Judul : Lakukan Apa yang Ingin Kau Lakukan
Author : I’m
Pair : YamaChii of course
Genre : CANON, Comedy, romance
Summary : Di hadapan Yuma, mereka
bebas. (Di harap nonton itadaki tanggal 2016.06.29 ya!)
WARNING! BAHASA SUKA-SUKA!
Here we go!
![]() |
| mukanya yuma ga nyante wkwk |
.
.
.
“Babaaay~ Kita pulang duluan ya~!” Inoo melambaikan tangan lentiknya sebelum
enyah dari area syuting ItaJan yang hanya terdiri darinya, Yuto, Yamada dan Chinen. Oh omong-omong, dia di jemput Yuya. Kenapa
Yuya bukannya Yabu? Ya nggak apa-apa, suka-suka yang buat fanfic, dong.
Sementara Yuto sudah pulang sejak semua kamera mati dan bahkan sebelum para
kru istirahat. Katanya capek, besok jadwalnya sangat padat jadi ia harus
cepat-cepat sampai rumah untuk tidur sambil pasang masker. Padahal Yamada tahu
sebenarnya Yuto nganggur summer ini!
“Tinggal bertiga,” terdengar kekeh manis Chinen. Yamada disampingnya juga ikut terkekeh.
Bertiga yang dimaksud adalah Yamada, Chinen dan.. Yuma.
“Cih, Nggak usah berlagak kalem. Aku sudah terlalu sering lihat kalian bermesraan.”
Ucapan Yuma yang barusan membuat tawa Chinen pecah. Namun Yamada masih jaim—yah,
wajar, masih dilokasi syuting soalnya—sehingga Yuma bergegas mengajak dua
mantan rekan segrup nya itu undur diri dari lokasi.
“Yuma apa kabar?” mulai Chinen setelah berjalan beriringan bersama.
“Aku? Baik ‘kok. Sebentar, nggak enak aku nengahin kalian. Nanti ada yang
nggak terima ahaha..” Yuma lantas tukar posisi dengan Yamada sehingga Yamada
dan Chinen saling bersebelahan.
“Kenapa kau tiba-tiba datang di ItaJan?” Yamada langsung bertanya,
menghilangkan poker facenya.
“Nggak boleh emangnya?” Yuma justru melempar pertanyaan dan membuat Yamada
mendengus. “Boleh. Hanya saja.... cukup mengejutkan.”
“Mengejutkan mana sama kau dan Arioka serta Yuto-kun yang disuruh nikah?”
Astaga Yuma. Itu tadi adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Air muka Chinen
sukses berganti muram.
“Aduh,” aktor drama Piece itu tiba-tiba memekik karena kakinya di injak oleh Babi—eh maksudnya Yamada.
“Chii-chan, kau nggak perlu ngambek.” Kata Yuma seolah paham, “Tenang saja, Yama-chan
hanya menyukaimu! Kemarin waktu selesai syuting ItaJan yang dia di dandani jadi
banci itu, dia langsung curhat sampai pagi katanya sangat menyesal melakukan itu.”
Yamada justru melotot. “Berisik! Nggak usah sok-sokan manggil dia '–chan'. Geli!”
“Oh yaudah, Yuri~”
Kaki Yuma semakin di injak.
“Manggil ‘Chii’ nggak boleh, ‘Yuri’ juga nggak boleh, maunya gimana sih?!”
Yuma tak tahan untuk protes. Nah kan, kalau sudah kumpul bertiga gini pasti dia
yang terbully.
“Panggil ‘Watashi no Chinen Yuri’,” celetuk Chinen seraya tertawa. Oh
akhirnya si mungil itu tertawa. Yamada ikut tertawa sebelum kemudian menghunuskan
tatapan tak terima pada kekasihnya itu. “Kau cuma milikku!”
“Ahahaha..!!” Yuma akhirnya juga tertawa.
=:=
Kini mereka berada di apartemen Yuma.
“Kalau mau nginap juga nggak apa-apa, kamarnya ada dua. Mau ‘main’ disini
juga nggak apa-apa. Atau mau—“
“Yuma, cukup.” Yamada mendengus. “Kita tidak akan melakukan itu disini!”
“Oh ya?” mata Yuma memincing. “Tapi Chinen mau tuh.”
Pemuda mungil yang di maksud memang sudah amat melekat dengan Yamada
semenjak mereka berkunjung kerumah Yuma. Ia bahkan tak malu untuk senderan di
bahu Yamada dengan tangan mungilnya memainkan helaian rambut kuning-jagung-jelek
kekasihnya itu.
“Yuri?”
“Hm?”
“Ada Yuma.”
“Biarin, Yuma ini. Dia kan bukan Keito yang sok-sokan melarang kita
melakukan ini-itu kalau sedang bertiga.” Gerutu Chinen.
Yuma lantas mengernyit. “Ada apa dengan Okamoto-kun?”
“Keito,” Chinen memulai, “dia mungkin cemburu denganku.”
Yamada tersenyum namun mendengus. Chinen lalu melanjutkan, “Keito merasa
bahwa Ryosuke itu kekasihnya! Gila kan?”
“Sshh.. Yuri!” tegur Yamada. Namun Yuma justru minta di lanjutkan.
“Dia bahkan memintaku berhenti memanggil Ryosuke ‘dompet’. Kan terserah
aku! Kenapa dia yang ngatur?”
Yuma kemudian tertawa. Yamada
menggeleng maklum seraya membenarkan senderan Chinen.
“Kenapa kau tak tanya soal Okamoto-kun yang sok-sokan ngatur itu?”
“Shh.. Yuma!” Yamada berdecak. Chinen
memutar bola matanya. “Untuk apa? Prinsipku, kalau aku mau panggil
siapapun begitu, aku akan panggil begitu.”
“Oh...” Mata Yuma memincing kemudian melirik Yamada—sekaligus berkedip, “Ryosuke...?”
“Ya?” Yamada menyahut, ia seakan mengerti permainan Yuma.
“Ah!”
Kalau saja Yuma sutradara film BL, sudah pasti bintang film pertamanya adalah
YamaChii! Oh tak perlu jadi sutradarapun kalau Johnny’s membolehkan artisnya
main film BL, Yuma akan langsung merekomendasikan YamaChii pada sutradara pembuat
Haunted Campus-nya. Dan omong-omong, erangan kekesalan Chinen yang barusan benar-benar
membuatnya ingin menjerit-nista sepuasnya.
“Ada yang kesal, Yum..” Yamada memulai diiringi kekehan, ia tak
menghiraukan Chinen yang mulai merengek disebelahnya. Pemuda itu malah memeluk
Chinen dari samping seraya membekap bibir seksinya. “Kesal sekaligus iri gitu sama
Toma-kun waktu kita kerja bersama.”
“Kesalnya gimana, tuh?” Yuma pura-pura tak tahu. Padahal... apa sih dari
YamaChii yang tidak Yuma ketahui? Erangan Chinen kalau disentuh Yamada saja dia
tahu.
“Kesalnya sampai sok-sokan merengut gitu di konser. Sampai bilang-bilang ke
fans kalau dia selalu memanggilku ‘Ryosuke’. Terus baru mau senyum lagi setelah
ku peluk di panggung.”
“Ryosuke!!” Chinen mulai tak tahan. Ia lantas menarik pipi pemudanya hingga Yamada mengaduh. “Sakit ih,”
Chu.
Habis di tarik, di cium. Ini langka, batin
Yuma bahagia.
“Yuri~!!” Yamada menepuk gemas bibir Chinen. “Aku sudah mengatakan ini ribuan
kali! Jangan menciumku lebih dulu!”
“Buat menghilangkan sakit,” elak Chinen. Yamada berdecak kesal dan langsung
meraup bibir Chinen.
Kau tanya Yuma? Ya, Yuma masih disitu. Menyaksikan ciuman panas Yamada dan
Chinen dirumah nya sendiri.
“Chii...” Yuma kembali buka suara setelah Yamada selesai menyesap mulutnya.
“Eunghh.. ?” Chinen menyahut diantara desahannya.
“Jangan panggil Yamada ‘dompet’ lagi, ya.”
“Hu-uh? Kau juga sama saja! Sudah kubi—“
“Okamoto-kun tak pernah iri denganmu. Dengan kalian. Yamada sendiri yang
curhat dengannya, denganku juga bahwa dia yang tak suka dipanggil ‘dompet’ olehmu.”
Chinen lantas menoleh pada Yamada yang merutuk—melihat lantai.
“Kau harusnya suka, Ryosuke...” Chinen menangkup pipi kekasihnya. “Karena ‘dompet’
berarti ‘nafkah’ dan berarti—“
“Aku tahu, hanya saja...”
Huh, drama. Yuma benci genre drama. Sehingga ia memilih
berjalan ke dapur.
“Kalau kupanggil suami kan...” wajah Chinen amat memerah sebelum melanjutkan
kalimatnya. Yamada mengangguk penuh pengertian, “Iya aku tahu. Tapi jangan
sering-sering panggil aku begitu di publik. Mereka pikir kau memperalatku
padahal tidak sama sekali.”
“Mereka siapa? Orang yang ngaku-ngaku kekasihmu? Fansmu itu? Hahaha...
secuil bulu kakipun nggak ada apa-apanya mereka,”
Yamada tertawa. Yuma di dapur juga tertawa.
“Sudahlah. Aku tak peduli dengan mereka. Yang penting, aku dan kau bersama.”
Tandas Chinen hingga akhirnya mereka kembali menyatukan bibir.
Oh, belum diberi tahu ya? Sebelum ke dapur tadi, Yuma ke kamarnya dulu
untuk mengambil kamera yang on pada mode video dan di letakan di atas
dispenser dekat dari posisi YamaChii ber—
“Bercinta.” Yuma terkekeh pelan. “Katanya nggak mau ngelakuin. Dasar munafik,”
Yuma kini berjalan menuju kamarnya untuk memantau kameranya dari leptopnya.
=THE END=
A/N : Iya YamaChii ena ena di rumah
Yuma. Woles sama Yuma mah. Mereka tahu Yuma gakan ember. YamaChii shipper nomor
satu Yuma tuh haha!! Dia ngerekam videonya, ntr minta aja ya /ngarang X'D pokoknya
ItaJan kemaren debest lah! Sukses menghilangkan ke betean sama Itajan yang si
yama pake gaun kek banci iwh jijik wakaka X’D maapin kalo cerita ini pendek dan
gajelaz. Buat menghibur hati saja hoho~


0 komentar:
Posting Komentar