Judul : Ketika Chinen Sakit
Author: Kiwok
Pair: YamaChii/RyoRi
Genre: Fluff, Romance
Summary: Member JUMP tidak punya hak
merawat Chinen ketika sang bungsu itu
sedang tumbang. Yang berhak hanyalah ibunya, Chinen Miki. Namun Yamada
tetap akan mengusahakan apapun agar bisa merawat kekasihnya.
Monggo~
.
.
.
Satu pesan dikirim ke email Yabu Kota, leader di grup tempat Chinen Yuri
bernaung. Isinya;
“Anakku sakit. Tidak akan ikut latihan selama 3 hari penuh, mohon
pengertiannya.”
Dari Chinen Miki yang tak lain adalah ibunda Chinen Yuri selaku member
termuda di Hey Say JUMP. Yabu lantas memberi tahu Yuya, karena yang baru tiba
di studio latihan barulah Yabu, Yuya, dan Dai-chan.
“Heee?! Kok bisa sakit?” pekik si gondrong, Dai-chan menoleh. “Kenapa?”
“Chii sakit...”
“HEEE!?” ganti Dai-chan yang memekik.
Chinen memang punya kebiasaan menyembunyikan sesuatu yang dianggapnya lemah
atau buruk. Seperti saat sedang dalam kondisi tidak sehat, atau saat dirinya sedih. Dan saat dirinya
sedang tidak ada di antara member kemudian dikabarkan dirinya tidak baik-baik
saja, tentu membuat member lain panik.
“Bukannya kemarin baik-baik saja...?” Dai-chan menggigit bibir bawahnya,
khawatir.
“Sepertinya ia kecapekan syuting Gold Medal...” Yabu menenangkan yang malah
ditanggapi dengan dengusan Yuya. “Chinen akan baik-baik saja ditangan ibunya.
Dua atau tiga hari nanti juga sehat lagi. Hanya saja...”
Hening sekita. Hingga kemudian...
“O.HA.YOU~!!!”
Suara sapaan semangat menggelegar di seluruh studio JUMP yang diketahui
dari sang Ace dan sang Gitaris yang baru saja datang.
Yabu memasukan HPnya ke saku. Dai-chan pura-pura sit-up. Yuya hanya diam.
“He? Baru tiga orang? Inoo-chan belum datang?” tanya Yamada dengan luwes
sembari melepas setelan musim seminya dan menaruh di pojokan studio.
“Hm.. sedikit telat. Inoo masih berskperimen dengan nasinya.” Ujar Yabu
asal. Yamada tak begitu memperdulikan karena yang sesungguhnya ingin ia
tanyakan adalah, “Chinen mana?”
Mereka bertiga meneguk ludah.
“Kan syuting Gold Medal!”
Takaki bego! Rutuk Dai-chan dalam hati. Yamada langsung
mengangkat alisnya. “Syuting? Mana mungkin! Syuting Gold Medal sudah selesai
kemarin. Sutradaranya bahkan yang melapor langsung padaku.”
Astaga, bahkan sutradaranya lapor ke
Yamada. Posesif! Batin ketiganya.
“Er.. mungkin syuting promosi movie nya! Oh atau wawancara dengan pemain
Shigoto—“
“Tidak, Dai-chan. Tidak. Aku tahu semua jadwalnya. Hari ini dia hanya ada
jadwal latihan dengan kita di studio. Jadi tidak ada promosi. Tidak ada
wawancara.”
Keito hanya tersenyum melihat sahabatnya berkata ketus. Ia menepuk pundak
kekar Yamada seraya tersenyum, “Tunggu saja. Mungkin dia bangun agak telat.
Hari ini kan latihan dimulai siang.”
Yamada mengangguk singkat kemudian berjalan menuju radio untuk memutar lagu
yang akan di pakai latihan.
Inoo datang kemudian. Dan terakhir Yuto—yang memiliki jadwal super padat
akhir tahun ini— datang masih mengenakan pakaian syuting.
“Yuri mana 'sih!?” Yamada mulai gusar.
“Eh iya ya..? aku belum lihat Chii! Mana dia?” tanya Yuto ceria. Namun
disahut dengan nada ketus tiada tara. “Aku yang lebih lama disini saja belum
lihat dia, apalagi kau!”
“Yama-chan, kata-katamu!” Yabu menegur.
“Nggak usah sewot kali, aku cuma bertanya!”
“Yuto,” Kali ini Keito yang menegur.
Ketiga member lainnya hanya mengesah maklum saat melihat sang drummer dan
sang center saling tatap dengan sinis, kemudian membuang muka kearah
berlawanan.
Yamada meraih HPnya di tas untuk segera menelpon Chinen. Namun dicegah
Yabu.
“Kenapa sih!?”
Member tertua itu tersenyum sendu, “tadi ibunya mengirim email—“
Pupil Yamada lalu mengecil. Kalau sudah bawa-bawa ‘ibu’nya Chinen itu
berarti...
“—Chinen sakit, tidak akan ikut
latihan dulu sampai dua hari kedepan.”
Lalu hening. Perkataan Yabu
barusan membuat bibir Yamada kebas beberapa saat sampai akhirnya ia kembali
bersuara. “Kenapa tidak bilang dari awal?”
“Err...”
“Ck!” Yamada langsung menyambar tas beserta jaketnya. Namun kali ini
ditahan oleh Keito. “Kau mau kemana? Sudah waktunya latihan...!”
“Latihan kau bilang?!” alis Yamada langsung menukik, “Chinen sakit!”
“Iya aku mengerti. Tapi kita harus latihan dulu.”
“Tidak. Aku akan kerumahnya.”
Lalu terdengar dengusan tawa. “Kau hanya akan diusir seperti waktu itu.
Sia-sia mendatangi Chinen kalau dia lagi sakit.”
“YUTO!” Sang gitaris berseru. Namun Yuto yang tadi mengejek hanya mengorek
kupingnya, cuek. “Aku bicara yang sebenarnya, Keito. Kau selalu membela dia.
Oh, mentang-mentang sekarang jadi saha—“
“Hentikan kalian berdua...” Yabu mendisis jengkel. Jiwa leadernya langsung
keluar. Ia lalu menatap Ace-nya dengan bijak, “Yama-chan... Aku bukan bermaksud
melarangmu mengawatirkan Chinen. Aku tahu dia segalanya untukmu tapi kau ingat
‘waktu itu’ kan?”
“.....”
“Kau masih ingat kan? Saat kau berdiri di depan rumahnya padahal musim
dingin tapi tidak di bukakan pintu? Imbasnya malah ke dirimu sendiri dan ke Hey
Say JUMP. Saat Chinen sudah sembuh malah gantian kau yang sakit dan kita tidak
jadi tampil di acara ZIP.”
Yamada terdiam.
“Ibu Chinen sangat tegas, kau tahu itu. Dia tidak akan membiarkan siapapun
merawat Chinen selain dirinya.”
Itu benar. Saat Chinen sakit, hanya ibunya yang boleh merawat Chinen.
Bahkan nyonya Chinen tidak mengizinkan
siapapun menjenguk putranya itu karena akan menyebabkan Chinen tidak
sembuh-sembuh.
Waktu itu Yamada pernah nekat ingin menjenguk Chinen. Ia menunggu di depan
kediaman Chinen namun ibunya bersihkeras tidak mengizinkan hingga Yamada
kedinginan di luar rumah dan justru sakit flu.
“Kenapa bisa sakit?” tanya Yamada dengan lirih. Oh sungguh, ia tidak bisa
semangat kalau tidak ada Yuri-nya.
“Kecapekan syuting sepertinya. Sudahlah Yama-chan.. lebih baik kita latihan
dulu.”
Dan mau tidak mau, Yamada menuruti keinginan leadernya. Sebisa mungkin
fokus untuk menghafal koreografi meski sebenarnya perasaannya kalut.
Hingga saat latihan selesai dan member di bebaskan pulang...
“Moshi-moshi?”
“Saaya-neechan?” Yamada menelpon kakak dari kekasihnya.
“Oh, Yamada-kun?”
“Apa Yuri sudah baikan?”
Chinen Saaya lantas tersenyum. “Sudah
lebih baik dari semalam. Semalam demamnya hingga 40 derajat.”
Yamada merasa linu ketika mendengar itu.
“Tapi sekarang sudah lebih baik.
Demamnya sudah turun. Kau tahu kalau HP Yuri di sita ibu jadi kau menelponku
ya?”
Yamada mengangguk spontan. “Apa Chinen benar-benar sudah baikan? Nee.. aku ingin menemuinya...!!”
“Ia baik-baik saja, Yamada-kun. Hanya kecepekan syuting. Apalagi waktu
syuting Gold Medal ia terus-terusan latihan berenang. Jadi dia demam ketika
pulang. Tapi tenang saja besok atau lusa dipastikan bisa ikut latihan. Adikku
cepat menghafal koreografi.”
Kalau masalah koreografi dance Maji Sunshine Yamada tak
mempermasalahkannya. Toh gerakannyapun mudah, kekasihnya pasti dengan cepat
bisa mengikuti. Hanya saja.. Chinen Yuri itu jarang sekali sakit. Bahkan Yamada
tidak pernah melihatnya kesakitan (Kecuali bila melakukan itu di apartemennya), tapi mendengar kekasihnya tumbang hanya
karena syuting, ia ingin sekali menjenguk dan merawatnya.
“Telponan dengan siapa, Saaya?”
Yamada mendengar suara ibu Chinen di telpon. Saaya cepat-cepat menyahut. “Er.. dengan pacarku, bu!”
Dasar, sang Ace terkekeh. Kakak dan adik sama-sama tak pandai berbohong ternyata.
“Ibu ingin ke supermarket untuk
membeli bahan makan malam. Kau jaga adikmu ya.”
“Iya, bu!”
Seperti ada bohlam lampu imajiner di sekeliling Yamada, ia cepat-cepat
bilang, “Tante ke supermarket? Kalau begitu aku bisa menjenguk Yuri kan, Nee?”
“Eh? Ta-tapi...”
“Oh ayolah! Sebentar saja!!”
“Aku tidak berani, Yamada-kun...
ibuku sangat galak kalau masalah itu..”
“Tidak apa-apa, kalau tante sudah benar-benar pergi, aku akan bergegas
kesana. Paman sedang dinas keluar kota kan?”
“Ya-yah.. tapi kau harus cepat. Dan
hanya benar-benar sebentar menjenguk ya!”
“Aku mengerti!”
=:=
Jadi, disinilah Yamada sekarang. Di depan kediaman Chinen Yuri menunggu
dibukakan pintu oleh Saaya.
“Sstt.. cepat masuk ke kamar Yuri! Dia sedang tidak tidur.” Ujar Saaya
sembari mengawasi sekeliling, berharap ibunya lama di supermarket.
Yamada mengangguk dan dengan sigap ke lantai dua menuju kamar Chinen.
“Yuri!”
Chinen yang sedang berbaring di tempat tidur terkejut melihat kekasihnya
memasuki kamar, ia kemudian mencoba duduk.
“Sshh.. tak usah dipaksakan...” Yamada cepat-cepat menghampiri Chinen untuk
menahan gerakannya, membuat Chinen kembali rebahan.
“Kenapa disini?” tanya Chinen dengan lemah. Oh sungguh Yamada ingin menangis
saat ini juga melihat kekasihnya terbaring seperti ini.
“Tante sedang pergi jadi kurasa ini—“
“Pulanglah.”
Yamada terkejut dengan ucapan Chinen. Ia mengusirnya?
“Pulanglah... aku tak mau kau disini, nanti tertular.” lanjut Chinen,
suaranya pelan seperti berbisik. Yamada menautkan alis mendengar itu. “Aku
hanya ingin—“
“Kubilang pulang, Ryosuke...!”
“Hei,” Yamada menangkup pipi Chinen dan ia terkejut ketika merasakan panas
disana. “Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Yuri...”
“Aku sedang berantakan dan jelek. Pulanglah. Chinen Yuri yang ceria dan
imut sedang tidak disini. Disini hanya ada Chinen Yuri yang jelek dan lemah.”
Kata-kata itu spontan menohok hati Yamada. Jadi karena itu? Karena itu
Chinen tak ingin di jenguk?
“Kau tidak jelek.”
“Omong kosong.”
Yamada mengesah. Bukan jelek sebenarnya, Chinen Yuri tidak pernah jelek di
mata Yamada. Hanya terlihat berantakan dan sangat pucat. Matanya sayu, bibirnya
pecah-pecah, dan.. tubuhnya sangat hangat.
“Aku tidak suka kau pandang seperti itu. Pulanglah Ryosuke..”
“A—aku ingin merawatmu..” lirih Yamada, menggenggap tangan hangat Chinen.
“Tidak. Ibuku yang akan merawatku. Kau pulang dan berlatihlah. Besok atau
lusa kau sudah bisa melihat Chinen Yuri yang bersemangat seperti biasa.” Sahut
Chinen seraya melepas genggaman Yamada.
Center di JUMP itu tak berkata apa-apa sampai kemudian
Chinen terbatuk sesak.
“Yuri...!”
“Pulang... uhuk uhuk... Kumohon,
Ryosuke.. pulanglah... uhuk.. aku tak mau kau melihatku seperti ini..”
Saaya tiba-tiba memasuki kamar seraya membawa air hangat dan menyerahkan
pada adiknya. “Yuri, kau belum meminum obatmu kan?”
“Ugh...” sang adik hanya memajukan bibir.
“Kalau kau masih susah minum obat sembuhnya akan lama, Yuri!” omel sang
kakak sambil mengambil gelas dari adiknya. Kemudian ia beralih pada Yamada.
“Er... Yamada-kun, mungkin benar kau pulang saja. Sudah bertemu Yuri, kan?
Nanti ibu keburu datang.”
Tapi Yamada justru berdiri dan bertanya. “Apa ada beras?”
“Eh?”
“Aku tanya, apa ada beras? Dan alat kukus?”
“A-ada...”
“Aku pinjam dapurnya kalau begitu.”
Chinen tak bisa mencegah kekasihnya yang sudah melesat ke dapur. Tubuhnya
sangat lemas dan pusing bahkan hanya untuk rebahan. Jadi mau tak mau Saaya yang
protes.
“Yamada-kun, apa yang kau lakukan?!”
“Membuat bubur.” Di sahut cepat. Yamada sangat sigap untuuk urusan memasak,
apalagi kalau hanya bubur.
“Kau bercanda?! Nanti ibuku pulang lalu me—“
“Tenang saja, kakaknya Yabu-chan bilang kalau di supermarket langganan tante
sedang ada diskon dan promo besar-besaran. Tante tidak akan pulang secepat
itu.”
“Tetap percuma Yamada-kun, Yuri tidak mau memakan apapun kalau sedang
sakit. Hanya ibu yang bi—“
“Tenanglah, Saaya-nee.” Yamada memutar tubuhnya, menatap Chinen sulung
disana dengan tatapan pasti. “Kali ini aku yang akan membuat Yuri sembuh.”
Dan benar saja, hingga satu jam lebih ibu Chinen belum kembali dari
belanja. Sementara bubur kilat yang di masak Yamada sudah jadi.
“Yuri,”
Chinen tak bergeming ketika Yamada masuk kedalam kamarnya dan memanggil.
“Sayang...” Yamada mencoba menepuk pipi kekasihnya itu baru kemudian
Chinen membuka mata. “Ke..na..pa.. masih.. di..sini?” tanyanya lemah. Yamada
tersenyum sendu seraya membantu Chinen rebahan di kasur.
“Aku membuatkanmu bubur..”
“eung..” Chinen menggeleng.
“Makanlah, sedikit saja. Aku buat ini spesial untukmu.” Pinta Yamada dengan
lembut.
“Tidak mau.” Chinen menjauhkan sendok yang diarahkan Yamada, membuat pemuda
itu mengesah maklum. “Ayolah sayang...”
“Aku enek kalau makan bubur..”
“Ini tidak akan enek. Aku sudah menakar bumbunya.”
Chinen melihat bubur pada mangkuk di tangan Yamada dalam-dalam, hingga
akhirnya ia membuka kecil mulutnya. Yamada dengan cepat menyendokkan bubur itu
penuh kasih, sampai Chinen menelannya Yamada baru berucap. “Enak kan? Kau tahu
aku jago memasak, sayang.”
Chinen hanya tersenyum lemah. Yamada kembali menyuapkan bubur buatannya
pada Chinen hingga habis satu mangkuk penuh.
“Nah sekarang minum obatnya.”
Chinen langsung gelagapan. “Nggak. Ryosuke pulanglah, nanti aku—“
“Sekarang Yuri.” Tandas Yamada pasti. “Aku sudah bertekad akan mengurusmu
kali ini.”
“Tidak, kumohon. Aku tidak mau meminumnya...”
Yamada mengesah gemas lalu meraih obat Chinen di meja kecil samping
kasurnya. Mengambil sebutir tablet dan sebutir pil berwarna kekuningan.
“Oh tidak, jauhkan itu Ryosuke.. aku mohon..” Chinen nyaris saja menangis
saat Yamada justru mengambil minum.
“Ryosuke...” dan ia benar menangis.
“Apa yang kau takuti dengan obat?” Yamada terkekeh pelan melihat
Yuri-nya menangis seperti bocah. Sungguh, ia sudah 22 tahun!
“Nggak..! pokoknya nggak ma—“
Tapi tiba-tiba Yamada memasukan obat itu ke mulutnya sendiri seraya meneguk
air, kemudian mendekatkan diri pada bibir Chinen.
“Eunghhnnn.. unghh..!!”
Ya, pemuda utama di JUMP itu menyuapkan obat Chinen melalui ciuman. Cara
ini dirasa cukup efektif untuk kekasihnya yang susah di suruh minum obat.
“uhuk uhuk uhuk!!” Chinen
terbatuk kencang sambil menepuk-nepuk dadanya yang membuat Yamada cepat-cepat
menyerahkan air.
“BRENGSEK!” Seru pemuda imut itu setelah menegak minumnya, kemudian memukul
cukup kencang bahu Yamada. “Aku sudah bilang tidak mau kan? Kenapa kau...
kena...” Chinen terisak sesaat sebelum lanjut berucap, “KITA PUTUS!”
Yamada benar-benar merasa seperti disambar petir ketika mendengarnya.
Ceklek! Saaya
masuk ke kamar kemudian menyeret Yamada keluar. “Ibuku sudah diujung jalan! Kau
cepat pergi lewat pintu belakang!”
“PERGI!” Usir Chinen juga. Kaki
Yamada sebenarnya lemas mendengar Chinen mengusirnya seperti itu, tapi Saaya sangat kuat menyeretnya keluar dari rumah.
=:=
Sehari berlalu. Yamada bahkan tidak semangat melakukan wawancara dengan
pemain Grasshoper juga ketika latihan, ia seperti kehilangan jiwanya.
“Hoi!” Dai-chan menepuk paha Yamada yang saat tiba di studio latihan dance,
si center itu hanya terduduk bengong di pojokan. “Kau kenapa sih? Sudahlah,
besok Chinen pasti baik-baik saja!”
“Bukan itu.”
Dai-chan mengernyit.
“Chinen memutuskanku.”
“Kalau mau melawak jangan siang-siang begini, Yama-chan. Garing.” Oceh
Dai-chan sambil mengibas-ngibaskan tangan.
“Apa salahnya kalau aku menciumnya...?”
“Eh?”
“Menciumnya sambil memberikan obat. Padahal cara itu cukup ampuh agar dia
mau minum obat.”
“Eh tunggu, kau serius saat bilang Chinen memutuskanmu?” tanya Dai-chan
dengan mata melebar. Namun Yamada justru lanjut mengoceh, “aku sudah
membuatkannya bubur, aku merawatnya, lalu dia minta putus...”
Dai-chan memanggil Keito dan member lain sebelum meminta Yamada menjelaskan
semuanya dengan detail.
.
“Sulit dipercaya....” Hikaru mengusap-usap dagunya. “Chinen memutuskan
Yamada hanya karena ciuman... pendeta manapun juga tidak akan percaya.”
Yabu mendengus mendengar lelucon Hikaru. “Ibu Chinen benar-benar tidak
tahu?”
“Tidak. Tante ke supermarket. Kurasa Saaya-nee membuat alasan untuk Yuri
yang telah minum obat dan makan bubur buatanku karena tante tidak mengomel
padaku di telpon.” Jelas Yamada lesu. Keluarga Chinen sudah mengenal Yamada
luar-dalam sehingga bila ada apa-apa dengan anaknya, pasti mereka bertanya—atau
lebih tepatnya mengomel—pada Yamada.
“Yama-chan, sudah berapa tahun kau bersama Chinen?” Keito bertanya
tiba-tiba. membuat Yamada merasa tersindir. “Kau tahu jelas jawabannya, untuk
apa bertanya?”
“Jadi benar itu pertama kalinya kau melihat Chinen sakit? Kau yakin?”
Yamada mengangguk. “Chinen jarang sakit. Dia tidak pernah sakit di—“
“Di hadapanmu.” Sela Keito kemudian. “Dia tidak pernah dan tidak akan mau
terlihat lemah di hadapanmu. Tapi aku pernah melihatnya sakit saat selesai tour concert 2011.”
Semua member disana langsung melotot.
“Chinen paling tidak suka kelemahannya terlihat, apalagi di hadapanmu. Dan
kau cerita tadi Chinen menangis? Chinen tidak mungkin menangis hanya karena hal
lemah seperti itu. Dia pasti akan menahannya mati-matian. Tapi kalau ia benar-benar
menangis, berarti kau memang melakukan kesalahan Yama-chan..”
Tepat setelah Keito berkata itu, HPnya berdering. Dari Saaya.
.
“Yamada-kun, kau benar-benar
kelewatan! Bagaimana kalau adikku mati, hah?!”
Oh cukup, Yamada sudah di desak teman-temannya lalu di desak kembali kakak
kekasihnya.
“Yuri tidak bisa minum obat!”
“Ta—“
“Kau tahu alasan kenapa dia tidak
suka dan tidak mau minum obat kalau tidak dengan ibu? Itu karena Yuri pernah
tersedak pil obat ketika kecil hingga nyaris meninggal!”
“!”
“kemarin dia sangat syok bahkan
tidak mau diajak bicara sampai hari ini akhirnya dia jujur padaku bahwa kau
memaksanya minum obat melalui ciuman. Terlebih, kau memasukan dua obat
sekaligus. Kau gila, hah?!”
“...”
“Hanya ibu yang benar-benar bisa merawat Yuri, Yamada-kun! Hanya ibuku!”
Kemudian sambungan diputus dengan kasar. Yamada langsung terduduk lemas di
tempat membuat member-membernya menghampiri.
“Kau kenapa?”
“Kenapa, Yama-chan?”
Tapi Yamada hanya membisu. Ia akhirnya memutuskan tidak akan ikut latihan dulu
untuk merilekskan diri dirumah.
=:=
Pharmacophobia; adalah
penyakit yang penderitanya mengalami takut berlebih pada obat-obatan atau hal
yang berbau medik. Penyababnya biasanya karena trauma pada obat atau perasaan
tertekan karena obat.
Yamada mengacak-acak rambutnya didepan meja komputer dengan penuh menyesal
setelah membaca info tersebut.
“Lima tahun bersamanya dan aku tidak tahu.. bodoh! Bodoh!!” pemuda itu juga
memukul kepalanya sendiri keras-keras. Misaki, adiknya, tiba-tiba memasuki
kamar sang kakak dengan bingung. “Niichan kenapa?”
“Bodoh! Bodoh!” Yamada masih merutuki dirinya, hingga Misaki menahan tangan
sang kakak dan bertanya kembali, “niichan kenapa?!”
“Misakiiii..” pemuda itu lalu berhambur memeluk sang adik dan terisak di
pundaknya. Misaki kemudian melirik layar komputer yang masih tertera informasi
tersebut.
“Siapa yang punya phobia itu, niichan?” tanya bocah itu. Yamada tidak
menjawab dan hanya memeluk adiknya lebih erat.
“Jangan-jangan.. Chinen-niichan?”
Kali ini Yamada mengangguk.
“Dan jangan-jangan lagi.. Niichan memaksanya minum obat?”
Kembali Yamada mengangguk.
Misaki mengesah maklum seraya mendorong tubuh kakaknya untuk menatapnya.
“Aku punya teman yang memiliki phobia itu.”
Yamada hanya mendengarkan.
“Dia hanya bisa minum vitamin atau obat liquid. Tidak bisa yang pil atau
kapsul.” Jelas Misaki lebih lanjut.
“Tapi di meja Yuri.. hanya ada kapsul dan pil..” lirih Yamada.
“Ya itu berarti di gerus obatnya. Lalu pilnya di buka dan di larutkan ke
minuman.”
Mata Yamada melebar.
“Temanku selalu begitu. Waktu aku di rawat dulu kan, teman satu kamarku tak
bisa minum obat, dan yang bisa membujuknya minum obat hanya ibunya. Ibunya yang
telaten menggerus obat untuknya.”
“!”
“Yang seperti itu memang tidak bisa dipaksa, Niichan.. karena dia punya
perasaan takut mati bila meminum obat pil atau kapsul. Jadi ya mau tak mau
harus di gerus obatnya. Biasanya setelah di gerus temanku itu minum jus atau
minuman manis kesukaannya. Ribet banget, deh. Karenanya yang bisa merawat dia cuma
ibunya. Suster saja capek merawatnya.”
Penjelasan lengkap adiknya sukses menohok Yamada. Jadi karena itu.. karena
itu bila Chinen sakit ia langsung pulang kerumah dan diurus ibunya? Jadi karena
itu bila Chinen sakit dia tidak mau dijenguk siapapun terlebih Yamada? Jadi
karena itu... Chinen minta putus ketika Yamada memaksanya minum obat yang sama
dengan memaksanya mati...?
“A-aku.. tidak tahu...”
Misaki tersenyum mengerti. “Jelaskan saja baik-baik pada Chinen-niichan
nanti. Aku tahu kok, niichan tak bermaksud buruk padanya.”
“Tapi di—“
“Percaya padaku! Chinen-niichan cinta mati dengan niichan! Dia hanya syok
karena dipaksa.”
Yamada menuruti kata-kata adiknya sampai akhirnya tenang. Keesokan harinya
saat latihan dance, ia akan meminta maaf
pada Chinen-nya karena pasti kekasihnya sudah sembuh.
=:=
“CHII-CHAAAAN~!!” Yuto menyambut dengan heboh saat member termuda Hey
Say JUMP datang latihan dance. Yamada yang sudah lebih dulu datang menghunuskan
tatapan maut pada sang drummer.
“Sudah sehat, Chii?” tanya Keito ikut menghampiri. Chinen mengangguk
semangat. “Ayo kita mulai latihan!”
Baru akan menuju radio, lengan Chinen tiba-tiba digenggam Yamada. “Kita
perlu bicara.”
“Oh, tentu. Bicara saja.”
“Aku tidak sudi putus denganmu.”
Raut Chinen yang ceria lantas berubah datar, ia mendengus lalu menyeringai.
“Tidak. Lupakan saja soal kemarin. Anggap juga aku tak pernah bilang begitu.”
Mata Yamada membola.
“Aku hanya kesal kemarin. Dan ingat ya.. buat yang lain juga, aku paling
tidak suka di jenguk atau disuruh minum obat. Jangan bertanya kenapa karena aku
tak mau memberi tahu jawabannya.” Jelas Chinen lebih lanjut.
“Aku.. minta maaf..” kata Yamada pelan, menangkup wajah mungil Chinen
dengan lembut. “Aku juga tidak tahu ka—“
“Shh.. sudahlah. Kubilang lupakan. Adikmu sudah menceritakannya, Ryosuke.”
sela Chinen lembut. “Sekarang aku sudah tak apa. Ayo kita latihan, aku banyak
tertinggal, nih.”
“Kalian yang banyak tertinggal!” seru Hikaru kemudian. Inoo menyahut, “Benar!
Yamada kemarin juga nggak ikut latihan tuh!”
“Kita sih sudah hapal gerakannya~” ejek Dai-chan seraya menopang kepalanya
dengan kedua lengan. Member lain lantas terkekeh.
“Kalau begitu yang latihan dance hari ini Yamada sama Chinen saja, ya nggak?
Kita main saja ke Harajuku!” Ajak Yuto semangat. Yang lain tentu setuju—terutama
Yuya—lalu bergegas memakai pakaian luar mereka.
Yamada dan Chinen melongo di tempat melihat rekan-rekannya meninggalkan
studio latihan satu persatu. Kemudian mereka saling pandang.
“Latihan berdua nih?”
“Yah.. mau bagaimana lagi?”
Yamada mendengus kemudian maju mendekat pada wajah Chinen, dengan segera ia
mematut bibir pulm itu dengan lembut. Chinen membalas ciuman Yamada dengan
lembut pula.
“Jangan katakan itu lagi, Yuri.. jangan.” Bisik Yamada sambil memeluk
Yuri-nya.
“Katakan apa?”
“Appapun itu, jika berarti kau ingin menyudahi semua denganku. Jangan
pernah katakan lagi.” Pelukannya semakin erat. Chinen terkekeh pelan sebelum
akhirnya balas memeluk. “Tidak akan lagi. Aku juga minta maaf..”
Dan untuk yang kedua kali, mereka berciuman di ruang studio yang sepi.
.
.
.
“WOI, LATIHAN BUKAN CIUMAN!”
Hikaru tiba-tiba muncul diambang pintu. Membuat kedua sejoli menoleh kaget.
“Ehehe.. maaf, ada barang yang kelupaan. Silahkan di lanjutkan...
latihannya maksudnya.”
Yamada dan Chinen tergelak bersama selepas Hikaru meninggalkan tempat itu.
=THE END=
A/N: Sebenernya yang punya phobia itu saya ehehe.. saya
ampe bangkotan gini gabisa minum obat pil ato tablet ato kapsul atau
apapun kecuali liquid dan di gerus :v kalopun pait, saya biasanya nyediain
buavita jambu wakaka. Dan saya juga paling gasuka di jenguk kalo
sakit. Apalagi kalo di jenguk... doi :’v agilak jelek bat pasti komuk wkwk oh btw, saya baca transletan siapa ya lupa.. kalau ga salah arashi, atau kisumay gitu lupa. pokoknya kalau ada member gamau latihan ya dibiarin aja tapi nanti disuruh latihan sendiri gitu. saya pake metode itu buat hsj disini padahal mah aslinya ga mungkin hsj gitu lol.

0 komentar:
Posting Komentar