Senin, 02 Mei 2016

VERY VERY HAPPY

Diposting oleh Kiwokchwan di 10.56
Judul : Very Very Happy

Pair : YamaChii, YabuChii

Author : Yang Punya Blog

Genre : Drama, Romance, Fluff

Summary : Chinen mencoba untuk tidak peduli. Tapi ia justru tidak bisa menahannya

PS : summary nya ambigu? Biarin dah ah. Btw, baca sambil dengerin Very Very Happy ya!

Douzo~
.
.
.
.


Hari ini tidak ada jadwal kerja, latihan, maupun syuting. Alias bebas. Yang berarti periode bahagia bagi para idola. Sayangnya hanya Chinen Yuri—bungsu dari idol grup Hey!Say!JUMP—yang mendapatkan jadwal kosong hari ini.

“Bosan.”

Kemudian kata itu tercetus. Chinen mendengus berkali-kali sambil melotot pada HP pintarnya—menunggu notis dari seseorang. Terutama Ryosukenya. Tapi kemudian ia tersadar. “Acara Best Award, huh? Ryosuke sok keren!”

Ya, kekasihnya itu mengikuti suatu acara award yang dihadiri sederetan aktor dan aktris terkenal dengan menjadi salah satu nominasi Best Actor Newcomer. Lagi-lagi uap kecil terhembus dari hidung bangir Chinen, ia lantas membanting sang HP pada sofa kesayangannya.

“Bosan! Bosan! Bosaaaan!!!”

Sungguh, pemuda mungil itu kurang kerjaan sekali saat ini. Karena? Chinen tidak mengantuk. Chinen sudah menyelesaikan serial game terbarunya. Chinen sudah latihan dance sendiri di apartemennya. Chinen sudah mandi. Dan Chinen sudah ma—

“Belum. Aku belum makan. Ini menyebalkan! Arghh!!”

–ralat, Chinen belum makan sedari pagi.

“Kenapa Keito harus ada jadwal disaat aku libur!? Ini menyebalkan! Ryosuke juga! Harusnya dia tidak sok-sokan ikut award itu!” Misuh Chinen dengan bibir mengekerut. Baru akan memisuh lagi, HP nya tiba-tiba berdering.

YES!

“Halo?”

“Chii-chan? Kau dimana?”

“Di apato-ku. Kenapa, Kou-chan?”

Sang leader group—Yabu Kouta—yang menelpon.

“Aku sedang ada di restoran cina dekat apartemenmu. Mungkin kau mau datang? Atau kau sedang mengantuk?”

Chinen mendengar suara kekehan dan itu membuat kedua bohlam matanya berputar tak simetris. “Aku tidak mengantuk sama sekali, sungguh. Dan apa Kou-chan baru saja mau mentraktirku? Kalau iya, aku ada disana lima menit lagi. Kalau tidak, katakanlah aku mengantuk dan akan hibernasi.”

“Chii, anakku sayang, apa itu tadi kalimat terpanjangmu?”

Anak?

Yabu tertawa. “Tentu, tentu, aku akan mentraktirmu.”

Chinen menyeringai. “Baiklah~ lima menit lagi aku disana.”

=:=

Yabu Kouta sangat jarang mentraktir Chinen. Jarang karena si tua itu lebih memilih membopong Chinen ke kediamannya dan membiarkan Chinen makan sepuasnya apapun yang dihidangkan kakak dan ibunya. Tapi hari ini nampaknya pengecualian.

“Kou-chan habis selesai interview?”

“Begitulah,” pemuda carpicorn itu menyeruput minumannya, tersenyum apik. “Pemotretan dan interviewnya disekitar sini, jadi sekalian mampir.”

Ah.. sokka.” Chinen menerima pesanannya kemudian, tersenyum formal pada pelayan dan kembali menatap sosok ayahnya. “Keito juga ada jadwal kerja...”

“Semua member ada jadwal hari ini. Kecuali kau.” Sahut Yabu ramah. “Kesepian hm, anakku?”

Alis Chinen langsung tergulung. Ia kurang suka julukan itu. “Aku bukan anakmu.”

“Hei, itu hanya—“

“—kecuali kalau kau sedang bersama Inoo-chan disini. Bolehlah~ haha.” Kekeh Chinen dengan kerlingan jahil. Kali ini Yabu yang mendengus. “Hei, aku sedang denganmu. Jadi tidak ada YabuInoo disini, oke? YabuChii.”

“YamaChii.” koreksi Chinen. “Bukan YabuChii. Tidak ada pairing itu dalam dunia perjonisan!”

“Ahahaha...”

Berbincang sembari menikmati masakan cina, Yabu kemudian mendapat telpon.

“Ah baiklah. Saya kesana setelah ini.”

Chinen yang baru saja meneguk jus nya memberi raut bingung, Yabu cepat-cepat menjawab. “Aku dipanggil ke Jimusho. Sepertinya menejer dan direktor Little Tokyo Life ingin berbicara sesuatu padaku.”

“Hmm..”

“Kau mau ikut?”

Ke Jimusho? Heck, Big NO!

Chinen meringis.

“Daripada kau tidur terus-terusan di rumah. Aku tahu kau bosan. Sementara Keito atau Yama-chan sedang sibuk, kurasa tidak ada salahnya kau bersamaku hari ini, Yuri.”

Pemuda mungil disana cukup tersedak mendengar ucapan Yabu. “Aku yakin kalau Ryosuke disini pasti sudah mengomel karena Kou-chan memanggilku begitu,”

“Beruntungnya dia tidak disini.” Sang leader menyeringai.

“Baiklah.. aku ikut. Tapi jangan lama-lama ya. Kau tahu kan, aku tidak suka ke Jimusho.”

“Tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, kau tidak suka Johnny’s Jr, terutama Jr. yang mengidolakan Yama-chan.”

“Jangan diperjelas, Pak Tua.” Rutuk Chinen sambil memajukan bibirnya yang dibalas usapan kasar di rambutnya oleh Yabu.

=:=


Chinen benci Johnny’s Jr.

Chinen benci Johnny’s Jr. yang sangat mengidolakan—memuja, mengelu-elukan, membangga-banggkan—kekasihnya tanpa tahu apapun.

Mereka, para Jr. itu, sungguh tidak menganal Yamada Ryosuke. Sama sekali tidak kenal!! Hanya Chinen (dan kini bertambah Keito) yang benar-benar mengenal Yamada. Tapi mereka tetap sok tahu. Seperti yang ia dengar barusan;

“Yamada-kun cantik ya,”

“Iya. Sangat cantik! Auranya berbeda. Kudengar dia memakai serangkaian kosmetik dari Korea yang sangat mahal!”

“Jangan lupakan aroma khasnya yang memabukkan! Parfumnya begitu manis dan.. seksi.”

Sekali lagi,

Chinen benci Johnny’s Jr.

.

“Chii, mau ikut bertemu direktor dan menejer kita dilantai 5? Atau mau menunggu di kafeteria?” pertanyaan itu malah membuat Chinen mendengus. “Aku mau pulang.”

“Kau apa?” alis Yabu terangkat satu.

“Pulang. Aku tidak suka disini. Mereka sok tahu. Mereka menyebalkan! Mengidolakan tanpa tahu yang sesungguhnya. Huh, kalau memang mereka mengidolakan Ryosuke, harusnya mereka tahu  aroma unik Ryosuke berasal dari tubuhku karena sebelum ke Jimusho pasti dia memelu—“

“Shh.. Chii..” Yabu membekap Chinen dengan lembut namun langsung terlepas.

“Aku saja tahu semua seluk beluk Ohno-kun! Dari mulai dia yang kalau memancing selalu memberi nama ikan pancingannya Kawaii atau kentut dengan nada mendayu-dayu atau hasil gambar indahnya yang aslinya tidak niat! Tapi para Jr. disini tidak—“

“Chinen!” Yabu berseru, tidak sampai membentak—tetap. Karena membentak Chinen fatal akibatnya. “Pelankan suaramu, Chii. Kita di Jimusho. Para Jr. bisa saja mendengar.”

“Biarkan saja mereka mendengar! Aku tidak suka mereka. Mereka sok imut padahal aku jauh lebih imut!”

Nah, ini yang Yabu khawatirkan. Member termudanya ini memang punya suatu ‘penyakit’ yang (sebut saja) tidak ingin kalah imut dibanding adik-adiknya. Singkatnya, Chinen tidak suka Jr. karena Jr. lebih muda dan ia merasa mereka muda dan tidak imut.

“Yasudah, tak apa. kalau begitu pulanglah. Kau bisa pulang sendiri kan? Aku tidak bisa pergi begitu saja sebelum berte—“

“Baiklah. Sampai jumpa.” Chinen memotong ucapan leadernya dan segera balik badan. Yabu hanya mendengus maklum.

=:=

“Wuaaah! Coba lihat berita! Coba lihat!”

Langkah Chinen terhenti saat mendengar seruan itu. Ia menoleh pada ruangan yang bertempel ‘Jr. 4’ di pintunya.

“Hebat! Yamada-kun menang!”

“Iya hebat! Aku sudah menduganya! Mereka pasti terpikat oleh pesona imut dan cantiknya!”

“Tentu saja! Biarpun tubuhnya mungil dibanding aktor lainnya, tapi dia patut menang!”

Chinen mau muntah saat itu juga. Ucapan para Jr. yang bersahut-sahutan dari ruangan itu membuatnya ingin mendobrak pintu kemudian berteriak, “Jangan sok tahu, kalian anak-anak ingusan!”

Tapi yang Chinen lakukan hanya diam ditempat. Hingga sebuah suara mengejutkannya.

“Chinen.. Yuri-kun?”

Sang empu nama menoleh.

“Astaga, benar!”

“?”

Sebentar, Chinen kenal laki-laki manis yang memanggilnya ini. Sebentar... Siapa namanya?

 “Er.. konnichiwa, Chinen-kun.”

Ah iya namanya... “Konnichiwa, Iwahashi  Genki-kun!”

Laki-laki itu agaknya terkejut saat namanya diucap lengkap oleh admire senpainya. “Ne, kalau boleh tahu, kenapa Chinen-kun disini?”

Kemudian, seperti ada yang menggerakan tubuhnya, Chinen menarik lengan Genki dan membawanya entah kemana.

.

Iwahashi Genki belum lama ini memberi surat untuk Chinen melalui Myojo. Ah Popolo juga, kalau tidak salah. Chinen tidak ingat jelas tapi ia merasa Genki merupakan salah satu fansnya. Mungkin..

“Ah, maaf menyeretmu kesini. Aku.. spontan.” Chinen menunduk keki demi merutuk berkali-kali. Yuri bodoh! Dari sekian banyaknya tempat di Jimusho kenapa harus ke tangga darurat! Bodoh!

Ii-e.. Aku senang bisa bertemu Chinen-kun di Jimusho.” Sahut Genki ramah, “tapi omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Chinen lantas tersenyum kagok. Bagaimana bisa ia lupa menjawab pertanyaan! “A-aku disini bukan untuk apa-apa hehehe.. Hanya menemani Kou-chan.”

“Oh, Yabu-kun?”

Ne,” Chinen kemudian teringat sesuatu. “Iwahashi-kun, apa yang kau tulis untukku itu benar?”

Genki mengernyit sebentar sebelum menjawab disertai senyum. “Tentu. Salah satu admire senpaiku itu Chinen-kun.”

Salah satu. Jangan bilang yang utama Ryosuke. Aku pergi sekarang juga kalau ben—

“—yang utama sebenarnya Kamenashi-kun. Tapi aku juga sangat menyukai Chinen-kun. Aku fans kalian berdua.”

Chinen berkedip cepat.

“Kenapa memangnya? Apa Chinen-kun tidak suka.. memiliki fans sepertiku?”

“A-ah.. bukan, bukan begitu. Aku senang, kok. Sangat senang. Hanya saja... kupikir aku hanya punya satu.”

“Eh?”

“Yah.. kupikir aku dibenci kebanyakan Jr., jadi aku.. cukup kaget kau salah satu fansku.”

Genki tertawa renyah. “Chinen-kun punya banyak. Sou-chan, aku, Ren-kun, dan.. masih banyak!”

“Yang benar?”

“Iya!”

“Ah... terimakasih.” Chinen menggaruk tengkuknya. Sungguh, berhadapan dengan Jr. adalah kelemahannya. Ia merasa sangat canggung sekarang.

“Mau ke tempat latihanku? Ada di lantai 4. Kita sedang istirahat sebelum latihan lagi untuk perform Shounen Club minggu ini.”

“Apa itu berarti aku harus bertemu Jr. yang sok tahu itu? Oh tidak, terimakasih.” Chinen langsung menutup mulutnya setelah berujar demikian. Kembali ia merutuk berkali-kali. Genki tentu saja mengernyit.

“Ah, lupakan. Hehe.. aku tak bermaksud—“

“Jr. angkatan 2010 tidak ada yang sok tahu kok.” Genki menyela. Senyumnya masih terpasang.

Ganti Chinen yang mengernyit.

“Sepertinya aku tahu kenapa tadi Chinen-kun berwajah kesal di depan pintu. Mereka itu Jr. angkatan 2014. Masih baru. Jadi memang belum teralalu mengenal para senpai.”

Angkatan? Bukannya yang namanya Jr. sama saja ya?

“Jadi, Chinen-kun mau ikut? Disana banyak Jr. yang Chinen-kun kenal kok.”

Chinen sebenarnya malas. Tapi entah kenapa kepalanya justru mengangguk dengan mantap. Oh, apa otaknya kini sedang korslet?

=:=

“Nenchi!!”

Bungsu di JUMP itu langsung berbinar tatkala bertemu Jr. tinggi di ruangan tempat Genki latihan. “Jesse-kun! Lama nggak ketemu!”

Jesse Lewis adalah Jr. yang pernah bermain dengan Chinen di movie Spourt lima tahun yang lalu, oh bersama Yasui Kentaro juga.

“Tumben Chinen-kun kesini. Ada apa?”

Chinen hanya tersenyum.

“Waaa.. ada Chinen-kun!” Yasui lalu juga menyapa. “Aku hanya tahu Yabu-kun yang datang ke Jimosho, tadi sempat berpapasan di lantai 5. Ternyata Chinen-kun juga datang.”

“Yacchan! Hehe.. iya, aku hanya mampir.” Canggung! Canggung! Kenapa ‘sih Chinen harus canggung dengan para Jr.? Ini lebih susah ketimbang berhadapan dengan Senior.

Bisa dilihat, ditempat itu yang Chinen kenal hanya Genki, Jesse, Yasui, Shintaro, Jinguji, Kishi, dan...

Pandangan Chinen terhenti tepat di hadapan Jr. yang sangat ia kenal namun membuatnya sensi.

Matsuda Genta. Dia terkenal sangat ngefans terhadap Ryosukenya bahkan sampai mengikuti fashion dan cara menari Yamada.

“Ah.. konnichiwa...” Genta sepertinya sadar dilihat oleh Chinen dengan tatapan tidak suka. Ia cepat-cepat menyapa sambil menunduk dalam.

Chinen mendengus pelan lalu balas menunduk.

“Chinen-kun tak perlu khawatir. Genta-kun tidak menganggap Yamada-kun uke kok.”

Celetukan Jesse membuat Chinen memutar cepat kepalanya pada Jr. bule itu. Wajahnya memerah.

“Ahahaha.. aku tahu Chinen-kun sensi dengan Jr. yang selalu memuji Yamada-kun cantik atau menganggap Yamada-kun uke. Tapi kita disini tidak ada yang berpikir begitu.” Jelas Jr. jangkung itu. Chinen lantas terkekeh garing. “Oh ya? Kalian tidak berpikir Ryosuke cantik?”

Mereka terdiam.

Chinen lagi-lagi tertawa. Kali ini lebih garing. “Ryosuke memang seperti itu. Yasudahlah tak usah dipermasalahkan. Kalian mau menganggapnya uke juga terserah. Terutama kau, Matsuda-kun.” Chinen menatap Genta lama kemudian meneliti semua Jr. disana. “Sepertinya aku mengganggu latihan kalian, silahkan lanjut lagi latihannya. Aku pulang dulu hehe..”

Baru Chinen keluar dari ruangan, Genki tiba-tiba menahan lengannya. “Aku tidak pernah beranggapan begitu. Yamada-kun tampan. Dia hanya ingin terlihat cantik untuk menyeimbangimu. Sungguh, Chinen-kun yang tercantik di Hey Say JUMP!”

Chinen tertawa tulus kali ini. Ia mengangguk dan akhirnya benar-benar meninggalkan Jimusho.

Kupingnya sempat panas kembali saat melewati beberapa Jr. yang sedang membicarakan kemenangan Yamada pada best actor newcomer sebagai Nagisa di Ansatsu Kyoushitsu. Sampai di apartemen ia berancana menonton movie itu. Oh padahal ia kekasihnya, tapi baru sekarang akan menonton movie itu. Kekasih macam apa dia?

=:=

Hari ini semua member Hey Say JUMP berkumpul untuk latihan dance. Mereka akan merilis single baru berjudul Magic Sunshine. Yamada dengan riang menghampiri kekasihnya yang sedang beristirahat di bangku pojok sambil menegak minuman isotonik selepas latihan.

“Chinen~”

Tak ada sahutan.  Yamada mengernyit sebentar dan kembali memanggil. “Yuri?”

Chinen tetap diam. Tapi kemudian menoleh lelah. “Apa?”

“Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa” Chinen lalu beranjak dan menghampiri Dai-chan serta Inoo-chan yang sedang bersenda gurau. Yamada membatu ditempat. Chinen menyuekinya? Dan lagi, apa-apaan kalimat ‘tidak apa-apa’ itu? Alarm ‘renggang’ di lubuk hati Yamada untuk Chinen lantas berbunyi.

.

“Chinen~ ayo kita makan malam ber—“

“Aku akan makan dengan keluargaku malam ini.” Sela Chinen selepas latihan. Yamada lagi-lagi mengernyit.

“Oh, kalau begitu aku ikut. Tidak apa-apa kan?” tanyanya bersihkeras. Yamada harus tahu mengapa Chinen menyuekinya seharian ini.

Baru Chinen akan menjawab, Keito tiba-tiba menghampiri. “Yama-chan, kau lupa membawa handukmu.” Ia menyerahkan handuk kecil berwarna peach dengan motif stoberi di pinggirnya. Diterima Yamada dengan riang. “Ah iya. Sankyu, Keito!”

Ne, Kau tidak bisa tenang kalau tidak ada handuk itu kan? Hahaha.. wanginya harum sekali. Kayak wangi cewek.”

Yamada hanya tertawa sambil memukul lengan kekar Keito.

Chinen memutar bola matanya lalu segera beranjak. “Aku duluan. Ja.

“Tunggu, Yuri.” Yamada menahan Chinen segera. “Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Yuri!” pemuda nyentrik itu menekan kalimatnya. “Aku tanya kau kenapa? Kenapa menghindariku seharian ini?”

“Aku tidak mau jawab. Diamkan aku sampai aku baik sendiri. Kau punya Keito yang setia denganmu sekarang. Makan malam saja bersamanya. Aku mau pulang. Ja,” Chinen melepas paksa pegangan Yamada di lengannya. Lalu segera berjalan keluar tempat latihan dan menaiki  bus di halte dekat sana.

Tapi bukan Yamada Ryosuke namanya kalau dia mendiamkan Chinen. Makhluk imut itu adalah perhatian utamanya, jadi tidak ada kegiatan ‘mencuekan’ Chinen selama statusnya masih sebagai kekasihnya.

“Kenapa mengikuti?” desis Chinen dalam busway. Yamada yang ternyata mengikuti Chinen duduk disamping si imut itu dengan tenang.

“Aku tahu kau tidak akan makan kalau sedang bad mood.”

“....”

“Cemburu, heh?”

“....”

“Astaga, Yuri. Kau cemburu dengan Keito?”

“Sok tahu,” sahut Chinen cepat.

“Aku memang tahu. Kau dan aku satu pemikiran.”

“Hah.” Chinen terkekeh atau mungkin lebih tepatnya mencemooh. “Ryosuke, aku sedang tidak mood denganmu hari ini. Aku ingin pulang segera lalu tidur.”

“Kau harus makan.”

“Tidak mau.”

Yamada menatap Chinen seraya menggeram-gemas. Ia lalu menekan tombol di kiri tempat duduknya yang membuat busway berhenti segera. Penggila stoberi itu lalu menyeret Chinen menuruni bus.

“Ryosuke!”

“Meneriaki namaku hanya akan membongkar penyamaran kita...” desis Yamada yang masih menarik lengan Chinen diantara para pedestrian.

“Lepas!”

“Tidak sampai kita makan malam bersama.”

Chinen tak mau berdebat di keramaian umum jadi ia hanya menurut, sampai kekasihnya itu mengajaknya ke restoran dimsum kesukaannya.

“Cepat makan. Atau perlu ku suapi, heh?”

Chinen hanya diam. Ia memandang kekasih di depannya lekat-lekat. Kemudian Chinen menghela napas berat sebelum mengambil sumpit untuk mulai makan. Tak ada percakapan. Yamada yang juga makan hanya menatap Chinen penuh kernyitan. Otaknya berpikir keras kenapa Chinen jadi aneh.

=:=

Keesokan harinyapun hubungan Yamada dan Chinen masih sama. Yamada benar-benar benci Chinen yang sukar tersenyum. Terlebih ketika kini pemotretan sedang berlangsung, Chinen nyaris tidak berceloteh.

“Chii-chan kenapa sih? Ada masalah? Mu cerita denganku ?” Keito bertanya pelan-pelan. Ia cukup tahu bahwa si imut itu sedang dalam mood jelek.

“Imej Ryosuke menurutmu seperti apa?” Chinen justru balik tanya dan membuat british member itu tercengang.

“Kenapa tanya begitu?”

“Iseng saja.”

Yamada dari jarak 8 meter cukup mendengar percakapan kedua member terdekatnya. Ia masih di dandani oleh sang stylist sehingga ia hanya perlu memasang kuping.

“Kau pasti lebih tahu tentang Yama—“

“Aku tanya menurutmu.”

“Oh. Yama-chan itu.. menawan.”

“Cantik maksudmu?”

Alis Keito langsung bergulung.

“Kau suka dengan Ryosuke kan?”

Ada jeda beberapa detik sebelum Keito tertawa. Dan Yamada yang masih di dandanipun ikut terkekeh. Benar ternyata. Dia cemburu dengan Keito. Astaga Yuri...

Chinen memutar matanya mendapat reaksi seperti itu. Kemudian potograper berteriak. “YAK, YAMADA-KUN, STAND BYE! Pemotretan sesi individu dimulai!”

HAIK!

Chinen langsung memusatkan perhatiannya pada Yamada yang sedang dipoto. Seperti baru menyadari sesuatu. Chinen menutup mulutnya dengan tangan sementara matanya menyiratkan kesakitan.

Selama interview dan pemotretan majalah Myojo, bahkan sampai selesai latihan dancepun, Chinen tidak banyak berkata dan berekspresi. Peduli setan dengan Yamada yang uring-uringan sambil memaksa bertanya.

Chinen langsung pulang ke apartemennya. Sementara Yamada masih, masih, dan masih terus mengikuti Chinen.

“Yuri, kumohon! Kau ini kenapa?!”

Diam. Diam. Dan diam.

“Yuri!”

Chinen tertunduk lesu di sofa kesayangannya. Pandangannya kebawah. Ia tak berkata sepatahpun dan seperti sedang merenung.

Yamada lalu duduk disamping Chinen, meraih jemari mungil kekasihnya itu untuk digenggamnya erat-erat.

Sangat erat..

Begitu erat...

Semakin erat...

Terlalu erat.......

Chinen tentu meringis nyeri. “Kau menyakitiku, Ryosuke.”

“Kau yang menyakitiku kalau kau terus diam!”

“.....”

“Masih tak menemukan...”

“?”

“Jawaban. Aku kira dengan menggengam tanganmu aku bisa menemukan jawaban kenapa kau sangat aneh belakangan ini.”

“Kau tidak punya kemampuan untuk itu.” dengus Chinen  masih sambil menunduk.

“Kau kenapa....?”

Chinen semakin meringis. Sakit. Genggaman itu sangat sakit seperti cengkraman orang yang sedang murka. Hatinya juga ikut sakit namun justru Yamada yang meneteskan air mata.

“Kenapa.. kau diam saja?” racau Yamada disertai isakan. Hati Chinen kembali sakit. Tak tahan karenanya, Chinen membentak. “KENAPA MENANGIS? KAU LAKI-LAKI KAN? KAU PIHAK DOMINAN DISINI TAPI KENAPA KAU MALAH MENANGIS?!”

Akhirnya, air asin itu juga keluar dari pelupuk Chinen.

“Yuri...?”

“KENAPA, RYOSUKE!?”

“AKU YANG HARUSNYA TANYA! KAU KENAPA?!”

“JAWABANNYA ITU ADA DIDIRIMU SENDIRI!”

“APA MAKSUDMU?! JELASKAN! JANGAN DIAM SAJA MAKANYA!”

Sudah lama. Lama... sekali. Setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertengkar sambil teriak-teriak. Terakhir mungkin ketika masih SMA. Bahkan saat bertengkar hebat karena yamajima era-pun, mereka tidak saling berteriak.

Chinen adalah pribadi yang cerdas sehingga ia lebih dulu mendinginkan pikirannya. Yamada masih menggenggam jemari Chinen, ia tak mengurangi keeratannya.

“Aku hanya  ingin merenung, Ryosuke...”

“Aku tidak suka kau yang seperti itu!” di sahut langsung. Chinen kini mengesah.

“Apa kau... mencintaiku?”

Yamada mendelik, “Pertanyaan macam apa itu?! Tentu saja aku mencintaimu, bodoh!”

“Mencintai semua dari diriku?”

“Iya!”

“Mencintai sisi jelekku?”

“Iya!”

“Bahkan mencintai hal yang tidak kau sukai dari diriku?”

Mou iiii.....” Yamada mengerang. “Iya! Iya! Dan iya!”

“.....”

“Apa perlakuanku padamu selama kita menjalin kasih tidak cukup untuk membuktikan aku mencintaimu apa adanya, hah!?”

“.....”

“Aku mencintai keseluruhan yang ada di dirimu, Yuri! Kau yang pemalas! Kau yang seenaknya berbicara! Kau yang sombong! Kau yang jorok! Kau yang kekanakan! Apapun, Yuri! Apapun didirimu akan aku cintai sepenuh hati!”

“Kalau begitu beri aku waktu untuk juga mencintaimu sepenuhnya!!!” jerit Chinen sambil mendorong Yamada, membuat genggaman terlepas. “Beri aku waktu untuk mencintaimu yang lebih cantik dariku! Kau yang lembut! Kau yang sensitif! Kau yang suka dandan! Kau yang suka masak! Kau yang suka mandi dengan bunga! kau yang suka mengoleksi barang imut!”

Yamada melongo.

“Beri aku waktu!!”

Semakin melongo.

“Dari kemarin aku sedang memikirkan itu. Ryosuke mencintaiku apa adanya tapi kenapa aku muak melihatmu yang jauh berbeda dari seme kebanyakan! Aku tidak mau menjadi egois, Ryosuke. Kalau kau saja bisa iklas menerimaku, kenapa aku tidak bisa?”

“Kau ti—“

“Bahkan Keito dan member lain mengakui kecantikanmu!”

“Yu—“

“Nyaris semua Johnny’s mengakui kau cantik! Fans juga begitu!”

“....”

“Tapi aku tidak bisa! Aku tidak mau mengakuinya! Aku muak dengan asumsi bahwa kau cantik dan imut dan menggemaskan dan apalah!” Chinen langsung menutup wajahnya. Tangisnya nyaris pecah.

“Yuri...” Yamada langsung mendekap kekasihnya. Mengelus surai kehitaman itu dengan lembut. “Apa menurutmu aku cantik?”

“TIDAK!” langsung dijawab. Dengan penekanan yang begitu jelas.

“Apa menurutmu aku.. seperti uke?”

“Tidak!”

“Apa menurutmu aku lemah?”

“Tidak!”

“Lalu kenapa kau harus peduli dengan pendapat mereka?”

“Itu—“

“Aku tampan di matamu, itu sudah cukup. Aku bahkan tak peduli ucapan mereka. Karena kalau menurut kekasih yang paling kucintai aku ini tampan, kenapa aku harus peduli dengan ucapan orang lain? Dan kenapa juga kau harus peduli?”

Chinen menghambur memeluk Ryosuke-nya erat-erat. Lalu menangis dipundaknya sepuasnya.

“Yang tahu tentang seberapa tampannya aku adalah Yuriku.”

“....”

“Yang tahu tentang seberapa gentle dan kuatnya aku adalah Yuriku.”

“....”

“Yang tahu tentang—“

Bibir mereka bersatu tanpa aba-aba. Chinen yang memulainya.

“Maaf...” ujarnya setelah berpagutan. Yamada terkekeh. “Harus berapa kali aku bilang kalau aku di dandani seperti banci itu untukmu?”

“....”

“Aku pernah bilang kan? Waktu itu aku ke Korea, dan aku mendapat tawaran menggunakan produk kecantikan mereka yang ingin memasarkannya di Jepang. Jadinya aku harus berdandan lebih heboh dari kalian semua. Tapi aku juga mendapat penghasilan lebih karena itu. Dan penghasilan itu sebagian besar kuberikan padamu, Yuri.”

“Ryosuke....” Mata Chinen berkaca-kaca.

“Ingat aku selalu mentraktirmu makan? Ingat aku selalu mengajakmu kencan? Ingat aku selalu memberimu hadiah? Semua itu dari penghasilan lebihku. Termasuk ketika aku mengenakan perhiasan juga.”

“Ck, kalau itu tidak membuatmu senang kau bisa berhenti dandan seperti itu dan—“

“Kata siapa tidak membuatku senang?” potong Yamada seraya tertawa. “hanya dengan mengajakmu kencan, dan melihatmu makan-makanan enak itu adalah kebahagianku.

Mata Chinen melebar mendengarnya. Oh, apa pemuda dihadapannya itu baru saja menggombal?

“Serius. Uang hasil aku berdandan seperti itu sangat menguntungkanku karena aku bisa terus bahagia melihatmu yang ceria ketika kuajak kencan atau ketika aku mengajakmu ke restoran enak untuk makan bersama.”

Chinen kembali memeluk Ryosukenya. Kali ini Yamada balas memeluk. “Omong-omong tentang Keito... kau cemburu dengannya?”

“Bukannya cemburu, tapi aku sebal karena dia menganggapmu kekasihnya dan kau dipihak uke.”

Yamada langsung tertawa. “Aku di peruke sama Keito? Astaga, itu menjijikkan!”

Chinen ikut tertawa. “Habis dia bilang begitu waktu interview tadi.”

“Aku langsung bilang dengan tegas  bahwa itu menjijikan. Bahkan aku menendangnya, jadi kau tidak perlu khawatir.”

“Yah... sekarang aku tidak mau peduli.”

“Bagus!” Yamada mengecup pipi Chinen singkat, kemudian membisikan sesuatu di telinganya.

“Kalau kau masih ragu dengan ke manlyanku... bagaimana kalau kita buktikan?”

“HAH!” Chinen langsung mengerti. “Ta-tapi besok masih ada latihan... Aku percaya Ryosuke! Aku percaya Ryosuke yang terkuat!”

“Hmm.. tapi kau bilang kau butuh waktu?”

“I—itu... Akhhh...

Astaga, tangan Yamada sudah jahil rupanya.

“Ryo—suke..hh..”

“Ayo kita buktikan!”

Sampai kemudian Chinen memekik, “Oh shit! Kenapa semakin besar? A—Akhhh... chotto...!!

END :P
.
.
.
.

A/N : lanjutin ndiri dah nc nya muahahaha XD agak lebai cerita ini tapi bomat dah wakaka XD Yama ngegombal buat Chii bikin aing iri maksi huhuhuhu dasar otepeh kesayangan!

-OMAKE-


"Yuri, kau tahu kenapa aku mandi dengan bunga?" tanya Yamada selepas bercinta. Chinen yang masih lemas hanya menggeleng lemah dipelukan Ryosukenya.

"Sebenarnya aku tak mau bilang ini. Karena memalukan. Tapi waktu itu Yuma bilang, aku sangat bau karena keringetan setiap manggung. Berbeda denganmu yang tetap segar dan harum karena tidak terlalu berkeringat."

Chinen langsung terperangah.

"Makanya aku memutuskan setiap mandi berendam akan menggunakan campuran bunga dan meletakan lilin aroma terapi supaya wanginya terserap tubuhku. Juga selalu memakai parfum banyak-banyak." Yamada menutup wajahnya yang memerah-malu. Chinen kini tertawa.

"Astaga, pantas saja banyak yang bilang kau sangat wangi dan menyengat! Ahahaha...!"

"Karena Yuma bilang begitu aku jadi malu. Apalagi ketika itu kita baru masa awal pacaran, kupikir kau akan jijik kalau aku bau keringat."

Tawa Chinen mengeras. "Tidak kok. tidak akan jijik. Kau yang keringatan saat ini malah seksi." katanya sembari mengerling. Sinyal kuat bagi Yamada dan juga juniornya yang belum tertutupi kain.

"Kalau seksi, aku akan berkeringat lagi untukmu, ne?"

Oh tidak. Chinen salah bicara. "Tidak, Ryosuke... aku lelah. sung—Akhhh.. nghhh..!!"

THE REAL END
.
.
.

A/N : dear fans, maapin yama yang burketan hahaha~ 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review