Kamis, 30 Juni 2016

DO WHAT YOU WANT TO DO

Diposting oleh Kiwokchwan di 12.11
Judul : Lakukan Apa yang Ingin Kau Lakukan

Author : I’m

Pair : YamaChii of course

Genre : CANON, Comedy, romance

Summary : Di hadapan Yuma, mereka bebas. (Di harap nonton itadaki tanggal 2016.06.29 ya!)

WARNING! BAHASA SUKA-SUKA!

Here we go!
mukanya yuma ga nyante wkwk
.

.

.



“Babaaay~ Kita pulang duluan ya~!”  Inoo melambaikan tangan lentiknya sebelum enyah dari area syuting ItaJan yang hanya terdiri darinya, Yuto, Yamada dan Chinen. Oh omong-omong, dia di jemput Yuya. Kenapa Yuya bukannya Yabu? Ya nggak apa-apa, suka-suka yang buat fanfic, dong.

Sementara Yuto sudah pulang sejak semua kamera mati dan bahkan sebelum para kru istirahat. Katanya capek, besok jadwalnya sangat padat jadi ia harus cepat-cepat sampai rumah untuk tidur sambil pasang masker. Padahal Yamada tahu sebenarnya Yuto nganggur summer ini!

“Tinggal bertiga,” terdengar kekeh manis Chinen. Yamada  disampingnya juga ikut terkekeh.

Bertiga yang dimaksud adalah Yamada, Chinen dan.. Yuma. 

“Cih, Nggak usah berlagak kalem. Aku sudah terlalu sering lihat kalian bermesraan.”

Ucapan Yuma yang barusan membuat tawa Chinen pecah. Namun Yamada masih jaim—yah, wajar, masih dilokasi syuting soalnya—sehingga Yuma bergegas mengajak dua mantan rekan segrup nya itu undur diri dari lokasi.

“Yuma apa kabar?” mulai Chinen setelah berjalan beriringan bersama.

“Aku? Baik ‘kok. Sebentar, nggak enak aku nengahin kalian. Nanti ada yang nggak terima ahaha..” Yuma lantas tukar posisi dengan Yamada sehingga Yamada dan Chinen saling bersebelahan.

“Kenapa kau tiba-tiba datang di ItaJan?” Yamada langsung bertanya, menghilangkan poker facenya.

“Nggak boleh emangnya?” Yuma justru melempar pertanyaan dan membuat Yamada mendengus. “Boleh. Hanya saja.... cukup mengejutkan.”

“Mengejutkan mana sama kau dan Arioka serta Yuto-kun yang disuruh nikah?”

Astaga Yuma. Itu tadi adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Air muka Chinen sukses berganti muram.

“Aduh,” aktor drama Piece itu tiba-tiba memekik karena kakinya di injak oleh Babi—eh maksudnya Yamada.

“Chii-chan, kau nggak perlu ngambek.” Kata Yuma seolah paham, “Tenang saja, Yama-chan hanya menyukaimu! Kemarin waktu selesai syuting ItaJan yang dia di dandani jadi banci itu, dia langsung curhat sampai pagi katanya sangat menyesal melakukan itu.”

Yamada justru melotot. “Berisik! Nggak usah sok-sokan manggil dia '–chan'. Geli!”

“Oh yaudah, Yuri~”

Kaki Yuma semakin di injak.

“Manggil ‘Chii’ nggak boleh, ‘Yuri’ juga nggak boleh, maunya gimana sih?!” Yuma tak tahan untuk protes. Nah kan, kalau sudah kumpul bertiga gini pasti dia yang terbully.

“Panggil ‘Watashi no Chinen Yuri’,” celetuk Chinen seraya tertawa. Oh akhirnya si mungil itu tertawa. Yamada ikut tertawa sebelum kemudian menghunuskan tatapan tak terima pada kekasihnya itu. “Kau cuma milikku!”

“Ahahaha..!!” Yuma akhirnya juga tertawa.

=:=


Kini mereka berada di apartemen Yuma.

“Kalau mau nginap juga nggak apa-apa, kamarnya ada dua. Mau ‘main’ disini juga nggak apa-apa. Atau mau—“

“Yuma, cukup.” Yamada mendengus. “Kita tidak akan melakukan itu disini!”

“Oh ya?” mata Yuma memincing. “Tapi Chinen mau tuh.”

Pemuda mungil yang di maksud memang sudah amat melekat dengan Yamada semenjak mereka berkunjung kerumah Yuma. Ia bahkan tak malu untuk senderan di bahu Yamada dengan tangan mungilnya memainkan helaian rambut kuning-jagung-jelek kekasihnya itu.

“Yuri?”

“Hm?”

“Ada Yuma.”

“Biarin, Yuma ini. Dia kan bukan Keito yang sok-sokan melarang kita melakukan ini-itu kalau sedang bertiga.” Gerutu Chinen.

Yuma lantas mengernyit. “Ada apa dengan Okamoto-kun?”

“Keito,” Chinen memulai, “dia mungkin cemburu denganku.”

Yamada tersenyum namun mendengus. Chinen lalu melanjutkan, “Keito merasa bahwa Ryosuke itu kekasihnya! Gila kan?”

“Sshh.. Yuri!” tegur Yamada. Namun Yuma justru minta di lanjutkan.

“Dia bahkan memintaku berhenti memanggil Ryosuke ‘dompet’. Kan terserah aku! Kenapa dia yang ngatur?”

Yuma kemudian tertawa.  Yamada menggeleng maklum seraya membenarkan senderan Chinen.

“Kenapa kau tak tanya soal Okamoto-kun yang sok-sokan ngatur itu?”

“Shh.. Yuma!”  Yamada berdecak. Chinen memutar bola matanya. “Untuk apa? Prinsipku, kalau aku mau panggil siapapun begitu, aku akan panggil begitu.”

“Oh...” Mata Yuma memincing kemudian melirik Yamada—sekaligus berkedip, “Ryosuke...?”

“Ya?” Yamada menyahut, ia seakan mengerti permainan Yuma.

Ah!

Kalau saja Yuma sutradara film BL, sudah pasti bintang film pertamanya adalah YamaChii! Oh tak perlu jadi sutradarapun kalau Johnny’s membolehkan artisnya main film BL, Yuma akan langsung merekomendasikan YamaChii pada sutradara pembuat Haunted Campus-nya. Dan omong-omong, erangan kekesalan Chinen yang barusan benar-benar membuatnya ingin menjerit-nista sepuasnya.

“Ada yang kesal, Yum..” Yamada memulai diiringi kekehan, ia tak menghiraukan Chinen yang mulai merengek disebelahnya. Pemuda itu malah memeluk Chinen dari samping seraya membekap bibir seksinya. “Kesal sekaligus iri gitu sama Toma-kun waktu kita kerja bersama.”

“Kesalnya gimana, tuh?” Yuma pura-pura tak tahu. Padahal... apa sih dari YamaChii yang tidak Yuma ketahui? Erangan Chinen kalau disentuh Yamada saja dia tahu.

“Kesalnya sampai sok-sokan merengut gitu di konser. Sampai bilang-bilang ke fans kalau dia selalu memanggilku ‘Ryosuke’. Terus baru mau senyum lagi setelah ku peluk di panggung.”

“Ryosuke!!” Chinen mulai tak tahan. Ia lantas menarik pipi pemudanya hingga Yamada mengaduh. “Sakit ih,”

Chu.

Habis di tarik, di cium. Ini langka, batin Yuma bahagia.

“Yuri~!!” Yamada menepuk gemas bibir Chinen. “Aku sudah mengatakan ini ribuan kali! Jangan menciumku lebih dulu!”

“Buat menghilangkan sakit,” elak Chinen. Yamada berdecak kesal dan langsung meraup bibir Chinen.

Kau tanya Yuma? Ya, Yuma masih disitu. Menyaksikan ciuman panas Yamada dan Chinen dirumah nya sendiri.

“Chii...” Yuma kembali buka suara setelah Yamada selesai menyesap mulutnya.

“Eunghh.. ?” Chinen menyahut diantara desahannya.

“Jangan panggil Yamada ‘dompet’ lagi, ya.”

“Hu-uh? Kau juga sama saja! Sudah kubi—“

“Okamoto-kun tak pernah iri denganmu. Dengan kalian. Yamada sendiri yang curhat dengannya, denganku juga bahwa dia yang tak suka dipanggil ‘dompet’ olehmu.”

Chinen lantas menoleh pada Yamada yang merutuk—melihat lantai.

“Kau harusnya suka, Ryosuke...” Chinen menangkup pipi kekasihnya. “Karena ‘dompet’ berarti ‘nafkah’ dan berarti—“

“Aku tahu, hanya saja...”

Huh, drama. Yuma benci genre drama. Sehingga ia memilih berjalan ke dapur.

“Kalau kupanggil suami kan...” wajah Chinen amat memerah sebelum melanjutkan kalimatnya. Yamada mengangguk penuh pengertian, “Iya aku tahu. Tapi jangan sering-sering panggil aku begitu di publik. Mereka pikir kau memperalatku padahal tidak sama sekali.”

“Mereka siapa? Orang yang ngaku-ngaku kekasihmu? Fansmu itu? Hahaha... secuil bulu kakipun nggak ada apa-apanya mereka,”

Yamada tertawa. Yuma di dapur juga tertawa.

“Sudahlah. Aku tak peduli dengan mereka. Yang penting, aku dan kau bersama.” Tandas Chinen hingga akhirnya mereka kembali menyatukan bibir.

Oh, belum diberi tahu ya? Sebelum ke dapur tadi, Yuma ke kamarnya dulu untuk mengambil kamera yang on  pada mode video dan di letakan di atas dispenser dekat dari posisi YamaChii ber—

“Bercinta.” Yuma terkekeh pelan. “Katanya nggak mau ngelakuin. Dasar munafik,” Yuma kini berjalan menuju kamarnya untuk memantau kameranya dari leptopnya.

=THE END=


A/N : Iya YamaChii ena ena di rumah Yuma. Woles sama Yuma mah. Mereka tahu Yuma gakan ember. YamaChii shipper nomor satu Yuma tuh haha!! Dia ngerekam videonya, ntr minta aja ya /ngarang X'D pokoknya ItaJan kemaren debest lah! Sukses menghilangkan ke betean sama Itajan yang si yama pake gaun kek banci iwh jijik wakaka X’D maapin kalo cerita ini pendek dan gajelaz. Buat menghibur hati saja hoho~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review