Rabu, 02 November 2016

Playing With The Body

Diposting oleh Kiwokchwan di 11.20
Judul : Playing With The Body

Author : Kiwok

Pair : YAMACHII/RYORI (TakaYama dan InooChine buat alur cerita)

Genre : Smut, Romance

Summary : Chinen hanya ingin mencaci maki Inoo berkali-kali atas ulahnya yang membuat Yamada murka pada si mungil itu di ranjang.

Here we go!


.

.

.

Yamada tadi dipaksa Yuya untuk menemaninya belanja. Tentu saja sang center bersedia lantaran plihan baju Yuya tergolong unik. Namun ternyata ia salah kaprah. Yuya bukan ingin belanja baju melainkan ingin belanja alat-alat itu.

Iya, itu...

Sex Toys.

.

“Kalau penyamaranku ketahuan, aku akan membencimu selamanya, Yuya.” Desis Yamada dengan nada sinis. Yuya balas mendesis, “makanya kalau mau nyamar  jangan heboh. Kau malah mencolok!”

“Itu karena kau tak bilang akan mengajakku ke tempat ini!”

“Ssst.. diamlah!”

.

Baru setelah keluar dari toko dan masuk ke dalam mobil mini cooper ungu milik Yuya, Yamada bisa mengoceh sepuasnya. “KAU MENGGELIKAN! Kenapa mengajakku ketempat seperti itu?! Kupikir kau akan mengajakku belanja baju!”

Yuya justru tertawa. “Bajumu sudah segunung untuk apa beli lagi?”

“Jangan mengalihkan jawaban!”

“Ck, kalau bukan mengajakmu, siapa lagi? Selain kau, paling-paling yang bisa kuajak itu Hikaru, tapi dia sedang syuting Hirunandesu!”

“Ajak saja Dai-chan!”

“Ini untuk kejutan Daiki, bodoh! Tak mungkin aku mengajaknya!”

“Yasudahlah terserah, tapi aku bersumpah ini terakhir kali aku menemanimu ke toko seperti itu!”

Kemudian pembicaraan mulai ketahap serius. “Kenapa? Kau bisa membeli juga untuk bermain dengan Chinen kan?”

“Dia tidak akan suka.”

Yuya kembali tertawa. “Dia bilang begitu tapi kalau sudah dilakukan juga ketagihan. Ini asik asal kau tahu! tapi jangan terus-terusan, nanti bisa lecet.”

“Aku sudah pernah melakukannya dan Yuri berteriak. Selanjutnya aku tidak pernah main dengan itu lagi.” Ujar Yamada lirih. Yuya mulai melongo, “Kau pernah? Kapan? Aku tidak tahu!”

“Waktu itu. Saat dia selalu dapat sesi poto dengan rantai-rantai. Aku berpikir, mungkin seru bermain dengan alat semacam itu dan aku beli secara online. Tapi belum sampai melakukannya dia sudah menendangku dan berteriak.”

Penjelasan Yamada mau tak mau membuat Yuya mengulum ludahnya. “Susah juga sih kalau Chinen...”

“Nah, kau paham.”

“Kalau aku diposisimu aku juga tak tega.. Tapi berarti permainan cinta kalian begitu-begitu saja?”

“Yah... mau bagaimana lagi? Paling-paling berbagai posisi dan berbagai tempat saja di apartemenku. Kalau untuk alat.. itu pantangan. Dia hanya ingin aku yang memasukinya, bukan alat.”

Yuya nampak berpikir. “Apa kau tipe yang terburu-buru kalau melakukan itu?”

“Maksudnya?”

“Shohei yang cerita padaku sih..” Yuya berdeham sesaat, “kalau mau mendapatkan kepuasan tanpa alat, coba lakukan pelan-pelan.”

Yamada mendengarkan.

“Jadi, kau bermain seolah itu yang pertama.”

“Aku tidak mengerti.” Dengus Yamada. Ia sudah puluhan kali melakukannya mana mungkin dianggap yang pertama, meski setiap memasuki terowongan Chinen, pasti sangat rapat seperti perawan.

“Lakukan pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Buat dia keluar hanya dengan sentuhan di area sensitif, tanpa melepas pakaiannya sama sekali. Kau juga jangan tegang, anggap saja dia adalah toysnya.”

Sang center lantas bergumam sampai kemudian Yuya berkata lagi.

“Selama ini kau kalau bermain pasti nafsu.”

“Sok tahu. Itu kau, kali.”.

“Haha.. kelihatan begitu sih. Kau terlalu posesif dengannya.”

“Dia mudah digoda siapapun. Sudah tahu dia itu matre, makanya harus ekstra kujaga.”

Yuya mengangguk setuju. “Ku ajak menginap di apartemenku dengan iming-imingan game soccer terbaru dia juga akan luluh.”

“Jangan macam-macam kau, Gondrong!”

“Kenapa aku? Omeli saja sana yang macam-macam.” Kekeh Yuya terdengar sinis. “Omong-omong, kau belum baca majalah Myojo keluaran terbaru ya?”

Yamada mengangkat alisnya, bingung. Yuya hanya mendengus sebelum bergegas mencari majalah yang dimaksud dengan merogoh kantung di belakang kursi pengemudinya. “Coba kau baca ini.”

=:=


“Hallo, Chii~ Tumben mene—“

“KAU SUDAH GILA, HAH?!”

Inoo Kei langsung menjauhkan telpon sesaat menerima panggilan dari member termudanya. “Ehh? Kau kenapa, Chii?”

“MALAH TANYA KENAPA!! KAU DIMANA?!”

“Tentu saja syuting. Ini lagi istirahat...”

“Kenapa kau menceritakan tentang ciuman latihan denganku di majalah?!!” Nada Chinen mulai menurun, tapi penuh penekanan. Inoo lantas meringis. “Oh itu... hehe.. kan memang benar kalau kau menciumku~“

“Dasar bodoh! Nanti Ryosuke baca dan mengamuk lagi seperti waktu itu!!”

“Ck, gausah panik. Jelaskan saja padanya itu tidak pakai perasa—astagah!” Inoo nyaris melempar HPnya saat tiba-tiba terdengar suara Yamada bernada amat menusuk. Tak pakai ba-bi-bu lagi, si cantik itu segera memutuskan sambungan.

=:=

“Ryo—ryosuke... kau tidak seharusnya masuk ke apartemenku tanpa izin..” Chinen berucap gagap. Yamada hanya menatap dengan raut datar sementara Iphone milik si mungil yang tadi ia rebut justru diremas.

“Ryo—“

“Kenapa kau membiarkan dia menciummu?”

Pertanyaan itu sontak membuat lidah Chinen kelu, namun ia berusaha memberi penjelasan. “Aku bersumpah itu tidak pakai perasaan! Itu hanya latihan untuk adegan Inoo-chan di drama...”

“Itu bukan jawaban yang kumau! Aku tanya Kenapa. Kau. Membiarkan. Dia. Menciummu?!!”

“Ya karena... karena dia meminta bantu—akhhh!” Chinen memekik lantaran Yamada memojokannya secara tiba-tiba di sofa. Jarak wajah mereka hanya sekitar 5 inci dan Chinen bisa merasakan dengan jelas uap nafas sang kekasih.

“Sudah kubilang jangan mengiyakan ciuman orang selain ciumanku! Kau itu hanya milikku, Yuri!”

“Itu tidak pakai perasaan, Ryosuke! Sama seperti aku ciuman dengan lawan mainku di Gold Medal! Kita sama-sama—ughnnn..ungghhnn...”

Kebiasaan Yamada terjadi lagi, bila Chinen mengoceh atau mengatakan hal yang tidak Yamada sukai, ia langsung menabrakkan bibirnya pada Chinen. Padahal ia sudah bertekad tidak akan memakai nafsu dulu.

“Ryosuke!” Chinen membentak selepas berpagutan, Yamada hanya mendengus.

“Kapan kau tidak terlalu cemburu dengan siapapun yang dekat denganku? Sekalipun itu member kita sendiri? Kapan?!”

Yamada masih tak bergeming, ganti Chinen yang mendengus. Tapi tiba-tiba saja member utama HSJ itu menggendong Chinen ala bridal menuju kamarnya.

Seolah tahu apa yang akan kekasihnya lakukan, Chinen tak banyak berontak dan justru mempermudah tindakan Yamada. Ia seperti bilang, “lakukan sesukamu yang penting urusannya selesai dan kau bisa puas.”

Namun si mungil itu mendapati kejanggalan.

“R-ryosuke?”

Ciuman pembuka di permainan ranjang kali itu bukan di bibir. Tapi dikening.

“Eung..”

Merasa tak nyaman, karena Yamada menurunkan ciumannya di telinga, lalu menjilat disana cukup lama.

“Akhhn.. gelii~ Ryosukee~”

Yamada masih asik menjilat telinga kiri Chinen. Sementara tangan satunya bermain di telinga kanan. Chinen merasa aneh. Untuk apa bermain lama disana?

“Akh!!” pekikan barusan ketika Yamada menurunkan jilatannya menuju leher dan mencecap bagian itu, bermain-main dengan jakun cilik Chinen dengan lidahnya. “Hnngghh.. aaahh.. Ryooo.. gehh..liihh..”

Semakin merasa aneh, hingga akhirnya Yamada menaikan ciuman pada bibir dan bermain disana dengan sangat pelan.  

Chinen benar-benar ingin bertanya kenapa sekarang Yamada hanya memberi kecupan pelan di bibir. Kekasihnya itu tidak pernah (lagi) bermain dengan kecupan-kecupan dasar seperti sekarang ini!

Aneh.

“Unghh!”

Lidah baru saja masuk dengan tiba-tiba. Chinen langsung mengikuti permainan. Tapi baru saat lidahnya hendak ikut bermain, Yamada menyudahi ciuman.

Chinen mengernyit.

Tangan Yamada kini meraba dada Chinen. Bermain cukup lama di bagian punting yang sudah mengeras. Diremasnya bagian itu juga di tekan-tekan seperti menganggap itu sebuah tanah liat yang kenyal dan bisa dibentuk sesuka hati.

“Akhhnn. Ryooo~ kau apa-apaan sih!?” Chinen protes karena dadanya justru jadi sakit. Tapi Yamada tak mau bicara, ia malah membungkam mulut Chinen dengan ciuman panasnya.

Si mungil itu masih mengenakan baju. Yamada tak berniat melepas baju Chinen bahkan setelah lima menit lebih bermain-main di area sensitif bagian atas.

“Nggak mau dilepas bajunya?” tanya Chinen sambil terengah, ia sungguh menahan rasa penasaran dengan perlakuan Yamada. Si bungsu itu merasa bahwa Yamada seolah sedang bermain dengan perawan padahal mereka sudah puluhan kali melakukan permainan ranjang.

Tangan Yamada mulai turun, meraba-raba bagian bawah Chinen dan sontak membuat pemain Shigotonin itu merapatkan kakinya.

“Eunghhhn geliii..hhnn..”

Yamada tak menggubris. Ia tetap mengusap—bahkan kini menggesek—belahan bokong Chinen yang menggoda. Ditusuk-tusuk pada lubang sang kekasih, namun Yamada tatap mempertahankan celana yang Chinen kenakan.

“Ahhhnn.. mau.. sampai kapan bermain? Lepas bajuku! Disana sudah sempit, Ryooo~” rengek Chinen dengan manja. Tapi Yamada tetap diam. Tangannya kemudian pindah untuk meraba kedua bola yang Chinen miliki. Dimainkannya seolah itu dua buah bekel yang asik di pantul-pantulkan.

“Akhh.. khhnnnn~~!! Ryosuke~~!”

Yamada hanya menyeringai.

Naik lagi keatas, Yamada mengecup lagi bibir Chinen, kali ini ia menyesapnya cukup dalam, sembari tangannya mulai membuka baju Chinen dengan gerakan elegan.

Masih sambil berpagutan, Yamada kembali bermain  dengan kedua punting sang kekasih. Di pelintir kedua punting itu hingga Chinen memekik sakit yang tak terdengar lantaran bibirnya masih dibungkam Yamada.

Puas memelintir dengan jari, mulut Yamada turun pada bagian dada. Ia menyusu pada Chinen seolah disana akan keluar sesuatu, memang idiot. Tapi Yamada tak peduli. Sesekali digigit dengan gemas punting bagian kiri sementara yang kanan ia cubit cukup keras.

“AKHHHHNNNN... Sakiiiit.. hhhnn..”

Yamada tersenyum puas dalam hati. Masih dengan bibir menyusu dada Chinen, tangan Yamada turun kebawah, mengorek-korek pusar Chinen yang dalam dan kecil.

“Akhhh.. gelii!! Sampai kapan kau cuma akan bermain-main Ryosuke?!”

Pura-pura tuli, bibir Yamada justru turun dengan cara menjilat hingga sampai ke pusar Chinen. Yamada kembali memakai tangan untuk memanjakan dada Chinen sementara lidah dipakai untuk bermain di pusar. Chinen langsung gelinjangan juga kakinya yang sedang ngangkang  terus terbuka lalu menutup dan terbuka lagi.

“Ryoooo~~ yang bawah jangan diabaikan.. hhhnnn...”

Yamada terkekeh sebelum tangannya turun membuka celana bahan Chinen sekaligus CDnya. Tanpa babibu, diambilnya sang junior yang sudah mengeras.

“Pakai lube Ryosuke~”

“Ha? Siapa bilang aku akan memasukimu?”

Chinen langsung melotot.

“Aku cuma akan bermain dengan punyamu, tidak dengan punyaku.” Jelas Yamada cuek. Ia kembali beraksi untuk menarik-ulur junior Chinen dan juga menggelitiki ujung—bagian uretra—nya.

“Akhh..~~ Yamada Ryosuke!!”

Yamada tak menghiraukan, ia tetap memainkan batang sang kekasih dengan gemas. Kali ini ia putar-putar seolah itu tongkat ajaib. 

“Brengsekkkhhh!! Ryosukeee hnn~!!”

“Apa?” Yamada pura-pura tolol, “kau mau aku apakan, hmm?”

“Jangan berlagak idiot.. hhhnn...”

“Oh, yasudah~” sang center kembali bermain-main, kali itu dengan para bola yang ia pencet-pencet seolah ingin memeletuskan.

“RYOSUKE!!!!”

“Apa?”

“Masuki aku sekarang!”

“Hmm?”

“MASUKI. AKU. SEKARANG!!”

Tawa Yamada mengeras. “Kau menyuruhku atau memohon padaku?”

“Ryosuke! Kau tak llihat lubangku sudah berkedut?! Cepatlah hhahh.. hh..”

“Tapi aku tak mau.”

“Apa?!”

Yamada kini menyeringai, ia melepas junior Chinen dan mundur dari ranjang. “Keluarlah dulu. Sampai tiga kali keluar, baru aku masuki. Bermainlah didepanku.”

“Brengsek!!”

“Nggak mau? Yasudah~ aku pulang.”

“Ishh.. Ryosuke!!”

“Sekali saja deh lagi katanya haha.. Keluar sekali dengan cara yang erotis. Baru aku masuki.”

Chinen mendengus kesal tapi mau-tak mau mengambil alih peran Ryosuke. Ia mulai bermain dengan pedang kecilnya sendiri.

Perlu waktu cukup lama sebenarnya. Karena Chinen tidak pandai bermain dengan tubuh sendiri. Tapi ketika sudah berhasil klimaks, Yamada cepat-cepat mengambil alih benda Chinen dengan menutup jalan keluarnya menggunakan jari.

“AKHHH!!! RYOSUKE BRENGSEK!”

 Ditekannya jalur keluar itu. Tak boleh ada yang keluar. Sampai tiba-tiba Yamada memasuki Chinen secara kering.

“AKHHHHHHHHHHHHHHHHHHNNN RYOSUKEEE!!”

Yamada hanya meringis puas.

.

.

.

.

.

Seminggu kemudian.

“Yamada! Kau apakan Chinen sampai begitu?!”

“Yamada!”

“Yama-chan!”

“Yamada Rysouke!”

Ocehan member hanya dianggap angin lalu oleh Yamada. Ia cukup bilang, “Aku punya hak untuk menghukumnya.”

Dan selama seminggu Chinen tak bisa berjalan normal karena mendapat hukuman, ia sama sekali tak mau berhubungan dengan Inoo. Bahkan sekedar tersenyum atau bertegur sapa.

.

“Sayanng.... ayo makan,” Yamada berkata  sambil membantu Chinen berjalan menuju ruang makan di sebelah studio latihan. Chinen mengangguk bete namun tetap menerima bantuan Yamada.

Dari semua member yang paling khawatir dengan Chinen, Yuyalah yang paling shock. “Dia benar-benar tolol!” Misuhnya seraya mengacak-acak rambut. Daiki melirik kekasihnya itu dengan tampang menyelidik. “Kau tahu sesuatu, Yuya?”

“Jelas tahu! Kan aku yang mengajarinya untuk bermain secara kering,"

Seketika semua pukulan sadis diarahkan untuk Yuya yang keceplosan bicara. Dalam hati Inoo bertekat tidak lagi bermain-main dengan Chinen paska mengetahui Chinen susah jalan karena dihukum Yamada.

=END=



A/N : Saya yang buat, saya yang linu :")

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review