Sabtu, 16 Januari 2016

EVIDENCE

Diposting oleh Kiwokchwan di 01.07
Judul : Evidence

Author : Kiwok

Pair : Yamada Ryosuke <3 Chinen Yuri

Genre : Romace, fluff, fluff, fluff, ultimated canon

Summary : Chinen membutuhkan bukti bahwa Yamada mencintainya dimanapun ia berada. Dan Yamada menyanggupinya dengan senang hati.





Ujung botol yang telah kosong itu berhenti pada....

“Hehehe,”

...Chinen Yuri.

Yamada disampingnya berdeham, menatap kekasihnya yang hanya menyeringai aneh.

“Oi, Yama-chan! Sepertinya Chinen sudah mabuk.” Celetuk Yuya.

“Sepertinya,” Yamada mengangguk sembari nyengir canggung.

Malam itu, kesembilan member Hey!Say!JUMP berkumpul di sebuah klab khusus para artis papan atas sehabis selesai potoshoot Wink Up untuk bulan Juli dan juga rekaman untuk album terbaru mereka. Sebenarnya hanya Yuya, Yabu, Yuto, dan Yamada yang ingin mengunjungi klab, namun Inoo yang mendengar rencana mereka berempat ngotot ingin ikut sehingga berakhir dengan semua member berkumupul di ruangan VIP yang tersedia.

“Aku belum mabuk! Masih mau main!” Chinen berseru disertai pipi yang menggembung. Member lain hanya meringis.

Maa.. baiklah baiklah. Pilih Truth atau Dare?” tanya Daichan. Chinen langsung tersenyum lebar. “Truth!”

Ja, pertanyaan pertama dariku!” Yuto mengangkat tangan dengan heboh, masih sangat waras. Berbanding terbalik dengan Chinen yang sudah agak teler. Yamada disampingnya memegang pundak pemuda mungil itu dengan cemas.

“Apa yang kau benci dari Yama-chan?”   

Pertanyaan Yuto kontan membuat Yamada sangsi dan mendelik, yang lain justru terkekeh. “Ah, aku juga ingin menanyakan itu.” Ucap Hikaru.

“Dia nggak romantis!” Chinen berseru sambil memajukan bibirnya, menunjuk bebas pipi Yamada. “Orang sok cakep ini nggak pernah romantis! Pasti selalu aku!”

Semua member menjatuhkan dagu mendengar gerutuan sang bungsu.

“Yang benar saja, Chii! Yama-chan nggak pernah nggak romantis padamu!” Keito menyanggah, sama sekali tidak terima. Daichan juga demikian. “Hanya denganmu perlakuan Yama-chan itu beda! Kau selalu diperlakukan spesial olehnya.”

“Dai, kata-katamu barusan bukan karena kalau kau ngomong selalu dibantah Yama-chan, kan?” Inoo terkekeh namun Dai-chan justru mengangguk, fakta membuktikan bahwa pemuda pinguin itu selalu dibantah oleh Yamada.

“Bukan.. bukan di privat,” Chinen mengibas-ngibaskan jemarinya, “tapi di publik.”   

Kali ini para member menautkan alis erat. 

“Ryosuke susah untuk berkata atau berlaku romantis padaku di publik. Dia selalu mengelak! Dia munafik! Dia malah menganggapku saingan jika di publik. Tapi berlaku sangat baik pada Dai-chan atau Keito.” Chinen tiba-tiba berdiri dengan sempoyongan kemudian menghadap Yamada yang menatapnya khawatir, tangannya kembali menunjuk bebas. “Kau! Yamada Ryosuke... aku benci kau yang sok sokan menganggapku saingan dan selalu mengelak ketika aku memberikan kode agar kau romantis padaku!”

BRUK!

Member termuda itu langsung terduduk lemas setelah berkata demikian. Kepalanya yang berat membuatnya limbung kebelakang.

“Yuri!” Yamada dengan tangkas meraih tubuh kekasihnya. Yabu menggeleng kalut dengan tangan bersilang di dada. “Dia baru minum 2 kali kan?”

“Yah, alkoholnya cukup tinggi sih. Aku baru minum sekali,” sahut Yuto seraya menggoyang goyangkan botol minuman yang diminum teman mungilnya. “Chii kan nggak tahan minum tapi sok-sokan. Jadi teringat waktu dia latihan minum sendiri di bar tapi ujung-ujungnya malah nyusahin ahahaha...”

“Oh yang ketauan majalah Jum'at ya? Dibesar-besarin segala beritanya. Fans sampai heboh waktu itu,” tanggap Inoo sambil tertawa pelan. Yuto mengangguk dan ikut tertawa.

“Waktu itu Yama-chan masih di lokasi syuting Ansatsu kan? Langsung menjemput Chinen yang mabuk padahal katanya baru minum setengah gelas.” Yuya bercerita. Kembali Yabu menggeleng kalut. “Sudah, jangan dilanjutin. Chinen harus istirahat. Yamada, kau antar dia pulang!” Titah member tertua itu. Yamada mengangguk patuh dan segera membopong Chinen untuk meninggalkan klab.

“Yama-chan, kau belum mabuk kan? Bisa nyetir sendiri?” tanya Keito khawatir. Yamada yang masih membopong Chinen hanya mengangkat ibu jarinya pertanda baik baik saja.

“Ngghh.. pokoknya aku nggak suka Ryosuke menganggapku saingan!”

Chinen masih meracau ketika Yamada melajukan mobilnya untuk mengantar pemuda kesayangannya pulang. Pemuda chubby itu hanya terkekeh melirik kekasihnya di jok samping.

“Aku cinta Ryosuke... aku ingin Ryosuke menunjukannya dipublik... tidak sembunyi terus...” Chinen masih meracau.

“Ryosuke...”

 Yamada tetap setia pada diamnya dan berkonsentrasi dengan jalanan. 

“Ryosuke...!!” 

“Apa?” akhirnya disahut, namun kemudian Yamada mendengar sebuah dengkuran halus yang langsung membuatnya mendengus pelan. “Dasar, disaat seperti ini bilang saja kau ingin aku memanjakanmu di depan publik.” Satu tangan Yamada terulur untuk mengelus pipi Chinen. “Aku juga mencintaimu, Yuri.”

. . . . . . . . .

Keesokan harinya Chinen bangun sangat siang dengan kepala yang cukup berdenyut. Ibunya sengaja tak membangunkannya dan berkata bahwa tak ada jadwal kerja.

“Demi apa!? Hari ini seharusnya syuting PV Kira Kira Hikare, bu! Masa nggak ada yang nelpon aku? Ibu juga nggak membangunkanku!” Chinen berkata setengah panik pada sang ibu saat sedang masak di dapur. Wanita itu mengelap tangannya pada celemek sebelum berucap. “Iya. Yamada-kun sendiri yang bilang. Syuting PV tidak jadi sekarang, diundur besok.”

Chinen makin tak mengerti. Ia ingat betul bahwa hari ini seharusnya syuting PV untuk album terbaru mereka karena kemarin sudah rekaman. Nggak mungkin dibatalkan begitu saja.

“Ryosuke bilang apa, bu? Kou-chan bilang sesuatu? Aku nggak percaya syuting batal. Jangan-jangan karena aku mabuk terus bangun kesiangan..?”

Nyonya Chinen mendengus kemudian menepuk kedua pipi putranya. “Makanya jangan melakukan hal yang aneh aneh. Kau tahu, saat kau pulang dengan kondisi mabuk dan di gotong Yamada-kun? ia benar-benar cemas  padamu!”

“Ta-tapi kan yang lain juga—”

“Yuriiiiiiii!! Yamada-kun datang!” Chinen terlonjak dan tak selesai berkata saat mendengar Saaya berteriak nyaring dari ruang tengah. Ibunya lantas tertawa dan membalikkan badan Chinen. “Tuh dijemput pangeran. Hahaha.. sana mandi, dasar pemalas!”

Sang bungsu merengut lalu segera ke ruang depan untuk menemui Ryosuke-nya.

“Belum mandi?”

Chinen nyengir lebar saat Yamada memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil menggeleng kalut.

“Hehe... aku mandi sekarang! Tunggu sebentar!” pemuda cendik itu langsung melesat menuju kamar mandi. Saaya tertawa mengejek adiknya kemudian menyuruh Yamada duduk menunggu sambil berbincang.

Lima belas menit kemudian Chinen sudah siap dan menemui kekasihnya di ruang tengah, ia segera melancarkan protes. “Ryosuke, sekarang bukannya syuting Kira Kira Hikare?! Kok batal? Kenapa?”

Yamada malah bangkit dari duduknya, ia menunduk sebentar pada sang kakak dan nyonya Chinen yang tersenyum dari dapur kemudian langsung menggeret Chinen keluar.

“Sebentar... ini mau kemana? Syutingnya benar-benar batal? Hei, Ryosuke!!” 

“Berisik.”

Chinen langsung diam. Bibirnya mengerucut saat kekasihnya berucap cukup ketus. Yamada  mendorong Chinen untuk masuk ke mobil lalu mereka segera melaju.

“Hari ini hanya UNION yang syuting PV, besok baru kita semua. Jadi sekarang kita libur. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” Jelas Yamada dengan tenang sembari menyetir. Chinen mengangguk, “Ya.. boleh saja, tapi aku nggak bawa masker atau alat menyamar.”

“Ada di jok belakang. Kita akan ke Odaiba sekarang.”

Alis Chinen terangkat, “Odaiba? Kenapa?”

“Kenapa bertanya? Kau tidak mau pergi denganku?”

Chinen menangkap kalimat malu-malu dari ucapan kekasihnya, ia lalu tertawa. “Maa... iya deh iya. Jadi hari ini kita kencan?”

“Hn,”

Chinen kembali tertawa.

“Parkir disini saja ya.” Pemuda bak pangeran itu melepas sabuk pengamannya setelah sampai ditempat tujuan, Chinen mengangguk dan juga melepas sabuknya. “Berarti kita jalan?”

“Iya, ayo turun. Kita belanja dulu.”

Bungsu JUMP itu meringis ketika mendengar kata ‘belanja’. “Ryosuke saja. nggak ada yang ingin kubeli.”

“Bohong, nanti kau juga ikut beli. Aku yang bayar kau tenang saja.” Sahut Yamada enteng, Chinen terkekeh senang. See? Ryosuke sebegini mudahnya mengatakan ‘bayar’ tapi tetap sok-sokan kesal kalau aku menganggapnya dompet. Dasar munafik!

Mereka turun dari mobil tempat mereka parkir kemudian berjalan beriringan menuju pertokoan.

“Eh?” Chinen mengernyit saat tiba-tiba Yamada merangkulnya. “Tumben,”

“Memang biasanya nggak?” Pemuda chubby itu mendengus sambil mengelus kepala Chinen lalu kembali mengalungkan lengannya.

“Yah.. tumben saja. Dan lagi, Biasanya kalau dapat libur kau jarang mengajaku jalan. Apalagi dadakan seperti ini, kau tidak memberitahuku juga,”

“Hn, aku hanya ingin ke Odaiba berdua denganmu sekarang.” Ia mengangkat bahunya lalu menatap Chinen lekat-lekat, “Ada masalah?”

Pipi pemuda mungil itu langsung bersemu, cepat-cepat ia alihkan pandangannya kedepan. “A-ah.. nggak, nggak ada masalah!” 

“Baguslah,” Yamada tersenyum puas. “Nah, kita ke toko itu. Aku ingin beli setelan luar musim gugur yang bagus.” Mereka mempercepat langkahnya—masih dengan lengan Yamada dipundak Chinen—untuk memasuki toko busana yang tak terlalu mewah di salah satu deretan toko.

“Ah, yang ini bagus!”

Chinen melongok dari bilik deretan baju lain ketika Yamada berseru demikian. Ia mendekat dan mengangguk. “Iya bagus. Cocok untukmu.”

“Kita beli ini ya.”

Alis Chinen terangkat. “‘kita’?” pertanyaan retoris. Yamada hanya tersenyum.

“Maksudnya kita, aku juga beli? Bukannya kau malu kalau kembaran denganku, huh? Waktu itu sampai protes dan ngumbar-ngumbar di radio kalau kau nggak suka aku membeli jaket yang sama denganmu kan?” ‘

Raut Yamada terbaca sedih saat Chinen berkata sarkas seperti barusan. “Aku nggak bilang nggak suka. Hanya ingin memberi tahu fans kalau kita kembaran baju seperti couple. Itu kode tersirat, asal kau tahu.”

“Oh.. cuma ‘seperti’ couple?”

Damn. Yamada salah ucap.

“Yuri... kita sudah sepakat un—“

“Ah iya, aku lupa. Ryosuke kan nggak mau menggumbar-umbar hubungan kita ke publik ya. Ahaha...” sela Chinen seraya tertawa hambar. Yamada mengesah. Ia tidak suka momen romantisnya di privat gagal hanya karena Chinen mulai bad mood.

“Jangan bicara begitu. Kita sudah sepakat untuk menghindari ejekan tidak mengenakan tentang hubungan sesama. Kau harusnya mengerti.”

“Sangat mengerti,” disahut langsung. “Yasudah terserah Ryosuke.” Chinen berusaha tak memancing pembicaraan lagi meski kentara suntuk di wajah imutnya, ia memilih diam.  

Yamada kembali mengesah, “kalau begitu aku ambil yang warna merah. Kau yang merah muda.” Ia meraih setelan atasan berwarna merah muda lalu diberi pada Chinen, diterimanya dengan kekehan pelan, “Kau yakin membelikan ini untuku?”

“Siapa bilang membelikan?”

Chinen langsung merengut.

“Ahaha.. bercanda. Iya, aku yang bayar. Jangan bilang-bilang.” Yamada terkekeh sambil mengacak-acak penuh sayang rambut hitam Chinen. Pemuda mungil yang semula manyun langsung menyeringai dan bergumam dalam hati, Kasih tahu di majalah tentang ini ah.

Setelah membayar, mereka keluar dari toko dan lanjut berjalan.

“Sekarang kemana?” tanya Chinen ceria, kali ini ia tak ragu menggandeng tangan besar kekasihnya.

“Ke kafe. Tadi kau belum makan kan? Ada kafe yang enak disini. Aku direkomendasikan teman. Dan kau harus makan! Jangan menolak makanan yang disana.”

Chinen memisuh ketika kekasihnya menekankan untuk makan. “Nanti aku gendut kalau kebanyakan makan...”

“Mananya yang gendut? Pipimu saja selalu kempot kalau senyum atau tertawa. Sekarang juga kelihatan tirus!” Yamada menoel pipi kekasihnya dengan gemas sementara Chinen terkekeh geli. “Kau sendiri juga diet kan? Pipimu juga kempot nggak enak di cubit.” Ia balas menarik pelan pipi pemuda Taurus disampingnya.

“Yasudah kalau begitu kita makan berdua.”

“Hm,”

Sejoli itu lantas memasuki kafe sederhana bernuansa garden di salah satu kawasan Odaiba, tak banyak yang datang karena tempatnya memang agak kuno namun Yamada menyukai tempat itu sebagaimana sepi untuk tidak memancing perhatian fans.

“Pesan saja,”

Chinen bergumam sambil menyusuri buku menu. “Ryosuke pesan apa?”

“Aku gampang, kau dulu.” Sahutnya ramah, tersenyum dan bertopang dagu sambil memperhatikan kekasihnya memilih menu.

“Aku pesan pancake saja. Minumnya.. es lemon tea.” putus Chinen akhirnya, memberikan buku menu pada pemuda didepannya. “Kau sekarang. Pesan apa?”

“Hmm...” bergumam sebentar, namun tak perlu waktu lama untuk akhirnya memutuskan. “Aku pesan jumbo fruit desert.”

“Hah?” Chinen mengernyit. “Es buah?”

“Fruit desert, Yuri! Bukan es buah.” Yamada memutar bola matanya, “Aku pesan itu.”

“Iya apapun namanya. Kau nggak makan? Diet lagi, huh? Kalau kau nggak makan aku juga nggak makan.” Ketus Chinen sambil mendengus.

“Tadi sebelum mengajakmu kesini aku sudah sarapan omelet. Masih kenyang. Kau yang harus makan.” Yamada menjelaskan sambil tersenyum namun bukan Chinen kalau tidak keras kepala menyangkut makanan mengingat dirinya termasuk tipe pemilih.

“Nggak mau kalau kau nggak makan.”

Yamadanya berjengit, “Kau harus makan!”

“Nggak mau kalau kau nggak makan.”

“Yuri..!”

“Nggak.”

Ck, wakatta!” Pemuda Chubby itu mendengus. Kemudian tangannya teracung untuk memanggil pelayan. “Pesan jumbo fruit desert satu, dengan sedotan dan sendok untuk dua orang. Lalu stoberinya diperbanyak juga susunya lebih banyak. Jangan dikasih gula.”

Pelayan tersebut manggut-manggut seraya mencatat pesanan Yamada lalu segera undur diri setelah mengatakan pesanan akan diantar sepuluh menit lagi.

Yamada menatap Chinen yang masih merengut, “susah banget sih disuruh makan.”

“kalau kau makan aku baru mau makan.”

“Bukannya ‘kalau kau yang bayar aku baru mau makan’?” sindir Yamada dengan kekehan, langsung membuat Chinen meringis. “itu lain cerita, lagipula kau memang selalu membayariku kan? Kenapa sampai protes segala di publik, huh? Sok-sokan mengancamku untuk gantian bayar. Ujung-ujungnya juga kau sendiri yang akan bayar.”

Yamada mendengus, “Itu kode buat fans kalau aku membayarimu lagi, tahu.”

“Cih, pamer.”

“Bukan pamer, tapi kenyataan. Coba kau pikir, apa susahnya menolak untuk tidak membayarimu? Karena aku terlalu cinta jadi aku selalu berakhir membayarimu. Bukan berarti aku pamer kan?”

Chinen melongo mendengar ucapan pelantun Mistery Virgin didepannya. Apa yang baru ia ucap barusan... ‘terlalu cinta’? suatu gombalan, eh?

“Kau baru saja menggombal,”

“Mananya yang gombal? Itu pernyataan.” Disahut ketus namun tak ayal hanya sanggahan atas pipinya yang mulai memerah. Chinen terkekeh senang. Pesanan akhirnya datang dan mereka mulai memakannya dengan kidmat.

“Manis banget...!” pekik Chinen saat menyuapkan sesendok desertnya, matanya berbinar senang.

“Punyaku lebih manis. Ini justru kemanisan!”

Alis Chinen terangkat satu, “Susunya nggak merata ya? Coba putar mangkuknya, kau suap disebe—“

“Bukan kok, punyaku manis karena makan dengan orang yang manis juga.”

HAH.

“Pffftt...!! Nggak elit banget gombalannya ahahaha...!!” Tawa Chinen lepas bahkan tanpa gurat sipu diwajahnya, malah Yamada yang memerah bak babi panggang.

“Kok nggak blushing sih!”

“Ngapain blushing? Aku sudah menyangka kau akan ngomong begitu waktu menyangkalku.” Chinen masih terkekeh. “Mau ku gombalin balik?”

“Hah?” Yamada mengernyit.

“Musim panas ini benar benar panas, kau tahu?”

Tak ada balasan, alis Yamada masih mengernyit.

“Ditambah jalan denganmu membuatku semakin panas dan ingin melepas baju untuk—“

“Sebentar... Yuri, itu gombal atau kalimat seduktif?” Kali ini Yamada yang tertawa sementara Chinen mulai merona. “Kau memancingku untuk menidu—ITTE!

Bungsu JUMP itu baru saja memukul Yamada dengan buku menu, genti dirinya yang memerah tanpa cela.

“Ahahahaha... Kalau kau benar benar kepanasan yasudah habis ini kita cari ho—“

“Ryosuke!”

“Ahaha.. oke oke, makanya jangan memancingku.” Yamada mulai menetralkan tawanya namun pemuda mungil didepannya belum bisa lepas dari wajah tersipu, membuatnya semakin manis.

“Sudah, ayo cepat habiskan. Habis ini kita akan ke Pet Shop.”

“Mau beli hewan peliharaan apalagi? Rumahmu itu sudah seperti kebun binatang, tahu!” dengus Chinen yang kembali menyuapkan dessertnya.

Maa.. tidak beli. Hanya ingin lihat. Sekaligus mengajakmu untuk akrab dengan binarang.”

Chinen langsung menggerutu. “Bodoh. Kau tahu aku tidak suka binatang tapi mengajakku ke pet shop.”

“Karena aku tahu makanya aku ingin mengajakmu kesana, biar kau suka binatang. Lagipula kau itu kan tikus.” Yamada menyendokan dessertnya banyak banyak lalu mengerling puas saat rasa dingin dan manis membaur di rongga mulutnya. Chinen mendengus dan ikut menyendokan dessert yang sekiranya terakhir.

“Yasudah ayo kesana.”

. . . . . .

Marmut. Putih. Kecil. Kuat.

“Astaga, Yuri! Kau mirip dengannya!!!”

Chinen meniup poninya sambil melirik Yamada yang dengan heboh menggendong hewan kecil berbulu lebat di Pet Shop. “Yuri, sini..! kau harus pegang.”

“Tidak! Dan jangan dekat-dekat!”  

Chinen menolak mentah-mentah namun kekasihnya malah menyodorkan hewan menggemaskan itu, kontan membuat Chinen menjauh. “Ryosuke...!” 

“Nggak usah berlebihan, Yuri. Nggak akan digi—ouch,” 

Chinen mendengus. “Hora, mananya yang nggak digigit?” ia terkekeh ketika kekasihnya meringis sambil mengibaskan jarinya yang baru saja digigit, hebatnya marmut itu masih ia rengkuh dengan tangannya yang satu lagi.

“Ryosuke, taruh lagi marmutnya. Kasihan nggak bisa bebas,”

Yamada menaruh hewan tersebut setelah mengelusnya kemudian berjalan kebagian lain.

Iya... kebagian lain...

“Tidak,  kumohon. Tidak kesana...”

...bagian ular.

“Itu sanca albino. Bagus, kan? Ayo kita foto! Aku ingin menceritakannya di Think Note!” center JUMP itu malah menarik lengan Chinen nemun segera di tahan. “Nggak mau. Aku nggak mau!”

“Ayolah... ada pawangnya, kan? nggak akan kenapa-napa. Lagipula disini kita bebas memegang hewan.”

“Aku nggak mau kalau kebagian reptil atau hewan melata.” Chinen bersihkeras, menyilangkan dadanya. “Kau saja sana! Aku kebagian lain.”

“Huh? Mau lihat hewan apa emangnya?”

Manik mata pemuda chibi itu menyapu sekitar pet shop, lalu mendesah. “Tidak ada ikan disini.”

“Ha?”

“Yaudahlah, kau lihat lihat saja aku tunggu disini.”

Yamada ingin tertawa lepas kalau saja dirinya bukan seorang idola yang menyamar ditempat umum. 

“Ayolah Yuri! Ini pet shop, bukan toko ikan hias. Ikan hias bukan hewan peliharaan, tapi untuk koleksi.”

Chinen mengangkat satu alisnya. “Kau pelihara ikan koki kan? Katanya kau kasih nama Yuri?”    

Wajah Yamada langsung memerah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Yah.. itu bukan peliharaan. Lebih tepatnya untuk teman mengo—“

“Kau aneh kalau menyamaiku dengan ikan, aku saja nggak bisa berenang.” Sela Chinen diiringi tawa, “biasanya orang-orang menganggapku chihuahua, tikus, atau tupai. Apanya dariku yang seperti ikan koki?”

“Pantatnya indah ketika berenang,” dijawab langsung dengan intonasi mantap. “Ia juga terlihat berkilau didalam air. Lincah tapi terlihat malas karena sukanya makan dan tidur.” Pipi Yamada masih bersemu ketika mengatakan demikian, menulari pipi Chinen dengan warna serupa.

“Dasar mesum.”

Yamada meringis. “Ikan koki kalau berenang pantatnya memang menggiurkan.”

“Aku bukan ikan koki.” Desis Chinen sembari berjalan keluar pintu pet shop, Yamada mengikuti segera. “Memang bukan, tapi pantat kalian sama-sama indah.” Chinen menyikut perut Yamada membuatnya meringis sambil tertawa.

Mereka keluar dari Pet Shop sambil saling merangkul, Chinen menekan topinya lebih dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang lagi-lagi memerah sementara tangan Yamada yang tak merangkul Chinen digunakannya untuk menentang semua belanjaan. Memutuskan untuk berkeliling sekitar Odaiba mereka anggap pilihan terbaik sampai waktu dinner tiba.

. . . . . . . .

Dou? Oishi?

Chinen menelan kunyahannya lalu mengangguk. “Iya enak...”

Yamada segera memotong dagingnya kemudian menusuknya dengan garpu. Chinen yang melihat lantas mendengus, “kau curang. Menyuruhku dulu yang mencicipi.”

“Ahaha.. kalau nggak enak kita pindah restoran.”

“Dasar,” Chinen memasukan kembali irisan daging kemulutnya, mengunyah dengan pelan lalu menelan. “Kalau nggak yakin makananannya enak dinner ditempat biasanya saja kenapa, sih.”

“Biar ada suasana baru, Yuri. Kita belum pernah kesini kan? Kalau makanannya enak-enak, kita jadikan ini tempat dinner langganan kita.” Simpul Yamada dengan entang sambil memakan dagingnya. Chinen tersenyum manis dan lanjut makan. Pemuda dihadapannya malah akan memesan menu lain sebagai dessert.

“Oh ya dari tadi aku ingin tanya tapi lupa. Kemarin aku mabuk, kan? Apa aku mengucapkan sesuatu yang aneh?”

Kunyahan Yamada terhenti, ia langsung mendongak.

“Apa aku mengucap hal yang aneh? Aku hanya ingat aku memilih Truth ketika giliranku bermain, tapi aku tak ingat setelahnya.”

Yamada mengesah pelan, ia meletakan garpunya sebelum menjawab, “Tak ada... kau tak berkata aneh. Hanya bilang kalau kau sangat mencintaiku.”

“Bohong.” Pipi Chinen menggembung, “Emang siapa yang bertanya waktu itu? Apa pertanyaannya?”

“Kau harus mengingat sendiri untuk itu.”

Chinen merengut ketika kekasihnya memberi seringai misteri saat menjawab, lalu lanjut makan dengan tenang. Si cendik  mendengus namun tak bertanya lagi.

. . . . . . . .

“Makasih untuk hari ini.”

Chinen tersenyum saat Yamada mengantarnya kembali ke rumah. “Hari ini kau terlalu romantis,” jeda cukup lama. “Ureshi na...”

Yamada mendengus namun tak ayal ia tersenyum. “Yokatta... Besok berangkat pagi ya. Kita akan syuting PV. Kau tahu lokasinya, kan? nggak kujemput, oke?”

“Oke.”

“Yasudah aku pulang dulu. Oyasumi.” Saat Yamada balik badan, Chinen dengan cepat memanggilnya hingga pemuda chubby itu menoleh dan adegan klise pun terjadi. Tidak perlu dijelaskan dengan rinci karena mereka hanya berciuman. 

Yamada tentu kaget namun segera sigap membalas serbuan bibir Chinen. Tak terima didominasi, ia memegang tengkuk kekasihnya untuk mengarahkan ciuman mereka hingga akhirnya Chinen memisahkan diri lebih dulu.

“Aku sudah bilang, jangan pernah memancingku, Yuri.” Desis Yamada dengan suara seksi. “Sekali kau menyentuhku lebih dulu, di publik, di  privat atau dimanapun... kau akan dapat pelajaran!”

Chinen menunduk dengan wajah memerah. “Iya iya.. yaudah sana pulang. Oyasumi!” ia langsung masuk kerumahnya sementara Yamada terkekeh kemudian bergegas mengendarai mobilnya untuk pulang.

. . . . . . .

Syuting PV seharian tak ada masalah. Sangat menyenangkan juga melelahkan. Namun ada yang janggal bagi Chinen saat syuting PV tadi. Ia terus kepikiran hingga tak konsen dengan makan malam bersama keluarganya.

“Yuri, makan jangan melamun!” tegur sang ibu. Putranya gelagapan dan hanya nyengir, ia langsung menyumpit kembali.

Ne, ada hal yang aneh tadi saat syuting?” sikut Saaya yang duduk disebelahnya. Chinen mendengus dan menggeleng, males curhat ke sang kakak. “Nggak kok, hanya lelah.” Sahutnya pelan. Segera ia habiskan makan malamnya kemudian bergegas naik kekamarnya dan tidur.

Keesokan harinya member JUMP hanya disuruh berkumpul demi melihat hasil PV dan making untuk di masukan kedalam album, lalu mereka diberitahukan tentang jadwal promosi di berbagai acara TV untuk minggu depan.

Salah satunya.. Mezamashi Terebi.
.
.
.
.

“Aku dan Chinen pergi ke Odaiba berdua.”

“Kalian kencan?”

“Kita makan desert dan berbelanja.”

“Eh? Itu namanya kencan!”

“Kita juga melihat lihat di Pet Shop lalu makan malam bersama.”

“Hm.., terus kalian jalan-jalan cari cincin... habis itu nikah kan?”

Demi apapun demi apapun demi apapun!! Chinen tak bisa tak berdebar saat ini. Jantungnya berdegup cepat seperti sedang bermain trampolin, keringat dingin juga menetes di pelipisnya saat Yamada dengan gamblang berkata demikian. Belum lagi banyolan Hikaru tentang nikah membuat dirinya ingin bergelung diselimut saat ini juga. Aghhh! 

Tenang, Yuri... tenang... kamera menyorotmu... tenang... gumamnya dalam hati. Ia hanya mengangguk angguk dengan wajah semerah cabai segar sementara rekan-rekannya tertawa dan meledeknya.

. . . . . . .

Minna-san, setelah ini langsung promosi di Hayadoki! Tak usah ganti pakaian. Ayo semua langsung naik van kita akan menuju studionya!”

Sang menejer memberi arahan setelah selesai promosi di Mezamashi Terebi. Kesembilan member bergegas keluar studio untuk menaiki van. Mereka berjalan dengan tenang sesekali berguyon. Chinen tiba-tiba meraih lengan kekasihnya.

“Ryosuke, apa maksudmu tadi?”

Langkah semua member terhenti. Yamada menoleh pada Chinen sambil tersenyum. “Kenapa memangnya?”

Chinen mengernyit hebat. “Tadi kau nggak salah makan kan?”

“Tidak. Aku makan dengan wajar dan aku sama sekali nggak mabuk.”

Ucapan Yamada kontan membuat Hikaru dan Daichan tertawa.

“Sudahlah, ayo bergegas ke studio Hayadoki.” Ucap pemuda gingsul itu. “Kita sedang kerja. Jangan bahas hal privat dulu. Yamada, biasanya kau profesional? Hahaha...”

“Aku hanya menuruti permintaan seseorang.” Bahu Yamada terangkat, kemudian mereka kembali berjalan. Chinen masih mengalungkan lengan pada Ryosuke-nya. “Permintaan siapa? Memangnya kau—“

“Chineeen~ kita sedang kerja!” Inoo yang berada dibarisan agak depan langsung menegur dengan nada diseret. Bungsu JUMP itu merengut kesal membuat Yamada terkekeh pelan. Chinen melepas gandengannya pada Yamada dan beralih dengan menyikut Daichan. “Kenapa siiih??”

“Nggak apa-apa.. nanti juga tahu kok. Kita harus kerja dulu, Chii.”

Chinen tidak menyukai keadaan dimana member merahasiakan sesuatu darinya dan menganggapnya seperti anak kecil. Tapi ia menurut dan tak banyak bicara hingga sampai ke studio Hayadoki.

Kalau Ryosuke bongkar privasi, aku juga!

“Kali ini untuk Yamada-kun.” Pembawa acara di studio Hayadoki berkata dengan senyum aneh saat membuka gulungan kertas yang diambil dari dalam boks. Ia segera membacanya dengan lantang, “Yamada Ryosuke bermain shadow boxing di depan cermin sambil setengah telanjang!”

“Ehh siapa?”

“Itu dari siapa?”

“Siapa itu eeh?!”

Pertanyaan bersahut-sahutan dari para member diselingi tawa sementara raut sang ace sudah nggak karu-karuan, antara marah dan malu. Chinen mengangkat tangan sambil meringis.

“Hoi!” langsung di tepis dengan gemas oleh Yamada. “Kenapa menceritakan yang itu?! Malu-maluin tahu!”

Rasain! Chinen hanya terkekeh senang dan pemuda Chubby kesayangannya itu mau-tak-mau menceritakan kejadian lengkapnya hahaha.

. . . . . . . .

Akhirnya. Pekerjaan selesai. Promosi selesai. Tampil di Teretou Ongakusai juga sudah selesai. Nyaris tengah malam para member Hey Say Jump baru mendapat waktu bebas, segera dimanfaakan mereka untuk bersantai di klab langganan. Itupun hanya Keito, Yamada, Chinen, Hikaru, dan Inoo yang ikut sisanya teler dan memilih untuk pulang.

“Nggak asik nih, Yabu, Yuto, sama Takaki pulang!” dengus Inoo sambil menyender sofa. Hikaru disampingnya tertawa. “Kalau begitu ikut pulang saja, segala ikut dengan kita.”

“Aku mau sama Dai-chan dulu. Nanti kan aku pulang bareng Dai-chan.”

Pemuda pinguin disana hanya manggut-manggut sambil menegak minumannya. 

“Arrghhh!! Dari tadi aku ingin tanya! Ryosuke, Sebelum tampil di Ongakusai tadi kau kenapa?!” Raungan dari member termuda itu membuat semua perhatian teralih padanya. Yamada hanya menyeringai. “Apanya yang kenapa?”

“Kenapa balik bertanya? Maksudnya apa minta duet denganku? Padahal seharusnya tampil sesuai grup yang hompimpah!”

“Apa kau tidak senang?”

“Tidak! Ah-maksudku, bukannya tidak senang. Tapi aku merasa aneh. Semua acara kita sudah dijadwal dan disusun. Aku nyanyi Gin Gira Gin-nya Tokio dengan Yuto, Yuya, dan Inoo-chan, kau seharusnya nyanyi Garassu no Judai dengan Keito. Timnya jadi ngaco! Dan kau debat dengan staff hanya karena ingin duet denganku. Setahuku Ryosuke yang profesional dalam pekerjaannya tidak akan seperti itu di publik.”

Daichan dan Hikaru masih senyum senyum sendiri sementara Keito, Yamada dan Inoo berlagak sok polos.

“Tadi juga saat di MezaBi! Tidak ada yang bertanya dan tidak sedang membahas bahas tentang kegiatanmu akhir akhir ini, tapi kenapa bercerita tentang kencan kita? Kau bukannya paling nggak suka hubungan kita diumbar terang-terangan begitu?”

Yang lain masih tak merespon, hanya senyum-senyum seduktif.

“Dan yang paling membuatku bingung.... Ryosuke, kau memelukku saat syuting PV Kira Kira Hikare. Kenapa? Apa maksudmu? Kalau tidak ada kamera aku maklum. Tapi posisiku saat kau peluk dari belakang itu sedang disorot dikamera! Dan kau tegang saat itu kan? Aishhh..!”

Pertanyaan Chinen yang terakhir langsung memecah gelak tawa para member yang ada. Daichan yang paling kencang. Chinen kembali menggerutu. “Apaan sih?”

“Hikaru, coba monomane-in, yang waktu itu.” suruh Inoo dengan nada banyol. Member bergingsul itu dengan senang hati berdiri dan mengambil posisi—ia menuding Yamada.

“Orang sok cakep ini nggak pernah romantis! Pasti selalu aku!”

Daichan menahan mati-matian gelak tawanya saat Hikaru bersuara sok unyu. Belum cukup sampai disitu, pemain bass tersebut menjulilngkan mata serta meletoikan tubuhnya seperti orang mabuk lalu lanjut berucap, 

“Ryosuke susah untuk berkata atau berlaku romantis padaku di publik. Dia selalu mengelak! Dia munafik! Dia malah menganggapku saingan jika di publik. Tapi berlaku sangat baik pada Daichan atau Keito. Aku membencinya. Aku mau Ryosuke menunjukan keromantisannya denganku di publik~ jangan aku terus~!!”  

“BWAHAHAHAHA...!! Astaga Hikka kontrol wajahmu! HAHAHAHA Sudah cukup! Perutku sakit  HAHAHAHA!” Daichan memegang perutnya sambil terbahak begitu pula Keito dan Inoo. Yamada masih tersenyum tenang sementara wajah Chinen memerah sempurna.

“Sudah mengerti?” Pemuda chubby itu merangkul kekasihnya dengan lembut. “Aku melakukan semuanya atas permintaanmu.”

Chinen menunduk malu, tak berusaha menyahut.

“Aku yang minta syuting diundur sehari agar bisa berkencan denganmu dan menceritakannya saat kita promosi album. Dan saat syuting PV aku juga sengaja menyuruh Kameramen-san agar mengarahkan kamera padamu saat aku memelukmu dari belakang. Lalu untuk Ongakusai... itu belum sempurna sebenarnya. Harusnya kita melakukan fanserpis saat itu hehe.. tapi yasudahlah, yang penting kita berhasil duet. Sudah lama aku ingin nyanyi berdua lagi denganmu di publik. Tidak di karokean. Makanya aku meminta staff untuk tukar dengan Keito.” Jelas Yamada dengan nada lembut sembari mengeratkan rangkulannya pada pemuda kesayangannya.

“Maaf...” Chinen berucap lirih. “Maaf... aku egois.”

“Kau tidak egois. Aku sadar aku memang tidak berani blak-blakan tentang hubungan kita di publik dan membuatmu sedih. Jadi aku rasa yang kulakukan hari ini akan membuatmu senang. Kau tidak egois, Yuri. Aku yang harusnya minta maaf karena kurang mesra denganmu di publik.”

Chinen mengangkat wajahnya dan membuat onix jernihnya bersibobrok dengan manik kecoklatan Yamada. Mereka bertatapan sangat lama hingga akhirnya semacam nafsu mendorong tubuh sang dominan untuk meniadakan jarak pada bibir mereka.

Satu detik. Dua.. sampai lebih dari lima detik.

“HOI! AYO KITA PULANG!”

Baru setelah Hikaru berceletuk, pagutan mereka terlepas, meninggalkan warna maroon dikedua pipi masing-masing.

“Nggak usah lepas... lanjutkan saja. Kita cari tempat lain~” Daichan berdiri, begitu pula Keito. “Awas jangan sampai kebablasan. Besok masih ada kerjaan lho.”

“Nah. Silahkan senang-senang. Kita permisi~ ohoho~”

Keempat member itu dengan sengaja meninggalkan ruang klab yang ditempati, menyisakan sejoli yang kembali asik dengan dunianya.

“Jadi, mulai sekarang kau mau membuka diri di publik denganku?” Chinen bertanya dengan mata berbinar.

“Ya. Kuusahakan semampuku. Akan kuberikan banyak hint dan kemesraan denganmu di publik.”

“Kau yakin? Julie-san bagaimana? Dia tidak suka hubungan kita. Lagipula, Yuto...”

“Nggak usah pikirkan dia. Dan jangan bawa-bawa Yuto saat kau berdua saja denganku.” Nada Yamada berubah ketus, Chinen tersenyum maklum. “Aku tak akan menuntut banyak untuk itu. Tapi aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu.”

Yamada lantas mengecup pipi Chinen dengan gemas, “Hari ini... dan seterusnya kita buat bukti sebanyak-banyaknya bahwa kita pasangan sejati.”

“Ya!”


THE END

A/N : INI CANON PAKE BANGET~!!! POKOKNYA YAMACHII IS REAAAAL!! >w<  Btw, ngetik ini sambil dengerin Rainbow Candy Girl trus diakhir Hika ngejek "Mattaku na~ udah sono kawin!" muahahah YAMACHII IS REAL~ //TEBARCAWETKENTO <3

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review