Title: Endless
Author: Kiwok
Pairing: YamaChii of cource <3
Genre: Romance, Comedy, Canon.
WARNING! BAHASA SUKA SUKA
Summary: Chinen cemburu. Yamada
cemburu. Begitu terus di setiap hubungan mereka karena mereka paham bahwa cemburu adalah cinta yang tiada akhir.
Douzo!
.
.
.
.
Ketika member JUMP ditanya siapa yang paling sering cemburu di grup, semua
serentak menjawab,
“Yamada.”
“Yama-chan.”
“Yamada!”
“Yamada. Siapa lagi? Kalau cemburu terlihat jelas!”
“Huh, kau masih tanya? Yama-chan, tentu saja! Kau tidak lihat kalau dia cemburu atmosfirnya lain?”
“Sudah pasti Yama-chan, kan?”
“Ryosuke.” kali itu Chinen menjawab sambil nyengir. “Ryosuke orangnya
sensitif. Sangat mudah cemburu.” Penjelasan singkat itu langsung membuat
staff yang bertanya—ketika pemotretan majalah segmen Yamada sedang
berlangsung—semakin penasaran.
“Cemburunya bagaimana, Chinen-kun?”
Chinen melirik Keito yang duduk disebelahnya. Gitaris itu cuma angkat bahu.
“Hmm.. gimana ya? Banyak sih.. melihatku dengan Keito duduk dempetan seperti
ini nanti juga ngoceh. Liat saja hahaha..”
Staff dan Keito tertawa.
“Oh tapi cemburunya yang paling lucu itu saat..” member termuda itu
terkekeh, kemudian pikirannya mengingat saat-saat dimana kekasihnya terlalu
protektive.
. . . . . . . . . . . .
“Aku sudah bilang jangan pakai baju ketat! Jangan pakai celana pendek! Dan
jangan pamer pantat!” Yamada berkata dengan raut kesal ketika mereka sedang
makan malam disebuah restoran ternama kawasan Saitama. “Aku juga sudah bilang
berkali kali jangan bersikap sok imut didepan para senpai!” lanjutnya sambil
meraih gelas anggur merah dan meminumnya.
“Ryosuke...” Chinen mendesis, menaruh sendok serta pisau stenlis di samping
piringnya kemudian lanjut berbicara, “Aku tidak pakai baju ketat tapi badanku
yang tumbuh pesat. Aku pakai celana pendek karena celana panjang yang biasa
kupakai disita semua oleh ibuku lalu dibawanya ke laundry dan hanya menyisakan
celana pendek. Aku tidak pamer pantat pada siapapun kecuali padamu dan saat
bermain di Sakintonin. Aku tidak bersikap sok imut karena aku memang imut.
Ngerti?”
Yamada bukan tipe yang suka diceramahi atau mendengarkan komentar
panjang-lebar. Ketika teman-temannya berkomentar panjang (seperti Dai-chan atau
Keito) ia pasti dengan segera menyelanya dan berkata lebih panjang. Namun jika dengan Chinen, ia mendengarkan semuanya hingga bibir
seksi kekasihnya itu mengatup.
“Tapi saat ke studio dan belum ganti baju yang disediakan, bajumu itu
terlalu ketat! Aku tidak suka kau
memakainya! Setidaknya pakai jaket!” seru Yamada kembali.
“Ini musim panas, Ryosuke.” Chinen berdecak, “untuk apa pakai jaket? Lagipula kaus putih itu
kaus favoritku. Aku memang biasa memakainya kalau musim panas!”
“Dan memperlihatkan lekuk tubuh? Otot? Dada? Kau pikir aku tidak peka saat
kau masuk ke studio banyak yang memandangmu? Belum saat kau pergi dari rumah
menuju studio. Berapa banyak yang memandangmu, huh? Dan aku tidak suka kau begitu!” Tegas Yamada sembari menatap Chinen
lekat-lekat. Pemuda imut disana mendesah pasrah. “Baiklah aku mengerti. Tidak
pakai baju ketat lagi.”
“Bagus! Dan jangan pakai celana
pendek. Sekalipun itu baju yang disediakan oleh kru acara atau staff, kalau
terlalu pendek dan memperlihatkan ¼ bagian serta bulu kakimu, aku juga tidak suka.”
“Iya iya... ayo kita makan. Jangan kebanyakan mengoceh, Ryosuke.” Chinen
mencoba sabar. Namun sepertinya kekasihnya masih ingin berceloteh.
“Jangan menerima acara atau drama atau movie yang memperlihatkan pantat
LAGI.”
Chinen terkekeh, “Masih mau bahas Sankintonin? Itu sudah basi, Ryosuke. Bahkan gaji saat bermain film itu sudah ludes,”
“Bukan cuma Sankintonin! Acara NTV yang mengadakan challange memakai celana
tanpa menggunakan tangan itu juga. Kau harus tau berapa pasang mata yang hanya
‘fokus’ padamu, tepatnya pantatmu! Kau tidak sepatutnya nungging-nungging dihadapan banyak orang!”
“Tapi aku menang, kan? Lagipula kalau bukan aku siapa lagi yang menjadi
perwakilan dari School Kakumei?” Bela Chinen sambil menyeringai.
“Siapapun terserah! Asal jangan kau. Aku
tidak suka.”
“Iya iya..”
“Dan satu lagi, jangan terlalu bertingkah didepan para senpai! Ohno-kun,
Maruyama-kun, Kamenashi-kun dan siapapun! Aku
tidak suka.”
Chinen memotong daging panggangnya kemudian menusuk dengan garpu lalu
disuap untuk kekasihnya. “Makan dulu. Aku mengerti. Tidak melakukan apa yang
tidak kau sukai.”
Yamada tersenyum sembari mengunyah. Tangannya terjulur untuk mengelus pipi gembil Chinen. “Aku menyukaimu.”
Ucapnya sehabis menelan makanan. Chinen balas tersenyum manis, “Aku tahu.”
. . . . . . . . . .
Staff dan beberapa member yang mendengarkan cerita Chinen tertawa lepas
sedangkan pemuda paling mungil disana hanya mendengus.
“Jadi, Yama-chan mengganti kalimat ‘Aku cemburu’ menjadi ‘Aku tidak
suka’?” simpul Yuya dengan ekspresi tak menyangka, “kreatif.... ”
“Yah, dia mana mau mengakui kalau dia cemburu.” Chinen menanggapi.
“Siapa yang cemburu?”
Semua yang mengerumuni Chinen merenggang. Yamada baru saja selesai dengan
potosyutnya (lalu kini giliran Yuto) dan ia menghapiri Chinen dengan tatapan dingin. “Maksudnya aku?”
Chinen mengangguk remeh. Yamada langsung mendengus.
“Staff-san, jangan masukan apa yang diceritakan Chinen ke majalah.”
Pemuda Chubby itu kemudian menatap kekasinya tanpa ragu, “Siapa bilang yang paling
cemburu itu aku? Bukannya kau ya?”
Chinen berdecak, “Aku? Nggak sadar diri? Yang paling bawel kalau aku
melakukan apapun yang menjadi pusat perhatian orang siapa?”
“Chee.. bukannya kau juga begitu? Perlu ku beberkan...?”
“Eh, cerita saja, Yamada-kun!”
“Iya cerita!”
Member lain kembali berkumpul begitu pula staff yang penasaran.
. . . . . . . . . . .
Chinen Yuri sangat tertutup tentang privasinya. Sangat sangat tertutup. Ia
tidak mau orang lain mengorek lebih jauh tentang hal pribadinya. Terutama perasaan
marah dan sedih (juga cemburu).
Semua member paham, Chinen tidak bisa dipaksa karena kalau pemuda mungil itu dipaksa yang ada malah akan menyiksa batin Chinen sendiri. Jadi mereka biasa membiarkannya sendirian untuk merilekskan dan menyegarkan pikiran agar kembali ceria dan tersenyum menawan seperti semula.
Namun Yamada Ryosuke adalah sepenuhnya lain. Ia tidak akan pernah
membiarkan pemuda kesayangannya itu menekukan wajah dan mengacuhkannya sampai
ia mendapat jawaban yang puas mengenai keadaan Chinen.
“Tidak mau.”
“Malas.”
“Terserah.”
“Aku ngantuk.”
“Begitulah.”
“Aku nggak apa-apa.”
Kalimat-kalimat diatas adalah ciri khas kalau Chinen mulai ngambek dalam
kurung cemburu. Yamada hafal betul kalimat itu dipakai di saat Chinen cemburu karena hal apa.
“Tidak mau.” Saat Yamada makan siang bersama Keito lalu mengajak Chinen
jalan-jalan sekaligus makan malam di petang harinya. “Tidak mau. Kenapa kau tidak mengajak Keito sekaligus sampai dinner,
huh?” Lalu Yamada akan mendatangi rumah Chinen, membawakan makanan yang ia
masak sendiri kemudian memaksa Chinen sampai ia makan dan berkata, “Ini lezat! buatkan ini lagi untukku!”
“Malas.” Saat Yamada sedang semangat belajar memotret dan meminta Chinen
menjadi objeknya. “Malas ah, itu kan kameranya Yuti, kenapa nggak foto Yuti saja?” Lalu Yamada akan mengembalikan kamera itu dan mengenakan kamera ponselnya
untuk memotret Chinen diam diam dari berbagai angle dan memperlihatkannya
kepada si Chibi hingga ia berkata, “Aku keren disini! Ryosuke hebat!”
“Terserah.” Saat Yamada dipasangkan dengan Dai-chan untuk potosyut dan
berpose sangat mesra lalu sepulangnya memaksa Chinen untuk menemaninya ke
Starbuck dan menawarkan sesuatu. “Terserah. Aku hanya menemani. Nggak mood
makan.” Lalu Yamada akan berdebat dengannya agar Chinen mau memakan sesuatu
bahkan menyuapinya kalau perlu dan Chinen menanggapinya dengan, “Ryosuke
romantis!”
“Aku ngantuk.” Saat Yamada menghabiskan hari liburnya dengan jalan-jalan
bersama Yuya, nonton movie dengan Dai-chan dan karokean dengan Keito lalu
mengajak Chinen makan malam bersama keluarganya. “Aku ngantuk ingin tidur
sepuasnya. Ajak saja Dai-chan atau yang lain.” Lalu Yamada akan meluangkan
berapapun waktu dihari kerjanya untuk mengajak Chinen jalan-jalan hingga dibongkar di School Kakumei, “Walau sibuk
bekerja Ryosuke tetap saja mengajakku jalan-jalan.”
“Begitulah,” Saat Yamada memuji Hashimoto Kana di acara VS Arashi dan
Chinen menonton acara itu dengan Keito dirumahnya. “Yah, begitulah... dia
memang imut. Ryosuke kan suka sama SEMUA yang imut.” Lalu Keito melapor
pada Yamada hingga pemuda Chubby itu tahu alasan kenapa Chinen mengacuhkannya
seminggu penuh sepulang mengikuti acara VS Arashi. “Kau lebih imut, Yuri. Kau
lebih dari siapapun. Kau yang paling sempurna dimataku!” gombalan Yamada tengah
malam saat ia datang kerumahnya mutlak dibeberkan Chinen di majalah, “Harusnya
kau bilang saja kalau Chinen lebih imut daripada Hashimoto Kana!”
“Aku nggak apa apa.” Ini yang paling bahaya. Yamada harus memutar otak dan
ektra keras untuk meluruskan kalimat “Nggak apa-apa” yang diucap Chinen. Karena
itu kalimat penuh kebohongan! Kalau Chinen bilang ‘nggak apa-apa’ dengan senyum
terpaksa, dengan mata yang sama sekali tak berbinar, dengan kekehan pelan,
dengan alis yang agak turun. Itu berarti
ADA APA-APA! Heck, Yamada hafal betul itu diucap saat Yamada melakukan fanservice
dengan Yuto di Super Delicated. Selalu. Kalimat itu pasti terucap oleh Chinen.
(‘Daijoubu wo’ waratte kureta~)
“Aku nggak apa-apa, itu hanya fanservice kan?”
“Nggak apa-apa kok, lakukan saja yang terbaik.”
“Kalau kita bisa membuat fans kita bahagia, lakukan saja. Aku nggak
apa-apa.”
“Aku nggak apa-apa, Ryosuke. Aku nggak apa-apa. Sungguh, aku nggak apa-apa! Aku nggak
apa-apa...”
GAAAAAAAH Yamada mulai gila.
. . . . . . . .
“BUAHAHAHAHAHA!” semua yang mendengarkan cerita Yamada tertawa lebih
kencang. “Aduh perutku serasa dikocok.” Inoo memegang perutnya.
“Kalau ini sih Chinen yang lebih cemburuan!” Yuya menambahi. Hikaru juga
tak kalah terbahak. “Kalau Yamada cuma mengganti kalimat cemburu dengan ‘aku
nggak suka’ kalau Chii, banyak versinya!”
“Apa kubilang! Dia ini kalau sudah bilang “Aku nggak apa-apa.” membuatku panik!” Beber Yamada kembali dengan ekspresif sementara Chinen mulai
memerah.
“Padahal sudah minta maaf berkali kali, selalu kasih kejutan tiap hari. Tapi
tetep saja kalau sebelum perform, konser, show yang mengharuskan fanservice dengan Yuto , wajah orang ini... begini,” Pemuda Chubby itu meraggakan ekspresi konyol orang
cemberut, “terus sambil sok-sokan tegar bilang “Aku nggak apa-apa...””
DUAK! Pukulan telak dibahu Yamada. Chinen lantas memekik malu. “Berisik Ryosuke!”
“Memang kenyataannya kau begitu kan! Aku masih mending cerita disini. Kau pasti
membeberkan kalau aku membuatmu seneng di majalah atau di school kakumei. Itu lebih berisik, tahu!”
“Tapi wajar kalau aku
bongkar karena kau pengecut tidak mau membeberkan kemesraan kita di publik!”
Kedua sejoli itu saling
men-death glare hingga Yabu melerai
mereka berdua. “Hentikan, jangan bertengkar di tempat kerja!”
“Ck, pokoknya aku nggak
cemburu dengan Chinen. Titik!” Yamada kemudian melenggang ke toilet dan
menyisakan member lain meringis maklum.
. . . . . . . . . .
Dua hari berlalu,
kesembilan member mulai melakukan syuting kedua untuk program Itadaki High JUMP
yang—you know lah, acara itu selalu penuh kejutan dan aneh-aneh. Member Hey Say
JUMP dibagi 3 kelompok. Yakni Yamada, Yabu, Inoo, dan Keito yang menjadi
penjahat berkostum. Yuto dengan Dai-chan. sementara Yuya, Hikaru dan Chinen.
“Otsukareeeeeee!!” Teriak Inoo seraya memeluk renjer pink yang
langsung mendapat deheman keras Yabu. Yamada sedang berjabat dengan kru serta
pemain lain. Sementara Keito yang telah berganti pakaian sedang membuka Hpnya. Matanya
langsung mendelik dan pekikan kaget spontan keluar dari bibirnya.
“Ada apa?” Yamada
menoleh. Cepat-cepat Keito memasukan Hpnya ke kantung celana. “Nggak ada
apa-apa. Hehe.. Yama- chan ganti baju dulu saja.”
Mata Ace itu memincing. “Jangan membohongiku. Ada apa?”
“Err.. itu...” Keito
mencari alasan, Yamada yang geregetan langsung menyambar HP Keito di kantung
celananya.
“Yama-chan kau nggak so—“
Belum selesai Keito
menegur center di grupnya, Yamada keburu mengembalikan HP itu setelah diremat sesaat. Dapat terlihat bahwa matanya berkilat dan tangannya mengepal.
“Yama-chan...”
“Aku ganti baju dulu
habis itu langsung menemuinya.” Sahut Yamada dingin. Yabu dan Inoo mendekat dan
melempar pandangan bingung pada Keito. Pemuda kekar itu lantas menyodorkan HPnya.
“Astaga... Dasar Bakaki...!”
Desis Yabu gemas. Sementara Inoo terkekeh cantik.
Di layar HP itu tertera foto
Hikaru dan Chinen berpenampilan seperti manusia paprika serta manusia domba. Dan
yang menjadi alasan Yamada langsung berang adalah... kostum yang mereka kenakan—yang
Chinen kenakan—sangat ketat hingga seluruh lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Salahkan
Yuya yang memotret mereka dan di share kepada Keito dengan caption ‘tunjukkan pada Yamada.’
Yuya idiot.
. . . . . . . . . . .
“Ryosuke!?”
Chinen memekik bingung
saat selesei menghapus makeup dan berganti pakain, kekasihnya telah berada di
luar ruang make up dengan tatapan sinis dan tangan bersilang didepan dada. Chinen agaknya
terkejut namun kemudian senyumnya terkembang lirih. “Karena kau disini, jadi
sepertinya kau sudah tahu. Maaf ya. Aku nggak bisa nepatin janji.”
Yamada diam.
“Ryosuke... sungguh! Itu semua
dadakan! Kita semua tidak ada yang tahu akan melakukan apa di episode kali ini,
kan?”
Yamada tetap diam.
“Jangan menatapku seperti
itu dan jangan diam saja, Ryosuke!”
Masih diam.
“Ryosu—“
“Ayo pulang.” Akhirnya. Namun
suara Yamada yang barusan masih terdengar dingin di telinga Chinen. Meski begitu si Chibi lebih menyukainya daripada didiamkan. Ia mengangguk simpul kemudian menoleh
dan menunduk singkat pada Yuya, Hikaru dan para kru sebagai isyarat ‘aku pulang
duluan dengan kekasihku ya’.
Chinen bergegas menyusul Yamada ke mobil untuk
diantarakan pulang.
“Pihak Itadaki High JUMP
benar-benar seenaknya. Baik denganmu atau denganku.” Yamada membuka suara dimobil
ketika melihat kekasihnya mulai mengantuk. Chinen menoleh dengan mata sayu. “Kenapa?”
“Itadaki.” Ulang Yamada
tegas. “Aku jadi khawatir episode kedepan akan lebih buruk.”
Chinen tersenyum manis. “Kita seorang idola, Ryosuke. Hal seperti ini wajar. Kita akan tetap baik-baik saja.”
“Ya, aku tahu.”
“Omong-omong, tadi kau melakukan apa? Bukannya
kau ke daerah Saitama ya? Dan langsung menuju tempatku.”
Yamada mendengus keras
mendengar pertanyaan Chinen. “Kau bisa melihatnya besok saat kita syuting di
studio. Pokoknya kau tidak boleh menertawakanku.”
“Ahaha.. apa kau juga
melakukan hal yang memalukan?”
Kekasihnya tak menyahut
namun pipinya yang bersemu cukup menjadi jawaban.
“Iya ternyata.” Chinen
terkekeh pelan. “Tak apa. Aku juga melakukan hal yang lucu.”
Kali ini pipi Yamada
lebih bersemu.
. . . . . . . . .
Saat di studio, tim
Itadaki yang ditayangkan lebih dulu adalah tim Yamada yang berlaga sebagai
penjahat. Dan hal yang memalukan tentang sang Ace adalah...
Pura pura kentut dengan
suara spektakuler.
“MUAHAHAHA!!” Chinen
tertawa keras dengan keanggunan tinggi. Ingat, si imut itu selalu menutup
mulutnya ketika tertawa. Yamada mendelik kearahnya diam-diam.
Selanjutnya tim yang
ditampilkan adalah tim Yuya. Itu berarti Chinen dan kostum dombanya. Ralat,
kostum ketat dombanya. Yamada perlahan mulai mengepalkan tangan—
—hingga ia melihat hal yang
terlalu seronoh, member utama itu ingin berteriak keras, “MATIKAN VIDEONYA!!”
kemudian memukuli kameramen yang menyorot Chinen saat syuting kemarin, namun kenyataannya sang center tetap pada posisinya dengan raut wajah suram sambil menyaksikan tayangan kelompok Yuya.
SIALAN, YURI!!! KAU MENUNJUKAN BOKONGMU PADA
PUBLIK!!!! Raungnya dalam hati.
Yuto disampingnya sudah merasakan hawa panas saat layar menampilkan Chinen
menungging dan pantat kenyalnya tersorot jelas di kamera.
.
Acara di studio selesai. Dan
kini waktunya Yamada menginterogasi Chinen. Lagi.
“Oke, jangan marah
ditempat kerja, Ryosuke.” tegur Chinen kalem. “Aku tahu kau marah. Aku minta
maaf. Ini semua demi kerjaan. Tidak lagi deh.”
Yamada berdecak, “Kenapa
kau harus nungging huh?!”
“Ya untuk menyelimuti
bocah itu. Aku saja lupa ketika aku nungging dibelakangnya ada kamera.”
“Alasan!”
“Itu benar!” Chinen mulai
ngotot. “Aku nggak mau debat ya... kau sendiri tadi juga geol-geolin pantat
terus kentut dihadapan banyak penonton!”
Wajah Yamada langsung
merah. “Itu kan pura-pura! Aku tidak kentut.”
“Nah makanya. Aku juga
demi pekerjaan!”
“Pokoknya kau nggak boleh
mengenakan pakaian begitu lagi! Apalagi nungging dan memperlihatkan bokongmu
kepada publik! TIDAK LAGI, CHINEN YURI!”
Bungsu JUMP itu cukup
tersentak ketika Yamada menekan kalimat terakhirnya dengan pandangan seram. “Tapi kan itu tidak bisa diprediksiiii!”
“AKU BILANG TIDAK PAKAI BAJU SEPERTI ITY LAGI!!! AKU TIDAK SUKA!”
Nah, kalimat itu. Chinen
lantas tersenyum, “Iya iya...”
“Lihat saja kalau kau pakai
baju seperti itu lagi, lalu nungging-nungging di publik. Kau akan dapat
pelajaran!”
“Iya, bawel! Nah, ayo
sekarang kembali ke studio utama. Kita sudah ditunggu di van sama yang lain!”
Chinen langsung menggamit lengan kekar kekasihnya untuk keluar dari studio
Itadaki menuju jemputan. Sementara salah satu staff yang sekiranya mendengar
ocehan Yamada menyeringai. “Zanen da ne,
Yamada-kun. Sayangnya Chinen-kun akan memakai baju yang ketat lagi. Ahaha..
jadi tak sabar melihat hasil setelah Chinen-kun dihukum olehnya nanti.” Staff itu
lalu melenggang sambil menjinjing kostum monyet.
.
Di dalam van. Yamada
masih saja mengoceh.
“Pokoknya aku tidak suka kau memakai baju begitu,
Yuri!! Heh, Jangan cengengesan!”
Chinen masih terkekeh.
“Apalagi saat pantatmu
tepat berada di kamera. Cih, kau tahu apa tanggapan para seme liar diluar sana
hah!?”
Chinen masih terkekeh.
“CHINEN YURI!”
“Apa?”
“Aku tidak su—“
CHU~
Chinen harus melakukan
tindakan itu untuk menghentikan ocehan kekasihnya. Dan yap. Yamada tak lagi
berceloteh setelah Chinen melepas kecupannya. “Aku tahu Ryosuke. Aku mengerti.
Aku paham. Aku juga mencintaimu.”
Member lain yang berada
didalam van langsung mengambil kesimpulan.
Yamada lebih cemburuan.
THE END
A/N: Ahahaha.. ini buat hadiah
ultahnya samwan niiih :* <3 Happy Birthday Erna-chan. ma lovely fangirl
friend of Yamachii <3


0 komentar:
Posting Komentar