Jumat, 04 September 2015

ENDLESS

Diposting oleh Kiwokchwan di 08.34
Title: Endless


Author: Kiwok

Pairing: YamaChii of cource <3

Genre: Romance, Comedy, Canon.

WARNING! BAHASA SUKA SUKA

Summary: Chinen cemburu. Yamada cemburu. Begitu terus di setiap hubungan mereka karena mereka paham  bahwa cemburu adalah cinta yang tiada akhir.

Douzo!
.
.
.
.


Ketika member JUMP ditanya siapa yang paling sering cemburu di grup, semua serentak menjawab,

“Yamada.”

“Yama-chan.”

“Yamada!”

“Yamada. Siapa lagi? Kalau cemburu terlihat jelas!”

“Huh, kau masih tanya? Yama-chan, tentu saja! Kau tidak lihat kalau dia cemburu atmosfirnya lain?”

“Sudah pasti Yama-chan, kan?”

“Ryosuke.” kali itu Chinen menjawab sambil nyengir. “Ryosuke orangnya sensitif. Sangat mudah cemburu.” Penjelasan singkat itu langsung membuat staff yang bertanya—ketika pemotretan majalah segmen Yamada sedang berlangsung—semakin penasaran.

“Cemburunya bagaimana, Chinen-kun?”

Chinen melirik Keito yang duduk disebelahnya. Gitaris itu cuma angkat bahu. “Hmm.. gimana ya? Banyak sih.. melihatku dengan Keito duduk dempetan seperti ini nanti juga ngoceh. Liat saja hahaha..”

Staff dan Keito tertawa.

“Oh tapi cemburunya yang paling lucu itu saat..” member termuda itu terkekeh, kemudian pikirannya mengingat saat-saat dimana kekasihnya terlalu protektive.

. . . . . . . . . . . .

“Aku sudah bilang jangan pakai baju ketat! Jangan pakai celana pendek! Dan jangan pamer pantat!” Yamada berkata dengan raut kesal ketika mereka sedang makan malam disebuah restoran ternama kawasan Saitama. “Aku juga sudah bilang berkali kali jangan bersikap sok imut didepan para senpai!” lanjutnya sambil meraih gelas anggur merah dan meminumnya.

“Ryosuke...” Chinen mendesis, menaruh sendok serta pisau stenlis di samping piringnya kemudian lanjut berbicara, “Aku tidak pakai baju ketat tapi badanku yang tumbuh pesat. Aku pakai celana pendek karena celana panjang yang biasa kupakai disita semua oleh ibuku lalu dibawanya ke laundry dan hanya menyisakan celana pendek. Aku tidak pamer pantat pada siapapun kecuali padamu dan saat bermain di Sakintonin. Aku tidak bersikap sok imut karena aku memang imut. Ngerti?”

Yamada bukan tipe yang suka diceramahi atau mendengarkan komentar panjang-lebar. Ketika teman-temannya berkomentar panjang (seperti Dai-chan atau Keito) ia pasti dengan segera menyelanya dan berkata lebih panjang. Namun jika dengan Chinen, ia mendengarkan semuanya hingga bibir seksi kekasihnya itu mengatup.

“Tapi saat ke studio dan belum ganti baju yang disediakan, bajumu itu terlalu ketat! Aku tidak suka kau memakainya! Setidaknya pakai jaket!” seru Yamada kembali.

“Ini musim panas, Ryosuke.” Chinen berdecak, “untuk apa pakai jaket? Lagipula kaus putih itu kaus favoritku. Aku memang biasa memakainya kalau musim panas!”

“Dan memperlihatkan lekuk tubuh? Otot? Dada? Kau pikir aku tidak peka saat kau masuk ke studio banyak yang memandangmu? Belum saat kau pergi dari rumah menuju studio. Berapa banyak yang memandangmu, huh? Dan aku tidak suka kau begitu!” Tegas Yamada sembari menatap Chinen lekat-lekat. Pemuda imut disana mendesah pasrah. “Baiklah aku mengerti. Tidak pakai baju ketat lagi.”

“Bagus! Dan jangan pakai celana pendek. Sekalipun itu baju yang disediakan oleh kru acara atau staff, kalau terlalu pendek dan memperlihatkan ¼ bagian serta bulu kakimu, aku juga tidak suka.”

“Iya iya... ayo kita makan. Jangan kebanyakan mengoceh, Ryosuke.” Chinen mencoba sabar. Namun sepertinya kekasihnya masih ingin berceloteh.

“Jangan menerima acara atau drama atau movie yang memperlihatkan pantat LAGI.”

Chinen terkekeh, “Masih mau bahas Sankintonin? Itu sudah basi, Ryosuke. Bahkan gaji saat bermain film itu sudah ludes,”

“Bukan cuma Sankintonin! Acara NTV yang mengadakan challange memakai celana tanpa menggunakan tangan itu juga. Kau harus tau berapa pasang mata yang hanya ‘fokus’ padamu, tepatnya pantatmu! Kau tidak sepatutnya nungging-nungging dihadapan banyak orang!”

“Tapi aku menang, kan? Lagipula kalau bukan aku siapa lagi yang menjadi perwakilan dari School Kakumei?” Bela Chinen sambil menyeringai.

“Siapapun terserah! Asal jangan kau. Aku tidak suka.”

“Iya iya..”

“Dan satu lagi, jangan terlalu bertingkah didepan para senpai! Ohno-kun, Maruyama-kun, Kamenashi-kun dan siapapun! Aku tidak suka.”

Chinen memotong daging panggangnya kemudian menusuk dengan garpu lalu disuap untuk kekasihnya. “Makan dulu. Aku mengerti. Tidak melakukan apa yang tidak kau sukai.”

Yamada tersenyum sembari mengunyah. Tangannya terjulur untuk mengelus pipi gembil Chinen. “Aku menyukaimu.” Ucapnya sehabis menelan makanan. Chinen balas tersenyum manis, “Aku tahu.”

. . . . . . . . . .

Staff dan beberapa member yang mendengarkan cerita Chinen tertawa lepas sedangkan pemuda paling mungil disana hanya mendengus.

“Jadi, Yama-chan mengganti kalimat ‘Aku cemburu’ menjadi ‘Aku tidak suka’?” simpul Yuya dengan ekspresi tak menyangka, “kreatif.... ”

“Yah, dia mana mau mengakui kalau dia cemburu.” Chinen menanggapi.

“Siapa yang cemburu?”

Semua yang mengerumuni Chinen merenggang. Yamada baru saja selesai dengan potosyutnya (lalu kini giliran Yuto) dan ia menghapiri Chinen dengan tatapan dingin. “Maksudnya aku?”

Chinen mengangguk remeh. Yamada langsung mendengus.

“Staff-san, jangan masukan apa yang diceritakan Chinen ke majalah.” 

Pemuda Chubby itu kemudian menatap kekasinya tanpa ragu, “Siapa bilang yang paling cemburu itu aku? Bukannya kau ya?”

Chinen berdecak, “Aku? Nggak sadar diri? Yang paling bawel kalau aku melakukan apapun yang menjadi pusat perhatian orang siapa?”

“Chee.. bukannya kau juga begitu? Perlu ku beberkan...?”

“Eh, cerita saja, Yamada-kun!”

“Iya cerita!”

Member lain kembali berkumpul begitu pula staff yang penasaran.

. . . . . . . . . . .

Chinen Yuri sangat tertutup tentang privasinya. Sangat sangat tertutup. Ia tidak mau orang lain mengorek lebih jauh tentang hal pribadinya. Terutama perasaan marah dan sedih (juga cemburu).

Semua member paham, Chinen tidak bisa dipaksa karena kalau pemuda mungil itu dipaksa yang ada malah akan menyiksa batin Chinen sendiri. Jadi mereka biasa membiarkannya sendirian untuk merilekskan dan menyegarkan pikiran agar kembali ceria dan tersenyum menawan seperti semula.

Namun Yamada Ryosuke adalah sepenuhnya lain. Ia tidak akan pernah membiarkan pemuda kesayangannya itu menekukan wajah dan mengacuhkannya sampai ia mendapat jawaban yang puas mengenai keadaan Chinen.

“Tidak mau.”

“Malas.”

“Terserah.”

“Aku ngantuk.”

“Begitulah.”

“Aku nggak apa-apa.”

Kalimat-kalimat diatas adalah ciri khas kalau Chinen mulai ngambek dalam kurung cemburu. Yamada hafal betul kalimat itu dipakai di saat Chinen cemburu karena hal apa.

“Tidak mau.” Saat Yamada makan siang bersama Keito lalu mengajak Chinen jalan-jalan sekaligus makan malam di petang harinya. “Tidak mau. Kenapa kau tidak mengajak Keito sekaligus sampai dinner, huh?” Lalu Yamada akan mendatangi rumah Chinen, membawakan makanan yang ia masak sendiri kemudian memaksa Chinen sampai ia makan dan berkata, “Ini lezat! buatkan ini lagi untukku!”

“Malas.” Saat Yamada sedang semangat belajar memotret dan meminta Chinen menjadi objeknya. “Malas ah, itu kan kameranya Yuti, kenapa nggak foto Yuti saja?” Lalu Yamada akan mengembalikan kamera itu dan mengenakan kamera ponselnya untuk memotret Chinen diam diam dari berbagai angle dan memperlihatkannya kepada si Chibi hingga ia berkata, “Aku keren disini! Ryosuke hebat!”

“Terserah.” Saat Yamada dipasangkan dengan Dai-chan untuk potosyut dan berpose sangat mesra lalu sepulangnya memaksa Chinen untuk menemaninya ke Starbuck dan menawarkan sesuatu. “Terserah. Aku hanya menemani. Nggak mood makan.” Lalu Yamada akan berdebat dengannya agar Chinen mau memakan sesuatu bahkan menyuapinya kalau perlu dan Chinen menanggapinya dengan, “Ryosuke romantis!”

“Aku ngantuk.” Saat Yamada menghabiskan hari liburnya dengan jalan-jalan bersama Yuya, nonton movie dengan Dai-chan dan karokean dengan Keito lalu mengajak Chinen makan malam bersama keluarganya. “Aku ngantuk ingin tidur sepuasnya. Ajak saja Dai-chan atau yang lain.” Lalu Yamada akan meluangkan berapapun waktu dihari kerjanya untuk mengajak Chinen jalan-jalan hingga  dibongkar di School Kakumei, “Walau sibuk bekerja Ryosuke tetap saja mengajakku jalan-jalan.”

“Begitulah,” Saat Yamada memuji Hashimoto Kana di acara VS Arashi dan Chinen menonton acara itu dengan Keito dirumahnya. “Yah, begitulah... dia memang imut. Ryosuke kan suka sama SEMUA yang imut.” Lalu Keito melapor pada Yamada hingga pemuda Chubby itu tahu alasan kenapa Chinen mengacuhkannya seminggu penuh sepulang mengikuti acara VS Arashi. “Kau lebih imut, Yuri. Kau lebih dari siapapun. Kau yang paling sempurna dimataku!” gombalan Yamada tengah malam saat ia datang kerumahnya mutlak dibeberkan Chinen di majalah, “Harusnya kau bilang saja kalau Chinen lebih imut daripada Hashimoto Kana!”

“Aku nggak apa apa.” Ini yang paling bahaya. Yamada harus memutar otak dan ektra keras untuk meluruskan kalimat “Nggak apa-apa” yang diucap Chinen. Karena itu kalimat penuh kebohongan! Kalau Chinen bilang ‘nggak apa-apa’ dengan senyum terpaksa, dengan mata yang sama sekali tak berbinar, dengan kekehan pelan, dengan alis yang agak turun. Itu berarti  ADA APA-APA! Heck, Yamada hafal betul itu diucap saat Yamada melakukan fanservice dengan Yuto di Super Delicated. Selalu. Kalimat itu pasti terucap oleh Chinen.

(‘Daijoubu wo’ waratte kureta~)

“Aku nggak apa-apa, itu hanya fanservice kan?”

“Nggak apa-apa kok, lakukan saja yang terbaik.”

“Kalau kita bisa membuat fans kita bahagia, lakukan saja. Aku nggak apa-apa.”

“Aku nggak apa-apa, Ryosuke. Aku nggak apa-apa. Sungguh, aku nggak apa-apa! Aku nggak apa-apa...”

GAAAAAAAH Yamada mulai gila.

. . . . . . . .

“BUAHAHAHAHAHA!” semua yang mendengarkan cerita Yamada tertawa lebih kencang. “Aduh perutku serasa dikocok.” Inoo memegang perutnya.

“Kalau ini sih Chinen yang lebih cemburuan!” Yuya menambahi. Hikaru juga tak kalah terbahak. “Kalau Yamada cuma mengganti kalimat cemburu dengan ‘aku nggak suka’ kalau Chii, banyak versinya!”

“Apa kubilang! Dia ini kalau sudah bilang “Aku nggak apa-apa.” membuatku panik!” Beber Yamada kembali dengan ekspresif sementara Chinen mulai memerah.

“Padahal sudah minta maaf berkali kali, selalu kasih kejutan tiap hari. Tapi tetep saja kalau sebelum perform, konser, show yang mengharuskan fanservice dengan Yuto , wajah orang ini... begini,” Pemuda Chubby itu meraggakan ekspresi konyol orang cemberut, “terus sambil sok-sokan tegar bilang “Aku nggak apa-apa...””

DUAK! Pukulan telak dibahu Yamada. Chinen lantas memekik malu. “Berisik Ryosuke!”

“Memang kenyataannya kau begitu kan! Aku masih mending cerita disini. Kau pasti membeberkan kalau aku membuatmu seneng di majalah atau di school kakumei. Itu lebih berisik, tahu!”

“Tapi wajar kalau aku bongkar karena kau pengecut tidak mau membeberkan kemesraan kita di publik!”

Kedua sejoli itu saling men­-death glare hingga Yabu melerai mereka berdua. “Hentikan, jangan bertengkar di tempat kerja!”

“Ck, pokoknya aku nggak cemburu dengan Chinen. Titik!” Yamada kemudian melenggang ke toilet dan menyisakan member lain meringis maklum.

. . . . . . . . . .

Dua hari berlalu, kesembilan member mulai melakukan syuting kedua untuk program Itadaki High JUMP yang—you know lah, acara itu selalu penuh kejutan dan aneh-aneh. Member Hey Say JUMP dibagi 3 kelompok. Yakni Yamada, Yabu, Inoo, dan Keito yang menjadi penjahat berkostum. Yuto dengan Dai-chan. sementara Yuya, Hikaru dan Chinen.

“Otsukareeeeeee!!”  Teriak Inoo seraya memeluk renjer pink yang langsung mendapat deheman keras Yabu. Yamada sedang berjabat dengan kru serta pemain lain. Sementara Keito yang telah berganti pakaian sedang membuka Hpnya. Matanya langsung mendelik dan pekikan kaget spontan keluar dari bibirnya.

“Ada apa?” Yamada menoleh. Cepat-cepat Keito memasukan Hpnya ke kantung celana. “Nggak ada apa-apa. Hehe.. Yama- chan ganti baju dulu saja.”

Mata Ace itu memincing. “Jangan membohongiku. Ada apa?”

“Err.. itu...” Keito mencari alasan, Yamada yang geregetan langsung menyambar HP Keito di kantung celananya.

“Yama-chan kau nggak so—“

Belum selesai Keito menegur center di grupnya, Yamada keburu mengembalikan HP itu setelah diremat sesaat. Dapat terlihat bahwa matanya berkilat dan tangannya mengepal.

“Yama-chan...”

“Aku ganti baju dulu habis itu langsung menemuinya.” Sahut Yamada dingin. Yabu dan Inoo mendekat dan melempar pandangan bingung pada Keito. Pemuda kekar itu lantas menyodorkan HPnya.

“Astaga... Dasar Bakaki...!” Desis Yabu gemas. Sementara Inoo terkekeh cantik.

Di layar HP itu tertera foto Hikaru dan Chinen berpenampilan seperti manusia paprika serta manusia domba. Dan yang menjadi alasan Yamada langsung berang adalah... kostum yang mereka kenakan—yang Chinen kenakan—sangat ketat hingga seluruh lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Salahkan Yuya yang memotret mereka dan di share kepada Keito dengan caption ‘tunjukkan pada Yamada.’

Yuya idiot.

. . . . . . . . . . .

“Ryosuke!?”

Chinen memekik bingung saat selesei menghapus makeup dan berganti pakain, kekasihnya telah berada di luar ruang make up dengan tatapan sinis dan tangan bersilang didepan dada. Chinen agaknya terkejut namun kemudian senyumnya terkembang lirih. “Karena kau disini, jadi sepertinya kau sudah tahu. Maaf ya. Aku nggak bisa nepatin janji.”

Yamada diam.

“Ryosuke... sungguh! Itu semua dadakan! Kita semua tidak ada yang tahu akan melakukan apa di episode kali ini, kan?”

Yamada tetap diam.

“Jangan menatapku seperti itu dan jangan diam saja, Ryosuke!”

Masih diam.

“Ryosu—“

“Ayo pulang.” Akhirnya. Namun suara Yamada yang barusan masih terdengar dingin di telinga Chinen. Meski begitu si Chibi lebih menyukainya daripada didiamkan. Ia mengangguk simpul kemudian menoleh dan menunduk singkat pada Yuya, Hikaru dan para kru sebagai isyarat ‘aku pulang duluan dengan kekasihku ya’. 

Chinen bergegas menyusul Yamada ke mobil untuk diantarakan pulang.

“Pihak Itadaki High JUMP benar-benar seenaknya. Baik denganmu atau denganku.” Yamada membuka suara dimobil ketika melihat kekasihnya mulai mengantuk. Chinen menoleh dengan mata sayu. “Kenapa?”

“Itadaki.” Ulang Yamada tegas. “Aku jadi khawatir episode kedepan akan lebih buruk.”

Chinen tersenyum manis. “Kita seorang idola, Ryosuke. Hal seperti ini wajar. Kita akan tetap baik-baik saja.”

“Ya, aku tahu.”

“Omong-omong, tadi kau melakukan apa? Bukannya kau ke daerah Saitama ya? Dan langsung menuju tempatku.”

Yamada mendengus keras mendengar pertanyaan Chinen. “Kau bisa melihatnya besok saat kita syuting di studio. Pokoknya kau tidak boleh menertawakanku.”

“Ahaha.. apa kau juga melakukan hal yang memalukan?”

Kekasihnya tak menyahut namun pipinya yang bersemu cukup menjadi jawaban.

“Iya ternyata.” Chinen terkekeh pelan. “Tak apa. Aku juga melakukan hal yang lucu.”

Kali ini pipi Yamada lebih bersemu.

. . . . . . . . .

Saat di studio, tim Itadaki yang ditayangkan lebih dulu adalah tim Yamada yang berlaga sebagai penjahat. Dan hal yang memalukan tentang sang Ace adalah...

Pura pura kentut dengan suara spektakuler.

“MUAHAHAHA!!” Chinen tertawa keras dengan keanggunan tinggi. Ingat, si imut itu selalu menutup mulutnya ketika tertawa. Yamada mendelik kearahnya diam-diam.

Selanjutnya tim yang ditampilkan adalah tim Yuya. Itu berarti Chinen dan kostum dombanya. Ralat, kostum ketat dombanya. Yamada perlahan mulai mengepalkan tangan—

—hingga ia melihat hal yang terlalu seronoh, member utama itu ingin berteriak keras, “MATIKAN VIDEONYA!!” kemudian memukuli kameramen yang menyorot Chinen saat syuting kemarin, namun kenyataannya sang center tetap pada posisinya dengan raut wajah suram sambil menyaksikan tayangan kelompok Yuya.

SIALAN, YURI!!! KAU MENUNJUKAN BOKONGMU PADA PUBLIK!!!! Raungnya dalam hati. Yuto disampingnya sudah merasakan hawa panas saat layar menampilkan Chinen menungging dan pantat kenyalnya tersorot jelas di kamera.

.

Acara di studio selesai. Dan kini waktunya Yamada menginterogasi Chinen. Lagi.

“Oke, jangan marah ditempat kerja, Ryosuke.” tegur Chinen kalem. “Aku tahu kau marah. Aku minta maaf. Ini semua demi kerjaan. Tidak lagi deh.”

Yamada berdecak, “Kenapa kau harus nungging huh?!”

“Ya untuk menyelimuti bocah itu. Aku saja lupa ketika aku nungging dibelakangnya ada kamera.”

“Alasan!”

“Itu benar!” Chinen mulai ngotot. “Aku nggak mau debat ya... kau sendiri tadi juga geol-geolin pantat terus kentut dihadapan banyak penonton!”

Wajah Yamada langsung merah. “Itu kan pura-pura! Aku tidak kentut.”

“Nah makanya. Aku juga demi pekerjaan!”

“Pokoknya kau nggak boleh mengenakan pakaian begitu lagi! Apalagi nungging dan memperlihatkan bokongmu kepada publik! TIDAK LAGI, CHINEN YURI!”

Bungsu JUMP itu cukup tersentak ketika Yamada menekan kalimat terakhirnya dengan pandangan seram. “Tapi kan itu tidak bisa diprediksiiii!”

“AKU BILANG TIDAK PAKAI BAJU SEPERTI ITY LAGI!!! AKU TIDAK SUKA!”

Nah, kalimat itu. Chinen lantas tersenyum, “Iya iya...”

“Lihat saja kalau kau pakai baju seperti itu lagi, lalu nungging-nungging di publik. Kau akan dapat pelajaran!”

“Iya, bawel! Nah, ayo sekarang kembali ke studio utama. Kita sudah ditunggu di van sama yang lain!” Chinen langsung menggamit lengan kekar kekasihnya untuk keluar dari studio Itadaki menuju jemputan. Sementara salah satu staff yang sekiranya mendengar ocehan Yamada menyeringai. “Zanen da ne, Yamada-kun. Sayangnya Chinen-kun akan memakai baju yang ketat lagi. Ahaha.. jadi tak sabar melihat hasil setelah Chinen-kun dihukum olehnya nanti.” Staff itu lalu melenggang sambil menjinjing kostum monyet.

.

Di dalam van. Yamada masih saja mengoceh.

“Pokoknya aku tidak suka kau memakai baju begitu, Yuri!! Heh, Jangan cengengesan!”

Chinen masih terkekeh.

“Apalagi saat pantatmu tepat berada di kamera. Cih, kau tahu apa tanggapan para seme liar diluar sana hah!?”

Chinen masih terkekeh.

“CHINEN YURI!”

“Apa?”

Aku tidak su—

CHU~

Chinen harus melakukan tindakan itu untuk menghentikan ocehan kekasihnya. Dan yap. Yamada tak lagi berceloteh setelah Chinen melepas kecupannya. “Aku tahu Ryosuke. Aku mengerti. Aku paham. Aku juga mencintaimu.

Member lain yang berada didalam van langsung mengambil kesimpulan.

Yamada lebih cemburuan.

THE END


A/N: Ahahaha.. ini buat hadiah ultahnya samwan niiih :* <3 Happy Birthday Erna-chan. ma lovely fangirl friend of Yamachii <3 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review