Judul : Hajimaru no Melody
Author : Kiwok
Pair : YamaChii as usual <3
Genre : Comedy, Smut(?), NC-17
Summary : Awal mula sebuah melodi;
itu adalah melodi yang sangat indah bagi Yamada Ryosuke. Melodi yang sangat
merdu. Melodi yang sangat nikmat didengar. Karenanya, ia tidak pernah menyesal
memiliki Chinen Yuri.
PS : dibaca sambil dengerin Hajimaru
no Melody oke? Harus dengerin itu! XD
Enjoy!
.
.
.
Chinen terperanjat ketika membuka pintu apartemennya. Hari ini ia libur
kerja tapi nanti malam ada acara untuk promosi movienya dengan Uchimura-sensei di
salah satu stasiun TV, sehingga si mungil itu berniat istirahat sampai setidaknya petang hari. Tapi
momen istirahatnya musti terusik ketika di depan pintu apartemennya kini berdiri sesosok cantik yang menyeringai aneh.
“Boleh aku masuk?”
Chinen berkedip cepat sebelum mengangguk dan membiarkan sosok itu memasuki
kediaman pribadinya.
Awalnya Chinen mengira itu Yamada atau Keito atau salah satu membernya.
Tapi ternyata salah. Yamada tidak mungkin memencet bel karena Ryosukenya itu
memiliki kunci dublikat untuk bisa langsung masuk tanpa meminta izin Chinen,
sementara member lain pasti menghubunginya terlebih dulu.
Jadi wajar bila Chinen sekarang sangat bingung ketika mengetahui yang bertamu adalah
senior di agensinya.
...Tegoshi Yuya.
=:=
“Astaga, apartemenmu kosong sekali, Chinen-kun!”
Chinen memutar bola matanya saat menutup apartemen. “Kenapa Tegoshi-kun
ke rumahku?” tanyanya sambil bersilang tangan di depan dada.
Tegoshi tersenyum manis. “Apa aku tidak boleh mengunjungi juniorku?”
“Ya.. bukan begitu sih,” mata Chinen kini melotot saat senior cantiknya itu
seenaknya menghempaskan pantat di sofa panjang yang biasa ia duduki. Langsung
saja ia lontarkan protes.
“Tegoshi-kun, duduknya di kursi ruang tengah saja. Jangan di sofa itu!”
“Kenapa?” Center NEWS disana
menyeringai, “apa karena ini sofa kesayangan Yamada-kun yang diberikan padamu?”
“TI—“ bagaimana dia bisa tahu?!
“Ahahaha... Ekspresimu benar-benar menggemaskan, Yuri!”
Chinen langsung mendengus, kurang suka dengan panggilan itu. Selain keluargaku yang boleh memanggil ‘Yuri’
hanya Ryosuke atau Ohno-kun, tahu!
Tegoshi tiba-tiba melambaikan tangannya—mengisyaratkan agar Chinen duduk
disampingnya. “Kesini dulu. Aku ingin bertanya.”
Si imut itu tanpa sadar menurut.
“Kau tahu, dari semua juniorku, aku paling tertarik denganmu.” Cetus
Tegoshi setelah Chinen duduk disampingnya, ia bahkan merangkul Chinen dengan sangat 'biasa' lalu melanjutkan kalimatnya. “Meski
aku tahu itu sia-sia karena kau hanya akan menyukai Ohno-kun sebagai senior
yang paling kau segani.”
Chinen meringis.
“Tapi itu tak apa-apa. Justru itu yang membuatku semakin tertarik padamu.”
Chinen mulai menangkap nada asing pada kalimat seniornya, ia lalu
mengernyit. “Tertarik sebagai junior saja kan?”
“Oh,” Tegoshi kembali menyeringai, “ada ketertarikan lain juga.”
“Sayang sekali kalau begitu. Aku
sudah punya Ryosuke.”
Detik selanjutnya, tawa Tegoshi menggelegar ke seantero apartemen Chinen.
=:=
“Tidak mau! Apa-apaan itu?!”
“Oh ayolah, Chinen-kun. Aku tahu kau ingin menceritakan itu.”
Chinen merengut tak suka dengan permintaan Tegoshi. Si imut itu tentu saja
menolak mentah-mentah meski Tegoshi terus memaksa.
“Aku hanya memintamu bercerita. Tidak memintamu mempraktekannya di depanku.
Lagipula, Ryosukemu itu tidak disini.”
Tegoshi kembali tertawa sementara Chinen melotot tak percaya.
“Itu hal pribadi, Tegoshi-kun! Tidak akan kuceritakan!”
“Pribadi?” mata Tegoshi langsung menjereng. “Kau pikir aku bodoh, huh? Tiap
kali melihatmu aku bisa langsung tahu kalau kau ingin memberitahu pada dunia
tentang apapun yang berhubungan dengan Yamadamu itu!”
Glek.
“Yamada-kun juga sama saja! Sehebat apapun dia berekting, aku tetap bisa
langsung tahu kalau dia ingin bilang pada dunia tentang hubungannya denganmu.
Dan jangan lupakan momen-momen kalian di majalah yang teramat ambigu itu. Aish,
apa susahnya bilang kalau kalian bercinta di apartemen Yamada-kun hampir tiap
malam?”
BLUUUSSSSHHH
Wajah Chinen sukses memerah.
“Pakai alasan begadang main game
segala. Oh, asal kau tahu aku hampir meninju wajah Massu waktu dia cerita padaku
kalau kau dan Yamada-kun hanya akan main game di apartemen!”
Tegoshi mengatur nafasnya sebelum lanjut berceloteh. “Kebanyakan Johnny’s berpikir
kalian sangat dekat sebagai sahabat atau paling banter sebagai kakak-adik. Kalau pun pacaran mereka berpikir tidak akan sampai ketahap yang serius.
Tapi bullshit, kalian tidak bisa
menipuku. Aku ini Tegoshi Yuya. Jadi cepat ceritakan saja semuanya padaku agar
kau puas. Sekarang!”
Chinen menutup wajahnya yang memerah. Apa yang dilontarkan seniornya barusan
seratus persen tepat. Chinen tidak bisa tidak menceritakan tentang kekasihnya,
tentang Ryosuke-nya pada publik. Se-implisit apapun, ia usahakan akan
menceritakan hubungannya di publik. Sama halnya dengan Yamada. Tapi karena Penggila Stawberry itu lebih pandai mengeles jadi publik dan Johnny’s lain berpikir
mereka hanya sahabat atau maksimalnya sebagai kakak-adik.
“Cepat, Chinen-kun! Atau kau kutelanjangi kausekarang!”
Chinen kembali mendelik dan memisuh. “Kau ingin aku cerita yang mana
memangnya?”
“Kau?” Tegoshi menarik salah satu ujung bibirnya. “Oke tak apa, karena
Chinen Yuri adalah junior kesukaanku, kuizinkan tidak memanggilku dengan
formal.”
“Ah maaf. Tegoshi-kun ingin aku memulai cerita darimana?”
“Dari awal kalian jadian, sampai kalian... melakukan hubungan seks yang
pertama kali.”
=:=
Yamada Ryosuke menyatakan cinta pada Chinen Yuri dihadapan sepuluh ribu
penonton pada 16 Januari 2011 silam. Saat itu Hey Say JUMP sedang mengadakan
konser Winter Tour. Saat itu juga masih ada sepuluh member. Yamada dan
Chinen pun masih kelas dua SMA.
Yang paling menyadari keintiman Yamada serta Chinen adalah Hikaru. Jadi wajar
bila komedian bergingsul itu memaksa Yamada untuk menyatakan cinta pada Chinen
saat konser.
“Yuri, aku mencintaimu lebih dari apapun yang ada didunia ini. Begitu.”
Tegoshi mengangguk-angguk, paham. “Lalu?”
“Kita belum berhubungan intim waktu itu. Karena masih sekolah dan masih
tinggal dengan keluarga.”
“First Kiss?”
“Itu.. dari SMP.” Ujar Chinen malu-malu. “Dia sudah menciumku waktu kita
duduk dibangku kelas tiga SMP. Memasuki SMA dan sampai sekarang sudah tak
terhitung berapa kali.”
Tegoshi terus mendengarkan.
Yamada dan Chinen lulus SMA tahun 2012 dan disaat itu hubungan mereka
agaknya retak karena ada masalah dengan menejemen agensinya.
YamaJima era. Dan itu cukup membuat kondisi Chinen down.
“Aku sampai tidak nafsu makan sama sekali karena itu.”
“Aku ingat, kau jadi sangat kurus. Tapi Yamada-kun bilang bahwa itu hanya
ekting dan rencana agensi kan?” tanya Tegoshi. Chinen mengangguk pelan.
“Ekting Ryosuke waktu itu benar-benar menyakitkan, apalagi ketika di konser
mereka melakukan itu tepat di depanku.” Chinen menghela nafas sebentar, “meski
aku tahu yang lebih tersiksa sebenarnya dia karena disuruh bermesraan dengan
orang yang dia benci.”
“Ah iya rumornya begitu kan?”
“Itu bukan rumor, Ryosuke dan Yuti memang musuhan sejak junior. Sampai
sekarang biarpun tidak pernah bertengkar lagi tapi masih terlihat aura
saingannya.”
“Hmm..”
Hingga akhirnya ditahun 2013 Yamada memutuskan membeli apartemen sendiri. Dan
disaat itu juga Yamada mengadakan pesta ulang tahun romantis untuk Chinen yang
berumur 20 tahun.
“Sekaligus berdamai dengan Yuti dan mempererat hubungan Seven katanya. Tapi
tetap saja sih, hanya aku, Ryosuke, dan Keito yang bisa akrab. Yuti selalu
punya urusan lain di privat.”
“Lanjut ke hubungan kalian saja. Apa yang Yamada-kun beri padamu waktu
ulang tahun ke 20?”
“Sebuah cincin perak berinisial R.Y”
“Ryosuke Yamada?”
“Ryosuke Yuri.” Ralat Chinen.
“Oke, lalu kapan berhubungan intimnya?”
Kembali, wajah Chinen memerah hebat.
=:=
Yamada membeli apartemen yang bisa dibilang cukup mewah untuk Johhny’s diumurnya yang ke-20 tahun, padahal rata-rata seniornya baru akan membeli
apartemen setelah berumur 25 tahun keatas. Tapi Yamada sukses lebih dulu.
Sebagain besar uang yang ia belikan apartemen adalah hasil syuting Risou no
Musuko dan penjualan single Moonlight serta Mistery Virginnya.
“Aku mohon, Yuri...”
“Ya?”
“Lakukan itu denganku.”
Jantung Chinen seakan melompat keluar saat kekasihnya meminta berhubungan
intim. Ketika itu keadaan benar-benar sepi karena Chinen sedang berkunjung
sendiri ke apartemen Yamada. Melihat keraguan dimata Chinen, Yamada lantas
menggenggam erat kesepuluh jemarinya.
“Aku akan pelan-pelan!”
“....”
“Aku sudah belajar.”
“....”
“Kau percaya aku tidak akan menyakitimu kan?”
“Aku percaya, Ryosuke. Aku percaya.. tapi..”
“Tapi?”
“Besok kita ada latihan dance untuk single Come On a My House, kan? Kalau
aku tidak bisa jalan bagaimana? Ah tidak, Inoo-chan bilang jika yang pertama,
dudukpun tidak bisa.”
Yamada menjatuhkan dagu sambil meremas kesepuluh jari Chinen. Ia kecewa.
=:=
Tegoshi tertawa kembali. Lebih menggelegar dari sebelumnya.
“Jadi hubungannya ditunda?”
“Yah.. begitulah. Sekitar dua minggu. Sampai selesai syuting MV dan
promosi.”
“Terus?”
=:=
Member Hey Say JUMP yang lain sampai menyuruh Yamada dan Chinen melakukan itu segera. Termasuk Yuto. Karena
tingkah Yamada semenjak bebas dari YamaJima era benar-benar pervert terhadap Chinen. Ia sangat
bersemangat dan langsung mengajak Chinen menginap di apartemennya untuk yang
pertama kali. Beruntung sekali kerjaan sudah selesai sehingga mereka dapat
libur seminggu sebelum mengadakan konser Zenkoku.
“Eugh—“
Bibir Yamada bertahan sangat lama di bibir Chinen. Tidak hanya ditempelkan
namun Yamada mulai bermain disana, memasukan lidahnya pada rongga mulut Chinen.
“Eunghhh—“
Disesap, disapih, lidah Yamada sangat aktif bermain disana.
“Ryo—sukeh—sesak...”
Untungnya Yamada juga masih butuh bernafas.
“Kita kekamar ya?”
“Hmm...”
Yamada segera memapah Chinen menuju king
bednya. Membaringkan Chinen disana dengan teramat lembut.
“Sebentar,” Pelantun Misuva itu berlari menuju meja rias. Mengambil sesuatu
yang diketahui sebuah liquid lubricant
sebelum kembali pada Yurinya.
“Ryosuke, kau benar-benar sudah belajar kan?”
“Tentu. Astaga, kau tidak percaya padaku? Atau kita nonton videonya dulu?”
Chinen menggigit bibir bawahnya, ragu. “Ti—tidak usah... aku percaya pada
Ryosuke.”
“Kita mulai?”
“Ya.”
“Kau tahu aku mencintaimu lebih dari apapun, Yuri.”
“Aku tahu dan aku juga.”
=:=
Yamada mencium Chinen kembali. Lebih intim dan tidak hanya di bibir. Ia
menciumi seluruh wajah Chinen dengan kidmat hingga sampai di leher, Yamada
menyesap bagian itu sepenuh hati.
“Eunghh—Ryosuke—aahh—janganhh—disitu...!“
“Kenapa?”
“Akhh—akan menimbulkan bekas—ugh.. Ryosukee...”
“Tidak akan terlihat.” Yamada tersenyum usil. “Kita akan mengadakan konser
dua minggu lagi. Aku sudah mengecek kostumnya dan itu sangat tertutup. Keadaan dome juga pasti remang-remang.”
Chinen mengangguk mengerti sampai ia kembali melenguh saat tangan Yamada
mulai bergerilya di dada Chinen.
“Ryosuke—hhh... eughh...”
“Suka?”
“Eunghhh—” Chinen hanya melenguh. Semakin membuat Yamada gencar memainkan
tangannya. Member terpenting itu perlahan membuka satu persatu kancing baju
Chinen hingga dada sang kekasih terekspos semua.
“AAAKKHH—“
Chinen cepat-cepat menutup mulutnya saat berteriak karena Yamada tiba-tiba
menyesap dada kirinya. Yamada terkekeh dalam hati sambil tangannya melepas
tangan Chinen dari bibir manisnya.
“Teriakan saja. Aku ingin dengar suara itu, Sayang.”
“Ahh—Ryosukeh—“
Puas di dada kiri, Yamada pindah ke yang kanan.
“Ughh.... Aku sudah sempit Ryosuke—hhh...“
Yamada tertawa pelan. “Maaf, maaf,” ia lalu membuka resleting celana
Chinen, kembali ia tertawa. “Yuri kecil sudah bangun rupanya.”
“Ughh.. tidak lucu. Kau curang! Lepas bajumu juga.”
“Hmm.. berniat membantuku melepaskannya?” tawar Yamada dengan seringai.
Chinen mengerti dan mulai melepas pakaian atas Yamada, tak lupa pula celananya.
“Oh astaga!”
Yamada tersenyum melihat reaksi Chinen.
“Kau belum bangun kan, Ryosuke?”
“Belum.”
Chinen meneguk ludah, gugup. Milik Yamada belum bangun sama sekali tetapi
terlihat sangat penuh di balik celana dalam yang ia kenakan. Membayangkan kalau
sudah bangun bulu kuduk Chinen langsung meremang.
“Buat aku bangun dulu bagaimana?”
“EH!?”
“Oh ayolah, kalau aku belum bangun tidak bisa masuk kan?”
Serasa ada uap yang keluar dari kedua telinga Chinen, jantungnya kini berdebar puluhan kali lipat. Pemuda imut itu menelan luduh dahulu sebelum tangannya membuka celana dalam Yamada pelan-pelan.
“Oh shit!”
Dan ia mengumpat.
“Kenapa, Yuri?”
“Kau tanya kenapa? Ini sangat besar Ryosuke!”
Yamada tersenyum. “Kau suka?”
“Menurutmu?” Chinen justru merutuk. “Kau tahu lubang itu sangat kecil dan
tidak terlalu elastis seperti yang dimiliki wanita.”
“Sshh... aku akan pelan-pelan...” Yamada mengelus kepala Chinen penuh
sayang. “Baiklah kalau begitu aku dulu yang membangunkanmu.”
“Ugh, aku sudah bangun!”
“Biar lebih bangun lagi.”
Yamada membaringkan Chinen kembali dan mulai membuka celana dalamnya.
Membebaskan si kecil yang terperangkap kain segitiga milik Chinen.
“Akhh..!! Ryosuke—hhh...” ada perasaan aneh ketika miliknya digenggam oleh
sang kekasih. Chinen menggeliat di atas kasur.
“Jangan rapatkan kakimu, Sayang. Buka yang lebar.”
Chinen menurut dan membuka kakinya. Yamada membuka botol pelumas yang sudah
dipersiapkan dan mengoleskannya pada milik Chinen.
“Eunghhnn—Ryosuke..hhh..”
“Dingin ya?”
“Umm...”
“Ini yang pertama kali kita bermain. Katanya harus menggunakan pelumas
banyak banyak.”
Yamada juga menuangkan cairan pelumas itu pada miliknya dan yang terakhir
pada lubang Chinen.
“Kau siap?”
“Unghhh..” Chinen menggigit bibir bawahnya kembali.
“Tenang, aku akan pakai jari dulu. Relax, Sayang..”
Yamada memasukkan satu jari kelingkingnya. Dimulai dari jari yang paling
kecil.
“Ahhhnn—rasanya tidak nyaman...“
Chinen melenguh seraya tangannya meremas sprei.
“Sakit tidak?”
Chinen menggeleng.
“Baguslah...” Yamada kini memasukan jari manisnya. Chinen kembali melenguh.
“Pe-perih Ryosuke...hhh—“
“Lubangnya mulai terbuka. Aku tahu ini perih. Sabar...”
Yamada memasukan kedua jarinya lebih dalam. Remasan Chinen pada sprei
semakin kuat.
“Aku akan ganti jari menjadi telunjuk dan tengah. Kau harus relax, Yuri.
Kalau kau tegang rektummu terus mengkerut sehingga susah dibuka.” Ucap Yamada
lembut. “Aku tidak akan menyakitimu karena aku mencintaimu,” dominannya mengecup
singkat bibir Chinen sebelum mengganti jari.
“Aaaakhhh—periiiih...”
“Kubilang relax...”
Chinen mencoba relax ketika jari telunjuk dan tengah Yamada semakin masuk
kedalam. Mengetahui kekasihnya sudah relax, Yamada membuat gerakan simpel
didalam sana, membentuk kedua jarinya menjadi gunting untuk memperlebar jalur
masuk.
“Akh!”
Disana. Yamada tersenyum. “Aku sudah menemukan titik
nikmatmu.”
“A—aku merasakannya. ahhhhnn—langsung mulai saja Ryosuke..hh..”
“Kau yakin?”
“Yakin.”
“Baiklah...”
Yamada mengelurkan kedua jarinya dan kembali mengoleskan lubricant banyak-banyak
pada miliknya dan lubang Chinen.
“Aish, aku lupa kalau baru setengah bangun, Yuri.”
“Oh astaga...” Chinen duduk perlahan dan langsung meraih milik Yamada.
“Maaf, Ryosuke. Aku bangunkan dulu.”
Chinen memijit itu dengan lembut, kemudian pijatannya mulai menguat. Yamada
melenguh pelan dan langsung menarik tengkuk Chinen untuk mendapatkan ciuman
mesra. Tanpa melepas tautan dimulut, Chinen terus memijat milik kekasihnya.
“Sudah cukup bangun?”
Yamada terkekeh pelan diselingi engah-an, “aku bangun seutuhnya. Kau
lihat?”
Pandangan Chinen ke bawah, ia segera menutup mulut. “Sudah kuduga. Kau
sangat besar.”
“Tentu saja. Aku Yamada Ryosuke. Bahkan aku lebih percaya diri ketimbang
Yabu-kun atau Yuto.”
Chinen tertawa. “Aku percaya... percaya...”
“Nah.. berbaringlah. Biar aku yang mulai. Kau harus relax, oke?”
“Oke.”
Chinen kembali rebahan. Sebisa mungkin relax ketika ia mulai merasa ujung
junior Yamada menempel pada jalur masuknya.
“AAAAAAAAAAKHHHH—Ryosuke, SHIT! PELAN-PELAN!”
Yamada terperanjat. Teriakan Chinen benar-benar membuatnya kaget. “Astaga,
Yuri! Kau mengagetkanku! Aku bahkan belum masuk! Ini baru kepalanya!”
“hiks... pelan-pelan...
sakiiiit....”
“Iya aku akan pelan-pelan.”
Yamada mulai mendorong dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Ia sudah
diberi tahu Yabu bahwa yang pertama itu sangat sakit. Terlebih karena miliknya
bisa dibilang besar untuk lubang Chinen yang sangat sempit. Oh ayolah, tubuh
kekasihnya itu saja sudah mungil apalagi lubangnya.
“Akhhnnn—ah ahhh... Ryosuke.... aaaaakhhh..” Chinen memekik. Kemudian
tercekat. “Sa-sakiiit.. akkhhn—sakit sekali, Ryosuke..hhh—“
Yamada menghentikan dorongannya. Ia mencium Chinen lembut sembari mengusap
air mata yang turun dimata indahnya. “Tahan sebentar lagi, oke? Aku baru masuk
setengah.”
“Tapi ini sakit sekali... akhnn...”
Penggila Stawberry itu mengesah lemah. “Baiklah.. kalau begitu kita tidak
teruskan saja ya? Aku tidak tega.”
Chinen terkesiap. “Bu—bukan begitu, Ryosuke-hh..”
“Tapi kau terus kesakitan. Aku tidak tega.”
Chinen ingin merutuk kalau bisa. Tapi situasinya tidak tepat. Oh andai yang
merasakan dimasuki Yamada dan bukan Chinen. Itu benar-benar sakit asal kau
tahu.
Yamada bergerak lagi, hendak mengeluarkan miliknya yang baru masuk
setengah.
“Akhnn—hhh jangan! Ja-jangan dikeluarkan... la—lanjutkan saja..ahh..” ucap
Chinen susah payah. Tangannya menahan pinggul Yamada yang akan menarik
juniornya keluar. “La-lanjutkan Ryosuke—hh...”
“Tapi kau—“
“Aku tak apa. Akan kutahan.”
“Yuri...”
“Tidak apa-apa, Ryosuke.”
“Aku tidak mau menyakitimu.” Yamada menunduk untuk menautkan kembali mulut
mereka. “Aku sangat mencintaimu.”
“Aku lebih sangat mencintaimu. Jadi, masukan sekarang. Nanti kau pegal.”
Yamada mengangguk mengerti dan lalu mulai mendorong kembali.
“Ahnn.. tak apa Sayang.. teriak saja..” ucapan sang kekasih membuat Chinen
tak menahan erangannya. Kedua kaki si imut itu ditahan Yamada agar tidak
menutup, ia kemudian merunduk untuk menangkap bibir Chinen sembari terus mendorong.
“Ahhh.. sudah—masuk—hh..” Yamada tersenyum puas. Ia mencium Chinen kembali,
membiarkan bungsu di JUMP itu mengambil nafas dulu banyak-banyak.
“Kau tahu, ini perih sekali, Ryosuke.”
“Aku tahu. Aku bisa merasakannya...”
Chinen merengut. Bohong!
“Apa aku sudah boleh bergerak?”
“Pelan-pelan..”
“Aku janji.”
Yamada memulai permainannya. Bergerak maju-mundur dengan sangat hati-hati.
Chinen masih mengerang kesakitan. Tapi kemudian Yamada bisa mendengar lenguhan
nikmat dari kekasihnya.
“Ryosukeee—hhhh...akh!”
“Hmmm..?”
“Le-lebih—hh cepat-hhh...”
Yamada menyeringai dan mulai mempercepat tempo juniornya. “Oh shit, Yuri! Kau benar-benar sempit!”
“Akhnn... ini—hh yang pertama—Bodoh! Tentu saja-hh...”
“Ah, aku tak akan membiarkan yang ini menganggur.”
“Akh!!!”
Yamada meraih milik Chinen yang mengacung. Tak lupa bermain dikedua bolanya hingga
milik si imut itu mengeluarkan cairan banyak-banyak.
“Akh!! Akhhh Ryosuke—hh aku mau keluar!”
“Keluarkan sama-sama-hhnn..” Yamada semakin bergerak cepat didalam, juga
menggerakan milik Chinen lebih cepat.
Hingga mereka saling meneriakan nama masing-masing saat merasakan titik kenikmatan.
“Ryosuke!”
“Ahnn—tenang-hh.. aku tidak akan menimpamu.” Senyum Yamada terkembang
sempurna, ia menahan tubuhnya dengan kedua lutut dan satu tangan. Sementara tangan
satunya mengelap peluh di dahi Chinen. “Suaramu indah sekali.”
Chinen tersenyum lemah.
“Benar-benar indah. Itu melodi yang paling indah yang pernah kudengar.
Lenguhanmu... eranganmu...”
“Cukup gombalannya, Ryosuke-hh.. kau tidak mau—ahnn—keluar..?”
Yamada menyeringai. “Apa kau tidak merasakannya didalam sana, hm?”
Chinen terkesiap. “Astaga.. kau masih keras?”
“Ronde kedua, Yuri. Kali ini tidak akan sesakit tadi dan lebih nikmat.”
“Akhhhnnnn....hhh!”
=:=
. . .
. . .
.
“Jadi... begitulah.”
Tegoshi tak kuasa menahan seringai mesumnya setelah Chinen bercerita. “Aku
tak menyangka Yamada-kun sepervert
itu. Baru pertama main tapi sampai tiga ronde.”
Bohlam mata Chinen berputar. “Dia lebih dari pervert.”
“Ohya? Apa kalian pernah bermain BDSM?”
Chinen menggeleng langsung. “Tidak. Aku yang tidak mau. Dan dia mengerti
meski sebenarnya ingin. Tapi aku tidak mau. Lagipula... itu kekerasan.”
Tegoshi tertawa. “Ayolah, Chinen-kun! Itu sama saja.”
“Beda.” Aura Chinen menggelap. “Aku tidak sudi bermain kasar. Paling kasar
yang kuterima hanya sex toys. Itu juga karena disarankan Inoo-chan dan hanya sekali. Seterusnya tidak lagi.”
“Tapi kalau bermain dengan berbagai posisi sudah kan?”
“Sudah.” Dengus Chinen. “Dan dia selalu mencoba membuat posisi aneh saat
bercinta.”
Tegoshi kembali tertawa.
“Sudah kuceritakan apa yang Tegoshi-kun minta jadi lebih baik sekarang kau
pu—“
“Sayangnya aku tidak hanya ingin mendengarkan ceritamu.” Pemuda cantik itu
melirik ke bawah Chinen, kemudian terkekeh anggun. “Hanya dengan bercerita saja
kau tegang? Wow.”
Darah Chinen langsung berdesir ke wajah. Kembali ia memerah hebat.
“Be-berisik! Sudah sana Tegoshi-kun pulang!”
“Ahahaha... bagaimana kalau kita bermain seben—“
Chinen tak ambil pusing bila dikatai kurang ajar terhadap seniornya sehingga ia
menarik lengan Tegoshi dan membawanya keluar dari apartemen. “Jangan mengumbar yang
tadi kuceritakan pada siapapun, oke?”
BLAM!
Pintu apartemenpun tertutup rapat, menyisakan Chinen yang terduduk lemas
dibalik pintu.
“Ugh.. sialan.... kenapa harus bangun disaat seperti ini!”
Chinen susah payah berjalan mengambil HP-nya di ruang tengah, hendak
menelpon kekasihnya.
“Ya?”
“Ke apartemenku sekarang, Ryosuke!”
“Eh? Kenapa?”
“Eunghh... cepat ke apartemenku sekarang—ahhhnn..”
“Jangan bilang... melodi itu...”
“Ryosuke, CEPAT!”
“Melodi yang sangat kusukai. Ahahaha...
aku datang, Sayang!”
Seketika Chinen melupakan jadwal kerjanya nanti malam. Hei, Yamada tidak
akan bermain satu ronde, ingat?
=END=
A/N : SELESAI. Ini ff NC yamachii
yang ke tiga kalau tidak salah wwwww. Dan ini... lima halaman full hanya untuk
desahan wkwk. Semoga suka untuk para member baru di grup YamaChii WA >w<

1 komentar:
Posting Komentar