Kamis, 07 Juli 2016

ILY From 10.000 Kiss

Diposting oleh Kiwokchwan di 09.29

Judul : ILY From 10.000 kiss

Author : Gue! Gue! Gueee!!

Cover : Istrinya Daiki / Anarioka / Anasicha ((THANKS A LOT BEIBIH <3))

Genre : CANON ‘cause YAMACHII IS REAL! ROMANCE, FLUFFY

Summary : Aku pikir kau sangat menyukai bibirku karena kau selalu menciumku entah berapa kali | Aku menciummu sekitar 10 ribu kali!

HAPPY IED FITRI! INI THR UNTUK PARA YAMACHII SHIPPER DARI BOS RYOSUKE HAHA! Nih!! Nih!!



.

.

.

.

.


Chinen Yuri’s POV

Aku tak menyangka Ryosuke akan bilang begitu ketika kami interview. Sekali lagi, AKU TAK MENYANGKA! Pasti shipper akan loncat indah ketika mengetahuinya nanti. Oh atau mungkin salto seraya berdansa Nounai? Entahlah.

Jadi, tadi siang ketika interview majalah Myojo terbaru, ada pertanyaan seperti ini;

Q : Apa bagian dari tubuh Chinen-kun yang Yamada-kun suka?

Yamada : Bulu matanya. Karena itu sangat lentik dan cantik.

Saat ia berkata begitu aku hanya tertawa. Oh well, semua yang ada di diriku memang cantik. Tapi kemudian aku memastikannya kembali. “Kupikir kau sangat menyukai bibirku karena kau selalu menciumku entah berapa kali...”

Dia, Yamada Ryosuke yang biasa pasti akan mengelak dengan memukul pelan bahuku serta wajahnya memerah bak babi panggang dan bilang, “Berhenti bicara seperti itu!” atau “Jangan bercanda!”

Tapi ternyata tidak. TIDAK! DAN KUTEGASKAN SEKALI LAGI AKU TIDAK MENYANGKA ketika dia bilang “Aku menciummu sekitar 10 ribu kali.”

Hanya satu kata yang mengiang kemudian;

‘kenapa?’

.

.

.
.

“Yuri, jadi main game, tidak?”

Ck, Aku lupa sekarang sedang di apartemen Ryosuke. Saat aku menoleh dia ternyata sedang berkacak pinggang dengan tangan satunya menenteng camilan ringan, satu alisnya juga terangkat.

“Jadi main game, tidak? Kenapa malah bengong di depan akuariumku?” tanyanya lagi sembari mendekat.

“Iya jadi.”

Dengan agak enggan akhirnya aku beranjak ke ruang tengah. Disana telah terpasang seperangkat game canggih yang membuatku tidak terkejut sama sekali. Karena toh aku juga punya yang seperti ini di apartemenku (bahkan lebih canggih, haha). Namun aku cukup terkejut saat selesai latihan dance Masquerade dan potosyut Myojo tadi, Ryosuke mengatakan bahwa ia membeli seperangkat game canggih dan memintaku ke apartemennya.

“Sebenarnya aku nggak bisa main ini haha..” Ujarnya dengan kekehan ringan.

Aku lantas mendengus. “Iya, aku tahu. Kau membeli ini semua agar aku tidak bosan main kerumahmu, kan?”

“Lebih tepatnya, aku tidak suka kau 24 jam dirumah Yabu hanya untuk main game dan kerumahku hanya untuk tidur.” Tandasnya dengan judes. Aku langsung tertawa.

“Oh ya, Ryosuke...”

“Hm?”

Ia mulai menyelakan TV. Aku sudah duduk manis di sampingnya. “Tadi saat interview.. kenapa?”

“Oh.”

Oh. Hanya 'oh'?! “Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

Sok nggak tahu! “Kenapa ‘10 ribu kali’? Biasanya mengelak.”

“Nggak apa-apa. Sesekali.” Ucapan entengnya kembali membuatku mendengus.

“Tenang saja, Julie-san tidak akan sampai membunuhku kalau aku frontal mengenaimu sesekali. Lagipula, aku memang menciummu sebanyak itu.”

“Hah?” alisku terangkat. “Sebanyak itu?

“Ya.   Sebanyak itu.

“Kau menghitungnya?”

Ryosuke lalu menatapku seraya tersenyum indah. Oh, tunggu. Senyum indah? Huh, Senyumku lebih indah!

“Tentu saja, Yuri.”

Sialan! Pipiku kini memerah dan—

“Eugh...” —dia menciumku tiba-tiba.

“Ryosuke~ Kenapa kau selalu menciumku tiba-tiba?!”

“Itu tadi yang ke 10.001 kali.” Ia malah menjilat bibir atasnya. Aku menggeram gemas padanya yang kini terkekeh. “Mau kuberitahu ciuman keberapa saja yang berkesan?”

“Keberapa saja?”

Maa.., sepertinya kita tak jadi main video games.

“Ciuman pertamaku denganmu, ciuman ke dua denganmu, ciuman ke seratus, dan ciuman ke seribu denganmu.”

Tanganku menahan ucapan Ryosuke, “Kau hanya bilang seperti itu tapi aku tidak i—“

“Aku mengingat semuanya. Aku menghitungnya. Dan aku selalu mengenangnya.”

Yak bagus, lagi-lagi pipiku memerah.

Omong-omong, catat ini baik-baik. Yamada Ryosuke memiliki ke pribadian ganda. Dia akan bertingkah malu-malu dan wajahnya memerah di muka umum—bila menyangkut hal terbenarnya—tapi, tak ada sifat dan tingkah seperti itu bila sudah di privat denganku.

Catat!

“Ciuman pertama itu...” kemudian ia memulai,

.

.

.

=1st Kiss=

Musim semi 2008. Hey! Say! JUMP tengah syuting music video single mereka yang kedua. Dream Comes True.

“Kita mulai syuting sendiri-sendiri ya!” Sutradara berteriak. “Di mulai dari yang paling muda, Ryutaro-kun!”

Yamada Ryosuke lupa bahwa Ryutaro yang paling muda diantara ke sepuluh member saat itu, padahal ia sudah mau menyebut Chinen Yuri tapi untung saja tidak keceplosan.

“Kemana dia?” gumamnya saat melihat disekeliling lokasi syuting bocah itu tidak terlihat.

“Takaki-kun, Chinen kemana?” ia lalu bertanya.

“Oh, tadi katanya mau istirahat. Ini baru mau aku panggilkan. Atau kau saja yang memanggilnya?”

Pipi tembem Yamada bersemu mendengar pertanyaan Takaki. “Ke-kenapa aku?”

“Loh, kenapa memangnya? Kau masih tidak suka dia duduk-duduk di pangkuan orang?” Takaki tertawa. “Padahal kau mengakuinya dia itu menggemaskan kan?”

“ya-yah... tapi tetap saja aku tidak suka dia yang seperti itu! Menyusahkan!”

“Ahaha.. yasudah kalau begitu aku cari dia dulu. Habis Ryutaro kan dia,”

Baru member tertua kedua itu ingin keruang istirahat, tangannya ditahan Yamada. “Aku saja.”

Takaki hanya tertawa ditempat.

.

“Chinen, bangun!”

Yamada mendapati Chinen tertidur di sofa ruang istirahat tempat syuting MV, tidurnya tengkurap.

“Ck! Dia ini benar-benar menyusahkan!” dengusnya. Yamada sebenarnya masih sensi dengan Chinen karena saat pertama kali bertemu, bocah mungil itu memanggilnya dengan ‘Kudanil’. Tapi ketika di making UMP, entah kenapa Yamada tak rela dia dekat dengan Yuto.

“Heh, Chinen! Bangun! Kau ini...! kita kan di tempat kerja, kenapa malah ti—“

Mata Yamada tiba-tiba membola, kalimatnyapun menggantung di udara. Itu karena ia belum pernah melihat malaikat kecil tertidur damai dengan bibir merah bergelombang dan bulu mata yang begitu lentik serta legam seperti bocah di hadapannya itu. Sungguh....

“Cantik..” 

Yamada baru saja mendekap bibirnya sendiri karena tak sadar mengatakan barusan. Tadi ketika masuk ke ruangan, ia tidak melihat dengan jeli wajah tidur Chinen. Tapi ketika hendak membangunkannya entah kenapa Yamada merasa... tidak tega.

Wajah tidur Chinen begitu damai dan indah. Oh, sebentar... dia itu 13 tahun kan? Tapi kenapa seperti umur 6 tahun? Yamada tak habis pikir. Dan tiba-tiba saja, seperti dirasuki sesuatu, Yamada semakin mendekatkan tubuhnya pada wajah Chinen hingga bibirnya menyatu dengan bibir gelombang bocah imut itu.

BRAK!

“CHII~ GILIRANMU SYUTING!”

Yamada nyaris jungkir balik saat pintu di buka dengan kasar oleh Ryutaro.

“Oh, Yama-chan! Aku tidak tahu kau disini.” Ryutaro meringis dengan pandangan meremehkan. Yamada hanya mengangguk canggung, kemudian melirik Chinen yang kini sedang mengucek matanya.

“Chii, giliranmu syuting tuh. Cepat sana!” seru Ryutaro lagi.

“Iya, cerewet!” kemudian Chinen bergegas ke lokasi MV sedangkan Yamada dan Ryutaro masih berada di tempat.

“Yama-chan, aku tadi melihatnya.” Ryutaro kini menyeringai. Wajah Yamada langsung memerah hebat. “Ja-jangan kasih tau siapapun.. kumohon!”

Ryutaro justru tertawa. “Tenang saja. Dia memang menggemaskan. Aku juga pernah menciumnya.”

“?!”

“Tapi tidak penuh hasrat seperti yang kau lakukan saat ia tidur tadi. Haha~”

Yamada menggeram. “Ryu! Kumohon jangan ka—“

“Iya aku janji.”

Dan benar saja. Ryutaro menepati janjinya hingga sampai 2016 ini Chinen baru di beritahu oleh Yamada sendiri.

.

.

.

Chinen’s POV

“Eh?! Kok aku tidak sadar?!”

Ryusuke malah tertawa, sementara aku sudah memasang wajah terbodoh seumur hidup. Huh, kupikir ciuman pertama kami saat SMA!

“Itu berarti dia menepati janjinya. Tapi aku cukup benci ketika dia bilang juga menciummu. Apa itu benar?”

A-ah.. itu.. sudah lama sekali... “Ya. Tapi kurasa itu tidak termasuk ciuman. Bibirnya hanya menyentuh bibirku saat menyelesaikan permainan pocky.”

“Apa reaksimu?”

Eh.. apa ya? Itu kan sudah 8 tahun yang lalu! “Tertawa mungkin? Aku sudah lupa! Kau kan tahu ketika kecil dulu banyak yang menciumku.”

Astaga, salah bicara!

“Ya. Ya. Ya. Terserah.”

Tuh kan, Ryosuke cemburu.

“Oh ayolah~ Sekarang kan hanya kau yang bisa menciumku, Ryosuke...” aku memelas. Dia tersenyum kecil seraya mendengus. “Kalau begitu, ciuman ke dua itu saat...”

.

.

.

=2nd Kiss=

“OTSUKARESAMA DESHITAAAA~!!!”

Hey!Say!JUMP telah menyelesaikan tour musim dinginnya di tahun 2011. Para member dan kru kini berkumpul di satu ruangan besar untuk saling kampai seusai konser.

“Hari ini sukses besar! Kalian hebat!” Seru para kru.

“Hebat sampai ada yang baru jadian!” Hikaru juga berseru. Suasana tambah riuh.

“Padahal sudah dari dulu saling suka, tapi yang paling suka nggak berani bilang...” Inoo menyindir.

“Sampai curhat ke anak-anak baru akhirnya mau menyatakan cinta. Itupun harus disuruh-suruh di konser! Haha..!” Ryutaro menambahi. Dan masih banyak lagi godaan dari member lain, sementara pasangan yang dimaksud hanya saling menunduk.

Yamada melirik Chinen dengan ujung matanya. Pemuda mungil yang kini resmi menjadi kekasihnya itu hanya mengunci bibirnya rapat-rapat dengan wajah yang super memerah.

Sangat menggemaskan membuat Yamada tak bisa menahan nalurinya untuk...

Syuit~ syuiit~! Lanjutkan Yamada!!”

 .... menciumnya.

Mereka semua tak henti bersiul dan tertawa setelah menyaksikan Yamada mencium Chinen dengan amat lembut hingga akhirnya Chinen menangis di pelukan Yamada. Menangis kencang.

.

.

.

Chinen’s POV

“Ugh.. sialan...” Aku menutup kedua wajahku yang memanas. “Itu benar-benar memalukan! Kau menciumku dihadapan banyak orang, Ryosuke!”

“Habis aku tak tahan. Wajahmu sangat menggoda.”

“Kau juga memerah!”

“Tapi kau lebih menggoda.”

Oke, terserah.

“Dan setelah kucium, kau tak berhenti menangis. Bahkan sampai kita selesai beres-beres dan pulangpun, kau masih nangis.”

“Ugh.. habisnya...”

“Terharu? Hahaha.. jarang kan, ada yang berani menyatakan perasaan di hadapan puluhan ribu penonton dan berciuman di depan banyak orang terdekat? Lagipula mereka kan terpercaya, tidak akan membocorkan ke petinggi Johnny’s.”

“Ya tapi tetap saja aku belum siap waktu itu!”

Ryosuke kembali tertawa. “Aku tahu. Kau langsung cerita ke ibumu kan setelah sampai rumah? Miki-san sampai menelpon ibuku dan aku jadi di omeli habis-habisan ahaha..”

“Karena kau kurang ajar. Aku kan masih polos!”

“Benarkah? Bukannya aku sangat pintar?”

Ya terserahlah. Seharusnya aku tahu kalau itu ci—unghh.. “Ryosuke!”

“Ke 10.002, Yuri.”

“Kau ini....”

“Ahahaha...! Nah. Yang paling favorit lagi itu, ciuman ke....”
.

.

.

=100st kiss=

“Yuri.. aku minta maaf!”

“....”

“Yuri, aku mohon!”

“Berhenti memohon. Kita sudah selesai, Yamada.”

“Tidak! Aku mohon, Yuri...”

Mereka sedang bertengkar. Bertengkar hebat. Saat itu adalah pertengahan 2012 dimana Hey!Say! JUMP sedang mempromosikan single Super Delicated. Yang berarti.... YamaJima era.

“Kau tahu itu hanya ekting...!” 

Chinen mendecih mendengar alasan itu. “Ya terserah kau.”

“CHINEN YURI!” Yamada lalu membentak. “KENAPA KAU TIDAK MAU MENDENGAR PENJELASANKU?! AKU BILANG ITU HANYA EKTING!”

Chinen, untuk beberapa detik saja, dia seperti tidak menginjak bumi. Dia seperti berada di Mars dan bertemu sosok aneh yang sedang memarahinya. Seumur-umur, ia bahkan tidak pernah di bentak oleh orang tuanya sendiri!!

“Yu-yuri.. a-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu..” Yamada menyadari kesalahannya. Ia langsung memeluk Chinen namun si mungil itu tak bereaksi. Ia seperti hampa.

Hari-hari berikutnya, HSJ melakukan promosi di Thailand dan live perform diberbagai acara TV menampilkan Super Delicated, yang terjadi pada Chinen adalah ia seperti memakai topeng. Pura-pura ceria di depan kamera, tapi setelahnya... jangan harap ia merekahkan senyum sedikitpun.

“Yamada! Apa yang kau lakukan pada Chinen?!” Yabu menyadari sikap adik bungsunya tersebut hingga ia minta pertanggung jawaban dari sang center.

“A-aku.. tidak bermaksud membentaknya saat itu...”

“Kau apa?” alis Yabu terangkat.

“Membentaknya...”

“Astaga Yamada! Kau tahu dia sangat sensitif ketika diteriaki atau di bentak? Orang tuanya saja tidak pernah membentaknya bila dia sedang berulah!”

Yamada berdecak. “Aku akan berusaha berbaikan. Kau tenanglah.”

Tapi sungguh, memulihkan perasaan Chinen Yuri itu tidak mudah. Yamada harus super-ekstra-sangat perhatian pada Chinen.

Oh, kau tanya kenapa Chinen sakit hati dengan Yamada? Itu karena...

“Aku dipaksa Julie-san..”

Yamada bersimpuh di depan Chinen. Ia sedang berada di rumah si mungil itu untuk meminta maaf sekaligus menjelaskan. Namun reaksi Chinen tetap sama. Ia hanya diam. Seolah menganggap Yamada alien.

“Kau tahu, Yuto itu Johnny’s favoritnya. Dan dia lebih ingin Yuto yang paling populer di Hey!Say!JUMP, bukan aku. Drama Risou no Musuko itu di buat agar aku dan Yuto bi—“

“Aku tak butuh penjelasanmu yang itu. Jelaskan apa alasanmu bilang ‘sangat menyukai momen kebersamaan dengan Yutti’ selain karena kau menikmati uang kepopuleranmu?”

“Tidak, bukan be—“

“Setiap perform, setiap aku menyanyikan partku di Super Delicated dan melihat kalian seperti berciuman dihadapanku, aku merasa sedang menari di planet Mars dan sedang menari di hadapan para alien jahat.”

“Yuri—“

“Bahkan setelah konser atau perform berakhirpun kau tidak merasa bersalah sama sekali. Kau seperti biasa saja. Kau seperti tidak peduli perasaanku. Seolah-olah kau menganggap ‘Ah, Yuri sudah tahu aku hanya ekting.’ Padahal aku sangat sakit melihatnya. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri juga, tapi kau tidak pernah lagi meyakinkanku.”

“Yu—“

“Aku menunggu senyummu dan tepukan pelanmu di kepalaku dengan tatapan ‘Tenang, Yuri.. ini hanya ekting, aku hanya cinta padamu.’ ketika selesai tampil. Bukannya malah mendengar dan melihat kau mengumbar pada publik bahwa kau menikmati Super Delicated dan bangga menjadi lebih populer bersama Yuto ketimbang yang lain.”

“Yuri, sudah kubilang, aku dipaksa!” Yamada kini menekan kalimatnya, tidak lagi membentak, “Julie-san memantau semua gerak-gerikku! SEMUA, YURI! Semua!! Aku harus meyakinkan dia bahwa aku sangat dekat dengan Yuto meski aslinya kau tahu, aku juga muak! Kalau tidak begitu... aku akan dikeluarkan dari Hey!Say!JUMP!”

Chinen langsung menatap Yamada. Pupilnya mengecil.

“Ya, Yuri. Aku disuruh solo karir di Johnnys olehnya agar Yuto bisa menjadi center Hey!Say!JUMP. Beberapa produser setuju dengan itu bahkan mereka sudah membuatkanku single sendiri. Kau tahu Moonlight? Kalau kau pikir aku bahagia ketika mereka akan membuatkanku single itu, jawabannya tidak! Karena itu berarti aku akan solo karir! Mendengar itu aku seperti hancur. Kau tahu, Hey!Say!JUMP segalanya untukku, itu berarti kau juga.”

“....”

“Makanya aku, dengan berat hati harus berekting lebih lama. Yuto juga muak! Sungguh, Yuri.. bila di privat aku tak melakukan apapun dengan Yuto. Aku bahkan tak bertegur sapa dengannya bila hanya berdua. Aku tidak bisa terlalu akrab denganmu di publik karena Julie-san. Kumohon mengertilah. Mengerti aku, Yuri...”

“.....”

“Biarkan kita saling mengerti. Aku janji, bila urusan kerjaan sudah selesai, aku akan kerumahmu. Aku akan bermesraan denganmu di privat.  Aku janji.”

Hati Chinen mulai luluh. Ia seperti kembali ke bumi. Tanpa sadar ia langsung berhambur memeluk Yamada dengan erat. Terisak pelan, lalu kencang, hingga akhirnya menangis. Yamada juga. Mereka menangis bersama sampai akhirnya ciuman panas menghentikan tangisan mereka.

.

.

.

Chinen’s POV

“Menyedihkan ya kita ahaha..” tawaku terdengar getas. Ryosuke disebelahku juga demikian.

“Ya, kisah cinta kita dari mulai sedih hingga bahagia.” Imbuhnya. Aku kini bersandar di dadanya sementara tangannya mengusap surai hitamku.

“Tapi banyakan bahagianya ‘kok.”

“Tentu saja, itu karena aku sudah berjanji akan membuatmu selalu bahagia.”

Tawaku lepas seraya menyubit gemas kedua pipinya. Ah.. dia memang kekasih langka. “Iya.. iya.. aku bahagia bersamamu.”

“Nah, kau tahu yang ke seribu itu kapan?”

“Kapan?”

.

.

.

=1000nd kiss=

“Selamat pagi, watashi no Chinen Yuri.

Yamada berkata demikian setelah Chinen membuka matanya, tepat dipelukan Yamada.

“Selama—aduh,”

“Shh.. jangan bergerak dulu. Masih sakit ya?”

“Iya. Sakiiiiit...”

Yamada tertawa mendengar Chinen merengek. Ia semakin mengeratkan pelukannya. “Maaf ya...”

“Nanti akan biasa kan?”

“Ya, Yuri.”

“Kapan?”

Yamada terdiam. Lalu ringisan bodoh tertera di wajahnya. “Tidak tahu...”  

“Ryosuke... Pantatku sakit sekali, sungguh!”

Kembali Chinen merengek. Ia bahkan tidak mau bergerak dari posisinya.

“Mau bagaimana lagi... ini yang pertama kita main, Yuri...”

“Disana pasti jadi lebar.”

Yamada kembali meringis.

“Ryosuke!!”

“Itu elastis kan? Nanti juga rapat lagi. Tapi tadi aku lihat.. berdarah.. hehe..”

Chinen melotot ngeri. “Astaga! Kalau aku infeksi bagaimana? Kalau aku mati bagaimana? Kalau a—eunghh.. unghh hhnn...”

Chinen terlalu parno sekarang. Jadi Yamada harus membungkamnya dengan ciuman mesra.

“Tapi kau tidak menyesal melakukannya denganku kan?” tanya pemuda utama JUMP itu seusai berpagutan. Chinen tersenyum lemah dan menggeleng. “Aku tidak menyesal sama sekali.”

“Terimakasih... sudah mau melakukannya denganku.” Yamada mengecup kembali bibir Chinen. Kembali. Dan kembali.

.

“Er... Yuri, kita sudah dua jam lebih berbaring disini semenjak kau bangun tidur.”

“Ya mau bagaimana lagi? Sakit! Kalau aku bergerak sedikit saja pinggang dan pantatku sangat panas.”

“Tapi kita sangat kotor. Harus mandi.” Kata Yamada dengan tegas. “Meski tak ada jadwal apapun, tetap saja... kita kotor.”

“Ugh...”

“Begini saja, aku akan membantumu melakukan apapun! Bila sakitnya teramat nyeri, aku akan menciummu hingga sakitnya reda.”

Chinen berpikir sejenak sebelum akhirnya menuruti perkataan kekasihnya. Ia mulai bangun untuk duduk dari ranjang, ketika nyeri itu tiba dan ia menjerit, Yamada segera menciumnya.

Ketika Chinen berhasil berdiri dan kembali merasakan nyeri hebat, Yamada kembali menciumnya.

Ketika Chinen berhasil berjalan untuk menuju bath tub dan merasakan nyeri yang lebih hebat, Yamada menciumnya hingga mereka sampai di kamar mandi.

Begitu terus sampai rektum Chinen mulai terbiasa dengan aktifitas. Yamada masih setia membantu Chinen disegala keadaan dan bila si mungil itu merintih, Yamada akan langsung menciumnya dengan lembut.

Menciumnya lagi. Menciumnya terus. Dan Menciumnya selalu.

.

.

.

Chinen’s POV.

Aku tertawa mendengar ceritanya yang barusuan. Dulu aku masih ringkih untuk urusan itu ternyata ahaha...

“Berarti ciuman ke 900 hingga ke 1000 itu saat kita selesai bercinta yang pertama kalinya ya?”

Yamada mengangguk. “Aku benar-benar tak tega mendengar rintihanmu. Jadi lebih baik kucium. Dan lagi, setelah kucium badanmu langsung rileks. Kata Yabu-kun, ketika badan uke rileks setelah bercinta akan mempercepat penyembuhan.”

Aku kembali tertawa. Tapi itu benar. “Dan sepertinya kau ketagihan menciumku setelah kita bercinta.”

Ganti dia yang tertawa. “Habis saat kau merasa sakit, hisapanmu dimulutku akan kuat namun kemudian mengendur. Sensasinya benar-benar nikmat.”

“Dasar!”

Kita tertawa bersama.

“Tapi omong-omong.. sesakit itu ya?”

Air wajahku langsung serius. Kemudian seringai usil kuberi. “Kau mau mencoba.. dimasuki?”

“TIDAK!” Ryosuke kontan menjerit dengan wajah teramat horor. “Tidak! Itu mimpi buruk! Oke jangan bahas itu lagi. Aku tahu itu sakit tapi tidak... Tidak, Yuri. Oke?”

Aku hanya tertawa. Kau tahu bahwa tertawa itu ‘hahahaha’ yang berarti membuka mulut, namun kekasih mesum dan bantet ini tetap saja berhasil menciumku tiba-tiba. Ck!

“Ciuman ke 10.003.”

Oh, Kami-sama... “Mau sampai kapan kau menghitungnya, Ryosuke?”

“Sampai 100 ribu ciuman!” Serunya mantap sambil mendekapku erat-erat.

=THE END=
                                                                                                                                                                                    
A/N : Kelar chooooooooy!!! YamaChii pertama main kali ena2 itu 2013 yaa (baca hajimaru no melody)). ini udah di edit wakaka. Oyeah~ happy ied fitriii. Saya tetap akan cinta YamaChii ohohoho~ makasih lho Yam.. THR frontalnya ke publik yang bilang nyium Chii 10rb kali wakaka~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review