Judul
: jangan cium cium Chinen!!!!!!
Pair
: YamaChii as always, YamaNoo dan YamaJima cuma buat konflik
Author
: Yang punya blog
Genre
: Entahlah. Intinya fanfic ini buat nuangin emosi saya terhadap majalah popolo
yang baru.
Summary
: baca aja ntar juga tau.
WARNING! AUTHOR LAGI BAPER DAN FANFIC INI BERISI KEBAPERAN SANG
AUTHOR!
Douzo!
.
.
.
.
Yamada menjadi emosian saat
kerja dengan grupnya. Bawaannya selalu sewot dan ingin nyolot. Terutama—sekarang—pada
member tercantik yang baginya tidak cantik (sama sekali) tapi hanyalah perayu
ulung. Siapa lagi kalau bukan Inoo Kei.
Itu karena tadi pagi saat pemotretan Popolo terbaru, Inoo mencium kekasih Yamada tepat dibibir. Jangan heran bila emosi pemuda itu langsung meledak.
Itu karena tadi pagi saat pemotretan Popolo terbaru, Inoo mencium kekasih Yamada tepat dibibir. Jangan heran bila emosi pemuda itu langsung meledak.
"Kupikir kissmon cuma dimiliki
Yuto, Inoo juga punya kelainan itu ternyata."
Sebuah celetukan yang tak lain dari sang center sukses membuat suasana tegang dalam studio latihan
JUMP bertambah.
"Tak perlu marah seperti itu
Ryosuke..." lirih Chinen seraya mengelus pundak kekasihnya. Yamada justru menyeletukan giginya, kemudian cemoohan
Yuto terdengar. "Kau pikir aku punya kelainan, heh Cebol?"
"Ya. Kau dan kau. Punya kelainan
mencium-cium orang atau menggoda orang!"
Inoo Kei yang ditunjuk Yamada
menunduk. Sementara Yuto masih menahan emosinya.
Yabu selaku leader masih mendiamkan. Meski nuraninya menyuruh untuk mencairkan suasana namun ia tak bergeming, kendati dirinya juga kesal dengan tindakan Inoo.
"Yama-chan.... sudahlah," Dai-chan yang akhirnya ambil suara. "Jangan terlalu emosi. Ini
diluar rencana kita. Ini keinginan po-"
"Potograper maksudmu?"
ucapan Dai-chan segera di pangkas. "Mereka hanya meminta Inoo berpose mesra
dengan siapapun. Mesra, bukan berarti mencium. Apalagi mencium kekasihku. Itu
tindakan tolol namanya,"
"YAMADA!"
"APA?!" Teriakan Hikaru
disahut lebih keras oleh sang center. Matanya
berkilat. "Aku sudah mengatakan berkali kali! jangan mencium Yuri. Jangan
bermesraan dengan Yuri! Tanpa seizinku, itu dilarang! CHINEN YURI HANYA MILIKKU
dan kalian tahu itu!"
Hening kemudian. Cukup lama sampai
suara dingin Yamada kembali mengalun.
"Aku cukup toleran bila itu di
konser dan Yuri di haruskan fanservice. Karena aku juga dipaksa fanservice
dengan beberapa dari kalian. Tapi tadi... Inoo benar-benar kurang ajar."
"Ryosuke kumohon
berhenti...!" Chinen memelas, tangannya dengan erat merangkul kekasihnya
namun dihiraukan.
"Inoo, angkat kepalamu. Aku
berbicara."
"Astaga, Yama-chan! Sopanlah sedikit. Inoo-chan lebih tua darimu!"
Keito menegur namun dianggap angin lalu. Si cantik disana segera menengadah, wajahnya
penuh penyesalan sembari bibir kecilnya mulai mengeluarkan suara. "Aku
minta maaf..."
"Tidak kumaafkan."
Member lain langsung melotot. Chinen
mengenggam jemari kekasihnya kali ini. "Ryosuke, kau tidak harus keras
kepala! Aku milikmu, Ryosuke! Aku bahkan tidak merespon Inoo-chan. Aku tetap
milikmu! Jadi-“
"Tidak merespon bukan berarti kau
rela dicium. Seharusnya kau mendorongnya."
"Itu tidak mungkin! Potograpernya
sudah menyalakan kamera dan langsung memotret! Toh setelah itu aku langsung
melepaskan diri."
"Kau melepaskan diri setelah aku
berteriak, bukan karena kamera,"
Chinen langsung diam.
"Katakan padaku, apa alasan kau
mencium Yuri, Inoo." Kalimat Yamada lebih daripada perintah. Tanpa
embel-embel -chan seperti biasa, ia menatap Inoo yang duduk di pojok ruangan
dengan intens.
"Aku hanya spontan, kebetulan
saja Chinen berada paling dekat waktu potograper itu memintaku berfoto mersa
dengan member."
"Tolol,"
Mereka serentak mendesis geram
namun tidak sama sekali membekap bibir seksi Yamada yang mengumpat. Oh, Yuto nyaris
(menonjok bibir itu) tapi Keito menahannya dengan sempurna.
"Itu alasan paling tolol, asal
kau tau! Mencium orang yang "kebetulan" didekatmu. APA ITU LOGIS, HAH?!"
Inoo menunduk dalam, Chinen mulai
merasa sesak.
Yamada kini melirik Yuya yang
sedari tadi hanya diam dengan raut ‘biasa’. "Kau tahu alasan yang
sebenarnya kan, Takaki?"
"Hn, aku tahu."
Chinen dan Daichan menatap Yuya, kaget.
Sisanya selain Inoo dan Yamada hanya melirik prihatin. Pemuda tan itu
malah meringis canggung. "Aku tahu tapi aku akan diam, Inoo-chan yang
harus mengatakannya."
Mata mereka lalu terfokus kembali pada
Inoo. Namun pemuda cantik itu tak bergeming sama sekali.
Yamada mendengus panjang sebelum
meraih HPnya di saku celana. Chinen melirik dengan sedih, kemudian mata
indahnya membulat saat mengetahui tindakan kekasihnya.
"Ryosuke, kau menghapus kontak
Inoo-chan?!"
"Iya, aku tidak akan
menghubunginya lagi sebelum dia meminta maaf dan memberikanku alasan logis
tentang ciuman itu." Yamada berdiri dan memasukan HPnya ke saku.
Ditariknya lengan Chinen dengan paksa untuk ikut berdiri lalu keluar dari
studio. "Kau ikut aku."
"Ehh,, kita mau kemana?"
"Mau kemana, Yamada?! Kita belum
selesai latihan!!!" Hikaru berseru sewot membuat langkah Yamada terhenti. "Aku tidak mau latihan dengan orang yang-"
"MAAF!"
Ucapan Yamada terpangkas, Inoo yang
melakukannya dengan seruan penyesalan.
"Aku minta maaf, benar-benar
minta maaf!! Aku akui tadi aku kesal dengan Kota karena segmen YabuHika. Aku
terbawa emosi ketika potograper menyuruh Kota mencium Hikaru. Jadi... aku melakukan tindakan gila dengan mencium Chinen. Aku minta maaf! Benar-benar
minta maaf!"
Inoo menunduk berkali kali dengan
wajah teramat merah. Tangannya disamping meremat celanannya sampai lecek.
Yamada mendengus. "Kau memang
begitu, huh? kalau cemburu akan melakukan tindakan ekstrim melebihi tindakan
yang membuatmu cemburu?"
Inoo mengangguk tanpa sadar.
"Apa kau tahu tindakanmu sia-sia? Kau bukannya membuat Yabu-kun balas cemburu tapi-"
"Sebentar, Yamada. Kau tadi juga
bermesraan dengan Dai-chan!” Yuto menginterupsi. Serta merta membuat Yamada
mengerang. “JANGAN MEMOTONG OMONGANKU, BRENGSEK!! "
“Sshh... Ryosuke...” Chinen
menenangkan. Keito juga demikian terhadap Yuto.
“KALAU MAU NGATAIN NGACA DULU, MANUSIA
RENDAH! KAU JUGA MEMOTONG OMONGAN ORANG LAIN!”
“BAJI—“
Chinen memeluk Yamada erat begitu juga
Keito pada Yuto ketika dua member tersohor itu nyaris adu jotos. Member
lain juga sudah siap sedia melerai kalau itu terjadi seperti tahun tahun
sebelumnya.
Pertengkaran Yamada dan Yuto adalah
hal gelap yang disembunyikan mati-matian grup Hey!Say!JUMP. Karena itu bisa
berdampak buruk pada karir. Tapi sepertinya pertengkaran tidak bisa dielakkan
bila keduanya sudah emosi.
"Aku tidak bermesraan dengan Dai-chan.”
Nada Yamada memelan sekarang, meski tetap terdengar sinis. “Yuri berada tepat disebelahku saat potograper
memasangkanku dengan Daichan dan dia bilang sendiri lakukan yang terbaik. Aku
bahkan tidak menyentuh Dai-chan dan hanya membisikinya seperti yang diarahkan
potograper. Jadi jangan sok tahu mengataiku bermesraan dengan orang lain. "
Penjelasan Yamada hanya ditanggapi kekehan
ironi dari Yuto. Pemuda tinggi itu menatap Yamada enggan, “Maaf kalau sok tahu.
Tapi kau tetap melukai hati Chinen, Yama-chan.”
“Apa maksudmu?”
“Kau. Dan aku. AHAHAHA...!”
Tangan Yamada terkepal sempurna. Bersiap menjotos kepala lonjong Yuto namun cepat cepat ditahan Chinen. “Hentikan
Ryosuke! Aku mohon.. jangan buat kondisi semakin ricuh!”
Yabu tak tahan lagi akan situasi
seperti sekarang dan mulai ikut bersua. Namun bukan maksud melerai Yamada dan
Yuto namun lebih ke pada mendekati Inoo.
"Aku tidak jadi mencium Hikaru,
Kei..."
Perhatian semua terfokus pada YabuInoo
sekarang.
"Sama seperti Yamada terhadap
Dai-chan, aku hanya membisikinya. Itupun dengan jarak yang tidak dekat. Aku
milihatmu tadi saat aku dan Hikaru sedang diarahkan potograper untuk dipoto.
Mereka memang menyuruhku mencium pipi Hikaru tapi aku tidak melakukannya. Kau
bisa lihat hasilnya di majalah nanti bahwa aku tidak menciumnya. Tapi kau
keburu pergi saat aku belum selesai diarahkan lalu melakukan tindakan
sembrono."
Penjelasan Yabu sukses membuat Inoo
semakin merasa bersalah. Ia menunduk sedalam mungkin.
Ruang studio latihan kembali sepi untuk waktu yang cukup lama. Mereka sedang menetralkan suasana hati masing-masing sampai kemudian Dai-chan mencairkan keadaan.
"Sudah kan? Inoo-chan sudah
mengatakan alasan yang sebenarnya, Yabu-kun juga. Yamada, kau harus memaafkannya dan jangan bertengkar lagi dengan Yuto." suara Daichan terdengar riang,
seolah tak terjadi ketegangan apapun. Namun Yamada justru tersenyum remeh. "Memaafkan
itu mudah, tapi aku masih tidak mood untuk latihan."
"Eh?"
"Ayo, Yuri."
Pemuda utama di grup itu langsung
membawa kekasihnya pergi meninggalkan studio. Menyisakan member lain yang masih
di dalam dan mengesah maklum,
Yasudahlah. Kalau sudah puas nanti
juga kembali. semoga Chinen bisa ikut latihan. begitu
pikir mereka.
. . . . . . .
"Eughhh... Ryosu..ke..hh..."
"Milikku,"
"Eugh ngghh..."
“Milikku. Milikku. Milikku!”
Yamada menyapih tuntas bibir ranum
Chinen diruang studio lain yang sepi. Melahap bibir kekasihnya dengan ganas,
sesekali merapal kepemilikan.
"Bibir ini, mulut ini, lidah ini,
gigi ini. Semua milikku." kembali Yamada melahap bibir Chinen. Ciuman mereka semakin panas tanpa ada penolakan sama sekali dari kekasihnya. Pemuda imut itu justru membuka mulutnya, memberi akses bebas bagi Yamada
untuk melumat, mengecap, menyesap, bahkan mengabsen deretan giginya. Semua
dilakukan Yamada dengan nafsu.
"Eugh Ryo... se..sakkhh..."
Yamada lalu melepaskan ciuman, nafas
Chinen putus-putus karenanya. Tubuhnya melemas dan nyaris merosot dari dinding namun
segera ditahan Yamada. Ditekannya keatas tangan Chinen sementara kedua kakinya
diapit oleh satu kaki Yamada. Posisi yang benar-benar indah, asal kau tahu.
"Aku belum puas, Yuri." Jempol
Yamada mengusap bibir bawah Chinen yang membengkak namun terlihat semakin
menggoda.
"Eughhhh...!!"
Baru saja pemuda imut itu akan mengambil napas banyak
tapi Yamada kembali melesakan lidahnya. Mau tak mau Chinen membalas ciuman itu. Dominannya semakin bergairah dan dengan sengaja melukai kekasihnya namun
berdalih atas dasar cinta.
"Sakit... kau menggigit bibirku,
Ryosuke!"
"Itu tanda kepemilikanku, aku
yang memiliki bibir ini. Jadi tidak ada yang boleh melakukannya lagi selain
aku!"
"Iya tapi ini sakiiiit..."
air mata keluar sedikit di ujung mata indahnya serta darah segar merembes dari
bibirnya. Ia enggan berciuman kembali.
"Yuri, ayo teruska—“
"Aku
tidak akan mau makan apapun kalau kau teruskan! Kau membuat bibir dan mulutku kebas,
Ryosuke!"
Yamada tersenyum mesum seraya menjilat
bibir atasnya. “Tak masalah. akan kusuapi kau dengan bibirku. Biar kita semakin
romantis."
"Euuughhh!!!"
Tepat setelah Yamada berkata, ia
kembali melumat bibir Chinen, terus dan terus menyantap bibir itu samapi puas. Dalam
hati Chinen berkata, "nikmatilah... aku memang hanya milikmu,"
.
.
.
THE
END
A/N : no komen, saya baper banget sama popolo terutama sama member hsj yang nyium nyium chii -.- btw
saya menikmati ngetik Yama yang nyolot bin songoy XD

1 komentar:
Ffnya keren xD
walaupun Drama banget tapi gak terasa tergganggu Aku malah kebawa ceritanya banget XD
Semangat Ya buat seterusnya!
Posting Komentar