Judul : ILY From 10.000 kiss
Author : Gue! Gue! Gueee!!
Cover : Istrinya Daiki / Anarioka /
Anasicha ((THANKS A LOT BEIBIH <3))
Genre : CANON ‘cause YAMACHII IS
REAL! ROMANCE, FLUFFY
Summary : Aku
pikir kau sangat menyukai bibirku karena kau selalu menciumku entah berapa kali
| Aku menciummu sekitar 10 ribu kali!
HAPPY
IED FITRI! INI THR UNTUK PARA YAMACHII SHIPPER DARI BOS RYOSUKE HAHA! Nih!!
Nih!!
.
.
.
.
.
Chinen
Yuri’s POV
Aku tak menyangka Ryosuke akan
bilang begitu ketika kami interview. Sekali lagi, AKU TAK MENYANGKA! Pasti shipper akan loncat indah ketika
mengetahuinya nanti. Oh atau mungkin salto seraya berdansa Nounai? Entahlah.
Jadi, tadi siang ketika interview
majalah Myojo terbaru, ada pertanyaan seperti ini;
Q :
Apa bagian dari tubuh Chinen-kun yang Yamada-kun suka?
Yamada
: Bulu matanya. Karena itu sangat lentik dan cantik.
Saat ia berkata begitu aku hanya
tertawa. Oh well, semua yang ada di diriku memang cantik. Tapi kemudian
aku memastikannya kembali. “Kupikir kau sangat menyukai bibirku karena kau
selalu menciumku entah berapa kali...”
Dia, Yamada Ryosuke yang biasa pasti
akan mengelak dengan memukul pelan bahuku serta wajahnya memerah bak babi
panggang dan bilang, “Berhenti bicara seperti itu!” atau “Jangan bercanda!”
Tapi ternyata tidak. TIDAK! DAN KUTEGASKAN SEKALI LAGI AKU
TIDAK MENYANGKA ketika dia bilang “Aku menciummu sekitar 10 ribu kali.”
Hanya satu kata yang mengiang
kemudian;
‘kenapa?’
.
.
.
.
“Yuri, jadi main game, tidak?”
Ck, Aku lupa sekarang sedang di apartemen Ryosuke. Saat aku menoleh dia ternyata sedang berkacak pinggang dengan tangan satunya menenteng camilan ringan, satu alisnya
juga terangkat.
“Jadi main game, tidak? Kenapa malah
bengong di depan akuariumku?” tanyanya lagi sembari mendekat.
“Iya jadi.”
Dengan agak enggan akhirnya aku
beranjak ke ruang tengah. Disana telah terpasang seperangkat game canggih yang
membuatku tidak terkejut sama sekali. Karena toh aku juga punya yang seperti
ini di apartemenku (bahkan lebih canggih, haha). Namun aku cukup terkejut saat selesai
latihan dance Masquerade dan potosyut Myojo tadi, Ryosuke mengatakan bahwa ia
membeli seperangkat game canggih dan memintaku ke apartemennya.
“Sebenarnya aku nggak bisa main ini haha..” Ujarnya dengan kekehan ringan.
Aku lantas mendengus. “Iya, aku
tahu. Kau membeli ini semua agar aku tidak bosan main kerumahmu, kan?”
“Lebih tepatnya, aku tidak suka kau
24 jam dirumah Yabu hanya untuk main game dan kerumahku hanya untuk tidur.”
Tandasnya dengan judes. Aku langsung tertawa.
“Oh ya, Ryosuke...”
“Hm?”
Ia mulai menyelakan TV. Aku sudah
duduk manis di sampingnya. “Tadi saat interview.. kenapa?”
“Oh.”
Oh.
Hanya 'oh'?! “Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
Sok
nggak tahu! “Kenapa ‘10 ribu kali’? Biasanya mengelak.”
“Nggak apa-apa. Sesekali.” Ucapan
entengnya kembali membuatku mendengus.
“Tenang saja, Julie-san tidak akan sampai membunuhku kalau aku frontal mengenaimu sesekali. Lagipula, aku memang menciummu sebanyak itu.”
“Tenang saja, Julie-san tidak akan sampai membunuhku kalau aku frontal mengenaimu sesekali. Lagipula, aku memang menciummu sebanyak itu.”
“Hah?” alisku terangkat. “Sebanyak itu?”
“Ya. Sebanyak itu.”
“Kau menghitungnya?”
Ryosuke lalu menatapku seraya
tersenyum indah. Oh, tunggu. Senyum indah? Huh, Senyumku lebih indah!
“Tentu saja, Yuri.”
Sialan! Pipiku kini memerah dan—
“Eugh...” —dia menciumku tiba-tiba.
“Ryosuke~ Kenapa kau selalu
menciumku tiba-tiba?!”
“Itu tadi yang ke 10.001 kali.” Ia
malah menjilat bibir atasnya. Aku menggeram gemas padanya yang kini terkekeh. “Mau kuberitahu ciuman keberapa saja
yang berkesan?”
“Keberapa saja?”
Maa.., sepertinya kita
tak jadi main video games.
“Ciuman pertamaku denganmu, ciuman
ke dua denganmu, ciuman ke seratus, dan ciuman ke seribu denganmu.”
Tanganku menahan ucapan Ryosuke,
“Kau hanya bilang seperti itu tapi aku tidak i—“
“Aku mengingat semuanya. Aku
menghitungnya. Dan aku selalu mengenangnya.”
Yak bagus, lagi-lagi pipiku memerah.
Omong-omong, catat ini baik-baik. Yamada
Ryosuke memiliki ke pribadian ganda. Dia akan bertingkah malu-malu dan
wajahnya memerah di muka umum—bila menyangkut hal terbenarnya—tapi, tak ada
sifat dan tingkah seperti itu bila sudah di privat denganku.
Catat!
“Ciuman pertama itu...” kemudian ia
memulai,
.
.
.
=1st
Kiss=
Musim semi 2008. Hey! Say! JUMP
tengah syuting music video single mereka yang kedua. Dream Comes True.
“Kita mulai syuting sendiri-sendiri
ya!” Sutradara berteriak. “Di mulai dari yang paling muda, Ryutaro-kun!”
Yamada Ryosuke lupa bahwa Ryutaro
yang paling muda diantara ke sepuluh member saat itu, padahal ia sudah mau
menyebut Chinen Yuri tapi untung saja tidak keceplosan.
“Kemana dia?” gumamnya saat melihat
disekeliling lokasi syuting bocah itu tidak terlihat.
“Takaki-kun, Chinen kemana?” ia lalu
bertanya.
“Oh, tadi katanya mau istirahat. Ini
baru mau aku panggilkan. Atau kau saja yang memanggilnya?”
Pipi tembem Yamada bersemu mendengar
pertanyaan Takaki. “Ke-kenapa aku?”
“Loh, kenapa memangnya? Kau masih
tidak suka dia duduk-duduk di pangkuan orang?” Takaki tertawa. “Padahal kau mengakuinya
dia itu menggemaskan kan?”
“ya-yah... tapi tetap saja aku tidak
suka dia yang seperti itu! Menyusahkan!”
“Ahaha.. yasudah kalau begitu aku
cari dia dulu. Habis Ryutaro kan dia,”
Baru member tertua kedua itu ingin keruang
istirahat, tangannya ditahan Yamada. “Aku saja.”
Takaki hanya tertawa ditempat.
.
“Chinen, bangun!”
Yamada mendapati Chinen tertidur di
sofa ruang istirahat tempat syuting MV, tidurnya tengkurap.
“Ck! Dia ini benar-benar
menyusahkan!” dengusnya. Yamada sebenarnya masih sensi dengan Chinen karena
saat pertama kali bertemu, bocah mungil itu memanggilnya dengan ‘Kudanil’. Tapi
ketika di making UMP, entah kenapa Yamada tak rela dia dekat dengan Yuto.
“Heh, Chinen! Bangun! Kau ini...! kita
kan di tempat kerja, kenapa malah ti—“
Mata Yamada tiba-tiba membola,
kalimatnyapun menggantung di udara. Itu karena ia belum pernah melihat malaikat
kecil tertidur damai dengan bibir merah bergelombang dan bulu mata yang begitu
lentik serta legam seperti bocah di hadapannya itu. Sungguh....
“Cantik..”
Yamada baru saja mendekap bibirnya
sendiri karena tak sadar mengatakan barusan. Tadi ketika masuk ke ruangan, ia
tidak melihat dengan jeli wajah tidur Chinen. Tapi ketika hendak membangunkannya
entah kenapa Yamada merasa... tidak tega.
Wajah tidur Chinen begitu damai dan indah. Oh, sebentar... dia itu 13 tahun kan? Tapi kenapa seperti umur 6 tahun? Yamada tak
habis pikir. Dan tiba-tiba saja, seperti dirasuki sesuatu, Yamada semakin
mendekatkan tubuhnya pada wajah Chinen hingga bibirnya menyatu dengan bibir
gelombang bocah imut itu.
BRAK!
“CHII~ GILIRANMU SYUTING!”
“CHII~ GILIRANMU SYUTING!”
Yamada nyaris jungkir balik saat
pintu di buka dengan kasar oleh Ryutaro.
“Oh, Yama-chan! Aku tidak tahu kau
disini.” Ryutaro meringis dengan pandangan meremehkan. Yamada hanya mengangguk
canggung, kemudian melirik Chinen yang kini sedang mengucek matanya.
“Chii, giliranmu syuting tuh. Cepat
sana!” seru Ryutaro lagi.
“Iya, cerewet!” kemudian Chinen
bergegas ke lokasi MV sedangkan Yamada dan Ryutaro masih berada di tempat.
“Yama-chan, aku tadi melihatnya.”
Ryutaro kini menyeringai. Wajah Yamada langsung memerah hebat. “Ja-jangan kasih
tau siapapun.. kumohon!”
Ryutaro justru tertawa. “Tenang
saja. Dia memang menggemaskan. Aku juga pernah menciumnya.”
“?!”
“Tapi tidak penuh hasrat seperti
yang kau lakukan saat ia tidur tadi. Haha~”
Yamada menggeram. “Ryu! Kumohon
jangan ka—“
“Iya aku janji.”
Dan benar saja. Ryutaro menepati
janjinya hingga sampai 2016 ini Chinen baru di beritahu oleh Yamada sendiri.
.
.
.
Chinen’s
POV
“Eh?! Kok aku tidak sadar?!”
Ryusuke malah tertawa, sementara aku
sudah memasang wajah terbodoh seumur hidup. Huh, kupikir ciuman pertama kami
saat SMA!
“Itu berarti dia menepati janjinya.
Tapi aku cukup benci ketika dia bilang juga menciummu. Apa itu benar?”
A-ah..
itu.. sudah lama sekali... “Ya.
Tapi kurasa itu tidak termasuk ciuman. Bibirnya hanya menyentuh bibirku saat
menyelesaikan permainan pocky.”
“Apa reaksimu?”
Eh.. apa ya? Itu kan sudah 8 tahun yang lalu! “Tertawa mungkin? Aku sudah
lupa! Kau kan tahu ketika kecil dulu banyak yang menciumku.”
Astaga, salah bicara!
“Ya. Ya. Ya. Terserah.”
Tuh kan, Ryosuke cemburu.
“Oh ayolah~ Sekarang kan hanya kau yang bisa menciumku, Ryosuke...” aku
memelas. Dia tersenyum kecil seraya mendengus. “Kalau begitu, ciuman ke dua itu
saat...”
.
.
.
=2nd Kiss=
“OTSUKARESAMA
DESHITAAAA~!!!”
Hey!Say!JUMP telah menyelesaikan
tour musim dinginnya di tahun 2011. Para member dan kru kini berkumpul di satu
ruangan besar untuk saling kampai seusai
konser.
“Hari ini sukses besar! Kalian
hebat!” Seru para kru.
“Hebat sampai ada yang baru jadian!”
Hikaru juga berseru. Suasana tambah riuh.
“Padahal sudah dari dulu saling
suka, tapi yang paling suka nggak berani bilang...” Inoo menyindir.
“Sampai curhat ke anak-anak baru
akhirnya mau menyatakan cinta. Itupun harus disuruh-suruh di konser! Haha..!”
Ryutaro menambahi. Dan masih banyak lagi godaan dari member lain, sementara
pasangan yang dimaksud hanya saling menunduk.
Yamada melirik Chinen dengan ujung
matanya. Pemuda mungil yang kini resmi menjadi kekasihnya itu hanya mengunci
bibirnya rapat-rapat dengan wajah yang super memerah.
Sangat menggemaskan membuat Yamada
tak bisa menahan nalurinya untuk...
“Syuit~
syuiit~! Lanjutkan Yamada!!”
.... menciumnya.
Mereka semua tak henti bersiul dan
tertawa setelah menyaksikan Yamada mencium Chinen dengan amat lembut hingga
akhirnya Chinen menangis di pelukan Yamada. Menangis kencang.
.
.
.
Chinen’s
POV
“Ugh.. sialan...” Aku menutup kedua
wajahku yang memanas. “Itu benar-benar memalukan! Kau menciumku dihadapan
banyak orang, Ryosuke!”
“Habis aku tak tahan. Wajahmu sangat
menggoda.”
“Kau juga memerah!”
“Tapi kau lebih menggoda.”
Oke, terserah.
“Dan setelah kucium, kau tak
berhenti menangis. Bahkan sampai kita selesai beres-beres dan pulangpun, kau
masih nangis.”
“Ugh.. habisnya...”
“Terharu? Hahaha.. jarang kan, ada
yang berani menyatakan perasaan di hadapan puluhan ribu penonton dan berciuman
di depan banyak orang terdekat? Lagipula mereka kan terpercaya, tidak akan
membocorkan ke petinggi Johnny’s.”
“Ya tapi tetap saja aku belum siap
waktu itu!”
Ryosuke kembali tertawa. “Aku tahu.
Kau langsung cerita ke ibumu kan setelah sampai rumah? Miki-san sampai menelpon
ibuku dan aku jadi di omeli habis-habisan ahaha..”
“Karena kau kurang ajar. Aku kan
masih polos!”
“Benarkah? Bukannya aku sangat
pintar?”
Ya terserahlah. Seharusnya aku tahu
kalau itu ci—unghh.. “Ryosuke!”
“Ke 10.002, Yuri.”
“Kau ini....”
“Ahahaha...! Nah. Yang paling
favorit lagi itu, ciuman ke....”
.
.
.
=100st
kiss=
“Yuri.. aku minta maaf!”
“....”
“Yuri, aku mohon!”
“Berhenti memohon. Kita sudah
selesai, Yamada.”
“Tidak! Aku mohon, Yuri...”
Mereka sedang bertengkar. Bertengkar
hebat. Saat itu adalah pertengahan 2012 dimana Hey!Say! JUMP sedang mempromosikan single Super Delicated. Yang berarti.... YamaJima era.
“Kau tahu itu hanya ekting...!”
Chinen mendecih mendengar alasan
itu. “Ya terserah kau.”
“CHINEN YURI!” Yamada lalu
membentak. “KENAPA KAU TIDAK MAU MENDENGAR PENJELASANKU?! AKU BILANG ITU HANYA
EKTING!”
Chinen, untuk beberapa detik saja,
dia seperti tidak menginjak bumi. Dia seperti berada di Mars dan bertemu sosok aneh
yang sedang memarahinya. Seumur-umur, ia bahkan tidak pernah di bentak oleh
orang tuanya sendiri!!
“Yu-yuri.. a-aku minta maaf. Aku
tidak bermaksud membentakmu..” Yamada menyadari kesalahannya. Ia langsung
memeluk Chinen namun si mungil itu tak bereaksi. Ia seperti hampa.
Hari-hari berikutnya, HSJ melakukan promosi
di Thailand dan live perform diberbagai acara TV menampilkan Super Delicated, yang terjadi pada Chinen adalah ia seperti memakai topeng. Pura-pura ceria di depan kamera, tapi
setelahnya... jangan harap ia merekahkan senyum sedikitpun.
“Yamada! Apa yang kau lakukan pada
Chinen?!” Yabu menyadari sikap adik bungsunya tersebut hingga ia minta
pertanggung jawaban dari sang center.
“A-aku.. tidak bermaksud
membentaknya saat itu...”
“Kau apa?” alis Yabu terangkat.
“Membentaknya...”
“Astaga Yamada! Kau tahu dia sangat
sensitif ketika diteriaki atau di bentak? Orang tuanya saja tidak pernah
membentaknya bila dia sedang berulah!”
Yamada berdecak. “Aku akan berusaha
berbaikan. Kau tenanglah.”
Tapi sungguh, memulihkan perasaan
Chinen Yuri itu tidak mudah. Yamada harus super-ekstra-sangat perhatian pada
Chinen.
Oh, kau tanya kenapa Chinen sakit
hati dengan Yamada? Itu karena...
“Aku dipaksa Julie-san..”
Yamada bersimpuh di depan Chinen. Ia
sedang berada di rumah si mungil itu untuk meminta maaf sekaligus menjelaskan.
Namun reaksi Chinen tetap sama. Ia hanya diam. Seolah menganggap Yamada alien.
“Kau tahu, Yuto itu Johnny’s
favoritnya. Dan dia lebih ingin Yuto yang paling populer di Hey!Say!JUMP,
bukan aku. Drama Risou no Musuko itu di buat agar aku dan Yuto bi—“
“Aku tak butuh penjelasanmu yang
itu. Jelaskan apa alasanmu bilang ‘sangat menyukai momen kebersamaan dengan
Yutti’ selain karena kau menikmati uang kepopuleranmu?”
“Tidak, bukan be—“
“Setiap perform, setiap aku
menyanyikan partku di Super Delicated dan melihat kalian seperti berciuman
dihadapanku, aku merasa sedang menari di planet Mars dan sedang menari di
hadapan para alien jahat.”
“Yuri—“
“Bahkan setelah konser atau perform
berakhirpun kau tidak merasa bersalah sama sekali. Kau seperti biasa saja. Kau
seperti tidak peduli perasaanku. Seolah-olah kau menganggap ‘Ah, Yuri sudah
tahu aku hanya ekting.’ Padahal aku sangat sakit melihatnya. Aku berusaha
meyakinkan diriku sendiri juga, tapi kau tidak pernah lagi meyakinkanku.”
“Yu—“
“Aku menunggu senyummu dan tepukan
pelanmu di kepalaku dengan tatapan ‘Tenang, Yuri.. ini hanya ekting, aku hanya
cinta padamu.’ ketika selesai tampil. Bukannya malah mendengar dan melihat kau mengumbar
pada publik bahwa kau menikmati Super Delicated dan bangga menjadi lebih
populer bersama Yuto ketimbang yang lain.”
“Yuri, sudah kubilang, aku dipaksa!”
Yamada kini menekan kalimatnya, tidak lagi membentak, “Julie-san memantau
semua gerak-gerikku! SEMUA, YURI! Semua!! Aku harus meyakinkan dia bahwa aku
sangat dekat dengan Yuto meski aslinya kau tahu, aku juga muak! Kalau tidak
begitu... aku akan dikeluarkan dari Hey!Say!JUMP!”
Chinen langsung menatap Yamada.
Pupilnya mengecil.
“Ya, Yuri. Aku disuruh solo karir di
Johnnys olehnya agar Yuto bisa menjadi center Hey!Say!JUMP. Beberapa produser
setuju dengan itu bahkan mereka sudah membuatkanku single sendiri. Kau tahu
Moonlight? Kalau kau pikir aku bahagia ketika mereka akan membuatkanku single
itu, jawabannya tidak! Karena itu berarti aku akan solo karir! Mendengar itu
aku seperti hancur. Kau tahu, Hey!Say!JUMP segalanya untukku, itu berarti kau
juga.”
“....”
“Makanya aku, dengan berat hati
harus berekting lebih lama. Yuto juga muak! Sungguh, Yuri.. bila di privat aku
tak melakukan apapun dengan Yuto. Aku bahkan tak bertegur sapa dengannya bila
hanya berdua. Aku tidak bisa terlalu akrab denganmu di publik karena Julie-san.
Kumohon mengertilah. Mengerti aku, Yuri...”
“.....”
“Biarkan kita saling mengerti. Aku
janji, bila urusan kerjaan sudah selesai, aku akan kerumahmu. Aku akan
bermesraan denganmu di privat. Aku
janji.”
Hati Chinen mulai luluh. Ia seperti
kembali ke bumi. Tanpa sadar ia langsung berhambur memeluk Yamada dengan erat.
Terisak pelan, lalu kencang, hingga akhirnya menangis. Yamada juga. Mereka
menangis bersama sampai akhirnya ciuman panas menghentikan tangisan mereka.
.
.
.
Chinen’s
POV
“Menyedihkan ya kita ahaha..” tawaku
terdengar getas. Ryosuke disebelahku juga demikian.
“Ya, kisah cinta kita dari mulai
sedih hingga bahagia.” Imbuhnya. Aku kini bersandar di dadanya sementara tangannya
mengusap surai hitamku.
“Tapi banyakan bahagianya ‘kok.”
“Tentu saja, itu karena aku sudah
berjanji akan membuatmu selalu bahagia.”
Tawaku lepas seraya menyubit gemas
kedua pipinya. Ah.. dia memang kekasih langka. “Iya.. iya.. aku bahagia
bersamamu.”
“Nah, kau tahu yang ke seribu itu kapan?”
“Kapan?”
.
.
.
=1000nd
kiss=
“Selamat pagi, watashi no Chinen Yuri.”
Yamada berkata demikian setelah Chinen
membuka matanya, tepat dipelukan Yamada.
“Selama—aduh,”
“Shh.. jangan bergerak dulu. Masih
sakit ya?”
“Iya. Sakiiiiit...”
Yamada tertawa mendengar Chinen
merengek. Ia semakin mengeratkan pelukannya. “Maaf ya...”
“Nanti akan biasa kan?”
“Ya, Yuri.”
“Kapan?”
Yamada terdiam. Lalu ringisan bodoh
tertera di wajahnya. “Tidak tahu...”
“Ryosuke... Pantatku sakit sekali,
sungguh!”
Kembali Chinen merengek. Ia bahkan
tidak mau bergerak dari posisinya.
“Mau bagaimana lagi... ini yang
pertama kita main, Yuri...”
“Disana pasti jadi lebar.”
Yamada kembali meringis.
“Ryosuke!!”
“Itu elastis kan? Nanti juga rapat
lagi. Tapi tadi aku lihat.. berdarah.. hehe..”
Chinen melotot ngeri. “Astaga! Kalau
aku infeksi bagaimana? Kalau aku mati bagaimana? Kalau a—eunghh.. unghh hhnn...”
Chinen terlalu parno sekarang. Jadi
Yamada harus membungkamnya dengan ciuman mesra.
“Tapi kau tidak menyesal
melakukannya denganku kan?” tanya pemuda utama JUMP itu seusai berpagutan.
Chinen tersenyum lemah dan menggeleng. “Aku tidak menyesal sama sekali.”
“Terimakasih... sudah mau
melakukannya denganku.” Yamada mengecup kembali bibir Chinen. Kembali. Dan kembali.
.
.
“Er... Yuri, kita sudah dua jam
lebih berbaring disini semenjak kau bangun tidur.”
“Ya mau bagaimana lagi? Sakit! Kalau
aku bergerak sedikit saja pinggang dan pantatku sangat panas.”
“Tapi kita sangat kotor. Harus mandi.” Kata
Yamada dengan tegas. “Meski tak ada jadwal apapun, tetap saja... kita kotor.”
“Ugh...”
“Begini saja, aku akan membantumu
melakukan apapun! Bila sakitnya teramat nyeri, aku akan menciummu hingga
sakitnya reda.”
Chinen berpikir sejenak sebelum
akhirnya menuruti perkataan kekasihnya. Ia mulai bangun untuk duduk dari
ranjang, ketika nyeri itu tiba dan ia menjerit, Yamada segera menciumnya.
Ketika Chinen berhasil berdiri dan
kembali merasakan nyeri hebat, Yamada kembali menciumnya.
Ketika Chinen berhasil berjalan
untuk menuju bath tub dan merasakan nyeri yang lebih hebat, Yamada
menciumnya hingga mereka sampai di kamar mandi.
Begitu terus sampai rektum Chinen
mulai terbiasa dengan aktifitas. Yamada masih setia membantu Chinen disegala
keadaan dan bila si mungil itu merintih, Yamada akan langsung menciumnya dengan
lembut.
Menciumnya lagi. Menciumnya terus. Dan
Menciumnya selalu.
.
.
.
Chinen’s
POV.
Aku tertawa mendengar ceritanya yang
barusuan. Dulu aku masih ringkih untuk urusan itu ternyata ahaha...
“Berarti ciuman ke 900 hingga ke
1000 itu saat kita selesai bercinta yang pertama kalinya ya?”
Yamada mengangguk. “Aku benar-benar
tak tega mendengar rintihanmu. Jadi lebih baik kucium. Dan lagi, setelah kucium
badanmu langsung rileks. Kata Yabu-kun, ketika badan uke rileks setelah bercinta akan mempercepat penyembuhan.”
Aku kembali tertawa. Tapi itu benar.
“Dan sepertinya kau ketagihan menciumku setelah kita bercinta.”
Ganti dia yang tertawa. “Habis saat
kau merasa sakit, hisapanmu dimulutku akan kuat namun kemudian mengendur.
Sensasinya benar-benar nikmat.”
“Dasar!”
Kita tertawa bersama.
“Tapi omong-omong.. sesakit itu ya?”
Air wajahku langsung serius. Kemudian
seringai usil kuberi. “Kau mau mencoba.. dimasuki?”
“TIDAK!” Ryosuke kontan menjerit
dengan wajah teramat horor. “Tidak! Itu mimpi buruk! Oke jangan bahas itu lagi.
Aku tahu itu sakit tapi tidak... Tidak, Yuri. Oke?”
Aku hanya tertawa. Kau tahu bahwa
tertawa itu ‘hahahaha’ yang berarti membuka mulut, namun kekasih mesum dan
bantet ini tetap saja berhasil menciumku tiba-tiba. Ck!
“Ciuman ke 10.003.”
Oh, Kami-sama... “Mau sampai kapan kau menghitungnya, Ryosuke?”
“Sampai 100 ribu ciuman!” Serunya
mantap sambil mendekapku erat-erat.
=THE END=
A/N
: Kelar chooooooooy!!! YamaChii pertama main kali ena2 itu 2013 yaa (baca hajimaru no melody)). ini udah di edit wakaka. Oyeah~ happy ied
fitriii. Saya tetap akan cinta YamaChii ohohoho~ makasih lho Yam.. THR frontalnya ke publik yang bilang nyium Chii 10rb kali wakaka~


0 komentar:
Posting Komentar