Judul : What’s
Wrong With Chinen?
Author : Kiwok
Cover : Anasicha
Pair : YamaChii as always <3
Genre : Sinetron khas Indonesia wakaka XD
Summary : Tentang Chiinta alias Chinen. Dan tentang Yangga alias Yamada. (Gajelas, bodo amet)
PS : Diharap nonton AADC sisen satu dulu baru baca ini okeh! Kalo bisa baca ini sambil dengerin Ku Bahagianya Melly Goeslaw X’D
Cekidot!
.
.
.
.
“Hey!!!”
Chinen tiba-tiba datang
di tengah-tengah konser dan merangkul para sahabatnya. Beruntung dia tidak
sampai salah peluk orang di antara penonton yang bejubel.
“Kemana aja, Chii?”
Dai-chan merengut. Chinen justru mengeriling lucu, “kan tadi sama-sama?”
“Ngaco!” Yuto yang cukup
sensi lalu mengacak-acak rambut Chinen. Si mungil itu langsung tertawa. “Sori,
sori, tadi ketiduran jadi telat berangkat. Sori, semuaaa... nggak lagi, deh!”
sesal Chinen yang hanya di tanggapi dengusan pengertian para sahabatnya. Lalu
mereka berlima larut dalam keseruan konser Arashi live on field petang itu.
~AADC~
Hari ini, pertandingan basket antara SMA Seijam dengan SMA Sezon sedang
berlangsung di lapangan basket indoor. Dan kali ini, giliran SMA Seijam yang
menjadi tuan rumah untuk pertandingan.
“Ayo, Yutti!! Pasti menang!!!” Chinen menyemangati sahabat tingginya
sepenuh hati. Tak peduli ia harus lompat-lompat di deretan penonton.
“Chii, duduk... nanti jatuh...” tegur Ryutaro yang ikut menonton bersama
Chinen dan kawanannya.
“Nggak bisa, Ryu! Kita harus semangat dukung Yutti biar menang seperti turnamen
lalu! AYO YUTTI!!!!”
Inoo dan Dai-chan hanya menggeleng maklum sementara Keito justru menonton
dengan penuh ketegangan. Ryutaro tak bisa berkomentar lagi dan justru tersenyum
melihat pemuda mungil yang ia sukai mendukung penuh semangat.
Tapi tiba-tiba....
“Bisa bicara sebentar?”
Yamada datang tepat di samping Chinen dan membuat para penonton agaknya
risih. Terutama Ryutaro yang hampir saja nyolot pada si pirang itu. Chinen
cepat-cepat menarik lengan Yamada untuk keluar dari deretan penonton namun masih di
dalam lapangan basket indoor.
“Ada apa sih?” tanya Chinen-sensi.
“Saya mau minta maaf masalah di Marukawa kemarin.” Sahut Yamada lembut.
“Masalah yang mana?”
“Yang jelas saya minta maaf karena udah buat kamu marah kemarin.”
“Kumaafkan!”
Yamada menatap Chinen dengan pandangan menyelidik, kemudian mendengus. “Teman-teman kamu nggak suka saya ada di sini ya?”
“Kenapa nuduh teman-temanku?” sungut Chinen tak terima.
“Kamu sendiri, malu kan bicara sama saya disini?”
“Hah, sok tahu.”
“Ya kalau nggak malu kenapa nggak berani natap mata saya saat saya bicara
tadi? Malah lirik kanan-kiri.” Jelas Yamada dengan nada dingin. Chinen
sukses sewot. “Kamu ini udah sok tahu, pikirannya kotor lagi!”
“Ya saya hanya membaca pikiran anak-anak gaul kayak kamu dan teman-temanmu
itu.”
“Oh...” Chinen bersilang tangan, alisnyapun menukik. “udah bisa... baca
pikiran anak-anak gaul? Dengan nuduh kita nggak punya pendirian, nggak
prinsipil, gitu?”
“Ya.”
“Apa?! Jadi kalau kamu ngerasa aneh di tempat ramai kayak gini itu salahku? Kamunggak punya teman sama sekali kayak sekarang juga
salahku? Gitu, HAH?!” Chinen sudah melepas kesabarannya dengan menuding-nuding
Yamada hingga pemuda pirang itu tak bisa berkata lagi.
“Kamu itu cuma mau menyindirku dan teman-temanku. Kamu itu cuma iri. Kamu
itu... SAKIT JIWA!”
Tudingan Chinen yang terakhir langsung membuat sorot mata Yamada lebih tajam
dari yang sebelum-belumnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi namun segera enyah
dari tempat itu, menyisakan Chinen yang masih berdiri dengan perasaan yang
(entah mengapa) menyesal.
.
“Heh, kamu!”
Yamada balik badan saat dirasa seseorang memanggilnya. Karena ia sedang
melawati gang pintas yang cukup sepi untuk menuju rumahnya, jadi sepertinya
panggilan itu untuknya.
“Kenapa?”
Yang memanggil ternyata tiga pemuda SMA dengan baju di keluarkan dan lengan yang di gulung. Yamada mengenal sosok yang di tengah, Morimoto Ryutaro.
“Ada urusan apa kamu sama Chinen?!” tanya Ryutaro dengan urat di dahi.
Yamada menjawab dengan santai, “urusan pribadi.”
“Urusan apa?!”
“Kenapa saya harus kasih tahu? Memang kamu bodyguardnya Chinen?”
“NGGAK USAH BANYAK GAYA, DASAR CEBOL!” dua temannya tiba-tiba membentak. “Ryutaro
itu pacarnya Chinen!”
Yamada justru tertawa geli mendengar kalimat itu. “Chinen Yuri terkenal di
sekolah dan bila punya pacar, pasti sudah heboh. Tapi selama ini nggak ada
yang heboh terkait kamu yang jadian sama Chinen, tapi cuma kamu yang SUKA
sama Chi—“
Pukulan keras tiba-tiba mendarat di pipi Yamada. Belum sempat membalas,
pukulan kedua kembali dilayangkan. Yamada bukan laki-laki lemah karena ia
sebenarnya bisa bela diri. Tapi tetap tidak seimbang bila tiga lawan satu. Dan
itu berarti Yamada harus berakhir dengan babak belur serta mimisan di hidung.
~AADC~
“Hei hei hei hei..!!!!”
Pagi hari, ruang mading justru heboh dengan teriakan Dai-chan.
“Apaan sih?” Yuto berdecak kesal.
“Sudah dengar gosip tentang keluarga Yamada Ryosuke?”
Chinen langsung putar badan. “Gosip apa?”
“Itu.. katanya keluarga dia bermasalah.”
“Hah? Masalah apa?” Inoo ikut penasaran.
“Katanya sih keluarganya pernah berencana mengkorupsi uang negara.”
“Yang benar, Dai?!” Yuto berdecak kesal. “Wah parah! Emang nggak boleh di
temani tuh yang kayak gitu!”
Chinen tak lagi mendengar gosip teman-temannya dan justru larut dengan
pikirannya.
Hingga sampai sekolah usai, Chinen terus kepikiran
tentang Yamada. Ia merasa janggal dan
tidak percaya akan omongan yang beredar, karenanya ia memutuskan tidak pulang bersama
teman-temannya dengan alasan akan di jemput untuk ikut ke pesta perusahaan
ayahnya.
Saat berpisah di koridor utama, Chinen langsung menghampiri kelas Yamada.
Kamiki yang kebetulan di ambang kelas dan hendak pulang menyapa si mungil
itu dengan ramah. “Cari siapa?”
“Yamada udah pulang, ya?”
“Oh, Yama-chan nggak masuk dari kemarin.” Jawab Kamiki simpel.
“Kenapa?”
“Sakit. Ada surat sakitnya kok.”
Chinen merasa tak puas bila bertanya dengan teman sekelasnya karena ia tahu
Yamada Ryosuke tidak punya teman. Sekali lagi, tidak punya teman. Dan satu-satunya yang menjadi harapan Chinen
untuk ditanyai adalah tukang kebun sekolah yang cukup sering terlihat mengobrol
dengan Yamada, Hibano Kuragane-san!
.
“Chi...nen..?”
Dan benar ternyata, informasi dari Hibano-san lebih terpercaya bila
menyangkut Yamada. Pemuda mungil itu kini berada tepat di depan pintu masuk
rumah si pirang.
“Ryo, siapa yang datang?” lelaki tua melongok dari bilik ruang tengah,
kemudian mendekat pada pintu utama dan tersenyum. “Laki-laki yang sangat
cantik, ternyata. Siapa namanya?”
“Makasih, Oom... nama saya Chinen Yuri.” Ucap Chinen dengan sopan.
“Disuruh masuk, Ryo! Jangan berdiri di depan pintu.”
“Ah iya..”
Chinen lalu duduk di kursi ruang tamu bersama Yamada sementara lelaki tua
yang diketahui ayahnya Yamada itu masuk ke dapur.
“Kenapa bisa tahu rumah saya?” tanya Yamada bingung. Chinen tersenyum. “Aku
tanya Hibano-san.”
“Oh, pantas.”
“Katanya kamu dipukulin? Dikeroyok? Siapa yang ngelakuin?” nada Chinen
kentara khawatir saat bertanya. Yamada menyadari itu dan justru tersenyum. “Iya
kemarin nekat lewat jalan yang ternyata ada Yankee yang sedang berkelahi. Jadi
kena imbas.”
Chinen adalah pribadi yang polos sehingga ia mempercayai perkataan Yamada yang
100% persen bohong barusan.
“Tapi udah baikan kan sekarang?”
Yamada masih tersenyum. “Sudah. Terimakasih sudah menjenguk saya.”
“Tidak masalah. Sekalian aku mau minta maaf karena mengataimu ‘sakit jiwa’
waktu itu. Maaf ya...” sesal Chinen malu-malu. Yamada mengerti dan memaafkan.
Ayah Yamada kemudian datang membawa minuman untuk Chinen.
“Ah terimakasih banyak. Jadi nggak enak Oom yang buatin..” pipi
Chinen kemerahan saat menerima secangkir matcha
hangat dan wangi. Ayah Yamada lalu tertawa. “Lucu sekali temanmu ini, Ryo.
Jarang kau punya teman seperti ini!”
Kembali, pipi Chinen bersemu merah.
“Oh ya, Ryo! kau jadi masak, kan?” lelaki tua itu menyikut pinggul anaknya.
“Iya jadi. Tapi masih ada Chinen disini.”
Chinen langsung menahan tangannya isyarat ‘tidak apa-apa’. “Silahkan, masak
saja.. aku bisa langsung pu—“
“Ajak saja Chinen-kun memasak. Nanti sekalian makan malam bersama. Bagaimana?”
Tawaran Ayah Yamada langsung direspon binaran mata oleh Chinen yang
berarti, “Ya, aku mau!”
.
“Irisnya tipis-tipis...”
Chinen berusaha mendengarkan instruksi Yamada namun tetap susah mengiris
wortel tipis-tipis.
“Susah~”
“Ck, begini...”
Entah sejak kapan Yamada sudah di belakang Chinen dan mengarahkan pisau
yang di genggamnya dengan menggenggam tangan Chinen erat-erat.
Chinen justru tidak konsen mengiris lantaran dentuman kencang di
jantungnya saat ia merasa punggungnya menyatu dengan dada Yamada dan kepalanya
terasa hangat karena nafas Yamada.
“Selesai. Mudah kan?”
“Eh.. eer—iya...” Hingga wortel sudah siappun, debaran Chinen belum mereda.
Yamada kini mulai menumis masakannya hingga tercium aroma sedap yang memabukan.
“Kamu pintar masak ya?” tanya Chinen spontan. Yamada terkekeh dan
mengangguk. “Kamu tidak bisa ya?”
“Enak aja!”
“Saya nggak percaya.”
“Aku bisa masak nasi kok!”
Lalu mereka tergelak.
“Ayah saya nggak bisa masak jadi mau nggak mau aku yang harus memasak.” Jelas
Yamada kemudian. Chinen kini menyiapkan bawang bombay untuk di kupas.
“Hm.. kalau Ibu kamu?”
“Kupasnya yang benar ya, Chii... lalu diiris tipis tipis seperti wortel tadi.”
Chinen mengernyit saat sadar Yamada mengalihkan pembicaraannya. Tapi ia
tidak ambil pusing dan fokus untuk mengiris bawang bombay.
“Hiks.. pedih... mataku nggak bisa dibuka.”
Yamada terkekeh. “Makanya mengirisnya jangan terlalu dekat. Coba sini,”
pemuda pirang itu mengarahkan tubuh Chinen untuk menatapnya, kemudian membuka
kelopak mata Chinen dan meniupnya.
“Ahaha... geli~”
“Saya tiup biar nggak pedih lagi..”
“Iya tapi geli... ahhaha.. hihi...”
“Yasudah,”
CHU~
Chinen yakin dirinya seperti mati seperkian detik karena jantungnya
berhenti ketika kelopak mata kirinya di kecup oleh Yamada. Serta merta
matanya membola menatap pemuda pirang itu.
“Nah, mata kamu udah bisa dibuka. Udah, jangan mengiris bawang lagi, kamu mending siapin piring saja.” Ucapan dengan nada biasa dari Yamada berhasil
menetralkan perasaan kupu-kupu di perut Chinen.
.
Saat masakan jadi, Chinen dan keluarga Yamada makan bersama diiringi musik
dari CD yang di putar dari radio sederhana.
“Aku suka lagunya! Ini lagu siapa?” tanya Chinen selesai menyantap makanan.
Yamada lantas menunjukan CDnya pada Chinen.
“Ignition Night?”
“Itu nama bandnya. Sebenarnya mereka nggak begitu populer tapi lagu-lagunya
menyenangkan. Yah.. menurut saya, sih..”
Chinen menggeleng cepat. “Nggak! Lagunya memang bagus. Aku suka!”
“Oh, kalau suka, mau saya ajak nonton performnya besok?”
Pemuda mungil itu langsung menatap Yamada, semburat merah juga tertera di
pipinya. “Memangnya boleh?”
“Kenapa nggak? Besok sore saya mau kesana.”
Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Chinen menyahut. “Hmm.. lihat besok
deh.”
~TBC~
A/N : Jangan bayangin nonton
Arashi yang ampe ngantri 5 km ya. Bayangin nya kek nonton dangdut di
lapangan gitu. Biar lebih jelasnya, nonton AADC 1 aja biar tahu maksudnya
nonton konser tuh si Cinta dkk di lapangan terbuka gitu dan itu gratis XD
karena Anachan sibuk.. mau nggak mau saya yang lanjut :” semoga suka


0 komentar:
Posting Komentar