Senin, 18 April 2016

はじまる の メロディー

Diposting oleh Kiwokchwan di 23.55
Judul : Hajimaru no Melody

Author : Kiwok

Pair : YamaChii as usual <3

Genre : Comedy, Smut(?), NC-17

Summary : Awal mula sebuah melodi; itu adalah melodi yang sangat indah bagi Yamada Ryosuke. Melodi yang sangat merdu. Melodi yang sangat nikmat didengar. Karenanya, ia tidak pernah menyesal memiliki Chinen Yuri.

PS : dibaca sambil dengerin Hajimaru no Melody oke? Harus dengerin itu! XD

Enjoy!
.
.
.

Chinen terperanjat ketika membuka pintu apartemennya. Hari ini ia libur kerja tapi nanti malam ada acara untuk promosi movienya dengan Uchimura-sensei di salah satu stasiun TV, sehingga si mungil itu berniat istirahat sampai setidaknya petang hari. Tapi momen istirahatnya musti terusik ketika di depan pintu apartemennya kini berdiri sesosok cantik yang menyeringai aneh.

“Boleh aku masuk?”

Chinen berkedip cepat sebelum mengangguk dan membiarkan sosok itu memasuki kediaman pribadinya.

Awalnya Chinen mengira itu Yamada atau Keito atau salah satu membernya. Tapi ternyata salah. Yamada tidak mungkin memencet bel karena Ryosukenya itu memiliki kunci dublikat untuk bisa langsung masuk tanpa meminta izin Chinen, sementara member lain pasti menghubunginya terlebih dulu.

Jadi wajar bila Chinen sekarang sangat bingung ketika mengetahui yang bertamu adalah senior di agensinya.

...Tegoshi Yuya.

=:=



“Astaga, apartemenmu kosong sekali, Chinen-kun!”

Chinen memutar bola matanya saat menutup apartemen. “Kenapa Tegoshi-kun ke rumahku?” tanyanya sambil bersilang tangan di depan dada.

Tegoshi tersenyum manis. “Apa aku tidak boleh mengunjungi juniorku?”

“Ya.. bukan begitu sih,” mata Chinen kini melotot saat senior cantiknya itu seenaknya menghempaskan pantat di sofa panjang yang biasa ia duduki. Langsung saja ia lontarkan protes.

“Tegoshi-kun, duduknya di kursi ruang tengah saja. Jangan di sofa itu!”

“Kenapa?” Center NEWS disana menyeringai, “apa karena ini sofa kesayangan Yamada-kun yang diberikan padamu?”

“TI—“ bagaimana dia bisa tahu?!

“Ahahaha... Ekspresimu benar-benar menggemaskan, Yuri!”

Chinen langsung mendengus, kurang suka dengan panggilan itu. Selain keluargaku yang boleh memanggil ‘Yuri’ hanya Ryosuke atau Ohno-kun, tahu!

Tegoshi tiba-tiba melambaikan tangannya—mengisyaratkan agar Chinen duduk disampingnya. “Kesini dulu. Aku ingin bertanya.”

Si imut itu tanpa sadar menurut.

“Kau tahu, dari semua juniorku, aku paling tertarik denganmu.” Cetus Tegoshi setelah Chinen duduk disampingnya, ia bahkan merangkul Chinen dengan sangat 'biasa' lalu melanjutkan kalimatnya. “Meski aku tahu itu sia-sia karena kau hanya akan menyukai Ohno-kun sebagai senior yang paling kau segani.”

Chinen meringis.

“Tapi itu tak apa-apa. Justru itu yang membuatku semakin tertarik padamu.”

Chinen mulai menangkap nada asing pada kalimat seniornya, ia lalu mengernyit. “Tertarik sebagai junior saja kan?”

“Oh,” Tegoshi kembali menyeringai, “ada ketertarikan lain juga.”

“Sayang sekali kalau begitu. Aku sudah punya Ryosuke.

Detik selanjutnya, tawa Tegoshi menggelegar ke seantero apartemen Chinen.

=:=


“Tidak mau! Apa-apaan itu?!”

“Oh ayolah, Chinen-kun. Aku tahu kau ingin menceritakan itu.”

Chinen merengut tak suka dengan permintaan Tegoshi. Si imut itu tentu saja menolak mentah-mentah meski Tegoshi terus memaksa.

“Aku hanya memintamu bercerita. Tidak memintamu mempraktekannya di depanku. Lagipula, Ryosukemu itu tidak disini.”

Tegoshi kembali tertawa sementara Chinen melotot tak percaya.

“Itu hal pribadi, Tegoshi-kun! Tidak akan kuceritakan!”

“Pribadi?” mata Tegoshi langsung menjereng. “Kau pikir aku bodoh, huh? Tiap kali melihatmu aku bisa langsung tahu kalau kau ingin memberitahu pada dunia tentang apapun yang berhubungan dengan Yamadamu itu!”

Glek.

“Yamada-kun juga sama saja! Sehebat apapun dia berekting, aku tetap bisa langsung tahu kalau dia ingin bilang pada dunia tentang hubungannya denganmu. Dan jangan lupakan momen-momen kalian di majalah yang teramat ambigu itu. Aish, apa susahnya bilang kalau kalian bercinta di apartemen Yamada-kun hampir tiap malam?”

BLUUUSSSSHHH

Wajah Chinen sukses memerah.

“Pakai alasan begadang main game segala. Oh, asal kau tahu aku hampir meninju wajah Massu waktu dia cerita padaku kalau kau dan Yamada-kun hanya akan main game di apartemen!”

Tegoshi mengatur nafasnya sebelum lanjut berceloteh. “Kebanyakan Johnny’s berpikir kalian sangat dekat sebagai sahabat atau paling banter sebagai kakak-adik. Kalau pun pacaran mereka berpikir tidak akan sampai ketahap yang serius. Tapi bullshit, kalian tidak bisa menipuku. Aku ini Tegoshi Yuya. Jadi cepat ceritakan saja semuanya padaku agar kau puas. Sekarang!

Chinen menutup wajahnya yang memerah. Apa yang dilontarkan seniornya barusan seratus persen tepat. Chinen tidak bisa tidak menceritakan tentang kekasihnya, tentang Ryosuke-nya pada publik. Se-implisit apapun, ia usahakan akan menceritakan hubungannya di publik. Sama halnya dengan Yamada. Tapi karena Penggila Stawberry itu lebih pandai mengeles jadi publik dan Johnny’s lain berpikir mereka hanya sahabat atau maksimalnya sebagai kakak-adik.

“Cepat, Chinen-kun! Atau kau kutelanjangi  kausekarang!”

Chinen kembali mendelik dan memisuh. “Kau ingin aku cerita yang mana memangnya?”

“Kau?” Tegoshi menarik salah satu ujung bibirnya. “Oke tak apa, karena Chinen Yuri adalah junior kesukaanku, kuizinkan tidak memanggilku dengan formal.”

“Ah maaf. Tegoshi-kun ingin aku memulai cerita darimana?”

“Dari awal kalian jadian, sampai kalian... melakukan hubungan seks yang pertama kali.”

=:=



Yamada Ryosuke menyatakan cinta pada Chinen Yuri dihadapan sepuluh ribu penonton pada 16 Januari 2011 silam. Saat itu Hey Say JUMP sedang mengadakan konser Winter Tour. Saat itu juga masih ada sepuluh member. Yamada dan Chinen pun masih kelas dua SMA.

Yang paling menyadari keintiman Yamada serta Chinen adalah Hikaru. Jadi wajar bila komedian bergingsul itu memaksa Yamada untuk menyatakan cinta pada Chinen saat konser.

“Yuri, aku mencintaimu lebih dari apapun yang ada didunia ini. Begitu.”

Tegoshi mengangguk-angguk, paham. “Lalu?”

“Kita belum berhubungan intim waktu itu. Karena masih sekolah dan masih tinggal dengan keluarga.”

“First Kiss?”

“Itu.. dari SMP.” Ujar Chinen malu-malu. “Dia sudah menciumku waktu kita duduk dibangku kelas tiga SMP. Memasuki SMA dan sampai sekarang sudah tak terhitung berapa kali.”

Tegoshi terus mendengarkan.

Yamada dan Chinen lulus SMA tahun 2012 dan disaat itu hubungan mereka agaknya retak karena ada masalah dengan menejemen agensinya.

YamaJima era. Dan itu cukup membuat kondisi Chinen down.

“Aku sampai tidak nafsu makan sama sekali karena itu.”

“Aku ingat, kau jadi sangat kurus. Tapi Yamada-kun bilang bahwa itu hanya ekting dan rencana agensi kan?” tanya Tegoshi. Chinen mengangguk pelan.

“Ekting Ryosuke waktu itu benar-benar menyakitkan, apalagi ketika di konser mereka melakukan itu tepat di depanku.” Chinen menghela nafas sebentar, “meski aku tahu yang lebih tersiksa sebenarnya dia karena disuruh bermesraan dengan orang yang dia benci.”

“Ah iya rumornya begitu kan?”

“Itu bukan rumor, Ryosuke dan Yuti memang musuhan sejak junior. Sampai sekarang biarpun tidak pernah bertengkar lagi tapi masih terlihat aura saingannya.”

“Hmm..”

Hingga akhirnya ditahun 2013 Yamada memutuskan membeli apartemen sendiri. Dan disaat itu juga Yamada mengadakan pesta ulang tahun romantis untuk Chinen yang berumur 20 tahun.

“Sekaligus berdamai dengan Yuti dan mempererat hubungan Seven katanya. Tapi tetap saja sih, hanya aku, Ryosuke, dan Keito yang bisa akrab. Yuti selalu punya urusan lain di privat.”

“Lanjut ke hubungan kalian saja. Apa yang Yamada-kun beri padamu waktu ulang tahun ke 20?”

“Sebuah cincin perak berinisial R.Y”

“Ryosuke Yamada?”

“Ryosuke Yuri.” Ralat Chinen.

“Oke, lalu kapan berhubungan intimnya?”

Kembali, wajah Chinen memerah hebat.

=:=


Yamada membeli apartemen yang bisa dibilang cukup mewah untuk Johhny’s diumurnya yang ke-20 tahun, padahal rata-rata seniornya baru akan membeli apartemen setelah berumur 25 tahun keatas. Tapi Yamada sukses lebih dulu. Sebagain besar uang yang ia belikan apartemen adalah hasil syuting Risou no Musuko dan penjualan single Moonlight serta Mistery Virginnya.

“Aku mohon, Yuri...”

“Ya?”

“Lakukan itu denganku.”

Jantung Chinen seakan melompat keluar saat kekasihnya meminta berhubungan intim. Ketika itu keadaan benar-benar sepi karena Chinen sedang berkunjung sendiri ke apartemen Yamada. Melihat keraguan dimata Chinen, Yamada lantas menggenggam erat kesepuluh jemarinya.

“Aku akan pelan-pelan!”

“....”

“Aku sudah belajar.”

“....”

“Kau percaya aku tidak akan menyakitimu kan?”

“Aku percaya, Ryosuke. Aku percaya.. tapi..”

“Tapi?”

“Besok kita ada latihan dance untuk single Come On a My House, kan? Kalau aku tidak bisa jalan bagaimana? Ah tidak, Inoo-chan bilang jika yang pertama, dudukpun tidak bisa.”

Yamada menjatuhkan dagu sambil meremas kesepuluh jari Chinen. Ia kecewa.

=:=


Tegoshi tertawa kembali. Lebih menggelegar dari sebelumnya.

“Jadi hubungannya ditunda?”

“Yah.. begitulah. Sekitar dua minggu. Sampai selesai syuting MV dan promosi.”

“Terus?”

=:=


Member Hey Say JUMP yang lain sampai menyuruh Yamada dan Chinen melakukan itu segera. Termasuk Yuto. Karena tingkah Yamada semenjak bebas dari YamaJima era benar-benar pervert terhadap Chinen. Ia sangat bersemangat dan langsung mengajak Chinen menginap di apartemennya untuk yang pertama kali. Beruntung sekali kerjaan sudah selesai sehingga mereka dapat libur seminggu sebelum mengadakan konser Zenkoku.

“Eugh—“

Bibir Yamada bertahan sangat lama di bibir Chinen. Tidak hanya ditempelkan namun Yamada mulai bermain disana, memasukan lidahnya pada rongga mulut Chinen.

“Eunghhh—“

Disesap, disapih, lidah Yamada sangat aktif bermain disana.

“Ryo—sukeh—sesak...”

Untungnya Yamada juga masih butuh bernafas.

“Kita kekamar ya?”

“Hmm...”

Yamada segera memapah Chinen menuju king bednya. Membaringkan Chinen disana dengan teramat lembut.

“Sebentar,” Pelantun Misuva itu berlari menuju meja rias. Mengambil sesuatu yang diketahui sebuah liquid lubricant sebelum kembali pada Yurinya.

“Ryosuke, kau benar-benar sudah belajar kan?”

“Tentu. Astaga, kau tidak percaya padaku? Atau kita nonton videonya dulu?”

Chinen menggigit bibir bawahnya, ragu. “Ti—tidak usah... aku percaya pada Ryosuke.”

“Kita mulai?”

“Ya.”

“Kau tahu aku mencintaimu lebih dari apapun, Yuri.”

“Aku tahu dan aku juga.”

=:=



Yamada mencium Chinen kembali. Lebih intim dan tidak hanya di bibir. Ia menciumi seluruh wajah Chinen dengan kidmat hingga sampai di leher, Yamada menyesap bagian itu sepenuh hati.

“Eunghh—Ryosuke—aahh—janganhh—disitu...!“

“Kenapa?”

“Akhh—akan menimbulkan bekas—ugh.. Ryosukee...”

“Tidak akan terlihat.” Yamada tersenyum usil. “Kita akan mengadakan konser dua minggu lagi. Aku sudah mengecek kostumnya dan itu sangat tertutup. Keadaan dome juga pasti remang-remang.”

Chinen mengangguk mengerti sampai ia kembali melenguh saat tangan Yamada mulai bergerilya di dada Chinen.

“Ryosuke—hhh... eughh...”

“Suka?”

“Eunghhh—” Chinen hanya melenguh. Semakin membuat Yamada gencar memainkan tangannya. Member terpenting itu perlahan membuka satu persatu kancing baju Chinen hingga dada sang kekasih terekspos semua.

“AAAKKHH—“

Chinen cepat-cepat menutup mulutnya saat berteriak karena Yamada tiba-tiba menyesap dada kirinya. Yamada terkekeh dalam hati sambil tangannya melepas tangan Chinen dari bibir manisnya.

“Teriakan saja. Aku ingin dengar suara itu, Sayang.”

“Ahh—Ryosukeh—“

Puas di dada kiri, Yamada pindah ke yang kanan.

“Ughh.... Aku sudah sempit Ryosuke—hhh...“

Yamada tertawa pelan. “Maaf, maaf,” ia lalu membuka resleting celana Chinen, kembali ia tertawa. “Yuri kecil sudah bangun rupanya.”

“Ughh.. tidak lucu. Kau curang! Lepas bajumu juga.”

“Hmm.. berniat membantuku melepaskannya?” tawar Yamada dengan seringai. Chinen mengerti dan mulai melepas pakaian atas Yamada, tak lupa pula celananya.

“Oh astaga!”

Yamada tersenyum melihat reaksi Chinen.

“Kau belum bangun kan, Ryosuke?”

“Belum.”

Chinen meneguk ludah, gugup. Milik Yamada belum bangun sama sekali tetapi terlihat sangat penuh di balik celana dalam yang ia kenakan. Membayangkan kalau sudah bangun bulu kuduk Chinen langsung meremang.

“Buat aku bangun dulu bagaimana?”

“EH!?”

“Oh ayolah, kalau aku belum bangun tidak bisa masuk kan?”

Serasa ada uap yang keluar dari kedua telinga Chinen, jantungnya kini berdebar puluhan kali lipat. Pemuda imut itu menelan luduh dahulu sebelum tangannya membuka celana dalam Yamada pelan-pelan.

“Oh shit!

Dan ia mengumpat.

“Kenapa, Yuri?”

“Kau tanya kenapa? Ini sangat besar Ryosuke!”

Yamada tersenyum. “Kau suka?”

“Menurutmu?” Chinen justru merutuk. “Kau tahu lubang itu sangat kecil dan tidak terlalu elastis seperti yang dimiliki wanita.”

“Sshh... aku akan pelan-pelan...” Yamada mengelus kepala Chinen penuh sayang. “Baiklah kalau begitu aku dulu yang membangunkanmu.”

“Ugh, aku sudah bangun!”

“Biar lebih bangun lagi.”

Yamada membaringkan Chinen kembali dan mulai membuka celana dalamnya. Membebaskan si kecil yang terperangkap kain segitiga milik Chinen.

“Akhh..!! Ryosuke—hhh...” ada perasaan aneh ketika miliknya digenggam oleh sang kekasih. Chinen menggeliat di atas kasur.

“Jangan rapatkan kakimu, Sayang. Buka yang lebar.”

Chinen menurut dan membuka kakinya. Yamada membuka botol pelumas yang sudah dipersiapkan dan mengoleskannya pada milik Chinen.

“Eunghhnn—Ryosuke..hhh..”

“Dingin ya?”

“Umm...”

“Ini yang pertama kali kita bermain. Katanya harus menggunakan pelumas banyak banyak.”

Yamada juga menuangkan cairan pelumas itu pada miliknya dan yang terakhir pada lubang Chinen.

“Kau siap?”

“Unghhh..” Chinen menggigit bibir bawahnya kembali.

“Tenang, aku akan pakai jari dulu. Relax, Sayang..”

Yamada memasukkan satu jari kelingkingnya. Dimulai dari jari yang paling kecil.

“Ahhhnn—rasanya tidak nyaman...“

Chinen melenguh seraya tangannya meremas sprei.

“Sakit tidak?”

Chinen menggeleng.

“Baguslah...” Yamada kini memasukan jari manisnya. Chinen kembali melenguh. “Pe-perih Ryosuke...hhh—“

“Lubangnya mulai terbuka. Aku tahu ini perih. Sabar...”

Yamada memasukan kedua jarinya lebih dalam. Remasan Chinen pada sprei semakin kuat.

“Aku akan ganti jari menjadi telunjuk dan tengah. Kau harus relax, Yuri. Kalau kau tegang rektummu terus mengkerut sehingga susah dibuka.” Ucap Yamada lembut. “Aku tidak akan menyakitimu karena aku mencintaimu,” dominannya mengecup singkat bibir Chinen sebelum mengganti jari.

“Aaaakhhh—periiiih...”

“Kubilang relax...”

Chinen mencoba relax ketika jari telunjuk dan tengah Yamada semakin masuk kedalam. Mengetahui kekasihnya sudah relax, Yamada membuat gerakan simpel didalam sana, membentuk kedua jarinya menjadi gunting untuk memperlebar jalur masuk.

“Akh!”

Disana. Yamada tersenyum. “Aku sudah menemukan titik nikmatmu.”

“A—aku merasakannya. ahhhhnn—langsung mulai saja Ryosuke..hh..”

“Kau yakin?”

“Yakin.”

“Baiklah...”

Yamada mengelurkan kedua jarinya dan kembali mengoleskan lubricant banyak-banyak pada miliknya dan lubang Chinen.

“Aish, aku lupa kalau baru setengah bangun, Yuri.”

“Oh astaga...” Chinen duduk perlahan dan langsung meraih milik Yamada. “Maaf, Ryosuke. Aku bangunkan dulu.”

Chinen memijit itu dengan lembut, kemudian pijatannya mulai menguat. Yamada melenguh pelan dan langsung menarik tengkuk Chinen untuk mendapatkan ciuman mesra. Tanpa melepas tautan dimulut, Chinen terus memijat milik kekasihnya.

“Sudah cukup bangun?”

Yamada terkekeh pelan diselingi engah-an, “aku bangun seutuhnya. Kau lihat?”

Pandangan Chinen ke bawah, ia segera menutup mulut. “Sudah kuduga. Kau sangat besar.”

“Tentu saja. Aku Yamada Ryosuke. Bahkan aku lebih percaya diri ketimbang Yabu-kun atau Yuto.”

Chinen tertawa. “Aku percaya... percaya...”

“Nah.. berbaringlah. Biar aku yang mulai. Kau harus relax, oke?”

“Oke.”

Chinen kembali rebahan. Sebisa mungkin relax ketika ia mulai merasa ujung junior Yamada menempel pada jalur masuknya.

“AAAAAAAAAAKHHHH—Ryosuke, SHIT! PELAN-PELAN!”

Yamada terperanjat. Teriakan Chinen benar-benar membuatnya kaget. “Astaga, Yuri! Kau mengagetkanku! Aku bahkan belum masuk! Ini baru kepalanya!”

hiks... pelan-pelan... sakiiiit....”

“Iya aku akan pelan-pelan.”

Yamada mulai mendorong dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Ia sudah diberi tahu Yabu bahwa yang pertama itu sangat sakit. Terlebih karena miliknya bisa dibilang besar untuk lubang Chinen yang sangat sempit. Oh ayolah, tubuh kekasihnya itu saja sudah mungil apalagi lubangnya.

“Akhhnnn—ah ahhh... Ryosuke.... aaaaakhhh..” Chinen memekik. Kemudian tercekat. “Sa-sakiiit.. akkhhn—sakit sekali, Ryosuke..hhh—“

Yamada menghentikan dorongannya. Ia mencium Chinen lembut sembari mengusap air mata yang turun dimata indahnya. “Tahan sebentar lagi, oke? Aku baru masuk setengah.”

“Tapi ini sakit sekali... akhnn...”

Penggila Stawberry itu mengesah lemah. “Baiklah.. kalau begitu kita tidak teruskan saja ya? Aku tidak tega.”

Chinen terkesiap. “Bu—bukan begitu, Ryosuke-hh..”

“Tapi kau terus kesakitan. Aku tidak tega.”

Chinen ingin merutuk kalau bisa. Tapi situasinya tidak tepat. Oh andai yang merasakan dimasuki Yamada dan bukan Chinen. Itu benar-benar sakit asal kau tahu.

Yamada bergerak lagi, hendak mengeluarkan miliknya yang baru masuk setengah.

“Akhnn—hhh jangan! Ja-jangan dikeluarkan... la—lanjutkan saja..ahh..” ucap Chinen susah payah. Tangannya menahan pinggul Yamada yang akan menarik juniornya keluar. “La-lanjutkan Ryosuke—hh...”

“Tapi kau—“

“Aku tak apa. Akan kutahan.”

“Yuri...”

“Tidak apa-apa, Ryosuke.”

“Aku tidak mau menyakitimu.” Yamada menunduk untuk menautkan kembali mulut mereka. “Aku sangat mencintaimu.”

“Aku lebih sangat mencintaimu. Jadi, masukan sekarang. Nanti kau pegal.”

Yamada mengangguk mengerti dan lalu mulai mendorong kembali.

“Ahnn.. tak apa Sayang.. teriak saja..” ucapan sang kekasih membuat Chinen tak menahan erangannya. Kedua kaki si imut itu ditahan Yamada agar tidak menutup, ia kemudian merunduk untuk menangkap bibir Chinen sembari terus mendorong.

“Ahhh.. sudah—masuk—hh..” Yamada tersenyum puas. Ia mencium Chinen kembali, membiarkan bungsu di JUMP itu mengambil nafas dulu banyak-banyak.

“Kau tahu, ini perih sekali, Ryosuke.”

“Aku tahu. Aku bisa merasakannya...”

Chinen merengut. Bohong!

“Apa aku sudah boleh bergerak?”

“Pelan-pelan..”

“Aku janji.”

Yamada memulai permainannya. Bergerak maju-mundur dengan sangat hati-hati. Chinen masih mengerang kesakitan. Tapi kemudian Yamada bisa mendengar lenguhan nikmat dari kekasihnya.

“Ryosukeee—hhhh...akh!”

“Hmmm..?”

“Le-lebih—hh cepat-hhh...”

Yamada menyeringai dan mulai mempercepat tempo juniornya. “Oh shit, Yuri! Kau benar-benar sempit!”

“Akhnn... ini—hh yang pertama—Bodoh! Tentu saja-hh...”

“Ah, aku tak akan membiarkan yang ini menganggur.”

“Akh!!!”

Yamada meraih milik Chinen yang mengacung. Tak lupa bermain dikedua bolanya hingga milik si imut itu mengeluarkan cairan banyak-banyak.

“Akh!! Akhhh Ryosuke—hh aku mau keluar!”

“Keluarkan sama-sama-hhnn..” Yamada semakin bergerak cepat didalam, juga menggerakan milik Chinen lebih cepat.

Hingga mereka saling meneriakan nama masing-masing saat merasakan titik kenikmatan.

“Ryosuke!”

“Ahnn—tenang-hh.. aku tidak akan menimpamu.” Senyum Yamada terkembang sempurna, ia menahan tubuhnya dengan kedua lutut dan satu tangan. Sementara tangan satunya mengelap peluh di dahi Chinen. “Suaramu indah sekali.”

Chinen tersenyum lemah.

“Benar-benar indah. Itu melodi yang paling indah yang pernah kudengar. Lenguhanmu... eranganmu...”

“Cukup gombalannya, Ryosuke-hh.. kau tidak mau—ahnn—keluar..?”

Yamada menyeringai. “Apa kau tidak merasakannya didalam sana, hm?”

Chinen terkesiap. “Astaga.. kau masih keras?”

“Ronde kedua, Yuri. Kali ini tidak akan sesakit tadi dan lebih nikmat.”

“Akhhhnnnn....hhh!”

=:=

.    .    .    .    .    .    .


“Jadi... begitulah.”

Tegoshi tak kuasa menahan seringai mesumnya setelah Chinen bercerita. “Aku tak menyangka Yamada-kun sepervert itu. Baru pertama main tapi sampai tiga ronde.”

Bohlam mata Chinen berputar. “Dia lebih dari pervert.”

“Ohya? Apa kalian pernah bermain BDSM?”

Chinen menggeleng langsung. “Tidak. Aku yang tidak mau. Dan dia mengerti meski sebenarnya ingin. Tapi aku tidak mau. Lagipula... itu kekerasan.”

Tegoshi tertawa. “Ayolah, Chinen-kun! Itu sama saja.”

“Beda.” Aura Chinen menggelap. “Aku tidak sudi bermain kasar. Paling kasar yang kuterima hanya sex toys. Itu juga karena disarankan Inoo-chan dan hanya sekali. Seterusnya tidak lagi.”

“Tapi kalau bermain dengan berbagai posisi sudah kan?”

“Sudah.” Dengus Chinen. “Dan dia selalu mencoba membuat posisi aneh saat bercinta.”

Tegoshi kembali tertawa.

“Sudah kuceritakan apa yang Tegoshi-kun minta jadi lebih baik sekarang kau pu—“

“Sayangnya aku tidak hanya ingin mendengarkan ceritamu.” Pemuda cantik itu melirik ke bawah Chinen, kemudian terkekeh anggun. “Hanya dengan bercerita saja kau tegang? Wow.”

Darah Chinen langsung berdesir ke wajah. Kembali ia memerah hebat.

“Be-berisik! Sudah sana Tegoshi-kun pulang!”

“Ahahaha... bagaimana kalau kita bermain seben—“

Chinen tak ambil pusing bila dikatai kurang ajar terhadap seniornya sehingga ia menarik lengan Tegoshi dan membawanya keluar dari apartemen. “Jangan mengumbar yang tadi kuceritakan pada siapapun, oke?”

BLAM!

Pintu apartemenpun tertutup rapat, menyisakan Chinen yang terduduk lemas dibalik pintu.

“Ugh.. sialan.... kenapa harus bangun disaat seperti ini!”

Chinen susah payah berjalan mengambil HP-nya di ruang tengah, hendak menelpon kekasihnya.

“Ya?”

“Ke apartemenku sekarang, Ryosuke!”

“Eh? Kenapa?”

“Eunghh... cepat ke apartemenku sekarang—ahhhnn..”

“Jangan bilang... melodi itu...”

“Ryosuke, CEPAT!”

“Melodi yang sangat kusukai. Ahahaha... aku datang, Sayang!”

Seketika Chinen melupakan jadwal kerjanya nanti malam. Hei, Yamada tidak akan bermain satu ronde, ingat?

=END=



A/N : SELESAI. Ini ff NC yamachii yang ke tiga kalau tidak salah wwwww. Dan ini... lima halaman full hanya untuk desahan wkwk. Semoga suka untuk para member baru di grup YamaChii WA >w<  
  

1 komentar:

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review