Judul : YamaChii Got Married
Pairing : RyoRi (Tidak ada YamaChii lagi karena
Chinen sudah menjadi Yamada)
Author : Kiwok
Genre : Fluff, CANON, romance
Summary : “Sebelum hal yang buruk terjadi diantara
kita, aku ingin mengikat hubungan kita terlebih dulu. Ikatan yang lebih erat
dan pasti. Serta suci. Yuri, menikahlah denganku!”
Douzo!
.
.
.
.
Yamada Ryosuke bukan pemuda yang ragu disetiap keputusan. Sebagai pemuda
Jepang sejati, ia akan selalu mengikuti kata hati sekalipun itu terhambat oleh
pekerjaannya yang sebagai idola. Sebenarnya saat ini ada satu keinginan kuat di
diri pemuda itu yang sangat ingin ia laksanakan. Tidak mudah, jelas. Karena
sekali lagi pekerjaannya selalu menyusahkannya melakukan tindakan yang ia
inginkan. Padahal dunia saja sudah melegalkan.
Kini Yamada sedang duduk di sebuah kafe elit kawasan Saitama. Ia menyamar,
tentu saja. Bersama seorang rekan.
“Dia... tidak memaksa kita lagi?” tanya sang rekan dengan pandangan tak
percaya. Yamada memberi anggukan simpel sebagai respon. Untuk sebuah info,
‘Dia’ yang dimaksud adalah ‘Julie Kitagawa’ sang wakil pemimpin Johnny’s
Entertainmet.
“Bagus bukan? Akhirnya kita tidak perlu terlalu berpura-pura. Aku sudah
sangat muak dengan itu.”
“Kau pikir hanya kau yang muak?”
Yamada tertawa. “Oh ayolah, Yuto. Kita sama-sama muak.”
“Benar. Saking muaknya, tiap habis melakukan skinship denganmu aku seperti
mendapat kutukan.”
Sialan. Rutuk Yamada dalam hati, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum. “Ada untungnya juga dia bertengkar dengan I-san.”
Nakajima Yuto, rekan yang dimaksud Yamada langsung paham. Mereka sedang di
tempat umum karenanya Yamada menggunakan singkatan ‘I’ untuk Ijima.
“Ya. Setidaknya dia tidak lagi terlalu memaksa atau memata-matai kita di
privat. Tapi bila di publik kita masih harus—“
“Aku tahu.” Sela Yamada dengan tenang. Ia menyesap kopinya dahulu sebelum
melanjutkan. “Kita dibayar untuk itu, ingat? YamaJima tetap harus di suguhkan
di publik. Tapi aku rasa kau sudah mengerti permainan kita.”
“Sangat mengerti.” Disahut dengan pasti.
“Saa..Yama-chan, apa yang
sebenarnya ingin kau bicarakan? Aku sedang sibuk asal kau tahu.” Yuto menatap
Yamada dengan raut menuntut. Yamada mendengus sinis. “Sibuk ya? Selamat kau
bisa sibuk.”
Hening untuk seperkian detik. Yuto tidak kunjung menyahut ucapan rekannya
sehingga Yamada terkekeh ironi.
“Oh, maaf. Tidak bermaksud menyinggungmu. Aku juga sedang sibuk sebenarnya.
Hanya ingin bicara itu ‘kok.”
“Jangan berbelit-belit. Aku tahu kau ingin berkata sesuatu.”
Lagi-lagi terkekeh ironi. Yamada sepertinya sangat menikmati bersitegang
dengan member tertinggi itu. “Kau akan tahu nanti apa yang kuinginkan. Ja, aku pergi dulu. Semangat syuting
dramanya!”
Yuto berdecih pelan ketika Yamada beranjak dari duduknya dan meninggalkan
kafe elit sebagai tempat mengobrol mereka barusan. Pemuda tingggi itu tak ambil
pusing dan ikut beranjak ke lokasi syutingnya.
=:=
“Moshi-moshi, Direktor-san?”
“Oh, Yamada-kun! Kenapa?”
“Apa konsep yang kuminta untuk syuting besok sudah terlaksanakan?”
“Ahaha.. kau bersemangat sekali. Ini
kan hanya sebuah a—“
“Sudah atau belum?”
“Tentu saja sudah! Kau tidak perlu
ngotot untuk itu. Semua sudah kita persiapkan dengan baik. Besok akan langsung
syuting tanpa ada pemberitahuan dahulu terhadap member lain selain kau.”
Pemuda blonde yang sedang menelpon direktor Itadaki High Jump itu tersenyum
puas. “Bagus. Jangan sampai mereka tahu sampai besok syuting dimulai.
Terimakasih, Direktor-san.”
“Iya.. Iya..! ini edisi kusus
untukmu ya. Karena kau telah membuat rating acara ini naik hahaha!”
“Tentu saja, aku ini Yamada Ryosuke.”
Setelah berbasa-basi sebentar, pemuda itu memutus sambungan telpon. Ia
mendengus pelan seraya memasukan HPnya ke saku celana, lalu ia tersenyum lebar
dan segera pulang ke apartemennya untuk merencanakan sesuatu.
=:=
Pukul 10.00 malam hari. Semua sudah tersusun rapih oleh Yamada di apartemen
besarnya. Ia hanya perlu menelpon kekasihnya sekarang.
“Ryosukeeee~~ kau kemana saja ‘sih?!
Aku SMS dan telpon nggak kau respon sama sekali!”
Yamada tersenyum geli mendengar rengekan kekasihnya.
“Omong-omong, aku lapar! Bawakan
Ramen ke a—“
“Kau ke apartemenku sekarang.” Sela Yamada halus. Ia bisa mendengar
penelponnya mendengus. “Aku sedang main
game. Tanggung! Kau saja yang ke—“
“Ke apartemenku. Sekarang, Yuri.”
“Ugh... kalau begitu jemput!”
“Tidak. Kau harus kesini sendiri.”
Chinen Yuri, kekasih Yamada itu—lagi-lagi mendengus. “Kenapa aku harus ke
sana?”
“Karena kau rindu denganku.”
“Narsis!” Tawa Chinen terdengar merdu di telinga Yamada.
Pemuda blonde itu mau tak mau ikut tertawa. “Yuri, Sayangku, aku punya kejutan
untukmu. Ke apartemenku sekarang, oke? Aku tunggu.”
“Oh ya? Kau masak makanan enak
untukku?” nada Chinen sangat
ceria sekarang.
“Lebih dari masakan enak. Makanya ke apartemenku sekarang.”
“Baiklah! Aku disana sepuluh menit
lagi!”
Tawa Yamada mengeras saat ia mendengar suara orang terburu-buru bangkit
dari duduknya sebelum akhirnya sambungan terputus.
.
“Ryosuke..?”
Chinen memutuskan untuk langsung memasuki apartemen Yamada karena toh ia
punya kunci dublikatnya.
“Ehh..!? Nani kore!?”
Pemuda mungil itu berkedip cepat saat baru memasuki apartemen kekasihnya.
Terlihat banyak sekali karton merah berbentuk love yang disusun rapih untuk menuntun jalan. Chinen tertawa.
“Ryosuke? Ada angin apa kau begini?”
Chinen berjalan mengikuti arah love
yang tersusun. Apartemen Yamada berasa temaram karena lampunya diganti dengan
lampion berbentuk love, juga
apartemen itu sarat akan harum yang memabukan.
Melewati ruang makan, disana tersaji makanan nikmat yang semua adalah kesukaan
Chinen. Ditambah, di meja makan itu terdapat lilin-lilin cantik yang juga
berbentuk love. Chinen berhenti
sejenak dan menyapu bibir atasnya dengan lidah. “Ryosuke? Aku boleh langsung
makan? Lapar!”
Tak ada sahutan. Chinen mengesah sambil mengangkat bahunya. Ia lalu lanjut
berjalan mengikuti arah kertas love.
Hingga akhirnya sampai di sebuh tempat, itu adalah kamar kekasihnya.
“Ryosu—“
Cetarr!
Kamar yang tadinya gelap berubah sangat benderang dengan Yamada berada di
tengah-tengah area kamarnya, kedua tangannya berada di belakang.
Kalau bukan bunga, paling-paling
cincin. Batin Chinen sambil
terkekeh. “Ryosuke kena—“
Belum selesai berkata tiba-tiba terdengar instrumen merdu di sekeliling
kamar Yamada. Chinen sangat mengenal instrumen itu dan sang kekasih kemudian
bernyanyi menggunakan mik yang sebelumnya disembunyakan dibelakang tubuhnya.
“Ada hari dimana kau tak bersamaku, tetapi
Anyday, anytime, selalu....
You’re my love~
Laguku yang tertutup debu berpantulan di dinding
Bahkan sekarang membawa kenangan yang sempat memudar
My better days, better days with you~
*Everyday i smile for you
Ketika kau berada disampingku
Everyday i cry for you
Ketika kau menghilang dariku
Everyday i try for you
Meskipun aku takbisa menyentuhmu
Everynight i shine for you
Semuanya kulakukan hanya untukmu
Anything i do for you~
Everything is for you~
Anything i do for you~
Everything is for you~”
. . . . .
Chinen tercengang. Benar-benar tercengang. Apa maksud
kekasihnya menyanyikan Just For You di.. di kamar yang sekarang malah terlihat
seperti kafe-kafe romantis? Belum sempat ia memecahkan misteri apartemen
kekasihnya yang terlihat sangat istimewa, ia malah dibuat sangat tercengang
sekarang.
“Yuri, apa kau senang?”
Pertanyaan Yamada tak langsung dijawab. Chinen terlalu
bingung. Antara bingung, takjub, terkesan, dan... sangat bahagia.
“Aku melakukan ini untukmu.” ucap Yamada dengan bangga. Wajah
Chinen yang semula memerah hebat kini berangsur netral. Ia mulai menguasai
dirinya. “Bu-buat apa?”
“Buatmu.”
“Ryosuke, aku serius...!”
“Aku juga serius.” Yamada terkekeh senang. Ia meletakan
mik-nya pada meja kecil disana lalu menghampiri Chinen sekaligus memeluknya.
“Apapun ku lakukan untukmu, Yuri. Apapun...”
“Ryosuke...”
Terharu. Itu satu kata simpel untuk Chinen sekarang.
“Ayo kita makan malam bersama. Aku sudah masak spesial untukmu.”
Tuntun Yamada pada Chinen ke ruang makan.
.
“Choooo Oishiiii~!”
Chinen tak bisa tak bahagia sekarang. Diberi kejutan
romantis, lalu di masaki makanan lezat oleh kekasihnya. Ia langsung maklum
kalau dari tadi pagi kekasihnya tak bisa di hubungi hingga larut karena
merencanakan ini.
“Makan yang banyak. Aku tahu kalau tak ada aku, kau tak
selera makan.” Kata Yamada seraya mengusap kepala Chinen. Si mungil itu
tersenyum. “Kok tahu?”
“Tentu saja aku tahu. Kau kira berapa tahun aku
mengenalmu?”
Chinen hanya tertawa renyah.
Setelah selesai makan makanan berat, Yamada menyediakan
puding yang tadi juga dibuatnya untuk Chinen sebagai pencuci mulut. Chinen
semakin bahagia ketika melihat puding itu tercetek dengan bentuk love dan berwarna merah muda. Pasti rasa stoberi!
“Ryosuke~~!! ini benar-benar romantis!” pujinya. Yamada
menyeringai bangga. “Ohya? Kau suka?”
“Sangat!”
“Syukurlah~” member utama JUMP itu menghela napas lega.
“Berarti yang kulakukan sekarang tidak sia-sia.”
“Kenapa harus sia-sia?”
“Yah, kupikir kau akan menyukai kejutan di sebuah kafe
atau restoran mahal, atau di suatu tempat yang istimewa. Bukan di apartemen
seperti ini.”
Chinen mendengus seraya meletakan garpu pudingnya. “Dengar
ya. Aku suka apapun yang kau berikan padaku. Jangan berpikiran begitu!”
“Hehe.. iya-iya..”
“Kau buat ini sendiri?”
“Kau pikir?” Yamada tertawa. “Tidaklah! Aku minta bantuan
party organizer untuk membuat ini. Kamar
kedap suara juga. Aku memasang spiker disetiap sisinya dan instrumen Just For
you akan terdengar setelah lampu di kamar dinyalakan. Itu otomatis, mereka yang
membuatnya. Hanya makanan ini yang kubuat sendiri karena aku yakin denan
kemampuan masakku.”
Penjelasan Yamada membuat Chinen kembali tercengang.
“Kita kan idola, kalau aku membuat seperti ini di tempat
umum sekalipun itu ku pesan pribadi, pihak organizer atau pemilik tempatnya
pasti akan bertanya-tanya kenapa Yamada Ryosuke membuat kejutan seperti ini
untuk membernya sendiri. Tapi kalau di apartemen, mereka tidak akan bertanya
lagi ketika kubilang ini untuk seseorang yang ku cintai.”
“Oh ya?” Alis Chinen terangkat satu. “Bagaimana kalau
pihak organizer bertanya-tanya juga? kenapa Yamada Ryosuke membuat seperti ini
di apartemennya?”
“Tentu tidak.” Telunjuk Yamada bergoyang ke kanan dan
kiri. “Ketika membuat ini aku memakai masker pengganti wajah yang biasa dipakai
syuting detektif. Jadi mereka tidak sadar aku ini Yamada Ryosuke dan ini adalah
apartemenku ahaha... Aku mengaku sebagai Yamada Yurisuke.”
Chinen berdecak kagum. “Kau cerdas.”
“Kekasih siapa dulu?”
“Kekasihku!”
Mereka lalu tertawa bersama.
.
“Yuri...”
“Hmm...??”
Mereka berdua kini sedang duduk santai di sofa ruang
tengah apartemen Yamada seraya menghirup aroma terapi dari lilin-lilin yang
terpasang. Chinen menanti kalimat selanjutnya dari sang kekasih namun tak
kunjung terlontar. “Kenapa, Ryosuke? Mau bermain?”
“Oh, kau mau bermain sekarang?”
“Aku sih terserah kau.”
Yamada tertawa. Ia lalu mendekap Chinen sangat erat.
“Tidak. Aku tidak mau melakukan itu
dulu sekarang.”
“Hmm.. lalu? Oh aku tidur disini ya.”
Yamada mengangguk. “Memang harus tidur disini.”
“Kau ingin bilang apa tadi?”
Posisi Yamada seketika berubah. Ia lantas menghadap Chinen
lurus-lurus seraya matanya membikai sempurana wajah sang kekasih. “Chinen Yuri...”
“Ya?”
“Sebelum hal
yang buruk terjadi diantara kita, aku ingin mengikat hubungan kita terlebih
dulu.”
Chinen mengerjap cepat. Ia kembali dibuat bingung. “Hal buruk apa? Kita kan
sudah terikat sebagai kekasih.”
“Hal buruk ketika kita benar-benar tidak bisa bersama.”
Chinen langsung bungkam.
“Ibuku memang sayang dan cinta denganmu, tapi bulan lalu ketika dia ulang
tahun, dia bilang padaku bahwa dia tetap tidak menerima hubungan kita. Dia
memaksaku untuk memilih wanita yang akan membuatkannya cucu asli. Bukan dari
adopsi.”
Raut mata Chinen berubah sendu. Ia ingin menghindari tatapan Ryosuke-nya
namun pemuda blonde itu cepat-cepat menyuruh Chinen menatapnya kembali.
“Aku tahu itu menyebalkan. Padahal sebenarnya hubungan seperti kita sudah
legal. Aku pun tidak peduli kalau imejku di publik nanti jelek asal bersamamu.
Tapi aku tidak bisa mengecewakan orang tuaku. Kau pasti juga begitu kan?”
Chinen lalu mengangguk patah-patah. “Ayahku... juga tak terlalu suka
hubungan kita. Kalau ibuku katanya terserah aku. Tapi waktu dia bilang
terserah, ada raut kecewa di wajahnya.”
“Nah, karena itu...” Yamada mulai meraih kesepuluh jari Chinen, lalu
menggenggamnya erat-erat. “Sebelum hal yang buruk terjadi diantara kita, aku
ingin mengikat hubungan kita terlebih dulu. Ikatan yang lebih erat dan pasti.
Serta suci. Kau mengerti ‘kan maksudku?”
Mulut si mungil yang semula terbuka lebar cepat-cepat ditutup.
“Mak-maksudmu.. menikah?”
“Ya.”
“Tapi nanti—“
“Stt... semua sudah ku pikirkan matang-matang. Kau hanya perlu menjawab.
Yuri, maukah kau menikah denganku?”
Mata Chinen melebar mendengar kalimat itu. Ia tak tahu harus jawab apa
sekarang. Benar-benar terharu.
“Yuri.. sekali lagi aku bertanya, maukah kau menikah denganku?”
Chinen meneguk ludahnya sebelum akhirnya menjawab, “Ya. Aku mau.”
Yamada serta-merta langsung memeluk Chinen. Kemudian menciumnya
banyak-banyak disemua bagian wajah Chinen. Si mungil itu terkekeh bahagia
begitu juga kekasihnya.
“Tapi Ryosuke, kau melamarku tanpa.. cincin?”
Yamada berkedip jahil. “Kau akan mendapatkan cincinmu besok.”
“Eh? Kok besok?”
“Hehe.. sekarang kita tidur saja. Ayo!”
“E-eh.. tapi??”
“Ayo!”
Yamada langsung membopong Chinen ala bridal menuju kamarnya. Mereka lantas
tidur bersama dengan nyenyak sampai besok pagi.
=:=
“HAH?!”
“MENIKAH?!”
“DEMI APA?!”
Itu tadi adalah reaksi paling heboh dari ketiga member Hey Say JUMP—Inoo,
Daichan, dan Yuto—ketika direktor Itadaki High JUMP memberi tahu konsep syuting
episode sekarang.
“Yamada dan Chinen?” Kali ini Yabu yang bertanya. Ia menatap member
terpopuler-nya kemudian rautnya berubah paham. “Yama-chan, kau yang
merencanakan ini?”
“Kalau iya kenapa?”
Dan lagi, reaksi heboh para member langsung menggema saat Yamada mencetus barusan.
Chinen sudah memerah, tak hanya di wajah namun sekujur tubuhnya memerah dan
terasa panas. Ia sangat malu. Apalagi konsep menikahnya nanti... Chinen
menggunakan gaun! Oh tidak, mau dikemanakan bulu-bulunya?
“Wah, wah.. jadi ini yang kau maksud kemarin?” tanya Yuto setelah
mengontrol kagetnya. “Tak apa. Kita dukung.”
“Pasti! Kalau YamaChii akan kita dukung.” Sahut Yuya dengan cengiran
idiotnya. Member lainpun menyetujui. Hanya Chinen yang belum berkata sedari
dijelaskan oleh Direktor tadi.
“Yuri...” Yamada mengangkat wajah kekasihnya yang menduduk malu. “Hei,
jangan malu-malu begitu. Kau kan kemarin sudah bilang mau.”
Suara bersiul langsung terdengar. Chinen semakin malu.
“Hei, kau bersedia, kan?”
“.....”
“Yuri...”
“Aku mau tapi—“
“Hanya dengan begini semuanya akan jadi mudah, Yuri.” Ujar Yamada tegas. “Kalau
nanti, di kemudian hari, atau kapanpun, ketika kita benar-benar harus berpisah
karena kehendak orang tua... setidaknya kita punya kenang-kenangan saat kita
menikah meskipun hanya di sebuah acara.”
Chinen langsung mendongak.
“Meskipun orang lain, fans atau siapapun menganggap ini hanya lelucon di
sebuah acara, kita harus tetap menganggap ini sungguhan!”
“.....”
“Sehingga ketika kau dan aku menikah dengan orang lain karena kehendak
orang tua nanti, kita tidak akan menyesal karena kita sudah menikah lebih dulu.
Lagipula, meskipun aku bersama orang lain, perasaanku hanya untukmu, perlakuan
khususku hanya untukmu.”
Penjelasan rinci Yamada membuat member lain terharu. Terlebih Chinen.
“Jadi, Chinen Yuri.. kau bersedia kan?”
Chinen mendengus. Lalu menatap Yamada dengan pasti. “Iya, Ryosuke.. iya aku
bersedia. Tadi aku juga bilang mau ‘kan?
Tapi...”
“Tapi?”
“Tapi.. gaun? Aku harus pakai gaun? Kau kan tahu ka—“
Bibir Chinen langsung ditutup oleh telunjuk Yamada. “Tenang saja. Serahkan
pada kru acara. Mereka yang akan mendadani kita semua nanti. Termasuk kau. Kau
akan terlihat sangat menawan nanti. Percayalah!”
Chinen mengerucutkan bibirnya tapi tetap mengangguk setuju.
Akhirnya para kru menuntun semua member menuju ke sebuah gedung bernama
Hills Mercury sebagai tempat pelaksanaan syuting pernikahan. Gedung itu berada
di kawasan Saitama sehingga mereka kesana menggunakan van yang telah disediakan.
Di dalam van, Hikaru dan Daichan tak henti-hentinya mengucap selamat.
=:=
Suara instrumen pernikahan menggema keras. Diikuti lonceng yang memantulkan
bunyi syahdu di gedung pernikahan itu.
Yamada meraih tangan mulus Chinen yang di sarungi kain sutra untuk
mengajaknya naik ke altar.
Pendeta sudah siap disana. Dan ia bertanya.
“Yamada Ryosuke...”
“Saya.”
“Apakah anda bersedia dan mau menerima Chinen
Yuri sebagai pendamping hidup anda satu-satunya dan hidup bersamanya dalam
pernikahan suci seumur hidup?”
“Saya bersedia dan menerima Chinen Yuri sebagai pendamping
saya satu-satunya seumur hidup.”
“Apakah anda akan mengasihi Chinen Yuri sama seperti anda mengasihi
diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam
keadaan susah atau senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam
keadaan sakit atau sehat dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”
“Saya akan mengasihi Chinen Yuri, mengasuhnya, merawatnya,
menghormatinya, dan memeliharanya di segala keadaan selama kita hidup.”
Kemudian sang pendeta beralih pada Chinen.
“Chinen Yuri...”
“Saya.”
“Apakah anda bersedia dan mau menerima Yamada Ryosuke sebagai
pendamping hidup anda satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci
seumur hidup?”
“Saya bersedia dan menerima Yamada Ryosuke sebagai pendamping
saya satu-satunya seumur hidup.”
“Apakah anda akan mengasihi Yamada Ryosuke sama seperti
anda mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya
dalam keadaan susah atau senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan,
dalam keadaan sakit atau sehat dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”
“Saya akan mengasihi Yamada Ryosuke, mengasuhnya,
merawatnya, menghormatinya, dan memeliharanya di segala keadaan selama kita
hidup.”
Dan yang terakhir, Pendeta menghadap para wali. Dipihak
Chinen yakni Yabu dan Inoo sementara wali dipihak Yamada adalah Yuya dan
Dai-chan.
“Kepada para wali di kedua pihak, apa anda sekalian
menyetujui Yamada Ryosuke dan Chinen Yuri menjalin kasih dan cinta suci di
pernikahan ini?”
“Setuju.” Kata mereka serempak.
“Bagaimana dengan para saksi? Apakah sah?”
Member lain yang sebagai saksi langsung berteriak kompak. “SAH!” diiringi tepukan tangan dan juga instrumen pernikahan yang lebih meriah.
Saat saling memakai cincin, Chinen sangat terkejut melihat cincinnya.
Berlian. itu benar-benar cincin berlian yang disematkan di jari
manis Chinen. Sementara untuk cincin Yamada berliannya tak terlalu besar. Oh
sungguh, Chinen ingin menangis kalau bisa. Sayangnya tidak. Ia terlalu senang dan
ingin menciumi kekasihnya sekarang.
Tepat pada saat pembukaan kerudung yang dikenakan Chinen,
Yamada langsung melahap bibir Chinen dengan penuh kasih. Chinen tak ragu
membalas ciuman itu. Ia justru memberi ciuman panas untuk keka—oh bukan, untuk suaminya. Para member lain semakin riuh
kala melihat ciuman panas dan ganas kedua member utama JUMP itu. Ada sekitar
tiga menit baru mereka melepas ciuman.
“Ya, kepada kedua mempelai, sekarang waktunya pelemparan
bunga dan menghadap kebelakang. Para saksi di persilakan menangkap bunganya
nanti.” Ujar Hikaru yang sebagai MC.
Pasangan yang baru saja menjalin ikatan suci itu lantas balik badan. Pada hitungan mundur yang ketiga, mereka melempar karangan bunga bersamaan dan langsung jatuh pada....
“Keito! Omedetoooou!!”
Keadaan kembali riuh. Chinen bahkan ikut bertepuk tangan
tatkala melihat Keito yang mendapatkan bunga.
“Selamat, Keito! Mulai sekarang carilah pendamping hidup
supaya tidak mengharapkan suamiku lagi sebagai kekasihmu!” Seru si mungil itu.
Tawa Yamada lalu menggema. Keito yang terkejut mendengar ucapakan Chinen ikut
tertawa canggung.
Pernikahan selesai. Ikatan suci telah terlaksanakan. Selamat untuk Yamada Ryosuke dan Yamada Yuri!
=THE END=
A/N : SELAMAT ULANG TAHUN YAMADA RYOSUKE YANG KE-23!!! God bless Yamada and God bless WGM wkwkwkw saya nonton WGM jadi pen nikah ih. Kentooo ayo
kita nikaaah /kemplanged/ ahahaha bahagia banget bisa ngetik ini. Semoga
nanti pas YamaChii nikah beneran syahdu kek gini /ngarepbanget/ lol. Btw,
saksinya cuma keket sama yuto loh bhahaha X’D (udah ah aing mo lanjut nonton
wgmnya si tante XD)


0 komentar:
Posting Komentar