Title: Sleep Well
Chapter: 4
Author: Raras Vadma
Pair: YamaChii for sure (Percayalah kawan ini akan berending bahagia wkwkwk), AriYama, Chiitaro (buat konflik), TaDaiki.
Genre: Author Universe (AU), Drama,
Hurt/comfort(maybe)
WARNING! BAHASA SUKA SUKA
Summary : “Aku mau disini denganmu! Aku tidak mau disana lagi,
Ryosuke! Tidak mau!”| “Kalau begitu, berpamitanlah..” | “Berpamitan?” | “Ya,
dengan ibumu. Lalu aku akan menjemutmu untuk selamanya denganku.”
Intro : bacanya sambil dengerin Aku Cuma
Punya Hati/I’m ok ya wkwk
Douzo!
.
.
.
“Ryosuke, buatkan aku ramen ya?”
“Baiklah.. tunggu sebentar,”
“Chotto, kalung ini bagus! Buatku
ya, Ryosuke!”
“Iya ambilah..”
“Hehe.. baju yang kau pakai di potosyut kemarin boleh buatku?”
“Iya, Sayang.. itu buatmu saja.”
“Makasih~ oh omong-omong, di dunia ini aku paling imut kan?”
“Sudah pasti, dong.”
“Ja.. kalau begitu, aku boleh
melakukan apa saja?”
“Apa yang tidak buat mu? Asal
jangan tinggalkan aku.”
Chinen mengerjap mendengar kalimat itu. Kemudian tertawa. “Bukannya kau
yang akan meninggalkanku? Kau yang selingkuh?”
“Jangan ngomong sembarangan! Aku disini!”’ Yamada menaruh celemeknya,
kemudian mendekat pada sang kekasih. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan
selalu bersamamu.”
“Janji padaku jangan pernah berpaling dariku!”
“Aku janji.” Pemuda pirang itu kemudian mendekatkan wajahnya untuk mematuk
bibir sang kekasih.
.
.
.
“Eunghh~”
Chinen melenguh ketika bibirnya di bungkam oleh pulm manis kepunyaan
Yamada. Yuya yang melihatnya hanya tersenyum sendu.
“Hati-hati, kau bisa membuatnya bangun, Yama-chan.” kata pemuda gondrong
itu. Yamada mendesis pelan seraya menyibak rambut Chinen yang masih terlelap.
Kemudian menjauhkan wajahnya dari Chinen.
“Tenang saja. Dia terlihat pulas.”
“Kau sengaja bilang sudah jadian dengan Daiki dihadapan dia?”
Yamada tersenyum ironi, “hanya ekting. Aku ini aktor. Yuri tahu itu.”
“Berarti ini yang ke dua kali?” suara Yuya memberat ketika bertanya.
“Setelah dengan Yuto?”
Raut Yamada langsung menggelap. Rahangnya mengeras juga tangannya terkepal,
namun sebelum menyahut ucapan Yuya, ia berhasil mendengus. “Yuri kuat. Aku
yakin.”
Sejujurnya, Yuya sama sekali tidak meyakinkan ucapan barusan. Kuat dia
bilang? Oh kalau saja itu benar Yuya berharap drama ini cepat selesai.
“Daiki... apa dia sudah tahu?” Yuya bertanya dengan nada yang teramat lirih.
Yamada memberi gelengan pelan, “belum untuk sekarang. Tapi nanti pasti akan
tahu. Dia sangat keras kepala untuk memaksaku memberi tahu.”
Sepi sejenak. Mereka seolah mencari topik untuk membuka obrolan kembali.
“Daiki berbeda dengan Chinen.” ujar Yuya kemudian, “kau tahu kalau
sebenarnya fisiknya lemah kan?”
“Sangat tahu.” Disahut langsung. “Fisik dan mentalnya lemah. Hanya karena
kau memutuskannya saja, dia nyaris resign
dari Johnny’s kalau tidak
cepat-cepat kuhentikan.” Jelas Yamada dengan dengusan, kemudian ia melirik
Chinen, “berbeda dengannya, Yuri sangat menyukai Johnny’s. Dia sangat menyukai
Arashi, sangat menyukai Hey! Say! JUMP, dan sangat menyukaiku. Dia pasti kuat.”
Seketika hening. Yuya lagi-lagi tak
berani memberi respon karena terlalu takut firasat bahwa member termudanya itu
tidak kuat. Yuya terlalu takut.
Karenanya yang berani ia ucap adalah, “Kembali ke kamarmu, Yama-chan. ini masih
jam tiga pagi. Besok kita akan melakukan pemotretan di luar kota untuk Myojo,”
Yamada mendengus kembali sebelum mengangguk. “Jangan beritahu dia aku
menciumnya.”
“Tenang saja.”
Tersisa Yuya dengan Chinen sekarang. Pemuda tertua-kedua itu mengesah sedih
ketika menatap adik bungsunya. Ia membenarkan selimut yang Chinen kenakan
sebelum kembali ke ranjangnya untuk lanjut tidur.
=:=
Sekarang pukul delapan pagi lewat lima belas menit. Manajer sudah heboh mengarahkan
grup yang diasuhnya itu untuk bergegas ke Hakone menggunakan shinkansen karena
pemotretan kali ini akan di lakukan di luar ruangan.
“Siap-siap segera! Aku sudah pesankan sarapan untuk kalian. Kita akan
berangkat jam sepuluh karena shinkansen jalan jam sebelas!” serunya dengan
lantang, namun lagi-lagi ia menyadari ada satu member yang tidak ada.
“Takaki-kun kemana?”
Semua mata langsung terarah pada Dai-chan. Pemuda manis yang dilihat itu
justru menunduk membuat Yamada disebelahnya segera merangkul pundaknya sebelum
menyahut, “mungkin sedang ke kamar kecil?”
“Ah, aku ingat!” Hikaru lalu berseru, “Takaki tadi di pavilum! sedang sibuk
dengan HPnya. Akhir-akhir ini dia sering memegang HP...”
Uh, oh, Hand Phone.
Bukannya Manajer dan para petinggi Johnny’s sudah menjelaskan tidak ada HP
bila sedang bekerja? “Panggilkan dia sekarang!”
Tapi baru Yabu hendak memanggil, Yuya sudah datang keruang tengah asrama dengan
raut getas. Manajer hendak saja membuka mulut untuk menceramahinya namun justru
pemuda Osaka duluan yang berkata. “Aku tidak bisa ikut pemotretan sekarang.”
Suasana langsung tegang.
“Apa maksudmu?” suara sopran Yabu menambah ketegangan.
“Ada urusan mendadak. Ini benar-benar penting. Aku harus ke rumah keluarga
besarku segera.” Jelas Yuya dengan nada lirih. Ke tujuh member lantas memekik
tertahan. Keluarga besar Yuya semua berada di Osaka, itu berarti dia tidak
hanya tidak mengikuti pemotretan hari ini, namun juga untuk kegiatan grup
beberapa hari kedepan.
“Urusan apa?” nada Manajer seolah menuntut jawaban, “Oh ayolah.. kalian
hanya diminta kompak dua hari! Setelahnya kalian sudah punya jadwal
sendiri-sendiri kan? Yamada-kun dan Arioka-kun akan syuting Kindaichi Neo, dan
kudengar Yuto-kun ditawari main drama tentang berenang. Kena—“
“Ini sangat penting! Kumohon, Manajer!” Yuya memangkas ucapan manajernya
dengan menunduk 180 derajat. “Aku janji setelah urusanku selesai aku akan giat
bekerja! Potosyutku bisa di lakukan belakangan dengan para staff Johnny’s
cabang Kansai. Mereka bisa membantuku potosyut kemudian di gabungkan.”
“Jangan menyu—“
“Kalau ini tidak penting aku juga tidak sudi menyusahkan kalian. Tapi ini
sangat penting. Ini demi karirku dengan Hey!Say!JUMP!”
Penjelasan yang barusan lantas membuat Chinen maju dan ikut menunduk.
“Biarkan Yuya pergi dulu, Manajer-san!”
“Tapi petinggi Johnny’s akan—“
Yamada tiba-tiba juga maju dan menunduk dalam. “Atas nama Hey! Say! JUMP,
biarkan Yuya menyelesaikan masalahnya! Aku mohon!”
Keadaan di asrama menjadi lebih tegang. Para member—selain Yamada dan
Chinen—tak ada yang buka mulut. Mereka hanya menatap keadaan dengan raut tak
terbaca. Sementara Manajer sudah hampir gila karena ia yakin akan di habisi
dengan pertanyaan menusuk dari para petinggi Johnny’s. Terutama... oh, Manajer
tak mau menyebut nama Julie Kitagawa tapi apadaya, perempuan itu sangat jahanam
bila ada grup yang tidak mau menuruti peraturan.
Sudah untung Hey!Say!JUMP sangat
laris tahun ini! Masih saja membernya ada yang mangkir-mangkir dari kegiatan!
Keluarkan saja kalau begitu! Kalimat
barusan sudah terngiang di benak Manejer akan di lontarkan Julie. Tapi jangan
sampai!
“Kau bisa menjamin setelah urusan dengan keluargamu selesai kau akan
kembali pada kita dan tidak ada masalah apapun lagi?” Kali ini suara Inoo
menguar.
Yuya langsung menatap member tercantik itu dengan tatapan akan kuusahakan, meski yang sebenarnya keluar
dari bibirnya adalah, “Tentu saja.”
“Baiklah...” Manajer akhirnya menyerah. “Hanya dua hari dari sekarang, lalu
kau sudah kembali ke asrama dan bekerja dengan kita.”
“Aku mengerti. Terimakasih semua!” Yuya langsung menyambar ransel besarnya
yang tergeletak di sofa dan lalu berjalan menuju pintu.
“Dai-chan!” Yamada sudah menahan bahu bungsu BEST itu ketika ia hendak
menyusul Yuya.
“Lepas...!”
“Dai-chan.. tenanglah, biarkan Yuya menyelesaikan urusannya..”
“Urusan apa? Lepaskan! Aku harus ta—“
“DAI-CHAN!” Yamada tak tahan untuk membentak. Astaga, itu asrama atau ruang
sidang yang menegangkan? Ini tidak benar!
Yamada tak berkata apapun lagi tetapi memeluk Dai-chan dengan erat
sementara Yuya sudah benar-benar enyah dari asrama. Dalam hati Chinen berharap,
‘selesaikan drama ini dengan baik, Yuya..’
Begitupun dengan Yamada. Hingga tanpa mereka sadari, harapan mereka
tergabung.
‘...agar aku dan Yuri—
—dan Ryosuke...
...bisa kembali bersama...’
.
Menejer tiba-tiba mengerang. “Setelah pekerjaan selesai kalian harus
menjelaskan apa yang sedang terjadi. Terutama Yamada-kun, Arioka-kun,
Chinen-kun, dan Takaki-kun. Harus!”
Namun tak ada respon. Member lain hanya saling lirik.
“Yasudahlah! Sana kalian bersiap!”
“Baik!” hanya Yuto dan Inoo yang sebenarnya menyahut. Sisanya masih saling
lirik sebelum akhirnya membubarkan diri untuk bersiap-siap. Saat pandangan mata
Chinen bersibobrok dengan Yamada, pemuda mungil itu langsung tersenyum manis,
namun saat pandangannya turun pada tangan Yamada yang memeluk Dai-chan, senyum
itu sirna.
=:=
“Chii-chan... bawaanmu sudah komplit?” Tanya Keito. Chinen di sampingnya
mengangguk semangat, mereka sedang dikamar OkaJima sebenarnya namun Yuto sedang
berada di dapur. “Sudah. Makanya aku bersedia membantumu. Apa lagi yang mau kau
bawa?”
“Ahaha.. kita kan tidak sampai menginap, Chii... tapi mungkin... sunblok?”
Chinen mengangguk, “Oke, sudah kumasukan.”
“Hmm.. kurasa sudah semua.”
“Hehe.. kalau begitu aku keluar ya,”
Namun baru akan meninggalkan kamar, tangan Chinen justru di tahan.
“Kenapa?”
“Aku cukup mengenalmu, Chii...” suara Keito memberat, “kau bukan tipe yang
akan membantu orang lain secara cuma-cuma. Dari saat kau dan Yama-chan
bertingkah aneh, aku sudah punya firasat pasti kau ada masalah sampai putus
dengannya.”
“Sok tahu,” Chinen langsung mendengus seraya terkekeh, “aku dan Ryosuke
baik-baik saja. Kita putus dengan baik. Yuya dan Dai-chan yang sedang banyak
masalah.” Lagipula, aku masih punya
Ryosuke yang setia denganku. Ryosuke masih kekasihku!
Keito meneliti perkataan Chinen yang barusan, mencari celah kebohongan di
mata kelam si mungil itu namun nihil. Disana justru berbinar.
“Sudahlah.. kau tidak perlu tahu. Ohya, aku ke halaman belakang dulu. Mau
ambil kaos putih kesukaanku yang kemarin ku jemur disana hehe..”
Sang gitaris mau tak mau ikut terkekeh, “Kau ini tidak punya baju lain
selain kaos itu ya?”
“Maa.. itu kaos kesukaanku~”
Chinen lalu berjalan dengan sedikit melompat menuju halaman belakang.
=:=
“Kenapa kalian tidak mau memberitahuku dari awal?”
Itu suara Dai-chan. Suaranya tersendat-sendat seperti menahan tangis.
“Kita menjaga kondisi mentalmu.”
Kalau yang itu suara Yamada. Suaranya terdengar getas.
“Kondisi apa..?!”
“Arioka Daiki!” Kali ini Yamada berseru, “Jangan terlalu memforsir diri!”
“Aku ti—“
“Dibalik senyum! Dibalik kekehan! Dibalik wajah polosmu, kita tahu kau yang
paling rapuh!”
“Apa ma—“
“Kau yang paling sering sakit di antara kita! Kau yang paling sering kelelahan
di antara kita! Dan.. dariawal, kau yang paling gampang menyerah di Johnny’s
diantara kita! Apa kau pikir aku bodoh untuk tidak tahu bahwa kau ingin bunuh
diri di gunung, hah?!” Seruan Yamada semakin meninggi. “Jawaban di 10 ribu
interviewmu itu setengahnya bohong! Kau bukan ingin menjernihkan pikiran di goa
dan di gunung, tapi kau mencoba bunuh diri di sana.”
Dai-chan mulai terisak.
“Kau tahu seberapa gilanya Yuya waktu mengetahui itu? Kau tahu seberapa
paniknya kita?”
Isakan Dai-chan mulai mengeras...
“Kita bahkan berpikir kau yang akan keluar lebih dulu waktu itu.”
...semakin keras...
“Karena itu Yuya dan aku setuju untuk menyudahi hubungan kita masing-masing
dan dia meminta bantuanku untuk menyelesaikan masalahnya!”
...hingga akhirnya pecah. Tangisan Dai-chan kini pecah dan menggema ke
seluruh halaman belakang asrama mereka.
Namun itu tidak lama.
Sungguh, disana tidak ada kamera. Disana tidak ada fans. Dan disana juga
tidak ramai oleh member atau staff. Hanya rerumputan rapih dengan beberapa
jemuran yang berkibar karena angin. Namun garmen
itu sama sekali tidak bisa menutupi pandangan Chinen Yuri yang melihat dengan jelas
bahwa Yamada mencium Dai-chan tepat di bibir—menghentikan tangis pemuda manis
itu dengan sangat mesra.
KROSAK!!
“SIAPA?!” Yamada langsung melepas pagutannya dari bibir Dai-chan demi
bertanya lantang.
Chinen yang sebenarnya tak sengaja menginjak tanaman di pot plastik milik
Yamada tak menyahut, ia berlari secepat kilat menuju kamarnya dan meraih botol
kecil di dalam tasnya.
“Ryosuke...”
Tangan mungilnya bergetar ketika meraih beberapa pil dari sana.
“Ryosuke...”
Tangan itu masih bergetar setelah memasukan pil-pil itu ke mulut, juga
bergetar ketika mengambil botol minum dari tas—hingga tumpah.
“Kau sudah berjanji, Ryosuke...”
Ia mengelap bibirnya dengan kasar sementara matanya dipejamkan erat-erat. Ia
masih sadar, masih. Obat itu belum bereaksi. Namun pikirannya langsung
membawanya ke masa itu.
.
=:=
.
“Hwaaaa..!! Ryosuke brengsek! Kau
seharu—Eunghh.. nghh hnn~”
Dua tahun yang lalu, Yamada mencium
Chinen tanpa ampun ketika hendak menangis. Itu terjadi di studio latihan yang
telah sepi setelah latihan untuk perform Super Delicated.
“Kenapa?” tanya Chinen setelah
ciuman panas mereka selesai.
“Supaya kau tak menangis.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Biar kau tak jadi menangis.
Pokoknya, tiap kau merengek, tiap kau mau menangis, tiap kau protes atau tiap
kau keberatan akan apapun denganku, aku akan menciummu tanpa ampun.”
“Ugh..” Chinen merengut.
“Tidak apa-apakan? Lagipula, kau
hanya milikku. Mulai sekarang, aku akan melakukan metode itu untuk menghentikan
tangismu.”
“Ish, aku tidak cengeng sepertimu!
Kau yang lebih cengeng!”
Yamada tertawa, “tapi aku tahu kau
yang paling sering ingin menangis. Padahal aku sudah berkali-kali menjelaskan
padamu bahwa aku hanya ekting. Tapi kau selalu terlihat ingin menangis
seolah-olah aku melakukan kejahatan besar!”
“Hehe.. berarti, saat ekting dengan
Yutti kau tidak sampai menciumnya di privat?”
“Kau bercanda?! Menciumnnya itu menggelikan!
Ekting bermesraan dengannya di publik saja sudah membuatku mual!”
Kali ini Chinen yang tertawa puas.
“Berarti ciumanmu hanya untukku kan?”
“Tentu saja!”
“Kalau begitu, janji padaku kau
hanya akan menciumku. Di keadaan apapun! Meski kau ekting dengan perempuan
sekalipun di drama, perasaan serta ciuman tulusmu hanya untukku!”
“Aku janji.”
Mereka kembali menyatukan bibir
mereka dengan lembut.
.
=:=
.
Topeng adalah senjata terampuh Chinen sekarang. Saat ia sedang sarapan dengan membernya tadi, saat ia bercengkrama dengan member-member lain di van tadi, dan saat ia hendak berangkat ke Hakone menggunakan shinkansen sekarang, topeng keceriaan itu masih terpasang apik di raut wajahnya. Hei, Sutradara-san.... Anda harus merekrut Chinen untuk main movie setelah ini.
“Yabu-chan, aku mengantuk...” Katanya seraya menguap. Sang leader yang duduk disebelah Chinen justru terkekeh. “Tidur saja. Nanti kalau sudah sampai kubangunkan.”
“Hehe.. kalau aku tidak bangun bagaimana?”
Alis Yabu seketika menukik. “Kenapa bicara begitu?”
“Ya.. karena aku sangat mengantuk. Benar-benar mengantuk, Yabu-chan..”
Member tertua itu mendengus, lalu ia menarik kepala member bungsunya untuk bersender ke bahunya. “Tidurlah. Nanti pasti kubangunkan.”
Chinen hanya merespon dengan gumaman karena detik berikutnya ia sudah benar-benar terlelap.
.
.
.
“Ryosu—eunghh ngghhnn~”
Ciuman dadakan seperti biasa. Chinen langsung membalas ciuman itu dengan ganas.
“Ryosuke hh.. nhh..”
“Shh.. sudah sudah.. aku disini, Sayang..”
Chinen mencengkram jaket jins kekasihnya erat-erat, menenggelamkan kepalanya di dada Yamada pula.
“Jangan menangis.. nanti kucium lagi.” Kata Yamada seraya mengelus surai Chinen.
“Kau sudah berjanji padaku hanya akan menciumku kan?! Kenapa menciumnya..?!? Kenapa?!!”
“Sshhh... mencium siapa, Yuri? Aku hanya akan menciummu...”
“Tapi ta—“
“Bukannya sudah kukatakan disana itu bukan aku yang sebenarnya? Disana hanya Yamada Ryosuke yang buruk. Itu ilusi buruk, Yuri... Yamada Ryosuke yang sebenarnya disini, yang hanya mencintaimu, yang hanya akan menciummu.”
Chinen berganti memeluk Yamada, sama eratnya.“Aku mau disini denganmu! Aku tidak mau disana lagi, Ryosuke! Tidak mau!”
Yamada tidak langsung membalas, ia menangkup wajah malaikat Yurinya dahulu demi memandang matanya yang masih berlinang. “Kau yakin?”
“Yakin. Aku mau disini saja! Aku tidak tahan lagi disana!”
“Benarkah?”
“Ya, Ryosuke! Iya! Aku cuma mau Ryosuke yang menciumku, yang memelukku, yang perhatian padaku.”
Yamada tersenyum lebar sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, berpamitanlah..”
“Berpamitan?”
“Ya, dengan ibumu. Lalu aku akan menjemutmu untuk selamanya denganku.”
“Begitu..?” Chinen merasa ragu. “Tapi aku masih ingin berlama-lama disini..”
“Berpamitanlah dulu. Nanti kau akan kembali ke sini. Kau nanti akan sangaaaaaat lama denganku disini.”
“Baiklah...”
Yamada mencium kening Chinen dengan lembut, “itu baru Chinen Yuriku.”
To be a Continue....
A/N : Yuri yang ada warna merah itu
berarti Yamada yang ngomong dalem ati. Ryosuke yang ada warna pinknya itu
berarti Chinen yang ngomong dalem ati. Kalo baca 10rb interviewnya daichan bakal
ada info daichan itu ngerasa ga berguna di hsj dan mengasingkan diri ke goa ato
gunung gitu lupa haha. Rapuh ye lol :v btw, pembagian kamar disini itu
-TakaChine
-AriYama
-Okajima
-YabuHikaNoo
Satu kamar ada 2 ranjang. Kalo
YabuHikaNoo ya berarti satu ranjang ada yang berdua //tebaksiapa ahaha XD


0 komentar:
Posting Komentar