Kamis, 04 Agustus 2016

MASQUERADE

Diposting oleh Kiwokchwan di 09.05
Judul: Topeng

Author: Kiwok                                                                                

Pair: YAMACHINEN FOREVER

Genre: Romance

Summary: Chinen lagi-lagi harus bersabar ketika Yamada memainkan perannya. Karena kekasihnya adalah idol yang sesungguhnya. Karena topeng itu tak mudah dipecahkan begitu saja..

Note: DIBACA SAMBIL DENGERIN MASQUERADE!!!

PokemonGo!

.

.

.

.

Di studio latihan milik Hey!Say!JUMP, Yamada Ryosuke dilanda bingung karena hanya dirinya, Chinen, dan Yuya yang datang. Bahkan sekarang mereka disuruh menghadiri ZIP untuk promosi album DEAR.

Shikatanai deshou? Yaotome-kun dan Arioka-kun syuting Hirunandesu, Inoo-kun syuting Merengue, Nakajima-kun syuting movienya, sementara Yabu-kun dan Okamoto-kun di panggil Johnny-san ke jimusho. Mau tak mau hanya kalian bertiga.” Jelas sang Ishizaki Ken selaku Manajer. Yuya lantas menyimpulkan, “Berarti hanya kita yang nganggur, begitu?”

“Begitulah.”

Yamada ingin langsung memukul manajernya kalau ia sedang dalam keadaan marah. Yang benar saja, Yamada Ryosuke nganggur?! Mereka kira Yamada pakai perhiasan atau make-up tebal setiap hari itu apa namanya kalau bukan kerja!? Namun sekarang hatinya sedang senang sehingga ia hanya memutar bohlam matanya.

“Ken-san, Ryosuke marah dibilang nganggur.”  Chinen menyeletuk tiba-tiba, membuat pinggulnya disikut sang kekasih.

Si mungil itu jutsru tertawa ringan. Yamada yang melihat tawa itu mau tak mau mencubit pipi Chinen dengan gemas. “Jangan tertawa!”

“Tehehehe.. kenapa memangnya?”

“Kau jadi jelek!”

“Ohya? Make Up-in dong, biar cantik seperti Ryosuke.”

Sialan! Suatu kesalahan beradu argumen dengan kekasihnya. Malah Yuya yang kini terpingkal.

“Sudahlah! Ayo kalian naik ke van. Kita akan segera ke lokasi.” Komando manajer. Mereka segera bergegas menaiki jemputan yang disediakan.

=:=

“Ken-san, kau tahu apa itu ‘kejam’?” Yuya bertanya pada manajer yang duduk di depan—di sebelah supir mereka.

“Sepertinya aku tahu, Takaki-kun. Bersabarlah.”

“Aku tidak masalah jika bertiga dengan Yabu-kun dan Yuto. Atau dengan yang lainnya. Asal jangan dengan Yamada dan Chinen.”

“Iya iya.. sabar ya Takaki-kun.. sebentar lagi sampai.”

Sementara Yamada dan Chinen tak memperdulikan apa yang dikeluhkan Yuya. Mereka justru asik sendiri dengan dunia mereka seolah menganggap Yuya itu lalat. Sekarang bahkan sejoli itu saling rangkulan. Tak mengasihani Yuya yang kini menggeram nista.

“Lagu Dear bagus. Aku suka.” Chinen menyamankan diri di pundak kekasihnya. Yamada tersenyum penuh sayang mendapati sang kekasih menempel padanya. “Laguku selalu bagus ketika memikirkanmu.”

“My Girl juga ya?”

“Ya. My Girl itu laguku dan Dai-chan yang sedang memperebutkanmu.”

“Aku kan sudah milikmu~” Ujar Chinen seraya tertawa. Yamada tiba-tiba berdecak. “bisa berhenti tertawa? Kau jadi lebih jelek, jelek, dan jelek!”

Tentu saja itu bohong. Karena maksud sebenarnya adalah Chinen Yuri menjadi sangat indah bila mengembangkan bibirnya menjadi tawa. Semboyan Yamada dan Keito selama ini benar. Bila Chinen bahagia dengan tertawa, akan membuat siapapun yang melihatnya ikut bahagia. Kalau untuk Yamada, akan membuat hatinya berdebar tak karuan hingga wajahnya memerah padam.

“Ya ya.. terserah Ryosuke.” Chinen lalu melirik usil. “Kalau aku jelek berarti hari ini tak ada ciuman ya?”

“Hah? Apa-apaan itu?!”

Chinen kembali tertawa. “Karena aku jelek kan? Kau mau berciuman dengan orang jelek?”

“Yang memutuskan untuk berciuman itu aku. Bukan kau, ingat? Aku berhak menciummu kapan saja.” cetus Yamada dengan seringai. Chinen lantas merengut. “Kau hanya mementingkan keinginanmu sendiri! Kau ego—ughnnn eunghh hnnn...!!”

.

“Pak Supir, kapan sampainya?” Yuya sudah menangis dalam hati menyaksikan kedua rekannya berciuman mesra. Manajer dan sang Supir hanya tertawa maklum.

“Berhenti menciumku tiba-tiba!” keluh Chinen yang kini sedang di peluk Yamada.

“Aku tidak akan berhenti sampai terkumpul seratus ribu ciuman.” Pelukan mereka semakin erat. Dan tangis Yuya pun semakin pilu didalam hatinya.

=:=

Omong-omong, hukum karma itu nyata. Percayalah. Jangan pernah bertindak bodoh karena pasti akan dapat akibatnya. Dan kini, Yamada Ryosuke sedang menerima akibatnya.

.

“Apa benar Yamada-kun dan Chinen-kun memiliki hubungan khusus..?!”

“....”

“Katanya Yamada-kun dan Chinen-kun sering berciuman di bibir dan berpelukan ya?”

“....”

“Kalian juga selalu terlihat menggunakan barang kembar. Terutama cincin bahkan sikat gigi.”

“....”

“Yamada-kun dan Chinen-kun sering kencan sambil bergandengan tangan kan?”

Pertanyaan-pertanyaan para MC disana membuat Yamada ingin kabur dari ruang syuting ZIP secepatnya. Namun itu tidak mungkin karena sekarang banyak sekali kamera yang menyorot mereka bertiga! Sementara Yuya yang duduk agak di belakang justru cengengesan bahkan bertepuk tangan.

‘Sialan kau, Yuya!!!’ Batin Yamada dongkol. Tapi ia berusaha menenangkan diri sendiri. ‘Ini hanya ekting.. tenang... kau harus tenang Ryosuke....’

“Tidak, tidak.” Kata itu yang akhirnya terucap dari mulutnya. Yamada masih memasang wajah biasa saja meskipun jantungnya sudah mau melompat keluar. “Itu point pertama bohong! Yang pertama disebutkan itu bohong! Ya kan, Chinen?Oh ayolah Yuri... bantu aku mengelak!

Chinen menatap kekasih disampingnya yang terlihat begitu panik. Ia hanya tertawa dalam hati. “Iya. Itu hanya fanservice...” Ujarnya dengan tenang.

“Tapi banyak yang bilang bahwa kalian sering berciuman di konser maupun privat...” sang MC perempuan lanjut menyudutkan. Jantung Yamada kembali ingin meronta keluar. “E-ehh.. Kita tidak pernah ciuman di konser ataupun di privat kok...!”

“Iya itu kan hanya fanservice!” sahut Chinen segera kemudian ia tertawa canggung. Setidaknya membuat Yamada rileks sesaat. Namun Yuya di belakang justru tertawa kencang.

“Bagaimana dengan cincin? Kalian sering terlihat menggunakan barang kembar terutama cincin kan?”

Pertanyaan menyudutkan kembali. Yamada mulai tidak bisa mengontrol wajahnya. Begitupula dengan Yuya yang dibelakang sudah cengar-cengir bejat.

“Ah.. itu... barang-barang itu dari pihak sponsor. Kami memang sering di beri barang-barang kembar untuk melakukan promosi pada pemotretan. Tak hanya aku dan Chinen kok.” Elak Yamada (lagi) seraya terkekeh garing.

“Hmm.. Kalau tidak salah cincin itu berhias batu ruby. Bukannya kalian sama-sama memakainya di jari kelingking ketika konser Live With Me?”

Astaga... Yamada benar-benar ingin minggat dari sana segera. “Maa.. begitulah. Cincin itu juga dapat dari sponsor!”

“Lalu, tentang bergandengan tangan?” kali ini MC laki-laki yang bertanya, menatap Chinen dengan intens, “katanya kalian selalu bergandengan tangan?”

“Bukan.. bukan bergandengan tapi lebih tepatnya Yamada berpegangan padaku. Paling sering di elevator atau di lift karena dia takut ketinggian. Biar nggak jatuh... begitu!”

Penjelasan Chinen lantas membuat tawa orang-orang di studio pecah. Yamada dan Yuya bahkan bertepuk tangan. Sementara si mungil itu hanya menyeringai santai.

Sankyu, Yuri! Terus bantu aku mengelak! Ujar Yamada dalam hati sembari melirik penuh sayang kekasihnya.

“Oh begitu... jadi Takaki-kun, apa pendapatmu mengenai hubungan mereka?”

Yuya yang ditatap para MC melirik bingung namun cengiran masih menghiasi bibirnya. Kemudian tanpa berpikir dua kali, pemuda itu mencetus, “Berdasarkan member dan apa yang kulihat sendiri, mereka memang sering berciuman dan bergandengan tangan!”

.

.

.

.

“DASAR TOLOL!!!!” Yamada sudah meninju Yuya berkali-kali didalam mobil jemputan.

“Akkhh!! Tenang dulu Yamada... aku kan—“

“KAU INI BENAR-BENAR DUNGU, YUYA!!! AKU MATI-MATIAN MENGELAK TAPI KAU MEMBOCORKANNYA LAGI!!” Tinjuan yang ke-entah. Yamada masih saja melayangkan kepalan tangannya pada Yuya. Meski tidak di wajah, tapi tetap saja membuat Yuya sakit.

“Ssh.. Ryosuke.. tenanglah..!” Chinen menarik kekasihnya, mengajaknya duduk dengan santai.

“Bagaimana aku bisa tenang, Yuri?! Aahh.. aku pasti dapat masalah habis ini!”

“Ya, Yamada-kun.” Sang manajer langsung menyahut. “Kau akan dapat itu. Julie-san menonton ZIP tadi. Dan dia sudah menunggu kalian di studio.”

“AKHHHH!! BAKA YARO!!” Kembali Yamada meninju Yuya, lalu menjabak rambutnya sendiri dengan keras.

“Ryosuke, hentikan!” Chinen meraih tangan Yamada dan lalu menggenggamnya erat. “Tenanglah.. kita akan baik-baik saja...”

“Tapi Yuri—“

“Tenang saja. Julie-san sudah bersumpah tidak akan macam-macam dengan kita di privat. Lagipula, kau sendiri yang membuat perkara ini karena waktu itu bilang menciumku 10 ribu kali!”

“Ugh..” Yamada merengut. Chinen tersenyum lembut dan memberi rengkuhan untuknya, “Tenang saja...”

Yamada akhirnya mulai tenang, meski masih kesal dengan pemuda Osaka di sebelah kanannya, namun Chinen pandai untuk menenangkan keadaan.

.

Sesampainya di studio, Yamada kembali merasa degdegan. Sama seperti di studio ZIP tadi, jantungnya kini kembali ingin meronta keluar.

Disana sudah berkumpul member-member lain dan juga... supervisor Johnny’s Entertainment yang sebentar lagi akan menjadi CEO, Julie Kitagawa.

“Yamada-kun,”

Suara heels nya yang berdentum di studio membuat tubuh Yamada menegang sempurna.

“Aku baru saja menonton wawancara kalian bertiga.” Julie menatap Yamada dengan sinis, “kau tahu peraturannya, Yamada-kun. Tidak boleh ada YamaChine di Johnny’s. Tidak. Boleh. Ada.”

“Maafkan saya...” Yamada menunduk dalam.

Wanita itu lalu menatap Chinen yang kerap menundukan kepalanya, Julie lantas tersenyum ironi. “Tapi tak apa.... Aku punya rencana lain,” ia kini menoleh pada Yuto, lalu lanjut berkata. “Dua hari lagi konser kalian di adakan, selama 3 hari konser... Yuto dan Yamada-kun harus melakukan fanservice ciuman di setiap konser. Dan nanti akan di masukan dalam DVD.”

Ucapan itu bagai pukulan sadis di ulu hati Chinen. Gendang telinganya seketika menuli.

“Yuto, lakukan aksimu seperti biasa...” Julie mendekat pada pemuda paling tinggi di grup, mengelus pipinya dengan mata memincing. “Aku mengandalkanmu. YamaJima akan membuatmu sangat populer...”

Yuto hanya bungkam, tak berniat mengiyakan ucapan supervisornya—penyelamatnya di agensi serta orang yang paling mendukungnya di agensi—Bahkan sekedar mengenyahkan tangan wanita itu di pipinyapun Yuto enggan. Ia hanya meremas kedua tangannya di samping dengan tatapan tak terbaca.

“Bagaimana kalau aku saja, Julie-san?” Yabu tiba-tiba mencetus. “Julie-san suka YabuHika kan?”

“Ah, boleh juga.”

Hikaru menahan jijik dalam hatinya. Karena bagaimanapun juga dia tidak pernah menganggap Yabu dan dirinya sebagaimana Yamada dan Chinen.

“Baiklah.. aku akan melakukan fanservice dengan Hikaru. Full hanya dengannya saja.” Ujar Yabu kembali namun Julie sedikit mencemooh. “Itu bagus. Lakukan hanya dengan Hikaru-kun. Jangan dengan Inoo-kun. Rebut kembali masa kejayaan kalian seperti di Ya Ya Yah dulu.”

Keadaan di studio semakin tegang.

“Tapi aku tetap mengandalkanmu, Yuto. Aku tahu kau sangat ahli untuk melumpuhkan hati para fujoshi di luar sana. Bermesraanlah yang hebat dengan Yamada-kun dipanggung nanti.” Julie kembali menatap Yuto.

Setalah berperang melawan lubuk hatinya, barulah Yuto buka suara. “Aku tidak mau.”

Heels Julie dihentakkan begitu saja. Ketegangan semakin menjadi-jadi. “Apa maksudmu, Yuto?! Kau ti—“

“Bukan begitu, Julie-san. A-aku.. sungguh, aku tidak mau melakukan itu sekarang! Ku mohon...”

“Yuto!” Julie sudah nyaris mencela namun Yabu bergegas menangkasnya. “Begini saja Julie-san... aku akan membicarakan tentang kemesraan YamaJima nanti di konser.”

“Diam kau Yabu! Aku tidak peduli denganmu!!” Bentak Julie seraya menuding Yabu. Wanita sialan itu kembali menatap Yuto, alisnya menukik namun matanya memelas. “Yuto.. kau tidak mau terkenal? Kau tidak mau kembali keposisimu sebagai center? Sebentar lagi aku menjadi CEO, aku akan membuatmu menjadi center lagi, Yuto! Untuk itu sekarang kau masih harus bersabar dengan berme—“

“Aku saja yang melakukannya!” 

Semua mata lantas menatap Keito.

“Oh.. Okamoto-kun? Kau ingin terkenal?”

Yamada benar-benar ingin merobek mulut wanita itu.

“Ya. Aku akan bermesraan dengan Yama-chan di konser nanti. Asal jangan paksa Yuto dulu.” Ujar Keito, suaranya cukup bergetar.

“Hmm.. boleh juga. Baiklah.” Julie kembali memberi cemoohan. “Tidak hanya bermesraan. Tapi berciuman.”

“!”

“10 ribu kali ciuman.”

Bajingan!! Yamada sudah menjerit murka dalam hati.

“Ahahah.. aku bercanda. Nol nya dihilangkan. Tapi yang harus memulainya lebih dulu harus Yamada-kun lalu Okamato-kun yang harus memberikan kesan mesranya. Aku akan meminta staff untuk menyorot itu sangat jelas lalu di masukan DVD.”

Mereka semua hanya bisa pasrah.

“Kau mengerti Yamada-kun? Cium Okamoto-kun nanti di konser. Jangan sampai mencium Chinenmu itu di panggung. Aku sudah memberi keringanan pada kalian di privat. Tapi tidak dengan di publik.”

“Julie-san!” Chinen—dengan entah pembawaan yang bagaimana—tiba-tiba membuka suara. “Kenapa kau tidak.. menyukai kami?”

Semua member merutuk dalam hati, mereka bahkan tidak menyangka Chinen akan bicara pada Julie mengingat biasanya si bungsu itu hanya diam dihadapannya. Wanita di sana lantas tertawa bising, lalu ia mendekat pada Chinen yang lebih pendek 20 centi dengannya. “Kau masih saja bertanya, huh, Chinen-kun?”

Yamada menarik tangan Yuri-nya untuk mundur, namun Chinen tak bergeming. “Julie-san tidak mengatakan jawabannya dengan jelas.”

Tawa iblis kembali terdengar. “Bukannya sudah jelas? Aku membencimu.”

Raut terluka langsung tertera di wajah Chinen. Kupingnya kembali mencacat saat Julie lanjut berkata. “Aku membenci semua tingkahmu. Kau bukanlah idola yang sesungguhnya. Kau hanya mengandalkan Ohno-kun di agensi ini. Suaramu tidak bagus. Ektingmu payah. Dan yang lebih menyebalkannya lagi... kau, dan Yamadamu ini... telah menurunkan pamor anak kesayanganku.”

“Julie-san—“

“Apa kau tahu aku bisa memecatmu kapan saja, huh? Berhenti bersikap seolah kau akan mendapat apa yang kau mau karena Johnny’s Entertainment bukanlah milikmu...!”

“Julie-san, cukup!!!” Yamada tak tahan untuk membentak. Tangannya sudah mencengkram Chinen untuk membawa member termuda itu ke belakang tubuhnya. “Jangan pernah menyakiti Chinen. Aku akan melakukan apapun yang kau suruh untuk publik. Ekting, bernyanyi, fanservice dengan siapapun, atau terserah! Asal jangan pernah menyentuh Chinen dan aku, di kehidupan privat kami.”

Julie kembali tertawa. “Nah, nah.. kau lihat, Chinen-kun? Inilah yang paling kubenci dari dirimu. Karena kau mendapat perlindungan dari orang yang merebut perhatian fans hanya karena ekting.”

Urat marah sudah muncul di dahi Yuya dan Hikaru sejak tadi. Namun mereka semua masih menahan diri.

“Tapi yasudahlah. Kalian kubiarkan bebas kali ini. Nah, lanjutkan latihan kalian. Jangan lupa.. aku menunggu aksi ciuman OkaYama dan YabuHika di panggung nanti. Oh, ya Yabu-kun.. kau sudah bilang untuk bercerita tentang YamaJima juga. Buktikan itu!”

“Baik...” sahut Yabu lirih sebelum akhirnya nenek sihir itu enyah dari studio mereka.

.

“Yuri...!” Yamada langsung memeluk Chinen, memeluk begitu erat. Ia mencoba menghentikan getar di tubuh Yuri-nya namun sia-sia. Si mungil itu masih terlalu syok.

BRAK!

Perhatian member beralih pada Yuto yang tiba-tiba keluar ruangan dengan membanting pintu. Yabu terduduk lemas. Member lainpun ikut melemas.

Manajer kemudian angkat bicara. “Aku sudah mengatakan ini berkali-kali, Yamada. Jangan terlalu over.”

“Ken-san, bisa kita tidak bahas itu dulu? Aku ingin bicara dengan Yuri di luar.” Member utama itu lalu juga keluar ruangan seraya merengkuh Yurinya.

=:=

“Sshh.. jangan nangis...” Yamada mengelus pundak Chinen berkali-kali, mereka kini tengah duduk di taman dekat studio latihan.

“A-aku.. aku tak tahu Julie-san sebegitu bencinya denganku..”

“Sshh.. tidak. Tidak ada yang membencimu, Yuri. Tidak ada. Aku, member lain, serta manajer sangat menyukaimu. Fansmu-pun begitu.”

“Fansku? Mereka bahkan melempari—“

“Hei...” kembali Yamada memeluk Chinen, membuatnya tak melanjutkan perkataan. “Hentikan. Jangan pernah menyalahkan dirimu.”

Langsung saja—di pelukan kekasihnya—Chinen Yuri menangis dengan begitu puas. Yamada masih terus merengkuh Chinen dengan penuh sayang. Dalam hati ia bertekat takan membiarkan siapapun menyakiti Chinen kembali.

Itu yang terakhir, Julie Kitawaga! Takkan ku biarkan kau menyakiti Yuri-ku lagi! Tidak akan!!

=:=

Konser DEAR-pun diadakan. Selama 3 hari melaksanakan konser, Yamada berhasil menepati janji untuk fanservice-an dengan Keito. Yakni menciumnya di bibir. Dan Yabu-pun demikian terhadap Hikaru. Ia juga menceritakan tentang momen YamaJima ketika MC.

Yamada cukup kaget ketika leadernya itu mengambil topik mengenai ciuman. Tapi tenang saja, topengnya ia pasang dengan baik. Sehingga hanya kekehan dan candaan kasual ketika merespon itu.

.

.

.

“Kau tahu dengan pasti, hanya Chinen yang bisa merasakan bibirku dengan puas, Yabu-kun.” Ujar Yamada ketika di backstage untuk berganti kostum. Yabu hanya tertawa getas. “Sabarlah. Buka topengmu nanti setelah konser berakhir.”

“Tentu saja. Topengku masih terpasang. Dan omong-omong, pacarmu melakukan hal idiot lagi. Kutebak karena dia terlalu cemburu melihat aksimu dengan Hikaru.”

“Yah, dia memang begitu.”

“Aku tak menyangka Inoo-chan hendak menciumku. Dasar idiot.”

“Cuekkan saja. Asal tidak kau tanggapi, dia tidak akan meliar seperti dia ke-Dai-chan atau ke-Yuya.”

Mereka lantas tertawa bersama.

.

Setelah 3 hari konser terlaksanakan, lagi-lagi hanya Yamada, Chinen dan Yuya yang disuruh promosi mengenai konser di ZIP sebelum esok harinya semua member melakukan promosi di Mezamashi Terebi.

“Yuri, jam tangan Rolex yang kubelikan untukmu waktu itu, kau pakai kan?”

Chinen tersenyum manis seraya menjinjing lengannya yang terikat jam tangan perak bermerek Rolex. “Iya kupakai. Kemarin kau menggebu-gebu menyuruhku memakai ini.”

Yamada hanya terkekeh.

“Ryosuke... kalau ketahuan lagi bagaimana??” Chinen mulai wawas. “Nanti kita akan di—ughmm...

Yamada kembali terkekeh. Chinen memutar bola matanya. “Ya terus saja. Terus menciumku tiba-tiba! Puas, huh?”

Cengiran Yamada belum hilang, ia malah mengelus pipi kekasihnya. “Tenang saja. Modelnya kan beda. Hanya orang jeli yang mungkin menyadarinya.”

Staff kemudian berteriak untuk mulai memasuki studio ZIP.

Untung sekali sang MC tidak membicarakan tentang Yamada dan Chinen. Ia lebih menanyakan tentang umur dan karir Hey!Say!JUMP. Yamada sudah tidak tenang selama di interview, takut salah kata. Begitupun Yuya yang takut untuk keceplosan kembali. Namun untungnya tidak.

Selesai syuting di studio, Yamada izin untuk ke kamar kecil sebentar. Tanpa ia sadari, Chinen mengikut di belakangnya.

“Yuri... harusnya kau tak ikut kesini.”

Chinen menaikan satu alisnya. “Kenapa?”

“Ck! Buka!”

“Heh?”

“Buka kerah bajunyaaa~!!”

Chinen terlalu bingung untuk mengerti apa maksud kekasihnya sampai kemudian Yamada menanggalkan anak kancing kemeja putih yang Chinen kenakan. Dan dengan tiba-tiba, Yamada mendekatkan wajahnya untuk menghirup dada Chinen.

“Akh.. Ryo-ryosuke..!! Ini masih di tempat kerja.. akhhnn... Ryo—“

Percuma. Menghentikan Yamada yang sedang asik dengan dada kekasihnya adalah hal percuma. Sampai akhirnya Yuya datang....

“ASTAGA, KALIAN!!!”

...baru kegiatan Yamada terhenti.

“Cepat keluar!! Masih ada interview lagi!” Seru pemuda gondrong itu. Yamada lantas memekik. “MASIH ADA?! Bukannya sudah selesai?”

“Masiiih!! Makanya jangan... Ck! Sudahlah cepat!”

Chinen dengan buru-buru mengancingi kembali kemejanya, namun tidak ada waktu untuk mengancingi semuanya.

“Bagaimana dengan.. adikku?” Yamada memelas. Chinen memilirik adik Yamada yang—oh shit mulai besar—dan lalu memisuh.

“Hiiisshh! Kalian menyusahkan saja!” Yuya semakin kesal. “Konsentrasi! Jangan terlalu horny, Yamada!! Dia pasti mengecil.”

“A-akan kucoba!”

Dan setelah menenangkan diri sejenak, Yamada junior akhirnya sedikit turun sehingga tidak terlalu menggembung. Mereka kemudian keluar dari toilet untuk segera di wawancarai kembali mode berdiri.

.

.

.

.

Setelah selesai interview dan segala  macam tetek bengeknya, Yamada dengan brutal menyeret Chinen untuk bermalam di apartemennya.

“Yuri, lanjutkan yang tadi!”

.
.
.
.
THE END


A/N : Yuhuuuuu~ 3 lagu favorit di album Dear akan saya buat semua jadi fanfic. Yang utama tentu aja Masquarade karena... jidat Chinen di PV mengalahkan semua lagu yang ada *ea* wkwk dan diusahakan CANON serta based on FAKTA. Yeah~ karena YamaChii is real broh. Yang lain cuma laler *kata Karu* lolsss X’D Ohya lagu Dear sebenernya bukan buatan Yamada tapi konsep album dan konsep Dear dibuat Yamada jadi anggap aja Ya,ada turun tangan bikin lagu Dear. (btw, 'adik' bisa mengecil tanpa dikeluarin dulu  'itu'nya ga sih? Bisa aja deh ya. Biasaiiiin hahaa)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review