kau juga bertanya padaku padahal sudah jelas
kau tahu jawabannya.” Ucap Yamada enteng sambil terkekeh. “Kau pikir sudah
berapa lama kita bersama, huh?”
“Ryosuke...”
“Masalah yarakashi yang pernah
terlibat padamu, jujur aku marah dengan diriku sendiri ketika itu. Aku jadi membenci
fans. Tapi kau bilang “Tak apa-apa, mereka hanya butuh waktu untuk menyukaiku.”
Dan dengan lamanya waktu berjalan, kau jadi terbiasa dengan fans kan?
ingat ucapanmu dulu, huh? “Fanslah yang membangun seorang idola menjadi lebih
baik. Apapun yang dilakukan fans itu bentuk dari dirinya yang peduli pada
idolanya.” Jadi kupikir kau yang sekarang bicara seperti ini sama sekali bukan
Chinen yang biasanya.”
“?”
“Chinen yang biasanya akan berkata, “Mereka mengataiku berarti mereka
memperdulikanku dan menyukaiku, itu wajar.” Iya kan?”
“...”
“Dan kalau kau bicara tentang keberatan.... kau pikir untuk apa selama ini aku selalu berada didekatmu, huh? kalau aku keberatan aku akan menjaga jarak diam-diam. Tapi aku sama sekali tidak melakukan itu. Selama ini di Hey Say JUMP aku paling dekat denganmu, oh mungkin Keito dan Dai-chan juga, tapi mereka agak berbeda. Cuma denganmu aku benar-benar merasa menjadi Ryosuke yang sesungguhnya. Bahkan aku hanya menunjukan sisi rahasiaku padamu.”
Chinen tersenyum sendu.
“Lalu, apa aku pernah memintamu melakukan macam-macam? Aku tidak pernah memintamu berubah, ingat? Tidak ada yang ingin
kurubah darimu. Aku menyukaimu apa adanya. Chinen yang seperti ini sudah yang
terbaik untukku. Lagipula, bukannya kau yang malah minta macam-macam padaku?”
Yamada menyeringai, “Seperti; ‘hentikan berbicara ‘aku keren’ sambil berkaca’,
atau ‘kurangi makan, kau jadi kelihatan gendut’, atau ‘hentikan melakukan
shadow boxing sambil telanjang didepann kaca’?”
Pemuda chubby disana menjelaskan dengan tawa pelan diakhir kalimatnya, namun reaksi
Chinen justru terlihat tertohok.
“Jadi kalau aku minta yang macam-macam, kau keberatan? Kau kesal? Kenapa
tidak bilang?”
“Astaga... siapa yang kesal? Aku sama sekali tidak keberatan dan aku
dengan rela melakukan apapun demi dirimu!”
“Tapi fans jadi menganggap kalau aku memanfaatkanmu. Banyak fans yang membenciku
ketika aku menganggapmu dompet.”
“Hora, mereka iri! Sejak kapan kau pengertian dengan fans yang hanya iri denganmu, dengan kita, dengan YamaChine? Lagipula itu hakmu menganggapku dompet. Toh memang kenyataannya aku selalu
membayarimu.”
Terlihat binar samar di mata Chinen. “Jadi menurutmu aku tidak perlu
berubah?”
“Tidak.”
“Sungguh?”
“Chinen Yuri yang kusukai adalah pemuda imut, enerjik, pintar, hebat, berbakat,
dan sangat manja.” Yamada menjabarkan dengan seringainya.
“Manja! Aku terlalu manja berarti harus ku—“
“Tidak, tidak..! kau tidak perlu menghilangkan sifatmu yang itu. Kalau
bukan manja berarti bukan Chinen.”
“....”
“Pokoknya tidak ada yang ingin kuubah darimu dan kau tak perlu berubah.
Tetap jadi dirimu yang biasanya.”
“Tapi kata-kataku suka seenaknya..”
“Itu justru menghibur, sungguh.”
Chinen mengernyit.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mau kata-kata atau tingkahmu absurd
atau apapun, kau sudah menjadi yang terbaik bagiku. Tak perlu berubah!” tandas
Yamada dengan tegas, tangannya terulur kedepan lalu mengacak-acak rambut hitam
Chinen dengan sayang. “Sekarang selesaikan makannya lalu kita lanjut kencan.”
“haik!” senyum Chinen mulai
merekah lebar, ia menyuap makanannya dengan senang setelah Yamada berkata
demikian. Pemuda chubby itu lantas membenarkan perkataan Keito.
“Ketika Chinen sedih, semua orang
akan merasa sedih juga. Tapi ketika ia senang, semuanya juga ikut senang.
Sebisa mungkin kita membuatnya bahagia agar kita juga mendapat kebahagiaan.”
=OWARI=
A/N: ahaha malam-malam ngetik ginian
gegara kepikiran sama tu pengkhianat. Ampe nyesel rasanya pernah temenan deket
kalo diem-diem dia nganggep chii itu nyusahin, nyebelin, brengsek dan segala macemnya. Duh.. padahal
udah mau lebaran. Tapi tenang, saya gampang maafin orang ahahaha.. besok
udah lebaran. Jadi, selamat lebaran X’3
>< OMAKE ><
“Ne, Yuri.”
“Hn?”
Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut. Chinen lalu menoleh pada
pemuda chubby disebelahnya, “kenapa?”
“Kalau kau sedih, aku dan yang lainnya ikut sedih.” Ucap Yamada dengan pandangan
menerawang, ia mengencangkan gandengannya.
“Ah, maaf.. aku tak bermaksud membuatmu sedih tadi, hanya saja aku—“
“Karena itu, kumohon... jangan membaca hal-hal negatif tentang fans di media sosial kalau berujung sedih. Aku tak suka melihatmu kepikiran hanya omongan fans yang
iri.”
Chinen tersenyum manis. “Iya. Maaf...”
“Lebih baik kau main game selamanya atau apalah, asal jangan terpuruk hanya
karena ocehan fans kita.”
“Iya...” Chinen terkekeh. “Oh ya Ryosuke,”
“Apa?”
“Terimakasih.”
“Terimakasih apa?”
“Terimakasih karena sudah mau menerimaku apa adanya. Dan tidak menginginkan
apapun berubah dariku.”
“Baka,” Yamada lantas menarik
dagu Chinen dan mengecup bibir eloknya dengan kilat. “Kau tak perlu berterimakasih.
Asal kau bahagia, aku juga bahagia. Itu cukup.”
=HONTONI OWARI=

0 komentar:
Posting Komentar