Title: Sleep Well
Chapter: 5
Author: Raras Vadma
Pair: YamaChii for sure (percayalah kawan ini akan
berending bahagia wkwkwk), AriYama, Chiitaro (buat konflik), TaDaiki.
Genre: Author Universe (AU), Drama,
Hurt/comfort(maybe)
WARNING! BAHASA SUKA SUKA
Summary : Alat-alat itu
terpasang di hampir semua tubuh Chinen, paling penuh di sekitar dada. Yamada
kembali menangis melihat pemuda mungil kesayangannya tergolek tak berdaya
disokong alat-alat itu. Ia menekan kaca ruang instalasi yang transparan dengan
erat. “Yuri... maafkan aku...” rintihnya.
Intro : Sampe ini nggak sedih, saya
bersumpah nggak akan bikin ff kek ginian lagi :’v
Douzo!
.
.
.
“Chinen!”
“...”
“Chinen bangun!”
“...”
“Chinen Yuri!”
“....”
“Astaga, Chinen!!” Yabu sudah keringat dingin ketika tak mendapat reaksi
apapun dari member termudanya meski sudah dibangunkan.
“Kenapa Yabu-chan?” Yuto bertanya, sudah siap untuk turun dari kereta.
“Chinen tidak mau bangun.. bagaimana ini?”
Kelima member lainnya langsung menghampiri.
“Aneh, kenapa akhir-akhir ini dia susah sekali dibangunkan?” Hikaru
mendengus. “Seperti minum obat tidur saja,”
“Jangan bicara aneh-aneh!” seru Inoo seraya menginjak kaki sang komedian,
“coba Yama-chan ba... ohiya aku lupa.” Pemuda cantik itu justru menepuk
keningnya. Gestur yang jelas bahwa dia melupakan satu fakta bahwa Yamada dan
Chinen telah berakhir.
Padahal, sejujurnya Yamada sangat ingin meraih kedua pipi tirus Chinen lalu
menciumnya dengan lembut kemudian tersenyum manis padanya saat mata kelam itu
terlihat. Namun apadaya, lengannya yang selalu di genggam Dai-chan membuatnya
tak bisa melakukan itu.
“CHINEN..!!!”
Sehingga justru Hikaru yang berteriak tepat di telinga member termuda itu
demi membuat mata Chinen bergerak tak tenang dalam pejaman.
“Eungh...” sampai kemudian itu terbuka dan merembeslah air asin darisana.
Semua member yang ada langsung mengesah lega.
“Astaga, Chii..! Kau kenapa sih..?!” Yabu memeluk Chinen dengan perasaan
kalut, sementara Yuto mengusap air mata Chinen yang membuatnya bingung. “Kenapa
kau menangis, Chii?”
“Ibu...” Chinen melirih. “A-aku mimpi buruk.. Aku ingin bertemu ibu..”
Mereka lantas saling pandang. Keito lalu menepuk pundak Chinen dengan lembut,
“Kita turun dulu, nanti di lokasi syuting kau bisa menelpon ibumu.”
Fokus pemuda mungil itu masih separuh, saat akhirnya sadar air matanya
mengalir, ia cepat-cepat mengusap itu dan lalu tersenyum. “A-ah.. iya. Ayo
turun. Maaf membuat kalian khawatir.”
Kebanyakan member sudah memperlakukan Chinen seperti biasa. Merangkulnya,
mengunyel pelan pipinya, mengusap lembut kepalanya, dan si mungil itu juga
sudah kembali memasang topeng keceriannya. Yamada juga ingin melakukan itu. Sangat ingin. Namun saat tangannya baru
akan mengusap pipi kenyal Chinen—hanya untuk memberi afeksi aku juga sangat mengkhawatirkanmu,
oleh Chinen langsung di tepis
dengan kasar.
“Jangan menyentuhku!”
Yamada yakin itu adalah nada terdingin Chinen sepanjang masa. Tatapannyapun jauh lebih sinis dari biasanya. Kontan membuat Yamada takut.
“Chinen..?”
Chinen cepat-cepat tersenyum saat Dai-chan menegurnya. “Ah, daijoubu.” senyum itu berubah menjadi kekehan, “aku
tidak suka saja, kekasih Dai-chan menyentuhku. Nanti Dai-chan tidak terima
kan?”
Seketika hening.
“Sudahlah, yuk turun. Aku sudah pegal~” Chinen berjalan lebih dulu dari
yang lain untuk keluar dari kereta. Member lain hanya menatap penuh tanya
sembari mengikutinya turun.
=:=
Konsep pemotretan kali ini adalah Out Of The Day di luar ruangan dengan
latar pertokoan. Sekarang musim panas, karenanya pakaian untuk pemotretanpun
harus disesuaikan. Ke delapan member sedang di rias dahulu sebelum di potret.
“Chinen-kun, kenapa matamu merah?” tanya stylist yang mengurusi si bungsu.
“Tadi habis nangis.”
“Eh, kenapa...!?”
“Hanya mimpi buruk.” Chinen mulai tidak suka ditanya-tanyai seperti ini,
“sudah belum diriasnya? Aku ingin menelpon ibuku segera sebelum mulai di poto.”
Sang stylist tersenyum, kemudian menaruh catokan yang tadi dikenakan untuk
mengombakan rambut Chinen. “Sudah.”
“Terimakasih.”
Chinen lantas beranjak untuk meraih Iphonenya di dalam tas, namun belum
sampai pada bangku dimana tasnya berada, ia justru melihat Dai-chan sedang
suap-suapan pocky dengan Yamada.
“Ya, lakukanlah. Terserah. Kau hanya ilusi buruk. Kalian semua hanya ilusi
buruk.” Ujarnya tanpa sadar, dengan raut yang amat sinis.
“Siapa yang ilusi buruk?”
Sialan. Chinen merutuk dalam hati tatkala mendengar suara
Hikaru dibelakangnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan Yamada?” tanya member bergingsul
itu seraya mensejajarkan badan dengan Chinen.
“Apa yang terjadi? Tidak ada. Tapi ada sesuatu yang terjadi pada Dai-chan
dan Yamada Ryosuke yang disini.”
“Yang disini?” Hikaru menautkan alis. Chinen hanya tersenyum ironi kemudian
lanjut berjalan, namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh. “Ohya,
Hikka... terimakasih pernah menjodohkanku dengan Ryosuke. Aku akan sangat mesra
dengan Ryosukeku setelah ini.”
Kemudian ia berhasil meraih Iphone nya dan lalu berjalan ke arah tempat sepi
dari staff serta member lain.
Hikaru masih ditempat. Ia tidak mengerti akan maksud si imut itu sampai
akhirnya otaknya mampu merakit maksud Chinen meski tak seutuhnya, ia langsung
menghampiri Yamada dan Dai-chan.
=:=
“Hallo...?”
“Hallo, ibu..”
“Yuri?”
“Ibu..” Chinen merasa matanya memanas. Ck, padahal ia bukan pribadi yang
sensitif atau cengeng seperti Yamada. Tapi kenapa...
“Kenapa menelpon, Yuri?” suara Chinen Miki mengalun kembali. Begitu merdu
dan menenangkan. Chinen menengadahkan kepala lalu tersenyum. “Hehe.. apa aku
tidak boleh menelpon ibu?”
“Huh? Kau ini kenapa? Apa terjadi
sesuatu di tempat kerjaan?”
“Hehe.. tidak ada.”
“Jangan bohong dengan ibu.”
“Tidak ada, bu..” Chinen ingin tersenyum tulus sekarang, tapi kenapa susah
sekali?
“Kau dan Yamada-kun.. baik-baik saja
kan?”
Chinen tidak langsung menyahut. Sekitar lima detik kemudian baru ia
merespon. “Tentu, bu. Dia bahkan mengajakku kencan setelah pemotretan ini.”
“Ohya? Kemana?”
“Entah. Tapi katanya akan sangat lama...”
“Eh? Maksudnya?”
“Ahaha... Aku juga nggak tahu,
mungkin maksudnya kencan berduanya lama. Sampai menginap mungkin, bu.”
“Oh begitu... yausudah hati-hati kalau begitu. Kau jangan terlalu
menyusahkannya ya.”
“Tenang saja. Ohya bu, kalau begitu
aku pamit ya?”
“Astaga, mau kencan saja kenapa harus pamit?” sang ibu tertawa. Chinen juga
demikian meski itu bukan tawa sesungguhnya.
.
“JANGAN BOHONG, YAMADA!”
“....”
“Apa yang kau lakukan dengan Chinen?! Apa yang kalian lakukan?!”
“Hikaru.. tenang dulu, kau ini kenapa?” Inoo menahan lengan Hikaru yang
hendak memukul Yamada—dan juga Dai-chan. Sementara dua member yang menjadi
target amukan Hikaru hanya menatapnya dengan kernyitan. Oh salah, Yamada dengan
raut pias.
“Ada apa ini?!” Manajer kemudian menghampiri, begitu pula member
lain—kecuali Chinen.
“Chinen akhir-akhir ini bertingkah aneh, karena Yamada dan Dai-chan!” seru
Hikaru seraya menuding kedua member yang dimaksud. Manajer dan member lain
meminta penjalasan lebih lanjut.
“Bukan Chinen yang memutuskan hubungan. Tapi Yamada... karena Dai-chan!”
Mereka disana lantas memekik.
Yamada lalu berdiri dan menatap sinis sang bassis. “Kau tidak perlu ikut
campur, Hikka. Ini bukan urusanmu.”
“URUSANKU KARENA CHINEN ADALAH BAGIAN DARIKU, BAGIAN HEY! SAY JUMP!” Hikaru
balas menyahut dengan urat di dahi. “TADI AKU MENDENGARNYA, DIA MASIH SANGAT
MENCINTAIMU! DIA SEPERTI TERLIHAT GILA KARENA KAU!”
“Hikka, tenanglah dulu..” Yabu menenangkan. “Sekarang Chinen dimana?”
“Ohiya, kemana dia?” Yuto meliukkan matanya, panik.
“Astaga! Aku lupa memberi tahu!” Manajer tiba-tiba berseru, menambah
kepanikan yang ada. “Tapi potografer dan staff sudah memberitahu, kan?”
Member langsung saling pandang, lalu menggeleng.
“Di sekitar sana, kira-kira 100 meter dari sini, ada papan reklame yang
hampir roboh. Johnny’s sudah meminta pihak yang bersangkutan untuk
merobohkannya sebelum pemotretan ini tapi belum terlaksanakan sekarang, katanya
baru besok akan di—“
Belum selesai sang Manejer menjelaskan, Yamada sudah berlari sekuat tenaga
menuju tempat yang dimaksud.
Mata kecoklatan center JUMP itu
akhirnya menangkap sosok Chinen Yuri sedang menelpon di sekitar papan reklama
yang nyaris—oh tidak, itu bukan nyaris lagi... tapi..
“AWAS,
YURI............!!!”
BRAAAAAAAAAAAK!!
“CHINEEEEN!!”
Tak terhitung berapa orang yang meneriaki nama Chinen Yuri saat ini.
Semuanya panik. Semuanya ketakutan. Semuanya merasa ngilu.
“CHINEN..!”
“ASTAGA, CHII!”
“PANGGIL AMBULAN!”
“PANGGILAN DARURAT, CEPAT!”
=:=
“Kami melaporkan dari distrik
Hakone, salah satu member Hey!Say!JUMP dibawah naungan Johnny’s Entertainment,
Chinen Yuri, mengalami kecelakaan karena kejatuhan sebuah papan reklame tepat
di tubuhnya, kondisinya saat ini tidak bisa dibilang bagus karena masih berada
dalam UGD...”
Ryutaro langsung membanting remot TV setelah menyaksikan berita itu dan
menyambar jaket serta dompetnya, lalu keluar rumah dengan membanting pintu.
.
“Yuri..! Yuri..! Yuri...!”
Di depan ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Universitas Hakusan, Yamada
Ryosuke tak berhenti merapal nama mantan kekasihnya.
Matanya sudah sangat merah, wajahnya kuyu, ia tak berhenti menjerit di ambulan
dari tadi dan kini hanya bisa merapal dengan menjambaki rambutnya.
“Yama-chan, tenanglah..” Keito menekan pundak pemuda utama itu, namun tak
mempengaruhi apapun. Gitaris itu juga tidak bisa tidak menangis, apalagi member
lain. Yuto bahkan masih menangis seraya berjongkok.
Dokter kemudian keluar dari UGD.
“Bagaimana, sensei?” Yabu dan
Manajer bertanya serempak. Dokter lelaki itu hanya tersenyum lelah seraya
menepuk pundak Yabu, “kami berhasil mengatasi masa kritisnya. Sekarang ia akan
dipindahkan ke ruang instalasi, setelah ini kami hanya bisa berharap dia cepat
sadar.”
“Jadi keadaannya saat ini...?” Yamada langsung menyongsong dokter itu,
“Yuri baik-baik saja, kan sensei? Dia
akan sembuh, kan? Dia akan—“
“Dia dalam kondisi koma.”
Semuanya memekik linu bersama. Lalu dokter menjelaskan kembali, “Kalau
untuk bangun dan sembuh itu tergantung kondisinya... apakah jantungnya mampu
bertahan untuk hidup atau tidak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Sang
dokter lalu berjalan, membuat Yamada langsung merosot tak berdaya dengan
tatapan hampa.
=:=
Alat-alat itu terpasang di hampir semua tubuh Chinen, paling penuh di
sekitar dada. Yamada kembali menangis melihat pemuda mungil kesayangannya tergolek
tak berdaya disokong alat-alat itu. Ia menekan kaca ruang instalasi yang
transparan dengan erat.
“Yuri... maafkan aku...” rintihnya. Dai-chan lalu menangis. Yuto juga.
Keitopun sama. Yang paling tegar disana hanya Manajer, Yabu, Inoo, dan Hikaru.
“Anakku! Bagaimana keadaan anakku?!”
Keluarga Chinen datang kemudian, sang ibu sudah bertanya dengan mata
memerah karena tangis.
“Chinen-san!” Manajer langsung menunduk dalam. “Saya minta ma—“
Belum sempat sang Manajer lanjut berkata, terdengar keributan hebat dari
area luar rumah sakit.
“Pasti para wartawan dan reporter!” Hikaru merutuk.
.
“Itu Ryutaro!”
“Itu Morimoto Ryutaro!”
“Ryutaro-kuuun!!”
“Kami melaporkan di depan Rumah
Sakit Universitas Hakusan, tempat dimana Chinen Yuri di rawat, kini telah ramai
dengan banyak fans juga reporter, namun para boduguard milik Johnny’s
Entertainment tidak membiarkan siapaun masuk ke gedung UGD selain member,
manajer, orang tua Chinen, serta para dokter. Tapi rupanya, mantan
member Hey!Say!JUMP, Morimoto Ryutaro, terlihat memasuki gedung UGD itu secara
paksa mengenakan pakaian biasa.”
“Kejar!”
“Ikuti Ryutaro-kun!”
“Ambil fotonya, ambil!!”
=:=
Berpasang-pasang mata yang berada di luar ruang instalasi VIP menatap penuh
ketidak percayaan saat melihat Morimoto
Ryutaro berdiri dengan nafas memburu dan tatapan menusuk yang terhunus untuk
satu orang.
...Yamada Ryosuke.
“KAU!”
“HEI, KAU!!”
Dua bodyguard yang mengejar langsung menarik tubuh Ryutaro untuk keluar.
Namun mantan member itu memberontak dengan garang.
“CHINEN, BANGUN!!!” Teriaknya diantara rontaan. “KUBILANG, BANGUN!!! DISANA
TIDAK ADA RYOSUKEMU!! BANGUN CHINEN! KAU TIDAK BOLEH PERGI DENGANNYA! ITU BUKAN
RYOSUKE-MU!!”
Ibu Chinen langsung menoleh, kemudian berdiri menghampiri Ryutaro.
“Lepaskan dia.”
Dua bodyguard langsung menurut.
“Ryutaro-kun... apa yang ingin kau katakan?” Chinen Miki menatap Ryutaro
dengan tatapan berharap.
Ryutaro mengeraskan rahang demi kembali menatap Yamada. “Chinen tadi
menghubungiku. Aku mendengar papan itu jatuh sebelum sambungan telpon terputus
karena tertimpa.” Jeda sejenak untuk mengambil napas, “dia pamit padaku...”
Ibu Chinen langsung meremat kedua bahu Ryutaro. “Dia juga pamit denganku!
Anakku juga berpamitan denganku di telpon tadi!”
“Itu semua karena dia!” Telunjuk Ryutaro berhasil menuding Yamada yang kini
berjongkok seraya menangis. Chinen Miki lantas menoleh untuk menatap pemuda
utama yang di tuding.
“Yamada-kun?” tangannya bergetar demi menutup mulutnya. “Yu.. yuri tadi bilang
di telpon, dia akan kencan kesuatu tempat denganmu. Dia berpamitan untuk itu.
Katanya akan pergi kencan sangat lama.”
Yamada mendongak dengan lelehan air mata yang tak kunjung kering, “A-aku
tidak mengajaknya..”
“!?”
Yabu segera menjelaskan kalau Yamada sudah putus dengan Chinen dan kini
jadian dengan Dai-chan.
Chinen Miki mulai terisak, “Ta-tapi tadi Yuri bilang akan pergi—“
“Itu hanya dalam mimpi.” Sahut Ryutaro kemudian. Suaranya sangat lirih.
“Chinen selalu bermimpi bermesraan dengan Yamada. Dengan Yamada-nya yang setia.
Dengan Yamada-nya yang selalu memanjakannya. Dia bercerita begitu denganku.
Dalam mimpinya dia selalu cerita sedang kencan dengan Yamada atau sedang
bermesraan dengan Yamada. Namun sebenarnya... Yamada sudah memutuskan Chinen.”
Tak perlu berpikir lama bagi Ibu Chinen untuk menampar Yamada dengan sangat
keras.
Member lain hanya memekik linu. Lain hal dengan yang di tampar, Yamada hanya
merelakan pipinya lecet karena cincin yang dikenakan ibu Chinen menggores
pipinya ketika ditampar.
“Chinen bahkan membeli banyak obat tidur. Dia ingin selalu tidur dan
bermimpi bertemu Yamadanya.” Suara Ryutaro kembali mengalun. Hikaru langsung
terperanjat. “Jadi benar...?”
Pemuda bergingsul itu langsung meraih tas Chinen yang tadi dibawanya ke
rumah sakit, dan ia tak bisa tak terkejut ketika menemukan botol-botol kecil
yang berisi banyak obat tidur. “Ini.. obat tidur yang selalu di minum Chinen!
Pantas saja dia sangat sulit dibangunkan.”
Dai-chan tiba-tiba mengeraskan tangisannya. Ryutaro justru jijik mendengar
itu. “Kenapa kau menangis, hah? Kau senang kan?! Kau itu makhluk paling egois,
Arioka Daiki!”
“Ryutaro!!!” Yamada langsung berseru.
“Oh.. benar ternyata, kau sudah tak mencintai Chinen lagi? Sampai-sampai
sekuat tenaga begitu membelanya padahal Chinen sedang sekarat?” Ryutaro
menggeram. “Kalian berdua sama-sama biadab.”
Tangis Dai-chan menjadi putus-putus, terganti dengan tubuhnya yang limbung
seketika. Ia pingsan.
“Dai-chan!”
Semua member panik. Kecuali Ryutaro, mantan member itu kini tak bisa
mengalihkan pandangannya dari kaca transparan ruang instalasi yang menampilkan
raga tak berdaya Chinen, sementara tangannya mengepal kuat.
.
.
.
“Enak?”
“Enak sekali! Tumben kau masak semewah ini.” Chinen tersenyum seraya
mengunyah daging asap lezat yang disajikan spesial untuknya. “Omong-omong
Ryosuke... ini apartemenmu?”
“Apartemen kita.” Dijawab dengan lembut, Yamada lalu mengusap pipi Chinen
yang menggembung karena mengunyah. “Kau akan tinggal disini denganku.
Selamanya. Nanti kita bisa bermesraan sepuasnya, kita bisa bercinta sepuasnya.”
Pipi Chinen seketika bersemu merah, “Ba-bagaimana dengan latihan dance?”
“Ya, Yuri. Kita juga akan latihan dance, syuting, potosyut. Nanti kita akan
jadikan Hey!Say!JUMP lebih terkenal. Melebihi Arashi! Asal kau denganku,
semuanya mudah.” Kata Yamada dengan semangat. Chinen tertawa mendengarnya.
“Kita tidak akan bisa melampaui Arashi, Ryosuke~”
“Siapa bilang?”
“Aku yang bilang.”
“Ishh~” Yamada tak kuasa menjawil gemas dagu lancip kekasihnya. “Kita akan
melakukan hal yang menyanangkan setelah ini.”
“Aku terserah padamu~”
“Eh tapi... sebelum kesini tadi, kenapa kau segala berpamitan dengan
Ryutaro?” Bibir Yamada mengerucut. Chinen lagi-lagi tertawa. “Kenapa? Kau
cemburu?”
“Tentu saja! Aku tidak suka kau selingkuh dengannya~”
“Aish, siapa yang selingkuh! Dia hanya sahabatku! Kau kan kekasihku. Mulai
sekarangpun aku hanya akan bersamamu karena aku tidak mau kesana lagi.”
Yamada lantas memeluk Chinen mesra. “Disini terus ya?”
“Iyaaaa..”
“Janji?”
“Janjiiii..”
“Hehe.. aku cinta Yuri.”
“Aku lebih mencintaimu, Ryosuke. Jangan kecewakan aku lagi.”
.
.
.
“Maafkan aku... Maafkan aku... maaf, Yuri.. maaf...”
“Yamada, cukup. Berhenti menyalahkan dirimu terus.” Pemuda jangkung tiba-tiba
menepuk bahu Yamada yang kini sedang menunggui Dai-chan di ruang rawat biasa.
“Sekarang kita harus tenang untuk kesembuhan Chinen dan juga Dai-chan.”
“Tapi aku memang bersalah, Yabu-kun...”
“Ya aku mengerti tapi—“
“Dia pasti melihatku mencium Dai-chan waktu itu. Dia pasti melihat...”
“Tunggu, kau apa?”
“Mencium Dai-chan...”
Yabu tak kuasa melotot mendengar itu.
“Padahal aku sudah berjanji hanya akan menciumnya. Tapi.. aku...”
“Sebenarnya, kalau statusmu memang sudah putus dengan Chinen dan jadian
dengan Dai-chan, itu tidak ada salahnya. Tapi sekarang ku tanya, apa kau
sungguh-sungguh mencium Dai-chan waktu itu?”
“Ya aku menciumnya. Tapi hanya untuk membuat Dai-chan berhenti menangis. Karena
kalau dia menangis akan lebih sulit untuk menjelaskannya ke kalian nanti karena
aku tidak boleh membocorkan rahasia kita
pada kalian sebelum drama kita selesai.”
Yabu hanya mendengarkan.
“Sungguh, aku tidak memakai perasaan ketika mencium Dai-chan! Di pikiranku
ketika melakukan itu hanya untuk membuat Dai-chan berhenti menangis. Biasanya..
aku melakukan itu pada Yuri... karena itu...”
Ucapan Yamada yang tak selesai membuat Yabu
langsung mengesah. “Ini sulit...”
Yamada justru kembali merapal sambil menjambaki rambutnya. Hingga kemudian
terbesit pikiran gila di benaknya. Mungkin
lebih baik aku ikut bermimpi...
To be a Continue
A/N : Ikanaide~ Ikanaide~ Koko ni
ite o dekimasu ka? Usotsuki~ Usotsuki~ boku wa kikoemaseeeen..! Aishite~
Aishite~ Sono kimochi o misete kurei? Aishite~ Aishite~ Mou ichido aishite
kudasai? *Nyanyiin pake nada reffnya In Heaven-JYJ* haha :v besok chap terakhir.
Yesss!


0 komentar:
Posting Komentar