Judul: Topeng
Author:
Kiwok
Pair: YAMACHINEN FOREVER
Genre: Romance
Summary: Chinen lagi-lagi harus
bersabar ketika Yamada memainkan perannya. Karena kekasihnya adalah idol yang
sesungguhnya. Karena topeng itu tak mudah dipecahkan begitu saja..
Note: DIBACA SAMBIL DENGERIN
MASQUERADE!!!
.
.
.
.
Di studio latihan milik Hey!Say!JUMP, Yamada Ryosuke dilanda bingung karena hanya dirinya, Chinen, dan Yuya yang datang. Bahkan sekarang mereka disuruh menghadiri ZIP untuk promosi album DEAR.
“Shikatanai deshou? Yaotome-kun
dan Arioka-kun syuting Hirunandesu, Inoo-kun syuting Merengue, Nakajima-kun
syuting movienya, sementara Yabu-kun dan Okamoto-kun di panggil Johnny-san ke
jimusho. Mau tak mau hanya kalian bertiga.” Jelas sang Ishizaki Ken selaku Manajer. Yuya lantas menyimpulkan, “Berarti hanya kita yang nganggur, begitu?”
“Begitulah.”
Yamada ingin langsung memukul manajernya kalau ia sedang dalam keadaan marah. Yang benar saja, Yamada Ryosuke nganggur?! Mereka kira
Yamada pakai perhiasan atau make-up tebal setiap hari itu apa namanya kalau
bukan kerja!? Namun sekarang hatinya sedang senang sehingga ia hanya memutar
bohlam matanya.
“Ken-san, Ryosuke marah dibilang nganggur.” Chinen menyeletuk tiba-tiba, membuat pinggulnya
disikut sang kekasih.
Si mungil itu jutsru tertawa ringan. Yamada yang melihat tawa itu mau tak
mau mencubit pipi Chinen dengan gemas. “Jangan tertawa!”
“Tehehehe.. kenapa memangnya?”
“Kau jadi jelek!”
“Ohya? Make Up-in dong, biar cantik seperti Ryosuke.”
Sialan! Suatu kesalahan beradu argumen dengan kekasihnya.
Malah Yuya yang kini terpingkal.
“Sudahlah! Ayo kalian naik ke van. Kita akan segera ke lokasi.” Komando
manajer. Mereka segera bergegas menaiki jemputan yang disediakan.
=:=
“Ken-san, kau tahu apa itu ‘kejam’?” Yuya bertanya pada manajer yang
duduk di depan—di sebelah supir mereka.
“Sepertinya aku tahu, Takaki-kun. Bersabarlah.”
“Aku tidak masalah jika bertiga dengan Yabu-kun dan Yuto. Atau dengan yang
lainnya. Asal jangan dengan Yamada dan Chinen.”
“Iya iya.. sabar ya Takaki-kun.. sebentar lagi sampai.”
Sementara Yamada dan Chinen tak memperdulikan apa yang dikeluhkan Yuya.
Mereka justru asik sendiri dengan dunia mereka seolah menganggap Yuya itu lalat.
Sekarang bahkan sejoli itu saling rangkulan. Tak mengasihani Yuya yang kini menggeram nista.
“Lagu Dear bagus. Aku suka.” Chinen menyamankan diri di pundak kekasihnya.
Yamada tersenyum penuh sayang mendapati sang kekasih menempel padanya. “Laguku selalu bagus ketika memikirkanmu.”
“My Girl juga ya?”
“Ya. My Girl itu laguku dan Dai-chan yang sedang memperebutkanmu.”
“Aku kan sudah milikmu~” Ujar Chinen seraya tertawa. Yamada tiba-tiba berdecak.
“bisa berhenti tertawa? Kau jadi lebih jelek, jelek, dan jelek!”
Tentu saja itu bohong. Karena maksud sebenarnya adalah Chinen Yuri menjadi sangat
indah bila mengembangkan bibirnya menjadi tawa. Semboyan Yamada dan Keito
selama ini benar. Bila Chinen bahagia dengan tertawa, akan membuat siapapun
yang melihatnya ikut bahagia. Kalau untuk Yamada, akan membuat hatinya berdebar
tak karuan hingga wajahnya memerah padam.
“Ya ya.. terserah Ryosuke.” Chinen lalu melirik usil. “Kalau aku jelek
berarti hari ini tak ada ciuman ya?”
“Hah? Apa-apaan itu?!”
Chinen kembali tertawa. “Karena aku jelek kan? Kau mau berciuman dengan
orang jelek?”
“Yang memutuskan untuk berciuman itu aku. Bukan kau, ingat? Aku berhak
menciummu kapan saja.” cetus Yamada dengan seringai. Chinen lantas merengut.
“Kau hanya mementingkan keinginanmu sendiri! Kau ego—ughnnn eunghh hnnn...!!”
.
“Pak Supir, kapan sampainya?” Yuya sudah menangis dalam hati menyaksikan
kedua rekannya berciuman mesra. Manajer dan sang Supir hanya tertawa maklum.
“Berhenti menciumku tiba-tiba!” keluh Chinen yang kini sedang di peluk
Yamada.
“Aku tidak akan berhenti sampai terkumpul seratus ribu ciuman.” Pelukan
mereka semakin erat. Dan tangis Yuya pun semakin pilu didalam hatinya.
=:=
Omong-omong, hukum karma itu nyata. Percayalah. Jangan pernah bertindak
bodoh karena pasti akan dapat akibatnya. Dan kini, Yamada Ryosuke sedang
menerima akibatnya.
.
.
“Apa benar Yamada-kun dan Chinen-kun memiliki hubungan khusus..?!”
“....”
“Katanya Yamada-kun dan Chinen-kun sering berciuman di bibir dan berpelukan
ya?”
“....”
“Kalian juga selalu terlihat menggunakan barang kembar. Terutama cincin
bahkan sikat gigi.”
“....”
“Yamada-kun dan Chinen-kun sering kencan sambil bergandengan tangan kan?”
Pertanyaan-pertanyaan para MC disana membuat Yamada ingin kabur dari ruang
syuting ZIP secepatnya. Namun itu tidak mungkin karena sekarang banyak sekali
kamera yang menyorot mereka bertiga! Sementara Yuya yang duduk agak di belakang
justru cengengesan bahkan bertepuk tangan.
‘Sialan kau, Yuya!!!’ Batin Yamada dongkol. Tapi ia berusaha menenangkan
diri sendiri. ‘Ini hanya ekting..
tenang... kau harus tenang Ryosuke....’
“Tidak, tidak.” Kata itu yang akhirnya terucap dari mulutnya. Yamada masih
memasang wajah biasa saja meskipun jantungnya sudah mau melompat keluar. “Itu
point pertama bohong! Yang pertama disebutkan itu bohong! Ya kan, Chinen?” Oh ayolah Yuri... bantu aku mengelak!
Chinen menatap kekasih disampingnya yang terlihat begitu panik. Ia hanya
tertawa dalam hati. “Iya. Itu hanya fanservice...” Ujarnya dengan tenang.
“Tapi banyak yang bilang bahwa kalian sering berciuman di konser maupun
privat...” sang MC perempuan lanjut menyudutkan. Jantung Yamada kembali ingin
meronta keluar. “E-ehh.. Kita tidak
pernah ciuman di konser ataupun di privat kok...!”
“Iya itu kan hanya fanservice!” sahut Chinen segera kemudian ia tertawa
canggung. Setidaknya membuat Yamada rileks sesaat. Namun Yuya di belakang
justru tertawa kencang.
“Bagaimana dengan cincin? Kalian sering terlihat menggunakan barang kembar
terutama cincin kan?”
Pertanyaan menyudutkan kembali. Yamada mulai tidak bisa mengontrol
wajahnya. Begitupula dengan Yuya yang dibelakang sudah cengar-cengir bejat.
“Ah.. itu... barang-barang itu dari pihak sponsor. Kami memang sering di
beri barang-barang kembar untuk melakukan promosi pada pemotretan. Tak hanya
aku dan Chinen kok.” Elak Yamada (lagi) seraya terkekeh garing.
“Hmm.. Kalau tidak salah cincin itu berhias batu ruby. Bukannya kalian
sama-sama memakainya di jari kelingking ketika konser Live With Me?”
Astaga... Yamada benar-benar ingin minggat dari sana
segera. “Maa.. begitulah. Cincin itu
juga dapat dari sponsor!”
“Lalu, tentang bergandengan tangan?” kali ini MC laki-laki yang bertanya,
menatap Chinen dengan intens, “katanya kalian selalu bergandengan tangan?”
“Bukan.. bukan bergandengan tapi lebih tepatnya Yamada berpegangan padaku.
Paling sering di elevator atau di lift karena dia takut ketinggian. Biar nggak
jatuh... begitu!”
Penjelasan Chinen lantas membuat tawa orang-orang di studio pecah. Yamada
dan Yuya bahkan bertepuk tangan. Sementara si mungil itu hanya menyeringai
santai.
Sankyu, Yuri! Terus bantu aku
mengelak! Ujar Yamada dalam hati
sembari melirik penuh sayang kekasihnya.
“Oh begitu... jadi Takaki-kun, apa pendapatmu mengenai hubungan mereka?”
Yuya yang ditatap para MC melirik bingung namun cengiran masih menghiasi
bibirnya. Kemudian tanpa berpikir dua kali, pemuda itu mencetus, “Berdasarkan member
dan apa yang kulihat sendiri, mereka memang sering berciuman dan bergandengan tangan!”
.
.
.
.
“DASAR TOLOL!!!!” Yamada sudah meninju Yuya berkali-kali didalam mobil jemputan.
“Akkhh!! Tenang dulu Yamada... aku kan—“
“KAU INI BENAR-BENAR DUNGU, YUYA!!! AKU MATI-MATIAN MENGELAK TAPI KAU
MEMBOCORKANNYA LAGI!!” Tinjuan yang ke-entah. Yamada masih saja melayangkan
kepalan tangannya pada Yuya. Meski tidak di wajah, tapi tetap saja membuat Yuya
sakit.
“Ssh.. Ryosuke.. tenanglah..!” Chinen menarik kekasihnya, mengajaknya duduk
dengan santai.
“Bagaimana aku bisa tenang, Yuri?! Aahh.. aku pasti dapat masalah habis
ini!”
“Ya, Yamada-kun.” Sang manajer langsung menyahut. “Kau akan dapat itu. Julie-san menonton ZIP tadi. Dan
dia sudah menunggu kalian di studio.”
“AKHHHH!! BAKA YARO!!” Kembali
Yamada meninju Yuya, lalu menjabak rambutnya sendiri dengan keras.
“Ryosuke, hentikan!” Chinen meraih tangan Yamada dan lalu menggenggamnya
erat. “Tenanglah.. kita akan baik-baik saja...”
“Tapi Yuri—“
“Tenang saja. Julie-san sudah bersumpah tidak akan macam-macam dengan kita
di privat. Lagipula, kau sendiri yang membuat perkara ini karena waktu itu
bilang menciumku 10 ribu kali!”
“Ugh..” Yamada merengut. Chinen tersenyum lembut dan memberi rengkuhan untuknya,
“Tenang saja...”
Yamada akhirnya mulai tenang, meski masih kesal dengan pemuda Osaka di
sebelah kanannya, namun Chinen pandai untuk menenangkan keadaan.
.
Sesampainya di studio, Yamada kembali merasa degdegan. Sama seperti di
studio ZIP tadi, jantungnya kini kembali ingin meronta keluar.
Disana sudah berkumpul member-member lain dan juga... supervisor Johnny’s
Entertainment yang sebentar lagi akan menjadi CEO, Julie Kitagawa.
“Yamada-kun,”
Suara heels nya yang berdentum di studio membuat tubuh Yamada menegang
sempurna.
“Aku baru saja menonton wawancara kalian bertiga.” Julie menatap Yamada dengan
sinis, “kau tahu peraturannya, Yamada-kun. Tidak boleh ada YamaChine di
Johnny’s. Tidak. Boleh. Ada.”
“Maafkan saya...” Yamada menunduk dalam.
Wanita itu lalu menatap Chinen yang kerap menundukan kepalanya, Julie lantas tersenyum ironi. “Tapi tak apa.... Aku punya rencana lain,” ia kini
menoleh pada Yuto, lalu lanjut berkata. “Dua hari lagi konser kalian di adakan,
selama 3 hari konser... Yuto dan Yamada-kun harus melakukan fanservice ciuman di
setiap konser. Dan nanti akan di masukan dalam DVD.”
Ucapan itu bagai pukulan sadis di ulu hati Chinen. Gendang telinganya seketika menuli.
“Yuto, lakukan aksimu seperti biasa...” Julie mendekat pada pemuda paling
tinggi di grup, mengelus pipinya dengan mata memincing. “Aku mengandalkanmu.
YamaJima akan membuatmu sangat populer...”
Yuto hanya bungkam, tak berniat mengiyakan ucapan supervisornya—penyelamatnya
di agensi serta orang yang paling mendukungnya di agensi—Bahkan sekedar
mengenyahkan tangan wanita itu di pipinyapun Yuto enggan. Ia hanya meremas kedua
tangannya di samping dengan tatapan tak terbaca.
“Bagaimana kalau aku saja, Julie-san?” Yabu tiba-tiba mencetus. “Julie-san
suka YabuHika kan?”
“Ah, boleh juga.”
Hikaru menahan jijik dalam hatinya. Karena bagaimanapun juga dia tidak pernah
menganggap Yabu dan dirinya sebagaimana Yamada dan Chinen.
“Baiklah.. aku akan melakukan fanservice dengan Hikaru. Full hanya
dengannya saja.” Ujar Yabu kembali namun Julie sedikit mencemooh. “Itu bagus.
Lakukan hanya dengan Hikaru-kun. Jangan dengan Inoo-kun. Rebut kembali masa
kejayaan kalian seperti di Ya Ya Yah dulu.”
Keadaan di studio semakin tegang.
“Tapi aku tetap mengandalkanmu, Yuto. Aku tahu kau sangat ahli untuk
melumpuhkan hati para fujoshi di luar sana. Bermesraanlah yang hebat dengan
Yamada-kun dipanggung nanti.” Julie kembali menatap Yuto.
Setalah berperang melawan lubuk hatinya, barulah Yuto buka suara. “Aku
tidak mau.”
Heels Julie dihentakkan begitu saja. Ketegangan semakin menjadi-jadi. “Apa
maksudmu, Yuto?! Kau ti—“
“Bukan begitu, Julie-san. A-aku.. sungguh, aku tidak mau melakukan itu
sekarang! Ku mohon...”
“Yuto!” Julie sudah nyaris mencela namun Yabu bergegas menangkasnya. “Begini
saja Julie-san... aku akan membicarakan tentang kemesraan YamaJima nanti di
konser.”
“Diam kau Yabu! Aku tidak peduli denganmu!!” Bentak Julie seraya menuding
Yabu. Wanita sialan itu kembali menatap Yuto, alisnya menukik namun matanya
memelas. “Yuto.. kau tidak mau terkenal? Kau tidak mau kembali keposisimu
sebagai center? Sebentar lagi aku
menjadi CEO, aku akan membuatmu menjadi center
lagi, Yuto! Untuk itu sekarang kau masih harus bersabar dengan berme—“
“Aku saja yang melakukannya!”
Semua mata lantas menatap Keito.
“Oh.. Okamoto-kun? Kau ingin terkenal?”
Yamada benar-benar ingin merobek mulut wanita itu.
“Ya. Aku akan bermesraan dengan Yama-chan di konser nanti. Asal jangan
paksa Yuto dulu.” Ujar Keito, suaranya cukup bergetar.
“Hmm.. boleh juga. Baiklah.” Julie kembali memberi cemoohan. “Tidak hanya
bermesraan. Tapi berciuman.”
“!”
“10 ribu kali ciuman.”
Bajingan!! Yamada sudah menjerit murka dalam hati.
“Ahahah.. aku bercanda. Nol nya dihilangkan. Tapi yang harus memulainya
lebih dulu harus Yamada-kun lalu Okamato-kun yang harus memberikan kesan
mesranya. Aku akan meminta staff untuk menyorot itu sangat jelas lalu di
masukan DVD.”
Mereka semua hanya bisa pasrah.
“Kau mengerti Yamada-kun? Cium Okamoto-kun nanti di konser. Jangan sampai
mencium Chinenmu itu di panggung. Aku sudah memberi keringanan pada kalian
di privat. Tapi tidak dengan di publik.”
“Julie-san!” Chinen—dengan entah pembawaan yang bagaimana—tiba-tiba membuka
suara. “Kenapa kau tidak.. menyukai kami?”
Semua member merutuk dalam hati, mereka bahkan tidak menyangka Chinen akan
bicara pada Julie mengingat biasanya si bungsu itu hanya diam dihadapannya.
Wanita di sana lantas tertawa bising, lalu ia mendekat pada Chinen yang lebih
pendek 20 centi dengannya. “Kau masih saja bertanya, huh, Chinen-kun?”
Yamada menarik tangan Yuri-nya untuk mundur, namun Chinen tak bergeming.
“Julie-san tidak mengatakan jawabannya dengan jelas.”
Tawa iblis kembali terdengar. “Bukannya sudah jelas? Aku membencimu.”
Raut terluka langsung tertera di wajah Chinen. Kupingnya kembali mencacat
saat Julie lanjut berkata. “Aku membenci semua tingkahmu. Kau bukanlah idola yang sesungguhnya. Kau hanya mengandalkan Ohno-kun di agensi ini. Suaramu tidak
bagus. Ektingmu payah. Dan yang lebih menyebalkannya lagi... kau, dan Yamadamu
ini... telah menurunkan pamor anak
kesayanganku.”
“Julie-san—“
“Apa kau tahu aku bisa memecatmu kapan saja, huh? Berhenti bersikap seolah
kau akan mendapat apa yang kau mau karena Johnny’s Entertainment bukanlah
milikmu...!”
“Julie-san, cukup!!!” Yamada tak tahan untuk membentak. Tangannya sudah
mencengkram Chinen untuk membawa member termuda itu ke belakang tubuhnya.
“Jangan pernah menyakiti Chinen. Aku akan melakukan apapun yang kau suruh untuk
publik. Ekting, bernyanyi, fanservice dengan siapapun, atau terserah! Asal jangan
pernah menyentuh Chinen dan aku, di kehidupan privat kami.”
Julie kembali tertawa. “Nah, nah.. kau lihat, Chinen-kun? Inilah yang
paling kubenci dari dirimu. Karena kau mendapat perlindungan dari orang yang
merebut perhatian fans hanya karena ekting.”
Urat marah sudah muncul di dahi Yuya dan Hikaru sejak tadi. Namun mereka
semua masih menahan diri.
“Tapi yasudahlah. Kalian kubiarkan bebas kali ini. Nah, lanjutkan latihan
kalian. Jangan lupa.. aku menunggu aksi ciuman OkaYama dan YabuHika di panggung
nanti. Oh, ya Yabu-kun.. kau sudah bilang untuk bercerita tentang YamaJima
juga. Buktikan itu!”
“Baik...” sahut Yabu lirih sebelum akhirnya nenek sihir itu enyah dari
studio mereka.
.
“Yuri...!” Yamada langsung memeluk Chinen, memeluk begitu erat. Ia mencoba menghentikan
getar di tubuh Yuri-nya namun sia-sia. Si mungil itu masih terlalu syok.
BRAK!
Perhatian member beralih pada Yuto yang tiba-tiba keluar ruangan dengan
membanting pintu. Yabu terduduk lemas. Member lainpun ikut melemas.
Manajer kemudian angkat bicara. “Aku sudah mengatakan ini berkali-kali, Yamada. Jangan terlalu over.”
“Ken-san, bisa kita tidak bahas itu dulu? Aku ingin bicara dengan Yuri
di luar.” Member utama itu lalu juga keluar ruangan seraya merengkuh Yurinya.
=:=
“Sshh.. jangan nangis...” Yamada mengelus pundak Chinen
berkali-kali, mereka kini tengah duduk di taman dekat studio latihan.
“A-aku.. aku tak tahu Julie-san sebegitu bencinya denganku..”
“Sshh.. tidak. Tidak ada yang membencimu, Yuri. Tidak ada. Aku, member
lain, serta manajer sangat menyukaimu. Fansmu-pun begitu.”
“Fansku? Mereka bahkan melempari—“
“Hei...” kembali Yamada memeluk Chinen, membuatnya tak melanjutkan
perkataan. “Hentikan. Jangan pernah menyalahkan dirimu.”
Langsung saja—di pelukan kekasihnya—Chinen Yuri menangis dengan begitu
puas. Yamada masih terus merengkuh Chinen dengan penuh sayang. Dalam hati ia
bertekat takan membiarkan siapapun menyakiti Chinen kembali.
Itu yang terakhir, Julie Kitawaga!
Takkan ku biarkan kau menyakiti Yuri-ku lagi! Tidak akan!!
=:=
Konser DEAR-pun diadakan. Selama 3 hari melaksanakan konser, Yamada berhasil
menepati janji untuk fanservice-an dengan Keito. Yakni menciumnya di bibir. Dan
Yabu-pun demikian terhadap Hikaru. Ia juga menceritakan tentang momen YamaJima
ketika MC.
Yamada cukup kaget ketika leadernya itu mengambil topik mengenai ciuman.
Tapi tenang saja, topengnya ia pasang dengan baik. Sehingga hanya kekehan dan
candaan kasual ketika merespon itu.
.
.
.
“Kau tahu dengan pasti, hanya Chinen yang bisa merasakan bibirku dengan
puas, Yabu-kun.” Ujar Yamada ketika di backstage untuk berganti kostum. Yabu
hanya tertawa getas. “Sabarlah. Buka topengmu nanti setelah konser berakhir.”
“Tentu saja. Topengku masih terpasang. Dan omong-omong, pacarmu melakukan
hal idiot lagi. Kutebak karena dia terlalu cemburu melihat aksimu dengan
Hikaru.”
“Yah, dia memang begitu.”
“Aku tak menyangka Inoo-chan hendak menciumku. Dasar idiot.”
“Cuekkan saja. Asal tidak kau tanggapi, dia tidak akan meliar seperti dia
ke-Dai-chan atau ke-Yuya.”
Mereka lantas tertawa bersama.
.
Setelah 3 hari konser terlaksanakan, lagi-lagi hanya Yamada, Chinen dan
Yuya yang disuruh promosi mengenai konser di ZIP sebelum esok harinya semua
member melakukan promosi di Mezamashi Terebi.
“Yuri, jam tangan Rolex yang kubelikan untukmu waktu itu, kau pakai kan?”
Chinen tersenyum manis seraya menjinjing lengannya yang terikat jam tangan
perak bermerek Rolex. “Iya kupakai. Kemarin kau menggebu-gebu menyuruhku memakai
ini.”
Yamada hanya terkekeh.
“Ryosuke... kalau ketahuan lagi bagaimana??” Chinen mulai wawas. “Nanti
kita akan di—ughmm...“
Yamada kembali terkekeh. Chinen memutar bola matanya. “Ya terus saja. Terus
menciumku tiba-tiba! Puas, huh?”
Cengiran Yamada belum hilang, ia malah mengelus pipi kekasihnya. “Tenang
saja. Modelnya kan beda. Hanya orang jeli yang mungkin menyadarinya.”
Staff kemudian berteriak untuk mulai memasuki studio ZIP.
Untung sekali sang MC tidak membicarakan tentang Yamada dan Chinen. Ia
lebih menanyakan tentang umur dan karir Hey!Say!JUMP. Yamada sudah tidak tenang
selama di interview, takut salah kata. Begitupun Yuya yang takut untuk
keceplosan kembali. Namun untungnya tidak.
Selesai syuting di studio, Yamada izin untuk ke kamar kecil sebentar. Tanpa
ia sadari, Chinen mengikut di belakangnya.
“Yuri... harusnya kau tak ikut kesini.”
Chinen menaikan satu alisnya. “Kenapa?”
“Ck! Buka!”
“Heh?”
“Buka kerah bajunyaaa~!!”
Chinen terlalu bingung untuk mengerti apa maksud kekasihnya sampai kemudian
Yamada menanggalkan anak kancing kemeja putih yang Chinen kenakan. Dan
dengan tiba-tiba, Yamada mendekatkan wajahnya untuk menghirup dada Chinen.
“Akh.. Ryo-ryosuke..!! Ini masih di tempat kerja.. akhhnn... Ryo—“
Percuma. Menghentikan Yamada yang sedang asik dengan dada kekasihnya adalah hal percuma. Sampai akhirnya Yuya datang....
“ASTAGA, KALIAN!!!”
...baru kegiatan Yamada terhenti.
“Cepat keluar!! Masih ada interview lagi!” Seru pemuda gondrong itu. Yamada
lantas memekik. “MASIH ADA?! Bukannya sudah selesai?”
“Masiiih!! Makanya jangan... Ck! Sudahlah cepat!”
Chinen dengan buru-buru mengancingi kembali kemejanya, namun tidak ada
waktu untuk mengancingi semuanya.
“Bagaimana dengan.. adikku?” Yamada memelas. Chinen memilirik adik Yamada yang—oh shit mulai besar—dan lalu memisuh.
“Hiiisshh! Kalian menyusahkan saja!” Yuya semakin kesal. “Konsentrasi!
Jangan terlalu horny, Yamada!! Dia
pasti mengecil.”
“A-akan kucoba!”
Dan setelah menenangkan diri sejenak, Yamada junior akhirnya sedikit turun sehingga tidak terlalu menggembung. Mereka kemudian keluar dari toilet untuk segera di wawancarai kembali mode berdiri.
.
.
.
.
Setelah selesai interview dan segala macam tetek bengeknya, Yamada dengan brutal
menyeret Chinen untuk bermalam di apartemennya.
“Yuri, lanjutkan yang tadi!”
.
.
.
.
THE END
A/N : Yuhuuuuu~ 3 lagu favorit di
album Dear akan saya buat semua jadi fanfic. Yang utama tentu aja Masquarade karena... jidat Chinen di PV mengalahkan semua lagu yang ada *ea* wkwk dan diusahakan CANON serta based
on FAKTA. Yeah~ karena YamaChii is real broh. Yang lain cuma laler *kata Karu*
lolsss X’D Ohya lagu Dear sebenernya bukan buatan Yamada tapi konsep album dan konsep Dear dibuat Yamada jadi anggap aja Ya,ada turun tangan bikin lagu Dear. (btw, 'adik' bisa mengecil tanpa dikeluarin dulu 'itu'nya ga sih? Bisa aja
deh ya. Biasaiiiin hahaa)

0 komentar:
Posting Komentar