Judul: Bales dong, Yam! *dibaca dengan nada centil sambil mukul mukul bahu Yamada* /okelupakan X'D
Author: Kiwok
Pair : YamaChii
Genre: Romance, Comedy
Summary: Chinen ngambek karena Yamada teramat gaptek dan tidak membalas pesannya dengan cepat.
Yuk Mari~
.
.
.
.
.
Yamada lebih sering menghabiskan sebagian besar waktunya dengan sang member kesayangan. Sebut saja Chinen Yuri. Namun ada hari dimana ia ingin mengahabiskan waktu dengan teman-teman masa kecilnya—yang bukan saorang idol—untuk bermain bola atau sekedar melakukan hal yang biasa dilakukan para cowok dewasa ketika berkumpul.
Sayangnya, ada suatu kesalahan
bila Yamada keluar dari zona sang kekasih tanpa seizinnya.
Drrt...
Baru saja Pangeran
Strawberry itu mulai bercengkrama, HP-nya sudah bergetar.
“Dari menejer mu?” salah
satu teman bertanya.
“Tidak. Aku libur hari
ini. Tidak ada jadwal apapun makanya bisa bertemu kalian.”
“Lalu itu?”
“Dari dia.”
“Oh...”
Mereka mengangguk paham. Tentu saja,
semua yang mengenal Yamada pasti tahu siapa yang dimaksud Dia-nya. Satu-satunya makhluk yang selalu mendapat perhatian khusus dari Yamada Ryosuke. Satu-satunya makhluk yang ia rahasiakan mati-matian dari publik
meski teramat sulit.
Drrt...
Pesan kedua masuk. Yamada
terkesiap. “Astaga anak itu!”
“Ahahaha... dia cepat
sekali membalas pesan ya?” Ichinose, tetangga Yamada terkekeh sementara sang Idol mendecih pelan. “Mananya yang balas pesan!
Dia mengirim pesan lagi.”
Drrtt...
Pesan ketiga.
“Wow, Yamada. Itu pesan
lagi!”
“Iya iya.. astaga ini
cara menghilangkan auto corect-nya bagimana, sih? Ngetik jadi typo terus!”
Teman-teman Yamada
tertawa. Ternyata sifat sang Bintang yang satu itu belum juga sirna sejak jaman
culun. Tetap gaptek haha.
“Ketik dulu untuk balasan
seadanya. Kasihan tuh nggak kau balas-balas. Apa dia memang seperti itu, kalau kau tak membalas pesannya akan nge-bom pesan?”
“Irihara, kau diam dulu.
Aku sedang membenarkan settingannya.”
Yamada terlihat serius menekuni Iphone 5s-nya. Teman-temannya lantas
mendengus. “Jawab dulu pesannya sebelum—“
Drrt.. drrtt...
Pesan keempat.
Pesan keempat.
“Ryosuke, kau nggak bales pesanku, besok kita nggak bicara. Selamat tinggal”
Mata Yamada seolah
melompat keluar membaca pesan terbaru.
Fiks. Chinen ngambek.
Dengan brutal Yamada menekan tombol dial untuk menghubungi kekasihnya.
Fiks. Chinen ngambek.
Dengan brutal Yamada menekan tombol dial untuk menghubungi kekasihnya.
“Kenapa?”
temannya bertanya sambil terkekeh, Yamada menatap dongkol sambil menyahut
seadanya. “Dia ngambek.”
“Tuh kan. Lagian bukannya
di bales dulu.”
“Diamlah!” seru Yamada
dengan panik, mencengkrap Hp-nya yang telah tertempel di telinga.
“Halo?”
“Halo, Yuri? Aku minta
maaf tadi aku belum mengatur setting bahasa dan masukan jadi setiap mengetik
auto corect terus. Dan aku bingung cara mengubah—“
“Kalau begitu, tiap aku mengirim pesan kau langsung saja menelponku.” Disahut dengan cepat.
Yamada mengangkat alisnya satu.
“Kau ribet membalas pesanku kan?”
“Tidak. Aku hanya bingung
mengubah auto corectnya.”
“Kalau begitu selamat ting—“
“Aishhh... oke oke! Aku akan
menelponmu! Tapi hanya saat aku benar-benar free, oke?”
“Tak perlu mengatakannya, Ryosuke.”
“Ah.. baiklah. Aku lupa
kau tau semua jadwal kerjaku.”
“Karena kau juga tahu semua kegiatanku. Mau itu saat liburan atau saat kerja.”
“Oke baiklah. Tidak ada
balas pesan. Tapi langsung telpon.”
“Bagus!”
Jadi... begitulah. Yamada
harus mengeluarkan biaya lebih untuk HPnya karena tiap sang kekasih mengirim
pesan, ia harus segera menelponnya. Kalau dibales, Yamada butuh waktu lama untuk
mengetik sementara pesan Chinen kembali datang dengan isi pesan yang sama.
“Huft...”
Teman-teman Yamada
terkekeh melihatnya membuang nafas kesal. “Kenapa?”
“Aku harus menelponnya.”
“Ahaha jelas saja. Kau
lemot sih kalau balas pesan.”
“Yah, aku kan bukan
robot. Lagipula, dari tadi HP ini selalu meng-auto corect ketikanku."
Mereka lagi-lagi tertawa.
“Ck, tagihan telponku akan membengkak.”
“Demi dia, kau tak mau?”
“Tutup mulutmu, Hidaka.
Aku akan melakukan apapun untuknya.”
Tandas Yamada dengan raut pasti. Kemudian ia kembali mengesah. “Ah.. harus cari
kerjaan baru. Aku duluan ya.”
“Loh mau kemana? Kita
belum main bola kan?”
“Cari uang tambahan buat
beli pulsa.”
“Kau mau kerja apalagi?
Katamu hari ini libur dan tak ada syuting atau pemotretan?”
“Yah..., aku akan mengendorse
kosmetik dan perhiasan. Lumayan gajinya buat beli pulsa.” Saat figur
Yamada menjauh dari teman-temannya, mereka saling tatap dengan raut tak
percaya. Ada dua kalimat yang terlintas.
Satu, cinta itu buta.
Dua, selain idol, Yamada itu cowok endorse-an.
Tapi ia melakukannya atas
dasar cinta. Siapapun tak berhak berkomentar karena kebahagiaan Chinen adalah
kebahagian terbesar Yamada.
THE END
A/N for Dea Rahma Dewi : Lu gak mau ff NC kan de? Ini aja kalo gitu wkwk. Rencana mau bikin fluff. Eh malah
jadi komedi. maklumin gue yang moody-an ;) Ohya, Selamat Hari Burung!
/telatwoi XD

0 komentar:
Posting Komentar