Kamis, 26 Mei 2016

Ada Apa Dengan Chinen (Chapter 1)

Diposting oleh Kiwokchwan di 03.52
Judul : What’s Wrong With Chinen?

Author : Kiwok

Cover : Anasicha

Pair : YamaChii as always <3

Genre : Sinetron khas Indonesia wakaka XD

Summary : Tentang Chiinta alias Chinen. Dan tentang Yangga alias Yamada. (Gajelas, bodo amet)

PS : Diharap nonton AADC sisen satu dulu baru baca ini okeh! Kalo bisa baca ini sambil dengerin Ku Bahagianya Melly Goeslaw X’D

Cekidot!


Tahun ajaran baru. Di pagi hari. Di halaman sekolah yang asri. Seperti biasa keempat pengurus mading SMA Seijam selalu ceria bahkan sebelum memulai kelas, menyalurkan kecerian pada siswa-siswi lain disana.  Dengan canda, pula tawa.
.

.

.

“Chinen!”

Seseorang memanggil.

“Yap?”

“Mading hari ini yang seru, okei!”

“Serahkan pada kita!”

“Pasang artikelnya jangan sampai mengsong, Chii!”

“Tenang, ada Yutti!”

Terdengar tawa riuh. Kemudian sapaan kembali berlanjut.

“Inoo-chan makin cantik hari ini!”

“Oh tentu saja~”

“Idih narsis!”

“Dai-chan nggak usah sirik, urus aja ‘tu perut!”

“Heh, artikel resep masakan di mading buatanku laku, Inoo-chan nggak usah banyak komen.”

“Paling laris ya artikel fashionku!”

Kalau sudah berdebat, seorang ketua diantara mereka pasti melerai.

“Yutti nggak usah ikut-ikutan! Ayo cepet nanti keburu bel, kita belum kelar nyusun mading nih!”

“Siap, Chinen!”

Mereka bersahabat. Mereka berteman. Mereka selamanya.


~AADC~


Ruang klub mading adalah tujuan mereka berempat di pagi hari sebelum lonceng bel menggema. Tak perlu diksi rinci untuk menggambarkan bahwa keadaan ruangan itu adalah berantakan.

Chinen Yuri, ketua klub majalah dinding SMA Seijam sangat rusuh jika menyangkut penyusunan mading. Hari ini adalah deadline pengumpulan puisi yang akan dijadikan lomba puisi tahunan di sekolah. Lomba itu merupakan ajang bergengsi yang bila menang akan di wawancarai dan menjadi tenar di sekolah.

“Dai-chan, artikel tentang Festival Hanami yang kubuat sudah di hias? Jangan bilang belum!”

Arioka Daiki yang masih menghias kliping artikel resepnya mendongak, lalu mengernyit. “Kau tidak menyuruhku buat itu. Itu tugasnya Keiti!”

“Oh iya!” Anggota mading paling modis dan jangkung—alias Yuto—menjentikan jari, “Keito kan yang juga buat artikel kemenangan tim basket kita bulan ini! Dia belum datang!”

Chinen meniup poninya, kesal. “Seadanya dulu sajalah! Udah mau bel nih.”

Keempat anggota mading itu lalu mulai menyusun artikel di seluruh mading sekolah.

“Seperti biasa, Yutti dan aku di lantai satu. Dai-chan dan Inoo-chan pasang di mading lantai dua!”

“Siap!”

.

Sibuk. Sibuk. Dan sibuk. Lima menit lagi bel masuk pelajaran. Chinen baru akan mengesah lega karena sudah semua menempel artikel namun kemudian Okamoto Keito, anggota mading ke lima tiba-tiba datang dan menyodorkan gulungan karton berisi artikel-artikel menarik.

“Astaga, Keith! kenapa baru dateng ‘sih?!”

Tak terdengar jawaban. Chinen mendengus mahfum dan segera menempel artikel yang tadi berikan padanya dibantu dengan Yuto.

.

“Inoo-san, kalau mau menyerahkan puisi untuk lomba dimana ya?” seorang tukang bersih-bersih sekolah menghampiri Inoo dan Daiki yang sedang sibuk di lantai dua.

“Oh langsung ke mejanya Joni-sensei saja. Dia yang akan menilai.” Jawab Dai-chan ramah. Pak tua itu mengangguk dan lalu menuju ruang Joni-sensei selaku juri yang juga kepala sekolah SMA Seijam.

Hingga kemudian jam tujuh tepat...

TENG! TENG! TENG!

~AADC~

“Ya ampun, Keito...”

Luka lebam kebiruan membuat bulir air mata empat sekawan disana mengumpul. Luka itu berada di punggung Keito akibat dipukuli oleh seseorang yang kata mereka keji.

“Jadi karena ini kamu telat ke sekolah tadi?” Chinen bertanya lirih. Keito hanya mengangguk.

“Kamu harus melapor ke polisi, Keith! Ini sudah termasuk kejahatan!” Emosi Yuto bukan main. Sementara yang lain berusaha tenang.

“Harus berapa kali kubilang, ini cuma karena ayahku emosi...”

“Tapi kamu terlalu sering jadi korban!” Nah, Dai-chan ambil suara sekarang. “Harusnya dari dulu cerita kalau ayahmu ngamuk kamu dipukuli sampai kayak gini!”

“Keith, ingat pasal pertemanan kita nomor empat dan lima?” Inoo juga bersua, “jika ada masalah apapun itu, harus cerita dengan kita! Dan orang yang menjahati salah satu diantara kita adalah musuh kita semua!”

“Shh... Udahlah.. nggak usah dibahas!” Keito berdecak lesu. “Bahas yang lain aja. udah nggak apa-apa kok.”

Senyum adalah topeng yang paling baik. Dan Keito memasang topeng itu dengan sempurna. Keempat temannya saling menepuk punggungnya kemudian mengganti topik pembicaraan. Oh omong-omong, sekarang ini mereka sedang dirumah Chinen setelah sekolah berakhir.

“Sudah baca puisiku yang baru belum?”

“Yang kamu kirim buat lomba itu?” tanggap Inoo. Chinen mengangguk. “Mau tahu?”

“Jelas dong!” anggukan kompak itu lantas membuat Chinen melesat meraih kertas puisi salinannya dan membacakan dihadapan para sahabat dengan syahdu. “Judulnya, Aku ingin Bersama Selamanya.”

. . . . .
Ketika tunas ini tumbuh,
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi bersatu dalam jubah berpautan
Tangan kita terikat...
Lidah kita menyatu...
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu
Ah, di luar itu pasir, di luar itu debu
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu
Jiwa ini adalah tandu
Maka duduk saja...
Maka akan kita bawa...
Karena kita adalah satu.
. . . . . .

“Chineeeeeeen!!! Bagus bangeeet!” Dai-chan yang paling heboh saat si mungil disana selesai membacakan puisi terbarunya.

“Kamu pasti menang!” seru yang lain dalam haru. Chinen tentu tertawa bahagia.


~AADC~


Upacara wajib di aula gedung olahraga sekolah untuk memperingatai hari 'bahasa jepang' adalah saat yang di tunggu-tunggu Chinen dan kawan-kawannya karena menjadi hari pengumuman pemenang lomba puisi tahunan.

“Dan pemenangnya adalah...”

Joni-sensei menggantung ucapannya. Kebanyakan dari mereka mengelu-elukan nama Chinen membuat si mungil itu tak bisa tak tersenyum malu. Maklum, Chinen sudah menang lomba puisi dua kali berturut-turut dan bila tahun ketiga ini menang lagi, dipastikan dia adalah siswa paling populer diangkatannya.

“Yamada Ryosuke kelas 3-A!”

Kemudian senyum itu sirna tak berbekas.

.

.

.

“Yamada-kun!”

“Ya?”

“Yamada-kun dipanggil Joni-sensei. Mau dikasih hadiah katanya!” Pak tua bernama Hibano Kurogane mendatangi pemuda berambut pirang dengan tindikan telinga kiri yang sedang berleyeh-leyeh di atap sekolah.

“Hadiah apa?” Tanya pemuda itu, melepas hetset yang dipakainya.

“Hadiah menang lomba puisi!”

Yamada Ryosuke namanya, ia bangkit dari leyehan demi menatap sangsi pak tua disana. “Saya tidak pernah ikut lomba puisi. Apalagi menang.”

“Itu, puisi Yamada-kun yang waktu itu mau dibuang, saya ambil aja terus saya kasih ke Joni-sensei. Daripada dibuang kan sayang. Bagus banget puisinya.”

Kernyitan, itulah reaksi Yamada sekarang. “Kenapa? Saya tidak suka ikut itu!”

.

.

.

“Kalau begitu, untuk sementara hadiah lomba pusisi tahun ini akan diwakilkan dulu oleh wali kelas 3-A.”

Chinen menunduk sedih, diikuti rasa malu. Oh, rasa kesal juga. Kenapa si Yamada Ryosuke itu tidak maju? Memang seberapa keren puisinya? Chinen saja tidak kenal orang itu! Pasti orangnya sangat cupu dan tidak populer!

“Chii, ayo ke kelas!” seru Dai-chan. Chinen menghela nafas pasrah kemudian mengikuti siswa-siswi lain keluar dari aula gedung basket.

.

Sepanjang sekolah, Chinen tidak konsen dengan pelajaran. Ia masih tidak terima dikalahkan oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Yang benar saja, Chinen Yuri siswa populer di SMA Seijam karena aktif sebagai ketua mading, anggota atletik, dan selalu menang lomba puisi serta atletik. Masa’ iya dikalahkan oleh... oleh Yamada Ryosuke?

Siapa dia?!

.

“Chii kenapa sih? Masih kesel sama si Yamada Yamada itu ya?”

Istirahat pertama di kantin. Chinen masih menekuk wajahnya yang tentu saja mengundang tanya keempat teman dekatnya.

“Kesel sih jelas. Siapa sih dia?”

Yuto menjauhkan sedotan jusnya sebelum menajawab, “Yamada Ryosuke kelas 3-A. Dia nggak begitu populer. Nggak ikut klub apa-apa juga. Katanya sih sering pergi ke atap atau ke perpustakaan.”

Sasuga Yutti~ Pangeran sekolah yang tahu banyak info!” puji Inoo disertai tepukan nggak jelas. Yuto hanya menyeringai bangga. Chinen justru merengut.

“Terus kamu mau ngelakuin apa, Chii..?” Keito merangkul Chinen lembut.

“Aku ingin baca puisinya. Jadi penasaran.”

“Baca aja. Kan ada di ruangan kita puisinya.”

Ucapan Dai-chan spontan membuat Chinen melotot. “Ada di ruang mading? Kok aku baru tahu sih?!”

“Kamunya aja yang banyak pikiran jadi nggak sadar,” tawa mereka bertiga kecuali Keito—Ia masih merangkul Chinen. “Joni-sensei tadi yang naruh puisinya di ruang kita. Lagian, puisinya harus segera di tempel di mading sekaligus profil pengarangnya, Chii.”

Penjelasan Keito membuat Chinen tertegun sesaat. Kemudian ia bangkit dari duduk.

“Aku baca dulu!” Tandasnya seraya melesat menuju ruang mading. Teman-temannya hanya menggeleng-maklum.

.

Itu dia. Puisi yang membuatku kalah!

Chinen meraih puisi itu. “Tentang Seseorang, huh? Judulnya aja nggak jelas!”

. . . . . 
 Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi... sepi dan sendiri
Aku benci!
Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai! biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera!
Atau aku harus lari ke hutan... belok ke pantai?
-Ryosuke-
. . . . .

“Hey,”

Chinen balik badan dan terkejut. “Keito!”

“Serius banget bacanya? Emang bagus ya, Chii?” tanya Keito seraya mendekat.

“Bagus sih. Ya asal nggak plagiat aja.”

Pemuda berambut spike itu justru terkekeh. “Mau mewawancarai sekarang? Katanya dia ada di perpustakaan.”

Chinen mengangguk mantap, “Kita wawancarain hari ini saat istirahat ke dua. Sekarang aku mau ketemu dia dulu.”

“Iya, hati-hati jangan terbawa emosi.”

Chinen mengangguk mengerti.


~AADC~


“Hihihi.. lucu ya..”

“Iya.. coba liat ekspresi ini ahaha..”

“Iya kan... ahaha~”

“Sssttt..!!”

“....”

.

.

.

“Aahaha... mukanya lucu!”

“Iya. Gambarnya juga bagus! Hihihi...”

“Heh, berisik!”

Pemuda berambut pirang melempar pulpen pada dua pemuda-pemudi yang sedari tadi bercanda di meja utama perpustakaan. Sontak langsung mengundang banyak perhatian.

“Jangan asal lempar!” protes salah satu. Sang pelempar tak gentar sedikitpun sekalipun yang protes bertubuh besar. “Ini perpustakaan. Dilarang berisik. Kalau mau berisik diluar sana!”

“Yamada-kun,” pustakawan disana akhirnya menegur. Dua orang yang membuat berisik mau tak mau keluar sementara Yamada kembali duduk dan membaca bukunya.

Chinen yang dari kejauhan mengamati terkekeh dalam hati. Itu toh Yamada Ryosuke... pendek juga, hahaha..

Sang pemuda pirang hanya melirik tanpa mengubah posisi kepala saat dirasa seseorang mendekat padanya. “Ada perlu apa?”

Chinen yang dimaksud lantas mengulurkan tangan. “Yamada Ryosuke, kan? Selamat ya!”

Uluran tangan itu tak dijabat sama sekali. “Selamat kenapa?” Yamada justru berpaling pada bukunya.

“Selamat sebagai pemenang lomba puisi tahun ini!” sungut Chinen.  

“Saya nggak pernah ikut lomba itu. Apalagi menang.”

Hah!? Sombong banget ‘sih?! “Aku kan belum selesai ngomong!”

Pengunjung perpustakaan menoleh pada mereka berdua. Yamada menggeram kesal. “Barusan saya melempar pulpen ke orang yang berisik disini. Saya nggak mau pulpen itu balik di lempar ke muka saya gara-gara berisik denganmu.”

Chinen melotot tak percaya mendengar nada sedingin itu. Entah mengapa suaranya jadi susah keluar. “Cuma ingin ngomong...”

“Yaudah bicara di luar.”

.

.

.

“Disini aja lah!”

Yamada menatap Chinen dengan sinis. “Yaudah. Mau bicara apa?”

Helaan nafas keras terhembus sebelum Chinen bersuara. “Mading butuh profil kamu sebagai pemenang lomba puisi. Kamu harus di wawancarai.”

Yamada justru mengelak. “Kan saya sudah bilang, saya nggak pernah ikut lomba itu! apalagi menang!”

“Ya terserahlah! Tapi menurut juri tuh kamu yang menang!”

“Kalau begitu wawancarai jurinya sana!”

“Oh jadi kamu nggak mau diwawancarai?!”

“Nggak! Kalau cuma mau bicara itu, maaf, saya sedang sibuk.” Kemudian Yamada balik badan dan kembali memasuki perpustakaan. Chinen terdiam di tempat dengan ekspresi tak terbaca.

.

BRAAK!!

“Sialan! Brengsek! Belagu! Sombong!”

Dai-chan dan Inoo yang paling kaget saat ketua mading tiba-tiba memasuki ruangan dengan membanting pintu disertai sumpah serapah.

“Kenapa sih, Chii?”

“Tulis di buku Undang-Undang kita, Dai! Tulis!” Chinen memberi perintah. Dai-chan segera menyiapkan pulpen.

“Pasal ke sembilan belas, orang yang bernama Yamada Ryosuke itu belagu dan harus di musuhi! Tulis, Dai!!”

“Iya.. iya.. ini kutulis!”

“Chii.. tarik nafas dulu...” Keito menenangkan. “Kenapa? Dia nggak berbuat macem-macem kan, Chii?” Yuto bertanya-sensi.

“Idih jangan sampai diapa-apain dia!” Chinen bergidik-jijik. “Dia tuh... belagu banget! Sok bintang! Serasa kayak sastrawan besar!”

“Belagunya kayak gimana sih, Chii?” kali ini Inoo bertanya.

“Ya masa’ dia nggak mau di wawancara! Katanya dia nggak merasa menang. Dan tahu nggak yang lebih sombongnya apa? Dia dengan muka sok datar nyuruh kita wawancarain jurinya. Gila nggak sih ‘tu orang!?”

Yuto mengepal kelima jarinya kemudian di tonjokan pada telapak tangan satunya. “Gila! Perlu kita hajar dan paksa tuh, Chii! Biar mau diwawancara!”

“kayaknya jangan deh, nanti dia ngerasa sok penting!” cergah Inoo.

“Dari sikapnya aja ketauan dia nggak punya temen! Gayanya cupu! Terus tuh ya.. dia juga nggak seberapa tinggi!” cerocos Chinen lagi. Teman-temannya hanya pasrah mendengarkan.

“Nggak habis pikir orang kayak dia jadi pemenang! Paling-paling puisinya nyontek!”

“Chii..”

“Seumur-umur belum pernah disinisin orang seperti dia. Belagu banget! Sok bintang!”

“Chinen...”

“Apasih!?”

Raut si mungil itu berubah kalem setelah berbalik badan dan dihadapkan oleh si pemanggil. Ia berusaha menyunggingkan senyum yang terlihat jelas palsunya. “R-ryu...? Kenapa kesini?”

Morimoto Ryutaro, pemuda jangkung dan kapten tim sepak bola di SMA Seijam—berdiri diambang pintu ruang mading dengan senyum menawan. “Lagi emosi ya, Chii?”

“Iya tuh. Emosi banget.” kekeh teman-teman Chinen. Pemuda imut itu meringis malu. “Emang kenapa?”

“Ah, cuma mau tanya, nanti pulang sekolah jadi pergi kan, Chii?”

“Hmm.. Lihat sitkon deh ya hehe..”

“Oke, nanti SMS aja ya.”

“Iya.”

Ryutaro lalu pergi dari sana. Chinen lanjut mendengus.

“udah.. tenangin pikiran dulu, Chii.. diajak kencan Ryu habis pulang sekolah kan? Siapa tahu jadi nggak emosi lagi.” Ucap Inoo dengan riang.

“Urusan si Yamada itu biar kita yang atur deh. Anggota mading nggak cuma kamu aja kali,” Timpal Yuto. Chinen tersenyum haru.

“Thanks semua.”

“Sudah mau bel. Ke kelas yuk.” Ajakan Keito mendapat respon anggukan keempat temannya dan mereka segera meninggalkan ruang klub mading.

~TBC~


A/N : Muahaha chapter 1 dulu ya. Diperkirakan untuk AADC sisen 1 akan ada 4 chapter. Kalo AADC 2 nya sekitar 4 chapteran. susah demi apapun susah bayangin Yama jadi Rangga wkwk :” 


0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review