Judul : Jangan pergi
Pair : YamaChii always!
Author : Yang punya blog
Genre : Romance, SMOOTH (bukan smut haha)
Summary
: Apa kau tidak mencintaiku sampai-sampai akan pergi lama dan kita tidak boleh berhubungan? | Tidak Yuri, Tidak! | LALU KENAPA?!
Don’t
go~
.
.
.
.
Sekarang hari libur. Bukan libur untuk semua manusia tapi hanya untuk dua member Hey Say JUMP yang kini berada di apartemen sang bungsu.
Pemuda berambut kecoklatan sedang bersantai di sofa kesayangannya sambil mengutak-atik handphone. Ia mendongak dan mendengus, kemudian terfokus pada HPnya
kembali, kemudian mendengus lagi.
“Yuri!”
“.....”
Dan kini yang kesekian kalinya ia—Yamada Ryosuke—mendengus dengan bibir ditekuk.
“Aku datang kesini bukan untuk menontonmu bermain game!”
“...Ryosuke tidur saja. Aku belum mau kalah.” Sahut sebuah suara
yang tak lain adalah kekasihnya, Chinen
Yuri. Pemuda imut itu bahkan tak menatap Yamada dan tetap fokus pada playstation-nya.
“Yuri!”
“.....”
“Hitungan ketiga kau tak mematikan gamemu, aku akan pergi!”
“......”
“......”
“Satu.. Dua... Ti—”
“Mau kemana memangnya?” disahut, masih sambil bermain game.
“Kemana saja! Kencan dengan Dai-chan mungkin?”
“Terserah.”
Oh tidak, kata itu lagi. “ck, ayolah, Yuri...!”
“.....”
Yamada tak tahan lagi dicueki kekasihnya hingga akhirnya ia bangkit dari sofa untuk beralih
pada LCD raksasa yang sedang dipelototi Chinen lalu segera memutus listriknya.
“RYOSUKEEEE!!!”
“APA?!”
Mereka saling beretriak. Tapi aura Yamada lebih mendominasi.
“Aku datang ke apatomu untuk melakukan hal yang romantis dan bukan untuk melihatmu main game atau numpang tidur disini!”
Mereka saling beretriak. Tapi aura Yamada lebih mendominasi.
“Aku datang ke apatomu untuk melakukan hal yang romantis dan bukan untuk melihatmu main game atau numpang tidur disini!”
Chinen merengut kesal sambil membanting gagang playstasionnya. “Tapi tadi
sedikit lagi aku menang! Ini game terbaru dan kau membuatku harus mengulangnya
dari level satu!”
“Kau bisa menangkan itu dengan mudah nanti!"
“Tetap saja itu mere—”
“Shh,... sekarang kesini dulu,” Yamada menarik lengan Chinen untuk duduk di sofa yang tadi.
“Tetap saja itu mere—”
“Shh,... sekarang kesini dulu,” Yamada menarik lengan Chinen untuk duduk di sofa yang tadi.
“Kenapa?” Alis Chinen terangkat satu.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur, oke?”
Kali ini alisnya terangkat dua. “Kenapa, sih?” Ada perasaan takut saat
kekasihnya mulai menginterogasi seperti ini. Ia tahu benar bahwa Yamada sangat
posesif sehingga otaknya cepat berpikir apa yang ia lakukan sebelumnya.
“Kalau aku harus pergi dan tak
boleh berhubungan denganmu selama dua tahun, apa kau akan menungguku?”
Benar saja, jantung Chinen langsung berdegup. “A-apa maksudmu?”
“Jawab saja.”
“Tidak bisa begitu! Harus ada alasannya! Kau mau putus denganku? Atau kau
mau keluar dari Hey! Say! JUMP?!”
“Tidak.. tidak..” Yamada langsung menggenggam jemari Chinen, menenangkan.
“Lalu kenapa?”
“Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Semisal aku harus pergi untuk suatu kewajiban
selama dua tahun, apa kau akan menungguku dan takan bermesraan atau berpaling
dengan siapapun?”
Chinen terdiam.
“Yuri, jawab aku.”
Chinen tetap diam seraya menatap lekat manik kecoklatan kekasihnya, barang
kali disana ada jawaban.
“Apa kalau kau diam itu artinya tidak?” Terka Yamada hati-hati, semakin
mengeratkan genggaman.
“Ya kau pikir saja sendiri. Untuk apa aku menunggu orang yang
meninggalkanku?”
Mata Yamada membulat. “Kau tidak mencintaiku?”
“Aku yang seharusnya tanya. Apa kau tidak mencintaiku sampai-sampai akan
pergi lama dan kita tidak bisa lagi berhubungan?”
“.....”
“Ryosuke, kalau kau sudah bosan denganku bilang saja.”
“Bukan be—“
“Kalau kau ingin pergi kelain hati bilang saja.”
“Sudah kubilang bukan be—“
“Lalu kenapa?!”
Kedua mata Yamada kembali membola saat melihat genangan air di pelupuk mata
Chinen. Mereka belum tumpah, belum. Chinen menahannya mati-matian namun
akhirnya merembes ke pipi saat Yamada memeluk tubuh mungilnya teramat erat.
“Aku mencintaimu, Yuri. Aku tidak akan berpaling. Jangan sekalipun berpikiran
begitu dan jangan tunjukan air matamu atau aku tidak akan memaafkan
diriku sendiri.” Ujar Yamada lirih disaat memeluk kekasihnya. Chinen tersenyum apik,
membalas rengkuhan Yamada.
“Jadi, jawabanmu tidak akan menungguku?” Simpul Yamada seusai berpelukan.
“Iya. Aku tidak mau sendiri. Kalau kau pergi karena tidak mau
denganku lagi... Yuto, Keito, atau Yuma pasti segera menembakku. Aku tinggal pilih
salah satu dari mereka hehehe...”
“APA KAU BILANG?!” Yamada berdiri dan melotot. “Segampang itu kau pindah
kelain hati!? Dan kau sebut siapa tadi? YUTO? Kau dengan si Tiang itu? TIDAK
AKAN KUBIARKAN!”
“Ahahaha... kau sendiri, segampang itu pergi meninggalkanku? Kalau tidak
mau aku dengan Yuto ya jangan tinggalkan aku.”
“Mouuu Yuriiii! Itu kan hanya pengandaian!
Lagipula sudah kuberi tahu kalau itu kewajiban!”
“Tetap saja. Aku tidak mau sendiri. Kalau kau mencintaiku, aku akan lebih
mencintaimu. Kalau kau meninggalkanku, aku akan melakukan hal yang sama dan
melupakanmu dengan lapang dada. Mereka bilang, Chinen Yuri tak pantas bersedih.
Aku harus bahagia, Ryosuke.” Diakhir kalimatnya, Chinen tersenyum. Begitu indah
sampai sampai Yamada ingin menciumnya saat itu juga.
Dan Yamada benar melakukannya.
“Ugh.... Jangan tiba-tiba!” Protes Chinen seusai Yamada menyesap bibir ranumnya.
“Kau terlalu menggiurkan.”
“Mouuu..!”
Yamada duduk kembali disofa kesayangannya, merangkul Chinen mesra. “Kalau
jawabanmu begitu, aku bersyukur aku orang Jepang dan bukan orang Korea.”
“Hah?”
“Ah, bukan apa-apa hehe.. yasudah, lupakan saja pertanyaan gila tadi. Camkan
saja bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan.”
“Ngomong apa sih? Aku selalu camkan itu baik-baik selama kau tetap bersamaku.”
Mereka kembali berciuman. Dilanjut dengan permainan seduktif yang hanya
bisa kau pikirkan sendiri.
Oh omong-omong, mereka bermain di
sofa kesayangan Yamada.
=THE END=
A/N : Ini apa bahahaha... harusnya
judulnya ‘Sofa kesayangan’ ya? Lol.

0 komentar:
Posting Komentar