Selasa, 01 September 2015

REPLACE DAMAND (Chapter 3)

Diposting oleh Kiwokchwan di 09.31
Tittle: Replace Demand

Chapter: 3 (Chapter 2)(Chapter 1)

Author : Kiwok

Main Chara : Ryutaro Morimoto

Pair : MoriNishii, YamaChii, RyuChii/ChiiTaro, YamaJima,  YutoChii.

Genre: Collage!AU, slice of life, hurt/comfort(?)

Keterangan: Ryutaro (19), Yamada (20), Yuto (21), Chinen (17), Yukito (18).

WARNING! BAHASA SUKA SUKA! 

Summary : “Kalau kau memang tak bisa kumiliki. Setidaknya biarkan kau menjadi penggantinya.. sampai aku bisa melepasnya.”

Douzo~
.
.
.
.

Ryutaro mengepal kedua tangannya saat melihat Chinen tersenyum manis. Kalimatnya yang baru saja terucap membuat pemuda jangkung itu menelan ludah yang terasa pait.

“Hah,” terdengar kekehan sinis dari Yamada. Tanpa sadar kepalan tangan Ryutaro melonggar.

“Kau dengar sendiri kan, brengsek? Yuri hanya mencintaiku. Dia tidak akan sudi berpura pura denganmu!”

Ryutaro diam.

“Berhenti mengharapkan kekasih orang lain!”

Entah apa yang diocehkan pemuda elegan didepannya, Ryutaro tak peduli. Matanya hanya fokus untuk menatap Chinen yang masih tersenyum manis, meneliti adakah kalimat keraguan dalam ucapannya barusan.

Nihil.

Mata itu benar-benar tulus. Tulus mencintai Yamada Ryosuke. Chinen sangat mencintai kekasihnya dan tak ada celah sedikitpun untuk melirik orang lain, tak ada sensor dimata indah itu untuk menangkap sosok lain selain kekasihnya. Ditambah tangannya melingkar erat dipinggang dominannya.

Tanpa sadar Ryutaro ikut tersenyum. Ironi, tentu saja. Karena senyum itu tak lain adalah ejakan untuk dirinya sendiri.

“Kau beruntung Yamada.” Ucapnya sambil terkekeh ringan, Ryutaro kini menatap pemuda glamour itu. “Kau beruntung bisa mendapatkannya.”

“Tentu saja. Yuri harta berhargaku!” Seru Yamada dengan lantang, lagi-lagi mengencangkan rangkulan pada kekasihnya. Ryutaro masih terkekeh, “Kalau begitu, pastikan ia tidak terebut olehku. Karena aku belum menyerah.”

Sepasang mata sejoli itu membulat segera setelah mendengar kalimat Ryutaro, terlebih Yamada. Sementara Ryutaro justru tertawa mengejek.

“Selama kau tak bisa menunjukan kemesraanmu pada Chinen di publik, aku masih memiliki celah untuk mendapatkannya. Jadi sebisa mungkin kalau kau memang menganggap Yuri-mu itu berharga, jangan biarkan aku merebutnya. Yah, kalau kau bisa sih. Hahaha...”

“Dasar breng—“

Chinen bergegas menahan Yamada dan memberikannya pandangan teduh. “Tak usah diladenin...”

Ryutaro kembali tertawa. “Tuh, kau lihat sendiri. Chinen menghentikanmu karena dilubuk hatinya ia juga ingin kau berjuang untuknya ketika aku bisa merebutnya di publik nanti.”

“Yuri?!” suara Yamada terdengar menuntut. Chinen mengesah pelan. “Tak usah diladeni. Aku percaya Ryosuke. Sudahlah, kita masuk saja ya.”

Pemuda tampan itu menahan egonya dan mengangguk singkat setalah mendelik ganas pada Ryutaro. Mereka memasuki kediaman Chinen dan meninggalkan Ryutaro yang masih saja terkekeh. Saat profil kedua pasangan tersebut tak terlihat matanya, tawa Ryutaro terganti geraman kecewa.

“Sial,” lengan kirinya terangkat untuk menutup kedua mata sedangkan tangan yang lain terkepal hingga uratnya menyembul, giginya kerap bergemelutuk. “Yuki... apa ini maksudnya aku tak boleh mencintai orang lain selain dirimu?”

Terdengar hembusan angin.

“Ketika kukira Tuhan mengirimkan penggantimu, kau biarkan dia sudah dimiliki orang lain...?”

Lagi, terdengar hembusan angin.

“Tapi Tuhan masih memberiku kesempatan, Yuki.... Aku bisa saja menjadi kekasihnya dan melupakanmu.”

Masih, terdengar suara angin.

“Aku... mencintainya.”

Kali ini tak terdengar suara apapun.

.

Malam hari, di kediaman Morimoto.

Putra bungsu keluarga itu sebenarnya sosok periang dan sedikit urakan. Berbanding terbalik dengan kakaknya yang tidak terlalu suka bicara dan kurang ekspresif. Shintaro memiliki banyak sekali teman dan juga segudang informasi sehingga Ryutaro tak ragu memanggil sang adik ke kamarnya untuk dimintai bantuan mengenai masalah cintanya yang baru.

“Hah?”

Namun reaksi pongo yang diberikan adiknya membuat Ryutaro mendengus keras,

“Jangan berlagak idiot, Shintaro.”

“Siapa yang berlagak!” Sang adik mendelik, “aku sama sekali tidak ngerti maksud Nii-chan menyuruhku memata-matai.. siapa tadi namanya? Yuri?”

“Ya. Chinen Yuri.”

“Nah iya itu. Aku nggak kenal!” Dengus Shintaro sambil bersilang tangan.

“Kau nanti akan mengenalnya. Karena itu kau harus cari tahu. Pokoknya besok kau harus mencari tahu tentangnya selama aku mengurus pengunduran diri ke Amerika dan membatalkan visa!” Tegas Ryutaro dengan raut dingin. Ia memutar kursi belajarnya untuk menatap sang adik.

“Kenapa aku harus?” gerutuan Shintaro membuat tatapan Ryutaro berubah sinis.

“Kalau tidak mau menuruti perintahku akan kulaporkan pada ibu kau bergaul dengan Yakuza dan pernah cari masalah dengannya hingga membobol uang tabunganmu yang seharusnya untuk uang kuliahmu kelak.”

Shintaro langsung berdiri dan mengehentak pada kakaknya. “TUKANG NGADU!”

“Makanya turuti perintahku. Cari tahu tentang dia, aku sudah memberi gambar seragamnya kan? Kau pasti tahu ini seragam SMA mana.”

“Ck, itu seragam bekas sekolahku,” cetus remaja kekar itu sambil membanting tubuhnya ke kasur, “SMA Horikoshi.”

Ryutaro menyeringai saat mendengar jawaban sang adik. “Ada yang kau kenal disana? Kalau ada itu akan memudahkanmu mencari info tentang Chinen Yuri.”

“Ada juga musuh! Atau lebih tepatnya saingan. Clark Memorial sangat bersaing dengan Horikoshi. Aku tak mau berurusan dengan sekolah itu lagi.”

“Shintaro.”

Tubuh remaja kekar itu langsung meremang saat kakaknya berucap dingin dengan penekanan menusuk. Shintaro mengeraskan rahang kemudian mengesah keras. “Iya iya! Ini yang terakhir aku membantumu! Nggak lagi!”

Kemudian senyum Ryutaro terkembang meski tidak terlalu iklas. “Bagus. Kau boleh keluar dari kamarku sekarang.”

“Nggak disuruh pun aku akan pergi!” Shintaro melenggang keluar dengan sentakan kasar yang membuat kakaknya melotot. Saat kamar itu sepi tanpa siapapun kecuali dirinya, Ryutaro kembali menerawang tentang pertemuannya hari ini dengan sosok yang mirip dengan mendiang kekasihnya.

Chinen Yuri.

“Kenapa dia bisa mirip sekali...” gumamnya lirih. Seketika ingatnya memutar kejadian saat Chinen berucap dengan mata yang berbinar indah.

“Hanya saja, aku tak akan sudi berpura-pura mencintai siapapun. Cinta yang kupunya hanya satu dan itu untuk Ryosuke.”

Cih.

“Yamada Ryosuke.” Tangan Ryutaro tanpa sadar meremas kertas yang berada di meja belejarnya, seolah dirinya ikut meremas pemuda glamour yang menjadi kekasih Chinen. “Tidak akan kubiarkan. Aku akan merebut Yuri darimu. Lihat saja!” tekadnya dengan satu sudut bibir menukik tajam. “Aku masih memiliki celah untuk merebutnya. Aku masih...!”

Shintaro yang sesungguhnya belum benar-benar beranjak di depan kamar sang kakak menyeletukkan giginya. Ia mendesis dan kerap meremas kertas bergambarkan seragam sekolah Chinen. Siapa cowok in? Kenapa dia bisa dengan mudah menggeser tempat Yuki-nii dihati Nii-chan? pertanyaan itu terus terulang di benak Shintaro.

.

Mungkin memang tak ada musuh di Horikoshi. Sudah tidak ada lebih tepatnya. Shintaro sebenarnya murid di sana hingga semester 2 tahun pertama, tapi ia mengundurkan diri sebelum kenaikan kelas karena terlalu muak dengan peraturan dan persaingan ketat. Horikoshi Gakuen adalah sekolah elit yang seluruhnya diisi para jenius. Atau sangat jenius.

Itu berarti Chinen Yuri.  

“...Shintaro?”

Bungsu Morimoto itu tersentak saat teman lamanya menegur. Hari ini Shintaro mulai menjalankan perintah kakaknya untuk menyelidiki Chinen seusai sekolah.

“Kenapa berdiri di depan gerbang kami?”

Shinataro meringis. “Oh, hai.. Juri. ada yang ingin kutanyakan. Boleh?”

.

Chinen mengernyit saat keluar dari gerbang sekolahnya mendapati mobil lamborgini biru metalik yang menghalangi langkahnya. Ia memandang ke sekeliling, banyak siswa lain yang melihatnya dengan tatapan kagum juga iri. Pemuda mungil itu lantas mendengus.

“Chii-chan, ayo pulang barsama. Aku antar!”

Suara ramah mengalun disertai kaca mobil yang terbuka, menampilkan sosok pemuda yang luar biasa tampan sambil tersenyum cerah. Chinen memutar bola matanya. “Tidak mau. Kenapa Yutti kesini?”

Nakajima Yuto, pemuda kaya raya yang mengendarai mobil itu beranjak, tanpa banyak bicara ia menarik lengan Chinen untuk membawanya masuk dalam mobil.

“Apa-apaan ini? Yutti! Lepas, nanti ka—“

“Ssstt.. tenang saja. Yama-chan sedang sibuk. Kemarin aku sangat sibuk tapi Yama-chan malah kerumahmu dan asik-asikan sampai larut. Padahal seharusnya dia sebagai wakil presiden tetap berada di kampus untuk persiapan ospek sebentar lagi.” Yuto mulai melajukan mobilnya. Ia menyempatkan menatap Chinen dengan lembut kemudian pandangannya terarah kembali pada jalan. “Nah, sekarang hukumannya, dia harus lembur. Karena kerjaanku sudah hampir beres aku bisa refresing dulu denganmu,”

Chinen mengesah pelan. “Ryosuke tidak akan membiarkanku bersamamu. Ia akan marah, Yutti..”

“Nggak apa-apa kalau hanya marah. Yang penting hari ini bisa jalan denganmu. Lagipula kalau aku nggak macam-macam Yama-chan nggak akan sampai hati membunuhku hahaha...”

Pemuda imut itu meringis, kemudian mengeluarkan telpon genggamnya dari saku. “Aku izin Ryosuke dulu kalau begitu. Bilang sedang denganmu.”

Mata Yuto membulat dan langsung menahan jemari Chinen. “Jangan, Chii.. ayolah. Sehari ini saja! Aku ingin jalan denganmu~” rengek pemuda tampan itu, hebatnya ia masih fokus dengan setirannya. 

Chinen mau tak mau pasrah. Namun sepertinya keberuntungan tidak dipihak Yuto saat ini karena tiba-tiba handphone Chinen berdering. Panggilan dari kekasihnya.

“Halo, Yuri? Aku tahu Yuto pasti denganmu. Sedang apa dia disana!?”

Chinen kembali meringis saat baru saja menempelkan HPnya di telinga justru disambut dengan suara sinis. “Iya dia denganku. Hanya mengantarkanku pu—“

“nyalakan mode loadspeaker, Yuri.”

“Eh?”

“cepat.”

Pemuda imut itu mau tak mau menuruti perintah kekasihnya. Chinen menekan mode loadspeaker hingga kemudian suara Yamada terdengar begitu jelas.

“Yuto, kau pasti mendengarku.”

Kedua cengkraman Yuto pada stir mobilnya mengencang. Chinen menyadari itu dan hanya tersenyum maklum.

“Sudah kukatakan berkali-kali kalau kau berani mendekati Yuri, aku akan menghabisimu.”

“Bu-bukannya kalau aku bertemu dengannya tidak masalah? aku tidak melakukan hal yang macam-macam. Hanya mengantarkannya pu—“

“Tanpa seizinku, itu dilarang. Kau berani melawanku heh?”

“Tapi Yama—“

“Ryosuke... sudahlah. Yutti nggak ngapa-ngapain kok. Ia hanya ingin mengantarku pulang. Lagipula ia sudah lelah berkutat dengan urusan kampus. Biarkan sajalah.” Sela Chinen dengan halus. Membuat HP Chinen bergetar karena Yamada tiba-tiba berteriak.

“TIDAK BISA! SUDAH ADA DALAM KONTRAK KALAU YUTO MENEMUIMU DI PRIVAT TANPA SEIZINKU AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM!”

“Baiklah baiklah! Aku minta maaf, Yama-chan. Berhenti berteriak, aku akan mengantarkan Chinen padamu setelah ini!” Seru Yuto dengan tenang meski kentara nada gentar. Chinen tahu betul bahwa pemuda semampai disebelahnya berusaha bersuara tegar terhadap kekasihnya.

“Bagus. Bawa Chinen padaku dan kau tidak berhak menyentuhnya seujung pun. Atau kau akan menerima akibatnya.”

“Iya....” suara Yuto melirih namun laju mobil bertambah lantaran emosi. Chinen mematikan mode loadspeaker dan menempelkan HP ditelinganya untuk memulai pembicaraan privasi.

“Ryosuke, kau tak perlu berteriak begitu kan?”

“Perlu. Tidak akan kubiarkan dia dekat-dekat denganmu karena dia bisa dengan mudah berbuat macam-macam, Yuri! Sekarang aku tunggu kau di kampus nanti. Kita bicara lebih intens.”

Suara Yamada mengalum lembut di telingan Chinen, berbeda sekali dengan awal saat telpon tadi. Chinen hanya bergumam sambil mengangguk pasrah.

.

“Jadi, yang tadi bawa mobil biru bukan pacarnya?” Shintaro memastikan kembali setelah mendapat informasi dari teman lamanya. Tanaka Juri hanya mengangkat bahu. “Maa.. tidak ada yang tahu pasti sih. Tapi kurasa itu pacarnya. Walau banyak yang menyangkal. Karena Chinen-senpai juga sering terlihat berdua dengan pemuda cantik yang selalu memakai perhiasan.”

Alis Shintaro langsung bertaut. “Memakai perhiasan?”

“Ada pemuda satu lagi yang sering mengantar-jemput Chinen-senpai. Penampilannya sangat modis dan cantik. Kalau tidak salah namanya Yamada Ryosuke.”

Kali ini ganti mulut Shintaro yang terbuka. “Bukannya Yamada Ryosuke itu pacarnya?” seingatku dari gumaman Nii-chan waktu itu dia ingin merebut Yuri dari Yamada Ryosuke. “Tapi kenapa.. cantik?” tanyanya sangsi. Juri langsung tertawa. “Bukan pacarlah! Itu paling teman. Mana mungkin cantik sama cantik.”

Shintaro meringis. “Hanya teman?”

“Banyak yang bilang begitu sih. Aku lebih percaya kalau pacarnya Chinen-senpai itu pemuda tampan yang tadi. Atau bisa juga, pemuda tampan tadi pacarnya si Yamada Ryosuke itu dan sebenarnya Chinen-senpai  hanya sepupu dari Yamada makanya mereka berdua sering mengantar atau menjemput Chinen-senpai.”

Astaga... kenapa malah komplikasi begini?! “Jadi yang benar yang mana?”

“Yang  mana apanya?”

“Ah, lupakan.” Shintaro mengibas-ibaskan tangannya—isyarat peduli amat—kemudian mulai beranjak. “Sankyu infonya!” ia bergegas meninggalkan kawasan mantan sekolahnya sambil setengah berlari sementara temannya yang masih ditempat mendengus.

“Jadi itu orangnya...” gumam bungsu Morimoto itu setelah agak jauh dari murid-murid Horikoshi. Ia mengesah maklum. Yuki-nii... aku bisa apa... ia benar-benar bagai penggantimu buat Nii-chan...

.

“psstt.. itu kan anak SMA yang waktu itu.”

“Kalau tidak salah dia adik sepupunya Yamada-kun,”

“Kok bisa datang kesini dengan Yuto-sama!?”

“Astaga... Yuto-prince dengan pemuda imut yang waktu itu. Aku jadi penasaran reaksi Yama-chan seperti apa nanti~”

“Iya~!! Pasti ia cemburu dan memarahi Yuto-kun habis-habisan karena membawa pemuda yang sangat imut itu.”

Kuping Chinen mulai panas saat berjalan di kawasan kampus menuju ruang BEM diiringi gosipan para perempuan tolol yang tak tahu kebenaran apapun. Namun ketika Chinen melirik Yuto, pemuda jangkung itu tampak tenang dan biasa saja.

“Eh? Aku boleh masuk?” Chinen bertanya ragu saat tiba-tiba lengannya digandeng untuk memasuki sebuah ruangan eksekutif. Yuto tersenyum, “Aku presidennya. Tentu saja boleh.” Tanpa banyak bicara lagi pemuda tampan itu menarik Chinen dengan lembut untuk masuk kedalam ruang tersebut.

“Yuto, lepaskan tanganmu darinya.”

Disambut dengan sinis, pemuda tinggi itu kontan melepas genggamannya terhadap Chinen. Yamada mendesis di mejanya kemudian mendekat pada Yuto. Ada sekitar belasan mahasiswa eksekutif diruangan itu yang memperhatikan sang wakil presiden menuju kekasih(pura-pura)nya.

“Berani sekali kau mengggenggam lengan orang lain saat menemui kekasihmu, Yuto.”

Kaki Chinen agaknya melemas.

“Maaf,” Yuto tersenyum lirih, ia kemudian membelai pipi Yamada dengan lembut. “Tapi kan Chii-chan adikmu... masa cemburu dengan adik sendiri, hmm?”

Yamada mendengus dan menepis tangan Yuto di pipinya, ia justru menggenggam tangan itu dengan erat. “Tidak boleh, selamanya tangan ini hanya boleh menyentuhku.” Genggaman itu mengerat. Sangat erat dan lebih erat sampai akhirnya Chinen menyadari itu bukan lagi menggenggam melainkan mencengkram.

“Iya iya.... aku minta maaf. Nah, sekarang lepaskan, Yama-chan. Kita dilihat anggota lainnya.”

Yamada baru ingin meremukan jemari pemuda tinggi itu kalau saja tak ingat dirinya sedang berpura-pura. Ia langsung memasang senyum cantik sambil melepas tangan Yuto. “Ah iya aku lupa.”

Chinen melirik Yuto dan Yamada secara bergantian, kemudian dirinya tersenyum geli.

“Wah wah, Yuto-kun dan Yamada-kun mesra terus tiap hari ya,” salah seorang cewek tiba-tiba menyeletuk. Chinen mengernyit tak suka namun reaksi Yamada adalah senyum kelewat wajar. “Iya, kita ingin bermesraan...” mata kecoklatannya lalu menatap pasti para mahasiswa eksekutif disana, “bisa kalian tinggalkan kita berdua?”

“Berdua?” Chinen langsung sangsi, “Aku juga keluar?

“Ah.. bertiga maksudku. Kau tetap disini.” Tandas Yamada kalem. Namun mahasiswa eksekutif yang kebanyakan perempuan itu justru menarik lengan Chinen untuk keluar.

“Diluar saja. Nanti malah mengganggu...!”

“Iya, Chinen-kun diluar saja. Dengan kita!”

“Ayo kalian para cowok! keluar! jangan ganggu Yuto-prince dengan Yama-chan! Ayo, Chinen-kun juga!”

Pemuda imut itu hendak memberontak namun keburu di gandeng oleh rekan-rekan mahasiswa lain. Mereka terlanjur gemas dengan Chinen yang (memang luar biasa imut) dan akhirnya mengajak makan bersama di kantin fakultas terdekat dari ruang BEM.

Jadi, disinilah Chinen, berada ditengah-tengah penggemar Yamada dan Yuto. Mayoritas cewek namun tak sedikit juga pihak cowok yang ikut mengerubunginya.

Astaga... aku ingin pulang... ratapnya dalam hati.

“Chinen-kun adik sepupunya Yama-chan ya?”

Yang ditanya hanya senyum.

“Kau imut sekaliii!! keluarga besar Yamada-kun pasti cantik dan imut ya. Kakaknya, Yamada-kun, adiknya, ibunya, kau juga!”

Chinen ingin menyumpal mulut gadis yang diketahui bernama Aise itu dengan daun kering setelah berucap demikian. Namun kenyataannya pemuda imut itu hanya tersenyum.

ne.. ne..., kau tahu sudah berapa lama Yuto-sama jadian dengan Yama-chan?”

Nggak pernah ada kejadian Ryosuke dan Yutti saling menyukai! “Nggak tahu. Memang mereka pacaran ya? Menurutku mereka tidak seperti itu.” Ketara jelas nada tak suka Chinen meski rautnya masih santai.

“Ayolah~ jangan pura-pura tak tahu begitu, Chinen-kun. Mereka bahkan terang-terangan mesra dengan kita.”

“Ohya?” Chinen bertanya ironis, “Aku nggak tau tentang itu tapi aku tahu jelas tipe yang disukai Ryosuke.”

Aduh, kelepasan.

“Loh? Chinen-kun manggil Yamada-kun 'Ryosuke'?”

“Er.. itu...”

“Bukannya dia tak mengizinkan siapapun memanggilnya begitu? Bahkan Yuto-sama tidak diperbolehkan.” Aise kembali bertanya. Mahasiswa disekelilingnya juga mendesak.

“Kalau aku katanya nggak apa-apa hehe..” Chinen terkekeh kagok seraya menggaruk pelipisnya. Tanpa diduga tubuhnya dirangkul oleh cowok kurus.

“Namanya juga sepupu, masih satu darah. tentu boleh memanggil nama. Omong-omong.. Chinen-kun belum punya kekasih kan?”

Ryosuke itu kekasihku! dan lagi, jangan main asal rangkul-rangkul! “Sudah ada yang kusukai. hehe...” ucapnya sambil melepas rangkulan itu cukup kasar.

“Baru suka, kan...? belum ada yang punya?” kali ini seorang cewek yang merangkul. “Sudah pernah pacaran?”

“Chinen-kun nanti kuliah disini kan? pasti banyak yang ngincer.”

“Bahkan Yuto-sama bisa saja mengincarmu... kau dan dia terlihat cocok.”

“Hush! jangan, Yuto-prince sudah memiliki kekasih. nanti Yama-chan bisa ngamuk.”

“Benar juga. Ahahahaha...”

Grrhh... Yutti, kau harus minta maaf karena membuatku dikerbungi begini!! Chinen menggeram dalam hati sambil berusaha melepaskan rangkulan (lagi.) Tapi tiba-tiba suara dingin menginterupsi pertanyaan-pertanyaan mahasiswa yang mengerubungi Chinen.

“Kalian, jangan pernah merangkul adikku.” 

Mereka semua lantas menoleh. Yamada sudah berdiri dengan wajah masam serta tangan di saku celana. Ia mendekat dan langsung menggamit lengan kekasihnya dari kerumunan. “Ayo pulang, Chinen. Tadi ibumu menelpon dan mencarimu.”

Chinen menurut sambil memasang senyum cerah. Saat mereka hendak hengkang dari sana salah seorang mahasiswa menyeletuk, “Sudah selesai bermesraan dengan Yuto-kun?”

Yamada menoleh. “Ah iya, dia sudah asik dengan tugasnya. Aku jadi diabaikan. Lagipula ada adikku disini, tidak enak. Harus ku antar pulang dulu.” Ujarnya dengan ramah. Terlalu ramah sampai-sampai Chinen tak mengenali suara kekasihnya yang seperti itu. Meski ramah namun terdengar menggelikan.

“Kalau begitu, Yuto-kun harus di beri perhatian ekstra.”

“Iya. Biar tidak kabur ke lain pihak. Apalagi ke Chinen-kun.”

Cowok yang berucap demikian langsung membuat tatapan Yamada berkilat. Ia menatap Chinen dengan pandangan bertanya namun Chinen hanya tersenyum. “Ayo pulang, Ryosuke...”

Tak ada percakapan lagi dari mereka karena pemuda elegan itu segera membawa Chinen keluar area kampus.

.

“Tadi Yuto menggegam tanganmu, huh?”

Pemuda mungil itu mengangguk remeh saat berada dimobil dengan Yamada sebagai pengendara.

“Lalu anak-anak kampus tadi juga merangkulmu?” tanya Yamada kembali. Chinen masih menganguk enteng. “Oh, diantara mereka juga ada yang ngajakin pacaran,”

Laju mobil tiba-tiba berhenti.

“Siapa?”

Duh... “Er... aku nggak tahu namanya..”

“Ciri-ciri orangnya?”

Chinen mendengus, “Sudahlah Ryosuke! Aku bilang aku sudah menyukai orang lain jadi dia langsung diam kok.”

“Oke baiklah. Selain merangkul dan menanyai, mereka melakukan apa denganmu?”

“Hmm.. Mereka memujiku. Tapi ada kalimat membuatku risih. Yang katanya Yutti bisa berpaling padaku karena aku sangat imut.”

Laju mobil lagi-lagi tersendat. “Orang itu... Ichinose. Mungkin dia harus diberi pelajaran.” 

“Sshh.. sudahlah, nggak penting. Lagian mereka semua tolol. Siapa juga yang berpaling, emang pada dasarnya Yuto suka denganku.” Komentar Chinen sambil terkekeh. Yamada mendengus dan memajukan mobilnya kembali. “Jangan terpancing dengan Yuto. Kau hanya milikku seorang.”

“Iya iya... aku milikmu. Dan yang mereka tahu, kau milik Yuto.”

Yamada menatap Chinen sangsi, kebetulan lampu lalu lintas berwarna merah.

“Itu kan hanya—“

“Iya aku tahu. Itu hanya pura-pura. Kau sangat mengagumkan, Ryosuke.” Chinen meringis lucu. “Mungkin aku juga harus belajar ekting sepertimu. Harus belajar ekting supaya tidak terlalu sakit saat kau sedang mengucapkan dialog seperti barusan hehe..”

Yamada kontan menyapih bibir sang kekasih tepat setelah Chinen selesai berucap. Tak perlu ciuman lama, itupun cukup membuat seluruh tubuh Chinen menghangat.

“Kau tidah harus ekting, Yuri. Tidak. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Hanya aku dan Yuto yang berekting.”  

“...Sampai?”

Yamada tak langsung menjawab. Chinen mengerti maksud jeda yang diberikan kekasihnya sehingga ia merekahkan senyum penuh keyakinan. “Aku tunggu sampai kau bisa bebas, Ryosuke. Aku tunggu...”

Pemuda tampan itu menatap tulus Chinen sedangkan satu tangan yang tak memegang stir menggenggam lembut jemari kekasihnya. “Hari itu pasti akan datang, Yuri. Percayalah. Kau hanya milikku.”

“Aku percaya.”

Untuk kali kedua, mereka saling mengecap rasa terbaru dari bibir masing-masing meski lampu sudah berwarna kuning.

.

“Hm.. jadi begitu,”

Shintaro hanya mendengus saat mendengar reaksi kakaknya ketika membaca kertas info tentang Chinen.

“Ini akan lebih mudah membuatku menaklukannya. Terimakasih, Shintaro. Rahasiamu aman denganku.” Ryutaro menepuk pelan pundak adiknya namun sang adik justru terlihat dingin, “Kau sungguh akan melupakan Yuki-nii dan merecoki hubungan orang lain?”

Ryutaro terhenyak.

Nii-chan... dia bukan pengganti Yuki­-nii! di berbe—“

“Keluar, Shintaro.” Sela sang kakak dengan intonasi hambar. Shintaro mendengus kencang baru kemudian hengkang dari kamar kakaknya. Pemuda jangkung itu kembali tersenyum ironi menatap catatan kecil yang diberi Shintaro.

Chinen Yuri. Kelas 3-1 tetapi sudah lulus ujian masuk universitas Waseda jurusan teknik informatika dan tinggal menunggu masa pengenalan mahasiswa bulan depan. Masih pergi kesekolah untuk melatih klub atletik. Ia jago disemua bidang olahraga kecuali berenang. Sangat pintar. Tapi juga pemalas. Punya banyak penggemar dan kebanyakan cowok. Makanan kesukaannya Gyoza. Nggak suka hewan meski katanya disukai banyak hewan. Kelemahannya... manja. Ia tidak bisa tidak dimanja dan dicuekan.

“Hah, kelemahanmu point termudah untuk merebutmu, Yuri....” desis Ryutaro sambil menyeringai. “Lihat saja, aku akan merebutmu dari si banci itu.” tekadnya penuh nafsu.

To be a continue.....



A/N : AKHIRNYAAAAAAAAAAAAA CHAP 3!!! YEAH~ //apaan ahaha XDDD yah sekian chap 3. Sampe jumpa di chap 4~ >w<  

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Favorit nih keren xD
Ditunggu Ya chap selanjutnya. Arigatou~

Lika Arindi mengatakan...

aku suka ff ini <3
semangat ya ngelanjutinnya ><

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review