Minggu, 29 November 2015

I LOVE YOU TO TIGHTNESS

Diposting oleh Kiwokchwan di 07.17
Judul : I Love You to Tightness


Pair: YamaChii always

Author: Me

Genre: Fluff, Romance

Summary : tidak ada hadiah romantis. Tidak ada ucapan romantis. Tidak ada apapun yang romantis. Tapi Chinen tetap bisa bahagia di ulang tahunnya ke 22. “Terimakasih, Ryosuke.”

P.S : from Yamada’s Point of View

Cekidot!
.
.
.


Oh ayolah... ini sudah hampir waktunya. Aku harus segera menemui orang itu.

“Bisa aku pulang lebih dulu?”

Para staff, kru, dan pemain lain Ansatsu Live Action menoleh. Menatapku seolah menatap alien.

“Kenapa? Bukannya masih terlalu awal, Yamada-kun? Nikmati saja dulu. Ini perayaan selesainya season dua Live Action kita!” Kang Ji Young berseru, aku mengernyit padanya yang setengah mabuk.

Tsk. Sekarang sudah jam sebe—ohh astaga, jam setengah dua belas! Tinggal beberapa menit lagi untuk pergantian hari, hari ulang tahunnya. Aku tidak boleh di tempat ini sampai pagi hanya untuk perayaan yang tidak terlalu penting. Tidak karena bahkan sampai hari ini aku belum menghubunginya! Aku harus menemuinya segera.

“Maaf. Tapi aku harus pergi menemui seseorang. Ini penting.” Aku beranjak sembari tersenyum. Suda tiba-tiba menatapku dengan dingin. “Bertemu Chinen?” sarkasnya.

Aku balas menatapnya dingin.

“atau Keito?”

Tanganku mulai terkepal. Makhluk lain disana malah tertawa kemudian Suda berucap kembali. “Apa kau tidak bisa sehari tidak bertemu Chinen? Kau seperti ketergantungan dengannya. Kalau bukan dengannya dia, pasti Okamoto-kun. Kau tidak mau bersosialisasi dengan kita, huh? Yuto-kun saja ma—“

“Aku duluan. Ja, minna!” Persetan dengan ucapannya. Secepat mungkin aku melangkah meninggalkan tempat itu tanpa peduli Sutradara-san yang menyuruhku kembali.

“Sial! Mobilku dilokasi syuting!”

Ini benar-benar kesialan besar. Aku baru ingat saat berangkat kesini tadi bersama mereka menaiki van. Dan aku menyesal ikut mereka kesini. Kalau tidak karena gajiku yang paling besar diantara mereka dan aku menghargai Sutradara-san yang mempromosikanku besar-besaran, akan kutolak mentah-mentah ajakan mereka karokean. 

Kulirik jam di tangan, setengah dua belas lebih. Ini bahaya.  Kereta, tolong aku!

. . . . .

“Keito, ayolaaah!” Aku memisuh di dalam kereta kilat yang membawaku kembali ke Tokyo.  Kenapa disaat seperti ini sahabat yang bisa kupercaya tidak mengang—

“Hallo?”

“Keito! Akhirnya...”

“Kau dimana, Yama-chan?! Chinen menu—“

“Iya aku tahu! Aku di kereta, menuju Tokyo.”  Kudengar Keito merutuk, kemudian memekik nyaring. “Kau masih di perjalanan?! Astaga, sebentar lagi pergantian hari!”

“Aku tahu, aku tahu! Kadoku masih utuh kan?”

“Jangan memikirkan kado! Tidak akan tepat waktu kalau kau ketempatku lalu ketempat Chinen!”

“Tapi—“

“Yamada! Kau yang terpenting. Bukan kado! Chinen menunggumu.”

Aku terdiam, mencengkram erat telpon genggamku. “Wakatta.”

Kereta berhneti. Secepat kilat aku keluar dari stasiun kemudian berlari menuju apartemennya.

“Jam dua belas kurang lima belas menit. Kumohon waktu... perlambat detikmu!”  Kakiku terus berlari. Disaat seperti ini aku baru iri setengah mati dengan Yuto. Kalau saja kaki ini lebih panjang pasti akan cepat sampai.
.

.

.

-Seminggu yang lalu-

“Sebentar lagi kau ulang tahun, kan? Apa yang kau inginkan?”

Dia tersenyum. Sangat indah seperti biasa. Mata itu. Binar itu. Aku bisa saja terus menatapnya hanya karena ia tersenyum dengan mata yang begitu gemilang.

“Kau tahu semua apa yang kuinginkan.”

Aku tertawa. “Oke baiklah... biar kutebak. Selain uang, gyoza dan Ohno-kun, hmmm... Apalagi?”

“Ryosuke.”

“He?”

“Aku mau dirimu.”

“Apa maksudmu?”

Binar dimatanya berubah menjadi kerlingan usil. Tetap indah, asal kau tahu.

“Ryosuke sibuk menyelesaikan Ansatsu season 2 kan seminggu nanti?” Dia menyender di pundakku. Aku melirik keadaan sekitar. Ah, hanya ada member. Staff tidak ada di ruang ini, aman. Aku menggeser sedikit tubuhku agar senderannya nyaman. “Iya. Tapi kuusahakan bertemu denganmu.”

“Tidak perlu. Aku bisa mengerti. Kudengar sutradaramu sangat tegas? Bahkan tidak diperbolehkan memegang HP saat isirahat kan?”

Aku tersenyum remeh, “Itu karena aku tidak akan hafal dialogku kalau memegang HP dan malah chatting denganmu.”

“Oh? Ryosuke yang sangat hebat menghafal dialog drama tidak bisa hafal karena chatting denganku?”

 Aku kembali tertawa. “Karena kau mengalihkan duniaku?”

“Hei! Jangan menggombal dengan nada bertanya!”

Tawaku semakin keras. Kali ini aku memeluknya. Persetan dengan member yang bersiul.

“Ryosuke...”

“Hm?”

“Aku mencintaimu.”

DAMN! CHINEN YURI, SEHARUSNYA ITU KALIMATKU!

Dia malah terkekeh. Aku berdecih pelan, “Jangan mengatakan apa yang seharusnya kukatakan, Yuri.”

“Ahaha..  kau tinggal mengucapkannya kembali, Ryosuke.”

“Kau sama saja menyuruhku mengucap kalimat bekas.”

“Bekas kau bilang? Aku berkali kali bilang seperti itu padamu berarti aku berkali kali mengatakan kalimat bekas?”

“Maksudku, kalau aku mengucapkannya setelah kau! Makanya jangan kau duluan yang bilang.”

“Ja, kenapa kau tidak sering bilang? Aku butuh kalimat itu, tahu.”

Ahaha... baiklah, baiklah. “Aku mencin—“

“Stt...” telunjuknya menutup bibirku. Aku mengernyit.

“Ucapkan itu nanti di hari ulang tahunku.”
.

.

.

CKLEK.

“YURI!”

Kamar apartemennya sama sekali tidak di kunci. Dasar bodoh! Bagaimana kalau ada orang asing atau fans gila yang menyelundup masuk!

“Yuri?”

Lampu ruang tamu kunyalakan. Dengan segera mataku menyapu seluruh sudut apartemennya kemudian tersentak saat melihat sosok yang amat kusayang tergeletak di sofa. 

Kakiku melangkah berat mendekati sosok itu. Terlihat tangannya yang terkulai didada masih bisa memegang HP. Aku meraih benda itu lantas merasa perih saat membukanya. Disana terpampang sebuah pesan yang belum ia kirm.

‘Ryosuke, aku menunggumu.’

Sialan!

HP itu kuletakan sembarang setelah ku remas sesaat.

“Yuri... Hei, bangun, Sayang.” Aku menepuk-nepuk pelan pipi kenyalnya. Ia berjengit. Kemudian sayup-sayup mata indahnya terbuka. 

“Ryo..suke?”

GRAP.

Serbuan pelukan langsung kuberi. Tak lupa membisikan sebuah kalimat penyesalan untukunya.

“Maaf telat...”

Bisa kurasakan dia mendengus. “Aku tahu ini akan terjadi. Tak apa.”

“Selamat ulang tahun....” Aku menatapnya, berusaha memberi senyum terbaik meski saat ini aku ingin—

“Kalau ingin menangis, menangis saja, Ryosuke.”

Dasar pecundang.

Chinen terkekeh sembari mengusap tetes pertama di mataku. “Ryosuke tak perlu memberikan yang terbaik untukku. Karena kau sudah yang terbaik. Aku mengerti kau sibuk. Aku mengerti kau memiliki duniamu. Tidak perlu memaksakan diri.”

“A..aku... ingin kau yang menangis bahagia. Bukan aku..! Sial. Sial. Si—“

.......

Dan aku kembali kecolongan.

“Chinen Yuri... sudah kukatakan berkali-kali, jangan menciumku lebih dulu.” Geramku. Dia justru menjulurkan lidah. “Aku mencin—“

Kembali kupeluk dirinya, sengaja menggagalkan ucapannya. Kali ini lebih erat.

“Ryo...”

Tambah erat.

“Ryosuke...”

Semakin erat.

“Ryosuke.. se..sakhhh..”

“Biar.”

“Ryosuke!”

“Kau harus tahu itu yang aku rasakan.”

“Akhhh.. sesak Ryosuke...”

“Kau harus tahu kalau mencintaimu begitu sesak, Yuri. Aku mencintaimu sampai sampai setiap kali kalimat itu keluar, hatiku sesak. Karena kau.”

Ia diam.

“Aku sangat amat begitu mencintaimu.”

“....”

“Selamat ulang tahun, Chinen Yuriku.” Pelukan terlepas kemudian aku menatapnya kembali. Kali ini aku bisa tersenyum bangga karena ia menangis. Menangis bahagia.

Kucondongkan wajahku kemudian menjilat air asin yang masih menyembul malu di balik pelupuk matanya. Ia terkekeh geli.

“Terimakasih, Ryosuke.”

THE END

A/N : SAYA NGETIK INI. SAYA MELELEH SENDIRI. UGH ////// SELAMAT ULANG TAHUN, CANTIK. BIASKU. KESAYANGKU. SUMBER KEGILAANKOOOOOH <3 <3  <3 <3 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review