Judul: WHEN I AM DOING THE TEST
Author: Kiwok
Pair: YamaChine
Genre: Romance, fluff, drable
Summary: Waktu Author lagi UAS selama seminggu kemaren, dengan begonya di lembar jawaban ngisi plot fanfic ini. Untungnya saya punya tip-ex :”
Douzo!
.
.
.
Lingkup Jurnalistik
Saat ini, member Hey!Say!JUMP sedang melakukan photoshoot spesial untuk edisi natal. Yamada sangat bahagia karena para photograper meminta dirinya berfoto mesra dengan Chinen.
“Ryosuke... pemotretannya sudah selesai.” Chinen berucap manis. Ia masih pada posisinya yang dipeluk Yamada dari depan dengan menggunakan syal bersama untuk pemotretan barusan. “Kau tidak mau melepaskanku, hm?”
“Kau tak suka kupeluk?”
“Bukan begitu... Ini kan di tempat ker—“
“YILY.”
“Ha?”
“Yuri, I love You.” ujar Yamada tiba-tiba. Si mungil disana langsung tertawa. “Katakan itu yang keras seperti dulu kalau kau mau. Katakan seolah kau ingin dunia tahu bahwa kau cinta aku.”
Yamada mengangguk dan merubah posisinya. Ia justru berbisik merdu di telinga Chinen.
“Kenapa malah berbisik?”
Yamada menyeringai, “Kau kan duniaku.”
.
.
.
Dasar Logika
Yamada sedang berkunjung ke apartemen sang kekasih yang di dalamnya masih sangat sedikit perabotan.
“Yuri, aku numpang nge-cas HP ya! HP-ku sama sekali nggak bisa nyala.”
“Iya...!”
“Colokan ada dimana selain untuk TV-mu?”
“oh, di dekat dapur. Sebentar Ryosuke.. aku masih ada urusan di kamar mandi~!!”
“Iya-iya...” Yamada mendengus dan dengan malas berjalan menuju dapur. Namun tiba-tiba saja lampu mati.
“HWAAAAAAAAAAAA!!!!!! YURIIIIIIIIIII!!!”
Jeritan Yamada lantas menggema keseluruh penjuru ruangan.
“YURI!!! YURII!!! KAU DIMANAAAA!!”
“Hiisshh.. berisik Ryosuke! Aku di kamar mandi!”
“Keluar!! Gelap!! Aku takut gelap~!!”
“Pakai HP-mu sebagai senter!”
“SUDAH KUBILANG HP-KU MATIIII~!!”
Chinen berdecak kesal dan cepat-cepat menyelesaikan urusannya. Ia keluar kamar mandi seraya menyambar HP-nya di dekat rak.
“Ryosuke,”
Yamada kembali menjerit histeris saat Chinen menepuk bahu sang kekasih dari belakang dan ketika menoleh, cahaya dari HP Chinen yang menyorot wajahnya terlihat mengerikan bagi Yamada.
Kini lampu sudah menyala.
“Maaf... Ryosuke, aku minta maaf...” Chinen memeluk Yamada yang beringsut di lantai. “Stt.. sudah jangan nangis.. aku minta maaf. Tidak lagi deh. Aku akan pasang genset nanti.”
Isakan Yamada berhenti. Ia mulai memperlihatkan wajahnya yang sembab pada Chinen. Kekasih imutnya itu lalu mengusap air asin disana sambil tersenyum lelah.
“Ne, Ryosuke...”
“Eum?”
“Kau benar-benar takut hantu?”
“Tentu saja!”
“Che... kalau nanti aku mati, lalu arwahku gentayangan menghantuimu, kau akan takut padaku?” pertanyaan tiba-tiba. Langsung membuat air muka Yamada mengeras. “Bicara apa kau?”
“Jawab saja. Kau pasti akan langsung meminta cenayang untuk melenyapkanku kan?”
“Yuri, berhenti bicara hal yang bodoh! Kau disini dan kau masih hidup.”
“....”
Keadaan menjadi hening.
“Tunggu, kau tidak kesurupan kan? Yuri...? Ini Chinen Yuri kan?” Yamada melepas pelukan kekasihnya dan mulai beringsut mundur.
Ganti Chinen yang menangis. “jahat...”
“E-eh?”
“Ryosuke jahat... kau menganggapku mati sekarang?”
“Bu-bukan begitu! Aishh..” Pemuda tembam itu kembali merengkuh kekasihnya. “Sudahlah lupakan soal makhluk halus. Kau dan aku masih hidup sekarang. Lebih baik kita bermain ranjang.”
Chinen akhirnya tersenyum. Tapi tunggu, ia kan baru saja selesai dengan urusannya...
.
.
.
Pengantar Ilmu Komunikasi
Di antara kesembilan member Hey!Say!JUMP, Chinen Yuri adalah yang paling tidak tahan alkohol. Karenanya bilapun mengonsumsi sedikit, si mungil itu bisa saja mabuk. Seperti sekarang ini, Chinen sedang makan malam berdua di apartemen Yamada dan diakhiri dengan deasert berupa champange.
“Hik.. Ryosuke! Kau dalam bahaya!” serunya. Yamada yang masih sadar 100% mengernyit. “Kenapa aku dalam bahaya?”
“Karena kau mencium gadis itu~!”
Yamada terdiam.
“Tapi cara ciumanmu tidak benar~ hahaha.. hik!”
Yamada tetap diam.
“Bagaimana, sih? Masa ciuman seperti itu yang kau beri untuk drama romantis? Hik... katanya aktor? Payah!”
“....”
“Masih lebih keren ciumanku dengan Tsuchiya-san!”
“...”
“Sini latihan ciuman denganku~” Chinen mendekatkan bibirnya pada Yamada, langsung saja ia melumat bibir center HSJ itu dengan ganas dan penuh nafsu.
Yamada tidak membalas ciuman Chinen. Perasaannya pun tidak hangat seperti biasa ketika sedang berpagutan dengan Chinen. Karena ia tahu, ciuman yang si mungil berikan itu adalah refleksi dari kecemburuan yang teramat sangat.
“Ppuah—!!”
Pagutan pun terlepas. Yamada melihat Chinen meringis aneh dengan air mata yang merembes dari bilik mata indahnya. Raut Yamada langsung datar sedatar papan catur.
“Ryosuke, kalau ekting ciuman, kau juga harus profesional~!”
“Kau yakin?”
“Huh?”
“Apa kau yakin aku harus berekting melumat bibir gadis itu dan menangkupnya dengan mesra seperti aku melakukan itu padamu setiap hari?”
Ganti Chinen yang terdiam.
“Apa kau yakin aku harus berekting seperti kita berciuman? Aku saja muak melihatmu mecium Tsuciya-san!”
“He? Ektingku dengan Tsuchiya-san keren kah? Tapi kenapa hik... fansku banyak yang tidak cemburu seperti fansmu? Mereka malah bilang aku terlihat seperti lesbi.. hik...”
Kini Yamada yang memajukan tubuhnya untuk melumat bibir Chinen. Disela-sela ciuman itu, Yamada melirihkan nama gadis yang menjadi lawan bermainnya dalam drama Cain n Abel. Seketika Chinen mendorong Yamada dengan kencang setelah sebelumnya menampar pipi sang center.
Yamada melihat air asin semakin deras keluar dari mata Chinen.
“Kau menangis. Masih ingin bilang aku harus berekting seperti tadi dengan gadis?”
“....”
“Jawab, Yuri!”
“HWEEEEE~!!”
Tangis Chinen pecah seketika. Yamada langsung tersenyum dan memeluk bayi kesayangannya itu dengan mesra. “Aku minta maaf... tidak lagi. Tidak akan lagi menerima tawaran drama maupun movie yang ada ciumannya.”
Chinen masih menangis.
“Aku juga minta maaf menciummu sambil menyebut nama orang lain tadi.”
Tangis itu belum reda.
“Seterusnya, ciuman mesra-ku hanya untukku, Yuri. Aku berjanji.”
Karena Yamada tahu Chinen takan semudah itu berhenti menangis dalam keadaan mabuk, terpaksa ia melakukan cara yang biasa, melesakan lidahnya pada bibir Chinen.
.
.
.
Kajian Media dan Penulisan Kreatif
“Halo?”
“Ya?”
“Yuri, kau sedang apa?”
“Sedang... main game! Hehe.. kenapa menelpon? Bukannya kau sibuk?”
“Ha? Aku tidak sibuk hari ini. Kau tahu itu.”
“Ohiya hehe..”
“Yuri?”
“Hmm..?”
“Aku rindu,”
“Hihihi... Kenapa rindu?”
“Karena... ingin bertemu.. hehe..”
“Hehe.. Kenapa ingin bertemu?”
“Karena kau juga mau kuajak kencan.”
“Kenapa kau tahu?”
“Karena aku kan pacarmu!”
“Ryosuke keren!”
“Tentu saja.”
“Ahahaha..!!”
“Yuri, kau kenapa sih?”
“SAAYA-NEE!!! KENAPA MENELPON PAKAI HP-KU?!”
Yamada seketika membeku mendengar seruan sayup-sayup. Meski begitu, jelas terdengar apa yang diserukan orang kedua dari sambungan telponnya.
“Hehe.. maaf, maaf... Tadi ada telpon. HP-mu bunyi terus dan berisik. Jadi kuangkat.” Sahutan terdengar. Yamada semakin kikuk mendengar itu. Kemudian ia mendengar suara benda yang dipindah-tangankan.
“Halo?”
“Yuri...”
“Astaga, Rysouke!” suara Chinen terkejut.
“Tadi itu... kakakmu?”
“iya.. ahaha...”
“Kenapa.. kenapa suara kalian mirip??”
“Ma.., kita kakak-adik, kan?”
Seketika itu juga Yamada menutup sambungan telponnya.
.
.
.
Keterampilan Bahasa dan Literasi Informasi
Yamada mendapat libur cukup panjang dari agensinya sehingga memutuskan untuk pulang ke rumah, bukan ke apartemennya. Sebelum pulang, ia menyempatkan membeli oleh-oleh untuk keluarga termasuk adik kesayangannya. Tapi Yamada terlalu terkejut ketika memasuki rumah, yang menyambut “Okaeri” ternyata empat orang.
Bukan, bukan kak Chihiro yang dimaksud. Kakaknya yang itu telah menikah dan tidak akan tinggal bersama lagi.
Orang keempat atau keluarga bayangan keempat yang dimaksud Yamada tak lain tak bukan adalah sang kekasih tercinta, Chinen Yuri.
.
“Okaeri Ryosuke~” Chinen beranjak dari sofa dan mendekat pada Yamada, dengan segera ia melepas jaket yang Yamada gunakan juga meraih bingkisan yang ia bawa.
“Tou-chan, kaa-chan, Misa-chan, Ryosuke membelikan kita kue natal!” Chinen berseru. Orang tua Yamada dan adiknya tersenyum bahagia lalu menghampiri Chinen.
“Aku ambil pisau untuk potong kuenya dulu,” kata ibu Yamada.
“Aku bantu, Kaa-chan!”
“Terimakasih Yuri-chan..”
Sementara Yamada masih di depan pintu. Menyaksikan Chinen berinteraksi dengan keluarganya dengan sangat.. sangat.. sangat akrab. Ia mulai kehilangan akal. OH ASTAGA, APAKAH KEKASIHNYA ITU KINI TELAH BERUBAH STATUS MENJADI ISTRINYA?
Yamada semakin pening.
“Ryosuke, kenapa masih disitu? Kesinilah!” Ayah Yamada berseru, membuat Yamada melangkah menuju ruang makan untuk menyantap kue.
“Er.. semua, mumpung sudah pada kumpul. Aku ingin mengatakan sesuatu.” Chinen berucap pelan. Yamada menoleh dengan raut panik.
“Karena sudah lebih dari enam tahun aku dan Ryosuke bersama... dan kita sudah sangat akrab seperti keluarga... aku ingin melamar Yamada Ryosuke sebagai suamiku.”
Langsung saja dagu Yamada meluncur jatuh.
“Karena Ryosuke belum juga melamarku, kupikir tidak ada salahnya bila aku yang melakukannya. Iya, kan, Ryosuke?” pandangan Chinen pada Yamada. Pemuda tembam itu lantas berdiri dan menggeleng kuat-kuat. “TIDAK!!”
“Lho, Kenapa?”
“TIDAK!! TIDAK..!!”
“Ryosuke—“
“TIDAK! KU BILANG TIDAK!”
“Ryosuke.. Ryosuke!!”
.
Mata Yamada akhirnya terbuka. Chinen dan Keito yang dari tadi membangunkannya langsung bernafas lega.
“Astaga.. Yama-chan! Kupikir kau kenapa-napa!” seru Keito penuh kekhawatiran.
“Ryosuke mengigau “Tidak” dari tadi! Aku cemas setengah mati, tahu!” kali ini Chinen yang berceracau.
Yamada bangkit dari rebahan. Pikirannya mulai jernih secara perlahan. Ia akhirnya sadar bahwa lamaran barusan hanya mimpi dan kini sedang berada di kediaman Okamoto. Tadi siang Chinen serta Keito mengajaknya main game bersama. Saat mata kecoklatan Yamada menangkap sosok sang kekasih, center HSJ itu langsung memeluknya erat-erat.
“Yuri! Aku berjanji! Aku berjanji akan melamarmu nanti.”
“HA?!” Keito juga terkejut—tak hanya Chinen—ketika Yamada berkata barusan.
“Pokoknya kau tidak boleh melamarku lebih dulu! Jangan pernah ke rumahku lagi, Yuri! Dan jangan sekali-sekali kau menganggapku uke!!”
Chinen tidak mengerti apapun yang Yamada bicarakan. Tapi ia cukup tersenyum dan mengangguk.
“Memangnya kenapa kalau aku yang melamarmu?” tanya Chinen usil. Mata Yamada langsung membola.
“TIDAK!! POKOKNYA TIDAK! Jangan datang lagi ke rumahku!!
“Ahahaha.. aku mengerti, Ryosuke. Tenang saja, kutunggu!”
THE END
A/N : bahahaha apa ini? Niatnya drable malah kepanjangan. Huft. Asli dah waktu UAS LJ, Daslog, PIK, KMPK, bahkan KBLI saya samsek ga fokus ngisi jawaban karena ide-ide ff diatas muncul dan ingin menuliskannya segera ahihihi.. makasih yang udah baca >w</ pilih satu yang paling kamu suka! Dan betewe, happy holiday!

0 komentar:
Posting Komentar