Title: Sleep Well
Chapter: 6 (TAMAT)
Sebelumnya: (Chapter 5) (klik aja di chapter 5 langsung ada link dari chapter 1, saya males pasang hyperlink wkwk)
Author: Raras Vadma
Pair: YamaChii for sure (percayalah kawan ini akan berending bahagia wkwkwk), AriYama, Chiitaro (buat konflik), TaDaiki.
Genre: Author Universe (AU), Drama, Hurt/comfort(maybe)
WARNING! BAHASA SUKA SUKA
Summary : Breaking News! Yamada Ryosuke, member utama group Hey!Say!JUMP ditemukan tewas di kamarnya karena overdosis obat tidur. diduga motif bunuh dirinya adalah karena rekan terdekatnya mengalami kecelakaan....
Intro : Jangan ngarep ending yang bagus ya. Jangan haha :’)
Douzo!
.
.
.
Sehari berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Chinen. Member lain telah kembali ke asrama sehingga yang menunggui member termuda itu adalah keluarganya. Pihak agensi juga telah menjelaskan secara resmi di web dan di beberapa media bahwa Chinen Yuri tidak akan ikut kegiatan bersama Hey!Say!JUMP sampai kondisinya membaik.
Kini hanya ibu Chinen yang menunggui si bungsu itu karena suami serta anak sulungnya memiliki pekerjaan masing-masing.
"Mau apa kau kesini?" wanita itu tiba-tiba beranjak dari duduk saat melihat Yamada Ryosuke memasuki ruang perawatan intensif Chinen, raut wajahnya jauh dari ramah. "Pulanglah! Anakku masih belum sadarkan diri!"
"Selamat siang, tante.." namun Yamada justru menunduk hormat, kemudian menaruh keranjang buah yang ia bawa di meja terdekat.
"Tidak perlu berbasa-basi padaku, Yamada-kun. Ryutaro-kun sudah menceritakan semuanya." ujar Chinen Miki dengan nada dingin. Yamada balas tersenyum sendu, "dia tidak tahu yang sesungguhnya, tante..."
"Ohya? apa yang belum aku ketahui? Kau yang dimintai tolong Takaki-kun untuk berpacaran dengan Dai-chan agar dia tidak keluar Johnny's? Atau kau yang selalu bermesraan dengan Arioka-mu itu didepan anakku sementara anakku hanya bisa bermesraan denganmu di alam mimpinya? Oh.. atau kau yang mencium Arioka-kun di depan anakku hingga membuat anakku terlalu sakit hati?"
Yamada menahan nafasnya sesaat. Pasti Yabu-kun yang cerita tentang ciuman itu.. Kemudian ia menghembuskannya bersamaan rasa nyeri di dada. "Saya minta maaf..."
"Maaf?" ibu Chinen justru mencemooh, "apa kau tahu Yuri sangat mencintaimu?"
"Tahu..." dijawab dengan lirih, bulir air mata entah sejak kapan mulai terkumpul di pelupuk mata Yamada. "Saya tahu, tante..."
"Lalu kenapa? Dia sangat mencintaimu tapi kenapa kau melakukan hal jahat padanya? Kalau kau hanya ekting dengan Arioka-kun kenapa harus menciumnya dihadapan anakku?"
Yamada mulai terisak, namun tak membuat ibunda Chinen bersimpati sedikitpun.
"Yuri pernah cerita padaku, pada kakaknya, bahkan pada ayahnyapun dia cerita. Dia bilang... Ryosuke adalah kekasih paling setia di dunia." Miki mengatakan itu seraya menahan sesak, "dia bilang... hanya padanya 'Ryosuke' berlaku baik. Hanya padanya 'Ryosuke' memanjakannya dan memperlakukannya dengan spesial. Hanya padanya 'Ryosuke' menciumnnya. Hanya padanya... 'Ryosuke' memberikan cinta yang tulus."
"Cukup tante..."
"Sudah tak terhitung berapa banyak 'Ryosuke' yang dia ceritakan pada kami. tapi akhir-akhir ini.. dia tidak lagi cerita."
"Tante, kumohon..."
"Anakku sangat pemaaf. Bahkan dia tidak sesakit hati sekarang ketika kau ekting dengan Nakajima-kun. Dia bisa bertahan selama kau sakiti di Super Delicated. Tapi sekarang... kau benar-benar sudah kelewatan..."
"Tante..!" Yamada tak tahan untuk mengerang, tangisnyapun dimulai, "iya saya salah! saya sudah mengaku salah! saya juga sangat mencintainya! saya... hiks.. saya sangat mencintainya, tante..."
"Jika Yuri saja tidak bisa mempercayaimu hingga membuatnya berdelusi di dalam mimpi akan dirimu yang lain, apalagi aku, Yamada-kun?"
"Saya benar-benar mencintainya! Yuri bagian dari ji-"
Tangan Miki tiba-tiba terpampang di depan wajah Yamada, isyarat mutlak untuk menyuruh pemuda itu berhenti bicara. "Sudah kuputuskan bahwa aku tidak akan membiarkan anakku bersamamu lagi."
Mata Yamada langsung membulat, air matanyapun mengalir lebih deras, "tidak, tante.. tidak..."
"Keluar dari sini sekarang, Yamada-kun."
"Tante... saya mohon.. biarkan saya menyentuh Yuri sebentar saja.."
"Sekarang atau aku yang menyeretmu keluar?"
Jika Yamada bisa melakukan apapun untuk membuat wanita yang melahirkan orang yang di cintainya itu luluh, ia tentu akan melakukannya. Sekalipun itu harus bersujud...
"Aku tidak butuh sujudmu, Yamada-kun. Keluarlah!"
Seruan Miki bagai panah runcing yang menusuk tepat di ulu hati Yamada. Pemuda pirang itu dengan gemetaran bangkit dari simpuhnya, kemudian mau tak mau ia beranjak dari ruang rawat intensif Chinen diiringi rasa pedih yang luar biasa. Ia menunduk dahalu sebelum akhirnya benar-benar keluar.
Namun baru saja center JUMP itu menginjakan diri di luar ruangan, mantan member terakhir Hey!Say!JUMP ternyata sedang berdiri disana dengan tatapan congkak, tentu membuat Yamada memekik tertahan.
"Ryutaro..?!"
Sang pemilik nama tak merespon pekikan Yamada. Ia langsung masuk ke ruang rawat intensif Chinen dan menyisakan Yamada yang hanya bisa termangu di tempat.
"Tidak..." Yamada mengerang tertahan tatkala melihat dari kaca transparan ruangan, Ryutaro menggenggam jemari Chinen dengan lembut.
"Jangan disentuh.. ia milikku...!!" erangan itu semakin mengeras karena Ryutaro justru mencium jemari itu. Ibu Chinen entah mengapa membiarkannya.
"Tidak... ia millikku.. ia Yuriku...!!" namun apa daya, Yamada hanya bisa menangis pilu di luar ruangan menyaksikan Ryutaro bahkan telah mengecup dahi Chinen yang masih terpejam.
.
.
.
"Yo, semua~!"
Ke tujuh member Hey!Say!JUMP menoleh kompak, senyum cerah terpampang diwajah mereka semua.
"Astaga, pasangan kita yag satu ini~ mesra terus tiap hari!" goda Hikaru.
"Kalian menginap di apartemen Yama-chan ya? Sampai nggak pulang ke asrama segala!" kali ini Inoo yang bersuara.
"Bikin iri saja~" Yuto juga bersua.
Yamada hanya tertawa sembari terus memeluk Chinen di sebelahnya, sementara si mungil itu meringis malu menyaksikan reaksi member lain.
"Besok kita akan mulai syuting PV Weekender~ Nggak sabar~!!" seru Dai-chan kemudian.
"Iya! Aku juga tidak sabar untuk perform nanti, gerakannya asik!" sahut Chinen dengan semangat seraya membalas pelukan Yamada.
"Omong-omong... sudah tahu belum? Aku dan Takaki-kun akan main drama bersama!" seru Yuto heboh, "drama tentang berenang! ahaha~"
"Katanya drama itu akan memakai lagu terbaru kita! berarti kita akan buat dua PV di single terbaru nanti." Imbuh Yuya.
"woah.. suge!" respon member lain, kecuali Dai-chan. "Nggak keren ah, kalau Yuya buka baju perutnya nggak sispek!" ia malah mendengus. Pemuda gondrong disana lantas mengapit kekasih manisnya itu dan mengunyelnya dengan sayang. "Kau juga main drama dengan Yamada rambutnya kribo! Jelek!"
Pasangan itu malah saling ledek, membuat member lain terkekeh bahagia.
"Ryosuke~ katanya mau masak disini untuk makan malam? jadi masak?" tanya Chinen dengan manja.
"Ohiya, aku belanja bahan dulu kalau begitu."
"Ikut~"
"Kau disini saja dengan yang lain. Aku tidak akan lama. Lagipula, supermarket dekat dengan asrama kita." center JUMP itu menjawil gemas hidung Chinen lalu mengecupnya dengan kilat.
"Yama-chan, buatkan untuk kita juga yaaa~"
"Iya, Yama-chan! kita sekalian! jangan cuma Chinen saja. mentang-mentang pacarmu!"
Yamada meringis saat Keito dan Inoo berujar barusan. "Iya-iya! kalian kubuatkan juga! puas?"
Mereka semua langsung tertawa sementara Chinen justru berjinjit dan mencium mesra pipi Yamada sebelum kekasihnya itu pergi ke supermarket untuk membeli bahan masakan.
.
.
.
"Tadaima..."
Yamada memasuki asrama dengan wajah teramat kuyu, matanya seperti membengkak karena terus-terusan menangis. member yang menyambutnya di asrama hanya bisa maklum.
"Yama-chan... bagaimana?" Keito bertanya. Saat hanya gelengan yang Yamada beri, mau tak mau gitaris itu mengesah.
Mata kecoklatan Yamada kemudian mengangkap sosok Yuya di sana, sedang memeluk Dai-chan.
"Bagaimana, Yuya?" tanyanya pelan. Pemuda Osaka itu tersenyum lirih. "Aku harap ini bisa membuat perasaanmu sedikit lega, Yama-chan..."
Yamada ikut tersenyum lirih.
"Perjodohanku dibatalkan karena wanita yang dipilihkan ternyata sudah hamil dengan kekasihnya. Rencanaku dan dia berhasil membuat ayahku tidak memaksaku menikah cepat. Ayah juga sudah mengizinkanku berkarir lebih lama dengan Hey!Say!JUMP dan... dia bilang akan membuka hati untuk Daiki."
Penjelasan Yuya yang barusan benar-benar membuat Yamada lega. "Syukur kalau begitu, aku turut senang."
"Tapi Yama-chan..." suara Yuya tiba-tiba memberat, "aku baru dijelaskan oleh Yabu-kun tadi karena disana aku sama sekali tidak mengikuti berita. Bagaimana dengan Chinen?"
"ah," hati Yamada kembali nyeri. "Dia masih belum sadarkan diri... Ibu Chinen melarangku bertemu denganya lagi tadi."
Semua member turut merasa sedih.
"Tapi tenanglah.. aku yakin bisa berhubungan kembali dengannya dan dia pasti akan segera sembuh. Besok akan kucoba kesana lagi. Hey!Say!JUMP sedang tidak ada jadwal beberapa hari kedepan dan syuting Kindaichi kuminta dimundurkan, jadi aku tidak akan menyerah!" seru Yamada penuh keyakinan. Rekan-rekannya tentu mendukung sepenuh hati, terutama TaDaiki yang jelas sekali terlihat sudah balikan.
"Terimakasih, Yama-chan.. aku benar-benar berterima kasih. Aku yakin kau akan kembali bersama dengan Chinen-mu." ujar Yuya.
"Nah, Yamada... kau harus makan sekarang. Dari kemarin kau tidak makan dan hanya minum kan?" Yabu lantas mendorong pelan adik tersohornya itu ke meja makan. Disana telah tersaji banyak sekali hidangan enak untuknya dan para member.
"Kita sengaja belum makan dan menunggumu pulang..." Keito berkata, mendekati meja makan. Kemudian member lain juga bergabung. Yamada hanya tersenyum lemah seraya duduk dimejanya.
Mereka ber-delapan memulai makan dengan tenang. Terlalu tenang bahkan. Tidak ada candaan konyol seperti biasanya. Tidak ada tawa renyah seperti biasanya. Mereka sangat hening.
Namun baru Yamada akan menyuap sedikit nasi dengan sumpit, benda ramping itu tiba-tiba terlepas dari tangannya yang bergetar hebat.
"Yama-chan, kena—”
Inoo tak jadi berkata ketika melihat raut Yamada kini teramat pias.
"Biasanya... Yuri akan duduk dipangkuanku sambil membuka mulutnya untuk kusuapi..." bibir Yamada bergetar hebat saat mengatakan itu, air matanya tiba-tiba mengalir lagi.
"Dia akan sengaja makan dengan belepotan agar aku usap pipinya dengan lembut..." lanjutnya lirih.
"...Kemudian.. hiks.. dia akan tersenyum indah dengan pipi menggembung seraya mengusel pipiku..."
"Yamada, cukup." Hikaru menyudahi ucapan Yamada. Namun pemuda pirang disana masih tak berhenti gemetaran. "A-aku.. aku ingin Yuri-ku... aku ingin menciumnnya.. a-aku.. hiks.. aku merindukannya..."
Tak tahan menyaksikan sang Ace rapuh dan gila seperti itu, Yuya lebih dulu merangkul Yamada dan membiarkannya mengerang di pundak pemuda Osaka itu.
"Kau sudah menjadi miliknya, Yamada... kau miliknya. Kalian nanti akan bermesraan kembali." Ucapan Yuya hanya direspon dengan erangan tangis yang lebih hebat dari sang center.
.
Keadaan semakin tak tenang, Yamada bahkan tidak bernafsu sama sekali menyantap makanan. Para memberpun tak ada yang berani memaksanya dan hanya bisa membiarkan pemuda itu beristirahat di kamarnya dan Chinen yang biasa.
Meski begitu, di dalam kamar Yamada kembali merasakan pedih itu. Sungguh, ia ingin Yurinya! Ia ingin mencium, memeluk, menimang, memanjakan Yurinya seperti dulu. Ia ingin....!! dan yang terpenting, ia sangat ingin menjelaskan mengapa ia mencium Dai-chan waktu itu. tak masalah bila Chinen kemudian membencinya asal ia masih bisa memperlakukan Chinen dengan istimewa seperti biasa. bila Yurinya membencinya, ia tidak apa-apa. Yamada lebih mampu dimusuhi Chinen dibanding kehilangan sosok kesayangannya itu.
"Yuri... aku hampa tanpamu..." isaknya tertahan. Kedua manik kecoklatanya tiba-tiba membingkai benda yang sudah lama ingin ia sentuh, dan tanpa pikir panjang lagi, Yamada segera meraih itu penuh nafsu.
Adalah sebuah tas hitam kepunyaan Chinen. Yamada merogoh tas itu dan lalu mendapati botol-botol kecil berisi pil tidur yang ia tahu, sering diminum Chinen demi memimpikan dirinya.
"Kau tahu, Yuri...? Aku sangat ingin mendekapmu dan memelukmu hingga remuk sekarang." bisik pemuda pirang itu seraya menuangkan banyak-banyak pil obat ke tangannya. Yamada juga meraih botol minum di meja kamar untuk kemudian membawa sang obat ke tubuhnya.
.
.
.
"Yuri..?!" Yamada merasa gelap. "Yuri..? kau dimana?!" lalu muncul bangunan asrama kepunyaan grupnya, dengan brutal ia segera menggedor pintunya sambil berteriak. "YURI..! INI AKU! YU—”
Ceklek!
Pintu terbuka.
"Astaga, Ryosuke! kenapa teriak-teriak sih?!" sosok Chinen Yuri kini terpampang nyata dihadapan Yamada. kontan membuat pemuda pirang itu menerjangnya dengan pelukan.
"Aduh! Kau kenapa, Ryosuke? nggak jadi belanja? katanya mau beli ba—”
"Yuri... Yuri... Yurii!!!"
Chinen mengernyit mendengar kekasihnya merapal demikan seraya memeluknya sangat erat. Si mungil itu lantas mengajak kekasihnya masuk ke asrama.
"loh, Yama-chan sudah pulang? belanjaannya mana?"
"Iya, katanya tadi mau belanja bahan?"
Yamada tak menyahut pertanyaan Inoo dan Yuto karena terlalu bingung untuk sekarang. Tapi persetan! yang penting ia bisa bertemu kekasihnya!
"Yuri!"
"Apa?" Chinen menyahut, "kau kenapa sih, Ryosuke? Apa ada yang terjadi denganmu di jalan tadi?"
"Ya Yuri... tadi gelap...." lirih Yamada dengan nada takut.
Chinen mengesah maklum, "Yasudah tak usah masak saja deh. kita delevery saja ya! tapi tetap Ryosuke yang bayar hehe~"
Astaga... Yamada tak bisa tak bahagia melihat senyum itu lagi. Ia langsung kembali memeluk Chinen sekuat tenaga.
"Yuri, maafkan aku... maaf..!! maaf karena—"
"Sshh..." Chinen membungkam bibir Yamada dengan jari telunjuknya. "Tak perlu minta maaf. Kan kita sudah sepakat, hal buruk yang terjadi dengan kita hanyalah ilusi buruk. Kita yang sekarang adalah kita yang bahagia. Jadi, tak usah minta maaf..."
"Yuri..." Yamada kini menatap kekasihnya lekat-lekat, "kau harus tahu aku hanya mencintaimu.. Aku mencintai lebih dari apapun di dunia ini..!"
"Iya, Ryosuke.. iya. Aku juga... sangat mencintaimu."
"Kita akan bersama selamanya, kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?"
"Harusnya aku yang tanya begitu.."
Yamada lagi lagi memeluk erat Yurinya. Chinen hanya mengusap-usap punggung Yamada dengan halus seraya berucap, "kau dan aku akan bersama selamanya disini. "
"Disini?" Yamada mengernyit, melepaskan rengkuhannya.
"Ya. Di sini. Di alam kebahagiaan kita."
Yamada menatap Chinen lekat-lekat untuk mengartikan kalimatnya barusan, lalu ia tersenyum lebar untuk kemudian mematuk bibir Chinen dengan mesra.
.
.
.
Sementara di siang ini...
"Breaking News! Yamada Ryosuke, member utama group Hey!Say!JUMP ditemukan tewas di kamarnya karena overdosis obat tidur. diduga motif bunuh dirinya adalah karena rekan terdekatnya mengalami kecelakaan...."
=:=
"Yuri...? ada apa ini? Yuri..!!! Dokterrr!! Dokter...!" Chinen Miki berteriak memanggil dokter yang menangani anaknya.
Beberapa dokter kemudian datang ke kamar perawatan intensif Chinen demi berusaha memompa jantungnya yang kini berhenti. namun setelah berkali-kali berusaha tidak ada hasil, para dokterpun tak punya pilihan lain selain menyerah.
"Senin, 16 Juni 2014... jam 13.00..." dokter utama disana berucap pelan. Setelahnya... hanya terdengar jerit pilu keluarga Chinen...
.....dan Ryutaro.
THE END
A/N : Rencananya buat chap terakhir ini mo pake cerita dari PV In Heaven-JYJ, tapi pas saya otak-atik malah jadi ga nyambung ^^; Well, sesuai janji... YamaChii bersama :v tapi di alam mereka haha~ terimakasih sudah mau baca dan menantikan cerita ga jelas ini. Sekali lagi... terimakasih semuaaaa ♡ #pukpukRyutaro


2 komentar:
Sedih banget T^T
Tapi kan, yuri.. masih koma :')
Posting Komentar