Judul : Evidence
Author : Kiwok
Pair : Yamada Ryosuke <3 Chinen Yuri
Genre : Romace, fluff, fluff, fluff, ultimated canon
Summary : Chinen membutuhkan bukti bahwa Yamada mencintainya dimanapun ia berada. Dan Yamada menyanggupinya dengan senang hati.
Ujung botol yang
telah kosong itu berhenti pada....
“Hehehe,”
...Chinen Yuri.
Yamada disampingnya
berdeham, menatap kekasihnya yang hanya menyeringai aneh.
“Oi, Yama-chan!
Sepertinya Chinen sudah mabuk.” Celetuk Yuya.
“Sepertinya,” Yamada
mengangguk sembari nyengir canggung.
Malam itu, kesembilan
member Hey!Say!JUMP berkumpul di sebuah klab khusus para artis papan atas
sehabis selesai potoshoot Wink Up untuk bulan Juli dan juga rekaman untuk album
terbaru mereka. Sebenarnya hanya Yuya, Yabu, Yuto, dan Yamada yang ingin
mengunjungi klab, namun Inoo yang mendengar rencana mereka berempat ngotot
ingin ikut sehingga berakhir dengan semua member berkumupul di ruangan VIP yang
tersedia.
“Aku belum mabuk!
Masih mau main!” Chinen berseru disertai pipi yang menggembung. Member lain
hanya meringis.
“Maa.. baiklah
baiklah. Pilih Truth atau Dare?” tanya Daichan. Chinen langsung tersenyum
lebar. “Truth!”
“Ja, pertanyaan
pertama dariku!” Yuto mengangkat tangan dengan heboh, masih sangat waras.
Berbanding terbalik dengan Chinen yang sudah agak teler. Yamada disampingnya
memegang pundak pemuda mungil itu dengan cemas.
“Apa yang kau benci
dari Yama-chan?”
Pertanyaan Yuto
kontan membuat Yamada sangsi dan mendelik, yang lain justru terkekeh. “Ah, aku
juga ingin menanyakan itu.” Ucap Hikaru.
“Dia nggak romantis!”
Chinen berseru sambil memajukan bibirnya, menunjuk bebas pipi Yamada. “Orang
sok cakep ini nggak pernah romantis! Pasti selalu aku!”
Semua member
menjatuhkan dagu mendengar gerutuan sang bungsu.
“Yang benar saja,
Chii! Yama-chan nggak pernah nggak romantis padamu!” Keito menyanggah, sama
sekali tidak terima. Daichan juga demikian. “Hanya denganmu perlakuan Yama-chan
itu beda! Kau selalu diperlakukan spesial olehnya.”
“Dai, kata-katamu
barusan bukan karena kalau kau ngomong selalu dibantah Yama-chan, kan?” Inoo
terkekeh namun Dai-chan justru mengangguk, fakta membuktikan bahwa pemuda
pinguin itu selalu dibantah oleh Yamada.
“Bukan.. bukan di
privat,” Chinen mengibas-ngibaskan jemarinya, “tapi di publik.”
Kali ini para member
menautkan alis erat.
“Ryosuke susah untuk
berkata atau berlaku romantis padaku di publik. Dia selalu mengelak! Dia
munafik! Dia malah menganggapku saingan jika di publik. Tapi berlaku sangat
baik pada Dai-chan atau Keito.” Chinen tiba-tiba berdiri dengan sempoyongan
kemudian menghadap Yamada yang menatapnya khawatir, tangannya kembali menunjuk
bebas. “Kau! Yamada Ryosuke... aku benci kau yang sok sokan menganggapku
saingan dan selalu mengelak ketika aku memberikan kode agar kau romantis
padaku!”
BRUK!
Member termuda itu
langsung terduduk lemas setelah berkata demikian. Kepalanya yang berat
membuatnya limbung kebelakang.
“Yuri!” Yamada dengan
tangkas meraih tubuh kekasihnya. Yabu menggeleng kalut dengan tangan bersilang
di dada. “Dia baru minum 2 kali kan?”
“Yah, alkoholnya
cukup tinggi sih. Aku baru minum sekali,” sahut Yuto seraya menggoyang
goyangkan botol minuman yang diminum teman mungilnya. “Chii kan nggak tahan
minum tapi sok-sokan. Jadi teringat waktu dia latihan minum sendiri di bar tapi
ujung-ujungnya malah nyusahin ahahaha...”
“Oh yang ketauan
majalah Jum'at ya? Dibesar-besarin segala beritanya. Fans sampai heboh waktu
itu,” tanggap Inoo sambil tertawa pelan. Yuto mengangguk dan ikut tertawa.
“Waktu itu Yama-chan
masih di lokasi syuting Ansatsu kan? Langsung menjemput Chinen yang mabuk
padahal katanya baru minum setengah gelas.” Yuya bercerita. Kembali Yabu
menggeleng kalut. “Sudah, jangan dilanjutin. Chinen harus istirahat. Yamada,
kau antar dia pulang!” Titah member tertua itu. Yamada mengangguk patuh dan
segera membopong Chinen untuk meninggalkan klab.
“Yama-chan, kau belum
mabuk kan? Bisa nyetir sendiri?” tanya Keito khawatir. Yamada yang masih
membopong Chinen hanya mengangkat ibu jarinya pertanda baik baik saja.
“Ngghh.. pokoknya aku
nggak suka Ryosuke menganggapku saingan!”
Chinen masih meracau
ketika Yamada melajukan mobilnya untuk mengantar pemuda kesayangannya pulang.
Pemuda chubby itu hanya terkekeh melirik kekasihnya di jok samping.
“Aku cinta Ryosuke...
aku ingin Ryosuke menunjukannya dipublik... tidak sembunyi terus...” Chinen
masih meracau.
“Ryosuke...”
Yamada tetap setia
pada diamnya dan berkonsentrasi dengan jalanan.
“Ryosuke...!!”
“Apa?” akhirnya
disahut, namun kemudian Yamada mendengar sebuah dengkuran
halus yang langsung membuatnya mendengus pelan. “Dasar, disaat
seperti ini bilang saja kau ingin aku memanjakanmu di depan publik.” Satu
tangan Yamada terulur untuk mengelus pipi Chinen. “Aku
juga mencintaimu, Yuri.”
. . . . . . . . .
Keesokan harinya
Chinen bangun sangat siang dengan kepala yang cukup berdenyut. Ibunya sengaja
tak membangunkannya dan berkata bahwa tak ada jadwal kerja.
“Demi apa!? Hari ini
seharusnya syuting PV Kira Kira Hikare, bu! Masa nggak ada yang nelpon aku? Ibu
juga nggak membangunkanku!” Chinen berkata setengah panik pada sang ibu saat
sedang masak di dapur. Wanita itu mengelap tangannya pada celemek sebelum
berucap. “Iya. Yamada-kun sendiri yang bilang. Syuting PV tidak jadi sekarang,
diundur besok.”
Chinen makin tak mengerti.
Ia ingat betul bahwa hari ini seharusnya syuting PV untuk album terbaru mereka
karena kemarin sudah rekaman. Nggak mungkin dibatalkan begitu saja.
“Ryosuke bilang apa,
bu? Kou-chan bilang sesuatu? Aku nggak percaya syuting batal. Jangan-jangan karena
aku mabuk terus bangun kesiangan..?”
Nyonya Chinen
mendengus kemudian menepuk kedua pipi putranya. “Makanya jangan melakukan hal
yang aneh aneh. Kau tahu, saat kau pulang dengan kondisi mabuk dan di gotong
Yamada-kun? ia benar-benar cemas padamu!”
“Ta-tapi kan yang
lain juga—”
“Yuriiiiiiii!!
Yamada-kun datang!” Chinen terlonjak dan tak selesai berkata saat mendengar
Saaya berteriak nyaring dari ruang tengah. Ibunya lantas tertawa dan
membalikkan badan Chinen. “Tuh dijemput pangeran. Hahaha.. sana mandi, dasar
pemalas!”
Sang bungsu merengut
lalu segera ke ruang depan untuk menemui Ryosuke-nya.
“Belum mandi?”
Chinen nyengir lebar
saat Yamada memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil menggeleng
kalut.
“Hehe... aku mandi
sekarang! Tunggu sebentar!” pemuda cendik itu langsung melesat menuju kamar
mandi. Saaya tertawa mengejek adiknya kemudian menyuruh Yamada duduk menunggu
sambil berbincang.
Lima belas menit
kemudian Chinen sudah siap dan menemui kekasihnya di ruang tengah, ia segera
melancarkan protes. “Ryosuke, sekarang bukannya syuting Kira Kira Hikare?! Kok
batal? Kenapa?”
Yamada
malah bangkit dari duduknya, ia menunduk sebentar pada sang kakak dan
nyonya Chinen yang tersenyum dari dapur kemudian langsung menggeret Chinen
keluar.
“Sebentar... ini mau
kemana? Syutingnya benar-benar batal? Hei, Ryosuke!!”
“Berisik.”
Chinen langsung
diam. Bibirnya mengerucut saat kekasihnya berucap cukup ketus.
Yamada mendorong Chinen untuk masuk ke mobil lalu mereka segera
melaju.
“Hari ini hanya UNION
yang syuting PV, besok baru kita semua. Jadi sekarang kita libur. Aku ingin
mengajakmu jalan-jalan.” Jelas Yamada dengan tenang sembari menyetir. Chinen
mengangguk, “Ya.. boleh saja, tapi aku nggak bawa masker atau alat menyamar.”
“Ada di jok belakang.
Kita akan ke Odaiba sekarang.”
Alis Chinen
terangkat, “Odaiba? Kenapa?”
“Kenapa bertanya? Kau tidak mau pergi denganku?”
Chinen menangkap
kalimat malu-malu dari ucapan kekasihnya, ia lalu tertawa. “Maa... iya
deh iya. Jadi hari ini kita kencan?”
“Hn,”
Chinen kembali
tertawa.
“Parkir disini saja
ya.” Pemuda bak pangeran itu melepas sabuk pengamannya setelah sampai ditempat
tujuan, Chinen mengangguk dan juga melepas sabuknya. “Berarti kita jalan?”
“Iya, ayo turun. Kita
belanja dulu.”
Bungsu JUMP itu
meringis ketika mendengar kata ‘belanja’. “Ryosuke saja. nggak ada yang
ingin kubeli.”
“Bohong, nanti kau
juga ikut beli. Aku yang bayar kau tenang saja.” Sahut Yamada enteng, Chinen
terkekeh senang. See? Ryosuke sebegini mudahnya mengatakan ‘bayar’ tapi
tetap sok-sokan kesal kalau aku menganggapnya dompet. Dasar munafik!
Mereka turun dari
mobil tempat mereka parkir kemudian berjalan beriringan menuju pertokoan.
“Eh?” Chinen
mengernyit saat tiba-tiba Yamada merangkulnya. “Tumben,”
“Memang biasanya
nggak?” Pemuda chubby itu mendengus sambil mengelus kepala Chinen lalu kembali
mengalungkan lengannya.
“Yah.. tumben saja.
Dan lagi, Biasanya kalau dapat libur kau jarang mengajaku jalan. Apalagi
dadakan seperti ini, kau tidak memberitahuku juga,”
“Hn, aku hanya ingin
ke Odaiba berdua denganmu sekarang.” Ia mengangkat bahunya lalu menatap Chinen
lekat-lekat, “Ada masalah?”
Pipi pemuda mungil
itu langsung bersemu, cepat-cepat ia alihkan pandangannya kedepan. “A-ah..
nggak, nggak ada masalah!”
“Baguslah,” Yamada
tersenyum puas. “Nah, kita ke toko itu. Aku ingin beli setelan luar musim gugur
yang bagus.” Mereka mempercepat langkahnya—masih dengan lengan Yamada dipundak
Chinen—untuk memasuki toko busana yang tak terlalu mewah di salah satu deretan
toko.
“Ah, yang ini bagus!”
Chinen melongok dari
bilik deretan baju lain ketika Yamada berseru demikian. Ia mendekat dan
mengangguk. “Iya bagus. Cocok untukmu.”
“Kita beli ini ya.”
Alis Chinen terangkat.
“‘kita’?” pertanyaan retoris. Yamada hanya tersenyum.
“Maksudnya kita, aku
juga beli? Bukannya kau malu kalau kembaran denganku, huh? Waktu itu
sampai protes dan ngumbar-ngumbar di radio kalau kau nggak suka aku membeli
jaket yang sama denganmu kan?” ‘
Raut Yamada terbaca
sedih saat Chinen berkata sarkas seperti barusan. “Aku nggak bilang nggak suka.
Hanya ingin memberi tahu fans kalau kita kembaran baju seperti couple.
Itu kode tersirat, asal kau tahu.”
“Oh.. cuma
‘seperti’ couple?”
Damn. Yamada salah ucap.
“Yuri... kita sudah
sepakat un—“
“Ah iya, aku lupa.
Ryosuke kan nggak mau menggumbar-umbar hubungan kita ke publik ya. Ahaha...”
sela Chinen seraya tertawa hambar. Yamada mengesah. Ia tidak suka momen
romantisnya di privat gagal hanya karena Chinen mulai bad mood.
“Jangan bicara
begitu. Kita sudah sepakat untuk menghindari ejekan tidak mengenakan tentang
hubungan sesama. Kau harusnya mengerti.”
“Sangat mengerti,”
disahut langsung. “Yasudah terserah Ryosuke.” Chinen berusaha tak memancing
pembicaraan lagi meski kentara suntuk di wajah imutnya, ia memilih diam.
Yamada kembali
mengesah, “kalau begitu aku ambil yang warna merah. Kau yang merah muda.” Ia
meraih setelan atasan berwarna merah muda lalu diberi pada Chinen, diterimanya
dengan kekehan pelan, “Kau yakin membelikan ini untuku?”
“Siapa bilang
membelikan?”
Chinen langsung
merengut.
“Ahaha.. bercanda.
Iya, aku yang bayar. Jangan bilang-bilang.” Yamada terkekeh sambil
mengacak-acak penuh sayang rambut hitam Chinen. Pemuda mungil yang semula
manyun langsung menyeringai dan bergumam dalam hati, Kasih tahu di
majalah tentang ini ah.
Setelah membayar,
mereka keluar dari toko dan lanjut berjalan.
“Sekarang kemana?”
tanya Chinen ceria, kali ini ia tak ragu menggandeng tangan besar kekasihnya.
“Ke kafe. Tadi kau
belum makan kan? Ada kafe yang enak disini. Aku direkomendasikan teman. Dan kau
harus makan! Jangan menolak makanan yang disana.”
Chinen memisuh ketika
kekasihnya menekankan untuk makan. “Nanti aku gendut kalau kebanyakan makan...”
“Mananya yang gendut?
Pipimu saja selalu kempot kalau senyum atau tertawa. Sekarang juga kelihatan
tirus!” Yamada menoel pipi kekasihnya dengan gemas sementara Chinen terkekeh
geli. “Kau sendiri juga diet kan? Pipimu juga kempot nggak enak di cubit.” Ia
balas menarik pelan pipi pemuda Taurus disampingnya.
“Yasudah kalau begitu
kita makan berdua.”
“Hm,”
Sejoli itu lantas
memasuki kafe sederhana bernuansa garden di salah satu kawasan Odaiba, tak
banyak yang datang karena tempatnya memang agak kuno namun Yamada menyukai
tempat itu sebagaimana sepi untuk tidak memancing perhatian fans.
“Pesan saja,”
Chinen bergumam
sambil menyusuri buku menu. “Ryosuke pesan apa?”
“Aku gampang, kau
dulu.” Sahutnya ramah, tersenyum dan bertopang dagu sambil memperhatikan
kekasihnya memilih menu.
“Aku pesan pancake
saja. Minumnya.. es lemon tea.” putus Chinen akhirnya, memberikan buku menu
pada pemuda didepannya. “Kau sekarang. Pesan apa?”
“Hmm...” bergumam
sebentar, namun tak perlu waktu lama untuk akhirnya memutuskan. “Aku pesan
jumbo fruit desert.”
“Hah?” Chinen mengernyit.
“Es buah?”
“Fruit desert, Yuri!
Bukan es buah.” Yamada memutar bola matanya, “Aku pesan itu.”
“Iya apapun namanya.
Kau nggak makan? Diet lagi, huh? Kalau kau nggak makan aku juga nggak makan.”
Ketus Chinen sambil mendengus.
“Tadi sebelum mengajakmu
kesini aku sudah sarapan omelet. Masih kenyang. Kau yang harus makan.” Yamada
menjelaskan sambil tersenyum namun bukan Chinen kalau tidak keras kepala
menyangkut makanan mengingat dirinya termasuk tipe pemilih.
“Nggak mau kalau kau
nggak makan.”
Yamadanya berjengit,
“Kau harus makan!”
“Nggak mau kalau kau
nggak makan.”
“Yuri..!”
“Nggak.”
“Ck, wakatta!”
Pemuda Chubby itu mendengus. Kemudian tangannya teracung untuk memanggil
pelayan. “Pesan jumbo fruit desert satu, dengan sedotan dan sendok untuk dua
orang. Lalu stoberinya diperbanyak juga susunya lebih banyak. Jangan dikasih
gula.”
Pelayan tersebut
manggut-manggut seraya mencatat pesanan Yamada lalu segera undur diri setelah
mengatakan pesanan akan diantar sepuluh menit lagi.
Yamada menatap Chinen
yang masih merengut, “susah banget sih disuruh makan.”
“kalau kau makan aku
baru mau makan.”
“Bukannya ‘kalau kau
yang bayar aku baru mau makan’?” sindir Yamada dengan kekehan, langsung membuat
Chinen meringis. “itu lain cerita, lagipula kau memang selalu membayariku kan?
Kenapa sampai protes segala di publik, huh? Sok-sokan mengancamku untuk gantian
bayar. Ujung-ujungnya juga kau sendiri yang akan bayar.”
Yamada mendengus,
“Itu kode buat fans kalau aku membayarimu lagi, tahu.”
“Cih, pamer.”
“Bukan pamer, tapi
kenyataan. Coba kau pikir, apa susahnya menolak untuk tidak membayarimu? Karena
aku terlalu cinta jadi aku selalu berakhir membayarimu. Bukan berarti aku pamer
kan?”
Chinen melongo
mendengar ucapan pelantun Mistery Virgin didepannya. Apa yang baru ia ucap
barusan... ‘terlalu cinta’? suatu gombalan, eh?
“Kau baru saja
menggombal,”
“Mananya yang gombal?
Itu pernyataan.” Disahut ketus namun tak ayal hanya sanggahan atas pipinya yang
mulai memerah. Chinen terkekeh senang. Pesanan akhirnya datang dan mereka mulai
memakannya dengan kidmat.
“Manis banget...!”
pekik Chinen saat menyuapkan sesendok desertnya, matanya berbinar senang.
“Punyaku lebih manis.
Ini justru kemanisan!”
Alis Chinen terangkat
satu, “Susunya nggak merata ya? Coba putar mangkuknya, kau suap disebe—“
“Bukan kok, punyaku
manis karena makan dengan orang yang manis juga.”
HAH.
“Pffftt...!! Nggak
elit banget gombalannya ahahaha...!!” Tawa Chinen lepas bahkan tanpa gurat sipu
diwajahnya, malah Yamada yang memerah bak babi panggang.
“Kok nggak blushing sih!”
“Ngapain blushing?
Aku sudah menyangka kau akan ngomong begitu waktu menyangkalku.” Chinen masih
terkekeh. “Mau ku gombalin balik?”
“Hah?” Yamada
mengernyit.
“Musim panas ini
benar benar panas, kau tahu?”
Tak ada balasan, alis
Yamada masih mengernyit.
“Ditambah jalan
denganmu membuatku semakin panas dan ingin melepas baju untuk—“
“Sebentar... Yuri,
itu gombal atau kalimat seduktif?” Kali ini Yamada yang tertawa sementara
Chinen mulai merona. “Kau memancingku untuk menidu—ITTE!”
Bungsu JUMP itu baru
saja memukul Yamada dengan buku menu, genti dirinya yang memerah tanpa cela.
“Ahahahaha... Kalau
kau benar benar kepanasan yasudah habis ini kita cari ho—“
“Ryosuke!”
“Ahaha.. oke oke,
makanya jangan memancingku.” Yamada mulai menetralkan tawanya namun pemuda
mungil didepannya belum bisa lepas dari wajah tersipu, membuatnya semakin
manis.
“Sudah, ayo cepat
habiskan. Habis ini kita akan ke Pet Shop.”
“Mau beli hewan
peliharaan apalagi? Rumahmu itu sudah seperti kebun binatang, tahu!” dengus
Chinen yang kembali menyuapkan dessertnya.
“Maa.. tidak
beli. Hanya ingin lihat. Sekaligus mengajakmu untuk akrab dengan binarang.”
Chinen langsung
menggerutu. “Bodoh. Kau tahu aku tidak suka binatang tapi mengajakku ke
pet shop.”
“Karena aku tahu
makanya aku ingin mengajakmu kesana, biar kau suka binatang. Lagipula kau itu
kan tikus.” Yamada menyendokan dessertnya banyak banyak lalu mengerling puas
saat rasa dingin dan manis membaur di rongga mulutnya. Chinen mendengus dan
ikut menyendokan dessert yang sekiranya terakhir.
“Yasudah ayo kesana.”
. . . . . .
Marmut. Putih. Kecil.
Kuat.
“Astaga, Yuri! Kau
mirip dengannya!!!”
Chinen meniup poninya
sambil melirik Yamada yang dengan heboh menggendong hewan kecil berbulu lebat
di Pet Shop. “Yuri, sini..! kau harus pegang.”
“Tidak! Dan jangan
dekat-dekat!”
Chinen menolak
mentah-mentah namun kekasihnya malah menyodorkan hewan menggemaskan itu, kontan
membuat Chinen menjauh. “Ryosuke...!”
“Nggak
usah berlebihan, Yuri. Nggak akan digi—ouch,”
Chinen mendengus. “Hora, mananya
yang nggak digigit?” ia terkekeh ketika kekasihnya meringis
sambil mengibaskan jarinya yang baru saja digigit, hebatnya marmut itu
masih ia rengkuh dengan tangannya yang satu lagi.
“Ryosuke, taruh lagi
marmutnya. Kasihan nggak bisa bebas,”
Yamada menaruh hewan
tersebut setelah mengelusnya kemudian berjalan kebagian lain.
Iya... kebagian
lain...
“Tidak,
kumohon. Tidak kesana...”
...bagian ular.
“Itu sanca albino.
Bagus, kan? Ayo kita foto! Aku ingin menceritakannya di Think Note!” center
JUMP itu malah menarik lengan Chinen nemun segera di tahan. “Nggak mau. Aku
nggak mau!”
“Ayolah... ada
pawangnya, kan? nggak akan kenapa-napa. Lagipula disini kita bebas memegang
hewan.”
“Aku nggak mau kalau
kebagian reptil atau hewan melata.” Chinen bersihkeras, menyilangkan dadanya.
“Kau saja sana! Aku kebagian lain.”
“Huh? Mau lihat hewan
apa emangnya?”
Manik mata pemuda
chibi itu menyapu sekitar pet shop, lalu mendesah. “Tidak ada ikan disini.”
“Ha?”
“Yaudahlah, kau lihat
lihat saja aku tunggu disini.”
Yamada ingin tertawa
lepas kalau saja dirinya bukan seorang idola yang menyamar ditempat umum.
“Ayolah Yuri! Ini pet
shop, bukan toko ikan hias. Ikan hias bukan hewan peliharaan, tapi untuk
koleksi.”
Chinen mengangkat
satu alisnya. “Kau pelihara ikan koki kan? Katanya kau kasih nama Yuri?”
Wajah Yamada langsung
memerah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Yah.. itu bukan peliharaan.
Lebih tepatnya untuk teman mengo—“
“Kau aneh kalau
menyamaiku dengan ikan, aku saja nggak bisa berenang.” Sela Chinen diiringi
tawa, “biasanya orang-orang menganggapku chihuahua, tikus, atau tupai. Apanya
dariku yang seperti ikan koki?”
“Pantatnya indah
ketika berenang,” dijawab langsung dengan intonasi mantap. “Ia juga terlihat
berkilau didalam air. Lincah tapi terlihat malas karena sukanya makan dan
tidur.” Pipi Yamada masih bersemu ketika mengatakan demikian, menulari pipi
Chinen dengan warna serupa.
“Dasar mesum.”
Yamada meringis.
“Ikan koki kalau berenang pantatnya memang menggiurkan.”
“Aku bukan ikan
koki.” Desis Chinen sembari berjalan keluar pintu pet shop, Yamada mengikuti
segera. “Memang bukan, tapi pantat kalian sama-sama indah.” Chinen menyikut
perut Yamada membuatnya meringis sambil tertawa.
Mereka keluar dari
Pet Shop sambil saling merangkul, Chinen menekan topinya lebih dalam untuk
menyembunyikan wajahnya yang lagi-lagi memerah sementara tangan Yamada yang tak
merangkul Chinen digunakannya untuk menentang semua belanjaan. Memutuskan untuk
berkeliling sekitar Odaiba mereka anggap pilihan terbaik sampai waktu dinner tiba.
. . . . . . . .
“Dou? Oishi?”
Chinen menelan
kunyahannya lalu mengangguk. “Iya enak...”
Yamada segera
memotong dagingnya kemudian menusuknya dengan garpu. Chinen yang melihat lantas
mendengus, “kau curang. Menyuruhku dulu yang mencicipi.”
“Ahaha.. kalau nggak
enak kita pindah restoran.”
“Dasar,” Chinen
memasukan kembali irisan daging kemulutnya, mengunyah dengan pelan lalu
menelan. “Kalau nggak yakin makananannya enak dinner ditempat
biasanya saja kenapa, sih.”
“Biar ada suasana
baru, Yuri. Kita belum pernah kesini kan? Kalau makanannya enak-enak, kita
jadikan ini tempat dinner langganan kita.” Simpul Yamada
dengan entang sambil memakan dagingnya. Chinen tersenyum manis dan lanjut makan.
Pemuda dihadapannya malah akan memesan menu lain sebagai dessert.
“Oh ya dari tadi aku
ingin tanya tapi lupa. Kemarin aku mabuk, kan? Apa aku mengucapkan sesuatu yang
aneh?”
Kunyahan Yamada
terhenti, ia langsung mendongak.
“Apa aku mengucap hal
yang aneh? Aku hanya ingat aku memilih Truth ketika giliranku bermain, tapi aku
tak ingat setelahnya.”
Yamada mengesah
pelan, ia meletakan garpunya sebelum menjawab, “Tak ada... kau tak berkata
aneh. Hanya bilang kalau kau sangat mencintaiku.”
“Bohong.” Pipi Chinen
menggembung, “Emang siapa yang bertanya waktu itu? Apa pertanyaannya?”
“Kau harus mengingat
sendiri untuk itu.”
Chinen merengut
ketika kekasihnya memberi seringai misteri saat menjawab, lalu lanjut makan
dengan tenang. Si cendik mendengus namun tak bertanya lagi.
. . . . . . . .
“Makasih untuk hari
ini.”
Chinen tersenyum saat
Yamada mengantarnya kembali ke rumah. “Hari ini kau terlalu romantis,”
jeda cukup lama. “Ureshi na...”
Yamada mendengus
namun tak ayal ia tersenyum. “Yokatta... Besok berangkat pagi ya.
Kita akan syuting PV. Kau tahu lokasinya, kan? nggak kujemput, oke?”
“Oke.”
“Yasudah aku pulang
dulu. Oyasumi.” Saat Yamada balik badan, Chinen dengan cepat
memanggilnya hingga pemuda chubby itu menoleh dan adegan klise pun terjadi. Tidak
perlu dijelaskan dengan rinci karena mereka hanya berciuman.
Yamada tentu kaget
namun segera sigap membalas serbuan bibir Chinen. Tak terima didominasi, ia
memegang tengkuk kekasihnya untuk mengarahkan ciuman mereka hingga
akhirnya Chinen memisahkan diri lebih dulu.
“Aku sudah bilang,
jangan pernah memancingku, Yuri.” Desis Yamada dengan suara seksi. “Sekali kau
menyentuhku lebih dulu, di publik, di privat atau dimanapun... kau akan
dapat pelajaran!”
Chinen menunduk
dengan wajah memerah. “Iya iya.. yaudah sana pulang. Oyasumi!” ia
langsung masuk kerumahnya sementara Yamada terkekeh kemudian bergegas
mengendarai mobilnya untuk pulang.
. . . . . . .
Syuting PV seharian
tak ada masalah. Sangat menyenangkan juga melelahkan. Namun ada yang janggal
bagi Chinen saat syuting PV tadi. Ia terus kepikiran hingga tak konsen dengan
makan malam bersama keluarganya.
“Yuri, makan jangan
melamun!” tegur sang ibu. Putranya gelagapan dan hanya nyengir, ia langsung
menyumpit kembali.
“Ne, ada hal
yang aneh tadi saat syuting?” sikut Saaya yang duduk disebelahnya. Chinen
mendengus dan menggeleng, males curhat ke sang kakak. “Nggak kok, hanya lelah.”
Sahutnya pelan. Segera ia habiskan makan malamnya kemudian bergegas naik
kekamarnya dan tidur.
Keesokan harinya
member JUMP hanya disuruh berkumpul demi melihat hasil PV dan making untuk
di masukan kedalam album, lalu mereka diberitahukan tentang jadwal promosi di
berbagai acara TV untuk minggu depan.
Salah satunya.. Mezamashi
Terebi.
.
.
.
.
“Aku dan Chinen pergi
ke Odaiba berdua.”
“Kalian kencan?”
“Kita makan desert dan
berbelanja.”
“Eh? Itu namanya
kencan!”
“Kita juga melihat
lihat di Pet Shop lalu makan malam bersama.”
“Hm.., terus kalian
jalan-jalan cari cincin... habis itu nikah kan?”
Demi apapun demi
apapun demi apapun!! Chinen tak bisa tak berdebar saat ini. Jantungnya berdegup
cepat seperti sedang bermain trampolin, keringat dingin juga menetes di
pelipisnya saat Yamada dengan gamblang berkata demikian. Belum
lagi banyolan Hikaru tentang nikah membuat dirinya ingin bergelung
diselimut saat ini juga. Aghhh!
Tenang, Yuri...
tenang... kamera menyorotmu... tenang... gumamnya dalam hati.
Ia hanya mengangguk angguk dengan wajah semerah cabai segar sementara
rekan-rekannya tertawa dan meledeknya.
. . . . . . .
“Minna-san,
setelah ini langsung promosi di Hayadoki! Tak usah ganti pakaian. Ayo semua
langsung naik van kita akan menuju studionya!”
Sang menejer memberi
arahan setelah selesai promosi di Mezamashi Terebi. Kesembilan member bergegas
keluar studio untuk menaiki van. Mereka berjalan dengan tenang sesekali
berguyon. Chinen tiba-tiba meraih lengan kekasihnya.
“Ryosuke, apa
maksudmu tadi?”
Langkah semua member
terhenti. Yamada menoleh pada Chinen sambil tersenyum. “Kenapa memangnya?”
Chinen mengernyit hebat.
“Tadi kau nggak salah makan kan?”
“Tidak. Aku makan
dengan wajar dan aku sama sekali nggak mabuk.”
Ucapan Yamada kontan
membuat Hikaru dan Daichan tertawa.
“Sudahlah, ayo
bergegas ke studio Hayadoki.” Ucap pemuda gingsul itu. “Kita sedang kerja. Jangan
bahas hal privat dulu. Yamada, biasanya kau profesional? Hahaha...”
“Aku hanya menuruti
permintaan seseorang.” Bahu Yamada terangkat, kemudian mereka kembali berjalan.
Chinen masih mengalungkan lengan pada Ryosuke-nya. “Permintaan siapa? Memangnya
kau—“
“Chineeen~ kita
sedang kerja!” Inoo yang berada dibarisan agak depan langsung menegur dengan
nada diseret. Bungsu JUMP itu merengut kesal membuat Yamada terkekeh pelan.
Chinen melepas gandengannya pada Yamada dan beralih dengan menyikut Daichan.
“Kenapa siiih??”
“Nggak apa-apa..
nanti juga tahu kok. Kita harus kerja dulu, Chii.”
Chinen tidak menyukai
keadaan dimana member merahasiakan sesuatu darinya dan menganggapnya seperti
anak kecil. Tapi ia menurut dan tak banyak bicara hingga sampai ke studio
Hayadoki.
Kalau Ryosuke bongkar
privasi, aku juga!
“Kali ini untuk
Yamada-kun.” Pembawa acara di studio Hayadoki berkata dengan senyum aneh saat
membuka gulungan kertas yang diambil dari dalam boks. Ia segera membacanya
dengan lantang, “Yamada Ryosuke bermain shadow boxing di depan
cermin sambil setengah telanjang!”
“Ehh siapa?”
“Itu dari siapa?”
“Siapa itu eeh?!”
Pertanyaan
bersahut-sahutan dari para member diselingi tawa sementara raut sang ace sudah
nggak karu-karuan, antara marah dan malu. Chinen mengangkat tangan sambil
meringis.
“Hoi!” langsung di
tepis dengan gemas oleh Yamada. “Kenapa menceritakan yang itu?! Malu-maluin
tahu!”
Rasain! Chinen hanya terkekeh
senang dan pemuda Chubby kesayangannya itu mau-tak-mau menceritakan kejadian
lengkapnya hahaha.
. . . . . . . .
Akhirnya. Pekerjaan
selesai. Promosi selesai. Tampil di Teretou Ongakusai juga sudah selesai.
Nyaris tengah malam para member Hey Say Jump baru mendapat waktu bebas, segera
dimanfaakan mereka untuk bersantai di klab langganan. Itupun hanya Keito,
Yamada, Chinen, Hikaru, dan Inoo yang ikut sisanya teler dan memilih untuk
pulang.
“Nggak asik nih,
Yabu, Yuto, sama Takaki pulang!” dengus Inoo sambil menyender sofa. Hikaru
disampingnya tertawa. “Kalau begitu ikut pulang saja, segala ikut dengan kita.”
“Aku mau sama
Dai-chan dulu. Nanti kan aku pulang bareng Dai-chan.”
Pemuda pinguin disana
hanya manggut-manggut sambil menegak minumannya.
“Arrghhh!! Dari tadi aku ingin tanya! Ryosuke, Sebelum tampil di
Ongakusai tadi kau kenapa?!” Raungan dari member termuda itu membuat semua
perhatian teralih padanya. Yamada hanya menyeringai. “Apanya yang kenapa?”
“Kenapa balik bertanya?
Maksudnya apa minta duet denganku? Padahal seharusnya tampil sesuai grup
yang hompimpah!”
“Apa kau tidak senang?”
“Tidak! Ah-maksudku, bukannya tidak senang. Tapi aku merasa aneh. Semua acara kita sudah dijadwal
dan disusun. Aku nyanyi Gin Gira Gin-nya Tokio dengan Yuto, Yuya, dan
Inoo-chan, kau seharusnya nyanyi Garassu no Judai dengan Keito. Timnya jadi
ngaco! Dan kau debat dengan staff hanya karena ingin duet denganku. Setahuku
Ryosuke yang profesional dalam pekerjaannya tidak akan seperti itu di publik.”
Daichan dan Hikaru
masih senyum senyum sendiri sementara Keito, Yamada dan Inoo berlagak sok
polos.
“Tadi juga saat di
MezaBi! Tidak ada yang bertanya dan tidak sedang membahas bahas tentang kegiatanmu akhir
akhir ini, tapi kenapa bercerita tentang kencan kita? Kau bukannya paling nggak
suka hubungan kita diumbar terang-terangan begitu?”
Yang lain masih tak
merespon, hanya senyum-senyum seduktif.
“Dan yang paling
membuatku bingung.... Ryosuke, kau memelukku saat syuting PV Kira Kira Hikare.
Kenapa? Apa maksudmu? Kalau tidak ada kamera aku maklum. Tapi posisiku saat kau
peluk dari belakang itu sedang disorot dikamera! Dan kau tegang saat itu kan?
Aishhh..!”
Pertanyaan Chinen
yang terakhir langsung memecah gelak tawa para member yang ada. Daichan yang
paling kencang. Chinen kembali menggerutu. “Apaan sih?”
“Hikaru, coba
monomane-in, yang waktu itu.” suruh Inoo dengan nada banyol. Member bergingsul
itu dengan senang hati berdiri dan mengambil posisi—ia menuding Yamada.
“Orang sok cakep ini
nggak pernah romantis! Pasti selalu aku!”
Daichan menahan
mati-matian gelak tawanya saat Hikaru bersuara sok unyu. Belum cukup sampai
disitu, pemain bass tersebut menjulilngkan mata serta
meletoikan tubuhnya seperti orang mabuk lalu lanjut berucap,
“Ryosuke susah untuk
berkata atau berlaku romantis padaku di publik. Dia selalu mengelak! Dia
munafik! Dia malah menganggapku saingan jika di publik. Tapi berlaku
sangat baik pada Daichan atau Keito. Aku membencinya. Aku mau Ryosuke
menunjukan keromantisannya denganku di publik~ jangan aku terus~!!”
“BWAHAHAHAHA...!!
Astaga Hikka kontrol wajahmu! HAHAHAHA Sudah cukup! Perutku sakit HAHAHAHA!” Daichan memegang perutnya
sambil terbahak begitu pula Keito dan Inoo. Yamada masih tersenyum tenang
sementara wajah Chinen memerah sempurna.
“Sudah mengerti?”
Pemuda chubby itu merangkul kekasihnya dengan lembut. “Aku melakukan semuanya
atas permintaanmu.”
Chinen menunduk malu,
tak berusaha menyahut.
“Aku yang minta
syuting diundur sehari agar bisa berkencan denganmu dan menceritakannya saat
kita promosi album. Dan saat syuting PV aku juga sengaja menyuruh Kameramen-san
agar mengarahkan kamera padamu saat aku memelukmu dari belakang. Lalu untuk
Ongakusai... itu belum sempurna sebenarnya. Harusnya kita melakukan fanserpis
saat itu hehe.. tapi yasudahlah, yang penting kita berhasil duet. Sudah lama
aku ingin nyanyi berdua lagi denganmu di publik. Tidak di karokean. Makanya aku
meminta staff untuk tukar dengan Keito.” Jelas Yamada dengan nada lembut
sembari mengeratkan rangkulannya pada pemuda kesayangannya.
“Maaf...” Chinen
berucap lirih. “Maaf... aku egois.”
“Kau tidak egois. Aku
sadar aku memang tidak berani blak-blakan tentang hubungan kita di publik dan
membuatmu sedih. Jadi aku rasa yang kulakukan hari ini akan membuatmu senang.
Kau tidak egois, Yuri. Aku yang harusnya minta maaf karena kurang mesra
denganmu di publik.”
Chinen mengangkat
wajahnya dan membuat onix jernihnya bersibobrok dengan manik kecoklatan Yamada.
Mereka bertatapan sangat lama hingga akhirnya semacam nafsu mendorong tubuh
sang dominan untuk meniadakan jarak pada bibir mereka.
Satu detik. Dua..
sampai lebih dari lima detik.
“HOI! AYO KITA PULANG!”
Baru setelah Hikaru
berceletuk, pagutan mereka terlepas, meninggalkan warna maroon dikedua
pipi masing-masing.
“Nggak usah lepas...
lanjutkan saja. Kita cari tempat lain~” Daichan berdiri, begitu pula Keito.
“Awas jangan sampai kebablasan. Besok masih ada kerjaan lho.”
“Nah. Silahkan
senang-senang. Kita permisi~ ohoho~”
Keempat member itu
dengan sengaja meninggalkan ruang klab yang ditempati, menyisakan sejoli yang
kembali asik dengan dunianya.
“Jadi, mulai sekarang
kau mau membuka diri di publik denganku?” Chinen bertanya dengan mata berbinar.
“Ya. Kuusahakan
semampuku. Akan kuberikan banyak hint dan kemesraan denganmu di publik.”
“Kau yakin? Julie-san
bagaimana? Dia tidak suka hubungan kita. Lagipula, Yuto...”
“Nggak usah pikirkan
dia. Dan jangan bawa-bawa Yuto saat kau berdua saja denganku.” Nada Yamada
berubah ketus, Chinen tersenyum maklum. “Aku tak akan menuntut banyak untuk
itu. Tapi aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu.”
Yamada lantas
mengecup pipi Chinen dengan gemas, “Hari ini... dan seterusnya kita buat bukti
sebanyak-banyaknya bahwa kita pasangan sejati.”
“Ya!”
THE END
A/N : INI CANON PAKE BANGET~!!! POKOKNYA YAMACHII IS REAAAAL!! >w< Btw, ngetik ini sambil dengerin Rainbow Candy Girl trus diakhir Hika ngejek "Mattaku na~ udah sono kawin!" muahahah YAMACHII IS REAL~ //TEBARCAWETKENTO <3


0 komentar:
Posting Komentar