Judul : Very Very Happy
Pair : YamaChii, YabuChii
Author : Yang Punya Blog
Genre : Drama, Romance, Fluff
Summary : Chinen mencoba untuk tidak
peduli. Tapi ia justru tidak bisa menahannya
PS : summary nya ambigu? Biarin dah
ah. Btw, baca sambil dengerin Very Very Happy ya!
Douzo~
.
.
.
.
Hari ini tidak ada jadwal kerja, latihan, maupun syuting. Alias bebas. Yang
berarti periode bahagia bagi para idola. Sayangnya hanya Chinen Yuri—bungsu
dari idol grup Hey!Say!JUMP—yang mendapatkan jadwal kosong hari ini.
“Bosan.”
Kemudian kata itu tercetus. Chinen mendengus berkali-kali sambil melotot
pada HP pintarnya—menunggu notis dari seseorang. Terutama Ryosukenya. Tapi kemudian ia tersadar. “Acara
Best Award, huh? Ryosuke sok keren!”
Ya, kekasihnya itu mengikuti suatu acara award yang dihadiri sederetan aktor dan aktris terkenal dengan
menjadi salah satu nominasi Best Actor Newcomer. Lagi-lagi uap kecil terhembus
dari hidung bangir Chinen, ia lantas membanting sang HP pada sofa kesayangannya.
“Bosan! Bosan! Bosaaaan!!!”
Sungguh, pemuda mungil itu kurang kerjaan sekali saat ini. Karena? Chinen
tidak mengantuk. Chinen sudah menyelesaikan serial game terbarunya. Chinen
sudah latihan dance sendiri di
apartemennya. Chinen sudah mandi. Dan Chinen sudah ma—
“Belum. Aku belum makan. Ini menyebalkan! Arghh!!”
–ralat, Chinen belum makan sedari pagi.
“Kenapa Keito harus ada jadwal disaat aku libur!? Ini menyebalkan! Ryosuke
juga! Harusnya dia tidak sok-sokan ikut award itu!” Misuh Chinen dengan bibir
mengekerut. Baru akan memisuh lagi, HP nya tiba-tiba berdering.
YES!
“Halo?”
“Chii-chan? Kau dimana?”
“Di apato-ku. Kenapa, Kou-chan?”
Sang leader group—Yabu Kouta—yang menelpon.
“Aku sedang ada di restoran cina dekat apartemenmu. Mungkin kau mau datang?
Atau kau sedang mengantuk?”
Chinen mendengar suara kekehan dan itu membuat kedua bohlam matanya
berputar tak simetris. “Aku tidak mengantuk sama sekali, sungguh. Dan apa
Kou-chan baru saja mau mentraktirku? Kalau iya, aku ada disana lima menit lagi.
Kalau tidak, katakanlah aku mengantuk dan akan hibernasi.”
“Chii, anakku sayang, apa itu tadi
kalimat terpanjangmu?”
“Anak?”
Yabu tertawa. “Tentu, tentu, aku akan mentraktirmu.”
Chinen menyeringai. “Baiklah~ lima menit lagi aku disana.”
=:=
Yabu Kouta sangat jarang mentraktir Chinen. Jarang karena si tua itu lebih memilih membopong Chinen
ke kediamannya dan membiarkan Chinen makan sepuasnya apapun yang dihidangkan
kakak dan ibunya. Tapi hari ini nampaknya pengecualian.
“Kou-chan habis selesai interview?”
“Begitulah,” pemuda carpicorn itu menyeruput minumannya, tersenyum apik.
“Pemotretan dan interviewnya disekitar sini, jadi sekalian mampir.”
“Ah.. sokka.” Chinen menerima
pesanannya kemudian, tersenyum formal pada pelayan dan kembali menatap sosok
ayahnya. “Keito juga ada jadwal kerja...”
“Semua member ada jadwal hari ini. Kecuali kau.” Sahut Yabu ramah.
“Kesepian hm, anakku?”
Alis Chinen langsung tergulung. Ia kurang suka julukan itu. “Aku bukan
anakmu.”
“Hei, itu hanya—“
“—kecuali kalau kau sedang bersama Inoo-chan disini. Bolehlah~ haha.” Kekeh
Chinen dengan kerlingan jahil. Kali ini Yabu yang mendengus. “Hei, aku sedang
denganmu. Jadi tidak ada YabuInoo disini, oke? YabuChii.”
“YamaChii.” koreksi Chinen. “Bukan YabuChii. Tidak ada pairing itu dalam
dunia perjonisan!”
“Ahahaha...”
Berbincang sembari menikmati masakan cina, Yabu kemudian mendapat telpon.
“Ah baiklah. Saya kesana setelah ini.”
Chinen yang baru saja meneguk jus nya memberi raut bingung, Yabu
cepat-cepat menjawab. “Aku dipanggil ke Jimusho. Sepertinya menejer dan direktor
Little Tokyo Life ingin berbicara sesuatu padaku.”
“Hmm..”
“Kau mau ikut?”
Ke Jimusho? Heck, Big NO!
Chinen meringis.
“Daripada kau tidur terus-terusan di rumah. Aku tahu kau bosan. Sementara
Keito atau Yama-chan sedang sibuk, kurasa tidak ada salahnya kau bersamaku hari
ini, Yuri.”
Pemuda mungil disana cukup tersedak mendengar ucapan Yabu. “Aku yakin kalau
Ryosuke disini pasti sudah mengomel karena Kou-chan memanggilku begitu,”
“Beruntungnya dia tidak disini.” Sang leader menyeringai.
“Baiklah.. aku ikut. Tapi jangan lama-lama ya. Kau tahu kan, aku tidak suka
ke Jimusho.”
“Tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, kau tidak suka Johnny’s Jr, terutama
Jr. yang mengidolakan Yama-chan.”
“Jangan diperjelas, Pak Tua.”
Rutuk Chinen sambil memajukan bibirnya yang dibalas usapan kasar di rambutnya
oleh Yabu.
=:=
Chinen benci Johnny’s Jr.
Chinen benci Johnny’s Jr. yang sangat mengidolakan—memuja, mengelu-elukan,
membangga-banggkan—kekasihnya tanpa tahu apapun.
Mereka, para Jr. itu, sungguh tidak menganal Yamada Ryosuke. Sama sekali
tidak kenal!! Hanya Chinen (dan kini bertambah Keito) yang benar-benar mengenal
Yamada. Tapi mereka tetap sok tahu. Seperti yang ia dengar barusan;
“Yamada-kun cantik ya,”
“Iya. Sangat cantik! Auranya berbeda. Kudengar dia memakai serangkaian
kosmetik dari Korea yang sangat mahal!”
“Jangan lupakan aroma khasnya yang memabukkan! Parfumnya begitu manis dan..
seksi.”
Sekali lagi,
Chinen benci Johnny’s Jr.
.
“Chii, mau ikut bertemu direktor dan menejer kita dilantai 5? Atau mau
menunggu di kafeteria?” pertanyaan itu malah membuat Chinen mendengus. “Aku mau
pulang.”
“Kau apa?” alis Yabu terangkat satu.
“Pulang. Aku tidak suka disini. Mereka sok tahu. Mereka menyebalkan!
Mengidolakan tanpa tahu yang sesungguhnya. Huh, kalau memang mereka
mengidolakan Ryosuke, harusnya mereka tahu
aroma unik Ryosuke berasal dari tubuhku karena sebelum ke Jimusho pasti
dia memelu—“
“Shh.. Chii..” Yabu membekap Chinen dengan lembut namun langsung terlepas.
“Aku saja tahu semua seluk beluk Ohno-kun! Dari mulai dia yang kalau memancing
selalu memberi nama ikan pancingannya Kawaii atau kentut dengan nada mendayu-dayu
atau hasil gambar indahnya yang aslinya tidak niat! Tapi para Jr. disini tidak—“
“Chinen!” Yabu berseru, tidak sampai membentak—tetap. Karena membentak
Chinen fatal akibatnya. “Pelankan suaramu, Chii. Kita di Jimusho. Para Jr. bisa
saja mendengar.”
“Biarkan saja mereka mendengar! Aku tidak suka mereka. Mereka sok imut
padahal aku jauh lebih imut!”
Nah, ini yang Yabu khawatirkan. Member termudanya ini memang punya suatu
‘penyakit’ yang (sebut saja) tidak ingin kalah imut dibanding adik-adiknya.
Singkatnya, Chinen tidak suka Jr. karena Jr. lebih muda dan ia merasa mereka
muda dan tidak imut.
“Yasudah, tak apa. kalau begitu pulanglah. Kau bisa pulang sendiri kan? Aku
tidak bisa pergi begitu saja sebelum berte—“
“Baiklah. Sampai jumpa.” Chinen memotong ucapan leadernya dan segera balik
badan. Yabu hanya mendengus maklum.
=:=
“Wuaaah! Coba lihat berita! Coba lihat!”
Langkah Chinen terhenti saat mendengar seruan itu. Ia menoleh pada ruangan
yang bertempel ‘Jr. 4’ di pintunya.
“Hebat! Yamada-kun menang!”
“Iya hebat! Aku sudah menduganya! Mereka pasti terpikat oleh pesona imut
dan cantiknya!”
“Tentu saja! Biarpun tubuhnya mungil dibanding aktor lainnya, tapi dia
patut menang!”
Chinen mau muntah saat itu juga. Ucapan para Jr. yang bersahut-sahutan dari
ruangan itu membuatnya ingin mendobrak pintu kemudian berteriak, “Jangan sok
tahu, kalian anak-anak ingusan!”
Tapi yang Chinen lakukan hanya diam ditempat. Hingga sebuah suara
mengejutkannya.
“Chinen.. Yuri-kun?”
Sang empu nama menoleh.
“Astaga, benar!”
“?”
Sebentar, Chinen kenal laki-laki manis yang memanggilnya ini. Sebentar...
Siapa namanya?
“Er.. konnichiwa, Chinen-kun.”
Ah iya namanya... “Konnichiwa, Iwahashi
Genki-kun!”
Laki-laki itu agaknya terkejut saat namanya diucap lengkap oleh admire senpainya. “Ne, kalau boleh tahu, kenapa Chinen-kun disini?”
Kemudian, seperti ada yang menggerakan tubuhnya, Chinen menarik lengan
Genki dan membawanya entah kemana.
.
Iwahashi Genki belum lama ini memberi surat untuk Chinen melalui Myojo. Ah
Popolo juga, kalau tidak salah. Chinen
tidak ingat jelas tapi ia merasa Genki merupakan salah satu fansnya. Mungkin..
“Ah, maaf menyeretmu kesini. Aku.. spontan.” Chinen menunduk keki demi
merutuk berkali-kali. Yuri bodoh! Dari
sekian banyaknya tempat di Jimusho kenapa harus ke tangga darurat! Bodoh!
“Ii-e.. Aku senang bisa bertemu
Chinen-kun di Jimusho.” Sahut Genki ramah, “tapi omong-omong, kau belum
menjawab pertanyaanku.”
Chinen lantas tersenyum kagok. Bagaimana bisa ia lupa menjawab pertanyaan! “A-aku
disini bukan untuk apa-apa hehehe.. Hanya menemani Kou-chan.”
“Oh, Yabu-kun?”
“Ne,” Chinen kemudian teringat
sesuatu. “Iwahashi-kun, apa yang kau tulis untukku itu benar?”
Genki mengernyit sebentar sebelum menjawab disertai senyum. “Tentu. Salah
satu admire senpaiku itu Chinen-kun.”
Salah satu. Jangan bilang yang utama
Ryosuke. Aku pergi sekarang juga kalau ben—
“—yang utama sebenarnya Kamenashi-kun. Tapi aku juga sangat menyukai
Chinen-kun. Aku fans kalian berdua.”
Chinen berkedip cepat.
“Kenapa memangnya? Apa Chinen-kun tidak suka.. memiliki fans sepertiku?”
“A-ah.. bukan, bukan begitu. Aku senang, kok. Sangat senang. Hanya saja...
kupikir aku hanya punya satu.”
“Eh?”
“Yah.. kupikir aku dibenci kebanyakan Jr., jadi aku.. cukup kaget kau salah
satu fansku.”
Genki tertawa renyah. “Chinen-kun punya banyak. Sou-chan, aku, Ren-kun,
dan.. masih banyak!”
“Yang benar?”
“Iya!”
“Ah... terimakasih.” Chinen menggaruk tengkuknya. Sungguh, berhadapan
dengan Jr. adalah kelemahannya. Ia merasa sangat canggung sekarang.
“Mau ke tempat latihanku? Ada di lantai 4. Kita sedang istirahat sebelum
latihan lagi untuk perform Shounen Club minggu ini.”
“Apa itu berarti aku harus bertemu Jr. yang sok tahu itu? Oh tidak,
terimakasih.” Chinen langsung menutup mulutnya setelah berujar demikian.
Kembali ia merutuk berkali-kali. Genki tentu saja mengernyit.
“Ah, lupakan. Hehe.. aku tak bermaksud—“
“Jr. angkatan 2010 tidak ada yang sok tahu kok.” Genki menyela. Senyumnya
masih terpasang.
Ganti Chinen yang mengernyit.
“Sepertinya aku tahu kenapa tadi Chinen-kun berwajah kesal di depan pintu.
Mereka itu Jr. angkatan 2014. Masih baru. Jadi memang belum teralalu mengenal
para senpai.”
Angkatan? Bukannya yang namanya Jr.
sama saja ya?
“Jadi, Chinen-kun mau ikut? Disana banyak Jr. yang Chinen-kun kenal kok.”
Chinen sebenarnya malas. Tapi entah kenapa kepalanya justru mengangguk
dengan mantap. Oh, apa otaknya kini sedang korslet?
=:=
“Nenchi!!”
Bungsu di JUMP itu langsung berbinar tatkala bertemu Jr. tinggi di ruangan
tempat Genki latihan. “Jesse-kun! Lama nggak ketemu!”
Jesse Lewis adalah Jr. yang pernah bermain dengan Chinen di movie Spourt lima
tahun yang lalu, oh bersama Yasui Kentaro juga.
“Tumben Chinen-kun kesini. Ada apa?”
Chinen hanya tersenyum.
“Waaa.. ada Chinen-kun!” Yasui lalu juga menyapa. “Aku hanya tahu Yabu-kun
yang datang ke Jimosho, tadi sempat berpapasan di lantai 5. Ternyata Chinen-kun
juga datang.”
“Yacchan! Hehe.. iya, aku hanya mampir.” Canggung! Canggung! Kenapa ‘sih
Chinen harus canggung dengan para Jr.? Ini lebih susah ketimbang berhadapan
dengan Senior.
Bisa dilihat, ditempat itu yang Chinen kenal hanya Genki, Jesse, Yasui,
Shintaro, Jinguji, Kishi, dan...
Pandangan Chinen terhenti tepat di hadapan Jr. yang sangat ia kenal namun membuatnya sensi.
Matsuda Genta. Dia terkenal sangat ngefans terhadap Ryosukenya bahkan sampai mengikuti fashion dan cara menari Yamada.
Pandangan Chinen terhenti tepat di hadapan Jr. yang sangat ia kenal namun membuatnya sensi.
Matsuda Genta. Dia terkenal sangat ngefans terhadap Ryosukenya bahkan sampai mengikuti fashion dan cara menari Yamada.
“Ah.. konnichiwa...” Genta
sepertinya sadar dilihat oleh Chinen dengan tatapan tidak suka. Ia cepat-cepat
menyapa sambil menunduk dalam.
Chinen mendengus pelan lalu balas menunduk.
“Chinen-kun tak perlu khawatir. Genta-kun tidak menganggap Yamada-kun uke kok.”
Celetukan Jesse membuat Chinen memutar cepat kepalanya pada Jr. bule itu.
Wajahnya memerah.
“Ahahaha.. aku tahu Chinen-kun sensi dengan Jr. yang selalu memuji
Yamada-kun cantik atau menganggap Yamada-kun uke. Tapi kita disini tidak ada
yang berpikir begitu.” Jelas Jr. jangkung itu. Chinen lantas terkekeh garing. “Oh
ya? Kalian tidak berpikir Ryosuke cantik?”
Mereka terdiam.
Chinen lagi-lagi tertawa. Kali ini lebih garing. “Ryosuke memang seperti
itu. Yasudahlah tak usah dipermasalahkan. Kalian mau menganggapnya uke juga terserah. Terutama kau,
Matsuda-kun.” Chinen menatap Genta lama
kemudian meneliti semua Jr. disana. “Sepertinya aku mengganggu latihan kalian, silahkan
lanjut lagi latihannya. Aku pulang dulu hehe..”
Baru Chinen keluar dari ruangan, Genki tiba-tiba menahan lengannya. “Aku
tidak pernah beranggapan begitu. Yamada-kun tampan. Dia hanya ingin terlihat
cantik untuk menyeimbangimu. Sungguh, Chinen-kun yang tercantik di Hey Say
JUMP!”
Chinen tertawa tulus kali ini. Ia mengangguk dan akhirnya benar-benar
meninggalkan Jimusho.
Kupingnya sempat panas kembali saat melewati beberapa Jr. yang sedang
membicarakan kemenangan Yamada pada best
actor newcomer sebagai Nagisa di Ansatsu Kyoushitsu. Sampai di apartemen ia
berancana menonton movie itu. Oh padahal ia kekasihnya, tapi baru sekarang akan
menonton movie itu. Kekasih macam apa dia?
=:=
Hari ini semua member Hey Say JUMP berkumpul untuk latihan dance. Mereka
akan merilis single baru berjudul Magic Sunshine. Yamada dengan riang
menghampiri kekasihnya yang sedang beristirahat di bangku pojok sambil
menegak minuman isotonik selepas latihan.
“Chinen~”
Tak ada sahutan. Yamada mengernyit
sebentar dan kembali memanggil. “Yuri?”
Chinen tetap diam. Tapi kemudian menoleh lelah. “Apa?”
“Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa” Chinen lalu beranjak dan menghampiri Dai-chan serta
Inoo-chan yang sedang bersenda gurau. Yamada membatu ditempat. Chinen
menyuekinya? Dan lagi, apa-apaan kalimat ‘tidak apa-apa’ itu? Alarm ‘renggang’
di lubuk hati Yamada untuk Chinen lantas berbunyi.
.
“Chinen~ ayo kita makan malam ber—“
“Aku akan makan dengan keluargaku malam ini.” Sela Chinen selepas latihan.
Yamada lagi-lagi mengernyit.
“Oh, kalau begitu aku ikut. Tidak apa-apa kan?” tanyanya bersihkeras. Yamada harus tahu mengapa Chinen menyuekinya seharian ini.
Baru Chinen akan menjawab, Keito tiba-tiba menghampiri. “Yama-chan, kau
lupa membawa handukmu.” Ia menyerahkan handuk kecil berwarna peach dengan motif stoberi di
pinggirnya. Diterima Yamada dengan riang. “Ah iya. Sankyu, Keito!”
“Ne, Kau tidak bisa tenang kalau
tidak ada handuk itu kan? Hahaha.. wanginya harum sekali. Kayak wangi cewek.”
Yamada hanya tertawa sambil memukul lengan kekar Keito.
Chinen memutar bola matanya lalu segera beranjak. “Aku
duluan. Ja.”
“Tunggu, Yuri.” Yamada menahan Chinen segera. “Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Yuri!” pemuda nyentrik itu
menekan kalimatnya. “Aku tanya kau
kenapa? Kenapa menghindariku seharian
ini?”
“Aku tidak mau jawab. Diamkan aku sampai aku baik sendiri. Kau punya Keito yang setia denganmu sekarang. Makan malam saja bersamanya. Aku mau pulang. Ja,” Chinen melepas paksa pegangan Yamada di lengannya. Lalu segera berjalan keluar tempat latihan dan menaiki bus di halte dekat sana.
Tapi bukan Yamada Ryosuke namanya kalau dia mendiamkan Chinen. Makhluk imut
itu adalah perhatian utamanya, jadi tidak ada kegiatan ‘mencuekan’ Chinen
selama statusnya masih sebagai kekasihnya.
“Kenapa mengikuti?” desis Chinen dalam busway. Yamada yang ternyata
mengikuti Chinen duduk disamping si imut itu dengan tenang.
“Aku tahu kau tidak akan makan kalau sedang bad mood.”
“....”
“Cemburu, heh?”
“....”
“Astaga, Yuri. Kau cemburu dengan Keito?”
“Sok tahu,” sahut Chinen cepat.
“Aku memang tahu. Kau dan aku satu pemikiran.”
“Hah.” Chinen terkekeh atau mungkin lebih tepatnya mencemooh. “Ryosuke, aku
sedang tidak mood denganmu hari ini. Aku ingin pulang segera lalu tidur.”
“Kau harus makan.”
“Tidak mau.”
Yamada menatap Chinen seraya menggeram-gemas. Ia lalu menekan tombol di
kiri tempat duduknya yang membuat busway berhenti segera. Penggila stoberi itu
lalu menyeret Chinen menuruni bus.
“Ryosuke!”
“Meneriaki namaku hanya akan membongkar penyamaran kita...” desis Yamada
yang masih menarik lengan Chinen diantara para pedestrian.
“Lepas!”
“Tidak sampai kita makan malam bersama.”
Chinen tak mau berdebat di keramaian umum jadi ia hanya menurut, sampai
kekasihnya itu mengajaknya ke restoran dimsum kesukaannya.
“Cepat makan. Atau perlu ku suapi, heh?”
Chinen hanya diam. Ia memandang kekasih di depannya lekat-lekat. Kemudian
Chinen menghela napas berat sebelum mengambil sumpit untuk mulai makan. Tak ada
percakapan. Yamada yang juga makan hanya menatap Chinen penuh kernyitan.
Otaknya berpikir keras kenapa Chinen jadi aneh.
=:=
Keesokan harinyapun hubungan Yamada dan Chinen masih sama. Yamada benar-benar
benci Chinen yang sukar tersenyum. Terlebih ketika kini pemotretan sedang berlangsung,
Chinen nyaris tidak berceloteh.
“Chii-chan kenapa sih? Ada masalah? Mu cerita denganku ?” Keito bertanya
pelan-pelan. Ia cukup tahu bahwa si imut itu sedang dalam mood jelek.
“Imej Ryosuke menurutmu seperti apa?” Chinen justru balik tanya dan membuat british member itu tercengang.
“Kenapa tanya begitu?”
“Iseng saja.”
Yamada dari jarak 8 meter cukup mendengar percakapan kedua member
terdekatnya. Ia masih di dandani oleh sang stylist sehingga ia hanya perlu
memasang kuping.
“Kau pasti lebih tahu tentang Yama—“
“Aku tanya menurutmu.”
“Oh. Yama-chan itu.. menawan.”
“Cantik maksudmu?”
Alis Keito langsung bergulung.
“Kau suka dengan Ryosuke kan?”
Ada jeda beberapa detik sebelum Keito tertawa. Dan Yamada yang masih di
dandanipun ikut terkekeh. Benar ternyata.
Dia cemburu dengan Keito. Astaga
Yuri...
Chinen memutar matanya mendapat reaksi seperti itu. Kemudian potograper
berteriak. “YAK, YAMADA-KUN, STAND BYE! Pemotretan sesi individu dimulai!”
“HAIK!”
Chinen langsung memusatkan perhatiannya pada Yamada yang sedang dipoto.
Seperti baru menyadari sesuatu. Chinen menutup mulutnya dengan tangan sementara
matanya menyiratkan kesakitan.
Selama interview dan pemotretan majalah Myojo, bahkan sampai selesai latihan dancepun, Chinen tidak banyak berkata dan berekspresi. Peduli setan
dengan Yamada yang uring-uringan sambil memaksa bertanya.
Chinen langsung pulang ke apartemennya. Sementara Yamada masih, masih, dan masih terus
mengikuti Chinen.
“Yuri, kumohon! Kau ini kenapa?!”
Diam. Diam. Dan diam.
“Yuri!”
Chinen tertunduk lesu di sofa kesayangannya. Pandangannya kebawah. Ia tak
berkata sepatahpun dan seperti sedang merenung.
Yamada lalu duduk disamping Chinen, meraih jemari mungil kekasihnya itu untuk digenggamnya erat-erat.
Sangat erat..
Begitu erat...
Semakin erat...
Terlalu erat.......
Chinen tentu meringis nyeri. “Kau menyakitiku, Ryosuke.”
“Kau yang menyakitiku kalau kau terus diam!”
“.....”
“Masih tak menemukan...”
“?”
“Jawaban. Aku kira dengan menggengam tanganmu aku bisa menemukan jawaban
kenapa kau sangat aneh belakangan ini.”
“Kau tidak punya kemampuan untuk itu.” dengus Chinen masih sambil menunduk.
“Kau kenapa....?”
Chinen semakin meringis. Sakit. Genggaman itu sangat sakit seperti
cengkraman orang yang sedang murka. Hatinya juga ikut sakit namun justru Yamada
yang meneteskan air mata.
“Kenapa.. kau diam saja?” racau Yamada disertai isakan. Hati Chinen
kembali sakit. Tak tahan karenanya, Chinen membentak. “KENAPA MENANGIS? KAU
LAKI-LAKI KAN? KAU PIHAK DOMINAN DISINI TAPI KENAPA KAU MALAH MENANGIS?!”
Akhirnya, air asin itu juga keluar dari pelupuk Chinen.
“Yuri...?”
“KENAPA, RYOSUKE!?”
“AKU YANG HARUSNYA TANYA! KAU KENAPA?!”
“JAWABANNYA ITU ADA DIDIRIMU SENDIRI!”
“APA MAKSUDMU?! JELASKAN! JANGAN DIAM SAJA MAKANYA!”
Sudah lama. Lama... sekali. Setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak
bertengkar sambil teriak-teriak. Terakhir mungkin ketika masih SMA. Bahkan saat
bertengkar hebat karena yamajima era-pun, mereka tidak saling berteriak.
Chinen adalah pribadi yang cerdas sehingga ia lebih dulu mendinginkan
pikirannya. Yamada masih menggenggam jemari Chinen, ia tak mengurangi
keeratannya.
“Aku hanya ingin merenung,
Ryosuke...”
“Aku tidak suka kau yang seperti itu!” di sahut langsung. Chinen kini mengesah.
“Apa kau... mencintaiku?”
Yamada mendelik, “Pertanyaan macam apa itu?! Tentu saja aku mencintaimu,
bodoh!”
“Mencintai semua dari diriku?”
“Iya!”
“Mencintai sisi jelekku?”
“Iya!”
“Bahkan mencintai hal yang tidak kau sukai dari diriku?”
“Mou iiii.....” Yamada mengerang.
“Iya! Iya! Dan iya!”
“.....”
“Apa perlakuanku padamu selama kita menjalin kasih tidak cukup untuk
membuktikan aku mencintaimu apa adanya, hah!?”
“.....”
“Aku mencintai keseluruhan yang ada di dirimu, Yuri! Kau yang pemalas! Kau
yang seenaknya berbicara! Kau yang sombong! Kau yang jorok! Kau yang kekanakan!
Apapun, Yuri! Apapun didirimu akan aku cintai sepenuh hati!”
“Kalau begitu beri aku waktu untuk juga mencintaimu sepenuhnya!!!” jerit
Chinen sambil mendorong Yamada, membuat genggaman terlepas. “Beri aku waktu
untuk mencintaimu yang lebih cantik dariku! Kau yang lembut! Kau yang sensitif!
Kau yang suka dandan! Kau yang suka masak! Kau yang suka mandi dengan bunga!
kau yang suka mengoleksi barang imut!”
Yamada melongo.
“Beri aku waktu!!”
Semakin melongo.
“Dari kemarin aku sedang memikirkan itu. Ryosuke mencintaiku apa adanya
tapi kenapa aku muak melihatmu yang jauh berbeda dari seme kebanyakan! Aku tidak mau menjadi egois, Ryosuke. Kalau kau
saja bisa iklas menerimaku, kenapa aku tidak bisa?”
“Kau ti—“
“Bahkan Keito dan member lain mengakui kecantikanmu!”
“Yu—“
“Nyaris semua Johnny’s mengakui kau cantik! Fans juga begitu!”
“....”
“Tapi aku tidak bisa! Aku tidak mau mengakuinya! Aku muak dengan asumsi
bahwa kau cantik dan imut dan menggemaskan dan apalah!” Chinen langsung menutup
wajahnya. Tangisnya nyaris pecah.
“Yuri...” Yamada langsung mendekap kekasihnya. Mengelus surai kehitaman itu dengan
lembut. “Apa menurutmu aku cantik?”
“TIDAK!” langsung dijawab. Dengan penekanan yang begitu jelas.
“Apa menurutmu aku.. seperti uke?”
“Tidak!”
“Apa menurutmu aku lemah?”
“Tidak!”
“Lalu kenapa kau harus peduli dengan pendapat mereka?”
“Itu—“
“Aku tampan di matamu, itu sudah cukup. Aku bahkan tak peduli ucapan
mereka. Karena kalau menurut kekasih yang paling kucintai aku ini tampan,
kenapa aku harus peduli dengan ucapan orang lain? Dan kenapa juga kau harus
peduli?”
Chinen menghambur memeluk Ryosuke-nya erat-erat. Lalu menangis dipundaknya
sepuasnya.
“Yang tahu tentang seberapa tampannya aku adalah Yuriku.”
“....”
“Yang tahu tentang seberapa gentle dan kuatnya aku adalah Yuriku.”
“....”
“Yang tahu tentang—“
Bibir mereka bersatu tanpa aba-aba. Chinen yang memulainya.
“Maaf...” ujarnya setelah berpagutan. Yamada terkekeh. “Harus berapa kali
aku bilang kalau aku di dandani seperti banci itu untukmu?”
“....”
“Aku pernah bilang kan? Waktu itu aku ke Korea, dan aku mendapat tawaran
menggunakan produk kecantikan mereka yang ingin memasarkannya di Jepang. Jadinya
aku harus berdandan lebih heboh dari kalian semua. Tapi aku juga mendapat
penghasilan lebih karena itu. Dan penghasilan itu sebagian besar kuberikan
padamu, Yuri.”
“Ryosuke....” Mata Chinen berkaca-kaca.
“Ingat aku selalu mentraktirmu
makan? Ingat aku selalu mengajakmu
kencan? Ingat aku selalu memberimu
hadiah? Semua itu dari penghasilan lebihku. Termasuk ketika aku mengenakan
perhiasan juga.”
“Ck, kalau itu tidak membuatmu senang kau bisa berhenti dandan seperti itu
dan—“
“Kata siapa tidak membuatku senang?” potong Yamada seraya tertawa. “hanya dengan mengajakmu kencan, dan
melihatmu makan-makanan enak itu adalah kebahagianku.”
Mata Chinen melebar mendengarnya. Oh, apa pemuda dihadapannya itu baru saja menggombal?
“Serius. Uang hasil aku berdandan seperti itu sangat menguntungkanku karena
aku bisa terus bahagia melihatmu yang ceria ketika kuajak kencan atau ketika
aku mengajakmu ke restoran enak untuk makan bersama.”
Chinen kembali memeluk Ryosukenya. Kali ini Yamada balas memeluk. “Omong-omong
tentang Keito... kau cemburu dengannya?”
“Bukannya cemburu, tapi aku sebal karena dia menganggapmu kekasihnya
dan kau dipihak uke.”
Yamada langsung tertawa. “Aku di peruke sama
Keito? Astaga, itu menjijikkan!”
Chinen ikut tertawa. “Habis dia bilang begitu waktu interview tadi.”
“Aku langsung bilang dengan tegas bahwa itu menjijikan.
Bahkan aku menendangnya, jadi kau tidak perlu khawatir.”
“Yah... sekarang aku tidak mau peduli.”
“Bagus!” Yamada mengecup pipi Chinen singkat, kemudian membisikan sesuatu
di telinganya.
“Kalau kau masih ragu dengan ke manlyanku... bagaimana kalau kita buktikan?”
“HAH!” Chinen langsung mengerti. “Ta-tapi besok masih ada latihan... Aku
percaya Ryosuke! Aku percaya Ryosuke yang terkuat!”
“Hmm.. tapi kau bilang kau butuh waktu?”
“I—itu... Akhhh...”
Astaga, tangan Yamada sudah jahil rupanya.
“Ryo—suke..hh..”
“Ayo kita buktikan!”
Sampai kemudian Chinen memekik, “Oh shit! Kenapa semakin besar? A—Akhhh... chotto...!!”
END :P
.
.
.
.
A/N : lanjutin ndiri dah nc nya
muahahaha XD agak lebai cerita ini tapi bomat dah wakaka XD Yama ngegombal buat
Chii bikin aing iri maksi huhuhuhu dasar otepeh kesayangan!
"Karena Yuma bilang begitu aku jadi malu. Apalagi ketika itu kita baru masa awal pacaran, kupikir kau akan jijik kalau aku bau keringat."
Tawa Chinen mengeras. "Tidak kok. tidak akan jijik. Kau yang keringatan saat ini malah seksi." katanya sembari mengerling. Sinyal kuat bagi Yamada dan juga juniornya yang belum tertutupi kain.
"Kalau seksi, aku akan berkeringat lagi untukmu, ne?"
Oh tidak. Chinen salah bicara. "Tidak, Ryosuke... aku lelah. sung—Akhhh.. nghhh..!!"
THE REAL END
.
.
.
A/N : dear fans, maapin yama yang burketan hahaha~

0 komentar:
Posting Komentar