Judul : Ayo habiskan waktu bersama
selamanya
Author : yang punya blog
Pairing : YamaChii (Yamada Ryosuke ❤ Chinen
Yuri)
Genre : Romance, fluff,
canon, smut
Summary : “Yuri, Aku mencintaimu lebih dari apapun didunia ini.”
| “Aku tidak butuh kata-katamu.” | “Baiklah, akan kubuktikan.”
| “Dengan lembut,” |
“Aku janji.”
DI DEDIKASIKAN SEBAGAI
HADIAH ANNIV KE-5 HUBUNGAN YAMACHII! 16 Januari 2011-16 Januari 2016. LEBIH
NIKMAT DIBACA SAMBIL DENGERIN 3/14 TOKEI~!! >w<
Cekidot!
.
.
.
.
Yamada’s POV
Aku baru menyadari satu hal saat mengecek HP selepas sarapan. Ah, mungkin
nanti saja mengucapkannya. Lagipula, kita akan bertemu.
“Selamat pagi, Chii.”
Kau mungkin berpikir aku menyapanya. Tapi
tenanglah, jangan berdelusi dulu. Aku hanya menyapa kaktus kesayanganku. Gila?
Terserah.
“Hari ini tepat 5 tahun aku menyatakan cinta padanya.” Sambil melepas baju
santai yang kukenakan, kurasa tak ada salahnya bermonolog. Masih ada beberapa
waktu untuk ke lokasi pemotretan kemudian ke studio School Kakumei untuk
syuting episode minggu ini.
Baru saja kukatakan. Aku dan kekasihku sudah
lima tahun berhubungan. Bisa ucapkan selamat?
Haha.. aku bercanda.
Haha.. aku bercanda.
Tring~
Oh, itu HPku!
Sudah kuduga, pesan darinya.
Ryosuke, sudah bangun dan sarapan kan? Aku belum bangun! Maksudku dari
tempat tidur tehe. Dan aku belum sarapan.
Omong-omong, happy anniv!
Astaga anak itu.. Aku tak menyangkal bahwa tertawa saat membaca pesannya.
Tapi terlalu buang-buang waktu jika mengetik balasan, menelponnya adalah pilihan yang tepat.
“Halo?”
“Bangun, gosok gigi, lalu sarapan!”
Kudengar suara tawa menggemaskan, kemudian gerutuan yang lebih ke-menyindir.
“Kukira ini Ryosuke. Ternyata ibuku~”
“Aku serius, Yuri.”
“Hmm.. nanti,”
“Hora!”
“Nanti saja kalau kita akan
bertemu di lokasi syuting. Lagipula, hari ini aku tak ada jadwal lain selain
syuting School Kakumei.”
Aku mendengus sambil memindahkan hp dari telinga kiri ke kanan, lalu
mengapitnya dengan bahu. “Di apartemenmu ada makanan?”
“Tidak ada.”
Satu lengan kemeja berhasil kukenakan. “Kau mau masak?”
“Menurutmu?”
“Tidak.”
“Hahahaha..”
Aku selesai mengenakan kemeja, kembali memegang HP dengan tangan kemudian
beranjak keluar kamar. “Kalau kau terus-terusan seperti itu aku akan merengek
pada ibumu agar dia menyeretmu pulang kerumah untuk diurus.”
“Ahahahaha...”
Dia malah tertawa? Dasar! “Setidaknya urus dirimu dulu, Yuri. Bukan berarti
kalau tinggal di apartemen sendiri kau terus-terusan main game dan tidur!”
“Oke, Strawberry Prince! Aku
bangun sekarang.”
“Bangun dari tempat tidur?”
“Iya~ Ini sedang menuju
kamar mandi.”
“Gosok gigimu yang benar.”
“Tentu, tentu. Aku tidak
sebodoh itu membiarkan mulutku bau ketika akan kau cium nanti.”
Astaga... Kurasa wajahku memanas mendengar ucapannya. Dan dia lagi-lagi
tertawa. Sialan.
“Baiklah, Ryosuke. Kau kerja
dulu yang benar. Setelah ini aku akan makan dengan—“
“Keito,”
“Eh?”
“Makan dengan Keito saja. Jangan dengan yang lain. Kalau dengannya, aku
percaya.”
“Eh? Yah... tapi aku ingin
makan dengan kakakku. Saaya-nee mengajakku sarapan di kafe milik temannya.”
“Oh. Kalau kakakmu tidak apa-apa.” Dari merah semakin merah. Ck, ada apa
dengan wajahku!
“Hahah.. posesiv. Tapi aku
menyukainya.”
“Sudahlah sana gosok gigi!”
Aku memutus sambungan kemudian meremas HP dengan perasaan membingungkan.
Aishh... entahlah. Semakin hari rasanya aku semakin menyukainya.
Mengakuinya. Menerimanya. Padahal dulu aku punya pemikiran tidak akan bisa
akrab dengan anak kurang ajar sepertinya. Yang kalau bercanda suka keterlaluan.
Yang selalu bertingkah seolah-olah semua orang akan memanjakannya (namun itu
benar). Bahkan lima tahun yang lalu, ketika aku menyatakan perasaanku padanya
di muka umum, aku merasa itu adalah tindakan paling salah. Namun kini, akan
sangat menyesal kalau aku tidak melakukannya.
Dia, Chinen Yuri.
Adalah sahabatku, adikku, kekasihku, orang yang selalu ada untukku ketika
aku butuh penopang. Satu-satunya orang yang bila mengucap namaku akan muncul
perasaan asing yang menjadi candu. Bahkan bila keluargaku memanggil ‘Ryosuke’,
aku tidak merasa bahwa namaku spesial. Tapi bila dia memanggil begitu, aku
merasa akulah orang yang paling berharga baginya.
Tapi kemudian aku sadar, dia memanggil semua member Hey! Say! JUMP dengan
nama mereka haha, sialan. Bisa dibilang, sifat kurang ajarnya tidak berubah
sedari bocah. Tapi justru itu yang membuatku sadar bahwa dia berbeda. Dia
istimewa.
“Oh tidak. Sudah waktunya.” Aku meraih setelan luarku lalu bergegas menuju
lokasi pemotretan. Kerjaan hari ini diawali dengan potosyut dan wawancara
pribadi dengan majalah QLAP. Doakan saja aku tidak keceplosan mengatakan bahwa
hari ini aku sedang bahagia karena anniv.
=:=
Chinen’s POV
“Ryosuke idiot! Dia sama sekali tidak mengatakan apapun di telpon tadi!” Oh
mungkin ‘sama sekali tidak’ bukanlah kalimat yang tepat. Akan kuralat. Dia sama
sekali tidak membalas ucapan perayaan
hari jadi kita di telpon tadi! Apa-apaan itu!?
Malah menyuruhku menggosok gigi! Apa dia ibuku?
“Awas saja kalau ketemu nanti!”
Aku menggosok gigi dengan kesal. Ck, ayolah Yuri... semangat! Hari ini hari
istimewa! Tunggu, istimewa? Hah, dia saja tidak ingat! Dasar babi jelek!
Drttt... drtt....
HPku berdering. Dari dia-kah?
“Halo?”
“Chinen!”
Aish, orang ini ternyata. “Ada apa, Dai-chan?”
“Kau free, kan? Ayo kita
keluar!”
Malas, ah. “Aku sibuk hehe...”
“Jangan bohong, Chii. Aku
tahu kau tidak ada jawal kerja. Ayo kita keluar. Akan kutemani kau beli kado.”
“Kado?” Alisku terangkat.
“Astaga... pura-pura lupa?
YURIIIII AKU MENCINTAIMU LEBIH DARI—“
“Sshhh hentikan, Daiki!” Seenaknya saja mengucap kalimat istimewa
Ryosuke-ku! Dasar pinguin norak!
“Ahahaha... happy anniv,
YamaChii!”
Cih, malah Dai-chan yang ingat. “Makasih hehe...”
“Kalau begitu kita janjian di tempat biasa. Akan kutemani kau beli kado
anniv untuk Yama-chan!”
Dan sambunganpun terputus. Janjian dia bilang? Yang anniv aku dengan
Ryosuke atau aku dengan Dai-chan? Kenapa malah aku yang pergi dengannya?
Nee-chan, kita tak jadi sarapan bersama! Aku ada rencana lain!
Send to Chinen Saaya.
=:=
Normal POV
Chinen sama sekali tidak menatap Yamada selepas syuting School Kakumei.
Sedari tadi ketika kamera on, ia
hanya bersikap normal dan sesuai script. Yamada sangat peka dalam hal ini
karena jelas berbeda mana perlakuan Chinen yang asli dan yang ditunjukan hanya
didepan kamera. Ketika sampai di ruang ganti, Yamada mencoba bicara.
“Kau marah?”
Pemuda imut di sana mendengus sambil terkekeh pelan. “Untuk apa marah?”
“Oh berarti hanya perasaanku saja. Kau sudah makan?”
“Tadi siang dengan Dai-chan sudah.”
Mendengar jawaban kekasihnya, mata Yamada langsung menyipit. “Dengan
siapa?”
“Dai-chan.” jawab Chinen fasih.
“Katamu makan dengan Saaya-nee?”
Chinen mengangkat bahu, cuek. Atau pura-pura cuek. “Dai-chan mengajakku
kencan. Jadi apa boleh buat.”
Aha, kuping Yamada langsung panas mendengar ucapan Chinen. Namun ia tidak
lanjut bicara. Setelah selesai berganti baju Yamada segera pamit dengan para kru
serta pengisi acara School Kakumei dan menyeret Chinen keluar dari studio.
Baru diambang pintu keluar, Hikaru tiba-tiba berseru.
“Yamada, Chinen, selamat hari jadi!”
Kemudian mereka semua yang ada di studio tertawa dan ikut menyelamati.
Chinen tertawa manis dan berterimakasih namun kemudian tawanya terganti
dengusan keras saat melihat Yamada hanya tersenyum terpaksa dengan wajah super
merah.
=:=
“Kukira kau akan mengajakku ke restoran.” Chinen menghempaskan pantatnya
pada sofa, lalu mendengus. “Aku lapar!”
“Tadi siang kau pergi kemana dan kenapa pergi dengan Dai-chan?” Respon
Yamada justru sebuah interogasi. Ia kini ikut duduk di samping Chinen.
“Oh itu,” Chinen meraih tasnya kemudian mengeluarkan sesuatu lalu segera
diserahkan pada pemuda kesayangannya. “Ini.”
Yamada mengernyit.
“Aku bukan marah padamu. Hanya kecewa. Terlebih ketika Dai-chan yang
pertama mengucapkan ‘selamat hari jadi’
dan bukannya kau.” Penjelasan Chinen membuat alis Yamada terangkat satu. “Hanya
karena itu kau selingkuh?”
“Apa maksudmu selingkuh?” Nada Chinen jelas tak terima. “Apa pergi membeli
hadiah untuk hari jadi kita yang kelima dengan teman itu namanya selingkuh?”
Tatapan Yamada perlahan melembut, ia kini merengkuh Chinen dengan lembut.
“Oh, jadi ini kado untukku? Terimakasih.” Lalu mengecup singkat pipi kemerahan
Chinen. Namun perlakuan Yamada tidak membuat Chinen tersenyum. Ia justru berkata
cukup sinis. “Bikinkan aku makanan kalau ingin kubalas ‘sama-sama’ karena aku
sangat lapar.”
Yamada mengacak-acak rambut legam kekasihnya dengan riang.
“Baiklah-baiklah. Kubuatkan sop tofu dan
chicken katsu. Ini tidak akan lama. Tunggu sebentar.”
Chinen mengangguk singkat saat kekasihnya menuju dapur. Alih-alih lelah
membuka HP atau gadgetnya, pemuda imut itu memilih merebahkan diri di sofa
Ryosuke-nya. Sofa baru, karena yang lama ada di rumahnya. Bahkan yang barupun
sudah melekat bau khas seorang Yamada.
=:=
Yamada’s POV
Aku meliriknya sekilas sebelum mulai memasak. Dia merebahkan diri
di sofa, kedua tangannya menyanggah kepala dan matanya mulai terpejam. Dasar,
anak itu benar-benar ngambek namun masih bisa menyembunyikannya.
Tapi aku yakin benar bahwa dia mengetahui rencanaku. Oh ayolah, Yuri. Kau
tahu siapa aku.
=:=
Chinen’s POV
Eungh... aku ketiduran? Tunggu, kenapa tubuhku—“Ryosuke?!”
“Sudah bangun, Sayang?”
Mataku lantas terbuka seutuhnya. Ryosuke berada tepat di atas tubuhku
dengan tangannya bertumpu pada kasur. Oh tunggu, ini di kamar? Bukannya tadi di sofa?
“Aku tahu kau tidak terlalu lapar. Sebelum syuting tadi kita sudah makan
kan?” senyum Ryosuke lantas membuatku meneguk ludah.
“Kau tahu aku, Yuri. Kau tahu jelas sifat kekasihmu ini.”
“Ryosuke...” aku melirih. Tapi tiba-tiba saja Ryosuke mencium leherku dan
melesakan kepalanya pada perpotongan leher. Ini gila!
“Akhhnn... Ryo—ryosuke...”
“Aku minta maaf,” katanya masih dengan menyesap. Tanganku bergerak untuk
menjauhkan tubuhnya, namun nihil. Bila sudah seperti ini tenagaku seperti disedot olehnya dan aku hanya bisa
menerima.
“Maaf karena aku tidak mengucapkan yang paling pertama.”
“Akh—aku maafkan..hhh... tapi tidak sekarang, Ryosuke..” Aku mendesah lega
saat Ryosuke berhenti mengecupi bagian atasku. Dan, astaga... kenapa cepat
sekali ia membuka kemejaku!?
“Apa kau butuh kado?”
Aku menggeleng lemah.
“Apa kau ingin ku belikan sesuatu?”
Lagi-lagi aku menggeleng.
“Kenapa? Padahal kau memberikanku.”
Mataku terpejam sesaat kemudian terbuka kembali demi menatapnya
lekat-lekat. Baru ingin kujawab, Ryosuke sudah mengatakannya lebih dulu. “Karena
semua yang kau inginkan sudah kuberikan. Benar?”
Aku terhenyak. Baru ingin bertanya 'kenapa bisa tahu' Ryosuke sudah lebih dulu menjelaskan.
“Aku sangat mengenalmu, Yuri. Kau tidak suka memberikan sesuatu untuk orang
lain. Bahkan bila itu kekasihmu sendiri. Ketika aku ulang tahunpun kau hanya memberikanku
kado patungan dengan Keito.”
Wajahku sempurna memerah melihat Ryosuke terkekeh pelan.
“Lalu kenapa kau pergi dengan Dai-chan?”
Oh itu... “Karena kupikir, aku bisa melupakan kekesalanku padamu karena tidak
mengucapkan kalimat yang ingin kudengar tadi pagi. Dai-chan memaksa, jadi...” ucapanku
tergantung, ini karena Ryosuke menatapku benar-benar serius. Dan posisinya
masih sama, seolah-olah dia akan menerkamku yang terlentang ini. “Ryosuke...”
tanpa sadar aku merengek. Oh ayolah! Aku paling tidak suka ketika dia marah.
Bukannya aku yang seharusnya marah?
“Apa saja yang kau lakukan dengannya?”
Mataku mulai berkaca-kaca. Sudah kubilang, aku benci situasi seperti ini. Aku
tidak suka melihatnya marah.
“Yuri...” Ryosuke lalu mendekapku dan menciumi wajahku banyak-banyak, namun
menyisakan untuk yang bibir.
“Kau tahu aku tidak pernah berniat selingkuh darimu tapi kenapa—“
“Shh.. maaf,” Dia mendekapku semakin erat, “aku hanya.. hanya tidak suka kau
bilang ‘kencan’ dengan Dai-chan tadi. Karena hari ini aku berniat menjadikanmu
hanya milikku.”
Aku mengernyit. “Tapi tadi pagi, kalau aku sarapan dengan Keito kau tidak
marah?”
“Kau pikir dia berani menyentuhmu?”
Yah, benar juga. Kalau sampai Keito terlalu berlebihan padaku bisa bisa dia
yang akan dimusuhi habis-habisan oleh Ryosuke. Dan sepertinya Ryosuke akan
melakukan itu pada Dai-chan setelah ini.
“Kita hanya makan siang bersama, lalu mencari kado.” Jelasku akhirnya.
Ryosuke kembali menatapku intens. “Dia melakukan skinship?”
“A-ah.. ya, sekedar merangkul dan menggandeng tanganku.”
“Merangkul dan menggandeng. Akan ku ingat.”
“Ryosuke...” lagi-lagi aku merengek. Dia pasti begitu! Bila ada member yang
memperlakukanku dengan baik pasti akan ia omeli habis-habisan. Dulu Ryutaro,
dulu juga Yuto, belum lama ini Kei. Lalu sekarang Dai-chan?
“Kau. Hanya. Milikku.”
“Iya, Ryosuke.. Iya, aku milikmu.”
Tepat setelah aku berkata, bibir Ryosuke langsung mengunci milikku.
Lidahnya bahkan meminta masuk. Aku tak punya pilihan lain selain mengizinkannya.
“Eunghh...” Nafasku mulai habis. Oh padahal kita sudah sering melakukan ini
tapi kenapa aku tidak bisa bertahan lebih lama sepertinya?
“Yuri...” Ryosuke melepaskan diri, ia tersenyum menawan seraya menyeka
poniku, “aku mencintaimu lebih dari apapun didunia ini.”
“Aku tidak butuh kata-katamu.” Dengusku.
“Baiklah, akan kubuktikan.”
Aku mengesah pelan sebelum akhirnya membalas, “Buktikan dengan lembut,”
“Aku janji.”
Ryosuke kembali menekan bibirku seraya tangannya mulai memainkan perannya.
=:=
Biar kuberitahu, aku menyukai Ryosuke sejak pertama kali kita berteman.
“Eungh...”
Aku yang lebih dulu menyukainya.
“Pelan-pelan..nnhh...”
Ketika melihatnya pertama kali di tv, aku punya firasat akan bersamanya
selamanya. Dan itu benar.
“Akkh...”
Tapi dulu dia membenciku.
“Ryosukehh..nnhh..”
“Ryosukehh..nnhh..”
“Kau siap?”
“Masukan pelan-pelan.”
“Aku janji, Yuri.”
“Eunghhh...!!”
Dia bilang aku menjengkelkan karena aku terlalu manja.
“Sa-sakiit.. pelan-pelan!”
“Ini sudah pelan nnnhh...”
Dia bahkan tidak suka melihatku duduk dipangkuan siapapun. Dia selalu
menghidari mataku.
“Ahnn.. disitu!”
“Baiklah, kupercepat temponya, ya.”
“Ughhnmn..hh..!”
Dia terlalu fokus menjadi idola. Hingga akhirnya dia sadar bahwa aku
menarik.
“Ahh.. lebih cepat, Ryosuke!”
Aku tahu itu saat dia selalu berlaku judes dengan siapapun yang
memanjakanku. Yang paling pertama kusadari adalah Yuto. Saat Yuto memeluku di making Ultra Music Power.
“Ryo—suke..hh.. aku mau keluar ahnn...”
“Keluar bersama..”
Tapi kemudian aku lebih sadar, ia lebih sering cemburu dengan Ryutaro.
Bahkan ketika Ryu keluar, Ryosuke yang paling tidak kelihatan sedih.
“Akhhnn.. Ryosuke!!”
“Yuri!!”
Hingga kini aku semakin sadar. Bahwa Ryosuke sangat mencintaiku.
Mencintaiku dengan caranya sendiri. Dengan tindakannya yang kadang membuatku
bingung. Dengan sikapnya yang selalu tidak terduga.
Ketika semua orang mengira bahwa Yamada Ryosuke adalah pribadi yang girly... tapi dibalik semua topeng
make-upnya itu ia memiliki jiwa dominan yang kental. Dan hanya aku yang bisa
merasakannya. Hanya aku yang tahu betapa laki-lakinya
dia. Hanya aku yang akan di perlakukannya begitu gentle. Hanya aku...
“Aku mencintaimu Yuri...”
“Aku juga mencintaimu.”
Karenanya, ketika Ryosuke bilang. “Happy Anniversary...”
Aku merasa bahwa aku benar-benar miliknya seorang.
=THE END=
A/N : eum.. jadi gini, saya
buat ini sebenernya dari bulan Des 2015 biar pas di publis tanggal 16 Jan
2016. Tapi terus saya malas lanjutin karena lagi ada masalah sama dunia fangirl
jonis :v jadi saya beralih ke tante saya dulu :”)) Baru hari ini, 18 Juni 2016 saya
lanjut. Sekalian buat kado member grup saya yang baru /asik/ wkwk Btw, saya cukup
asik ngetik NC dari sudut pandang si eneng. Berasa saya yang lagi di apa-apain
Kento gitu /hoi/ XD jadi diksinya saya rombak jadi gitu pas NC-an mueheh.. lagian
ini malem puasa coi :”( tapi saya lebih suka ngetik dari sudut pandang Yamada sih hehe. nanti saya post ff yamachii saya yang dari sudut pandang yama. Ciao~


0 komentar:
Posting Komentar