Judul : What’s Wrong With Chinen?
Chapter : 2 (Chapter 1)
Author : Kiwok
Cover : Anasicha
Pair : YamaChii
as always <3
Genre : Sinetron
khas Indonesia wakaka XD
Summary : Tentang
Chiinta alias Chinen. Dan tentang Yangga alias Yamada. (Gajelas, bodo amet)
PS : Diharap
nonton AADC sisen satu dulu baru baca ini okeh! Kalo bisa baca ini sambil
dengerin Ku Bahagianya Melly Goeslaw X’D
Cekidot!
Chinen keluar
dari kelasnya dengan perasaan tenang. Ia sudah memutuskan untuk mengiyakan
ajakan kencan Ryu sepulang sekolah ini ke tempat karaoke, itung-itung untuk
melupakan kekesalannya pada Yamada Ryosuke.
“Aduh!”
Tapi baru juga
bertekat menghilangkan emosi, perasaan itu kembali muncul saat bahunya di
tabrak pelan oleh si pemenang lomba puisi.
“Heh! Punya mata nggak sih?!”
“Heh! Punya mata nggak sih?!”
“Sori,” disahut
tanpa nada menyesal. “Saya nggak sengaja. Lagipula saya nabrak juga nggak
kencang. Kamu juga nggak seharusnya berdiri ditengah koridor kan.”
Chinen menatap
sengit Yamada yang barusan menceramahinya. “Bukannya minta maaf, malah nyolot!
Kalau mau baca jangan sambil jalan!” Mana bacaannya kuno banget lagi! Lanjut
batinnya.
“Saya tadi udah
minta maaf. Mungkin kamu tuli karena terlalu emosi.” Dan tanpa banyak omong lagi, Yamada langsung melangkah pergi melewati Chinen. Si mungil itu sukses beruap.
“Hiishh!! Belagu
banget sih jadi orang!!”
“Chii?” Ryutaro
tiba-tiba menghampiri Chinen dan langsung mengalungkan lengan ke pundaknya. “Kenapa marah-marah lagi sih?”
“Nggak apa-apa.
Ayo pergi!” Lengan pemuda jangkung itu di geret cukup kencang oleh Chinen,
Ryutaro tentu mengernyit. “Tumben semangat? Jangan-jangan kamu udah nerima
cintaku?”
Chinen mendengus sembari menjulingkan mata. “Siapa bilang? Udahlah ayo pergi. Aku lagi muak!”
“Iya.. iya...”
.
“Ryu, karaokenya
nanti aja ya. Kita ke toko buku dulu.”
Ryutaro yang
berjalan disamping Chinen menautkan alisnya. “Kenapa memangnya?”
“Hm... ada yang
mau aku beli. Untuk bahan mading besok.”
“Oh yaudah kita
ke toko buku, habis itu karaoke.” Ryutaro mengelus rambut Chinen seraya
tersenyum.
Sesampainya di
toko buku, yang Chinen incer lebih dulu adalah rak sastra. Matanya meliuk-liuk
menyusuri deretan buku di rak sana tapi kemudian ia memisuh.
“Maaf, mau tanya... disini ada AKU-nya Sumaru Hasegawa, nggak?” tanya Chinen pada
staff di sekitarnya. Staff perempuan itu menggeleng. “Sumaru Hasegawa itu
sastrawan lama. Buku-bukunya sudah lama dan tidak di cetak ulang lagi.”
Penjelasan itu
sontak membuat Chinen kecewa. Ia menghentak kecil sebelum akhirnya menghampiri
Ryu yang berada di deretan komik. “Ryu, kita nggak jadi karaoke ya. Aku mau
pulang. Ada yang mau aku lakuin.”
Ryutaro menatap
Chinen penuh tanda tanya. “Kenapa? kamu jadi beli bahan buat mading?”
“Aku baru ingat
bahannya masih banyak di rumah dan di ruang mading. Aku pulang ya. Dah,” Chinen
tanpa pikir panjang keluar dari area toko buku. Ryutaro meringis jengkel tapi
mau tak mau mengantarkan orang yang ia suka itu pulang kerumah dengan selamat.
~AADC~
Malam hari,
setelah melangsungkan makan malam bersama keluarganya, Chinen bergegas memasuki
kamar dan duduk dengan anteng di meja belajarnya.
Bukan, bukan
untuk belajar. Oh ayolah, Chinen Yuri siswa yang cerdas dan bisa mendapatkan
nilai bagus tanpa susah payah belajar. Yang Chinen lakukan di meja belajarnya
sekarang adalah menulis surat. Surat penuh dendam kepada orang yang hari ini
membuatnya sangat-sangat emosi.
Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke.
Chinen bertekat
akan mengirimkan surat ancamannya besok pagi-pagi sekali di loker si orang
sombong itu.
.
“Ahaha... Yutti
sih nggak usah diragukan lagi kemampuan basketnya! Pasti menang di turnamen
nanti!”
“Pasti! Kita
semua mendukung Yutti!”
Obrolan para
anggota mading saat istirahat siang di ruang kebanggaan mereka terhenti tatkala
pemuda perambut pirang dengan jas berhodie memasuki ruangan itu tanpa santun.
“Bisa bicara
dengan Chinen?”
Ke lima sekawan
disana mendongak risih. Terlebih Yuto yang sudah ancang-ancang menonjok.
“Tentang apa ya?” tanya Chinen pura-pura tak tahu. Yamada lantas memperlihatkan surat
beramplop coklat yang ia dapatkan pagi tadi di loker sepatunya.
“Kita bicara
diluar.” Chinen memberi gestur ‘tenang dulu’ kepada teman-temannya
sebelum keluar dari ruangan di ikuti Yamada.
“Maksud kamu apa?”
Pemuda pirang itu menuntut lebih dulu sembari menunjukan surat yang dikirim
Chinen. Sang ketua mading lantas menyeringai. “Suratku di baca juga? Kirain
cuma mau baca bacaan penting. Kayak... sastra kuno?”
Yamada langsung
meledak. “Kamu ada masalah sama saya?! Tersinggung karena saya nggak mau di wawancara?
Yasudah wawancara sekarang! Nggak usah manja!”
“Kurang ajar ngatain
manja!” Chinen tidak terima, ia memberikan tatapan paling maut yang ia punya. “Kamu mau diwawancarai sekarang? .........BASI! MADINGNYA BENTAR LAGI TERBIT!”
“Yaudah
terserah!” Yamada tak ambil pusing dan langsung ngeloyor pergi. Tanpa ia
sadari, buku lusuh berjudul AKU terjatuh dari genggamannya diantara buku-buku
pelajaran. Chinen dengan segera meraih buku itu dan di sembunyikan di belakang
tubuhnya saat teman-temannya menghampiri.
“Beneran belagu
ya dia!” sungut Yuto. Chinen mengiyakan. “Aku kan udah bilang. Belagu! Sombong
lagi!”
“Tapi, Chii.. kamu tetap harus wawancarain dia buat profil pemenang lomba puisi...” tegur Keito
halus.
“Gampanglah itu.
Cari datanya di staff tata usaha atau wali kelasnya juga bisa. Kalau nggak, kita
buat sekarang saja.”
“Yasudah ayo.”
Inoo-chan merangkul Chinen namun si mungil itu tak bergerak. “Kalian kerjain
duluan, aku ke kelas dulu, mau ambil HP.”
Teman-temannya
percaya ucapan Chinen sehingga mereka ke ruang mading lebih dulu. Oh, tidak
semuanya percaya. Keito sebenarnya tahu bahwa Chinen sudah membawa HP karena
tadi ia menunjukan desain mading yang bagus di HPnya. Tapi pemuda dengan pembawaan kalem itu hanya diam dan mengikuti ke tiga teman lainnya menuju ruangan.
Chinen memang ke
kelas. Tapi bukan untuk mengambil HP melainkan menaruh buku lusuh yang tadi ia
pungut ketika jatuh dari genggaman Yamada.
.
Sepulang sekolah,
Chinen ada kegiatan ekskul atletik. Sebenarnya ia ingin bolos karena ia
berhasrat membaca buku lusuh milik Yamada tadi. Tapi tidak bisa semudah itu,
Chinen anggota inti tim atletik sehingga ia harus ikut klub. Karenanya ia
pulang kerumah cukup larut.
Biasanya Chinen
akan langsung tidur setelah makan malam jika sangat lelah karena latihan klub.
Tapi kembali lagi ke buku lusuh Yamada, Chinen justru begadang menghabiskan
satu buku itu hingga bangun ke siangan.
~AADC~
“Hoi, Yamada!
Nyari apa sih dari tadi?” Kamiki, anak 3-A yang menjadi teman sebangku Yamada
bertanya-sensi melihat pemuda pirang itu rusuh sendiri mencari sesuatu.
“Nyari buku.
Judulnya AKU. Lihat nggak?” Yamada malah balik tanya.
“Nggak. Aku cuma
baca komik 'sih,”
Yamada masih
sibuk mencari padahal saat itu pelajaran guru killer sedang berlangsung.
Hingga akhirnya
waktu istirahat tiba, kelima angggota
mading seperti biasa berkumpul bersama di kantin. Dai-chan yang mebuka topik
pembicaraan paling dulu.
“Kok telat sih,
Chii? Tumben banget!”
“Iya! predikat
bangun siang kan punyaku, Chii! jangan direbut dong!” sahut Yuto pura-pura
kesal. Chinen malah tertawa. “Sori. Aku juga
bingung kenapa kemarin nggak bisa tidur cepat padahal capek banget habis
latihan. Mungkin kamarku dikutuk.”
Keempat temannya
lantas melongo.
“Kemarin aku
nggak sengaja baca mantra aneh. Begini, ‘Tidak akan bisa tidur. Karena orang
ngomong dan anjing menggonggong. Dunia jadi jauh mengabur.’ Serem kan? Tapi
juga hebat. Itu sesuai dengan keadaanku sekarang. Serius, hebat!”
Mulut
teman-temannya semakin melebar.
“Chii, mending
beli makan siang dulu. Yakisobanya enak loh. Kau butuh makan kayaknya...” kata
Inoo dengan kekehan canggung.
“Iya nih aku juga
lapar. Pesen dulu ya!”
Setelah Chinen
memesan makan, teman-temannya langsung membicarakannya.
“Chinen kenapa
sih? Apa coba maksudnya mantra itu?” mulai Yuto. Keito menanggapi dengan
enteng. “Mungkin masih terbawa emosi kemarin dengan Yamada Ryosuke.”
Mereka lalu
mengiyakan sebelum Chinen kembali bergabung.
“Chii, besok
petang jadi nonton konser Arashi kan?” Inoo bertanya. Chinen langsung
mengangguk cepat. “Ya jelas nonton dong!”
“Langsung ketemu
di tempat konsernya kalau begitu ya!”
“Siap!”
.
Seharian itu,
Chinen tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Ia lebih sering
ke tempat sepi untuk membaca buku AKU. Hingga tiba di rumah, ia masih membaca
buku itu sampai kemudian ia memutuskan untuk mengembalikan buku itu pada Yamada
besok pagi-pagi sekali. Bukan di taruh di
loker. Tapi langsung di taruh pada meja Yamada di kelas 3-A.
~AADC~
“Apa ini?”
Kamiki mengangkat
bahu saat Yamada bertanya. “Dari tadi pagi udah ada disitu. Anak-anak nggak
berani nyentuh karena di taruh di meja kamu. Dikira kiriman berbahaya kali.”
Pemuda blonde itu mengernyit dan segera membuka bingkisan di mejanya. Kemudian ia memekik senang.
“Nih bukunya
ketemu!”
Kamiki melengos.
“Nemu buku kayak nemu cewek cantik aja!” tapi Yamada tak menghiraukan. Ia malah
fokus pada secarik memo yang diselipkan di bingkisannya.
To : Yamada
Ryosuke
Bila emosi
mengalahkan logika, terbukti banyak ruginya. Benar, kan? -Chinen Yuri-
Yamada terhenyak
membaca isi di memo itu. Dan ia memutuskan istirahat pertama nanti akan menemui
si penemu buku kesayangannya.
.
“Chinen,”
Sang pemilik nama
menoleh. “Manggil aku?”
Yamada mendekat
pada pemuda mungil itu, ia juga tersenyum simpel. “Saya mau bilang terimakasih
karena sudah menemukan buku ini.”
“Oh itu...”
Chinen tertawa dalam hati.
“Agak susah nyari
buku ini. Langka soalnya.”
Chinen
manggut-manggut mendengar ucapan Yamada. “Hmm.. lalu?”
“Lalu..” Yamada
meneguk salivanya. Bingung. Pemuda itu kurang bisa bersosialisi dengan teman
sebenarnya. Jadilah hanya bergumam tak jelas. Chinen yang melihat raut kebingungan Yamada tak kuat untuk tak
tersenyum lebar.
“Kenapa
senyum-senyum?”
pertanyaan Yamada
sontak membuat senyum Chinen luntur. “Lalu apa?”
“Ya nggak
apa-apa. Cuma mau bilang terimakasih. Saya pergi kalau begitu.”
Tepat saat Yamada
balik badan, Chinen justru memanggil dengan lantang.
“Kenapa?”
“Kamu kalau
kebingungan lucu ya. Harusnya kamu kebingungan aja terus.” kata Chinen sambil
duduk di bangku koridor yang ada. Yamada mengernyit dan malah ikut duduk. “Kamu
menyindir saya?”
“Tidak.” tawa
Chinen mengalun halus. Yamada yakin sekali seperti melihat cahaya indah
ketika orang disampingnya itu tertawa.
“Omong-omong,
dulu beli buku itu dimana?”
“Oh, di buku
loak. Kalau cari di toko buku besar udah pasti nggak ada. Buku lama soalnya.”
jelas Yamada ramah. Nadanya beda jauh seperti saat Chinen bertemu pertama kali.
“Hmm.. kalau aku
biasa beli langsung ke penerbitnya. Jadi—“
“Kamu juga punya?” Yamada menyela. Chinen terkekeh kembali. “Tentu saja punya!”
“Oh ya? Suka
bukunya?”
“Suka banget.
Apalagi di endingnya... waktu Chihiro merasa berjalan di atas pasir...”
“Dan Chihiro
merasa ada sosok ideal di sebelahnya?”
“Iya yang itu!
Lalu Chihiro berkata....”
“Bukan maksudku
mau berbagi nasib, tapi nasib adalah kesepian masing-masing.”
Mereka mengatakan
itu bersamaan diikuti sejoli mata yang saling bertumbruk. Chinen merasa dadanya
menghangat dan pipinya mungkin kemerahan. Yamada justru tersenyum.
“Kalau kamu suka
karya-karya Sumaru-sensei, ada banyak di toko buku loak langganan saya.” kata
Yamada membuat raut Chinen berubah netral.
“Oh ya? Dimana?”
“Di Marukawa.”
“Ohh.. Marukawa. Udah lama sebenarnya aku mau kesana! tapi nggak sempat terus!”
“Pulang sekolah
ini saya mau kesana.” cetus Yamada. Nadanya seperti mengajak, namun ia
cepat-cepat mengingatkan. “Jangan salah sangka dulu. Saya nggak maksud
mengajakmu. Kalau mau ikut silahkan, kalau nggak mau yasudah.”
“Aku ngerti
koli.” Chinen mendengus. “Lagipula aku nggak merasa kamu ajak nge-date.”
“Ya saya juga
hanya mastiin biar nggak salah sangka!” tandas Yamada malu-malu. Chinen melirik
ke atas seperti menimang-nimang perkataan si pirang.
“Nanti pulang
sekolah ya?”
“Iya.”
“Hmm... lihat
nanti deh.”
~AADC~
Chinen akhirnya
memutuskan ikut pergi ke Maruukawa dengan Yamada sepulang sekolah. Dalam hati
ia menyesal mengiyakan. Pakai acara berbohong sudah pernah ketempat itu pula! Padahal
sama sekali belum. Jalan menuju tempat itu juga sangat sesak dan panas!
“Disini.”
Chinen kemudian
mendesah laga. Ketika melihat banyak buku, matanya berkilat dan segera mendekat
pada tumpukan buku yang dirasa menarik.
“Hey, Yamada!”
Seorang lelaki paruh baya menghampiri Yamada. “Oh, Toma-san. Chinen, kenalkan,
dia Ikuta Toma... konglomerat buku bekas disini.”
“Chinen Yuri.”
sapa Chinen dengan senyum manis.
“Silahkan
dilihat-lihat, Chinen-san.” kata Toma dan Chinen segera fokus mencari buku yang
menarik perhatiannya.
“Tumben banget ngajak anak manis ke sini? Siapa? Pacarmu?”
Yamada
cepat-cepat melirik Chinen, berharap si mungil itu tak mendengar. Dan benar,
Chinen tidak mendengar. “Bukan. Cuma teman.”
“Ahahaha.. nggak
usah ngeles! Oh ya, udah ketemu AKU-nya?”
“Udah. Chinen
yang menemukan.”
“Oh syukurlah.
Nah, ini buku yang kau pesan waktu itu. New York.” Toma memberikan buku lusuh
bersampul oranye pada Yamada. Diterima dengan sangat senang.
“Kenapa cari buku
itu? Ingin kesana?”
“Ah bukan apa-apa...”
.
.
.
“Hih, Chinen mana
sih!?!”
“Iya nih! Dia
kemana sih! katanya mau nonton Arashi! keburu antriannya panjang banget nih!”
Inoo dan Dai-chan
memisuh di tempat konser. Kedua teman lainnya juga sama. Mereka tidak tahu
bahwa sebenarnya Chinen sedang bersama Yamada.
.
“YA AMPUN!”
Si pemuda blonde
menoleh-kaget. “Ada apa?”
“Aku lupa kalau
hari ini ada janji nonton konser Arashi sama anak-anak!” Chinen menggetok
keningnya sendiri. Yamada mendengus. “Kamu nggak adapun, Arashi tetap melakukan
konser kan?”
Chinen cukup
tersinggung dengan perkataan barusan. “Ya bukan begitu. Aku kan udah janji dengan
teman-teman dari kapan lalu!”
“Kamu mau nonton
konser Arashi karena memang mau nonton, atau karena nggak enak
dengan teman-teman kamu?” tanya Yamada dingin. Chinen semakin tersinggung.
“Ya dua-duanyalah! Aku pulang ah!”
Baru melangkah
sebentar untuk keluar dari area toko buku loak, Yamada lanjut menyindir.
“Kayak nggak
punya kepribadian saja,”
“Apa?” Chinen
lantas balik badan.
“Iya. Benar kan,
apa kata saya? Nonton harus sama-sama. Pulang sekolah sama-sama. Berangkatpun
juga sama-sama. Apalagi namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi
demi sesuatu yang kurang prinsipil?”
Chinen mengadu
giginya-kesal. Ia langsung menatap sengit Yamada. “Justru itu sangat prinsipil!!”
“Oh ya?”
“Hah. Susah
ngomong sama kamu. Punya teman aja nggak.”
“Yah, paling nggak,
saya punya pendirian dan nggak harus bergantung dengan siapa-siapa. Yasudahlah
sana, kamu susul teman-temanmu.”
“Apa—”
“Bisa pulang
sendiri kan?”
“Maksud kamu?!”
“Yah.. orang
kayak kamu kelihatan nggak pernah pergi sendirian ke tempat seperti ini.
Hati-hati aja kesasar.” sarkas Yamada dengan senyum remeh. Chinen menghentakan
kakinya dengan keras lalu bergegas pergi dari tepat itu.
Toma tertawa
kencang sembari merangkul Yamada yang masih terdiam di tempat.
“Dasar bodoh!
cepat sana susul dia! Kamu ini nggak peka banget sama anak manis seperti dia!”
“Buat apa?”
“Jangan kira kalau dia marah itu benar-benar marah. Itu hanya taktik untuk memancing
inisiatifmu!”
Yamada justru
bingung.
“Kau perhatikan
anak itu ya... kalau dia balik badan, berarti dia memintamu untuk mengantarnya pulang. Satu.... dua.... ti....”
Chinen balik
badan demi menghunuskan tatapan maut untuk Yamada sebelum lanjut berjalan
dengan garang. Toma tertawa lebih keras. “Benar, kan? Sudah sana kau susul dan
antar dia pulang!”
Tapi Yamada tidak
bergeming. Ia masih teguh pada pendiriannya dan hanya memandang punggung Chinen
dengan getas. Kenapa juga saya harus mengantarnya? toh dia ingin ke tempat
konser kan?
~TBC~
A/N
: Sebenernya mau di TBCin pas si Yangga(?) di gebukin gengnya Ryu pas Chiinta dkk lagi nonton basketnya si Yutti wkwkw. Tapi apadaya mata aing tak kuat ngetik mpe situ lol. Chapter selanjutkan ku serahkan pada Ana!


0 komentar:
Posting Komentar