Judul : I Love You to Tightness
Pair: YamaChii always
Author: Me
Genre: Fluff, Romance
Summary : tidak ada hadiah romantis.
Tidak ada ucapan romantis. Tidak ada apapun yang romantis. Tapi Chinen tetap
bisa bahagia di ulang tahunnya ke 22. “Terimakasih, Ryosuke.”
P.S : from Yamada’s Point of View
Cekidot!
.
.
.
Oh ayolah... ini sudah hampir waktunya. Aku harus segera menemui orang itu.
“Bisa aku pulang lebih dulu?”
Para staff, kru, dan pemain lain Ansatsu Live Action menoleh. Menatapku
seolah menatap alien.
“Kenapa? Bukannya masih terlalu awal, Yamada-kun? Nikmati saja dulu. Ini
perayaan selesainya season dua Live Action kita!” Kang Ji Young berseru, aku
mengernyit padanya yang setengah mabuk.
Tsk. Sekarang sudah jam sebe—ohh astaga, jam setengah dua belas! Tinggal beberapa
menit lagi untuk pergantian hari, hari ulang tahunnya. Aku tidak boleh di tempat ini sampai pagi hanya untuk perayaan yang tidak terlalu penting. Tidak karena bahkan sampai hari ini aku belum
menghubunginya! Aku harus menemuinya
segera.
“Maaf. Tapi aku harus pergi menemui seseorang. Ini penting.” Aku beranjak
sembari tersenyum. Suda tiba-tiba menatapku dengan
dingin. “Bertemu Chinen?” sarkasnya.
Aku balas menatapnya dingin.
“atau Keito?”
Tanganku mulai terkepal. Makhluk lain disana malah tertawa kemudian Suda berucap
kembali. “Apa kau tidak bisa sehari tidak bertemu Chinen? Kau seperti
ketergantungan dengannya. Kalau bukan dengannya dia, pasti Okamoto-kun. Kau tidak mau
bersosialisasi dengan kita, huh? Yuto-kun saja ma—“
“Aku duluan. Ja, minna!” Persetan
dengan ucapannya. Secepat mungkin aku melangkah meninggalkan tempat itu tanpa
peduli Sutradara-san yang menyuruhku kembali.
“Sial! Mobilku dilokasi syuting!”
Ini benar-benar kesialan besar. Aku baru ingat saat berangkat kesini tadi bersama mereka menaiki van. Dan aku menyesal ikut mereka kesini. Kalau tidak karena gajiku yang paling besar diantara mereka dan aku menghargai Sutradara-san yang mempromosikanku besar-besaran, akan kutolak mentah-mentah ajakan mereka karokean.
Ini benar-benar kesialan besar. Aku baru ingat saat berangkat kesini tadi bersama mereka menaiki van. Dan aku menyesal ikut mereka kesini. Kalau tidak karena gajiku yang paling besar diantara mereka dan aku menghargai Sutradara-san yang mempromosikanku besar-besaran, akan kutolak mentah-mentah ajakan mereka karokean.
Kulirik jam di tangan, setengah dua belas lebih. Ini bahaya. Kereta,
tolong aku!
. . . . .
“Keito, ayolaaah!” Aku memisuh di dalam kereta kilat yang membawaku
kembali ke Tokyo. Kenapa disaat seperti
ini sahabat yang bisa kupercaya tidak mengang—
“Hallo?”
“Keito! Akhirnya...”
“Kau dimana, Yama-chan?! Chinen
menu—“
“Iya aku tahu! Aku di kereta, menuju Tokyo.” Kudengar Keito merutuk, kemudian memekik
nyaring. “Kau masih di perjalanan?!
Astaga, sebentar lagi pergantian hari!”
“Aku tahu, aku tahu! Kadoku masih utuh kan?”
“Jangan memikirkan kado! Tidak akan tepat
waktu kalau kau ketempatku lalu ketempat Chinen!”
“Tapi—“
“Yamada! Kau yang terpenting. Bukan
kado! Chinen menunggumu.”
Aku terdiam, mencengkram erat telpon genggamku. “Wakatta.”
Kereta berhneti. Secepat kilat aku keluar dari stasiun kemudian berlari
menuju apartemennya.
“Jam dua belas kurang lima belas menit. Kumohon waktu... perlambat
detikmu!” Kakiku terus berlari. Disaat
seperti ini aku baru iri setengah mati dengan Yuto. Kalau saja kaki ini lebih
panjang pasti akan cepat sampai.
.
.
.
.
.
.
-Seminggu yang lalu-
“Sebentar lagi kau ulang tahun, kan?
Apa yang kau inginkan?”
Dia tersenyum. Sangat indah
seperti biasa. Mata itu. Binar itu. Aku bisa saja terus menatapnya hanya karena
ia tersenyum dengan mata yang begitu gemilang.
“Kau tahu semua apa yang
kuinginkan.”
Aku tertawa. “Oke baiklah... biar kutebak. Selain uang, gyoza dan
Ohno-kun, hmmm... Apalagi?”
“Ryosuke.”
“He?”
“Aku mau dirimu.”
“Apa maksudmu?”
Binar dimatanya berubah menjadi kerlingan
usil. Tetap indah, asal kau tahu.
“Ryosuke sibuk menyelesaikan Ansatsu
season 2 kan seminggu nanti?” Dia menyender di pundakku. Aku melirik keadaan sekitar.
Ah, hanya ada member. Staff tidak ada di ruang ini, aman. Aku menggeser sedikit
tubuhku agar senderannya nyaman. “Iya. Tapi kuusahakan bertemu denganmu.”
“Tidak perlu. Aku bisa mengerti. Kudengar
sutradaramu sangat tegas? Bahkan tidak diperbolehkan memegang HP saat
isirahat kan?”
Aku tersenyum remeh, “Itu karena aku
tidak akan hafal dialogku kalau memegang HP dan malah chatting denganmu.”
“Oh? Ryosuke yang sangat hebat
menghafal dialog drama tidak bisa hafal karena chatting denganku?”
Aku kembali tertawa. “Karena kau mengalihkan
duniaku?”
“Hei! Jangan menggombal dengan nada
bertanya!”
Tawaku semakin keras. Kali ini aku
memeluknya. Persetan dengan member yang bersiul.
“Ryosuke...”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.”
DAMN! CHINEN YURI, SEHARUSNYA ITU
KALIMATKU!
Dia malah terkekeh. Aku berdecih
pelan, “Jangan mengatakan apa yang seharusnya kukatakan, Yuri.”
“Ahaha.. kau tinggal mengucapkannya kembali, Ryosuke.”
“Kau sama saja menyuruhku mengucap
kalimat bekas.”
“Bekas kau bilang? Aku berkali kali
bilang seperti itu padamu berarti aku berkali kali mengatakan kalimat bekas?”
“Maksudku, kalau aku mengucapkannya
setelah kau! Makanya jangan kau duluan yang bilang.”
“Ja, kenapa kau tidak sering bilang?
Aku butuh kalimat itu, tahu.”
Ahaha... baiklah, baiklah. “Aku mencin—“
“Stt...” telunjuknya menutup
bibirku. Aku mengernyit.
“Ucapkan itu nanti di hari ulang
tahunku.”
.
.
.
.
.
.
CKLEK.
“YURI!”
Kamar apartemennya sama sekali tidak di kunci. Dasar bodoh! Bagaimana kalau
ada orang asing atau fans gila yang menyelundup masuk!
“Yuri?”
Lampu ruang tamu kunyalakan. Dengan segera mataku menyapu seluruh sudut
apartemennya kemudian tersentak saat melihat sosok yang amat kusayang
tergeletak di sofa.
Kakiku melangkah berat mendekati sosok itu. Terlihat tangannya yang
terkulai didada masih bisa memegang HP. Aku meraih benda itu lantas merasa perih
saat membukanya. Disana terpampang sebuah pesan yang belum ia kirm.
‘Ryosuke, aku menunggumu.’
Sialan!
HP itu kuletakan sembarang setelah ku remas sesaat.
HP itu kuletakan sembarang setelah ku remas sesaat.
“Yuri... Hei, bangun, Sayang.” Aku menepuk-nepuk pelan pipi kenyalnya. Ia
berjengit. Kemudian sayup-sayup mata indahnya terbuka.
“Ryo..suke?”
GRAP.
Serbuan pelukan langsung kuberi. Tak lupa membisikan sebuah kalimat
penyesalan untukunya.
“Maaf telat...”
Bisa kurasakan dia mendengus. “Aku tahu ini akan terjadi. Tak apa.”
“Selamat ulang tahun....” Aku menatapnya, berusaha memberi senyum terbaik
meski saat ini aku ingin—
“Kalau ingin menangis, menangis saja, Ryosuke.”
Dasar pecundang.
Chinen terkekeh sembari mengusap tetes pertama di mataku. “Ryosuke tak
perlu memberikan yang terbaik untukku. Karena kau sudah yang terbaik. Aku
mengerti kau sibuk. Aku mengerti kau memiliki duniamu. Tidak perlu memaksakan
diri.”
“A..aku... ingin kau yang menangis bahagia. Bukan aku..! Sial. Sial. Si—“
.......
Dan aku kembali kecolongan.
“Chinen Yuri... sudah kukatakan berkali-kali, jangan menciumku lebih dulu.”
Geramku. Dia justru menjulurkan lidah. “Aku mencin—“
Kembali kupeluk dirinya, sengaja menggagalkan ucapannya. Kali ini lebih
erat.
“Ryo...”
Tambah erat.
“Ryosuke...”
Semakin erat.
“Ryosuke.. se..sakhhh..”
“Biar.”
“Ryosuke!”
“Kau harus tahu itu yang aku rasakan.”
“Akhhh.. sesak Ryosuke...”
“Kau harus tahu kalau mencintaimu begitu sesak, Yuri. Aku mencintaimu
sampai sampai setiap kali kalimat itu keluar, hatiku sesak. Karena kau.”
Ia diam.
“Aku sangat amat begitu mencintaimu.”
“....”
“Selamat ulang tahun, Chinen Yuriku.” Pelukan terlepas kemudian aku menatapnya kembali. Kali ini aku bisa tersenyum bangga karena ia menangis. Menangis
bahagia.
Kucondongkan wajahku kemudian menjilat air asin yang masih menyembul malu
di balik pelupuk matanya. Ia terkekeh geli.
“Terimakasih, Ryosuke.”
THE END
A/N : SAYA NGETIK INI. SAYA MELELEH SENDIRI. UGH ////// SELAMAT ULANG
TAHUN, CANTIK. BIASKU. KESAYANGKU. SUMBER KEGILAANKOOOOOH <3 <3 <3 <3

0 komentar:
Posting Komentar