Kamis, 16 Juni 2016

Ada Apa Dengan Chinen (Chapter 3)

Diposting oleh Kiwokchwan di 10.34
Judul : What’s Wrong With Chinen?

Chapter : 3 (Chapter 2), (Chapter 1)

Author : Kiwok

Cover : Anasicha

Pair : YamaChii as always <3

Genre : Sinetron khas Indonesia wakaka XD

Summary : Tentang Chiinta alias Chinen. Dan tentang Yangga alias Yamada. (Gajelas, bodo amet)

PS : Diharap nonton AADC sisen satu dulu baru baca ini okeh! Kalo bisa baca ini sambil dengerin Ku Bahagianya Melly Goeslaw X’D

Cekidot!
.
.
.

.



“Hey!!!”

Chinen tiba-tiba datang di tengah-tengah konser dan merangkul para sahabatnya. Beruntung dia tidak sampai salah peluk orang di antara penonton yang bejubel.

“Kemana aja, Chii?” Dai-chan merengut. Chinen justru mengeriling lucu, “kan tadi sama-sama?”

“Ngaco!” Yuto yang cukup sensi lalu mengacak-acak rambut Chinen. Si mungil itu langsung tertawa. “Sori, sori, tadi ketiduran jadi telat berangkat. Sori, semuaaa... nggak lagi, deh!” sesal Chinen yang hanya di tanggapi dengusan pengertian para sahabatnya. Lalu mereka berlima larut dalam keseruan konser Arashi live on field petang itu.

~AADC~

Hari ini, pertandingan basket antara SMA Seijam dengan SMA Sezon sedang berlangsung di lapangan basket indoor. Dan kali ini, giliran SMA Seijam yang menjadi tuan rumah untuk pertandingan.

“Ayo, Yutti!! Pasti menang!!!” Chinen menyemangati sahabat tingginya sepenuh hati. Tak peduli ia harus lompat-lompat di deretan penonton.

“Chii, duduk... nanti jatuh...” tegur Ryutaro yang ikut menonton bersama Chinen dan kawanannya.

“Nggak bisa, Ryu! Kita harus semangat dukung Yutti biar menang seperti turnamen lalu! AYO YUTTI!!!!”

Inoo dan Dai-chan hanya menggeleng maklum sementara Keito justru menonton dengan penuh ketegangan. Ryutaro tak bisa berkomentar lagi dan justru tersenyum melihat pemuda mungil yang ia sukai mendukung penuh semangat.

Tapi tiba-tiba....

“Bisa bicara sebentar?”

Yamada datang tepat di samping Chinen dan membuat para penonton agaknya risih. Terutama Ryutaro yang hampir saja nyolot pada si pirang itu. Chinen cepat-cepat menarik lengan Yamada untuk keluar dari deretan penonton namun masih di dalam lapangan basket indoor.

“Ada apa sih?” tanya Chinen-sensi.

“Saya mau minta maaf masalah di Marukawa kemarin.” Sahut Yamada lembut.

“Masalah yang mana?”

“Yang jelas saya minta maaf karena udah buat kamu marah kemarin.”

“Kumaafkan!”

Yamada menatap Chinen dengan pandangan menyelidik, kemudian mendengus. “Teman-teman kamu nggak suka saya ada di sini ya?”

“Kenapa nuduh teman-temanku?” sungut Chinen tak terima.

“Kamu sendiri, malu kan bicara sama saya disini?”

“Hah, sok tahu.”

“Ya kalau nggak malu kenapa nggak berani natap mata saya saat saya bicara tadi? Malah lirik kanan-kiri.” Jelas Yamada dengan nada dingin. Chinen sukses sewot. “Kamu ini udah sok tahu, pikirannya kotor lagi!”

“Ya saya hanya membaca pikiran anak-anak gaul kayak kamu dan teman-temanmu itu.”

“Oh...” Chinen bersilang tangan, alisnyapun menukik. “udah bisa... baca pikiran anak-anak gaul? Dengan nuduh kita nggak punya pendirian, nggak prinsipil, gitu?”

“Ya.”

“Apa?! Jadi kalau kamu ngerasa aneh di tempat ramai kayak gini itu salahku? Kamunggak punya teman sama sekali kayak sekarang juga salahku? Gitu, HAH?!” Chinen sudah melepas kesabarannya dengan menuding-nuding Yamada hingga pemuda pirang itu tak bisa berkata lagi.

“Kamu itu cuma mau menyindirku dan teman-temanku. Kamu itu cuma iri. Kamu itu... SAKIT JIWA!”

Tudingan Chinen yang terakhir langsung membuat sorot mata Yamada lebih tajam dari yang sebelum-belumnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi namun segera enyah dari tempat itu, menyisakan Chinen yang masih berdiri dengan perasaan yang (entah mengapa) menyesal.

.

“Heh, kamu!”

Yamada balik badan saat dirasa seseorang memanggilnya. Karena ia sedang melawati gang pintas yang cukup sepi untuk menuju rumahnya, jadi sepertinya panggilan itu untuknya.

“Kenapa?”

Yang memanggil ternyata tiga pemuda SMA dengan baju di keluarkan dan lengan yang di gulung. Yamada mengenal sosok yang di tengah, Morimoto Ryutaro.

“Ada urusan apa kamu sama Chinen?!” tanya Ryutaro dengan urat di dahi. Yamada menjawab dengan santai, “urusan pribadi.”

“Urusan apa?!”

“Kenapa saya harus kasih tahu? Memang kamu bodyguardnya Chinen?”

“NGGAK USAH BANYAK GAYA, DASAR CEBOL!” dua temannya tiba-tiba membentak. “Ryutaro itu pacarnya Chinen!”

Yamada justru tertawa geli mendengar kalimat itu. “Chinen Yuri terkenal di sekolah dan bila punya pacar, pasti sudah heboh. Tapi selama ini nggak ada yang heboh terkait kamu yang jadian sama Chinen, tapi cuma kamu yang SUKA sama Chi—“

Pukulan keras tiba-tiba mendarat di pipi Yamada. Belum sempat membalas, pukulan kedua kembali dilayangkan. Yamada bukan laki-laki lemah karena ia sebenarnya bisa bela diri. Tapi tetap tidak seimbang bila tiga lawan satu. Dan itu berarti Yamada harus berakhir dengan babak belur serta mimisan di hidung.

~AADC~

“Hei hei hei hei..!!!!”

Pagi hari, ruang mading justru heboh dengan teriakan Dai-chan.

“Apaan sih?” Yuto berdecak kesal.

“Sudah dengar gosip tentang keluarga Yamada Ryosuke?”

Chinen langsung putar badan. “Gosip apa?”

“Itu.. katanya keluarga dia bermasalah.”

“Hah? Masalah apa?” Inoo ikut penasaran.

“Katanya sih keluarganya pernah berencana mengkorupsi uang negara.”

“Yang benar, Dai?!” Yuto berdecak kesal. “Wah parah! Emang nggak boleh di temani tuh yang kayak gitu!”

Chinen tak lagi mendengar gosip teman-temannya dan justru larut dengan pikirannya.

Hingga sampai sekolah usai, Chinen terus kepikiran tentang Yamada. Ia merasa janggal dan tidak percaya akan omongan yang beredar, karenanya ia memutuskan tidak pulang bersama teman-temannya dengan alasan akan di jemput untuk ikut ke pesta perusahaan ayahnya.

Saat berpisah di koridor utama, Chinen langsung menghampiri kelas Yamada.

Kamiki yang kebetulan di ambang kelas dan hendak pulang menyapa si mungil itu dengan ramah. “Cari siapa?”

“Yamada udah pulang, ya?”

“Oh, Yama-chan nggak masuk dari kemarin.” Jawab Kamiki simpel.

“Kenapa?”

“Sakit. Ada surat sakitnya kok.”

Chinen merasa tak puas bila bertanya dengan teman sekelasnya karena ia tahu Yamada Ryosuke tidak punya teman. Sekali lagi, tidak punya teman. Dan satu-satunya yang menjadi harapan Chinen untuk ditanyai adalah tukang kebun sekolah yang cukup sering terlihat mengobrol dengan Yamada, Hibano Kuragane-san!

.

“Chi...nen..?”

Dan benar ternyata, informasi dari Hibano-san lebih terpercaya bila menyangkut Yamada. Pemuda mungil itu kini berada tepat di depan pintu masuk rumah si pirang.

“Ryo, siapa yang datang?” lelaki tua melongok dari bilik ruang tengah, kemudian mendekat pada pintu utama dan tersenyum. “Laki-laki yang sangat cantik, ternyata. Siapa namanya?”

“Makasih, Oom... nama saya Chinen Yuri.” Ucap Chinen dengan sopan.

“Disuruh masuk, Ryo! Jangan berdiri di depan pintu.”

“Ah iya..”

Chinen lalu duduk di kursi ruang tamu bersama Yamada sementara lelaki tua yang diketahui ayahnya Yamada itu masuk ke dapur.

“Kenapa bisa tahu rumah saya?” tanya Yamada bingung. Chinen tersenyum. “Aku tanya Hibano-san.”

“Oh, pantas.”

“Katanya kamu dipukulin? Dikeroyok? Siapa yang ngelakuin?” nada Chinen kentara khawatir saat bertanya. Yamada menyadari itu dan justru tersenyum. “Iya kemarin nekat lewat jalan yang ternyata ada Yankee yang sedang berkelahi. Jadi kena imbas.”

Chinen adalah pribadi yang polos sehingga ia mempercayai perkataan Yamada yang 100% persen bohong barusan.

“Tapi udah baikan kan sekarang?”

Yamada masih tersenyum. “Sudah. Terimakasih sudah menjenguk saya.”

“Tidak masalah. Sekalian aku mau minta maaf karena mengataimu ‘sakit jiwa’ waktu itu. Maaf ya...” sesal Chinen malu-malu. Yamada mengerti dan memaafkan.

Ayah Yamada kemudian datang membawa minuman untuk Chinen.

“Ah terimakasih banyak. Jadi nggak enak Oom yang buatin..” pipi Chinen kemerahan saat menerima secangkir matcha hangat dan wangi. Ayah Yamada lalu tertawa. “Lucu sekali temanmu ini, Ryo. Jarang kau punya teman seperti ini!”

Kembali, pipi Chinen bersemu merah.

“Oh ya, Ryo! kau jadi masak, kan?” lelaki tua itu menyikut pinggul anaknya.

“Iya jadi. Tapi masih ada Chinen disini.”

Chinen langsung menahan tangannya isyarat ‘tidak apa-apa’. “Silahkan, masak saja.. aku bisa langsung pu—“

“Ajak saja Chinen-kun memasak. Nanti sekalian makan malam bersama. Bagaimana?”

Tawaran Ayah Yamada langsung direspon binaran mata oleh Chinen yang berarti, “Ya, aku mau!”

.

“Irisnya tipis-tipis...”

Chinen berusaha mendengarkan instruksi Yamada namun tetap susah mengiris wortel tipis-tipis.

“Susah~”

“Ck, begini...”

Entah sejak kapan Yamada sudah di belakang Chinen dan mengarahkan pisau yang di genggamnya dengan menggenggam tangan Chinen erat-erat.

Chinen justru tidak konsen mengiris lantaran dentuman kencang di jantungnya saat ia merasa punggungnya menyatu dengan dada Yamada dan kepalanya terasa hangat karena nafas Yamada.

“Selesai. Mudah kan?”

“Eh.. eer—iya...” Hingga wortel sudah siappun, debaran Chinen belum mereda.

Yamada kini mulai menumis masakannya hingga tercium aroma sedap yang memabukan.

“Kamu pintar masak ya?” tanya Chinen spontan. Yamada terkekeh dan mengangguk. “Kamu tidak bisa ya?”

“Enak aja!”

“Saya nggak percaya.”

“Aku bisa masak nasi kok!”

Lalu mereka tergelak.

“Ayah saya nggak bisa masak jadi mau nggak mau aku yang harus memasak.” Jelas Yamada kemudian. Chinen kini menyiapkan bawang bombay untuk di kupas.

“Hm.. kalau Ibu kamu?”

“Kupasnya yang benar ya, Chii... lalu diiris tipis tipis seperti wortel tadi.”

Chinen mengernyit saat sadar Yamada mengalihkan pembicaraannya. Tapi ia tidak ambil pusing dan fokus untuk mengiris bawang bombay.

“Hiks.. pedih... mataku nggak bisa dibuka.”

Yamada terkekeh. “Makanya mengirisnya jangan terlalu dekat. Coba sini,” pemuda pirang itu mengarahkan tubuh Chinen untuk menatapnya, kemudian membuka kelopak mata Chinen dan meniupnya.

“Ahaha... geli~”

“Saya tiup biar nggak pedih lagi..”

“Iya tapi geli... ahhaha.. hihi...”

“Yasudah,”

CHU~

Chinen yakin dirinya seperti mati seperkian detik karena jantungnya berhenti ketika kelopak mata kirinya di kecup oleh Yamada. Serta merta matanya membola menatap pemuda pirang itu.

“Nah, mata kamu udah bisa dibuka. Udah, jangan mengiris bawang lagi, kamu mending siapin piring saja.” Ucapan dengan nada biasa dari Yamada berhasil menetralkan perasaan kupu-kupu di perut Chinen.

.

Saat masakan jadi, Chinen dan keluarga Yamada makan bersama diiringi musik dari CD yang di putar dari radio sederhana.

“Aku suka lagunya! Ini lagu siapa?” tanya Chinen selesai menyantap makanan. Yamada lantas menunjukan CDnya pada Chinen.

“Ignition Night?”

“Itu nama bandnya. Sebenarnya mereka nggak begitu populer tapi lagu-lagunya menyenangkan. Yah.. menurut saya, sih..”

Chinen menggeleng cepat. “Nggak! Lagunya memang bagus. Aku suka!”

“Oh, kalau suka, mau saya ajak nonton performnya besok?”

Pemuda mungil itu langsung menatap Yamada, semburat merah juga tertera di pipinya. “Memangnya boleh?”

“Kenapa nggak? Besok sore saya mau kesana.”

Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Chinen menyahut. “Hmm.. lihat besok deh.”


~TBC~

A/N : Jangan bayangin nonton Arashi yang ampe ngantri 5 km ya. Bayangin nya kek nonton dangdut di lapangan gitu. Biar lebih jelasnya, nonton AADC 1 aja biar tahu maksudnya nonton konser tuh si Cinta dkk di lapangan terbuka gitu dan itu gratis XD karena Anachan sibuk.. mau nggak mau saya yang lanjut :” semoga suka

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review