Senin, 20 Juni 2016

Ketika Chinen Sakit

Diposting oleh Kiwokchwan di 04.32
Judul : Ketika Chinen Sakit

Author: Kiwok

Pair: YamaChii/RyoRi

Genre: Fluff, Romance

Summary: Member JUMP tidak punya hak merawat Chinen ketika sang bungsu itu  sedang tumbang. Yang berhak hanyalah ibunya, Chinen Miki. Namun Yamada tetap akan mengusahakan apapun agar bisa merawat kekasihnya.

Monggo~

.

.

.


Satu pesan dikirim ke email Yabu Kota, leader di grup tempat Chinen Yuri bernaung. Isinya;

“Anakku sakit. Tidak akan ikut latihan selama 3 hari penuh, mohon pengertiannya.”

Dari Chinen Miki yang tak lain adalah ibunda Chinen Yuri selaku member termuda di Hey Say JUMP. Yabu lantas memberi tahu Yuya, karena yang baru tiba di studio latihan barulah Yabu, Yuya, dan Dai-chan.

“Heee?! Kok bisa sakit?” pekik si gondrong, Dai-chan menoleh. “Kenapa?”

“Chii sakit...”

“HEEE!?” ganti Dai-chan yang memekik.

Chinen memang punya kebiasaan menyembunyikan sesuatu yang dianggapnya lemah atau buruk. Seperti saat sedang dalam kondisi tidak sehat, atau saat dirinya sedih. Dan saat dirinya sedang tidak ada di antara member kemudian dikabarkan dirinya tidak baik-baik saja, tentu membuat member lain panik.

“Bukannya kemarin baik-baik saja...?” Dai-chan menggigit bibir bawahnya, khawatir.

“Sepertinya ia kecapekan syuting Gold Medal...” Yabu menenangkan yang malah ditanggapi dengan dengusan Yuya. “Chinen akan baik-baik saja ditangan ibunya. Dua atau tiga hari nanti juga sehat lagi. Hanya saja...”

Hening sekita. Hingga kemudian...

O.HA.YOU~!!!

Suara sapaan semangat menggelegar di seluruh studio JUMP yang diketahui dari sang Ace dan sang Gitaris yang baru saja datang.

Yabu memasukan HPnya ke saku. Dai-chan pura-pura sit-up. Yuya hanya diam.

“He? Baru tiga orang? Inoo-chan belum datang?” tanya Yamada dengan luwes sembari melepas setelan musim seminya dan menaruh di pojokan studio.

“Hm.. sedikit telat. Inoo masih berskperimen dengan nasinya.” Ujar Yabu asal. Yamada tak begitu memperdulikan karena yang sesungguhnya ingin ia tanyakan adalah, “Chinen mana?”

Mereka bertiga meneguk ludah.

“Kan syuting Gold Medal!”

Takaki bego! Rutuk Dai-chan dalam hati. Yamada langsung mengangkat alisnya. “Syuting? Mana mungkin! Syuting Gold Medal sudah selesai kemarin. Sutradaranya bahkan yang melapor langsung padaku.”

Astaga, bahkan sutradaranya lapor ke Yamada. Posesif! Batin ketiganya.

“Er.. mungkin syuting promosi movie nya! Oh atau wawancara dengan pemain Shigoto—“

“Tidak, Dai-chan. Tidak. Aku tahu semua jadwalnya. Hari ini dia hanya ada jadwal latihan dengan kita di studio. Jadi tidak ada promosi. Tidak ada wawancara.”

Keito hanya tersenyum melihat sahabatnya berkata ketus. Ia menepuk pundak kekar Yamada seraya tersenyum, “Tunggu saja. Mungkin dia bangun agak telat. Hari ini kan latihan dimulai siang.”

Yamada mengangguk singkat kemudian berjalan menuju radio untuk memutar lagu yang akan di pakai latihan.

Inoo datang kemudian. Dan terakhir Yuto—yang memiliki jadwal super padat akhir tahun ini— datang masih mengenakan pakaian syuting.

“Yuri mana 'sih!?” Yamada mulai gusar.

“Eh iya ya..? aku belum lihat Chii! Mana dia?” tanya Yuto ceria. Namun disahut dengan nada ketus tiada tara. “Aku yang lebih lama disini saja belum lihat dia, apalagi kau!”

“Yama-chan, kata-katamu!” Yabu menegur.

“Nggak usah sewot kali, aku cuma bertanya!”

“Yuto,” Kali ini Keito yang menegur.

Ketiga member lainnya hanya mengesah maklum saat melihat sang drummer dan sang center saling tatap dengan sinis, kemudian membuang muka kearah berlawanan.

Yamada meraih HPnya di tas untuk segera menelpon Chinen. Namun dicegah Yabu.

“Kenapa sih!?”

Member tertua itu tersenyum sendu, “tadi ibunya mengirim email—“

Pupil Yamada lalu mengecil. Kalau sudah bawa-bawa ‘ibu’nya Chinen itu berarti...

 “—Chinen sakit, tidak akan ikut latihan dulu sampai dua hari kedepan.”

Lalu hening. Perkataan Yabu barusan membuat bibir Yamada kebas beberapa saat sampai akhirnya ia kembali bersuara. “Kenapa tidak bilang dari awal?”

“Err...”

“Ck!” Yamada langsung menyambar tas beserta jaketnya. Namun kali ini ditahan oleh Keito. “Kau mau kemana? Sudah waktunya latihan...!”

“Latihan kau bilang?!” alis Yamada langsung menukik, “Chinen sakit!”

“Iya aku mengerti. Tapi kita harus latihan dulu.”

“Tidak. Aku akan kerumahnya.”

Lalu terdengar dengusan tawa. “Kau hanya akan diusir seperti waktu itu. Sia-sia mendatangi Chinen kalau dia lagi sakit.”

“YUTO!” Sang gitaris berseru. Namun Yuto yang tadi mengejek hanya mengorek kupingnya, cuek. “Aku bicara yang sebenarnya, Keito. Kau selalu membela dia. Oh, mentang-mentang sekarang jadi saha—“

“Hentikan kalian berdua...” Yabu mendisis jengkel. Jiwa leadernya langsung keluar. Ia lalu menatap Ace-nya dengan bijak, “Yama-chan... Aku bukan bermaksud melarangmu mengawatirkan Chinen. Aku tahu dia segalanya untukmu tapi kau ingat ‘waktu itu’ kan?”

“.....”

“Kau masih ingat kan? Saat kau berdiri di depan rumahnya padahal musim dingin tapi tidak di bukakan pintu? Imbasnya malah ke dirimu sendiri dan ke Hey Say JUMP. Saat Chinen sudah sembuh malah gantian kau yang sakit dan kita tidak jadi tampil di acara ZIP.”

Yamada terdiam.

“Ibu Chinen sangat tegas, kau tahu itu. Dia tidak akan membiarkan siapapun merawat Chinen selain dirinya.”

Itu benar. Saat Chinen sakit, hanya ibunya yang boleh merawat Chinen. Bahkan nyonya Chinen tidak  mengizinkan siapapun menjenguk putranya itu karena akan menyebabkan Chinen tidak sembuh-sembuh.

Waktu itu Yamada pernah nekat ingin menjenguk Chinen. Ia menunggu di depan kediaman Chinen namun ibunya bersihkeras tidak mengizinkan hingga Yamada kedinginan di luar rumah dan justru sakit flu.

“Kenapa bisa sakit?” tanya Yamada dengan lirih. Oh sungguh, ia tidak bisa semangat kalau tidak ada Yuri-nya.

“Kecapekan syuting sepertinya. Sudahlah Yama-chan.. lebih baik kita latihan dulu.”

Dan mau tidak mau, Yamada menuruti keinginan leadernya. Sebisa mungkin fokus untuk menghafal koreografi meski sebenarnya perasaannya kalut.

Hingga saat latihan selesai dan member di bebaskan pulang...

Moshi-moshi?

“Saaya-neechan?” Yamada menelpon kakak dari kekasihnya.

Oh, Yamada-kun?”

“Apa Yuri sudah baikan?”

Chinen Saaya lantas tersenyum. “Sudah lebih baik dari semalam. Semalam demamnya hingga 40 derajat.”

Yamada merasa linu ketika mendengar itu.

“Tapi sekarang sudah lebih baik. Demamnya sudah turun. Kau tahu kalau HP Yuri di sita ibu jadi kau menelponku ya?”

Yamada mengangguk spontan. “Apa Chinen benar-benar sudah baikan? Nee.. aku ingin menemuinya...!!”

“Ia baik-baik saja, Yamada-kun. Hanya kecepekan syuting. Apalagi waktu syuting Gold Medal ia terus-terusan latihan berenang. Jadi dia demam ketika pulang. Tapi tenang saja besok atau lusa dipastikan bisa ikut latihan. Adikku cepat menghafal koreografi.”

Kalau masalah koreografi dance Maji Sunshine Yamada tak mempermasalahkannya. Toh gerakannyapun mudah, kekasihnya pasti dengan cepat bisa mengikuti. Hanya saja.. Chinen Yuri itu jarang sekali sakit. Bahkan Yamada tidak pernah melihatnya kesakitan (Kecuali bila melakukan itu di apartemennya), tapi mendengar kekasihnya tumbang hanya karena syuting, ia ingin sekali menjenguk dan merawatnya.

“Telponan dengan siapa, Saaya?”

Yamada mendengar suara ibu Chinen di telpon. Saaya cepat-cepat menyahut. “Er.. dengan pacarku, bu!”

Dasar, sang Ace terkekeh. Kakak dan adik sama-sama tak pandai berbohong ternyata.

“Ibu ingin ke supermarket untuk membeli bahan makan malam. Kau jaga adikmu ya.”

“Iya, bu!”

Seperti ada bohlam lampu imajiner di sekeliling Yamada, ia cepat-cepat bilang, “Tante ke supermarket? Kalau begitu aku bisa menjenguk Yuri kan, Nee?”

“Eh? Ta-tapi...”

“Oh ayolah! Sebentar saja!!”

“Aku tidak berani, Yamada-kun... ibuku sangat galak kalau masalah itu..”

“Tidak apa-apa, kalau tante sudah benar-benar pergi, aku akan bergegas kesana. Paman sedang dinas keluar kota kan?”

“Ya-yah.. tapi kau harus cepat. Dan hanya benar-benar sebentar menjenguk ya!”

“Aku mengerti!”

=:=

Jadi, disinilah Yamada sekarang. Di depan kediaman Chinen Yuri menunggu dibukakan pintu oleh Saaya.

“Sstt.. cepat masuk ke kamar Yuri! Dia sedang tidak tidur.” Ujar Saaya sembari mengawasi sekeliling, berharap ibunya lama di supermarket.

Yamada mengangguk dan dengan sigap ke lantai dua menuju kamar Chinen.

“Yuri!”

Chinen yang sedang berbaring di tempat tidur terkejut melihat kekasihnya memasuki kamar, ia kemudian mencoba duduk.

“Sshh.. tak usah dipaksakan...” Yamada cepat-cepat menghampiri Chinen untuk menahan gerakannya, membuat Chinen kembali rebahan.

“Kenapa disini?” tanya Chinen dengan lemah. Oh sungguh Yamada ingin menangis saat ini juga melihat kekasihnya terbaring seperti ini.

“Tante sedang pergi jadi kurasa ini—“

“Pulanglah.”

Yamada terkejut dengan ucapan Chinen. Ia mengusirnya?

“Pulanglah... aku tak mau kau disini, nanti tertular.” lanjut Chinen, suaranya pelan seperti berbisik. Yamada menautkan alis mendengar itu. “Aku hanya ingin—“

“Kubilang pulang, Ryosuke...!”

“Hei,” Yamada menangkup pipi Chinen dan ia terkejut ketika merasakan panas disana. “Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Yuri...”

“Aku sedang berantakan dan jelek. Pulanglah. Chinen Yuri yang ceria dan imut sedang tidak disini. Disini hanya ada Chinen Yuri yang jelek dan lemah.”

Kata-kata itu spontan menohok hati Yamada. Jadi karena itu? Karena itu Chinen tak ingin di jenguk?

“Kau tidak jelek.”

“Omong kosong.”

Yamada mengesah. Bukan jelek sebenarnya, Chinen Yuri tidak pernah jelek di mata Yamada. Hanya terlihat berantakan dan sangat pucat. Matanya sayu, bibirnya pecah-pecah, dan.. tubuhnya sangat hangat.

“Aku tidak suka kau pandang seperti itu. Pulanglah Ryosuke..”

“A—aku ingin merawatmu..” lirih Yamada, menggenggap tangan hangat Chinen.

“Tidak. Ibuku yang akan merawatku. Kau pulang dan berlatihlah. Besok atau lusa kau sudah bisa melihat Chinen Yuri yang bersemangat seperti biasa.” Sahut Chinen seraya melepas genggaman Yamada.

Center di JUMP itu tak berkata apa-apa sampai kemudian Chinen terbatuk sesak.

“Yuri...!”

“Pulang... uhuk uhuk... Kumohon, Ryosuke.. pulanglah... uhuk.. aku tak mau kau melihatku seperti ini..”

Saaya tiba-tiba memasuki kamar seraya membawa air hangat dan menyerahkan pada adiknya. “Yuri, kau belum meminum obatmu kan?”

“Ugh...” sang adik hanya memajukan bibir.

“Kalau kau masih susah minum obat sembuhnya akan lama, Yuri!” omel sang kakak sambil mengambil gelas dari adiknya. Kemudian ia beralih pada Yamada.

“Er... Yamada-kun, mungkin benar kau pulang saja. Sudah bertemu Yuri, kan? Nanti ibu keburu datang.” 

Tapi Yamada justru berdiri dan bertanya. “Apa ada beras?”

“Eh?”

“Aku tanya, apa ada beras? Dan alat kukus?”

“A-ada...”

“Aku pinjam dapurnya kalau begitu.”

Chinen tak bisa mencegah kekasihnya yang sudah melesat ke dapur. Tubuhnya sangat lemas dan pusing bahkan hanya untuk rebahan. Jadi mau tak mau Saaya yang protes.

“Yamada-kun, apa yang kau lakukan?!”

“Membuat bubur.” Di sahut cepat. Yamada sangat sigap untuuk urusan memasak, apalagi kalau hanya bubur.

“Kau bercanda?! Nanti ibuku pulang lalu me—“

“Tenang saja, kakaknya Yabu-chan bilang kalau di supermarket langganan tante sedang ada diskon dan promo besar-besaran. Tante tidak akan pulang secepat itu.”

“Tetap percuma Yamada-kun, Yuri tidak mau memakan apapun kalau sedang sakit. Hanya ibu yang bi—“

“Tenanglah, Saaya-nee.” Yamada memutar tubuhnya, menatap Chinen sulung disana dengan tatapan pasti. “Kali ini aku yang akan membuat Yuri sembuh.”

Dan benar saja, hingga satu jam lebih ibu Chinen belum kembali dari belanja. Sementara bubur kilat yang di masak Yamada sudah jadi.

“Yuri,”

Chinen tak bergeming ketika Yamada masuk kedalam kamarnya dan memanggil.

“Sayang...” Yamada mencoba menepuk pipi kekasihnya itu baru kemudian Chinen membuka mata. “Ke..na..pa.. masih.. di..sini?” tanyanya lemah. Yamada tersenyum sendu seraya membantu Chinen rebahan di kasur.

“Aku membuatkanmu bubur..”

“eung..” Chinen menggeleng.

“Makanlah, sedikit saja. Aku buat ini spesial untukmu.” Pinta Yamada dengan lembut.

“Tidak mau.” Chinen menjauhkan sendok yang diarahkan Yamada, membuat pemuda itu mengesah maklum. “Ayolah sayang...”

“Aku enek kalau makan bubur..”

“Ini tidak akan enek. Aku sudah menakar bumbunya.”

Chinen melihat bubur pada mangkuk di tangan Yamada dalam-dalam, hingga akhirnya ia membuka kecil mulutnya. Yamada dengan cepat menyendokkan bubur itu penuh kasih, sampai Chinen menelannya Yamada baru berucap. “Enak kan? Kau tahu aku jago memasak, sayang.”

Chinen hanya tersenyum lemah. Yamada kembali menyuapkan bubur buatannya pada Chinen hingga habis satu mangkuk penuh.

“Nah sekarang minum obatnya.”

Chinen langsung gelagapan. “Nggak. Ryosuke pulanglah, nanti aku—“

“Sekarang Yuri.” Tandas Yamada pasti. “Aku sudah bertekad akan mengurusmu kali ini.”

“Tidak, kumohon. Aku tidak mau meminumnya...”

Yamada mengesah gemas lalu meraih obat Chinen di meja kecil samping kasurnya. Mengambil sebutir tablet dan sebutir pil berwarna kekuningan.

“Oh tidak, jauhkan itu Ryosuke.. aku mohon..” Chinen nyaris saja menangis saat Yamada justru mengambil minum.

“Ryosuke...” dan ia benar menangis.

“Apa yang kau takuti dengan obat?” Yamada terkekeh pelan melihat Yuri-nya menangis seperti bocah. Sungguh, ia sudah 22 tahun!

“Nggak..! pokoknya nggak ma—“

Tapi tiba-tiba Yamada memasukan obat itu ke mulutnya sendiri seraya meneguk air, kemudian mendekatkan diri pada bibir Chinen.

“Eunghhnnn.. unghh..!!”

Ya, pemuda utama di JUMP itu menyuapkan obat Chinen melalui ciuman. Cara ini dirasa cukup efektif untuk kekasihnya yang susah di suruh minum obat.

uhuk uhuk uhuk!!” Chinen terbatuk kencang sambil menepuk-nepuk dadanya yang membuat Yamada cepat-cepat menyerahkan air.

“BRENGSEK!” Seru pemuda imut itu setelah menegak minumnya, kemudian memukul cukup kencang bahu Yamada. “Aku sudah bilang tidak mau kan? Kenapa kau... kena...” Chinen terisak sesaat sebelum lanjut berucap, “KITA PUTUS!”

Yamada benar-benar merasa seperti disambar petir ketika mendengarnya.

Ceklek! Saaya masuk ke kamar kemudian menyeret Yamada keluar. “Ibuku sudah diujung jalan! Kau cepat pergi lewat pintu belakang!”

“PERGI!” Usir Chinen juga.  Kaki Yamada sebenarnya lemas mendengar Chinen mengusirnya seperti itu, tapi Saaya sangat kuat menyeretnya keluar dari rumah.

=:=

Sehari berlalu. Yamada bahkan tidak semangat melakukan wawancara dengan pemain Grasshoper juga ketika latihan, ia seperti kehilangan jiwanya.

“Hoi!” Dai-chan menepuk paha Yamada yang saat tiba di studio latihan dance, si center itu hanya terduduk bengong di pojokan. “Kau kenapa sih? Sudahlah, besok Chinen pasti  baik-baik saja!”

“Bukan itu.”

Dai-chan mengernyit.

“Chinen memutuskanku.”

“Kalau mau melawak jangan siang-siang begini, Yama-chan. Garing.” Oceh Dai-chan sambil mengibas-ngibaskan tangan.

“Apa salahnya kalau aku menciumnya...?”

“Eh?”

“Menciumnya sambil memberikan obat. Padahal cara itu cukup ampuh agar dia mau minum obat.”

“Eh tunggu, kau serius saat bilang Chinen memutuskanmu?” tanya Dai-chan dengan mata melebar. Namun Yamada justru lanjut mengoceh, “aku sudah membuatkannya bubur, aku merawatnya, lalu dia minta putus...”

Dai-chan memanggil Keito dan member lain sebelum meminta Yamada menjelaskan semuanya dengan detail.

.

“Sulit dipercaya....” Hikaru mengusap-usap dagunya. “Chinen memutuskan Yamada hanya karena ciuman... pendeta manapun juga tidak akan percaya.”

Yabu mendengus mendengar lelucon Hikaru. “Ibu Chinen benar-benar tidak tahu?”

“Tidak. Tante ke supermarket. Kurasa Saaya-nee membuat alasan untuk Yuri yang telah minum obat dan makan bubur buatanku karena tante tidak mengomel padaku di telpon.” Jelas Yamada lesu. Keluarga Chinen sudah mengenal Yamada luar-dalam sehingga bila ada apa-apa dengan anaknya, pasti mereka bertanya—atau lebih tepatnya mengomel—pada Yamada.

“Yama-chan, sudah berapa tahun kau bersama Chinen?” Keito bertanya tiba-tiba. membuat Yamada merasa tersindir. “Kau tahu jelas jawabannya, untuk apa bertanya?”

“Jadi benar itu pertama kalinya kau melihat Chinen sakit? Kau yakin?”

Yamada mengangguk. “Chinen jarang sakit. Dia tidak pernah sakit di—“

“Di hadapanmu.” Sela Keito kemudian. “Dia tidak pernah dan tidak akan mau terlihat lemah di hadapanmu. Tapi aku pernah melihatnya sakit saat selesai tour concert 2011.”

Semua member disana langsung melotot.

“Chinen paling tidak suka kelemahannya terlihat, apalagi di hadapanmu. Dan kau cerita tadi Chinen menangis? Chinen tidak mungkin menangis hanya karena hal lemah seperti itu. Dia pasti akan menahannya mati-matian. Tapi kalau ia benar-benar menangis, berarti kau memang melakukan kesalahan Yama-chan..”

Tepat setelah Keito berkata itu, HPnya berdering. Dari Saaya.

.

Yamada-kun, kau benar-benar kelewatan! Bagaimana kalau adikku mati, hah?!”

Oh cukup, Yamada sudah di desak teman-temannya lalu di desak kembali kakak kekasihnya.

“Yuri tidak bisa minum obat!”

“Ta—“

“Kau tahu alasan kenapa dia tidak suka dan tidak mau minum obat kalau tidak dengan ibu? Itu karena Yuri pernah tersedak pil obat ketika kecil hingga nyaris meninggal!”

“!”

“kemarin dia sangat syok bahkan tidak mau diajak bicara sampai hari ini akhirnya dia jujur padaku bahwa kau memaksanya minum obat melalui ciuman. Terlebih, kau memasukan dua obat sekaligus. Kau gila, hah?!”

“...”

“Hanya ibu yang benar-benar bisa merawat Yuri, Yamada-kun! Hanya ibuku!”

Kemudian sambungan diputus dengan kasar. Yamada langsung terduduk lemas di tempat membuat member-membernya menghampiri.

“Kau kenapa?”

“Kenapa, Yama-chan?”

Tapi Yamada hanya membisu. Ia akhirnya memutuskan tidak akan ikut latihan dulu untuk merilekskan diri dirumah.

=:=

Pharmacophobia; adalah penyakit yang penderitanya mengalami takut berlebih pada obat-obatan atau hal yang berbau medik. Penyababnya biasanya karena trauma pada obat atau perasaan tertekan karena obat.

Yamada mengacak-acak rambutnya didepan meja komputer dengan penuh menyesal setelah membaca info tersebut.

“Lima tahun bersamanya dan aku tidak tahu.. bodoh! Bodoh!!” pemuda itu juga memukul kepalanya sendiri keras-keras. Misaki, adiknya, tiba-tiba memasuki kamar sang kakak dengan bingung. “Niichan kenapa?”

“Bodoh! Bodoh!” Yamada masih merutuki dirinya, hingga Misaki menahan tangan sang kakak dan bertanya kembali, “niichan kenapa?!”

“Misakiiii..” pemuda itu lalu berhambur memeluk sang adik dan terisak di pundaknya. Misaki kemudian melirik layar komputer yang masih tertera informasi tersebut.

“Siapa yang punya phobia itu, niichan?” tanya bocah itu. Yamada tidak menjawab dan hanya memeluk adiknya lebih erat.

“Jangan-jangan.. Chinen-niichan?”

Kali ini Yamada mengangguk.

“Dan jangan-jangan lagi.. Niichan memaksanya minum obat?”

Kembali Yamada mengangguk.

Misaki mengesah maklum seraya mendorong tubuh kakaknya untuk menatapnya. “Aku punya teman yang memiliki phobia itu.”

Yamada hanya mendengarkan.

“Dia hanya bisa minum vitamin atau obat liquid. Tidak bisa yang pil atau kapsul.” Jelas Misaki lebih lanjut.

“Tapi di meja Yuri.. hanya ada kapsul dan pil..” lirih Yamada.

“Ya itu berarti di gerus obatnya. Lalu pilnya di buka dan di larutkan ke minuman.”

Mata Yamada melebar.

“Temanku selalu begitu. Waktu aku di rawat dulu kan, teman satu kamarku tak bisa minum obat, dan yang bisa membujuknya minum obat hanya ibunya. Ibunya yang telaten menggerus obat untuknya.”

“!”

“Yang seperti itu memang tidak bisa dipaksa, Niichan.. karena dia punya perasaan takut mati bila meminum obat pil atau kapsul. Jadi ya mau tak mau harus di gerus obatnya. Biasanya setelah di gerus temanku itu minum jus atau minuman manis kesukaannya. Ribet banget, deh. Karenanya yang bisa merawat dia cuma ibunya. Suster saja capek merawatnya.”

Penjelasan lengkap adiknya sukses menohok Yamada. Jadi karena itu.. karena itu bila Chinen sakit ia langsung pulang kerumah dan diurus ibunya? Jadi karena itu bila Chinen sakit dia tidak mau dijenguk siapapun terlebih Yamada? Jadi karena itu... Chinen minta putus ketika Yamada memaksanya minum obat yang sama dengan memaksanya mati...?

“A-aku.. tidak tahu...”

Misaki tersenyum mengerti. “Jelaskan saja baik-baik pada Chinen-niichan nanti. Aku tahu kok, niichan tak bermaksud buruk padanya.”

“Tapi di—“

“Percaya padaku! Chinen-niichan cinta mati dengan niichan! Dia hanya syok karena dipaksa.”

Yamada menuruti kata-kata adiknya sampai akhirnya tenang. Keesokan harinya saat latihan dance,  ia akan meminta maaf pada Chinen-nya karena pasti kekasihnya sudah sembuh.

=:=

“CHII-CHAAAAN~!!” Yuto menyambut dengan heboh saat member termuda Hey Say JUMP datang latihan dance. Yamada yang sudah lebih dulu datang menghunuskan tatapan maut pada sang drummer.

“Sudah sehat, Chii?” tanya Keito ikut menghampiri. Chinen mengangguk semangat. “Ayo kita mulai latihan!”

Baru akan menuju radio, lengan Chinen tiba-tiba digenggam Yamada. “Kita perlu bicara.”

“Oh, tentu. Bicara saja.”

“Aku tidak sudi putus denganmu.”

Raut Chinen yang ceria lantas berubah datar, ia mendengus lalu menyeringai. “Tidak. Lupakan saja soal kemarin. Anggap juga aku tak pernah bilang begitu.”

Mata Yamada membola.

“Aku hanya kesal kemarin. Dan ingat ya.. buat yang lain juga, aku paling tidak suka di jenguk atau disuruh minum obat. Jangan bertanya kenapa karena aku tak mau memberi tahu jawabannya.” Jelas Chinen lebih lanjut.

“Aku.. minta maaf..” kata Yamada pelan, menangkup wajah mungil Chinen dengan lembut. “Aku juga tidak tahu ka—“

“Shh.. sudahlah. Kubilang lupakan. Adikmu sudah menceritakannya, Ryosuke.” sela Chinen lembut. “Sekarang aku sudah tak apa. Ayo kita latihan, aku banyak tertinggal, nih.”

“Kalian yang banyak tertinggal!” seru Hikaru kemudian. Inoo menyahut, “Benar! Yamada kemarin juga nggak ikut latihan tuh!”

“Kita sih sudah hapal gerakannya~” ejek Dai-chan seraya menopang kepalanya dengan kedua lengan. Member lain lantas terkekeh.

“Kalau begitu yang latihan dance hari ini Yamada sama Chinen saja, ya nggak? Kita main saja ke Harajuku!” Ajak Yuto semangat. Yang lain tentu setuju—terutama Yuya—lalu bergegas memakai pakaian luar mereka.

Yamada dan Chinen melongo di tempat melihat rekan-rekannya meninggalkan studio latihan satu persatu. Kemudian mereka saling pandang.

“Latihan berdua nih?”

“Yah.. mau bagaimana lagi?”

Yamada mendengus kemudian maju mendekat pada wajah Chinen, dengan segera ia mematut bibir pulm itu dengan lembut. Chinen membalas ciuman Yamada dengan lembut pula.

“Jangan katakan itu lagi, Yuri.. jangan.” Bisik Yamada sambil memeluk Yuri-nya.

“Katakan apa?”

“Appapun itu, jika berarti kau ingin menyudahi semua denganku. Jangan pernah katakan lagi.” Pelukannya semakin erat. Chinen terkekeh pelan sebelum akhirnya balas memeluk. “Tidak akan lagi. Aku juga minta maaf..”

Dan untuk yang kedua kali, mereka berciuman di ruang studio yang sepi.

.

.

.

“WOI, LATIHAN BUKAN CIUMAN!”

Hikaru tiba-tiba muncul diambang pintu. Membuat kedua sejoli menoleh kaget.

“Ehehe.. maaf, ada barang yang kelupaan. Silahkan di lanjutkan... latihannya maksudnya.”

Yamada dan Chinen tergelak bersama selepas Hikaru meninggalkan tempat itu.

=THE END=


A/N: Sebenernya yang punya phobia itu saya ehehe.. saya ampe bangkotan gini gabisa minum obat pil ato tablet ato kapsul atau apapun kecuali liquid dan di gerus :v kalopun pait, saya biasanya nyediain buavita jambu wakaka. Dan saya juga paling gasuka di jenguk kalo sakit. Apalagi kalo di jenguk... doi :’v agilak jelek bat pasti komuk wkwk oh btw, saya baca transletan siapa ya lupa.. kalau ga salah arashi, atau kisumay gitu lupa. pokoknya kalau ada member gamau latihan ya dibiarin aja tapi nanti disuruh latihan sendiri gitu. saya pake metode itu buat hsj disini padahal mah aslinya ga mungkin hsj gitu lol.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Yurisuke's World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review