Kamis, 26 Mei 2016

Ada Apa Dengan Chinen (Chapter 2)

Diposting oleh Kiwokchwan di 04.07
Judul : What’s Wrong With Chinen?

Chapter : 2 (Chapter 1)

Author : Kiwok

Cover : Anasicha

Pair : YamaChii as always <3

Genre : Sinetron khas Indonesia wakaka XD

Summary : Tentang Chiinta alias Chinen. Dan tentang Yangga alias Yamada. (Gajelas, bodo amet)

PS : Diharap nonton AADC sisen satu dulu baru baca ini okeh! Kalo bisa baca ini sambil dengerin Ku Bahagianya Melly Goeslaw X’D

Cekidot!


Chinen keluar dari kelasnya dengan perasaan tenang. Ia sudah memutuskan untuk mengiyakan ajakan kencan Ryu sepulang sekolah ini ke tempat karaoke, itung-itung untuk melupakan kekesalannya pada Yamada Ryosuke.

“Aduh!”

Tapi baru juga bertekat menghilangkan emosi, perasaan itu kembali muncul saat bahunya di tabrak pelan oleh si pemenang lomba puisi.

“Heh! Punya mata nggak sih?!”

“Sori,” disahut tanpa nada menyesal. “Saya nggak sengaja. Lagipula saya nabrak juga nggak kencang. Kamu juga nggak seharusnya berdiri ditengah koridor kan.”

Chinen menatap sengit Yamada yang barusan menceramahinya. “Bukannya minta maaf, malah nyolot! Kalau mau baca jangan sambil jalan!” Mana bacaannya kuno banget lagi! Lanjut batinnya.

“Saya tadi udah minta maaf. Mungkin kamu tuli karena terlalu emosi.” Dan tanpa banyak omong lagi, Yamada langsung melangkah pergi melewati Chinen. Si mungil itu sukses beruap.

“Hiishh!! Belagu banget sih jadi orang!!”

“Chii?” Ryutaro tiba-tiba menghampiri Chinen dan langsung mengalungkan lengan ke pundaknya. “Kenapa marah-marah lagi sih?”

“Nggak apa-apa. Ayo pergi!” Lengan pemuda jangkung itu di geret cukup kencang oleh Chinen, Ryutaro tentu mengernyit. “Tumben semangat? Jangan-jangan kamu udah nerima cintaku?”

Chinen mendengus sembari menjulingkan mata. “Siapa bilang? Udahlah ayo pergi. Aku lagi muak!”

“Iya.. iya...”

.

“Ryu, karaokenya nanti aja ya. Kita ke toko buku dulu.”

Ryutaro yang berjalan disamping Chinen menautkan alisnya. “Kenapa memangnya?”

“Hm... ada yang mau aku beli. Untuk bahan mading besok.”

“Oh yaudah kita ke toko buku, habis itu karaoke.” Ryutaro mengelus rambut Chinen seraya tersenyum.

Sesampainya di toko buku, yang Chinen incer lebih dulu adalah rak sastra. Matanya meliuk-liuk menyusuri deretan buku di rak sana tapi kemudian ia memisuh.

“Maaf, mau tanya... disini ada AKU-nya Sumaru Hasegawa, nggak?” tanya Chinen pada staff di sekitarnya. Staff perempuan itu menggeleng. “Sumaru Hasegawa itu sastrawan lama. Buku-bukunya sudah lama dan tidak di cetak ulang lagi.”

Penjelasan itu sontak membuat Chinen kecewa. Ia menghentak kecil sebelum akhirnya menghampiri Ryu yang berada di deretan komik. “Ryu, kita nggak jadi karaoke ya. Aku mau pulang. Ada yang mau aku lakuin.”

Ryutaro menatap Chinen penuh tanda tanya. “Kenapa? kamu jadi beli bahan buat mading?”

“Aku baru ingat bahannya masih banyak di rumah dan di ruang mading. Aku pulang ya. Dah,” Chinen tanpa pikir panjang keluar dari area toko buku. Ryutaro meringis jengkel tapi mau tak mau mengantarkan orang yang ia suka itu pulang kerumah dengan selamat.

~AADC~

Malam hari, setelah melangsungkan makan malam bersama keluarganya, Chinen bergegas memasuki kamar dan duduk dengan anteng di meja belajarnya.

Bukan, bukan untuk belajar. Oh ayolah, Chinen Yuri siswa yang cerdas dan bisa mendapatkan nilai bagus tanpa susah payah belajar. Yang Chinen lakukan di meja belajarnya sekarang adalah menulis surat. Surat penuh dendam kepada orang yang hari ini membuatnya sangat-sangat emosi.

Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke.

Chinen bertekat akan mengirimkan surat ancamannya besok pagi-pagi sekali di loker si orang sombong itu.

.

“Ahaha... Yutti sih nggak usah diragukan lagi kemampuan basketnya! Pasti menang di turnamen nanti!”

“Pasti! Kita semua mendukung Yutti!”

Obrolan para anggota mading saat istirahat siang di ruang kebanggaan mereka terhenti tatkala pemuda perambut pirang dengan jas berhodie memasuki ruangan itu tanpa santun.

“Bisa bicara dengan Chinen?”

Ke lima sekawan disana mendongak risih. Terlebih Yuto yang sudah ancang-ancang menonjok.

“Tentang apa ya?” tanya Chinen pura-pura tak tahu. Yamada lantas memperlihatkan surat beramplop coklat yang ia dapatkan pagi tadi di loker sepatunya.

“Kita bicara diluar.” Chinen memberi gestur ‘tenang dulu’ kepada teman-temannya sebelum keluar dari ruangan di ikuti Yamada.

“Maksud kamu apa?” Pemuda pirang itu menuntut lebih dulu sembari menunjukan surat yang dikirim Chinen. Sang ketua mading lantas menyeringai. “Suratku di baca juga? Kirain cuma mau baca bacaan penting. Kayak... sastra kuno?”

Yamada langsung meledak. “Kamu ada masalah sama saya?! Tersinggung karena saya nggak mau di wawancara? Yasudah wawancara sekarang! Nggak usah manja!”

“Kurang ajar ngatain manja!” Chinen tidak terima, ia memberikan tatapan paling maut yang ia punya. “Kamu mau diwawancarai sekarang? .........BASI! MADINGNYA BENTAR LAGI TERBIT!”

“Yaudah terserah!” Yamada tak ambil pusing dan langsung ngeloyor pergi. Tanpa ia sadari, buku lusuh berjudul AKU terjatuh dari genggamannya diantara buku-buku pelajaran. Chinen dengan segera meraih buku itu dan di sembunyikan di belakang tubuhnya saat teman-temannya menghampiri.

“Beneran belagu ya dia!” sungut Yuto. Chinen mengiyakan. “Aku kan udah bilang. Belagu! Sombong lagi!”

“Tapi, Chii.. kamu tetap harus wawancarain dia buat profil pemenang lomba puisi...” tegur Keito halus.

“Gampanglah itu. Cari datanya di staff tata usaha atau wali kelasnya juga bisa. Kalau nggak, kita buat sekarang saja.”

“Yasudah ayo.” Inoo-chan merangkul Chinen namun si mungil itu tak bergerak. “Kalian kerjain duluan, aku ke kelas dulu, mau ambil HP.”

Teman-temannya percaya ucapan Chinen sehingga mereka ke ruang mading lebih dulu. Oh, tidak semuanya percaya. Keito sebenarnya tahu bahwa Chinen sudah membawa HP karena tadi ia menunjukan desain mading yang bagus di HPnya. Tapi pemuda dengan pembawaan kalem itu hanya diam dan mengikuti ke tiga teman lainnya menuju ruangan.

Chinen memang ke kelas. Tapi bukan untuk mengambil HP melainkan menaruh buku lusuh yang tadi ia pungut ketika jatuh dari genggaman Yamada.

.

Sepulang sekolah, Chinen ada kegiatan ekskul atletik. Sebenarnya ia ingin bolos karena ia berhasrat membaca buku lusuh milik Yamada tadi. Tapi tidak bisa semudah itu, Chinen anggota inti tim atletik sehingga ia harus ikut klub. Karenanya ia pulang kerumah cukup larut.

Biasanya Chinen akan langsung tidur setelah makan malam jika sangat lelah karena latihan klub. Tapi kembali lagi ke buku lusuh Yamada, Chinen justru begadang menghabiskan satu buku itu hingga bangun ke siangan.

~AADC~

“Hoi, Yamada! Nyari apa sih dari tadi?” Kamiki, anak 3-A yang menjadi teman sebangku Yamada bertanya-sensi melihat pemuda pirang itu rusuh sendiri mencari sesuatu.

“Nyari buku. Judulnya AKU. Lihat nggak?” Yamada malah balik tanya.

“Nggak. Aku cuma baca komik 'sih,”

Yamada masih sibuk mencari padahal saat itu pelajaran guru killer sedang berlangsung.

Hingga akhirnya waktu istirahat tiba, kelima angggota mading seperti biasa berkumpul bersama di kantin. Dai-chan yang mebuka topik pembicaraan paling dulu.

“Kok telat sih, Chii? Tumben banget!”

“Iya! predikat bangun siang kan punyaku, Chii! jangan direbut dong!” sahut Yuto pura-pura kesal. Chinen malah tertawa. “Sori. Aku juga bingung kenapa kemarin nggak bisa tidur cepat padahal capek banget habis latihan. Mungkin kamarku dikutuk.”

Keempat temannya lantas melongo.

“Kemarin aku nggak sengaja baca mantra aneh. Begini, ‘Tidak akan bisa tidur. Karena orang ngomong dan anjing menggonggong. Dunia jadi jauh mengabur.’ Serem kan? Tapi juga hebat. Itu sesuai dengan keadaanku sekarang. Serius, hebat!”

Mulut teman-temannya semakin melebar.

“Chii, mending beli makan siang dulu. Yakisobanya enak loh. Kau butuh makan kayaknya...” kata Inoo dengan kekehan canggung.

“Iya nih aku juga lapar. Pesen dulu ya!”

Setelah Chinen memesan makan, teman-temannya langsung membicarakannya.

“Chinen kenapa sih? Apa coba maksudnya mantra itu?” mulai Yuto. Keito menanggapi dengan enteng. “Mungkin masih terbawa emosi kemarin dengan Yamada Ryosuke.”

Mereka lalu mengiyakan sebelum Chinen kembali bergabung.

“Chii, besok petang jadi nonton konser Arashi kan?” Inoo bertanya. Chinen langsung mengangguk cepat. “Ya jelas nonton dong!”

“Langsung ketemu di tempat konsernya kalau begitu ya!”

“Siap!”

.

Seharian itu, Chinen tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Ia lebih sering ke tempat sepi untuk membaca buku AKU. Hingga tiba di rumah, ia masih membaca buku itu sampai kemudian ia memutuskan untuk mengembalikan buku itu pada Yamada besok pagi-pagi sekali. Bukan di taruh di loker. Tapi langsung di taruh pada meja Yamada di kelas 3-A.

~AADC~

“Apa ini?”

Kamiki mengangkat bahu saat Yamada bertanya. “Dari tadi pagi udah ada disitu. Anak-anak nggak berani nyentuh karena di taruh di meja kamu. Dikira kiriman berbahaya kali.”

Pemuda blonde itu mengernyit dan segera membuka bingkisan di mejanya. Kemudian ia memekik senang.

“Nih bukunya ketemu!”

Kamiki melengos. “Nemu buku kayak nemu cewek cantik aja!” tapi Yamada tak menghiraukan. Ia malah fokus pada secarik memo yang diselipkan di bingkisannya.

To : Yamada Ryosuke
Bila emosi mengalahkan logika, terbukti banyak ruginya. Benar, kan? -Chinen Yuri-

Yamada terhenyak membaca isi di memo itu. Dan ia memutuskan istirahat pertama nanti akan menemui si penemu buku kesayangannya.

.

“Chinen,”

Sang pemilik nama menoleh. “Manggil aku?”

Yamada mendekat pada pemuda mungil itu, ia juga tersenyum simpel. “Saya mau bilang terimakasih karena sudah menemukan buku ini.”

“Oh itu...” Chinen tertawa dalam hati.

“Agak susah nyari buku ini. Langka soalnya.”

Chinen manggut-manggut mendengar ucapan Yamada. “Hmm.. lalu?”

“Lalu..” Yamada meneguk salivanya. Bingung. Pemuda itu kurang bisa bersosialisi dengan teman sebenarnya. Jadilah hanya bergumam tak jelas. Chinen yang melihat raut kebingungan Yamada tak kuat untuk tak tersenyum lebar.

“Kenapa senyum-senyum?”

pertanyaan Yamada sontak membuat senyum Chinen luntur. “Lalu apa?”

“Ya nggak apa-apa. Cuma mau bilang terimakasih. Saya pergi kalau begitu.”

Tepat saat Yamada balik badan, Chinen justru memanggil dengan lantang.

“Kenapa?”

“Kamu kalau kebingungan lucu ya. Harusnya kamu kebingungan aja terus.” kata Chinen sambil duduk di bangku koridor yang ada. Yamada mengernyit dan malah ikut duduk. “Kamu menyindir saya?”

“Tidak.” tawa Chinen mengalun halus. Yamada yakin sekali seperti melihat cahaya indah ketika orang disampingnya itu tertawa.

“Omong-omong, dulu beli buku itu dimana?”

“Oh, di buku loak. Kalau cari di toko buku besar udah pasti nggak ada. Buku lama soalnya.” jelas Yamada ramah. Nadanya beda jauh seperti saat Chinen bertemu pertama kali.

“Hmm.. kalau aku biasa beli langsung ke penerbitnya. Jadi—“

“Kamu juga punya?” Yamada menyela. Chinen terkekeh kembali. “Tentu saja punya!”

“Oh ya? Suka bukunya?”

“Suka banget. Apalagi di endingnya... waktu Chihiro merasa berjalan di atas pasir...”

“Dan Chihiro merasa ada sosok ideal di sebelahnya?”

“Iya yang itu! Lalu Chihiro berkata....”

“Bukan maksudku mau berbagi nasib, tapi nasib adalah kesepian masing-masing.”

Mereka mengatakan itu bersamaan diikuti sejoli mata yang saling bertumbruk. Chinen merasa dadanya menghangat dan pipinya mungkin kemerahan. Yamada justru tersenyum.

“Kalau kamu suka karya-karya Sumaru-sensei, ada banyak di toko buku loak langganan saya.” kata Yamada membuat raut Chinen berubah netral.

“Oh ya? Dimana?”

“Di Marukawa.”

“Ohh.. Marukawa. Udah lama sebenarnya aku mau kesana! tapi nggak sempat terus!”

“Pulang sekolah ini saya mau kesana.” cetus Yamada. Nadanya seperti mengajak, namun ia cepat-cepat mengingatkan. “Jangan salah sangka dulu. Saya nggak maksud mengajakmu. Kalau mau ikut silahkan, kalau nggak mau yasudah.”

“Aku  ngerti koli.” Chinen mendengus. “Lagipula aku nggak merasa kamu ajak nge-date.”

“Ya saya juga hanya mastiin biar nggak salah sangka!” tandas Yamada malu-malu. Chinen melirik ke atas seperti menimang-nimang perkataan si pirang.

“Nanti pulang sekolah ya?”

“Iya.”

“Hmm... lihat nanti deh.”

~AADC~

Chinen akhirnya memutuskan ikut pergi ke Maruukawa dengan Yamada sepulang sekolah. Dalam hati ia menyesal mengiyakan. Pakai acara berbohong sudah pernah ketempat itu pula! Padahal sama sekali belum. Jalan menuju tempat itu juga sangat sesak dan panas!

“Disini.”

Chinen kemudian mendesah laga. Ketika melihat banyak buku, matanya berkilat dan segera mendekat pada tumpukan buku yang dirasa menarik.

“Hey, Yamada!” Seorang lelaki paruh baya menghampiri Yamada. “Oh, Toma-san. Chinen, kenalkan, dia Ikuta Toma... konglomerat buku bekas disini.”

“Chinen Yuri.” sapa Chinen dengan senyum manis.

“Silahkan dilihat-lihat, Chinen-san.” kata Toma dan Chinen segera fokus mencari buku yang menarik perhatiannya.

“Tumben banget ngajak anak manis ke sini? Siapa? Pacarmu?”

Yamada cepat-cepat melirik Chinen, berharap si mungil itu tak mendengar. Dan benar, Chinen tidak mendengar. “Bukan. Cuma teman.”

“Ahahaha.. nggak usah ngeles! Oh ya, udah ketemu AKU-nya?”

“Udah. Chinen yang menemukan.”

“Oh syukurlah. Nah, ini buku yang kau pesan waktu itu. New York.” Toma memberikan buku lusuh bersampul oranye pada Yamada. Diterima dengan sangat senang.

“Kenapa cari buku itu? Ingin kesana?”

“Ah bukan apa-apa...”

.

.

.

“Hih, Chinen mana sih!?!”

“Iya nih! Dia kemana sih! katanya mau nonton Arashi! keburu antriannya panjang banget nih!”

Inoo dan Dai-chan memisuh di tempat konser. Kedua teman lainnya juga sama. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Chinen sedang bersama Yamada.

.

“YA AMPUN!”

Si pemuda blonde menoleh-kaget. “Ada apa?”

“Aku lupa kalau hari ini ada janji nonton konser Arashi sama anak-anak!” Chinen menggetok keningnya sendiri. Yamada mendengus. “Kamu nggak adapun, Arashi tetap melakukan konser kan?”

Chinen cukup tersinggung dengan perkataan barusan. “Ya bukan begitu. Aku kan udah janji dengan teman-teman dari kapan lalu!”

“Kamu mau nonton konser Arashi karena memang mau nonton, atau karena nggak enak dengan teman-teman kamu?” tanya Yamada dingin. Chinen semakin tersinggung.

“Ya dua-duanyalah! Aku pulang ah!”

Baru melangkah sebentar untuk keluar dari area toko buku loak, Yamada lanjut menyindir.

“Kayak nggak punya kepribadian saja,”

“Apa?” Chinen lantas balik badan.

“Iya. Benar kan, apa kata saya? Nonton harus sama-sama. Pulang sekolah sama-sama. Berangkatpun juga sama-sama. Apalagi namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil?”

Chinen mengadu giginya-kesal. Ia langsung menatap sengit Yamada. “Justru itu sangat prinsipil!!”

“Oh ya?”

“Hah. Susah ngomong sama kamu. Punya teman aja nggak.”

“Yah, paling nggak, saya punya pendirian dan nggak harus bergantung dengan siapa-siapa. Yasudahlah sana, kamu susul teman-temanmu.”

“Apa

“Bisa pulang sendiri kan?”

“Maksud kamu?!”

“Yah.. orang kayak kamu kelihatan nggak pernah pergi sendirian ke tempat seperti ini. Hati-hati aja kesasar.” sarkas Yamada dengan senyum remeh. Chinen menghentakan kakinya dengan keras lalu bergegas pergi dari tepat itu.

Toma tertawa kencang sembari merangkul Yamada yang masih terdiam di tempat.

“Dasar bodoh! cepat sana susul dia! Kamu ini nggak peka banget sama anak manis seperti dia!”

“Buat apa?”

“Jangan kira kalau dia marah itu benar-benar marah. Itu hanya taktik untuk memancing inisiatifmu!”

Yamada justru bingung.

“Kau perhatikan anak itu ya... kalau dia balik badan, berarti dia memintamu untuk mengantarnya pulang. Satu.... dua.... ti....”

Chinen balik badan demi menghunuskan tatapan maut untuk Yamada sebelum lanjut berjalan dengan garang. Toma tertawa lebih keras. “Benar, kan? Sudah sana kau susul dan antar dia pulang!”

Tapi Yamada tidak bergeming. Ia masih teguh pada pendiriannya dan hanya memandang punggung Chinen dengan getas. Kenapa juga saya harus mengantarnya? toh dia ingin ke tempat konser kan?

~TBC~


A/N : Sebenernya mau di TBCin pas si Yangga(?) di gebukin gengnya Ryu pas Chiinta dkk lagi nonton basketnya si Yutti wkwkw. Tapi apadaya mata aing tak kuat ngetik mpe situ lol. Chapter selanjutkan ku serahkan pada Ana!


0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review