Judul : How many jealoussy~ How many
jealoussy~ How many jealoussy~ ah ah~ *nyanyi Tasty U*
Pair : RyoRi
Author : Kiwok
Genre : Romance, Comedy
Sinopsis : Yamada adalah kekasih
yang gampang cemburu... sekalipun terhadap sesuatu yang tak nyata.
Note : DI BACA SAMBIL DENGERIN TASTY
U~
Capcus~
.
.
.
.
‘160624, Chinen Yuri terlihat sedang berjalan sendirian di wilayah Yokohama,
mengenakan jaket hitam dan kaus putih.’
‘160625, Chinen Yuri terlihat sendirian di stasiun Tokyo, mengenakan kaus
putih dan jins rombeng serta masker hitam.’
Kedua info tersebut sukses membuat Yamada mengabaikan HPnya dan lalu
mencari Chinen ke seluruh tempat di lokasi syuting majalah yang akan
berlangsung.
“Chinen!” serunya panik. Ketika masuk ruang fitting, ia mendapati member
kesayangannya itu tengah asik berbincang dengan Yabu.
“Oh, Yamada,” Yabu menyadari kehadiran member tersohornya.
Yamada tak menanggapi Yabu dan justru menatap Chinen yang hanya mendengus
cuek.
“Aku baru tahu kau pergi sendirian beberapa hari yang lalu.” ujar Yamada dingin. Chinen mengesah, “Memang kena—“
“Biasanya kau selalu dirumah dan bermain game.” Pangkas Yamada, “ini musim
panas. Musim yang paling kau benci tapi kau keluyuran di luar... sendirian.
Bagaimana kalau ada yang menculikmu?!”
Yabu perlahan menyingkir dari sana, membiarkan sejoli itu bercengkrama
lebih intens.
Chinen lalu memutar kedua bola matanya. “Mau bagaimana lagi? Kau sibuk kan?
Persiapan albumlah! Konserlah! Syuting FMAlah! Kau bahkan tidak mendapat waktu
libur akhir-akhir ini.”
“Kalau begitu ajak Keito! Atau siapapun! Jangan pergi sendirian. Kau bahkan
tidak hafal jalan!”
“Keito lagi! Keito lagi!” Chinen menggeram, “Ryosuke dengar, dia bukan
pelayanku, bukan babysitterku, atau apapun itu! Lagipula, kau yakin membiarkanku
pergi dengan orang lain, huh? Aku main dengan Yabu-kun saja kau segitu
cemburunya.” Nada Chinen mulai tak menyenangkan. Yamada paham situasinya
sehingga ia merangkul Chinen dan membawa pemuda itu ke dadanya.
“Aku cuma tidak mau kau kenapa-napa, Yuri... aku tidak tega kau pergi
sendirian..”
“Kalau begitu, luangkan waktu untukku.”
“Baiklah.. besok aku minta libur.”
“E-eh?!” Mata Chinen seketika membulat. “Tu-tunggu Ryosuke.. tidak perlu!”
“Kenapa tak perlu? Bukannya kau ingin kita kencan?”
Chinen bungkam.
“Yuri... kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Bu-bukan begitu! Tapi.. akhir-akhir ini aku ingin pergi sendiri
saja. Sudah dua kali aku melakukannya dan aku baik-baik saja!”
“Tidak!” Yamada langsung menolak tegas. “Kau tidak boleh pergi sendirian!
Yuri, kau tahu betapa cemasnya aku kalau kau keluyuran sendirian?”
“Tapi a—“
“Sekali tidak tetap tidak. Kalau kau ingin pergi besok, akan kutemani dan
aku akan minta cuti.”
Chinen terharu namun juga kecewa. “Tak usaaaaah! Besok kau harus mempersiapkan
album kan? Aku bisa pergi sendiri, Ryosuke. Kencannya nanti saja kalau kita
semua dapat libur.”
Yamada menatap Chinen dengan teliti. Mencari apa ada yang salah dengan
kekasihnya. Dan ya, ia menemukan itu. “Yuri, kau benar-benar sedang menyembunyikan
sesuatu dariku. Biasanya kau akan semangat bila kuajak kencan.”
“Ya itu kan biasanya! Karena besok kalau kita pergi bersama kau akan
marah-marah...” lirih Chinen, ia kini melepas pandangan dari Yamada.
“Atas alasan apa aku akan marah-marah?”
“Err.. janji dulu padaku, besok tak’an marah kalau kencan.”
Yamada kembali meneliti Chinen. Cukup lama hingga akhirnya ia mendengus dan
mengangguk. “Baiklah. Aku takan marah. Nah, sekarang cerita.”
“Hehe.. besok saja lihat!”
Anak ini benar-benar...
“Akh.. ahhh Ryosukee~ Ampun aaahhh~haha..!!” Chinen memekik kegelian ketika
Yamada dengan gemas menggelitik mesra kekasihnya.
=:=
Hari ini, Yamada menepati janjinya untuk kencan dengan Chinen. Ia bahkan
sampai ngotot dengan manajernya untuk meminta libur. Tapi demi Yuri-nya,
apa yang tidak?
“Hehe... kau sudah janji takan marah ya, Ryosuke.” kekeh Chinen dalam mobil
ketika Yamada menjemputnya. Pemuda mungil itu lantas mengeluarkan HP dari dalam
sakunya dan lalu terfokus pada itu. Perasaan segan terhadap Yamada terpangkas
sudah.
.
“Yuri, kita sudah sampai...!”
“....”
“Yuri!!”
“Ah.. iya iya.. sebentar lagi~!”
Yamada berdecak seraya melepas sabuk pengamannya. “Yuri, dari tadi kau
terus melihat layar Hp-mu. Kau tidak pusing?”
“Eung.. zenzen~” jawab Chinen
ceria. Ia masih saja fokus pada Hp-nya. “Ryosuke~ bukain sabuk pengamanku dong.
Lagi seru nih~”
HAH? Yamada tak habis pikir. Apa susahnya menaruh Hp-nya
sesaat untuk membuka sabuk pengaman?! Tapi sekali lagi, apa yang tidak untuk Chinen? Yamada selalu
melakukan apapun yang diminta kekasihnya itu.
“Ayo turun! Kita sudah sampai. Langsung makan saja ya, restoran favoritku
di dekat sini...”
Chinen akhirnya mempouse HPnya dan lalu menatap Yamada. “Jalan-jalan dulu~
sekarang kita di Omotesando kan? Aku ingin jalan-jalan di Omotesando-dori~”
Yamada kembali menatap intes Chinen.
Chinen justru memelas. “Ahh~ ayolah Ryosuke~ atau kalau nggak, aku jalan
sendiri saja ya,”
“Ck, iya iya! Ayo kita jalan-jalan dulu!”
Nah kan, benar... Apa yang tidak
untuk Chinen Yuri?
=:=
“Yess!! Ryosuke~ Aku dapat Charmander! Yokatta!!!
disini pasti banyak monster keren!”
Yamada meringis jengkel ketika sedang berjalan santai di Omotesando-dori,
namun Chinen justru terus fokus dengan HPnya.
“Chinen Yuri...” Yamada mendesis, tidak mungkin berkata keras karena mereka
di tempat umum. “Jelaskan padaku.. kenapa kau terus-terusan menatap HPmu itu...?!”
“Ah, aku sedang kecanduan Pokemon Go.” Jelas Chinen langsung. “Kau tahu
kan? Game ini sedang populer dan ini sangat seru! Aku sudah mengumpulkan 30
monster~”
Oke, Pokemon Go. Yamada mencatat itu di otaknya. Tapi...
“Tapi kita sedang kencan, Yuri! Taruh itu dan nikmati kencan kita sekarang!”
“Mou... kemarin kau sudah janji
tidak akan marah kalau sekarang kita kencan. Aku memang berencana pergi sendiri
untuk mencari monster.”
“Monster?”
“Ahh.. disana! Disana ada monster!” Chinen tiba-tiba belok ke arah
rerumputan. Yamada tentu mengikuti.
“Yes~ aku dapat Mew~!! Aaaaah Ryosuke terimakasih karena mengajakku kesini!
Bisa saja aku dapat Pikachu nanti~!!” pekik Chinen girang. Yamada hanya memutar
bola matanya, kesal namun pasrah. Chinen lanjut berjalan—masih fokus dengan HPnya—sampai ia tak melihat jalan dan nyaris jatuh kedepan.
“Yuri!!”
Untung Yamada bersamanya. Sehingga pemuda pirang itu dengan sigap menangkap
pinggang ramping Chinen untuk mengembalikan keseimbangan. “Sudah cukup! Hentikan
game-nya!!”
Chinen merengut. Ia lalu mempause game-nya.
“Kau bisa saja terjatuh kedepan tadi kalau tak melihat jalan, Yuri...” ujar
Yamada khawatir. Namun Chinen balas meringis. “Kemarin aku juga jatuh kok saat
ke Yokohama mencari monster hehe.. untung tak ada yang mengenalku jadi aku tak
malu.”
Mata Yamada membulat. Kekasihnya jatuh tapi malah tertawa?
“Kau terluka? Ada yang cidera? Astaga, Yuri!! Kalau kau jatuh ke lubang
yang dalam atau menabrak sesuatu yang bahaya bagaimana?!”
“Ish, berlebihan! Hanya kesandung kok. Aku tidak seceroboh itu, Ryosuke~”
Yamada menjawil gemas pipi kenyal Chinen. “Sudahlah, hentikan itu dulu.
Kita ke restoran dulu. Kau pasti sudah lapar kan?”
“Oke~” Chinen akhirnya memasukan sang HP ke saku, lalu menggandeng Yamada
dengan erat.
=:=
“Mau pesan apa?” Yamada bertanya seraya melihat-lihat buku menu. “Aku
merekomendasikan omelet disini. Itu sangat enak! Dan.. beef yakinikunya juga enak.”
“....”
“Hmm... dessert rainbownya juga lezat. Kau haru menco—“ Ucapan Yamada tak
selesai karena ia lebih dulu menggeram saat melihat Chinen kembali fokus pada HPnya.
“YURI!”
“YURI!”
“A-ah ya? Yasudah pesan apa saja yang enak. Nanti aku makan kok! Asal
jangan terong ya!” sahut Chinen kemudian.
“Letakan HPnya.”
“Ck, sebentar... disini ada Eevee~ monsternya lucu!”
“Letakan. HPmu. Sekarang. Yuri!” ucapan patah-patah yang bagai gertakan
akhirnya membuat Chinen meletakan HPnya di meja. Kemudian dengan sedikit kesal—atau
lebih tepatnya ngambek, ia meraih buku menu.
“Aku pesan Gyoza saja! Minumnya cola!” serunya ketus. Yamada mendengus
kecewa namun akhirnya memanggil pelayan dan segera memesan.
“Mau kemana? Yuri, kau tak perlu—“
“Toilet!” pangkas Chinen dan segera pergi ke kamar kecil. Yamada di tempat
lantas mengacak-acak rambutnya gemas. Mata kecoklatannya kemudian melirik HP
Chinen yang masih tergeletak di meja. Dengan hati-hati ia meraihnya untuk di
buka.
“Password huh? Kau pikir aku bodoh untuk tidak tahu passwordmu?” kekeh
Yamada. Tentu saja ia hapal semua password Chinen. Apalagi kalau bukan 110116?
Tanggal jadian mereka.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Yamada segera mencari aplikasi game Pokemon Go dan
langsung meng-uninstalnya. Ia hanya perlu mengembalikan HP itu ketempatnya
semula dan berpura-pura tak melakukan apapun. Hingga akhirnya Chinen kembali
dari toilet.
.
Pesananpun datang. Mereka makan dengan kidmat dan romantis. Tentu saja,
karena Yamada Ryosuke adalah pemuda paling romantis di grup.
“Aku mau coba omeletnya dong~”
Yamada segera menyuapkan sesendok omlet pada Chinen. “Enak kan?”
“Eum!” Chinen tersenyum. “Enak! Tapi gyozanya juga enak hehe!”
Yamada ikut tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengusap saus di
pinggiran bibir Chinen. “Makan yang banyak biar nggak sakit.”
“Iya~ ahaha...”
=:=
Setelah mengisi perut, Yamada bergegas mengajak Chinen berbelanja karena
Omotesando cukup terkenal dengan tempat perbelanjaan. Ketika Chinen ingin
meraih HP di saku celana, Yamada cepat-cepat meraih tangan mungilnya untuk
digandeng erat. Bila Chinen mengenakan tangan satu lagi, Yamada akan mengganti
gandengan tangannya menjadi tangan yang satunya. Pokoknya tak ada Pokemon Go di
kencannya!
Sampai akhirnya kembali ke mobil untuk pulang... Chinen baru bisa membuka
HPnya. Dan betapa syoknya ia ketika tidak menemukan aplikasi game
kesayangannya. Serta merta Chinen menelengkan kepala pada Yamada yang sedang
menyetir.
“Ryosuke... kau menghapus game-ku..?”
Yamada mengangguk santai. “Iya. Karena aku tak mau hal itu menganggu kencan
kita hari ini.”
Chinen tak bisa untuk tidak kecewa. Perlahan-lahan air asin terkumpul di
pelupuk matanya. “Jahat...”
Yamada sudah menduga bahwa Chinen akan menangis, jadi ia hanya tenang dan
tetap menyetir.
“KAU JAHAT!!! AKU SUDAH BERHASIL MENGUMPULKAN BANYAK MONSTER TAPI KAU
MENGHAPUS APLIKASINYA BEGITU SAJA! KALAU AKU INSTAL LAGI AKU HARUS MENGUMPULKAN
DARI AWAL!!”
Yamada tetap santai.
“JAHAT!!! KAU JAHAT, RYOSUKE!!”
Yamada tetap konsen pada kemudi, tak peduli dengan Chinen yang mulai
memukul kencang bahunya.
“TURUN! AKU MAU TURUN! TIDAK MAU BERSAMAMU!”
Percuma. Yamada sudah kebal. Karena ia tahu cara untuk mengembalikan mood
kekasihnya.
.
“LEPAS!! AKU MAU PULANG!” Rontaan Chinen tak berhenti sampai mereka turun
dari mobil, tepat di depan apartemen Yamada.
“Sayang.. tunggu dulu.”
“LEPAS! AKU MAU PULANG!”
“Shh.. ayo ikut aku dulu...” Kekuatan Yamada lebih besar dibanding Chinen,
jadi dengan sedikit seretan saja Chinen bisa ia bawa sampai masuk ke
apartemennya.
“AKU MAU PU—Eunghh umhh...”
Seperti biasa, serbuan ciuman. Yamada selalu melakukan itu untuk memangkas
perkataan yang tidak ingin ia dengar dari Chinen.
“—puah.. hah.. hah...” nafas
pemuda mungil itu memburu. Kemudian ia lanjut merengek. “KAU BRENGSEK, RYOSUKE!
KAU—“
Bukan dengan ciuman, kali ini hanya telunjuk Yamada yang menutup bibir
Chinen. “Lebih penting mana? Game atau aku?”
Chinen melotot. “Game!”
Yamada ikut melotot. “Jadi kau lebih memilih game sialan itu hah? Aku
sampai bertengkar dengan manajer untuk ambil cuti tapi kau lebih memilih game
sialan itu?!”
“Aku tak memaksamu untuk ambil cuti! Kalau mau kerja ya kerja saja sana!
Aku bisa jalan-jalan sendiri!”
“Dan membiarkanmu seperti orang idiot mencari-cari monster lalu terjatuh
dan terluka hah?!”
“Kau berlebihan!”
“KAU YANG LEBIH BERLEBIHAN!” Yamada akhirnya mengeraskan suaranya. Hati
Chinen mulai ciut. Tak berniat melanjutkan perdebatan, Yamada memilih merengkuh
kekasihnya dan juga mengelus punggungnya. “Kau tahu aku gampang cemburu dengan
apapun. Kumohon.. jangan cuekan aku hanya karena game, Yuri...”
Chinen masih terdiam.
“Aku minta maaf karena menghapus gamenya. Tapi percayalah.. game itu tidak
baik. Kau bisa jatuh dan dalam bahaya ketika memainkan itu di luar.
Membayangkanmu terperosok atau ketabrak sesuatu saat fokus pada itu saja sudah
membuatku keringat dingin. Belum lagi ketika membayangkanmu diculik fans ketika
keasikan mencari monster...”
Chinen tetap diam. Namun hatinya mulai luluh.
“Karena itu Yuri... jika kau kesepian karena aku kerja, telpon saja aku.
Aku pasti meluangkan waktu berapapun untukmu. Pasti! Dan jangan memilih main
game itu.”
“Ya.”
Akhirnya... satu kata sahutan itu membuat hati Yamada plong seketika. Ia
melepas rengkuhannya dan menghirup pipi Chinen dengan mesra. “Aku mencintaimu,
Yuri... sangan mencintaimu...”
“Iya.. maaf, Ryosuke..”
Yamada tersenyum, kemudian menuntun Chinen ke kamar. “Daripada main game
itu. Lebih baik bermain game yang lebih seru.”
Aha. Chinen mengerti apa game itu. Ia hanya mengangguk setuju. Kemudian tanpa
diminta dua kali, Chinen segera rebahan di ranjang dan merentangkan tangan
serta kakinya. “Nah, Ryosuke... mainkan aku.”
Yamada tertawa puas, serta merta ia langsung menyerbu Chinen di ranjang. “Login!”
.
.
.
.
.
THE END
A/N : Wahahaha apaan ini XD saya
lagi ga minat bikin NC... maapin yah :” maapin juga kalo alurnya kecepetan. btw, HP chinen kan ipon, anggap aja
android ye wkwk soalnya kalo ipon aplikasi PokemonGO nya ke apus, datanya masih
ke save di apanya ipon gitu ga inget *kata temen yang main sih gitu* tapi kalo
pake andorid datanya termasuk monster-monster yang udah dikumpulin itu
gabisa balik sekalipun udah login pake imel yang sama lol X’D

0 komentar:
Posting Komentar